Sunday, August 23, 2009

Dibalik Konspirasi Media dalam Mendiskreditkan Islam

Bukan hal baru lagi kalau Islam sering dikaitkan dengan stigma teroris, fundamentalis ataupun radikal. Penyematan atribut itu tak lepas dari peran media yang gencar dalam 'mempromosikan' Islam sebagai 'komoditas' yang laik dijual. Bagi sebagian besar media pers menganggap Islam tidak hanya agama yang mampu membuat insaf para pelaku kriminal laiknya para muallaf di Amerika yang menjadi 'santri' selama mendekam di penjara, tetapi Islam memiliki nilai tambah (value added dalam bahasa marketingnya)dalam hal pemberitaan.Tampaknya media di Indonesia dewasa ini telah mengikuti langkah sukses para pengusaha Yahudi di Amerika yang berhasil dalam hal pembentukan opini publik.


Pakar-pakar Yahudi di Amerika berpendapat, bahwa untuk menguasai suatu negara, tidak harus menjadi kepala negara, tetapi kuasailah bidang-bidang ekonomi yang strategis, seperti minyak, media, jejaring sosial facebook, hardware dan software PC. Dan berbisnis di bidang media merupakan salah satu obsesi terbesar mereka. Karena dengan media, paradigma publik bisa dibentuk. Dengan semakin banyaknya orang yang sejalan dengan pikiran mereka, kekuatan mereka akan semakin besar. Mereka memang pandai dalam menggunakan daya leverage, seperti prinsip 3M (menggunakan uang orang lain, memakai tenaga orang lain, dan memanfaatkan waktu orang lain).

Bagi kebanyakan pengusaha Yahudi yang berbisnis dalam bidang media, selalu memegang teguh prinsip marketing 'Good News is Bed News' (saya kutip dari salah satu film Spiderman saat Tobey McGuire mendapat seketip uang hasil jepretan Spiderman, saya sendiri iba melihat tokoh Spiderman yang harus membuang citra baiknya sebagai pahlawan demi seketip uang,hik..hik..). Berita buruk adalah berita bagus yang perlu dipublish bagi pandangan kapitalis media itu. Sedangkan berita bagus tidak banyak mendongkrak oplah koran yang diterbitkan.

Prinsip marketing seperti itu tampaknya mulai diadopsi beramai-ramai oleh para awak media di Indonesia. Kode etikpun tampaknya hanya sebatas kode, yang tidak memilki kekuatan hukum sama sekali. Seiring dengan populernya tokoh Nurdin M Top sebagai designer pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, antipati terhadap Islampun kian menguat. Bahkan banyak awak media yang dengan aksen 'penekanan' menyebut nama 'Muhammad' melengkapi nama asli Noordin Muhammad Top setiap kali menyampaikan reportasinya, sebagai bentuk kekecewaan terhadap Islam. Tampak sekali upaya media dalam mendiskreditkan Islam.

Fitnahpun semakin menjadi rutinitas baru bagi awak media yang berburu mencari headline yang menarik. Bagi mereka, moral tak lebih penting dibanding hunting berita untuk menaikkan rating program mereka. Dan mereka tak pernah tahu dan tak mau tahu dampak yang mungkin terjadi akibat fitnah-fitnah yang menjadi headline populernya. Padahal, bagi orang-orang yang difitnah terkait dengan tindakan terorisme akan mengalami perubahan atmosfer di lingkungannya. Bisa jadi keluarga yang menjadi korban fitnah menjadi obyek cemohan para warga di lingkungannya dan stress akibat perbuatan orang-orang fasiq.

Keberanian media dalam mengumbar opini menjadi fakta sudah tak bisa ditolerir lagi, rakyat bukannya dibuat pintar tapi malah menyulut api perpecahan. Bagaimana pembangunan bangsa ini akan menjadi maju bila media selalu menjadi provokator kerusuhan dalam setiap headline-headlinenya yang menyesatkan. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk 'menertibkan' media-media yang seringkali melanggar kode etik pers. Media harus mengklarifikasi berita dari sumber-sumber yang terpercaya, bukan dari desas-desua penebar isu.

Undang-undang tentang kebebasan berekspresi perlu dikoreksi sebelum menimbulkan banyak korban. Dengan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral tentunya, niscaya bangsa ini akan maju ke depan lebih baik. Karena makna dari kemerdekaan indonesia adalah kebebasan setiap rakyat dalam menentukan jalan hidup yang lebih baik dan bertanggungjawab secara moral.

1 komentar:

Wah, perlu cermati pergerakan konspirator yang nyusup lewat media, tapi cara yang efektif apa dan bagaimana? Selain jalur hukum misalnya.

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More