Thursday, August 6, 2009

Orang Kreatif itu ternyata Wong Ndeso

Sosok orang desa biasa dipandang sebelah mata (mungkin emang matanya tinggal sebelah x...)bagi kebanyakan kaum metropolis. Orang desa sering kali ditafsirkan sebagai sosok yang berkepribadian primitif, jadul, dengan basa jawa medoknya yang tiap kali tampil di kelas kaum borjuis kerap menjadi bahan guyonan semata(mungkin emg bakat jadi motivator dengan potensi ice breaker/pelawak). Perasaan superioritas kaum hedonis terhadap wong ndeso semakin diperparah dengan beragam sajian film maupun tayangan TV yang bersifat komersiil maupun non komersil yang kerap memposisikan wong ndeso sebagai kaum marginal yang eksistensinya dipandang sebagai pelengkap kehidupan saja, entah itu jadi sopir, tukang kebun, pembantu atau buruh harian. Orang desa kerap dijadikan objek eksploitasi saja untuk meraih keuntungan kaum feodal( seperti kasus mbah surip yang dijadikan 'tambang emas' oleh segelintir taipan yang haus akan materi).

Seolah mereka lupa bahwa evolusi kehidupan manusia ini berawal dari cara-cara yang sangat primitif. Keberhasilan Indonesia dalam meraih kemerdekaan tak lepas dari aksi gerilya para pejuang desa yang seringkali hidup nomaden dari satu gua ke gua lain, dari satu hutan ke hutan lain, dari pohon satu ke pohon yang lain (wah, kok kayak siamang aj..)demi melancarkan strategi perang dalam menyerang kolonial belanda.

Seolah mereka yang merasa sebagai kaum superior tidak tahu bahwa Indonesia selama bertahun-tahun dipimpin oleh seorang anak desa (mbah harto) dari kampung godean, Yogya.

Seandainya mereka menyadari, bahwa kebanyakan tokoh-tokoh pembangunan di Indonesia ini didominasi oleh orang-orang desa yang menduduki jabatan penting di pemerintahan maupun industri-industri berproyek besar.

Bila dicermati, wong ndeso yang kesehariannya makan sego tiwul sambel korek gereh pethek sayur lung (daun-daunan di pekarangan wong neso yang sering dimakan kambing)lebih jalan otaknya dalam berkreatifitas di banding orang kota yang makan di McD, KFC dan beragam produk junkfood lainnya.

Hal ini cukup logis karena sayur-mayur yang dimakan wong ndeso lebih alami dibanding makanan yang dikonsumsi kaum urban yang makanannya sudah banyak terkontaminasi oleh pestisida, bumbu-bumbu sintesis yang berbahan kimiawi, yang membuat generasi muda mereka sebagai plagiator handal dalam membuat skripsi, menyontek hasil desain orang lain, dll.

Jika diamati, orang kreatif itu ternyata wong ndeso. Sebut saja mantan presiden Soeharto yang 'kreatif' dalam memutarbalikkan fakta sejarah ( ini contoh buruknya, sob)yang sempat membuat buku-buku teks pelajaran sejarah terpaksa direvisi ulang secara besar-besaran. Begitu juga dengan kesuksesan Amrozy,anak desa dari Lamongan yang sempat menggemparkan publik nasional dan manca dengan Bali Blast-nya (lho, kok dari tadi tokoh antagonis mulu yang diekspos?...Sulit nyari contoh baiknya,euy...). To be continued....

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More