Thursday, November 26, 2009

Memahami Urgensi Berhaji

Melakukan ibadah haji merupakan bentuk penyempurnaan ibadah umat Islam dalam rukun Islam yang kelima. Pemahaman definisi haji pun beragam di kalangan umat Islam. Makna yang pertama jelas, yakni semata-mata untuk mencari ridlo Allah. Namun terkadang ada makna bias lain yang sering disalahtafsirkan oleh sebagian besar jemaah. Ada yang berhaji karena mempunyai niat riya', ada yang ingin mencuri batu ataupun pasir di tanah suci yang dianggap sakral(syirik), ada yang bertujuan untuk menghalalkan harta haramnya (persepsi koruptor) dan banyak juga yang berhaji karena nafsu untuk berwisata (hobi).

Terkadang orang menjadi jauh dari tujuan haji itu sendiri. Dikala hati sudah tertutupi oleh nafsu, nilai-nilai sakral haji pun menjadi bias dimatanya. Orang melakukan ibadah haji berulang kali, namun sepulang dari Makkah, tak ada refleksi haji dalam perilakunya sehari-hari. Yang kikir tetap pelit, yang kaya semakin sombong, yang tua semakin gila akan respek. Alumninya pun semakin bangga dalam meng'cluster'kan dirinya dalam bentuk perkumpulan pengajian khusus haji yang seolah ingin menunjukkan eksistensi strata tertentu.

Padahal, sepanjang sejarah kenabian Rasulullah SAW, Beliau berhaji hanya sekali. Sebenarnya, Rasulullah memiliki banyak kesempatan untuk berhaji berulangkali, namun ada makna khusus dibalik itu semua. Rasulullah lebih memprioritaskan ibadah sosial (muta'addiyah) dibanding ibadah sunnah individual(qashirah).

Prioritas Nabi

Sesudah hijrah dan menetap di Madinah, ada 3 hal yang dilakukan Nabi SAW.Pertama, jihad fi sabilillah. Saat masih di Makkah, nabi SAW belum diwajibkan berjihad untuk melawan orang-orang yang meneror dan menzalimi beliau. Bahkan hijrah itu sendiri akibat tingginya intensitas teror terhadap beliau. Baru setelah di Madinah, beliau diwajibkan untuk melawan teror-teror itu, maka terjadilah perang yang banyak menghabiskan biaya.

Kedua, menyantuni anak yatim. Akibat peperangan, banyak janda dan anak yatim yang terlantar ditinggal mati para syuhada. Nabi lebih memprioritaskan menyantuni janda dan anak yatim dibanding berhaji. Bahkan Nabi SAW menegaskan,"Menyantuni janda dan orang miskin (pahalanya) seperti berjihad fi sabilillah atau seperti yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari ".(HR Bukhari & Muslim). Hal ini sangat kontras sekali dengan akhlaq pejabat negara yang lebih suka 'menyantuni' lady escort daripada santunan untuk janda miskin.

Ketiga, mahasiswa Suffah.Setelah menetap di Madinah, banyak mahasiswa yang belajar langsung dari nabi SAW. Al Shuffah merupakan perguruan tinggi pertama dalam Islam. Jumlah mahasiswa Shuffah sangat banyak dan fluktuatif, rata-rata 400 orang. Mereka tidak punya apa-apa dan tinggal di masjid Nabawi dengan santunan dari Nabi SAW dan para sahabat.

Paradoks sekali, bila melihat senyum sumringah jemaah haji kita saat ini. Sama sekali tak ada 'bekas' hajinya dalam kehidupannya sehari-hari. Yang lebih parah, banyak yang merasa ibadahnya telah final sehabis haji, sehingga mudah menyepelekan sholatnya. Padahal, yang membedakan kaum muslim dan kafir adalah sholatnya. Meskipun dia melaksanakan haji dan kurban tiap tahunnya, ataupun keturunan Walisongo, tetap haram mensholatkan jenazahnya bila di hari-hari terakhir menjelang ajalnya dia melalaikan sholatnya(karena malas/merasa tidak perlu lagi). Dan suami/istrinya sama seperti pezina bila bersedia menidurinya. Naudzubillahi min dzalik.

Seandainya kaum muslimin di Indonesia memakai perspektif nabi SAW, tentunya bangsa ini bisa menjadi bangsa yang jauh lebih unggul dan makmur dibanding Malaysia. Dana haji yang dihamburkan para pemuja nafsu untuk 'wisata' ke Makkah tentunya akan lebih bermanfaat untuk ibadah sosial, karena kewajiban haji hanya sekali, bukan suatu ritual rutinitas yang dilakukan tiap tahun.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More