Tuesday, March 16, 2010

NU Menghalalkan Rokok ? Inilah Alasannya

Jakarta, NU Online
Rokok Tali Jagat yang dulu diidentikkan dengan rokok milik warga NU dengan logo bola dunianya kini sepenuhnya kepemilikannya sudah beralih tangan. PBNU telah menjual 25 persen saham yang dimilikinya pada PR Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan bahwa PT Bintang Bola Dunia, produsen rokoh tersebut membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya. Namun PBNU tidak memiliki modal yang memadai.
“Daripada kita tidak memiliki hak suara yang memadai, kita putuskan untuk menjual kepemilikan yang kita miliki,” tuturnya di PBNU kemarin.
Hasil penjualan saham senilai sekitar 1.7 M tersebut dimasukkan ke dalam rekening dana abadi PBNU yang menambah jumlah sebelumnya yang sudah mencapai 5 milyar.
Rokok ini diluncurkan pertama kali ke masyarakat pada 2 Januari 2003 lalu dengan fokus pemasaran warga nahdliyyin dan memberdayakan petani tembakau dan cengkeh yang banyak dimiliki warga NU agar hasil perkebunannya terakomodasi.
Kala itu, Kiai Hasyim menjelaskan pendirian pabrik rokok ini tidak untuk mengajak orang yang tidak merokok untuk menjadi perokok, tapi mengakomodasi nahliyyin yang jadi perokok yang sekaligus nantinya diharapkan bisa membantu pemberdayaan ekonomi warga NU. Dipasaran, rokok sigaret kretek tangan (SKT) ini dijual seharga Rp. 3.800 per bungkus. (mkf)

Source :  http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8485

Tak dipungkiri dengan adanya dukungan NU terhadap barang haram membuat bangsa Indonesia mengalami degradasi moral. Tak aneh bila doktrin-doktrin liberal yang merusak akhlak juga bermula dari lingkungan pesantren itu sendiri. Sex bebas, pergaulan bebas nyatanya tidak hanya berkembang dalam kebudayaan Barat, tetapi juga sering kita jumpai di berbagai pesantren di Jawa Timur. Bagaimana tanggung jawab seorang kyai di akherat nanti ? Mengapa ulama lebih mementingkan aspek ekonomi daripada tanggung jawab moral terhadap dakwah Islam di Indonesia?





Seberapa banyak orang yang ingat Tuhan setiap harinya dibanding dengan rokok/sex ? Tentunya bisa Anda bayangkan sendiri rasionya. Rokok dan sex pun sudah menjadi ladang bisnis yang diakui oleh negara RI yang mayoritas beragama Islam, meskipun bisnis prostitusi dilegalkan untuk kondisi dan wilayah tertentu. Kenapa saya bicara seperti ini ? Karena secara nyata memang perdagangan rokok merupakan pendapatan pajak yang cukup besar bagi bangsa ini dan lokalisai prostisusi memberikan andil juga. Jadi, apakah pembangunan bangsa Indonesia ini disupport oleh bisnis haram ? Yang jelas, semua orang yang 'berpendidikan' tentunya tahu akan hal ini. Lantas, apakah kita bangga dengan pembangunan yang dihasilkan dari uang haram ?


Lantas, mengapa seolah hal-hal semacam itu semakin  dianggap 'wajar' dalam pandangan masyarakat dewasa ini? Seiring dengan perkembangan iptek, semakin lebarnya akses bandwith internet, dan lemahnya kontrol serta kurangnya dukungan pemerintah akan pendidikan akhlaq akan semakin membuat masyarakat mengambil polapikir hedonis.

Menyinggung fatwa yang dikeluarkan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, rokok itu bisa dikategorikan barang yang mengandung banyak mudharatnya ketimbang faedahnya. Salah satunya adalah pemborosan uang, meski uang yang dibelanjakan untuk rokok adalah uang sendiri, tetapi akan lebih baik bila digunakan untuk infaq/ sedekah. Sayangnya, masyarakat saat ini telah melibatkan rokok sebagai substansi dalam sedekah (jamuan rokok untuk kerja bakti, acara pernikahan, dll). Bahkan banyak masyarakat melalaikan nisab zakat mal (memasukkan rokok dalam kategori kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga jatah untuk zakat berkurang).


Kalau ditelaah, sebenarnya bahaya rokok itu sendiri berdampak 'sistemik' (maaf, saya pake istilahnya Mbak 'Mul',hehe..). Kenapa bisa begitu? Karena dampak rokok itu akan mempengaruhi sistem kehidupan manusia (sosial, ekonomi, budaya,de el el..) Satu contoh, dilingkunganku sendiri saja, hegemoni rokok sudah kian kuatnya. Remaja karang taruna, enggan untuk bergerak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan bila tanpa rokok. Tiapkali ada acara pernikahan, kerja bakti, pasti ada saja anggaran untuk rokok dan 'panitia' yang bertugas mendistribusikan rokok.  Padahal, dampak rokok tidak saja berbahaya bagi perokok, tetapi juga berimbas orang disekitarnya yang sama sekali tidak merokok (perokok pasif). Legalitas rokok itu sendiri secara nyata telah membentuk nilai-nilai, pranata sosial baru yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat. Boikot merupakan cara-cara primordial dalam masyarakat kita yang memberikan punishment bagi mereka yang tidak 'sesuai' dengan adat. Apakah jika kita ingin sehat dan bebas rokok harus menerima boikot tersebut ?

Rokok menguras anggaran kesehatan negara kita
Sangatlah tidak adil jika anggaran JAMKESMAS diberikan kepada pasien penderita gangguan paru-paru akibat kesalahannya sendiri dalam mengonsumsi rokok. Kenyataannya, banyak masyarakat miskin yang tidak mampu (bukan perokok) tidak tersentuh oleh JAMKESMAS. Belum lagi anggaran JAMKESMAS masuk ke kantong-kantong pemegang otoritas dan kroni-kroninya. Dana JAMKESMAS pun kerap  diselewengkan dari tingkat kabupaten sampai tingkat RT. Kalau sudah begini, adakah keadilan bagi masyarakt miskin yang bukan perokok dalam mendapatkan jaminan kesehatan ? Pemerintah seharusnya juga merombak peraturannya dalam alokasi dana JAMKESMAS.

Hegemoni rokok pun sudah menembus kalangan usia dini. Siswa SD pun sudah banyak yang menjadi perokok dan seolah hal itu sudah menjadi pemandangan yang lazim di masyarakat kita. Apakah kita akan membesarkan generasi-generasi perokok kedepannya? 
Sudah sepantasnya kita untuk segera menghentikan kebiasaan merokok. Seperti yang telah saya katakan tadi, bahaya rokok berdampak sistemik, merasuk kedalam seluruh sistem tata sosial kehidupan masyarakat. Orang tua yang merokok di depan anaknya secara tidak langsung telah mengajarkan anaknya bagaimana cara menjadi perokok yang 'baik'. Akankah kita selamanya menjadi budak rokok ?

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More