Wednesday, October 13, 2010

Islam bukan Agama Mayoritas di Indonesia

Sebenarnya, ajaran Islam yang otentik telah mengalami kepunahan di Indonesia. Yang ada cuma sisa-sisa peninggalan budaya arab dan melayu. Itu pun dalam beberapa hal bertentangan dengan ajaran Islam.
Mungkin, lebih pantas, untuk ukuran rakyat Indonesia, sebaiknya “beragama Pancasila” saja. Karena lebih membumi dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan budaya lokal. Dengan begitu, rakyat akan lebih makmur, adil dan bermartabat. Sekali lagi, mungkin…!
Apalah arti agama jika hanya menjadi pernak-pernik kehidupan yang serba munafik, bodoh dan tidak bermartabat?
Pertanyaan itu terbaca sederhana. Tidak lebih adalah sebuah ungkapan yang selalu muncul di benak kita. Namun, jika disimak dengan pikiran yang jernih dan jujur, maka maknanya menggungah jiwa dan kesadaran seluruh pemeluk agama di negeri ini.
Setidaknya, bagi kaum muslim, ungkapan itu merupakan cermin untuk melihat seberapa jauh perilaku dan kesungguhan kita menjalankan ajaran Islam secara benar. Tepatnya, sudah saatnya melakukan koreksi secara serius atas pemahaman dan tindak-tanduk kita sebagai muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Beberapa waktu lalu, dalam sebuah diskusi kecil, seorang sahabat mengungkap kekesalannya kepada media massa dalam dan luar negeri, yang cenderung mendiskreditkan Islam dengan teroris. Menurutnya, stigmatisasi itu semakin hari merasuk dan telah memposisikan ummat Islam secara memprihatinkan.
Saya dengan spontan menjawab, “bersukurlah, untuk ukuran orang Indonesia yang bermental korup dan apatis, layak menerima julukan tersebut…” Dan terbukti mereka sungguh bangga atas predikat bobrok itu.
Mendengar pernyataan itu, sahabat saya bertanya dengan nada suara yang agak emosional. “Apakah anda termasuk pribadi muslim yang ikut senang jika citra Islam diobok-obok secara tidak menusiawi…?
Begini kawan, jawab saya, sebenarnya citra Islam itu diperjuangkan melalui cara berfikir dan perilaku kehidupan kaum muslim. Pendekatan ini harusnya dilakukan secara totalitas (kaffah), tidak boleh sebatas kepentingan sesaat (parsial).
Misal, tentang kehidupan pribadi, masyarakat dan negara, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Artinya, jika anda menyakini Islam sebagai kebutuhan pribadi yang lepas dari realitas masyarakat dan negara, maka hasilnya Islam lebih pada tujuan individual semata.
Selanjutnya, Islam berbasis kepentingan individualistik itu berinteraksi dalam masyarakat dan membentuk sebuah kultur yang hetrogen, matrealistik dan tanpa memiliki visi keagamaan yang jelas. Hasilnya, individu dan masyarakat menyerahkah hajat hidupnya bergantung sepenuhnya pada kemauan negara.
Nah, pada tingkatan negara, segelintir orang berkuasa dengan berpijak pada aturan yang telah terbukti jauh dari ajaran dan nilai-nilai Islam. Hasil akhirnya, negara tetap unggul sebagai penentu atas seluruh bentuk keyakinan keagamaan, termasuk Islam itu sendiri.
“Artinya penyelenggara negara tidak memiliki keyakinan Islam secara utuh?,” tanya sahabat saya.
Jelas, negara memiliki ideologi Pancasila yang derajatnya jauh lebih tinggi dibandingkan Islam yang diyakini oleh individu maupun masyarakat. Dan ukuran derajat itu (Pancasila) tergantung pada kemauan dan kepentingan penguasa.
Dalam perjalanan berbangsa dan bernegara dalam kurun waktu 65 tahun Indonesia merdeka, Pancasila dapat diklaim sebagai “agama” dalam pengertian sebuah ideologi yang menyatukan dan menggerakan kehidupan rakyat. Bukan Islam…!
Islam justru menjadi bagian dari kehendak Pancasila yang terimplementasi melalui instrumen sistem kenegaraan. Artinya Islam telah dipinggirkan untuk tujuan membangun negara yang sekuler. Kalaupun ada Islam, itu hanyalah simbol-sombol dan ritual saja.
Maksud anda untuk menerapkan Islam yang kaffah berarti harus membentuk negara Islam?
Pertanyaan itu sangat tidak relevan dengan realitas kehidupan masyarakat muslim di negeri ini. Wong, masyarakat yang mengaku muslim begitu bobrok dan tercerai-berai, bagaimana mungkin membuat negara Islam?
Yang tepat barang kali menurut anda, keyakinan dan pemikiran Islam orang Indonesia itu sampai pada tujuan pembentukan Parpol dan Ormas Islam saja. Selanjutnya rakyat yang muslim itu dibodohi dan dimiskinkan tanpa adanya perhatian dan solusi serius.
Saya cocok dengan kesimpulan itu. Lebih tegasnya adalah untuk kadar dan mental orang Indonesia sebaiknya “beragama Pancasila”. Sebab buat apa mereka mengaku Islam kalau tidak sejalan dengan haluan negara?
Diakhir perbincangan itu saya melontarkan canda sebagai penutup diskusi dengan sahabatku. “Bayangkan, seorang TKI yang bekerja di Saudi Arabia dan kebetulan bisa berbahasa arab, lantas mengganggap dirinya ustad…”
Ha…ha…ha…ha… kami saling berangkulan sambil berjalan pulang.

Source: visibaru.com

1 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More