Saturday, February 12, 2011

Ada Rekayasa di Balik Insiden Temanggung & Pandeglang ?

  • Berbicara masalah peristiwa Cikeusik di Banten dan Temanggung di Jawa Tengah saya pernah menulis pada tulisan saya Cikeusik Banten – Temanggung Jateng berbeda tapi satu skenariao. Dalam tulisan terdahulu itu saya sampaikan bahwa untuk menelusuri siapa otaknya , harus melalui jalur siapa yang mengirim sekitar 15 Jamaah Ahmadiyah yang masuk ke Cikeusik dengan dua mobil atau siapa yang mengirim Antonius Richmond Bawengan. Karena mereka dijadikan martir dalam satu tujuan besar berskala Nasonal.
  • Ada beberapa motif yang mendasari operasi penggerakan masyarkat rentan ini , antara lain :
  • Ø Adanya kepentingan asing yang menghendaki terbentuknya opini Dunia bahwa Indonesia rentan dari pengaruh Islam Trans Nasional dengan maraknya Terorisme dan Kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam.
  • Ø Adanya kepentingan pengalihan Isu dari Isu besar yang sedang berusaha dikuak di Negeri ini ( Century dan Rekayasa Antasari yang kembali di ungkit-ungkit, masalah skanda Gayus, Rekening Gendut Perwira Polisi etc. )
  • Ø Adanya LSM yang untuk mendapatkan masukan dana dari luar, dengan menjual isu kekerasan yang terjadi di Indonesia oleh Umat Islam. ( Memenuhi kebutuhan motif pertama )
  • Dari tiga motif itu saja cukuplah untuk membedah ada apa dibalik tragedi Cikeusik dan Temanggung, karena dari tayangan yang diulang-ulang pada tragedi Cikeusik Reka yasa itu tampak sekali :
  • Ø Tayangan ulang oleh Metro TV pagi ini Tanggal 11 Februari 2011 menampakkan seorang tinggi besar ber jaket diiringi seorang lain yang ber sorban dipundaknya memimpin serombongan orang yang dihadang oleh seorang anggota polisi yang tanpa membawa kelengkapan yang memadai , selangkah orang tersebut lepas dari hadangan polisi , hujan batu dari dalam rumah telah mendahului, dalam babak ini tampak bahwa penyerang justru keteteran, sebelum massa yang lebih besar datang.
  • Kemudian opini apa yang muncul dari pemberitaan ?
Semua pemberitaan media TV mengarahkan pada opini bahwa sekelompok orang Islam yang beringas menyerang penganut Ahmadiyah yang tidak berdaya, bahkan ada media yang tega mengatakan bahwa penghuni rumah yang diserang itu adalah peserta pengajian termasuk wanita dan anak-anak .
Ø Kekurang siapanya polisi ( atau bisa diartikan pendiaman ) yang sudah tahu bahwa akan ada penyerangan dari warga , tampak sekali bahwa Polisi memang sudah mengingatkan Jamaat Ahmadiyah , dan bahkan ditantang oleh ketua kelompok Jamaah Ahmadiyah yang tidak mau meninggalkan tempat ( Tayangan tanggal 10 Feb. Yang menampilkan konferensi Pers POLRES/POLSEK ) seharusnya Polisi tegas dengan mengevakuasi paksa sekitar 15 Jemaat Ahmadiyah yang datang dari luar daerah Cikeusik bersama pemilik rumah dan mengamankannya.
Ø Alibi dari Andreas Hartono, yang menyatakan bahwa bukan dirinya yang meliput dan dirinya tidak terlibat adalah alibi yang sangat naif. Karena kegiatan LSM bukanlah kegiatan Individu, tapi peliputan yang hasilnyan proffesional tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.
Ø Tentang pelaku kekerasan itu sendiri, dengan tidak perlu melibatkan Ormas Islam yang radikal, dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam , di Negeri ini dimana penuh dengan kelompok masyarakat rentan yang telah putus asa, dengan kondisi penegakan hukum yang carut marut ini, apa lagi dipedesaan atau daerah pinggiran tidak memerlukan biaya besar. Isu SARA sangat mudah untuk menggerakkan mereka. Inilah yang pernah saya tulis tentang mereka :

“ Dalam tata masyarakat kita ini ada sekelompok rentan, masyarakat “Islam “ yang walaupun mereka tidak pernah Shalat, sering mabok dan tak mengenal adab Islam , tapi apa bila ada gerakan yang dianggap merugikan Islam , mereka akan berani ribut duluan, itu merupakan satu kesempatan bagi mereka untuk menebus dosa mereka dengan merasa melindungi Isam. Atau sebetulnya merupakan kesempatan unjuk diri untuk membela yang benar. Karena selama ini mereka selalu dianggap sampah masyarakat oleh leluhurnya yang Islam. Ini lah saatnya mereka maju sebagai pahlawan.”
Tentang Ahmadiyah Versus Islam, masalah ini telah berlarut sepanjang jaman dan tidak akan pernah dapat diselesaikan, tapi hanya bisa diredam. Hal ini sudah merupakan realita yang disadari oleh semua elit, tinggal bagaimana pertentangan ini dimanfaatkan. Pemerintah bisa dengan mudah memperkecil kemungkinan konflik itu terjadi tapi dilain fihak pertentangan ini memang dengan mudah bisa dijual dengan harga yang mahal karena ” DUNIA” memang membutuhkan data adanya konflik kekerasan bernuansa pelanggaran HAM apa lagi itu dilakukan oleh UMAT ISLAM FUNDAMENTALIS.
Hanya untuk mendapatkan dollar , atau mengalihkan isu besar yang mencengkeram Negeri ini atau konspirasi dari keduanya , kemudian tega hanya untuk merekayasa opini sampai mengorbankan jiwa sebagai martir pejuangannya , sungguh merupakan satu perbuatan yang sangat BIADAB.
Kalau Polisi berani dan berkemampuan, melaui pintu yang sudah terbuka yaitu pemegang kamera yang meliput secara langsung ,dari LSM
Saya kutip dari Detik kom.

Jakarta - Tak lama setelah terjadi kasus kekerasan yang dilakukan oleh massa terhadap warga Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang, Banten, muncul video tentang aksi kekerasan massa tersebut di Youtube. Video itu pun banyak diunduh. Namun tak lama kemudian, video itu pun diblokir.

Hasil penelusuran, sang pengupload bernama Andreas Harsono. Namun saat dikonfirmasi detikcom, Andreas menyerahkannya kepada timnya untuk menjawab. Menurutnya, ada timnya yang bertugas khusus untuk menjawab pertanyaan ini.

“Ada tim saya bernama Elaine yang akan menjawabnya,” kata Andreas singkat kepada detikcom via telepon, Rabu (9/2/2011) malam.
Andreas kemudian meminta detikcom untuk meneleponnya kembali 2 menit kemudian. Namun saat ditelepon kembali, Andreas tidak mengangkat teleponnya. Baru setelah di-SMS, Andreas membalasnya.

Dalam balasannya tersebut, Andreas kemudian memberikan nomor Elaine yang dia maksud. Namun ternyata nama lengkap orang yang dimaksud adalah Elaine Pearson, yang saat ini berada di Perth, Australia. Selain meminta menghubungi Elaine, Andreas juga meminta agar detikcom menghubungi Brad Adams yang saat ini berada di London.

“Elaine saat ini mungkin sudah tidur, tapi coba SMS nanti dia akan menelepon,” kata Andreas.
Namun detikcom belum berhasil menghubungi kedua nomor tersebut. Kepada detikcom, Andreas siang ini menjelaskan, dia dan teman-temannya bekerja di Human Right Watch. Elaine dan Adams,
(IDA/Kompasiana)

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More