Monday, April 18, 2011

Kontroversi dibalik Film Tanda tanya besutan Hanung Bramantyo


Di Film terbarunya  Hanung Bramantyo sebagai sutradara kembali menuai kontroversi, lewat Film yang berjudul “?” (tanda tanya) yang dengan beraninya mengangkat isu sensitif  yaitu  toleransi antar ummat beragama. Meski tidak dipungkiri toleransi yang digambarkan melukai banyak pihak terutama umat muslim yang dengan gegabah dipertontonkan. Banyak ide – ide menyesatkan yang dikemas dengan cinematografi yang terbungkus apik.

Film ? ini berbahaya bila ditonton oleh masyarakat awam yang pemahaman agamanya masih rendah. Unsur pluralisme yang mengaburkan akidah banyak terlihat jelas di film ini.

1. Dalam film “?”, ada adegan pendeta ditusuk, gereja dibom, restoran Cina diserang secara anarkis oleh sekelompok masyarakat muslim di hari lebaran, dan sekelompok pemuda muslim bersarung dan berpeci mencerca seorang keturunan Tionghoa dengan panggilan “Cino” (Cina), yang kemudian dibalas dengan cercaan “Teroris Asu” (dalam bahasa Jawa yang artinya “Desar Teroris Anjing”).

Kesan untuk masyarakat awam, islam itu bengis, biadab, dan jahat. Walaupun dalam adegan penusukan pendeta dan pengeboman gereja tidak jelas pelaku dan motifnya, namun dalam adegan lain sangat jelas mengarahkan kesan kepada umat Islam.

 2. Dalam “?” ada cerita tentang Rika yang semula Muslimah, kemudian murtad masuk Nasrani, karena kecewa suami berpoligami. Rica pun berdalih, bahwa kemurtadannya, bukan berarti membenci ataupun mengkhianati Tuhan. Sepanjang cerita, Rika ditampilkan sebagai sosok yang ideal, toleran, arif dan bijak. Ibu dan anak Rika yang semula menentang kemurtadan Rika, akhirnya bisa menerima. Dalam cerita ini ada narasi:  
“…semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju kea rah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu: Tuhan.”

Kesan untuk masyarakat awam adalah: syariat poligami itu buruk, karena merusak rumah tangga dan menyebabkan orang murtad. Kesan awam lainnya adalah murtad itu bukan mengkhianati Tuhan, sehingga tidak mengapa menjadi murtad. Rika yang murtad itu bisa dikesankan ideal dan toleran, sehingga orang murtad pantas diterima secara baik. Pesan dalam film ini adalah mengarah pemahaman semua agama benar dan sama menuju Tuhan yang satu (pluralism).

3. Dalam film “?” ada cerita tentang Surya yang bermain drama pada hari Raya Paskah di gereja dengan peran menjadi Yesus. Sebelum pentas, Surya berlatih memperagakan Yesus disalib di dalam masjid, lalu direstui oleh ustadz yang mengajar di masjid tersebut. Saat pentas di gereja pun banyak orang berpenampilan laki-laki muslim dan muslimah yang ikut berpartisipasi menonton dan membagikan bingkisan Paskah kepada jemaat gereja.

Kesan untuk masyarakat awam adalah: orang Islam main drama di gereja dan berperan sebagai Yesus itu tidaklah mengapa. Latihan drama Yesus disalib di dalam masjid juga dianggap tidak perlu dipersoalkan. Kesan lainnya, orang Islam ke gereja untuk ikut merayakan Paskah pun tidak mengapa.

4. Dalam film “?” ada cerita tentang Menuk, seorang muslimah berjilbab, yang kerja di restoran Cina yang menjual dan menyajikan daging babi. Saat shalat, Menuk melaksanakan shalat di tempat kerjanya, dan saat tugas Menuk menghidangkan babi dengan nyaman tanpa ada sikap galau atau pun riskan.

Kesan bagi masyarakat awam atas adegan itu adalah: seorang muslim tidak menjadi halangan untuk menjual, memotong, menghidanghkan daging babi. Bahkan ada kesan mengajak masyarakat untuk menghalalkan babi. Walaupun pemilik restoran menyatakan dalam film tersebut, alat masak untu babi harus dipisah dengan alat masak untuk udang, cumi dan ayam. Tapi ia juga menyatakan bahwa daging babi itu “lebih gurih”, tidak perlu bumbu apapun.

5. Dalam film “?” ada cerita tentang Tan Kat Sun, pemilik restoran Cina penjual babi, yang toleran terhadap karyawan muslimnya dengan mempersilahkan shalat, namun akhirnya mati pasca penyerangan restoran Cinanya oleh sekelompok orang Islam. Diceritakan juga, bahwa restoran Cina penjual babi tersebut di bulan puasa, merugi karena sepi pengunjung.

Kesan untuk masyarakat awam adalah orang non muslim sangat toleran terhadap umat Islam, tapi tidak dengan orang Islam. Ada kesan, bahwa pelanggan restoran Cina penjual babi itu adalah umat Islam, sehingga ketika umat Islam sedang berpuasa di bulan suci Ramadhan, restoran menjadi sepi pengunjung.

Adegan lainnya adalah Asmaul Husna dibaca dengan sinis dan melecehkan oleh pendeta di dalam gereja. Lalu ibu kost berjilbab digambarkan judes dan bakhil.


5 komentar:

emang bener kok dari fakta seperti itu, hanya pemikir yang realistis yang dapat menilai kebenaran dari fakta,jika fakta sudah mendukung dan diakui oleh semua masyarakat ,mengapa harus ditutupi? mengapa harus dibela? yang seharusnya di telaah dan dipertanyakan ,mengapa jika "itu" adalah sebuah agama ,mengapa bisa memberikan fakta hal demikian, yang dapat dikatakan dalam kalimat: 'itu sebuah agama atau sebuah ideologi?"

anda harusnya bisa membedakan mana ajaran agama dan mana tindakan personal yg dipengaruhi emosi. Radikalisme muncul krn adanya tirani minoritas atas kaum mayoritas. Disamping itu diskriminasi dan provokasi kaum minoritas yang menyulut api kerusuhan dlm peristiwa tsb. Saya hy mencoba berpikir scr realistis dan proporsional, kenapa dlm film ini hy radikalisme islamnya yg ditonjolkan ? Padahal dulu pernah ada genoside besar2 an yg dilakukan org kristen thd minoritas islam di Ambon dan Poso. Wajar jika anda tidak tahu akan hal ini jika media informasi yang menjadi rujukan anda adl Kompas yg notebene dimiliki oleh nonmuslim. Dan tahukah anda, bahwa media mainstream di Indonesia kini dikuasai oleh kaum sekuler. Dan media 2 krucuk lainnya cuman copy paste dr media mainstream spt kompas & the gang...?

Sekali lagi, bisakah anda berpikir scr proporsional dan realistis dlm melihat film ini ?

FILM ADALAH SARANA KRITIK BUNG, ADA YANG SALAH DALAM KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA, HARUS DIAKUI ITU, ADA KONFLIK AMBON, POSO, BOM BALI, BOM KUNINGAN, BOM MALAM NATAL, PERUSAKAN GEREJA, DSB. HANUNG HANYA INGIN MENJELASKAN BAHWA TIDAK SEMUA ORANG NON MUSLIM JAHAT DAN TIDAK SEMUA ORANG MUSLIM BAIK. DIA CUMA BILANG CONTOH YANG BAIK BUANG YANG BURUK DAN ANARKI....SAYA RASA INI PEMBELAJARAN YANG BAIK BUAT KALANGAN MUSLIM

FILM ADALAH SARANA KRITIK BUNG, ADA YANG SALAH DALAM KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA, HARUS DIAKUI ITU, ADA KONFLIK AMBON, POSO, BOM BALI, BOM KUNINGAN, BOM MALAM NATAL, PERUSAKAN GEREJA, DSB.
HANUNG HANYA INGIN MENJELASKAN BAHWA TIDAK SEMUA ORANG NON MUSLIM JAHAT DAN TIDAK SEMUA ORANG MUSLIM BAIK.
HANUNG HANYA INGIN MENJELASKAN "AMBIL CONTOH TOLERANSI YANG BAIK DAN BUANG CONTOH TOLERANSI YANG BURUK"
HANUNG HANYA INGIN MENJELASKAN UMAT NON MUSLIM BISA BERTOLERANSI DENGAN UMAT MUSLIM, KENAPA UMAT MUSLIM TIDAK MENCONTOHNYA.
HANUNG HANYA INGIN MENJELASKAN BUKAN HANYA UMAT MUSLIM AJA YANG ADA(DI INDONESIA) TAPI ADA JUGA UMAT-2 LAIN-NYA YANG PUNYA KEPERCAYAAN BERBEDA. HORMATI KEPERCAYAAN ITU.

GW RASA ITU AJA, ITU AKAN JADI PERTANYAAN "?" BAGI KALANGAN UMAT MUSLIM UNTUK INSTROPEKSI.
APAKAH HANUNG SESAT. ANDA SALAH JUSTRU DIA SANGAT SAYANG DENGAN AGAMA-NYA..DIA MAU UMAT MUSLIM JUSTRU MENANAMKAN TOLERANSI KEPADA UMAT LAIN-NYA

Kalo Hanung Bramantyo mau fair, coba dia juga buat film ttg pembantaian thd muslim Poso & Ambon. Saya garansi, si Hanung tak akan berani krn dia lebih takut ditinggal para sponsornya...

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More