Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Saturday, June 25, 2011

Farid Alhadi - Schitzo [Official Video]

Theosofi-Freemason dan Penghinaan Terhadap Islam (Bag. 3)

Para aktivis nasionalis sekular, terutama mereka yang aktif dalam organisasi Theosofi dan Freemason berusaha menjauhkan peran agama, khususnya Islam, dalam sistem pemerintahan. Negara tak perlu diatur oleh agama, cukup dengan nalar dan moral manusia.

Paham kebangsaan yang diusung oleh kelompok nasionalis sekular pada masa lalu di negeri ini adalah ideologi "keramat" yang netral agama (laa diniyah) dan kerap dibentur-benturkan dengan Islam. Kelompok nasionalis sekular, sebagaimana tercermin dalam pemikiran Soekarno dan para aktivis kebangsaan lainnya yang ada dalam organisasi seperti Boedi Oetomo, adalah mereka yang menolak agama turut campur dalam sistem pemeritahan. Mereka berusaha menjauhkan peran agama, khususnya Islam, dalam sistem berbangsa dan bernegara. Mereka menjadikan Turki sekular di bawah pimpinan Mustafa Kemal At-Taturk sebagai kiblat dalam mengelola pemerintahan.

Kiblat kelompok kebangsaan kepada Turki Sekular tercermin jelas dalam pernyataan tokoh Boedi Oetomo, dr Soetomo yang mengatakan, "Perkembangan yang terjadi di Turki adalah petunjuk jelas, bahwa cita-cita "Pan-Islamisme" telah digantikan oleh nasionalisme." Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,"Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri."

Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya "Pan-Islamisme", yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto. Tjipto khawatir, para aktivis Islam yang dituduh memiliki agenda mengobarkan Pan-Islamisme di Nusantara itu bisa menguasai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jika mereka berhasil masuk dalam PPKI, kata Tjipto, maka cita-cita kebangsaan akan hancur.

Pernyataan Tjipto Mangoenkoesomo makin memperjelas sikap kalangan pengusung paham kebangsaan atau nasionalis sekular yang berusaha membendung segala upaya dan cita-cita Islam dalam pergerakan nasional dan pemerintahan di negeri ini. Sebelum kemerdekaan, perdebatan soal Islam dan kebangsaan antara kelompok nasionalis sekular yang diwakili oleh Soekarno dan kawan-kawan dengan kelompok Islam yang diwakili A. Hassan, M. Natsir, dan H. Agus Salim begitu menguat ke publik. Berbagai polemik tentang dasar negara menjadi perbincangan terbuka di media massa. Kelompok Islam menginginkan negara yang nantinya merdeka, menjadikan Islam sebagai landasan bernegara. Sementara kelompok nasionalis sekular berusaha memisahkan agama dan pemerintahan. "Manakala agama dipakai buat memerintah masyarakat-masyarakat manusia, ia selalu dipakai sebagai alat penghukum di tangan raja-raja, orang-orang zalim, dan orang-orang tangan besi," kata Soekarno mengutip perkataan Mahmud Essad Bey.

Sarekat Islam, sebagai organisasi pergerakan yang mengusung cita-cita Islam, melalui tokohnya HOS Tjokroaminoto memang menyerukan kepada SI untuk melancarkan gerakan tandzim guna mengatur kehidupan rakyat di lapangan ekonomi, sosial, budaya, menurut asas-asas Islam. Sedangkan H. Agus Salim, selain menyerukan perlawanan terhadap kapitalisme, juga menyerukan tentang kekhilafahan Islam dan Pan-Islamisme, sehingga berdiri apa yang disebut dengan Central Comite Chilafat. Nasionalisme dalam pengertian Salim adalah memajukan nusa dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam.

Mohammad Natsir dalam Majalah Pembela Islam tahun 1931 menulis bahwa kelompok yang ingin memisahkan agama dari urusan negara adalah kelompok "laa diniyah" (netral agama). Natsir menegaskan, ada perbedaan cita-cita antara kelompok kebangsaan dan para aktivis Islam tentang visi negara merdeka. Natsir menyatakan, kemerdekaan bagi umat Islam adalah untuk kemerdekaan Islam, supaya berlaku peraturan dan undang-undang Islam, untuk keselamatan dan keutamaan umat Islam khususnya, dan untuk semua makhluk Allah umumnya. Natsir menyindir kelompok nasionalis sekular dengan mengatakan, "Pergerakan yang berdasarkan kebangsaan tidak akan ambil pusing, apakah penduduk muslimin Indonesia yang banyaknya kurang lebih 85% dari penduduk yang ada, menjadi murtad, bertukar agama. Kristen boleh, Theosofi bagus, Budha masa bodoh."

Sementara kelompok kebangsaan, terutama mereka yang aktif dalam organisasi Theosofi dan Freemason, mengampanyekan bahwa nasionalisme yang dibangun di negeri ini harus sesuai dengan doktrin humanisme, di mana manusia berhak menentukan hukum buatan sendiri yang bertujuan untuk mengabdi kepada kemanusiaan, tanpa campur tangan agama manapun. Van Mook, tokoh Freemason di Hindia Belanda ketika itu, dalam sebuah pidato di Loge Mataram, Yogyakarta, tahun 1924, mengatakan, "Freemasonry membimbing nasionalisme menuju cita-cita luhur dari humanitas."

Paham humanisme yang dibawa oleh elit-elit kolonial, teruatama mereka yang aktif sebagai anggota Theosofi dan Freemason inilah yang kemudian "ditularkan" kepada "anak-anak didik" para priyai dan elit Jawa yang menjadi abdi kompeni. Mereka mengampanyekan soal kesamaan semua agama-agama, tidak percaya dengan hukum Tuhan dan mempercayai kodrat alam, dan tentu saja sebagaimana trend imperialisme negara-negara Eropa ketika itu, adalah mengampanyekan bahaya "Pan-Islamisme", semangat solidaritas Islam dunia untuk membangun sebuah pemerintahan.

Karena itu, untuk membendung Pan-Islamisme di Nusantara, apalagi ketika itu banyak tokoh-tokoh Islam yang pulang dari haji dan menimba ilmu di Makkah juga menyuarakan Pan-Islamisme, maka pemerintah kolonial membentuk basis-basis tandingan dengan mendukung berdirinya organisasi-organisasi kebangsaan seperti Boedi Oetomo, Jong Java, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga merangkul para priyai sebagai kepanjangan tangan pemerintah kolonial, memberi keluasan bagi anak-anak keturunan mereka untuk bersekolah di negeri Belanda, dan mendirikan pendidikan-pendidikan netral (neutrale onderwijs), yang berbasis pada pembentukan karakter manusia dengan berpedoman pada hukum kodrat alam.

Tak sedikit dari para elit dan priyai Jawa ketika itu, baik yang aktif dalam organisasi kebangsaan ataupun mereka yang menjabat sebagai residen, asisten residen, wedana, dan sebagainya yang masuk dalam organisasi Theosofi dan Freemason. Bahkan, tak sedikit juga dari mereka yang masuk sebagai anggota Rotary Club, sebuah lembaga kemanusiaan yang dibentuk oleh Zionisme Internasional. Pelecehan demi pelecehan terhadap Islam dilakukan oleh para pengusung kebangsaan, seperti pernyataan bahwa ke Boven Digul lebih baik daripada ke Makkah, pergi haji adalah upaya menimbun modal nasional untuk kepentingan asing, Islam adalah agama impor yang berusaha menjajah tanah Jawa, dan sebagainya.

Terkait dengan Theosofi, Allahyarham Mohammad Natsir dalam Majalah Panji Islam  Tahun 1940 menulis sebuah artikel yang menyindir kelompok Theosofi. Natsir memberi judul artikelnya  "Dokter Agama". Ia menulis, "Ada dokter yang datang dengan obat "synthese" yakni obat campur aduk sebagaimana yang dianjurkan oleh orang-orang Theosofi, yang berpendapat bahwa semua agama itu sama baik, dan lantaran itu kita ambil dari Islam mana "yang baik". Di ambil dari Kristen, dari Hindu, mana yang kita rasa "baik". Dengan begitu tidak ada bentrokan-bentrokan melainkan damai, aman dan sentausa (toleran namanya sekarang)…akhir kesudahannya menghasilkan "agama gado-gado". Budha tanggung, Islam tidak, Kristen pun tak tentu."

Thursday, June 23, 2011

Trik Instal Internet Download Manager (IDM) di Firefox 5

Setelah Firefox 4 tersedia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, akhirnya Firefox 5 pun hadir dengan berbagai kelebihannya, seperti kecepatan browsing dan manajemen tab yang lebih baik.

Terlepas dari semua kelebihannya, ada satu hal yang cukup mengganjal bagi Anda para pengguna Internet Download Manager (IDM), terutama versi sebelum 6.06 beta build 5, Firefox 5 tidak kompatibel dengan add-on IDM 7.2.8. Atau dengan kata lain IDM tidak bisa dipakai di Firefox 5.

Tetapi jangan khawatir, kali ini saya akan menyediakan solusi cara instal Internet Download Manager (IDM) di Firefox 5. Solusinya adalah gunakan add-on IDM 7.3.1 yang akan membuat IDM bisa dipakai di Firefox 5.

Panduan Cara Instal:
Karena ada yang bertanya bagaimana cara instal Internet Download Manager di Firefox 5 (How to Install Internet Download Manager on Firefox 5), Trigonal akan memberikan panduannya:

1. Ekstrak file yang sudah didownload di atas. (file yang sudah diekstrak: idmmzcc 731 [www.trigonalworld.com].xpi)
2. Buka Firefox 5.
3. Tekan Ctrl+O.
4. Akan muncul kotak  dialog, arahkan ke file yang sudah diekstrak.
5. Tekan Enter atau Open.
6. Selesai, IDM siap digunakan
Keterangan:
Apabila IDM masih belum bisa digunakan artinya add-on harus diaktifkan secara manual. Silahkan bukan Add-ons Manager dan cari IDM CC 7.3.1, kemudian klik enable disamping add-on itu. Biasanya ada perintah Restart Firefox, silahkan restart firefox Anda
 
Credits : www.trigonalworld.com

Tuesday, June 21, 2011

Pola Pikir Instan di Balik "REG"


Di zaman ini, untuk menjadi kaya raya dalam waktu sekejap, bukan sesuatu yang sulit. Mau mendapatkan pekerjaan, kemulusan karir, mudah jodoh, baik nasib, dan melancarkan duit masuk kantong, juga bukan sesuatu yang susah susah amat. Setidaknya, itulah pesan yang ingin disasarkan kepada khalayak ramai yang lekas putus asa itu dengan metode instan. Singkat.

Caranya bahkan sangat mudah. Kita hanya cukup menggerakkan jempol tangan dan memainkannya diatas keypad handphone kita. Juga tidak membuat kita mengeluarkan banyak tenaga dan fikiran. Cukup ketik REG spasi NAMA KAMU. Atau ketik TANGGAL LAHIR lalu kirim ke nomor khusus yang telah disediakan sang operator, dan mudah di ingat pula. Maka Anda pun akan mendapatkan reply SMS tips dan trik, atau primbon seputar keluhan keluhan Anda.

Kerap kali himbauan “SMS yang kamu dapatkan langsung dari handphone aku” itu diiklankan di layar kaca. Tak jarang operator mengirimi pesan ajakan tak penting sejenis itu ke konsumen konsumen, tak peduli ia miskin harta, seperti saya ini.

Tapi, walau tak banyak menggunakan pikiran dan otot, Anda mesti perlu mempersiapkan pulsa. Karena pulsalah yang berbicara. Ketimbang harus berjalan kesana kemari berputar putar melamar pekerjaan yang menguras tenaga, dan belum tentu dalam satu hari itu ada orang yang tertarik menggunakan jasa Anda. Duduk ongkang ongkang kaki dengan HP ditangan sembari menyeruput kopi panas Anda mengirim SMS “REG” itu dan mengirimnya ke 3 atau 4 angka khusus, tentu itu lebih nyaman dan praktis daripada harus berputar putar di tengah panas matahari yang membakar.

Hampir semua kebutuhan seputar keluhan manusia ada layanan pesan pendek REG. Anda mau mengetahui primbon Anda, buruan ketik REG. Mau tau arti nama Anda? Ayo ketik REG. Mau tau siapa jodoh yang pas buat Anda? ketik REG. Mau ini, atau mau itu? ketik REG. Ya, tidak bisa saya sebutkan semua layanan REG itu, saking banyaknya. Bahkan nada nada surga juga ada layanan REGnya. Luar biasa, kan?
Anda paham maksud saya? Saya sedang tidak mempengaruhi Anda untuk sekarang juga kirim REG spasi NAMA KAMU atau spasi TANGGAL LAHIR atau spasi GOLONGAN DARAH dan masih banyak yang lain itu. Semua itu tadi hanyalah prolog semata.

Sadar atau tidak, dengan laku itu semua kita sedang di godok dan kemudian diantar menjadi manusia primitive yang diperdaya. Peran televisi, dan saya melihat yang satu inilah yang sangat kencang meniupkan pengaruh sangkakalanya, dalam mengantar masyarakat kita menjadi komunitas instanistik.
Tidak usahlah setiap jam, bahkan hampir setiap menit iklan SMS REG -tepatnya seruan- ini selalu hadir menghiasi layar kaca dalam rangka penggiringan masyarakat secara massal menjadi manusia yang berpola fikir instan. Sehingga mereka yang masih awam dan belum mengerti hukum agama, ditambah lagi mungkin dengan asa yang masa bodoh mereka tentang perkara ini, akhirnya terjerembablah kita untuk ber-SMS REG ria.

Yang lebih fatal, tarif yang diberlakukan diatas tarif normal. Bagi mereka yang "kelebihan" duit hal ini tidak menjadi masalah asalkan mereka bisa mengetahui karir masa ke depan mereka, keadaan keuangan, dan lain lain. Yang punya duit pas-pasan atau mungkin kurang, tentu ini adalah perkara besar. Apalagi jika sudah mengetik REG, itu artinya sudah terdaftar paten. Orang awam biasanya tidak tahu caranya berhenti berlangganan. Ada memang juga operator yang menyusah-nyusahkan konsumen untuk melakukan unreg, harus berkali kali dulu setelah pulsa benar benar tandas, kering kerontang.

Jadi secara otomatis saldo pulsa akan terus terpotong selama nomor kartu masih terdaftar di sistem mereka. Yang lebih parah lagi, dalam melakukan UNREG alias berhenti berlangganan kerap tidak direspon cepat secepat ketika mengirim REG ke operator seluler bersangkutan.

Sering terjadi, tetap saja pulsa terpotong walaupun sudah di UNREG berkali kali seperti yang pernah menimpa salah seorang pembaca koran nasional terbitan ibu kota yang mengirimkan keluhannya di koran tersebut pada kolom Surat Pembaca.

Secara pribadi, saya tidak pernah sudah sedikipun tertarik untuk mengetik REG ini setelah sebelumnya pulsa saya di gondol secara liar oleh operator seluler dimana saya berlangganan. Waktu itu tahun 2005, saya daftar di NEWS UPDATE berita Sepak Bola Inggris karena memang saya termasuk pelahap pertandingan Liga Inggris.

Yang aneh, berita yang selalu saya tunggu tak kunjung masuk ke HP saya, padahal katanya update harian. Tapi sebaliknya, pulsa saya terus mengalir deras ke kantong kantong para "tim kreatifitas" itu. Awalnya, saya tidak menyadari "penipuan" ini. Belakangan baru saya ketahui pulsa saya tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ketika akan call ke salah satu nomor teman.

Saya memang lebih suka SMS daripada nge-call. Selain murah, SMS juga merepresentasikan kevalidan. Sejak itulah saya bertekad untuk membasmi kejahatan di muka bumi ini. Tapi suer, saat itu saya benar benat shock dan menyesal sekali. Tak seperti biasanya memang.

Saya biasa menghabisakan pulsa maksimal Rp.70ribu sebulan. Tapi sejak ada setan REG mengikat nomor saya itu, penggunaan pulsa saya meningkat tajam diatas pemakaian normal. Sejak itulah, saya beralih ke seluler lain yang sepertinya lebih baik dan bertanggung jawab. Tapi agaknya semua sama saja. Semua sama sama memburu untung, memburu duit, membobol kantong Anda.

Tentu yang paling berbahaya lagi adalah sensitifnya kita terjerumus ke dalam perkara syirik. Betapa tidak, dalam SMS REG spasi NAMA KAMU atau TANGGAL LAHIR itu juga melayani keluhan masalah perbintangan alias astrologi. Astrologi adalah sarana menakjubkan untuk mengenal lebih jauh pribadi seseorang berdasarkan rasi bintangnya.

Tebakan atau ramalan bintang ini di "fatwakan" oleh para dukun atau dalam bahasa kerennya mereka yang punya kemampuan metafisik. Metafisik (Bahasa Yunani: (meta) = "setelah atau di balik", (phúsika) = "hal-hal di alam"), artinya orang orang yang bisa menebak atau mengetahui sesuatu tentang orang lain diluar dirinya.
Maka dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)

Pendapat Ibnu Taimiyyah tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW seperti yang diceritakan dalam hadits:
"Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu)"

Sampai disini jelas, bahwa para dukun tersebut mempunyai sekutu sekutu. Sebagai seorang Muslim, mempercayai dukun adalah dosa besar dan syirik. Apalagi sampai mendatanginya untuk meminta penujuman, itu lebih fatal lagi. Syiriknya akan berlipat lipat.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita hanya meyakini Allah ta’ala semata sebagai penentu segala sesuatu. Mati kita, rejeki kita, jodoh kita, nasib kita hari ini, besok, dan akan datang, semuanya Allah yang tahu.
Sehingga seyogyanyalah hanya pada-Nya kita bergantung. Bukannya bergantung pada petuah petuah Pak Dukun atau Bu Dukun. Dukun dukun itu adalah manusia seperti kita. Tidak lebih.

Di sisi lain sebetulnya, yang banyak diuntungkan dari SMS REG itu adalah kalangan tertentu saja. Masyarakat hanya menjadi komoditas yang potensial untuk menangguk duit sebanyak banyaknya. Selain itu, SMS REG-REG yang banyak itu adalah proses pemandiran yang mengantarkan masyarakat menjadi manusia yang nanti selalu berfikir pendek, tidak mau bekerja keras, malas, dan keinginannya mencapai sesuatu dengan cara yang mudah saja tak mau berusaha.

Proses penanaman paradigma konsumtif juga ikut menyelubung disini. Jika ini tidak disikapi segera, bisa berdampak kritis bahkan akut terhadap mental generasi masa depan bangsa ini.

Anak anak kita akan diarahkan untuk selalu berfikir instan. Maunya kaya tanpa bekerja. Mau pintar tanpa belajar. Jika sudah seperti itu, apalagi yang mau diharap. Semua akan berporos pada instanisasi berfikir dan berbuat atas segala tujuan tujuan yang ingin diraih. Sebagai manusia, kita memang punya naluri untuk ingin selalu hidup enak tanpa ada beban, tapi hal itu tidak mungkin.

Jika instanitas ini berlaku pada meja meja birokrasi pemerintahan tentu bukan masalah. Justru kecepatan dan kecekatan adalah prestasi karena semua serba cepat, terbuka dan tidak berliku liku. Namun jika mengidap pada mindset, pola fikir, ini akan menjadi beban luar biasa. Kita hanya akan mengumpulkan manusia manusia pecundang yang lemah jiwa serta jauh dari berjiwa ksatria.

Padahal sejak dalam proses untuk menjadi manusia, kita sebenarnya terlahir sebagai kompetitor hebat dan handal tak tertandingi. Terbukti, dari sekian ribu juta calon manusia yang bersaing lahir ke dunia, ternyata kitalah yang menjadi "The Winner". Jadi, apakah Anda mau berhenti menjadi sang juara yang sebetulnya adalah milik Anda atau terus berkompetisi untuk bertahan menjadi pemenang selamanya?

Tentu, dengan menjadi pengikut sms REGGER menyebalkan itu, Anda sedang menggali kubur sendiri untuk kemudian Anda diami selamnya dalam keadaan susah payah dan tak bisa menemukan jalan terang di antara kegelapan kegelapan yang Anda ciptakan sendiri. Yang terakhir ini Anda boleh menimbang percaya boleh tidak.

Tapi ingat, sejarah telah banyak berkata di depan hidung kita bahwa bukan manusia yang berkuasa. Allah SWT lah yang berkuasa.

Monday, June 20, 2011

Syarat Diterimanya Ibadah dalam Islam Bukan Hanya Niat


Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Sesungguhnya dien Islam ini dibangun di atas dua landasan utama. Pertama, tidaklah beribadah kecuali kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Kedua, tidak beribadah kecuali dengan syariat-Nya yang disampaikan oleh para utusan-Nya. Dan ini merupakan intisari dari dua kalimat syahadat yang diikrarkan seorang muslim. La ilaaha Illallaah, menuntut agar seseorang beribadah kepada Allah semata, yang berarti menuntut niat yang benar hanya untuk Allah (ikhlas) dalam rangka melaksanakan dien-Nya.
Muhammad Rasulullah, menuntut agar seseorang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah (yang terkandung dalam syahadat pertama) mengikuti orang yang telah Allah utus bagi umat ini untuk menyampaikan ajaran dan syariat ibadah yang dikehendaki oleh-Nya. Dan utusan Allah tersebut hanya menyampaikan ajaran yang berasal dari-Nya semata, bukan dari pesanan kaumnya atau hawa nafsunya. Sehingga apa yang disampaikannya bukan berasal dari hawa nafsunya, namun dari wahyu yang diturunkan kepadanya. Maka siapa yang beramal dalam Islam dengan ajaran yang tidak disampaikan oleh Rasulullah, maka amal itu tertolak. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa yang melaksanakan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak." (Muttafaq 'alaih)
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa yang mengada-adakan baru dari urusan kami ini (Islam) yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak." (Muttafaq 'alaih)
Islam Adalah Agama Allah
Sesungguhnya dien ini adalah dienullah, yakni ajaran yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak diketahui kecuali melalui wahyu yang disampaikan oleh-Nya melalui Jibril kepada utusan-Nya (Nabi Muhammad) Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sedangkan kewajiban kita adalah menerima dan tunduk serta mengikuti dengan apa yang disampaikan olehnya. Imam Ibnu Syihab al-Zuhri berkata –sebagaimana yang dinukil Imam Bukhari dalam Shahihnya secara ta'liq-,
مِنْ اللَّهِ الرِّسَالَةُ وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
"Dari Allah-lah risalah, dan kewajiban Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan, sementara kewajiban kita adalah taslim (menerima dan tunduk)."
Imam Al-Barbahari berkata dalam kitabnya Syarhus Sunnah:
اعلموا أن الإسلام هو السنة والسنة هو الإسلام ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر
"Ketahuilah, bahwa Islam adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam, tidak masing-masing tidak bisa tegak kecuali dengan yang lain." (Syarhus Sunnah, hal. 3)
Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah menyampaikan Islam tersebut secara keseluruhan kepada umatnya dan menerangkannya secara tuntas kepada para sahabatnya. Lalu para sahabat dengan penuh amanat –karena mereka orang pilihan yang Allah adakan untuk menemani Nabi-Nya dan menjaga agama-Nya- telah mengemban dien ini dan menyampaikan apa adanya tanpa menambahi dan mengurangi. Sehingga apabila kita mendengar ucapan seorang tokoh atau alim tentang Islam dan ibadah di dalamnya maka jangan tergesa-gesa, kata Imam al-Barbahari, sehingga kita bertanya dan memperhatikan apakah hal itu telah dibicarakan oleh sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau oleh salah seorang ulama Ahlus Sunnah. "Apabila Anda mendapatkan sebuah atsar tentang hal tersebut dari mereka , maka peganglah erat-erat dan janganlah coba-coba meninggalkan karena alasan apapun sehingga memilih jalan yang lain, sehingga Anda terjatuh ke dalam api nereka." (dari perkataan Imam Al-Barbahari)
Syarat Diterimanya Ibadah Bukan Hanya Niat Ikhlas
Berkaitan dengan niat baik dan ikhlas dalam ibadah, merupakan syarat untuk diterimanya ibadah. Namun,  syarat untuk diterimanya ibadah bukan itu saja. Lihatlah apa yang disampaikan al-Fudhail bin 'Iyadh dalam menafsirkan ahsanu amala (yang terbagus amalnya) dalam QS. Al-Mulk: 2: "Akhlashubu Wa Ashwabuhu (yang paling ikhlas dan benar)" Kemudian beliau menjelaskannya: "Sesungguhnya suatu amal apabila ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. Dan apabila benar namun tidak ikhlas juga tidak diterima. Sehingga amal itu ikhlas dan benar. Maka (yang dimaksud) ikhlas adalah apabila untuk Allah sedangkan benar adalah apabila sesuai sunnah." (Dinukil dari Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, hal. 450)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Kedua syarat ini (ikhlas dan sesuai syariat yang disampaikan Rasulullah), yang tanpanya maka tidak sah amal seseorang. Maksudnya: sehingga ikhlas dan benar. Sementara ikhlas haruslah amal itu untuk Allah, sedangkan shawab (benar) haruslah amal itu mengikuti syariat. Sehingga sahnya secara dzahir dengan mutaba'ah (mengikuti sunnah) dan batinnya dengan ikhlas. Maka siapa yang dalam amalnya kehilangan salah satu dari kedua syarat ini, ia menjadi rusak. Siapa yang kehilangan ikhlas ia menjadi munafik, mereka itulah yang bermaksud riya' (ingin dipuji) terhadap manusia. Dan siapa yang kehilangan mutaba'ah (kesesuaian dengan sunnah) maka ia sesat dan bodoh. Kapan saja terkumpul keduanya maka itulah amal orang-orang beriman." (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Nisa': 125)
Makna Benar Dalam Ibadah
Syaikh Muhammad bin Shalih bin Utsaimin rahimahullah menjelaskan persoalan ini dalam fatawanya yang menjawab pertanyaan, "Apa syarat-syarat ibadah yang benar di dalam Islam?". Kemudian beliau menjawab dalam beberapa point sebagai berikut:
Pertama, haruslah ibadah tersebut sesuai dengan syariat berkaitan dengan sebabnya. Maka siapa yang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah yang dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan oleh syariat, maka ibadah tersebut tertolak. Karena ibadah tersebut tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Contohnya: Perayaan peringatan Maulid (hari kelahiran) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan orang yang merayakan malam 27 Rajab dengan meyakini sebagai malam diMi'rajkannya beliau, maka perayaan peringatan tersebut tidak sesuai dengan syariat dan tertolak. Hal ini berdasarkan dua pertimbangan:
  1. Dalam tinjauan tarikh, tidak ada keterangan pasti dan kuat bahwa Mi'rajnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada malam 27 Rajab. Kitab-kitab hadits yang ada di tengah-tengah kita tidak ada satu hurufpun yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimi'rajkan pada malam 27 Rajab. Dan sebagaimana yang diketahui bahwa informasi tentang masalah ini tidak boleh dipastikan kecuali dengan sanad-sanad yang shahih.
  2. Kalaulah ada kepastian waktu terjadinya, apakah kita berhak membuat ibadah baru di dalamnya atau menjadikannya sebagai perayaan? Selamanya tidak. Oleh sebab itu, saat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tiba di Madinah dan beliau melihat kaum Anshar memiliki dua hari yang mereka bersenang-senang di dalamnya, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari pada dua hari tersebut," lalu beliau menyebutkan kepada mereka Idul Fitri dan Idul Adha. Ini menunjukkan, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membenci perayaan hari besar yang diadakan di dalam Islam selain perayaan-perayaan Islam yang berjumlah tiga: dua perayaan tahunan, yakni Idul Fitri dan Idul Adha; dan satu hari raya pekanan, yakni hari Jum'at. Kalaulah ada ketetapan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimi'rajkan pada malam 27 Rajab, maka tidak boleh kita mengadakan perayaan apapun tanpa izin dari Pemilik Syariat (Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Sebagaimana yang telah saya (Syaikh Ibnu 'Utsaimin) katakan kepada kalian bahwa bid'ah itu persoalan benar dan pengaruhnya terhadap hati itu sangat buruk, sampai kalaupun seseorang saat pelaksanaannya merasakan hatinya menjadi tenang dan lembut, maka pasti sesudahnya akan terjadi keadaan yang berbalik. Karena kebahagiaan hati dengan kebatilan tak akan langgeng, bahkan akan berganti rasa sakit, penyesalan dan kerugian. Dan setiap bid'ah pasti mengandung bahaya, karena ia menciderai risalah. Konsekuensinya, meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam belum menyempurnakan syariat. Padahal Allah Ta'ala telah berfirman:
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3). Anehnya, orang-orang yang tertimpa musibah bid'ah ini sangat semangat dalam menjalankannya, dan dalam satu waktu mereka meremehkan sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih benar, dan lebih bermakna. Oleh sebab itu kami katakan, perayaan malam 27 Rajab sebagai malam dimi'rajkannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam merupakan amalan bid'ah, karena ia dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan oleh syariat.
Kedua, haruslah ibadah itu sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Misalnya seseorang berkorban dengan kuda. Karena itu kalau ada orang yang berkurban dengan kuda maka ibadahnya itu menyelisihi syariat dalam jenisnya. Karena berkurban tidak boleh kecuali dengan binatang ternak, yaitu unta, sapid an kambing.
Ketiga, ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat dalam kadarnya (jumlahnya). Kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa ia shalat Dzuhur enam rakaat, apakah ibadahnya ini sesuai dengan syariat? Sekali-kali tidak, karena ia tidak sesuai dengan kadar yang ditetapkannya. Kalau ada seseorang yang berdzikir: Subhanallah, Hamdulillah, dan Allahu Akbar sesudah shalat fardhu sebanyak 35 kali, apakah itu sah? Jawabannya:  jika Anda berniat sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala dengan jumlah ini, maka Anda telah salah. Dan jika Anda berniat menambahinya lebih dari apa yang disyariatkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tetapi Anda masih meyakini bahwa yang disyariatkan adalah 33 kali, maka dalam hal ini tambahan tersebut tidak apa-apa. Karena Anda telah melepaskannya dari kegiatan ta'abbud (sesudah shalat) dengan hal itu.
Keempat, ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat dalam kaifiyahnya (tatacaranya). Kalau ada seseorang beribadah sesuai dengan jenisnya, kadar, dan sebabnya, tapi menyalahi syariat dalam tatacaranya, maka ibadah tersebut tidak sah. Misalnya: seseorang yang mengalami hadats kecil lalu berwudhu, namun ia mencuci kadua kakinya lalu baru mengusap kepalanya, kemudian membasuh mukanya, maka apakah wudhunya tersebut sah? Tidak sah, karena dia menyelisihi syariat dalam kaifiyah.
Kelima,  ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat berkaitan dengan waktunya. Misalnya, seseorang berpuasa Ramadhan pada bulan Sya'ban atau bulan Syawal. Atau seseorang shalat Dzuhur sebelum matahari tergelincir atau saat bayangan suatu benda sama panjangnya dengan benda itu; karena jika ia shalat sebelum matahari tergelincir maka ia mengerjakan shalat itu sebelum waktunya. Dan jika ia shalat sesudah bayangan sebanding dengan bendanya, ia mengerjakannya sesudah berlalu waktunya, maka shalatnya itu tidak sah. Oleh karenanya kami katakan, apabila seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja sehinga keluar (habis) waktunya tanpa ada satu udzur, maka shalatnya tidak diterima walau ia shalat seribu kali. Dari sini kita menetapkan satu kaidah penting dalam bab ini: Setiap ibadah yang ditentukan waktunya apabila seseorang mengerjakannya di luar waktunya tanpa ada udzur (alasan syar'i) maka ibadah tersebut tidak diterima atau tertolak. Dalilnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa yang melaksanakan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak." (Muttafaq 'alaih)
Keenam, ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat berkaitan dengan tempatnya. Kalau seseorang melaksanakan wukuf pada hari 'Arafah di Muzdalifah, maka tidak sah wukufnya, karena ibadahnya tidak sesuai dengan tuntunan syariat berkaitan dengan tempat. Missal lainnya, kalau seseorang beri'tikaf di rumahnya, maka tidak sah i'tikafnya tersebut. Karena tempat i'tikaf adalah masjid, karena itu tidak sah wanita yang melakukan i'tikaf di rumahnya, karena rumah bukan tempat beri'tikaf. Dan saat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihat sebagian istrinya mendirikan kemah di masjid (karena adanya persaingan) maka beliau memerintahkan untuk membongkar kemah tersebut dan membatalkan i'tikaf; dan beliau tidak mengarahkan mereka untuk mengerjakannya di rumah-rumah mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa tidak sah i'tikafnya seorang wanita di rumahnya karena menyalahi tuntunan syariat berkaitan dengan tempat.
Dan suatu ibadah tidak disebut memenuhi mutaba'ah (mengikuti Sunnah) kecuali jika keenam hal ini terkumpul dalamnya. Yaitu: sebabnya, jenisnya, kadarnya, kaifiyahnya, waktu dan tempatnya

Menghormati Pendapat Haram Hormat Bendera, Upacara Bendera dan Menyanyikan Lagu Kebangsaan

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar kritikan-kritikan pedas bahkan celaan-celaan yang keras terhadap pihak-pihak yang tidak mau hormat bendera, upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Sangat disayangkan hal itu terjadi, karena yang mereka lakukan belum tentu bertentangan dengan ajaran agama, bahkan bisa jadi hal itulah yang sesuai dengan ajaran agama.
 
Justru perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari agama hampir tidak pernah terdengar adanya kritikan dan celaan, seperti banyaknya para peziarah kubur wali songo dan kuburan-kuburan “keramat” yang melakukan dosa terbesar dan tidak terampuni (jika tidak bertaubat sebelum mati), yaitu dosa syirik kepada Allah Ta’ala dengan mempersekutukan-Nya dalam ibadah doa. Mereka berdoa, memohon terkabulnya hajat-hajat mereka kepada wali songo.

Demikian pula banyaknya orang yang meninggalkan sholat, berbagai macam kebid’ahan dan kemungkaran tersebar di lembaga-lembaga formal maupun di masyarakat, namun semua itu seakan bukan sebuah masalah, sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

Padahal, semua kemungkaran-kemungkaran itulah yang menyebabkan berbagai macam musibah menimpa suatu negeri. Allah Jalla wa ‘Ala telah memperingatkan:

 وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy-Syuro: 30]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Musibah apapun yang menimpa kalian wahai manusia, penyebabnya tidak lain karena dosa-dosa yang kalian kerjakan.”[1]

Pembaca yang budiman, catatan ringkas berikut ini insya Allah Ta’ala mencoba memaparkan alasan-alasan ilmiah pihak-pihak yang mengharamkan hormat bendera, upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Harapan kami, pihak-pihak yang tidak setuju dengan perndapat tersebut dapat berlapang dada menerima perbedaan dan belajar menghormati pendapat orang lain, dan selanjutnya meninggalkan pendapatnya yang salah.

Karena seluruh dunia akan menertawakan, seandainya sebuah radio yang menyiarkan ceramah-ceramah agama demi memperbaiki masyarakat, atau sekolah yang dibangun susah payah sebagai lembaga pendidikan anak-anak bangsa, ditutup hanya gara-gara mempertahankan pendapat yang mereka yakini. Sebaliknya, media-media perusak masyarakat dengan menyebarkan syrik, gambar-gambar wanita telanjang dan berita-berita perselingkuhan malah dibiarkan, sedangkan sekolah-sekolah yang belum mampu mendidik dengan keteladanan malah tidak mendapatkan pembinaan.

Terlebih, jika pendapat haram yang mereka yakini didasarkan pada keyakinan agama yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bimbingan ulama, bukankah negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk menjalankan ajaran agamanya?! Ataukah saat ini, ajaran agama harus disesuaikan dengan kemauan manusia, jika mereka setuju boleh dijalankan, jika tidak maka tidak boleh?!

Alasan Ulama yang Mengharamkan Upacara Bendera :
  1. Urusan duniawi yang pengamalannya menyerupai amalan agama juga termasuk bid’ah.
  2. Mengheningkan cipta adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan ibadahnya agama Hindu, Budha dan Kristen. Sedangkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang keras meniru upacara agama lain. 
  3. Di antara bunyi syair lagu Indonesia Raya adalah : "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya UNTUK INDONESIA RAYA = syair ini telah membatalkan pernyataan kita setiap shalat : "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, HANYALAH UNTUK ALLAH RABB SEMESTA INI"
  4. Di antara bunyi syair lagu Wajib “Padamu Negeri” adalah : “Bagimu Negeri JIWA RAGA KAMI” : ini adalah seruan jahiliyyah dan bertentangan dengan syahadat kita dan bisa menggugurkan ke Islaman pengucapnya. Padahal Allah Azza Wa Jalla berfirman  :
    قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

    “Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS Al An’am 162 – 163)

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4/52 disebutkan : “Orang-orang Musyrik Quraisy mengelilingi Ka’bah dengan telanjang tanpa sehelai benang pun sambil bersiul-siul dan bertepuk tangan”. Dan ini oleh Allah disebut shalatnya kaum musyrik. Maka kalau sambil telanjang, tepuk-tepuk tangan dan siulan saja oleh Allah disebut "shalat" karena di situ ada makna pengagungan dan ketundukan kepada Latta, Uzza dan Manath, walaupun dalam bentuk yang mungkin aneh bagi kita, apalagi penghormatan bendera yang di dalamnya ada tujuan pengagungan terhadap bendera, bahkan rela mati demi Sang Saka Merah Putih tersebut. Apa bedanya dengan orang Jahiiyyah dulu?

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa makna ibadah adalah: “Ketundukan, ketergantungan, kepatuhan, merasa takut dengan hukuman yg akan ditimpakan, menyerah pasrah, mencintai dan merasa kehilangan manakala tidak ada di dekatnya.” BUKANKAH INI SEMUA YANG AKAN DITANAMKAN KEPADA RAKYAT INDONESIA TERHADAP BENDERA DAN TANAH AIRNYA DALAM SETIAP UPACARA DAN PENGHORMATAN BENDERA?

    Dalam Syarah Kitab Tauhid, disebutkan :


    تفسير العبادة، وهي: التذلل والخضوع للمعبود خوفاً ورجاء ومحبة وتعظيماً    القول المفيد على كتاب التوحيد -

    Tafsir dari Ibadah adalah : “Merendahkan diri dan tunduk patuh kepada yang diibadahi, dengan disertai rasa takut (akan hukuman), kecintaan yg dalam dan penghormatan serta pengagungan kepadanya " (Al Qaul Al mufid ‘Ala kitab Tauhid juz 1 hal 320)

    Bukankah sikap pemerintah terhadap mereka yang menolak menghormat bendera atau menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan alasan Nasionalisme atau berbagai alasan lain yang mengada-ada sudah sangat nyata menunjukkan betapa bendera dan lagu kebangsaan dikultuskan sedemikian tingginya bahkan melebihi Rasulullah?


    Pernahkah pemerintah ini sedemikian gusar melihat orang yang tidak puasa, tidak shalat atau tidak membayar zakat seperti gusarnya mereka melihat orang tidak mau hormat bendera?
     

    Apakah mereka sebegitu gusar manakala lafadz "Allah" diinjak-injak oleh Ahmad Dhani atau saat Lia Eden mengaku sebagai Nabi, atau Ahmadiyyah menodai Islam? Bukankah bendera Merah Putih, Indonesia Raya dan simbol-simbol lainnya, lebih mereka junjung tinggi dan mereka hormati dibanding Allah dan Rasul-Nya.


    Di NKRI ini seseorang bisa bebas menghina Allah, Rasulullah dan Dien Al Islam, tapi mereka  tidak boleh sama sekali menghina Merah Putih atau Garuda Pancasila. Hukuman penjara telah menanti Allahu Musta'aan.


    Sikap represif pemerintah terhadap mereka yang tidak mau hormat bendera atau ikut upaca bendera, semakin menunjukkan bahwa ini bukan sekedar masalah sepele, tapi ini soal IMAN dan AQIDAH.


    Masihkah kita ragu bahwa musuh-musuh Allah  sudah mengobok-obok aqidah dan iman kita serta mengancam syahadat anak istri dan keluarga kita?


Saturday, June 18, 2011

Kebobrokan Demokrasi dalam Pandangan Plato, Aristoteles & Islam

DALAM DEMOKRASI..
=> Suara seorang profesor nilainya sama dengan suara seorang idiot. Suara seorang pendeta atau pastur nilainya sama dengan seorang pendosa.
=> kebenaran diukur dari banyaknya suara, bukan dari kebenaran itu sendiri. Bila mayoritas menginginkan homoseksual maka itulah yang disahkan, walaupun dalam Injil/AlQuran jelas melarangnya.

High Cost

Meski populer dan dianggap terbaik, nyatanya demokrasi adalah sistem yang sangat mahal. Demokrasi membutuhkan biaya tinggi (high cost). Saat memberikan pidato kenegaraan di Gedung MPR/DPR, 16 Agustus tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  bahkan cemas dan prihatin dengan perkembangan demokrasi yang makin mahal ini. Meluasnya politik uang, kata SBY, hanya membawa kesengsaraan bagi rakyat dan merusak demokrasi yang sedang dibangun. Praktik politik uang, katanya, pasti diikuti oleh pelakunya mengembalikan modal yang telah dikeluarkan.

Pernyataan SBY ini tentu saja pemanis bibir saja. Pasalnya kegiatan politik dirinya dan kroni-kroninya juga mengeluarkan dana yang sangat besar. Konon biaya kampanye Pilpres pasangan SBY-Boediono menghabiskan dana terbesar dibanding pasangan calon lainnya. Biaya kampanye putra bungsu SBY, Ibas, untuk maju menjadi legislator dari Pacitan menurut politisi PDIP yang maju dari dapil yang sama, Hasto Kristianto,  menghabiskan dana Rp. 7 milyar. Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada, Sigit Pamungkas, bahkan menuding orang dekat SBY, Andi Mallarangeng, melanggengkan demokrasi yang semakin mahal melalui berbagai iklan yang digarap Fox Indonesia.

Pemilihan kepala daerah (bupati, walikota/gubernur) secara langsung makin menambah mahal harga demokrasi. Menurut Mendagri Gamawan Fauzi, minimal biaya yang dikeluarkan seorang calon kepala daerah Rp 20 miliar. Untuk daerah yang kaya, biayanya bisa sampai Rp 100 hingga Rp 150 miliar. “Kalau ditambah dengan ongkos untuk berperkara di MK, berapa lagi yang harus dicari?,” kata Gamawan seperti dikutip Kompas.com (5/7/2010). Bank Indonesia memperkirakan pengeluaran APBD untuk 244 Pilkada tahun 2010 mencapai Rp. 4,2 triliun. Sementara menurut Gamawan Fauzi ‘hanya’ menghabiskan dana Rp 3,5 triliun saja. Fantastis!.

Demokrasi Kriminal   

Pengamat politik dari Universitas Northwestern Amerika Serikat, Profesor Jeffrey Winters menilai Indonesia merupakan negara demokrasi tanpa hukum. Hal ini berdasarkan pengamatannya bahwa pasca jatuhnya rezim Soeharto, sistem demokrasi di Indonesia justru beralih pada sistem oligarki. Akibatnya, hukum yang diharapkan bisa membatasi serta mengawal pemerintahan tidak berfungsi sama sekali. “Demokrasi tanpa hukum dampaknya adalah demokrasi kriminal. Hukum di sini justru tunduk kepada penguasa,” kata Jeffrey.

Demokrasi kriminal ini juga tidak selaras dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan pemberantasan korupsi. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Profesor Didin S Damanhuri, demokrasi politik di Indonesia belum ada relasinya terhadap tingkat kesejahteraan ekonomi. Karena hingga kini Indonesia masih berada di tingkat kesejahteran ekonomi rendah. Sementara tingkat korupsi masih tinggi.    

Perkembangan demokrasi politik, kata Didin, belum mampu mendorong secara signifikan terhadap pengurangan tingkat korupsi. Bahkan dalam laporan penelitian yang bertajuk “Demokrasi politik, Korupsi dan Kesejahteraan Ekonomi”, Didin menulis dalam hubungan antara tingkat kesejahteraaan dengan korupsi, Indonesia menempatkan diri pada posisi terburuk kedua di antara 70 negara. Indonesia hanya satu level di atas Nigeria. Menyedihkan!.

Bobrok Sejak Lahir   

Demokrasi sejatinya sistem yang cacat sejak kelahirannya. Bahkan sistem ini juga dicaci-maki di negeri asalnya, Yunani. Aristoteles (348-322 SM) menyebut demokrasi sebagai Mobocracy atau the rule of the mob. Ia menggambarkan demokrasi sebagai sebuah sistem yang bobrok, karena sebagai pemerintahan yang dilakukan oleh massa, demokrasi rentan akan anarkhisme.   

Menurut Aristoteles bila negara dipegang oleh banyak orang (lewat perwakilan legislatif) akan berbuah petaka. Dalam bukunya “Politics”, Aristoteles menyebut demokrasi sebagai bentuk negara yang buruk (bad state). Menurutnya pemerintahan yang dilakukan oleh sekelompok minoritas di dewan perwakilan yang mewakili kelompok mayoritas penduduk itu akan mudah berubah menjadi pemerintahan anarkhis, menjadi ajang pertempuran konflik kepentingan berbagai kelompok sosial dan pertarungan elit kekuasaan.

Plato (472-347 SM) mengatakan bahwa liberalisasi adalah akar demokrasi, sekaligus biang petaka mengapa negara demokrasi akan gagal selama-lamanya. Dalam pemerintahan demokratis, kepentingan rakyat diperhatikan sedemikian rupa dan kebebasan pun dijamin oleh pemerintah. Semua warga negara adalah orang-orang yang bebas. Kemerdekaan dan kebebasan merupakan prinsip yang paling utama.

Plato mengatakan, “.…they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like.” (Republic, page: 11). (…mereka adalah orang-orang yang merdeka, negara penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang didalamnya boleh melakukan apa yang disukainya, red).

Orang-orang akan mengejar kemerdekaan dan kebebasan yang tidak terbatas. Akibatnya bencana bagi negara dan warganya. Setiap orang ingin mengatur diri sendiri dan berbuat sesuka hatinya sehingga timbullah berbagai kerusuhan yang disebabkan berbagai tindakan kekerasan (violence), ketidaktertiban atau kekacauan (anarchy), kejangakkan/ tidak bermoral (licentiousness) dan ketidaksopanan (immodesty).

Menurut Plato, pada masa itu citra negara benar-benar telah rusak. Ia menyaksikan betapa negara menjadi rusak dan buruk akibat penguasa yang korup. Karena demokrasi terlalu mendewa-dewakan (kebebasan) individu yang berlebihan sehingga membawa bencana bagi negara, yakni anarki (kebrutalan) yang memunculkan tirani.
Kala itu, banyak orang melakuan hal yang tidak senonoh. Anak-anak kehilangan rasa hormat terhadap orang tua, murid merendahkan guru, dan hancurnya moralitas. Karena itu, pada perkembangan Yunani, intrik para raja dan rakyat banyak sekali terjadi. Hak-hak rakyat tercampakkan, korupsi merajalela, dan demokrasi tidak mampu memberikan keamanan bagi rakyatnya. Hingga pemikir liberal dari Perancis Benjamin Constan (1767-1830) berkata: ”Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.”

Bertentangan dengan Islam

Aneh bila ada orang yang mengatakan Islam sejalan dengan demokrasi atau demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Dikatakan oleh mereka bahwa esensi demokrasi sama dengan Islam, yakni musyawarah (syura), toleransi (tasamuh), keadilan (al-adl) dan persamaan (musawah).

Padahal inti dari demokrasi bukan itu. Dua pokok landasan (asas) demokrasi yang bertentangan dengan Islam secara diametral adalah bahwa (1) kedaulatan di tangan rakyat dan (2) rakyat adalah sumber kekuasaan. Kedaulatan tertinggi di tangan rakyat membawa konsekuensi bahwa hak legislasi (penetapan hukum) berada di tangan rakyat (yang dilakukan oleh lembaga perwakilannya, seperti DPR). Sementara sumber kekuasaan di tangan rakyat berarti rakyatlah yang memilih penguasa untuk menerapkan hukum yang dibuat oleh mereka dan untuk memutuskan perkara berdasarkan hukum itu. Rakyat pula yang berhak memberhentikan penguasa dan menggantinya dengan penguasa lain.

Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam bukunya “Ad Dimukratiyah Nizhamul Kufr” menjelaskan bahwa menurut Islam, kedaulatan (as siyadah) berada di tangan syariat, bukan di tangan umat. Artinya hanya Allah Swt sajalah yang bertindak sebagai Musyari’ (pembuat hukum). Penetapan halal dan haram, hak prerogatif Allah Swt bukan dimusyawarahkan oleh DPR. (lihat QS. An Nisa’ [4]: 60 dan 65, QS. Al An’an [6]: 57).

Kekuasaan (as-Shultan) memang milik umat. Tetapi syariat tidak memberikan hak kepada umat untuk memberhentikan penguasa. Umat tidak boleh melakukan pemberontakan selama penguasa masih menjalankan syariat Islam. Jika diketahui penguasa melakukan pelanggaran terhadap syariat yang berhak untuk menurunkan penguasa adalah Mahkamah Mazhalim, bukan rakyat.

Dari sisi teknis, sistem politik Islam juga lebih mudah dan murah. Pemilihan kepala daerah baik gubernur (Wali) maupun bupati/walikota (Amil) cukup dengan pengangkatan oleh kepala negara. Kepala Negara akan mengangkat seorang figur yang dinilainya mempunyai kapasitas, kapabilitas, cakap, adil dan amanah untuk memimpin sebuah wilayah. Tidak diperlukan biaya bermilyar-milyar untuk kampanye dan sengketa di MK. Tentu saja bebas dari korupsi. Sekarang tinggal pilih mana, demokrasi yang bobrok dan mahal atau sistem Islam yang adil, mensejahterakan, mudah dan murah?. Pilih sekarang jangan menunggu negeri ini hancur.

Theosofi-Freemason dan Penghinaan Terhadap Islam (Bag. 2)

Organisasi kepemudaan yang bercorak kebatinan Jawa pada masa lalu juga tak lepas dari pengaruh Theosofi-Freemason. Sejarah mencatat, organisasi kepemudaan ini disusupi kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam.

Dalam catatan sejarah, keluarnya Syamsuridjal dari keanggotaan Jong Java (Perkumpulan Pemuda Jawa) dan kemudian mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/ Perhimpunan Pemuda Islam) adalah karena organisasi Jong Java menolak untuk mengadakan kuliah atau pengajaran keislaman bagi anggotanya yang beragama Islam dalam organisasi ini. Sementara, agama Katolik dan Theosofi justru mendapat tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java. Pada masa lalu, Jong Java adalah organisasi yang berada dalam pengaruh kebatinan Theosofi.

Sosok yang dianggap berpengaruh dalam menyingkirkan Islam dari organisasi Jong Java adalah Hendrik Kraemer, utusan Perkumpulan Bibel Belanda yang diangkat menjadi penasihat Jong Java. Sejarawan Karel Steenbrink dalam "Kawan dalam Pertikaian:Kaum Kolonial Belanda Islam di Indonesia 1596-1942" menulis bahwa Kraemer adalah misionaris Ordo Jesuit yang aktif memberikan kuliah Theosofi dan ajaran Katolik kepada anggota Jong Java. Di organisasi pemuda inilah, Kraemer masuk untuk menihilkan ajaran-ajaran Islam. (Lihat, Karel Steenbrink, hal.162-163)

Selain Syamsuridjal, permintaan agar Islam diajarkan dalam pengajaran di Jong Java juga disuarakan Kasman Singodimedjo. Kasman bahkan mengusulkan agar Jong Java menggunakan asas Islam dalam pergerakan dan menjadi pionir bagi organisasi-organisasi pemuda lain, seperti Jong Sumatrenan, Jong Celebes, dan Pemuda Kaum Betawi. Kasman beralasan, Islam adalah agama mayoritas di Nusantara, dan mampu menyelesaikan segala sengketa dalam organisasi-organisasi yang saat itu banyak terpecah belah. Karena tak disetujui, maka pada 1 Januari 1925, para pemuda Islam mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/Perkumpulan Pemuda Islam) di Jakarta. Dengan menggunakan kata "Islam", JIB jelas ingin menghapus sekat-sekat kedaerahan dan kesukuan, dan mengikat dalam tali Islam.

Dalam statuten JIB dijelaskan tentang asas dan tujuan perkumpulan ini: Pertama, mempelajari agama Islam dan menganjurkan agar ajaran-ajarannya diamalkan. Kedua, menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, disamping toleransi yang positif terhadap orang-orang yang berlainan agama. Dalam kongres pertama JIB, Syamsuridjal dengan tegas menyatakan, "Berjuang untuk Islam, itulah jiwa organisasi kita."

Untuk mengkonter pelecehan-pelecehan terhadap Islam, para pemuda Islam yang tergabung dalam JIB kemudian mendirikan Majalah Het Licht yang berarti cahaya (An-Nur). Majalah ini dengan tegas memposisikan dirinya sebagai media yang berusaha menangkal upaya dari kelompok di luar Islam yang ingin memadamkan cahaya Allah, sebagaimana yang pernah mereka rasakan saat masih berada di Jong Java. Motto Majalah Het Licht yang tercantum dalam sampul depan majalah ini dengan tegas merujuk pada Surah At-Taubah ayat 32: "Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai."
JIB dengan tegas juga mengkonter pelecehan terhadap Islam, sebagaimana dilakukan oleh Majalah Bangoen, majalah yang dipimpin oleh aktifis Theosofi, Siti Soemandari. Majalah Bangoen yang dibiayai oleh organisasi Freemason pada edisi 9-10 tahun 1937 memuat artikel-artikel yang menghina istri-istri Rasulullah. Penghinaan itu kemudian disambut oleh para aktivis JIB dan umat Islam lainnya dengan menggelar rapat akbar di Batavia.

Sebelumnya, pada 1926, dua tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda, para aktivis muda yang berasal dari Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) dan Jong Vrijmetselaarij (Pemuda Freemason) sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kepemudaan. Pada tahun yang sama, mereka berusaha mengadakan kongres pemuda di Batavia yang ditolak oleh JIB, karena kongres ini didanai oleh organisasi Freemason dan diadakan di Loge Broderketen, Batavia. Alasan penolakan JIB, dikhawatirkan kongres ini disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam. Apalagi, Tabrani, penggagas kongres ini adalah anggota Freemason dan pernah mendapat beasiswa dari Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah lembaga beasiswa yang dikelola aktivis Theosofi-Freemason.

Pada tahun 1922, sebagaimana ditulis oleh A.D El Marzededeq dalam "Jaringan Gelap Freemasonry: Sejarah dan Perkembangannya Hingga ke Indonesia" disebutkan bahwa di Loge Broderketen, Batavia, juga pernah terjadi aksi pelecehan terhadap Islam oleh salah seorang aktivis Freemason yang memberikan pidato pada saat itu dengan mengatakan, "Islam menurut mereka itu merupakan paduan kultur Arab, Yudaisme, dan Kristen. Indonesia mempunyai kultur sendiri, dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik  mengkaji dan memperdalam budi pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang."

Sebagaimana Boedi Oetomo, organisasi Jong Java juga sarat kepentingan untuk menyingkirkan ajaran Islam, yang dianggap sebagai ancaman bagi kebatinan-Jawa.Sebelum bernama Jong Java, organisasi ini bernama Tri Koro Dharmo yang berdiri pada 7 Maret 1915. Tri Koro Dharmo berarti tiga tugas mulia, yang diperinci sebagai berikut: Meningkat ilmu pengetahuan, memelihara kesatuan Jawa Raya, dan menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Perubahan nama menjadi Jong Java terjadi dalam kongres pertama Tri Koro Dharmo di Solo pada 1918. Motto Jong Java adalah: Sakti, Boedi, Bhakti. Hendrik Kraemer, Barend Schuurman, dan Dirk van Hinloopen Labberton, adalah orang-orang yang sangat berpengaruh bagi anggota Jong Java.

Pada masa lalu, berdiri organisasi underbouw Theosofi, yaitu Jong Theosofen (Pemuda Theosofi). Sebagaimana Jong Java, Jong Theosofen juga berperan aktif dalam kongres-kongres pemuda, termasuk dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Tujuan dari berdirinya Jong Theosofen adalah; Pertama, memperkenalkan Theosofi kepada kaum muda. Kedua, membantu dan memperkuat perhimpunan Theosofi. Ketiga, memajukan persaudaraan baik nasional maupun internasional. Syarat utama menjadi anggota Jong Theosofen adalah setuju dengan nilai-nilai yang diajarkan Theosofi, terutama tentang persaudaraan universal tanpa memandang agama, ras, bangsa, dan golongan. Syarat utama ini tergolong halus, karena ujung dari upaya menghapus sekat-sekat agama adalah netral dari setiap agama, yang bermuara pada keyakinan tentang pluralisme agama.

Untuk merekrut kaum muda, Theosofi juga mendirikan majalah khusus anak muda, yaitu Majalah Lotus (terbit di Bandung 1939) dan Majalah Dyana (terbit di Semarang 1954). Sampul depan Majalah Dyanai dengan jelas tertera kalimat dari tujuan majalah ini didirikan:"Mengemukakan Peladjaran, Ilmu Pengetahuan tentang: Ke-TUHANAN, Ke-BATINAN, AGAMA, Setjara Bebas dan Umum."

Thursday, June 16, 2011

Ditangkap Densus saat Menggendong Anak, Terduga 'Teroris' Pulang Tanpa Nyawa



BANDUNG - Sejak Kamis hingga Senin kemarin paling tidak Densus 88 sudah menangkap 16 pria yang diklaim polisi sebagai anggota jaringan teroris. Selain di Poso, Jakarta, Kutai Kartanegara, pada hari Ahad 12 Juni 2011 seorang pria di Soreang, Bandung juga dibekuk Densus 88.


Pria yang ditangkap Densus 88 di Bandung diketahui bernama Untung alias Khidir. Pria asli Surabaya ini ditangkap Ahad kemarin saat sedang menggendong anaknya yang paling kecil. Untung dibawa Densus 88 dalam keadaan hidup.

Namun pagi ini Selasa (14/6/2011), terdapat laporan bahwa Untung alias Khidir yang ditangkap Densus 88 akan dipulangkan kepada keluarganya, namun dalam keadaan menjadi mayat atau sudah meninggal, seperti yang dilansir Muslimdaily. Kemungkinan Untung meninggal dalam proses penyidikan.

Menurut seorang wartawan dari Jawa Pos, dalam Twitternya yang beralamat di @ridlwanjogja, Untung alias Khidir ditangkap pada Ahad 12 Juni bersama istrinya, dalam keadaan sehat.

Kemudian semalam Untung sudah dikabarkan meninggal dunia.  Kepolisian mengabarkan bahwa Untung rahimahullah dikatakan meninggal dunia karena penyakit jantung, namun keluarganya mengonfirmasikan bahwa Untung tidak memiliki penyakit jantung.  Jenazah Untung akan dikembalikan kepada keluarga, namun Densus 88 memberikan syarat jenazah tidak boleh dibuka, tidak boleh lapor kepada TPM dan tidak boleh lapor ke media.

Berdasarkan laporan yang masuk ke email kontribusi arrahmah.com (pengirim Achmad Romdlan-red), dikatakan bahwa Untung alias Khidir merupakan salah satu dari 12 DPO Aceh yang dibebaskan oleh polisi.
Saat ini rumah Untung di komplek YUPI Soreang, Bandung dijaga ketat 12 anggota Densus 88 bersenjata lengkap. Rencananya jenazah Untung akan dimakamkan pukul 9 pagi ini.

Untung meninggalkan satu istri yang sedang hamil dan tujuh anak yang masih kecil.

Densus lakukan pelanggaran HAM berat dalam menangani terorisme



Gelombang aksi penangkapan oleh Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Polri terhadap orang yang dicap terlibat jaringan terorisme di Sulawesi Tengah, Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan lain lain, belakangan ini sudah mengarah kepada pelanggaran HAM berat. 

Hal tersebut ditegaskan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saharuddin Daming. Daming mengomentari kasua  pencidukan oleh Densus 88 terhadap seorang warga yang disangka teroris di Soreang, Bandung, atas nama Untung Budi Santoso (46) alias Khaidir.

Namun pada Hari Selasa (14/6/2011) Khaidar meninggal di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok dalam interogasi Densus 88 dan dipulangkan ke kampung halamannya.

Tindakan tak kalah sadis menimpa sejumah orang di Poso. Yang aneh, kata Daming, karena jenazah mereka diperintahkan langsung dikubur oleh Densus 88 padahal biasanya harus diotopsi dulu untuk mengetahui DNA-nya.

Lebih ironis lagi karena semua keluarga korban dilarang menghubungi Tim Pembela Muslim (TPM) maupun advokat lain kecuali yang telah disediakan aparat.

“Tindakan aparat sudah memenuhi unsur pelanggaran HAM berat yaitu sistematis dan meluas,” kata Daming dalam pesan singkatnya kepada hidayatullah.com, Selasa (15/6).

Daming juga mengatakan, pihaknya sudah berkali kali menyampaikan protes dan peringatan kepada Kapolri dan kepada Komnadan Densus 88, namun tidak pernah digubris dan malah lebih bernafsu berpesta pora dalam pelanggaran HAM berat dengan dalih penegakan hukum.

“Kalau memang ingin melakukan penegakan hukum dengan sungguh sungguh, maka harusnya pelaku koruptor dan keluarganya yang tidak kooperatif dikenakan tindakan represif seperti orang yang disangka teroris,” ujarnya.

Karena itu Daming meminta agar pihaknya jangan dituding tidak nasionalis atau mengganggu penegakan hukum kalau Komnas menetapkan dugaan pelanggaran HAM terhadap sejumlah jajaran Polri yang terlibat dalam penangan terorisme.

Sementara itu, Untung telah dimakamkan di TPU Sindangwargi, Kampung Babakan Arwah, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang. Lokasi TPU berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggal Untung di RT 01/RW 09 Desa Cingcin, Kecamatan Soreang.

Thursday, June 2, 2011

Sisi Lain Soekarno

Seks & Tahta, Godaan yang sulit dihindari
Dr. Lambert Giebels, 66 tahun, penulis biografi Soekarno : "Soekarno, 1901-1950" dan "Soekarno, 1950-1970" yang keduanya dipersiapkan selama 5 tahun (1996-2001) hingga "Giebels sampai serasa hidup dan tinggal dengan Sukarno," kata Giebels kepada TEMPO. Banyak sekali masalah kontroversial dalam fase hidup Sukarno yang diungkapkan, misalnya soal Sukarno di masa Jepang. Giebels mengabdikan halaman yang cukup panjang untuk mengulas apakah Sukarno seorang kooperator atau kolaborator Jepang.

Beberapa hal yang cukup kontroversial diulas Giebels, diantaranya :

1. Soekarno tidak berperan dalam Soempah Pemoeda
Giebels merujuk Abu Hanifah yang menulis Dongeng dari Masa Revolusi (Tales of a Revolution). Dari dialah, Giebels kumpulkan sebagian besar informasi seputar Sumpah Pemuda. Menurut Hanifah, Sukarno hanyalah saksi mata pasif di pertemuan 28 Oktober 1928 yang kondang itu. Dari riset yang Giebels lakukan, tak ada informasi yang membantah hal tersebut, kecuali pernyataan dari Sukarno sendiri. Sukarno menyatakan bahwa dirinya berada di tengah-tengah panggung. Di sini tampak kepribadiannya yang narcissistic?.

2. Soekarno bertanggung jawab atas suksesnya program Romusha
Ada dua disertasi sejarawan Jepang yang mendasari analisis Giebels terhadap kasus romusha, yakni War and Peasants: the Japanese Administration in Java and Its Impact on the Peasantry 1942-1945 karya Shigeru Sato dan Mobilization and Control: a Study of Social Change in Rural Java 1942-1945 karya Aiko Kurasawa. Referensi lain adalah tulisan Tan Malaka tentang pengalamannya di Banten. Di tahun-tahun pertama penjajahan Jepang, rekrutmen romusha merupakan kebijakan rasional yang bertujuan memobilisasi jutaan penganggur untuk merehabilitasi dan membangun Pulau Jawa. Kebijakan ini tak banyak berbeda dengan rekrutmen tenaga kerja di berbagai negara Barat selama krisis ekonomi tahun 1930-an. Hatta pun setuju dengan gagasan ini. Sebab, saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, Hatta pernah melihat kebijakan semacam ini diterapkan di Barat. Masa kerja paksa ini berlangsung selama 3 bulan saja. Pekerja romusha bekerja di wilayah masing-masing dan mendapatkan makanan secara cukup. Kondisi romusha ini berubah pada akhir 1943, ketika Tokyo memutuskan agar Jepang mengambil sikap bertahan dan mengamankan belahan Jepang dengan bantuan militer selama waktu tertentu. Pada titik itulah kerja paksa berubah menjadi perbudakan. Banyak dari mereka yang dikirim jauh dari kampung halaman selama lebih dari tiga bulan. Sukarno layak dipersalahkan. Dalam otobiografinya, ia memang menyalahkan diri sendiri karena mempropagandakan program rekrutmen romusha tersebut. Apakah Hatta juga bertanggung jawab soal romusha ini? Ya, Hatta, yang menjadi Ketua Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), pun mesti dipersalahkan. Begitu juga pemerintah setempat Indonesia (kebanyakan kalangan priayi) yang mengeruk untung atas setiap tenaga kerja pria yang mereka serahkan kepada tim rekrutmen seraya melindungi keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Begitu juga pemuda yang dilatih oleh pihak militer yang mengejar orang-orang yang berpotensi jadi romusha sampai ke desa-desa. Di sisi lain, peran Sukarno dalam skandal romusha tampak dibesar-besarkan. Misalkan, ada sebuah foto yang begitu terkenal, Sukarno berpose sebagai romusha ideal. Giebels sarankan Anda berbicara dengan Rosihan Anwar tentang proses pembuatan foto ini di Bogor. Ia saksi mata peristiwa itu. Satu hal baru lagi yang Giebels temukan seputar skandal romusha adalah soal jumlah romusha yang meninggal dunia. Jumlah ini terlalu dibesar-besarkan. Hal ini merupakan kebijakan yang disengaja oleh pemerintah Indonesia di era 1950-an. Jumlah korban romusha merupakan argumen kuat untuk menuntut pampasan perang (war reparation) yang tinggi dari pemerintah Jepang

3. Menyetorkan ratusan jugun ianfu
Giebels tidak mengerti kenapa informasi ini begitu mengejutkan Anda (yg dimaksud wartawan TEMPO Seno Joko Suyono, Gita W. Laksmini, dan Leila S. Chudori). Sukarno menyebut hal ini kepada Cindy Adams. Anda mesti sadar bahwa ketika itu Sukarno hanyalah seorang pemimpin lokal, pemimpin setempat. Apabila ia memprotes, besar kemungkinan Sukarno akan langsung dilempar ke dalam hotel prodeo alias masuk bui. Giebels berpendapat bahwa Sukarno membuat keputusan yang terbaik yang bisa ia perbuat ketika itu. Sukarno melindungi para perempuan dari perilaku serdadu Jepang dan menyediakan kesempatan kerja kepada pekerja seks komersial profesional di Padang.

Sukarno melihat adanya kesempatan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Jepang ketika Imamura memimpin. Sukarno cukup realistis dalam hal ini. Sebelumnya, Jepang sudah memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan Burma. Bulan September 1944, deklarasi Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari perasaan utang budi Sukarno kepada Jepang atas kesempatan tersebut, Sukarno memang menyukai Negara Jepang dan orang-orangnya. Jepang menjadi negara tujuan kegemarannya.

Sukarno bahkan menikahi dua hostesu Jepang (hostesu pertama bernama Sakiko, yang bunuh diri pada 30 September 1959 dengan mengiris nadinya di kediamannya di Menteng karena malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit Sukarno)

4. Menolak 2 naskah proklamasi, dari para pemuda yang menolak campur tangan Jepang dan dari Sutan Sjahrir.
Sjahrir menulis satu teks proklamasi kemerdekaan. Giebelsngnya, teks tersebut lenyap entah ke mana. Ini juga menyulitkan riset Giebels. Sekalipun demikian, Soebadio Sastrosatomo almarhum sangat yakni bahwa teks ini pernah ada. Ia mengatakan kepada Giebels bahwa ketika Sjahrir sempat membuat beberapa perubahan, Sjahrir melakukan perbaikan di sana-sini menggunakan pena milik Soebadio yang lupa ia kembalikan. Soebadio ingat bahwa teks tersebut kira-kira terdiri atas 100 kata. Isinya sangat anti-Jepang dan tidak terlalu kritis terhadap kolonialisme Belanda. Sukarno dan Laksamana Maeda kemudian memilih teks versi Hatta. Tapi itu pun menghapus kalimat Hatta yang berbunyi "Kekuasaan direbut dari tangan para penguasa." Sukarno dan Hatta sadar bahwa kerja sama dengan pihak Jepang perlu untuk menghindari banjir darah. Tapi, di saat yang sama, hal tersebut menunjukkan Sjahrir memang tidak ingin bergabung dengan Sukarno-Hatta. Mereka akhirnya sepakat bekerja sama ketika di rumah Laksamana Maeda.

Giebels pun menyebutkan Sukarno sebenarnya menginginkan enam orang mahasiswa radikal agar ikut menandatangani teks proklamasi bersama dirinya dan Hatta. Tapi para pelajar tersebut menolak karena beranggapan teks proklamasi versi Hatta merupakan hasil kompromi Indonesia-Jepang. Sumber utama dari peristiwa tersebut adalah memoar dari Nishijima yang disusun oleh Anthony Reid dan Oki Akari (editor) dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 1942-1945, di mana terdapat pernyataan Nishijima kepada komite interograsi Belanda, yang Giebels temukan dalam arsip-arsip organisasi intelijen KNIL (Nefis) dan memoar Hatta

5. Melakukan negosiasi rahasia dengan Belanda
Sukarno, menurut Giebels, diam-diam mengatur kesepakatan dengan pemerintah Belanda melalui seorang agen rahasia bernama Bob Koke. Isi negosiasi adalah Sukarno tidak keberatan apabila pemerintah Belanda kembali menunjuk seorang gubernur jenderal untuk memerintah Indonesia, asalkan dia yang menjadi perdana menteri dan asalkan Indonesia bisa memperoleh 50 persen keuntungan perusahaan-perusahaan Belanda.

Nama Robert Koke pertama kali Giebels baca ketika Giebels menerjemahkan buku Revolusi dari Nusa Damai (Revolt in Paradise) karya K'tut Tantri (nama asli perempuan Amerika ini: Muriel Pearson) ke bahasa Belanda. Di awal 1930-an, Koke dan istrinya membuka hotel pertama di Kuta, Bali, bernama Hotel Kuta. Peran Koke sebagai agen itu Giebels dengar dari seorang Australia bernama Timothy Lindsey, yang berkawan dengan K'tut Tantri, semasa K'tut tinggal di Sydney, dan berharap bukunya yang best seller itu difilmkan. Timothy Lindsey menulis biografi tentang K'tut Tantri berjudul Romantika K'tut Tantri dan Indonesia (The Romance of K'tut Tantri and Indonesia), yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1997. Dalam buku ini, Timothy Lindsey mengungkapkan peran Koke, di halaman 164-165, termasuk pertemuan Bob Koke dengan Sukarno di halaman 386. Giebels sendiri kurang tahu apakah Timothy Lindsey pernah bertemu dengan Bob Koke. Di buku ini, Koke menyatakan bahwa Mohammad Diah beserta keluarga berada bersama dirinya dalam pertemuannya dengan Sukarno sebagai penerjemah. Mungkin Pak Mohammad Diah dan istrinya bisa memberikan informasi lebih banyak tentang hal ini.

Sebagai sebuah disertasi, karya Timothy Lindsey itu Giebels anggap punya otoritas yang bisa diandalkan. Tapi, apabila pertemuan tersebut betul-betul terjadi dan isinya memang demikian, Giebels tidak sependapat dengan pernyataan bahwa Sukarno "menjual" Indonesia. Sebab, Sukarno sendiri adalah laki-laki yang gemar omong kosong. Kemungkinan negosiasi ini hanyalah gagasan sekilas Sukarno untuk mencari tahu bagaimana musuh bereaksi?.

6. Sangat gandrung teosofi
Konon, Sukarno orang yang sangat terpengaruh teosofi. Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional Indonesia sendiri seperti tokoh Boedi Oetomo, H. Agoes Salim, Tjipto Mangoenkoesumo, adalah penganut teosofi. Sementara itu, di masa remajanya, Sukarno sering bergelut di perpustakaan teosofi karena sang ayah merupakan pengikut teosofi.

Informasi tentang latar belakang teosofis pada diri ayah Sukarno Giebels peroleh dari studi mendalam tentang gerakan teosofi di Indonesia dalam buku The Politics of Divine Wisdom 1875-1947 karya Herman de Tollenaere (Nijmegen, 1996). Giebels kira buku ini pun layak untuk diresensi TEMPO. Anda sebaiknya langsung menghubungi pengarangnya. Giebels yakin, ia pasti antusias dan segera mengirimkan contoh bukunya kepada Anda. Sesungguhnya Sukarno tidaklah terlalu taat menjalani kepercayaan yang diturunkan dari ayahnya. Sejak ia menetapkan Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno melarang Masyarakat Teosofi Indonesia (Theosophical Society of Indonesia) dengan menggunakan dekrit presiden (bersama dengan Freemasonry dan musik rock 'n' roll).

7. Kencan Marylin Monroe?
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, katanya .
“Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, kata Soekarno menangkis cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke Italia bulan Oktober 1964.
Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana.
 
Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.  
Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS). 
Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.
Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya (Marilyn)”, kata Soekarno, sedikit diplomatis.
Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan. 
Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

Theosofi-Freemason dan Penghinaan Terhadap Islam

Selain ajaran Theosofi yang merusak akidah Islam, para aktivis Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ironisnya, mereka adalah orang-orang yang disebut dalam buku-buku sejarah sebagai tokoh-tokoh nasional.

Dalam buku “Sejarah Indonesia Modern”, sejarawan MC Ricklef menyatakan, Theosofi di Indonesia pada masa lalu banyak terlibat dalam berbagai aksi pelecehan terhadap Islam. Bukan hanya ajarannya yang banyak berseberangan dengan akidah Islam sebagaimana banyak dipaparkan oleh penulis pada tulisan beberapa edisi lalu, namun juga para aktivis Theosofi yang merupakan elit-elit nasional pada masa lalu, juga banyak melakukan pelecehan terhadap Islam. Para aktivis Theosofi yang umumnya elit Jawa penganut kebatinan, menganggap Islam sebagai agama impor yang tidak sesuai dengan kebudayaan dan jati diri bangsa Jawa.

A.D El Marzededeq, peneliti jaringan Freemason di Indonesia dan penulis buku “Freemasonry Yahudi Melanda Dunia Islam” menyatakan tentang gambaran elit Jawa dalam kelompok Theosofi dan Freemasonry pada masa lalu. Marzededeq menulis, “Perkumpulan kebatinan di Jawa yang berpangkal dari paham Syekh Siti Jenar makin mendukung keberadaan Vrijmetselarij (Freemason). Para elit Jawa yang menganut paham wihdatul wujud (menyatunya manusia dengan Tuhan, red) yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar, kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi-Freemasonry, baik secara murni ataupun mencampuradukkannya dengan kebatinan Jawa…” (hal.8)

Para elit Jawa dan tokoh-tokoh kebangsaan yang tergabung sebagai anggota Theosofi-Freemason di Indonesia pada masa lalu kerap kali berada di balik berbagai pelecehan terhadap Islam. Misalnya, mereka menyebut ke Boven Digul lebih baik daripada ke Makkah, mencela syariat poligami, dan menyebut agama Jawa (Gomojowo) atau Kejawen lebih baik daripada Islam. Penghinaan-penghinaan tersebut dilakukan secara sadar melalui tulisan-tulisan di media massa dan ceramah-ceramah di perkumpulan mereka. Penghinaan-penghinaan itu makin meruncing, ketika para anggota Theosofi-Freemason yang aktif dalam organisasi Boedi Oetomo, berseteru dengan aktivis Sarekat Islam.

Pada sebuah rapat Gubernemen Boemipoetra tahun 1913, Radjiman Wediodiningrat, anggota Theosofi-Freemason, menyampaikan pidato berjudul “Een Studie Omtrent de S.I (Sebuah Studi tentang Sarekat Islam)” yang menghina anggota SI sebagai orang rendahan, kurang berpendidikan, dan mengedepankan emosional dengan bergabung dalam organisasi Sarekat Islam. Radjiman dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.”

Anggota Theosofi lainnya yang juga aktivis Boedi Oetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, igama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah. Apakah bahasa kita yang indah itu kurang patut, terlalu profan untuk menyampaikan pesan Nabi?”

Goenawan Mangoenkoesomo adalah diantara tokoh nasional yang hadir dalam pertemuan di Loji Theosofi Belanda pada 1918, selain Ki Hadjar Dewantara, dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Boedi Oetomo. Apa yang ditulis Goenawan di atas dikutip dari buku Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-Mei 1918 yang diterbitkan di Amsterdam, Belanda. Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…”

Terkait dengan ajaran Islam dan kebudayaan Islam, Goenawan  secara sinis mengatakan,”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. Artikel ini kemudian memicu kemarahan besar aktivis Sarekat Islam dengan menggelar rapat akbar di Surabaya pada 6 Februari 1918. Dalam rapat akbar tersebut kemudian terbentuklah sebuah satuan khusus yang bertugas untuk melawan segala bentuk penghinaan terhadap Rasulullah. Satuan khusus itu bernama “Tentara Kandjeng Nabi Moehammad atau Tentara Kandjeng Rosoel”

Tentara Kandjeng Nabi Moehammad diketuai oleh HOS Tjokroaminoto dan diantara anggotanya adalah KH Achmad Dahlan. Dalam dokumen resminya, satuan khusus atau laskar pembela Islam ini menyatakan tujuan berdirinya adalah, “Mencari persatuan lahir batin antara segenap kaum moeslimin, terutama sekali yang tinggal di Hindia Belanda, dan untuk menjaga dan melindungi kehormatan igama Islam, kehormatan Nabi Moehammad saw, dan kehormatan kaum moeslimin.” Satuan khusus ini, pada saat ini adalah semisal dengan Laskar Pembela Islam, laskar yang berada di bawah organisasi Front Pembela Islam (FPI).

Terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad juga mendapat respon positif dari umat Islam di berbagai daerah. Berbagai aksi digelar untuk menggalang dukungan dan dana. Pada 24 Februari 1918, satuan khusus ini menggelar pertemuan di beberapa tempat di Jawa dan sebagian Sumatera. Tujuannya adalah agar umat paham akan keberadaan satuan khusus ini, yang memang mempunyai tujuan menghalau segala bentuk penghinaan terhadap Islam. Pembentukan satuan khusus ini kemudian mendapat reaksi keras dari kelompok kebatinan dan kejawen, baik yang tergabung dalam Theosofi-Freemason, maupun dari Boedi Oetomo. Mereka yang antipati terhadap laskar Islam ini kemudian mendirikan “Komite Nasionalisme Jawa” (Comittee voor het Javaasche Nationalisme).

Komite ini menuduh terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad yang dibentuk oleh Sarekat Islam adalah upaya untuk menghalang-halangi bangsa Jawa dalam mengamalkan kepercayaan Jawa, dan menghalang-halangi kepercayaan agama lain di luar Islam. Komite ini juga menuduh Tentara Kandjeng Nabi Moehammad dibentuk oleh bangsa asing, yakni bangsa Arab. Komite Nasionalisme Jawa dengan tegas menyatakan, “Politik dan agama harus dipisahkan.”

Tudingan ini kemudian dijawab oleh aktivis SI, Abdoel Moeis, dengan menyatakan bahwa terbentuknya Tentara Kandjeng Nabi Moehammad adalah isyarat agar pihak-pihak di luar Islam tidak lagi semena-mena dalam melakukan pelecehan terhadap Islam. Abdoel Moeis juga mengingatkan para penganut kebatinan  dan kejawen, bahwa umat Islam tidak rela jika junjungannya yang mulia dihina. Abdoel Moeis menegaskan, SI berkeyakinan bahwa politik dan agama itu serangkai, tidak bisa dipisahkan. SI juga berdiri sebagai perlawanan terhadap Kerstening Politiek (Politik Kristenisasi) yang dilancarkan oleh kolonial Belanda.

Dengan sangat melecehkan dan mencampuradukkan antara simbol Islam dengan simbol kemusyrikan, Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya, karena sama-sama Baitullah, sama-sama rumah Allah. Penyebutan ini tentu melecehkan, karena bagi umat Islam, bangunan yang dipercaya sebagai Baitullah adalah Ka’bah yang berada di Makkah Al-Mukarramah, tempat umat Islam seluruh dunia berthawaf mengelilinginya dalam ibadah haji. Pelecehan oleh aktivis Theosofi dan Boedi Oetomo juga dilakukan dengan mengatakan bahwa orang yang pergi ke Makkah adalah menimbun modal untuk kepentingan bangsa asing. Dalam sebuah artikel yang ditengarai ditulis oleh penganut Theosofi, dengan nama Homo Sum, disebutkan,”Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.”


Artikel Lain :
Theosofi Freemason dan Penghinaan terhadap Islam Bag 2
Theosofi Freemason dan Penghinaan Terhadap Islam Bag 3

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More