Friday, August 26, 2011

Akhir Ramadhan : I’tikaf di Masjid atau ‘Thawaf’ di Mal?

Ramadhan tengah memasuki sepuluh hari ketiga. Sepertiga terakhir bulan Ramadhan ini bagi orang-orang mukmin adalah waktu yang ditunggu-tunggu dan sangat mendebarkan. Betapa tidak, karena di salah satu malam sepertiga terakhir bulan Ramadhan, terdapat malam Lailatul Qadar. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Semua kaum mukminin rindu berjumpa dengannya. Karena itu mereka bersemangat menghidupkan malamnya dengan tarawih, qiyamul lail, tilawah Al Qur’an, bersedekah, berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt.

Di Jakarta misalnya, setiap akhir Ramadhan, ribuan umat Islam memenuhi Masjid At Tin di Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Apalagi bila malam ganjil, masjid megah tiga lantai yang dibangun  untuk mengenang almarhumah Ibu Tien Suharto itu seperti lautan manusia. Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak bahkan bayi pun turut serta beri’tikaf di masjid yang menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza itu.

Di sisi lain, pusat-pusat perbelanjaan seperti plaza, mal, supermarket, pasar tradisional ramai dikunjungi konsumen berbelanja untuk keperluan berbuka, maupun menyambut Lebaran.  Akibat konsumsi masyarakat meningkat, sejumlah harga kebutuhan pokok pun menlonjak. Ya, hukum pasar berlaku di sini. Permintaan naik, harga pun turut merangkak  naik.

Saat Suara Islam (SI) mengunjungi pusat perdagangan grosir busana muslim terbesar se-Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang, puluhan ribu pembeli berdesak-desakan memenuhi pasar yang kini buka mulai pukul 06.00 pagi itu. Jangan heran, pembeli tak hanya dari dalam kota tapi banyak dari luar kota hingga luar provinsi. Harga murah dan barang yang ditawarkan lengkap menjadi pertibangan utama pembeli berbelanja di Pasar Tanah Abang.

Alhasil, sejak awal Ramadhan ini pedagang di Pasar Tanah Abang sudah kebanjiran untung. Terlebih, menjelang Lebaran, transaksi jual-beli melonjak tajam. Seperti diakui Frans, pedagang baju di Blok A Pasar Tanah Abang, omzetnya naik hingga 100 persen. “Tahun ini untung lebih banyak jika dibandingkan tahun  lalu,” ungkap pedagang berkaca mata ini. Toko yang buka dari pukul 08.00-16.00 WIB ini menjual beragam model kemeja. Selain itu, baju yang dijual dapat dipesan dan diantar ke tempat pelanggan.

Ainun, seorang pembeli yang berbelanja di Pasar Tanah Abang merasakan ada kenaikan harga mencapai 10 persen dibandingkan tahun lalu. "Ada kenaikan harga 10 persen dari tahun lalu," ujarnya. Perempuan berusia 20 tahun ini membeli beberapa potong baju muslim untuk keperluan Lebaran nanti. Terlebih sejak dua bulan lalu dia mengenakan jilbab, otomatis kebutuhan busana muslim bertambah.

Pemandangan tak jauh berbeda terlihat di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Pasar ini menyediakan berbagai macam barang kebutuhan pokok atau sembako. Seperti dilaporkan Okezone.com (9/8/2011), harga-harga di Pasar Induk Kramat Jati juga naik akibat konsumsi masyarakat meningkat.  “Sebelum puasa, ayam kampung Rp. 50 ribu–Rp. 60 ribu per ekor. Sekarang jadi Rp. 75 ribu per ekor," papar Edi, pedangan daging. "Daging sapi juga naik, sekarang harganya Rp. 70 ribu, dulu cuma Rp. 55 ribu sampai Rp. 60 ribu," imbuhnya.

Menurut Edi, tingginya permintaan menyebabkan harga melonjak. Kendati demikian, kenaikan harga ini malah menambah omzet hingga 50 persen dibandingkan hari biasa, di luar bulan puasa.

Naiknya konsumsi kebutuhan selama puasa diakui Istiqamah, warga yang tinggal tak jauh dari Pasar Induk Kramat Jati. Ibadah puasa harus disiapkan dengan baik, termasuk soal makanan dan minuman. Karenanya, dia rutin berbelanja ke pasar untuk keperluan sahur dan berbuka puasa. “Sembako kalau naik satu hingga dua ribu saja. Bawang harganya turun, tapi kalau gula naik sedikit, yang naik banyak itu beras,” ungkap Istiqamah saat disinggung harga-harga di pasar.

Memang kebutuhan selama Ramadhan dan Lebaran selalu membengkak. Malah tak jarang sebagian masyarakat harus berhutang ke sana ke mari, menggadaikan perhiasan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Realita ini setidaknya telah menunjukan konsumerisme yang dipaksakan. Seperti pepatah, "Besar pasak dari pada tiang”. Inilah gambaran budaya konsumerisme yang sebenarnya bertentangan dengan spirit puasa. Sejatinya puasa mengajarkan orang-orang agar berempati dengan mereka-mereka yang biasanya lapar dan dahaga karena tidak makan.

Fenomena Ramadhan yang sarat dengan ruhiyah seolah luntur oleh perilaku materialistik-komsumtif. Tradisi massif ini membudaya di mana-mana, menjangkiti umat Islam di Tanah Air. Dengan mengalokasikan anggaran yang berlibat ganda, menjadikan Ramadhan sekadar melepaskan selera akan makanan lezat, ganti baju baru, mempercantik rumah, tradisi mudik, dan lainnya.

Masih Batas Wajar

Ketua PBNU, Slamet Effendi Yusuf, melihat gejala perilaku konsumtif umat Islam di bulan Ramadhan dan menghadapi Idul Fitri masih dalam batas kewajaran. Menurutnya ramainya orang-orang dalam berbelanja menghadapi lebaran bukanlah gejala baru. “Bukan gejala baru, sejak zaman dulu sudah seperti itu, dalam keterbatasan tetap memenuhi keperluan untuk berbuka, sahur, dan demi memenuhi berkumpul bersama keluarga”, ungkapnya.

Bila dibandingkan penjualan otomotif seperti motor dan mobil, penjualan properti, larisnya apartemen, menjamurnya rumah-rumah, dan barang-barang bermerek lainnya, lanjut Ketua MUI Pusat itu, perilaku konsumtifnya umat Islam di bulan Ramadhan tidak ada apa-apanya.

“Belum pada tingkat berlebih-lebihan. Ada tambahan pengeluaran, karena seluruh keluarga makan di rumah. Ini tidak berlebihan. Beli baju baru juga tidak masalah karena setahun sekali. Coba lihat di pedesaan yang belum tentu mereka bisa beli baju baru setahun sekali. Bandingkan dengan yang di kota setiap keluar trend baru langsung bisa beli. Apa salahnya umat Islam merayakan ini dengan khusyu’ tetapi juga boleh bergembira. Makan lebih enak dibandingkan bulan biasanya”, papar Slamet panjang lebar.

Muliakan Ramadhan, Suplai Bahan Kebutuhan

Menghadapi fenomena naiknya harga kebutuhan dan berlomba-lombanya umat Islam dalam memenuhi pusat-pusat perbelanjaan, setidaknya ada dua kewajiban yang harus ditunaikan pemerintah. Menurut Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath, agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, pemerintah harus menjamin tersedianya (stock) bahan-bahan kebutuhan masyarakat di pasar. Pemerintah juga harus melakukan operasi pasar untuk menghilangkan adanya penimbunan yang dilakukan oknum-oknum tertentu. Bila kebutuhan masyarakat tersedia dan dapat dipenuhi, tentu mereka akan lebih khusyu’ dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

“Sesuai dengan aturan Islam, pemerintah memang tidak boleh melakukan pematokan harga. Tetapi pemerintah berkewajiban untuk mensuplai bahan kebutuhan masyarakat itu di pasar agar harga-harga menjadi stabil”, jelasnya.

Selanjutnya, agar masyarakat dapat beribadah secara khusyu’ dan maksimal serta memenuhi masjid-masjid untuk beri’tikaf ketimbang ‘thawaf’ di pusat-pusat perbelanjaan, menurut Al Khaththath, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus  memberikan dukungan kepada umat Islam agar sukses dalam ibadah shiyam dan qiyam di bulan Ramadhan dengan mengurangi jam kerja, menerapkan libur sekolah pada bulan Ramadhan atau menggantinya dengan pesantren Ramadhan untuk anak sekolah, dan melarang tayangan-tayangan TV yang tidak mendidik serta menodai makna menghidupkan malam Ramadhan.

“Di sinilah urgensitas Surat Terbuka FUI yang telah kami kirimkan kepada Presiden SBY menjelang Ramadhan lalu agar mengeluarkan Keppres tentang Pemuliaan Bulan Ramadhan”, terangnya.

Jika itu dilakukan, niscaya masyarakat akan memenuhi masjid-masjid untuk beri’tikaf daripada muter-muter di mal untuk belanja. Sehingga Ramadhan benar-benar menjadi syahrul ibadah. Insya Allah.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More