Tuesday, August 9, 2011

Mendidik vs Mengajar

Banyak ahli pendidikan di Indonesia yang membedakan antara mendidik dan mengajar. Guru yang hanya menyampaikan informasi disebut mengajar. Sementara itu, mendidik mewajibkan adanya rasa tanggung jawab sehingga guru tidak mengabaikan perkembangan ilmu dan akhlaq dari peserta didik. Saya pribadi cenderung tidak mau terlibat dalam perdebatan istilah ini, walaupun pada dasarnya saya sepakat bahwa seorang guru janganlah merasa cukup dengan menyampaikan informasi, namun harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap perkembangan ilmu dan akhlaq para peserta didik.


Apa yang seharusnya dilakukan guru, di luar menyampaikan materi? Ada dua lingkaran yang terkait dengan ini, yakni lingkaran ilmu dan lingkaran akhlaq.

Dalam masalah ilmu, guru harus mencari tahu tingkat kemampuan murid-muridnya pada awal tahun pengajaran. Dalam pelajaran matematika, misalnya, apakah seluruh siswa sudah memahami penjumlahan sebelum beranjak ke materi perkalian. Berbekal pengetahuan tentang level pemahaman siswa inilah, guru kemudian memikirkan strategi yang tepat. Keberadaan UTS (ujian tengah semester) merupakan salah satu momen untuk mengevaluasi strategi sang guru. Jika kemampuan siswa tidak meningkat secara memuaskan, maka harus segera dimikirkan strategi baru. Jangan sampai guru mengejar materi perkalian tanpa peduli bahwa murid-muridnya masih belum menguasai penjumlahan. Akibatnya, banyak murid yang semakin tertinggal dan akhirnya membenci mata pelajaran yang bersangkutan.

Lingkaran kedua adalah akhlaq. Dalam tuntunan Islam, guru wajib membimbing akhlaq murid-muridnya. Konsep ini tentu mudah tergambar pada benak guru agama atau guru SD yang memang harus mengajarkan semua mata pelajaran, tetapi mungkin agak sulit untuk dibayangkan oleh guru bidang studi, seperti guru fisika atau guru matematika. Problematika ini disebabkan oleh sistem pendidikan kita yang sekuler, baik pada sekolah negeri maupun sekolah Islam. Pelajaran fisika yang benar tentu tidak akan meninggalkan peran Allah SWT dalam mengatur alam semesta ini. Saya akan kutipkan sebuah paragraf dari buku fisika “Menguak Rahasia Alam dengan Fisika - SMA”:
Allah juga mengatur kandungan udara yang kita hirup dengan perbandingan yang sangat penuh perhitungan. Jika saja kandungan oksigen di udara lebih tinggi, maka udara akan sangat mudah terbakar. Sebaliknya, jika oksigen terlalu sedikit, maka manusia akan keracunan dan sulit bernafas. Tidak hanya itu, Allah juga mengatur bentuk tetesan hujan sehingga dapat jatuh dari awan setinggi 1500 meter dengan kecepatan yang tidak membahayakan saat tiba di bumi. Padahal, kalau saja kita hitung benda lain yang jatuh dari ketinggian yang sama, maka ia akan tiba di bumi dengan kecepatan ratusan km/jam yang tentu saja sangat membahayakan.

“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan.” (QS. 23:18)

Dengan materi fisika yang benar (seperti saya contohkan di atas), guru fisika memiliki peluang yang sangat besar untuk menanamkan tauhid, yang darinya muncul kekuatan aqidah dan akhlaq kepada Allah maupun akhlaq kepada ciptaanNya.

Pada kasus lain, seorang guru matematika sedang membahas soal: Andi hendak memotong sebuah kue yang panjangnya 10 cm untuk dibagikan antara dirinya dan dua saudaranya. Berapa panjang kue yang akan Andi dapatkan? Jawabannya 3,33 dengan teknik pembulatan. Namun, pada kenyataannya, kita sulit mendapatkan potongan yang benar-benar simetris. Oleh karena itu, guru bisa menambahkan keterangan: “Allah menyuruh kita berbuat adil. Potongan yang mendekati keadilan adalah 3,33 cm sehingga masing-masing kue itu menjadi dua potong kue sepanjang 3,33 cm dan satu potong kue sepanjang 3,34. Yang mana bagian Andi? Islam mengajarkan bahwa orang yang memotong kue harus menjadi orang terakhir yang mengambil bagiannya. Salah satu manfaatnya adalah untuk mencegah kecurangan dari si pembagi. Jadi, Andi harus mempersilakan kedua saudaranya untuk mengambil bagian mereka dan sisa terakhir itulah milik Andi.”

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More