Wednesday, September 28, 2011

Bom Solo, Bentuk Penyimpangan dalam Memahami Akidah Islam

Peristiwa meledaknya bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo, merupakan insiden yang tak seharusnya terjadi. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pemuda muslim yang teridentifikasi sebagai Hayat menunjukkan betapa masih banyaknya pemuda Islam di Indonesia yang mudah terpancing untuk melakukan aksi terorisme. Usia muda memang sangat mudah bergejolak semangatnya, dan mudah tersulut amarahnya untuk melakukan tindakan ofensif. Meskipun umat Islam di Ambon diserang oleh perusuh Kristen yang konon beraliansi dengan RMS, namun tidaklah logis untuk balik menyerang umat kristen di Solo yang tidak ada sangkut pautnya dengan kerusuhan Ambon, apalagi peledakannya dilakukan di gereja saat umat Kristiani beribadah. Bagaimanapun juga, umat Islam memang berkewajiban membela saudaranya yang dibantai di Ambon, namun aksi peledakan bom di gereja adalah tindakan irrasional dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. 

Aksi peledakan bom di Solo juga menunjukkan betapa pelaku sangat arogan dalam memahami firman-firman Allah, dengan menghalalkan darah semua orang yang dianggapnya kafir. Padahal dalam Islam ada batasan-batasan mengenai orang kafir mana yang boleh diperangi. Rasulullah bahkan mengharamkan umat Islam membunuh kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tidak memusuhi Islam.


Selain itu, adanya  aksi-aksi terorisme di Indonesia, bisa dipengaruhi oleh banyak faktor :
1. Pemerintahan yang korup dan tidak amanah semakin membuat banyak pemuda muslim marah dan membenci pemerintahan thaghut.
2. Diskriminasi aparat kepolisian yang tidak segera merespon pembantaian terhadap minoritas umat Islam yang tertindas (contoh kasus di ambon) sedangkan insiden yang menimpa umat lain langsung direspon ketika pelaku utamanya adalah orang Islam yang aktif dakwah tauhid.

3. Frustasi ketika melihat ketidakadilan, seolah dipelihara oleh negara

4. Aksi premanisme anggota Densus 88 yang tidak manusiawi terhadap terduga pelaku terorisme yang tak bersenjata membuat keluarga, teman dan sahabat terdakwa semakin benci dengan polisi. Hal ini juga membuat orang yang tadinya tidak radikal menjadi terpancing untuk melakukan tindakan ofensif.


5. Sistem ekonomi liberal yang dianut Indonesia semakin membuat pengusaha kecil semakin termarjinalkan. Membunuh perekonomian rakyat kecil membuat banyak orang frustasi dan memunculkan persepsi bahwa mati atau hidup di negeri ini sama saja tak bernilai. Akibatnya banyak orang berpikir bagaimana agar matinya tidak sia-sia dan bernilai, setidaknya berguna bagi agama melalui jihad meski dengan pemahaman agama yang dangkal.   

6. Adanya kesan 'pembiaran' oleh aparat yang berwenang terhadap aksi terorisme. Bahkan muncul persepsi bahwa tidak ada terorisme = tidak ada dolar yang mengalir ke kantong Densus 88.

7. Lemahnya sistem hukum & produk UU di Indonesia. Hukuman terhadap koruptor harusnya lebih berat dari pelaku terorisme, karena korupsi telah  menyebabkan banyak pelajar putus sekolah & bunuh diri karena tidak ada biaya, jutaan pasien miskin meninggal ditelantarkan pihak RS karena tidak kebagian JAMKESMAS,dsb.

Solusi terhadap masalah terorisme :
1. Sebaiknya pemerintah tidak tebang pilih dalam memerangi koruptor, menjadi tauladan yang baik dan amanah

2. Kepolisian harus adil dalam penegakkan hukum. Terlebih lagi terhadap kasus yang menyangkut disintegrasi kerukunan umat beragama

3. Perlunya pendidikan akidah akhlaq dalam akademi kepolisian, terlebih lagi pada anggota Densus 88, mengingat doktrinasi ala Amerika selalu terselip doktrin2 kebencian terhadap akidah Islam yang benar.

4. Perangi kemiskinan, yakni dengan memperluas lapangan kerja, menghidupkan usaha mikro dengan memberikan pinjaman modal tanpa bunga, mempermudah urusan birokrasi.

5. Sebaiknya kasus terorisme tidak lagi dijadikan 'komoditas' untuk mendapatkan aliran dana dari AS, sehingga kepolisian memiliki sikap konsisten terhadap pemberantasan terorisme, dan juga tidak menciptakan isu-isu terorisme sekedar untuk menutupi kasus-kasus besar korupsi.

6. Sangat ironis jika terpidana korupsi selalu mendapat remisi tiap tahunnya. Jika hukuman yang berlaku di masyarakat terhadap maling ayam adalah dibakar hidup2, apakah layak terpidana korupsi mendapat fasilitas kamar VVIP di penjara bak kamar hotel berbintang dan mendapat remisi tiap tahunnya ? Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah berani dalam pemberantasan korupsi, meskipun itu terhadap 'besannya' sendiri.



0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More