Monday, October 24, 2011

Perjalanan Dinas Dibekali Kondom, Buku Tafsir Justru Dicekal (Kebijakan/Kebiadaban Moral ?)

Jayapura - Pemerintah daerah Kabupaten Puncak  berencana membuat kebijakan resmi menyertakan kondom saat memberikan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) kepada pegawai yang akan melakukan perjalanan dinas.

"Ini salah satu langkah mencegah dan memberantas penyakit HIV/AIDS," kata Bupati kabupaten Puncak Jaya, Lukas Enembe kepada ANTARA di Mulia, ibukota kabupaten Puncak Jaya, Minggu.

Lukas Enembe yang juga ketua Komisi Penanggulangan AIDS setempat beralasan kebijakan tersebut wajar karena setiap pegawai yang melakukan perjalanan dinas dan mendapat dana sesuai SPPD, mempunyai kelebihan uang dan dia khawatir anak buahnya menggunakan dana itu untuk hal-hal yang bisa mendatangkan HIV/AIDS.

"Kita berikan saja SPPD plus kondom, terserah mau dipergunakan atau tidak kondomnya. Minimal ada peringatan dari kita bahwa betapa berbahayanya penyakit AIDS. Sudah banyak warga kita mati," katanya namun tidak menyebut jumlah.

Source:(ANTARA News)

Astagfirullah! Wajar saja jika Allah menurunkan azab dengan penyakit HIV yang bahkan hingga kini belum ditemukan obatnya, bagaimana manusia tak lagi malu-malu melakukan maksiat, bahkan maksiat tersebut dinilai sebagai sesuatu yang biasa.

Pemimpin tak amanah, maksiat meraja lela, agama diperjual belikan, ajaran Islam dimutilasi, kesyirikan menjadi tradisi budaya yang dinilai perlu dilestarikan. Sungguh begitu banyak ‘alasan’ bagi Allah untuk menurunkan azab dan kehancuran kepada bangsa ini.

Anehnya, pemerintah justru mencekal peredaran Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb. Tuduhan Sayyid Quthb mengembangkan takfi dan terorisme, serta memberi inspirasi bagi gerakan islam yang radikal, adalah tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhan itu tidak ada sama sekali. Mereka yang mengadili tokoh besar seperti Sayyid Quthb, ternyata banyak yang belum membaca karya-karyanya. Mereka, bahkan, tidak menemukan nash atau teks yang dituduhkannya itu. Hanya katanya saja.

“Pelarangan di Negara-negara tertentu (Mesir, Tunisia), hanya bersifat subjektif saja dan lebih kepada faktor ketersinggungan rezim diktator yang berkuasa. Kalau mau dinilai, sebaiknya dibedah secara objektif dan rinci. Perlu diketahui, yang didobrak Sayyid Quthb adalah pemerintahan atau penguasa muslim yang zalim. Tapi tidak pada taraf menghasut dan menggulingkan. Sepenuhnya merujuk pada nash-nash Al Qur’anul Karim. Itulah sebabnya, menlai Sayyid Quthb harus diiringi dengan membac karya-karyanya secara utuh,” jelas Aunur Rafiq, Direktur Penerbit Rabbani Press yang merupakan penerjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More