Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Tuesday, December 27, 2011

Sok Tahu, Lily Wahid Bela Gereja Dengan Komentar Bodoh

BOGOR (voa-islam.com) – Kisruh GKI Yasmin semakin rumit, dengan munculnya para ‘pahlawan kesiangan’ yang berakting membela GKI Yasmin. Salah satunya Lily Wahid, adik kandung mendiang Gus Dur yang datang ke lokasi pada Minggu (25/12/2011) ini untuk mendukung GKI Yasmin.

Kepada wartawan, bekas anggota DPR RI ini mengecam kepolisian, bahkan secara membabi-buta minta Presiden SBY mengundurkan diri. “Ini negara sudah negara preman! Polisi membantai penduduk di mana-mana sekarang, orang beribadah gak boleh. Gimana sih negara ini? Polisi itu penindas hari ini, polisi itu penindas! Polisi bukan lagi melindungi warga masyarakat. Polisi seharusnya tidak bawa senjata hari ini, seharusnya bawa pentungan supaya jangan semena-mena dengan masyarakat. Presiden harusnya turun tangan dan bertanggung jawab karena polisi itu dibawah presiden. Kalau presiden gak sanggup menata polisi, munduuur!” ujarnya dengan nada meledak-ledak penuh emosi. “Kita negara Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa, orang beribadah kok dihalang-halangi? Itu yang saya tidak mengerti, mau jadi apa negeri ini? Polisi hanya jadi alat kapitalis,” tambahnya.

Lily Wahid juga mendesak agar Kapolri segera menindak oknum-oknum yang melarang orang beribadah disini. “Ga ada undang-undang yang membolehkan melarang orang beribadah.”

Saat ditanya tentang IMB Gereja Yamin yang dibelanya, Lily menjawab dengan sedikit kikuk, “Keputusan MA jelas dikembalikan kepada jemaat. Ini negara  apa?  Kalau polisi gak bisa melaksanakan putusan MA, Kapolri suruh berhenti gitu lho!!”

Lily pun mulai mengumbar berbagai praduga untuk membela Gereja Yasmin. “Kita harus investigasi, jangan-jangan ada orang yang menginginkan tanah itu? Dan memakai aparat, Bisa aja kan terjadi seperti itu? Lalu agama dijadikan alasan, ini yang saya gak bisa terima, kita ini hidup rukun sudah puluhan tahun tiba-tiba ada seperti ini, keterlaluan pemerintah hari ini,” ujarnya berapi-api.

Sebelumnya, voa-islam.com berulang kali mempublikasikan fakta-fakta soal kekisruhan GKI Yasmin. Kasus ini bermula tahun 2006 saat proses pendirian gereja ini dilakukan dengan cara menipu dan memanipulasi data. Bahkan secara hukum, pihak GKI Yasmin telah terbukti melakukan banyak kesalahan, antara lain memalsukan tandatangan warga, tidak memiliki pendapat tertulis dari Kepala Kantor Departemen Agama setempat, tidak memiliki dan tidak memenuhi minimal pengguna sejumlah 40 Kepala Keluarga yang berdomisili di wilayah setempat, tidak mendapatkan izin dari warga setempat, dan tidak mendapatkan rekomendasi tertulis dari MUI, DGI, Parisada Hindu Dharma, MAWI, WALUBI, Ulama/Kerohanian.

Selain itu pihak GKI Yasmin juga tidak dapat memenuhi ketentuan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006, tentang Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah yang harus memiliki umat (jemaat) minimal 90 orang yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan disetujui oleh 60 orang dari umat agama lain di wilayah tersebut, dan para pejabat setempat (Lurah/Kades) harus mensahkan persyaratan ini. Selanjutnya, rekomendasi tertulis diminta dari kepala Departemen Agama kabupaten atau kotamadya, dan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten atau kotamadya.

Atas dasar penyimpangan yang dilakukan oleh pihak GKI Yasmin dan desakan warga sekitar itulah, akhirnya Pemkot melalui Dinas Tata Kota dan Pertamanan (DTKP) mengeluarkan surat pembekuan IMB pembangunan gereja. Namun keputusan DTKP digugat oleh GKI Yasmin melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pemkot dinyatakan kalah secara administrasi karena yang membekukan bukan pihak berwenang (DTKPred). Untuk menindaklanjuti putusan PTUN dan putusan Mahkamah Agung (MA) akhirnya Pemkot mencabut surat pembekuan IMB yang telah dikeluarkan oleh Pemkot melalui DTKP pada 8 Maret 2011.

Belajar dari kesalahan, beberapa hari kemudian Pemkot segera memperbaiki kesalahan administrasi tersebut dengan kembali melakukan pembekuan IMB GKI Yasmin. Melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 Walikota Bogor mencabut IMB GKI Yasmin yang terletak di Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin, Bogor.

Terakhir pihak GKI Yasmin mengajukan permohonan ke Ombudsman Republik Indonesia agar mencabut pembekuan IMB sesuai dengan putusan PTUN dan MA. Akhirnya, Ombudsman memberikan rekomendasi kepada Walikota Bogor, agar membatalkan surat pencabutan IMB GKI. Rekomendasi kedua untuk Gubernur Jabar dan Walikota Bogor untuk berkoordinasi untuk penyelesaian masalah GKI. Ketiga, untuk Mendagri agar melaksanakan pengawasan. Sayangnya rekomendasi tersebut tidak mengubah apapun, putusan PTUN dan MA sudah dilaksanakan jauh hari sebelum rekomendasi Ombudsman dikeluarkan. Kini yang berlaku adalah Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 tentang pencabutan IMB GKI Yasmin.

Dengan keputusan itulah, sebenarnya walikota sudah melaksanakan putusan MA. Namun selama ini pihak GKI Yasmin selalu menutupi kesalahannya.

Menanggapi pernyataan Lily Wahid yang dinilai provokatif itu, Ketua Forum Komunikasi Muslim Indonesia (FORKAMI), Ustadz Ahmad Iman yang juga tokoh warga setempat, menyayangkan komentar provokatif dan tidak tahu persoalan.

“Itu hanya komentar bodoh, yang tidak tahu hukum,” ujarnya enteng. [taz/saiful]

Sunday, December 25, 2011

Free Kumpulan Games Training

Sebuah kumpulan permainan-permainan yang sangat menarik ringan, santai tapi juga mendidik. Walaupun semua permainan terlihat sederhana namun sarat dengan pendidikan yang bisa mengembangan jiwa kebersamaan diantara sesama peserta. Membuka pikiran yang sempit dan sumpek hanya dengan memainkan beberapa simulasi games yang menuntut kerjasama antar tim.
 
Semua games bisa dilakukan dengan banyak variasi dan gaya, sesuai dengan situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan anda, yang penting pastikan ada foreplay terlebih dahulu, biar lebih mengena dan terasa permainannya. Ebook ini cocok untuk public speaker, psikolog ataupun trainer perusahaan dalam proses training recruitmen calon karyawan untuk memudahkan dalam mengevaluasi kondisi psikologis pesertanya sebelum mereka diberikan materi utama tentang detail job description.

Download

Thursday, December 15, 2011

Gila, Banser NU Kerahkan Massa Dukung Konser Ahmad Dhani di Diskotik

Ahmad Dhani dan Triad Band akan manggung di Kota Cirebon dalam rangka memperingati ulang tahun sebuah Diskotik ternama di kota tersebut. Diskotik yang merupakan tempat orang-orang melakukan Dugem, Mabuk dan maksiat lainnya tersebut mengadakan konser Ahmad Dhani untuk memberikan kepuasan pada pelanggan diskotik tersebut.

Hal inilah yang membuat Ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Ummat Islam (FUI) beserta 12 Ormas Islam lainnya menentang keras dan beramai-ramai mendatangi Mapolres Cirebon Rabu, 14 Desember 2011. FPI dan FUI menolak kehadiran Ahmad Dhani ke daerah tersebut dikarenakan selain pesta ulatah diskotik sudah bertentangan dengan konsep Religius Kota Cirebon, Dhani juga dikenal penyanyi yang membawa Propaganda Zionis di Indonesia. 

Kapolres Cirebon, AKBP Hero Herianto membenarkan adanya kedatangan 12 Ormas Islam yang menentang kehadiran Ahmad Dhani dan Band Triad di Kota Cirebon, Hero mengatakan bahwa Ummat Islam Cirebon meminta Konser Dhani dibatalkan 

Ketika ditemui wartawan, Ketua Gerakan Anti Pemurtadan Aliran Sesat (GAPAS) Kota Cirebon Andi Mulya mengatakan bahwa Ormas Islam menolak konser Ahmad Dhani karena selama ini Ahmad Dhani menjadi Icon Zionis Yahudi di Indonesia dengan symbol-simbol yang dibawanya ketika konser dan di beberapa Video Klipnya

Setelah 12 Ormas Islam tersebut bubar, ada aksi lain yang mengejutkan. Banser NU yang seharusnya berada di posisi Ummat Islam berbuat sebaliknya, 500 Banser NU datang ke Mapolres untuk memberikan dukungan kepada Pengelola Diskotik dan Mendukung Konser Ahmad Dhani di Kota Cirebon. Melalui ketuanya Nurjaman, Banser NU menjamin keamanan konser dan perayaan ulang tahun Diskotik tersebut. 
 
Melihat kondisi ini sikap kepolisian berada diposisi menghindari kericuhan, dalam hal ini Kepolisian Cirebon belum mengeluarkan surat Izin untuk konser tersebut sebagaimana ditegaskan oleh AKBP Hero Herianto. Kepolisian berharap tidak terjadi perang saudara, apalagi sesame muslim. Ummat Islam harus terhindar dari politik Adu domba dari kelompok-kelompok orang yang tidak bertanggungjawab.

Sikap warga Cirebon melihat kondisi ini bermacam ragam, ada yang menyayangkan sikap BANSER NU yang aneh, seharusnya berada di posisi menegakan kebaikan tetapi justru sebaliknya, dengan sikap BANSER NU ini ada yang mengatakan bahwa Banser NU sedang mencari muka agar bisa ‘kepake‘ oleh pengelola diskotik.

Bandung, 15 Desember 2011
Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi)
Seorang Writer,Trainer,Public Speaker dan Entertainer. Punya Kakek Seorang Penulis, Ibu Seorang Penulis dan Istri Seorang Penulis. Pernah Menjadi Jurnalis Sekolah, Kampus, dan Radio. Tulisan baru terbit di KayongPost, Pontianakpost, Banjarmasinpost, Tanjungpurapost, Sriwijayapost, Balipost, Acehpost, Kompas, Republika, Sabili dll. Cita-cita ingin menjadi Jurnalis AlJazeera atau CNN dan bisa menulis jurnal di TIME dan Wartawan Washingtonpost. Anda dapat menghubungi via 085860616183 / YM: assyarkhan , adikalbar / FB: adikalbar@gmail.com / Twitter : @assyarkhan / GoogleTalk : adikalbar / Skype: adi.rabbani / PIN BB : 322235A9

Sunday, December 11, 2011

Ad Banner Remover Plus 1.0.5.0 for Yahoo Messenger 11 and 10

Advert Options

Remove Main Messenger Advert
Replace Change Room Banner
Remove Chat Room Advert
Replace Webcam Adverts
Replace Video Call Advert - ( Yahoo Messenger 11 and 10 Only )
Remove IM Statusbar Advert - ( Yahoo Messenger 11 and 10 Only )


 


Other Options

Enable / Disable Multiple Instances of Yahoo Messenger 11, 10, 9, or 8
Disable "Automatically start Yahoo Messenger" - ( When Windows Starts )
Enable / Disable Smiley Search - ( Yahoo Messenger 11 and 10 Only )


Yahoo UI Options

Remove Insider Button
Remove Email Button
Remove Mobile Button
Remove Voice Button
Remove Contact Card
Remove Plugins Toolbar
Remove Contacts Tab
Remove YUpdates Tab
Remove System Notifications


Current Version  1.0.5.0
DOWNLOAD

Saturday, December 10, 2011

Ketum PBNU 'SAS' Umbar Fitnah, Ustadz Membalas Tausiyah

Para tokoh yang difitnah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj sebagai para penebar terorisme dan radikalisme, dengan bijak balik membalas dengan taushiyah persaudaraan.


Di antara dua belas yayasan, nomor satu yang dituding sebagai yayasan Salafi-Wahabi penebar terorisme & radikalisme oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj adalah Yayasan Al-Sofwa Jakarta.

“Ada dua belas yayasan yang indikasinya di situlah Radikalisasi tumbuh; di Lenteng Agung namanya Al-Sofwa, ketuanya namanya Maman Abdurrahman dan Farid Oqbah,” tuding Said Aqil dalam workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel Jakarta, Sabtu (3/12/2011).

“Inilah yayasan-yayasan yang mengajarkan Islam Radikal atau wahabi,” tandas Said Aqil berapi-api didampingi Ketua BNPT Ansyad Mbai, setelah merinci dua belas yayasan Islam yang dituding Salafi Wahabi penebar terorisme.

Bahaya dua belas yayasan Wahabi Salafi tersebut, tuding Said Aqil, antara lain mengajarkan ideologi Islam Radikal sehingga lahirlah aksi pemboman masjid Cirebon.

“Yayasan-yayasan itulah yang mengajarkan ajaran Islam radikal atau Wahabi. Pelaku bom Masjid Mapolresta Az-Zikra di Cirebon, Gus Syarifuddin adalah jebolan As-Sunnah Cirebon. Bahkan telah mengafirkan bapaknya sendiri. Begitu juga dengan pelaku pengeboman Gereja Bethel di Solo, yakni Gus Ahmad Yosefa juga merupakan alumunus As-Sunnah. Lalu pelaku bom Ritz Carlton, Syaifuddin ternyata dari Manis Lor Kuningan,” kata Kiyai yang dalam buku Kristen terang-terangan menyatakan bahwa Tauhid Islam sama dengan Trinitas Kristen itu. (baca: Koreksi Aqidah KH Said Aqil Sirajd: Jangan Samakan Tauhid Islam dengan Trinitas Kristen).

Apa yang disampaikan Professor Dr KH Said Aqiel Siradj MA di hadapan puluhan kiyai dan nyai Nahdliyin itu sungguh memalukan. Tega-teganya Ketua Umum PBNU ini menyuguhkan data palsu dan kebohongan di hadapan para kiyai dan nyai Nahdliyin?

Menyebut Yayasan Al-Sofwa sebagai salah satu yayasan penebar radikalisme dan terorisme, tentunya harus dibuktikan secara detil berdasarkan fakta dan data yang valid, bukan fitnah dan tuduhan ompong. Sayangnya, Said Aqil Siradj sama sekali bungkam, tak bisa mengungkap kapan, siapa, di mana dan apa buktinya bahwa Al-Sofwa mengajarkan radikalisme dan terorisme yang melahirkan aksi pemboman masjid Cirebon.

Satu-satunya data yang diungkap Said Aqil Siradj adalah kepemimpinan Al-Sofwa. Menurutnya, Al-Sofwah dipimpin oleh Aman Abdurrahman dan Farid Ahmad Oqbah.

Sekali lagi, kasihan para kiyai dan nyai NU, dikumpulkan di hotel mewah,  malah disuguhi kebohongan. Siapapun tahu, kalau direktur Al-Sofwa itu Abu Bakar bin Muhammad Altway Lc, bukan Aman Abdurrahman maupun Farid Oqbah. Aman Abdurrahman memang pernah menjadi staf di Al-Sofwa, tapi hanya sebagai imam masjid, bukan direktur. Sedangkan Farid Oqbah adalah direktur Islamic Centre Al-Islam, bukan direktur Al-Sofwa.

Saat dikonfirmasi voa-islam.com, Sandhi, Kepala Humas dan Ketua Depsos Al-Sofwa, menegaskan bahwa tuduhan Said Aqil Siradj itu sama sekali tidak benar.

“Itu tidak benar, Aman Abdurrahman bukan pimpinan Al-Sofwa. Ustadz Farid Ahmad Oqbah juga bukan pimpinan Al Sofwah,” ujarnya kepada voa-islam.com, Senin siang (5/12/2011).

Sandi menambahkan, Yayasan Al-Sofwa juga tidak pernah mengajarkan kekerasan maupun aksi pemboman seperti tudingan Said Aqil Siradj. Sandi menyayangkan, sebagai tokoh nasional dan ketua PBNU, seharusnya Said Aqil Siradj memaparkan data yang benar, jangan memberikan dusta yang memfitnah lembaga dakwah seperti Al Shofwa.

Senada itu, mendengar namanya disebut-sebut sebagai Pimpinan Al-Sofwa, Ustadz Farid Ahmad Oqbah merasa heran dan kasihan terhadap Said Aqil Siradj yang salah kaprah dalam merilis data di hadapan puluhan kiyai dan nyai Nahdliyin. “Saya tidak pernah menjadi pimpinan Al-Sofwa, dan tidak ada keterkaitan dengan Yayasan Al-Sofwa,” ujarnya.

Pimpinan Islamic Centre Al-Islam ini mengimbau Said agar melakukan ceck and recheck kepada Yayasan Al-Sofwa sebelum berbicara tentang Al-Sofwa, agar tidak menyebarkan data salah dan menjadi fitnah. “Al-Sofwa itu kan lembaga resmi, data saja langsung ke sana, apa kegiatan mereka?” imbau Farid yang juga Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Farid juga mempertanyakan motif Said dengan merilis tudingan yang salah kaprah terhadap ormas-ormas Islam. “Menyebar tuduhan seperti itu landasan dan tujuannya apa?“ tuturnya.

Uniknya, meski namanya difitnah secara salah kaprah sebagai pimpinan ormas radikal penebar terorisme dan radikalisme, Ustadz Farid Oqbah tidak bereaksi menghujat balik kepada Said Aqil Siradj. Meski difitnah secara sepihak, dengan bijak Pimpinan Pesantren Tinggi Al-Islam ini menyampaikan nasihat yang menyejukkan. Menurutnya, dalam kondisi seperti saat ini, yang dibutuhkan umat dari para dai, kiyai dan tokoh agama adalah ukhuwah, bukan malah memecah-belah.

“Dalam kondisi sekarang ini yang harus dibangun itu adalah persaudaraan dan saling menghormati satu sama lain, bukan malah menyebar fitnah seperti ini. Dan jangan lupa, agama ini nasihat, bukan malah saling mewaspadai,” ujarnya kepada voa-islam.com, Senin (5/12/2011). “Kalau memang kita ada salah dinasihati. Janganlah mereka terbawa arus saling curiga-mencurigai, jangan tuduh-menuduh yang tidak ada kejelasannya jadi ini tidak sehat,” tambahnya.

Farid Oqbah mengajak Said Aqil Siradj dan semua pimpinan lembaga Islam agar merenungkan dan mengamalkan sabda Rasulullah yang menekankan bahwa sesama Muslim itu bersaudara, jangan saling memfitnah, iri hati, menipu, membenci, menzalimi dan merendahkan satu sama lainnya. “Harusnya sebagai pimpinan lembaga Islam memberi contoh yang baik bukan justru menyebar fitnah seperti ini,” tegasnya seraya mengutip hadits Nabi SAW dalam riwayat Muslim:

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda," Janganlah kalian saling iri! Janganlah kalian saling jual beli menipu! Janganlah kalian saling membenci! Janganlah kalian saling membelakangi! Janganlah kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain! Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak akan menzaliminya, menelantarkannya ataupun merendahkannya.”

Subhanallah! Betapa besar jiwa para tokoh Islam yang difitnah Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA, Ketua Umum PBNU. Meski dilempar fitnah, dengan bijak membalas dengan taushiyah.

Sunday, December 4, 2011

Kaum 'Sarungan' yang Sinis pada sesama Muslim, Tapi 'Penjilat' pada Non Muslim


Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (Qs Al-Mujadilah 22).

VOA-ISLAM.COM – Seorang bapak sepuh pernah bercerita, pada masa pra-kemerdekaan ketika sejumlah umat Islam shalat di masjid mengenakan celana panjang, oleh komunitas sarungan dicap kafir. Bagi mereka, celana panjang diidentikkan dengan busana penjajah, sedangkan busana shalat yang afdhal adalah mengenakan sarung.

Sarung adalah kain panjang yang dijahit pada kedua tepinya sehingga membentuk silinder. Konon, sarung berasal dari Yaman, dan masuk ke kawasan Nusantara diduga bersamaan dengan masuknya Islam.

Menutup aurat dengan sarung atau celana panjang, sesungguhnya bukan hal prinsip yang sampai harus disikapi dengan mengafirkan orang lain. Sarung sendiri di kalangan bangsa Mesir atau Turki adalah perlengkapan tidur, yang tidak layak dibawa ke tempat peribadatan atau pergaulan sehari-hari.

Kalau pada akhirnya sarung menjadi salah satu cara menutup aurat, perlengkapan beribadah dan keperluan lainnya, tetap saja tidak ada alasan untuk mengafirkan orang lain yang tidak mengenakan sarung saat beribadah (shalat).

Rupanya watak sinis komunitas sarungan ini, tetap eksis hingga kini. Kalau untuk urusan sarung yang tidak prinsipil saja mereka tega mengafirkan orang lain yang tidak sama kebiasaannya dengan mereka, apalagi untuk hal-hal yang serius.

Eksistensi watak sinis kaum sarungan yang suka mempertajam perbedaan itu antara lain bisa dilihat dari sikap Drs Muhammad Bukhori Maulana MA, lulusan Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, yang di kalangan sarungan menjabat sebagai Ketua Lembaga Bahsul Masail yang tergabung dalam FOSWAN (Forum Silaturrahmi Warga Nahdliyin).

Bila selama ini kaum sarungan suka memberhalakan sosok yang dikhabarkan di media suka berzina dengan julukan Bapak Bangsa dan konon bermaqom Wali, kini mereka menyerang balik ‘lawan ideologisnya’ dengan tuduhan memberhalakan ulama seperti Ibnu Taimiyah, Bin Baz, Nashiruddin Al-Albani, dan Al-Jibrin. Siapa ‘lawan ideologis’ komunitas sarungan versi makhluk sarkas bernama Bukhori Maulana ini? Pada sebuah kesempatan di Bekasi, dalam sebuah forum bedah buku (20 Nov 2011), Bukhori Maulana sering menyebut istilah Salafi Wahabi. Mungkin itu yang dia maksud.

Siapa Salafi Wahabi? Melalui serangkaian caci-maki khas preman pasar, makhluk bernama Bukhori ini antara lain menyebutkan bahwa PKS sama bin sama dengan Salafi Wahabi. Mungkin yang dimaksud Bukhori Maulana dengan PKS adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Di Jawa Timur, Gubernur yang menang Pilkada adalah pasangan DR. H. Soekarwo, SH, M.Hum dan Drs. Saifullah Yusuf (periodde 2009-2014). Soekarwo adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Sedangkan Saifullah Yusuf, meski ia berasal dari komunitas Sarungan, namun maju ikut Pilkada Jawa Timur konon berkat dukungan PKS.

Pasangan Soekarwo-Saifullah yang didukung PKS ini, ternyata berhasil mengalahkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mujiono yang didukung NU dan PDIP. Bahkan secara terbuka Hasyim Muzadi sempat menyuarakan dukungannya kepada Khofifah. Tapi ya, tetap kalah.

Barangkali ini merupakan salah satu fakta yang menjadi kegalauan politik orang NU yang kemudian membawa-bawa unsur teologi yang sedang ramai diperbincangkan pasca maraknya aksi teror bom di sejumlah kota (Cirebon dan Solo). Teror itu sendiri dipaksakan untuk dikaitkan dengan paham Wahabi atau Salafi.

Basis NU adalah Jawa Timur. Lha, kalau di Jawa Timur saja NU kalah Pilkada, meski sosok yang didukung PKS dan Demokrat orang NU juga, namun fakta ini bisa menjadi petunjuk bahwa komunitas NU tidak begitu manut kepada tokoh politiknya. Sehingga ketika PKS-Demokrat mengusung Soekarwo-Saifullah, masyarakat NU Jatim lebih memilih mereka ketimbang memilih pasangan yang jelas-jelas didukung PBNU.

Sebelumnya, Abdurrahman Wahid bisa menjadi Presiden RI ke-3, berkat akrobat politik yang dilakukan Amien Rais yang orang Muhammadiyah. Selama ini, komunitas sarungan memandang ormas Muhammadiyah sebagai representasi Wahabi. Padahal, saat itu petinggi NU sepakat bulat mendukung Megawati sebagai presiden ketiga. Bahkan dalam rangka mendukung Megawati, sampai-sampai dikeluarkan ‘fatwa’ yang membolehkan wanita jadi imam nasional umat Islam.

Jadi, sikap sarkas 'kyai' bernama Drs Muhammad Bukhori Maulana MA, boleh jadi muncul dari ‘kepanikan’ komunitas sarungan yang gemar mempraktikkan bid’ah ini terhadap kalangan Islam yang menolak bid’ah, mengajak umat Islam kepada ajaran Islam yang hanif dan murni. Secara politik, antara lain melalui pilkada Jatim, terbukti NU bisa dikalahkan di kandangnya sendiri oleh partai kemarin sore.

Boleh jadi ‘kepanikan’ itu kian terlontar secara spontan akibat banyaknya kyai NU yang hijrah meninggalkan tradisi bid’ah dan khurafat yang masih bisa ditemukan di dalam praktik ibadah komunitas sarungan ini.

Selain melontarkan tudingan bahwa kalangan Salafi Wahabi suka memberhalakan pendapat ulama seperti Ibnu Taimiyah, Bin Baz, Nashiruddin Al-Albani, Al-Jibrin, sehingga konon menurut Bukhori, kalangan Salafi Wahabi suka menganggap bid’ah dan sesat kepada kalangan yang berbeda pendapat; ternyata 'kyai' bernama Drs Muhammad Bukhori Maulana MA juga suka menggunakan data palsu untuk mendukung syahwatnya.

Misalnya, ketika Bukhori Maulana memaparkan kisah tentang tokoh Salafi Bekasi bernama Zainal Abidin Lc, yang menurut Bukhori Maulana tokoh tersebut masuk rumah sakit dalam keadaan babak belur karena dipukuli oleh sesama Salafi. “...yang saya sesalkan harinya hari Jum’at. Habis ngaji turun babak belur masuk Rumah Sakit Mekar Sari…” Begitu kata Bukhori Maulana; namun berdasarkan penelusuran voa-islam.com, memang ada insiden terkait ustadz Zainal Abidin Lc, yang terjadi pada hari Ahad tanggal 6 Desember 2009, bukan hari Jum’at. Insiden yang terjadi di Masjid Amar Ma’ruf Bulak Kapal Bekasi kala itu, sama sekali tidak ada pemukulan terhadap ustadz Zainal Abidin Lc, apalagi hingga dirawat di rumah sakit. Tidak ada. Itu fitnah.

Dua Tokoh Utama ini Sinis kepada Sesama Muslim, tapi Manis kepada Kafirin

Kalau dulu komunitas sarungan menjadikan sarung sebagai alasan untuk mengkafirkan kalangan yang berbeda dengan mereka, boleh jadi itu dilakukan dalam rangka menjalankan kebijakan penjajah yang menerapkan politik devide et impera alias politik pecah belah terhadap umat Islam.

Kini, materinya bukan lagi sarung, tetapi hal-hal yang berkenaan dengan penampilan. Misalnya, celana di atas mata kaki, jenggot yang dibiarkan panjang, dan kening yang menghitam bekas sujud.

Selama ini kaum kafirin menganggap bahwa komunitas sarungan ini sebagai kalangan Islam yang paling toleran, dengan merujuk kepada sepak terjang Abdurrahman Wahid sang lokomotif bid’ah. Apalagi, salah satu unsur komunitas sarungan ini begitu doyan menjadi centeng gereja, tidak saja saat perayaan Natal, namun juga ketika ada momen khusus yang dianggap memerlukan pengamanan lebih ketat.

Faktanya, bisa dilihat sendiri dari sikap dan ucapan sarkas ala 'kyai' bernama Drs Muhammad Bukhori Maulana MA, yang mempertegas kekeliruan Said Agil Siradj sebelumnya di dalam memahami Wahabi dan Salafi. Artinya, melalui tampilan Bukhori Maulana dan Said Agil Siradj saja, kita sudah bisa mempunyai kesan, bahwa komunitas sarungan ini memang tidak punya daya toleransi yang tinggi. Mereka cenderung bersikap sinis terhadap sesama Muslim namun bersikap manis terhadap kekafiran.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More