Wednesday, February 15, 2012

Preman Binaan Narang Kejar FPI Ke Kapuas

Jakarta (SI ONLINE) - Pesawat maskapai Sriwijaya Air berjenis Boeing 737-200, Sabtu (11/2/2012) sekitar pukul 08.00 pagi take off dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dengan jumlah penumpang sekitar 110 orang, perjalanan Jakarta-Palangkaraya yang bakal ditempuh selama 1 jam 35 menit itu tak menemui kendala apapun. Pesawat dengan nomor penerbangan SJ-190 itu dijadwalkan mendarat pukul 09.35 waktu setempat.

Tiba-tiba 20 menit sebelum pesawat landing, salah satu crew pesawat memanggil seorang penumpang. Ustadz Awit Masyhuri nama penumpang yang dipanggil itu. Kepada Wakil Sekjen Front Pembela Islam (FPI) ini, sang petugas mengabarkan bahwa Bandara Tjilik Riwut tengah dikepung ratusan preman berikat kepala merah dan bersenjata lengkap, mandau dan tombak. 200 orang di antara pendemo itu dikabarkan telah menerobos apron (landasan pesawat) bandara. Sementara ribuan lainnya mengepung di luar.

“Petugas itu lantas menyarankan agar kami berganti baju”, kata Ustadz Awit sambil menirukan permintaan crew Sriwijaya Air itu.

Karena bukan amir safar (ketua rombongan), Ustadz Awit tak berani mengiyakan permintaan itu. Akhirnya ia konsultasi dengan Sekjen FPI KH A Shobri Lubis yang ada dalam rombongan itu. “Tidak, kita tidak mungkin berganti baju”, jawab Ustadz Shobri ketika itu. Semua rombongan saat itu memakai busana putih-putih plus sorbannya.

Jumlah rombongan Pimpinan Pusat FPI yang ada dalam pesawat itu ada empat orang. Sekjen FPI KH A Shobri Lubis, Wasekjen FPI KH Awit Masyhuri, Ketua Bidang Dakwah Habib Muchsin Alattas dan Panglima Laskar Ustadz Maman Suryadi.

Saat pesawat mendarat, Ustadz Maman yang sempat melihat dari jendela bercerita bahwa ratusan orang dengan beringasnya segera menyerbu pesawat. “Mereka berada persis di bawah pesawat”, tuturnya.

Ratusan preman yang diduga merupakan orang-orang bayaran Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang itu menduga Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab berada di dalam pesawat. Sebelumnya, massa yang telah berkumpul sejak pagi hari itu merangsek masuk ke dalam landasan pesawat (apron) dengan menjebol tiang pagar bandara. Massa menghadang di depan pesawat yang hanya berjarak sekitar 50 meter.

Di dalam pesawat, Pimpinan FPI itu juga mendapat caci maki dari sejumlah penumpang. “Kami sempat dicaci maki. Salah satu penumpang memaki kami, “Ini Palangkaraya sudah damai, kenapa dimasuki beginian (FPI, red)”, tiru Ustadz Maman.

Sementara itu, pimpinan rombongan Habib Muchsin terus berkomunikasi dengan Habib Rizieq di Jakarta. Habib sendiri tidak ikut ke Palangkaraya karena kesehatannya tidak memungkinkan. Kepada empat orang pimpinan FPI yang tertahan di dalam pesawat, Habib menginstruksikan wajib untuk berjihad mempertahankan diri dari serangan para preman kafir yang mencatut dan mengatasnamakan Dayak itu.

Setelah satu jam berada di dalam pesawat yang sudah ‘parkir’ itu, seorang Kasatlantas didampingi kepala keamanan bandara berinisiatif dialog dengan pimpinan FPI. Polisi di luar lainnya pasif. “Bahkan saya melihat cuma ada sekitar empat orang polisi”, kata Habib Muchsin.

Setelah berkoordinasi, akhirnya Kapten pesawat mengambil inisiatif menerbangkan empat pimpinan FPI itu ke Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Kapten pilot tak ingin menanggung resiko adanya pembunuhan terhadap penumpang yang menjadi tanggungjawabnya. Keputusan cerdas Kapten pilot inilah yang diapresiasi oleh DPP FPI. “Ini inisiatif pilot”, kata Habib Muchsin.

Menerbangkan empat orang pimpinan FPI ke Banjarmasin bukan tanpa alasan. Juga bukan karena keempatnya tidak punya ongkos untuk balik ke Jakarta seperti yang dikatakan anggota Fraksi Hanura Akbar Faisal kepada Tempo, Ahad (12/2/2012), tetapi karena empat orang itu tetap akan menghadiri undangan Bupati Kapuas HM Mawardi untuk tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Kuala Kapuas.

Anehnya, di Palangkaraya malah berembus kabar kabar miring jika pimpinan FPI itu membajak pesawat. “Di Banjarmasin kami langsung dimintai keterangan untuk membuktikan tidak adanya pelanggaran”, kata Habib Muchsin.

Sementara di Palangkaraya, sekitar pukul 15.00, ribuan preman binaan Teras Narang yang marah tak dapat mangsa akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan merusak rumah Habib Muhri bin Muhammad Ba Hasyim. Mereka juga merusak sejumlah rumah dan toko milik panitia peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, sekaligus membakar tenda dan panggung yang telah disiapkan panitia.. Habib Muhri adalah calon Ketua FPI setempat yang rencananya akan dilantik bersamaan dengan pengajian peringatan Maulid Nabi.

Habib Muhri dan kawan-kawan beserta keluarga mereka sempat menyelamatkan diri dan hingga saat ini berada di tempat yang aman. Tetapi keselamatan mereka tetap terancam. Sementara pihak Polres Palangka Raya dan Polda Kalimantan Tengah tidak mau memberikan jaminan keamanan.

Dikejar Hingga Ke Kuala Kapuas

Episode menegangkan upaya pembunuhan empat pimpinan FPI tidak berhenti sampai di sini. Sebab ternyata ratusan preman dari Palangkaraya dengan menumpang belasan truk, terus membunyikan kentongan memanggil kawan-kawan mereka dari penduduk setempat. Ba’da magrib dengan senjata lengkap dan dalam kondisi mabuk mereka mengepung rumah Bupati Kapuas, tempat empat pimpinan FPI berada.

“Mereka berteriak-teriak mengacungkan-acungkan senjata sambil menantang perang”, kata Ustadz Maman yang sempat menyusup ke tengah-tengah massa.

Melihat kedatangan preman yang beringas itu, Bupati Kuala Kapuas HM Mawardi dan jajarannya mencoba melakukan dialog. Hasilnya, disepakati bahwa pada malam itu tabligh akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad saw tetap dilaksanakan sesuai keinginan masyarakat Kuala Kapuas. Namun pelantikan pengurus FPI Kapuas ditiadakan sesuai keinginan massa brutal dari Palangkaraya.

Bupati Kapuas lantas meminta pimpinan massa brutal dari Palangkaraya untuk menyampaikan hasil kesepakatan pertemun itu kepada massa yang tengah berteriak-teriak di luar. Mereka bergeming, tak mau bubar. Lalu Kapolres Kuala Kapuas yang menyampaikan, juga tidak mampu membubarkan massa. Bupati akhirnya turun tangan sendiri, tapi hasilnya sama, massa tetap  tidak mau bubar, bahkan makin beringas dan brutal. “Mereka hanya patuh pada Presiden Dewan Adat Dayak, Teras Narang”, kata Habib Muchsin.

Karena situasi yang makin tidak kondusif akhirnya empat orang pimpinan FPI di bawah pengawalan Patwal Polisi dan anggota TNI dari Kodim Kuala Kapuas dievakuasi ke Kota Banjar Baru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.  Walaupun sebenarnya masyarakat Kapuas tetap meminta tabligh akbar diadakan. Mereka juga menjamin keamanan para pimpinan FPI dari serbuan preman Palangkaraya. “Kami berinisiatif untuk meninggalkan lokasi yang semakin tidak kondusif untuk kebaikan semua”, kata Ustadz Shobri.

Alhamdulillah, Ahad pagi (12/2/2012), rombongan pimpinan FPI Pusat dengan didampingi para Habaib dan tokoh masyarakat Banjarbaru serta dibantu oleh Danlanud Banjarmasin mendapatkan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta.

Rencananya, kedatangan empat pimpinan FPI Pusat ke Palangkaraya adalah untuk berceramah dalam peringatan Maulid Nabi sekaligus pelantikan sejumlah pengurus FPI di Palangkaraya, Sampit dan Kapuas.

“Aksi rasis dan fasis serta anarkis di Palangkaraya dan Kuala Kapuas, pada hari Sabtu 11 Februari 2012 adalah upaya percobaan pembunuhan terhadap rombongan pimpinan FPI Pusat”, kata Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab dalam Konferensi Pers di Markaz FPI, Jalan Petamburan, Ahad sore kemarin (12/2/2012)

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More