Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Thursday, June 28, 2012

Layakkah Pelatihan Militer Separatis di Papua, Disebut Terorisme?

Rangkaian Teror berupa penembakan terhadap anggota TNI,Polri dan masyarakat sipil di Papua dalam beberapa waktu terakhir ini terungkap sudah dalang dan pelaku di belakangnya.

Tertembaknya Mako Tabuni salah satu pimpinan organisasi Papua Merdeka (OPM) oleh aparat keamanan seolah menjadi jawaban tentang pertanyaan siapa dalang di balik Teror di Papua.Penembakan terhadap Tabuni kemudian berlanjut dengan penangkapan beberapa anggota separatis Papua yang dalam penangkapannya aparat keamanan menyita beberapa barang bukti seperti senjata api dan atribut organisasi gerakan sparatis OPM.

Penemuan dari aparat keamanan ini lebih mengejutkan masyarakat Indonesia ketika ditambah dengan ditemukannya kamp latihan militer milik Organisasi Papua Merdeka di Yapen Waropen. Dan pada senin (25/06/2012) 11 orang warga papua menyerahkan diri kepada aparat keamanan terkait latihan militer di Yapen Waropen.

Sekedar mengingatkan dan membandingkan dengan peristiwa dua tahun yang lalu di pegunungan Jalin Janto Aceh. Yaitu peristiwa penggerebekan kamp latihan Militer "Teroris" (Mujahidin) pada bulan maret 2010. Dalam rangkaian peristiwa penggerebekan dan pengungkapan latihan militer di pegunungan Aceh tersebut, setidaknya aparat Thoghut menembak tujuh orang terduga Teroris (Mujahid) dan menangkap lebih dari lima puluh orang yang terlibat dalam latihan militer tersebut.

Mereka semua yang ditangkap  diproses dengan hukum (thoghut) yaitu dijerat dengan Undang-undang No 15 tahun 2003 tentang pemeberantasan tindak pidana terorisme. Dan semua yang telah ditangkap dan dianggap terlibat dalam latihan militer tersebut kini telah divonis dan tengah menjalani hukuman di dalam penjara Thoghut.

Terkait dengan penangkapan para anggota sparatis OPM di Papua yang juga melakukan Latihan Militer timbul satu pertanyaan di benak saya,"apakah para sparatis tersebut juga disebut Teroris dan akan dijerat dengan Undang-undang No 15 tahun 2003?".

Sebab jika dilihat dari modus dan unsur yang ada dalam peristiwa Teror di Papua dan latihan Militer oleh OPM sesungguhnya telah memenuhi kriteria tindakan terorisme, jika yang dijadikan rujukan adalah Undang-undang No 15 tahun 2003. Namun hal tersebut menjadi tidak terjadi jika penerapan Undang-Undang No 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana Terorisme lebih dilatar belakangi oleh sentimen Idiologi. Sebab fakta yang terjadi di lapangan seperti itu.

Jika yang melakukan tindakan teror dan latihan militer adalah dari kelompok Islam  maka akan disebut teroris dan dijerat dengan Undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme. Namun jika yang melakukan teror, latihan militer dan memiliki senjata api di luar kelompok Islam (seperti kelompok Kristen) maka tidak akan disebut Teroris dan tidak dijerat dengan Undangh-undang No 15 tahun 2003.Apa yang terjadi di Ambon bisa menjadi contoh tentang standar ganda yang dilakukan oleh Thoghut dalam penerapan undang-undang No 15 Tahun 2003.

Di Ambon ada lebih dari 20 orang warga muslim yang dijerat dan divonis dengan undang-undang No 15 tahun 2003 karena melakukan kekerasan dengan menggunakan senjata api, memiliki dan menyimpan senjata api dan melakukan latihan militer. Bersamaan dengan itu tidak satu orang pun dari kelompok nasrani yang dijerat dan divonis dengan menggunakan undang-undang No 15 tahun 2003 meskipun mereka melakukan kekerasan dengan senjata api dan bom dan memiliki serta menyimpan senjata api dan bahan peledak.

Pertanyaan yang masih tersisa dari peristiwa Teror di Papua adalah :
- Apakah Densus 88 kaki tangan Amerika akan diterjunkan di Papua untuk menangkap para pelaku Teror?
- Apakah BNPT dengan dibantu oleh  para LSM akan melakukan program Deradikalisasi terhadap para mantan kombatan OPM seperti yang dilakukan terhadap aktifis Islam di Ambon dan Poso?
-Apakah akan ada dari para pengamat yang mengurai, menganalisa dan melakukan penelitian terhadap  organisasi sparatis OPM seperti yang mereka lakukan terhadap kelompok Islam?.

Wallohu a'lam

Thursday, June 21, 2012

Rekayasa Politik Seputar Piagam Jakarta

JAKARTA (salam-online.com): Tanggal 22 Juni adalah hari yang bersejarah. Piagam Jakarta ditandatangani. Inti dari Piagam Jakarta adalah pelaksanaan syariah Islam bagi kaum Muslimin—sebagai ganti republik ini belum menjadikan Islam sebagai Dasar Negara.

Tetapi, setelah itu kenyataan berbicara lain. Tanggal 17 Agustus  1945 yang merupakan hari gembira bagi bangsa Indonesia karena diproklamirkannya kemerdekaan, namun sehari setelah proklamasi, 18 agustus 1945, adalah hari kelam bagi Umat Islam Indonesia.  Pada hari itu kesepakatan antara umat Islam dengan kelompok nasionalis dan Non-Muslim dikhianati.

Tujuh kata yang menjamin penegakan syariat Islam  di Indonesia dihapus. “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” berganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.
Dengan penghapusan ini, pembukaan konstitusi yang tadinya disebut sebagai Piagam Jakarta pun berubah drastis. Sebelumnya, para wakil kelompok Islam yang menjadi anggota Dokuritsu Zyumbi Tyioosaki atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) berusaha keras menjadikan Islam sebagai Dasar Negara.

Perdebatan alot terjadi sehingga lahirlah kompromi berupa Piagam Jakarta. Islam tidak menjadi dasar Negara, namun kewajiban bagi para pemeluknya diatur dalam kontitusi.

BPUPKI kemudiaan menetapkan Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Naskah tersebut di tetapkan sebagai Mukaddimah UUD.

Pada tanggal 7 Agustus BPUPKI berubah menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)  yang di ketuai oleh Soekarno. Piagam Jakarta bertahan sebagai Mukaddimah  UUD hingga 17 Agustus 1945, karena selang sehari kemudian dipersoalkan oleh golongan Kristen, yang selanjutnya dibantu para pengkhianat.  Padahal A.A Maramis  yang menjadi wakil Kristen di PPKI sudah setuju dengan piagam tersebut dan ikut menandatangani.

Rekayasa Politik
Kronologi penghapusan Piagam Jakarta cukup misterius. Pada tanggal 18 Agustus Moh. Hatta mengaku ditemui oleh seorang perwira angkatan laut jepang. Katanya, opsir itu menyampaikan pesan berisi “ancaman” dari tokoh Kristen di Indonesia timur. Jika tujuh kata dalam Sila Pertama pembukaan (Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) tidak di hapus, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia merdeka.

Terkikisnya Syariat Islam di NKRI, Berawal dari Pengkhianatan Founding Father Terhadap Piagam Jakarta

Islam sebagai ajaran yang dikenalkan secara utuh menghasilkan perubahan total dalam kehidupan masyarakat, mulai dari perubahan ideologis, perubahan pola pikir, perubahan gaya hidup, hingga kepada penerapan syariat sebagai aspek hukum dalam Islam.

Menurut Ustadz Daud Rasyid, bicara penerapan syariat dalam perspektif sejarah, tidak satupun negeri yang Islam masuk di dalamnya tidak menerapkan syariat. Termasuk konteks sejarah nusantara, dimana yang menjadi hukum positif di kerajaan-kerajaan itu ialah hukum syariat. Leteratur yang dipakai dalam memutuskan hukuman di pengadilan adalah literature fiqih dengan madzhab Syafi’i. Fakta sejarah itu terdapat dalam karya monumental “Rihlah Ibnu Bathuthah”.

Penerapan hukum fiqih madzhab Syafi’i itu berlangsung cukup lama hingga datang pemerintah kolonial Belanda yang menghapuskan pemberlakuan syariat dan menggantinya dengan hukum Belanda, Hukum syariat hanya dibatasi untuk bidang-bidang : keluarga, seperti nikah, talak, rujuk dan sejenisnya.

“Jadi, perlu ditegaskan disini bahwa penerapan syariat di negeri ini mempunyai akar sejarah yang kuat, bahkan mendahului sejarah hukum Eropa itu sendiri. Oleh karena itu, tuntutan penerapan kembali syariat Islam bukan sesuatu yang mengada-ada atau tuntutan baru yang tidak ada landasannya. Akar sejarahnya sangat kokoh, bahkan seumur dengan bangsa ini,” ujar Ustad Daud.

Dalam sejarah perjuangan internasional, perjuangan penerapan syariat Islam sudah dimuiai sejak lahirnya Sarekat Islam. Secara resmi, hal ini pun tercantum dalam “Piagam Jakarta” yang berbunyi: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Ini disetujui bersama oleh wakil-wakil Islam, nasionalis, dan Kristen.

Sebelum diproklamasikannya kemerdekaan RI, dibentuklah BPUPKI. Dalam sidang-sidang BPUPKI yang menentukan dasar negara, anggota-anggota BPUPKI terbelah menjadi dua: pihak Islam yang mengusulkan agar negara ini menjadi negara Islam, dan pihak nasionalis yang ingin pemisahan urusan kenegaraan dengan urusan keagamaan. Kedua usul ini sama kuat. Namun, akhirnya terjadilah kompromi antara kedua pihak yang menghasilkan isi “Piagam Jakarta”.

Dengan isi “Piagam Jakarta” itu, keinginan kedua belah pihak dapat terjembatani. Jadi, sebenarnya isi “Piagam Jakarta” itu sendiri adalah sikap mundur selangkah dari kelompok Islam di BPUPKI.
Apa yang terjadi kemudian, setelah Indonesia merdeka? Rumusan kompromis itu dihapus pada sidang PPKI, sehari sesudah proklamasi. Aktor intelektual dari upaya penghapusan ini adalah M. Hatta sendiri. Ia mengklaim didatangi salah seorang opsir angkatan laut Jepang yang mengaku sebagai utusan dari kelompok Kristen dari Indonesia Timur.

Katanya, mereka menolak rumusan “Piagam Jakarta” tadi. Anehnya, opsir Jepang yang dimaksud, Letnan Kolonel Shegetada Nishijima, yang menjumpai Hatta sore hari pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, merasa tidak pernah menjadi “kurir” golongan Kristen Indonesia Timur.

“Yang pasti, permainan politik beberapa elit yang tidak menghendaki diberlakukannya syariat Islam, sesungguhnya bukanlah orang-orang di luar Islam, melainkan dari dalam umat Islam itu sendiri. Sangat menyedihkan,” ujar Daud Rasyid.

Benarkah Hukum Islam Tidak Manusiawi ?

Ketentuan pidana Islam, khususnya mengenai hudud seperti potong tangan bagi pencuri dan hukum rajam bagi pezina serta qishas, sering mendapat sorotan tajam dari kalangan non-Islam, seperti orientalis, politisi Barat, dan sebagian orang Islam yang telah termakan oleh ide orientalis.

Mereka menggambarkan hukuman tersebut sebagai sesuatu yang kejam dan tidak sesuai dengan peradaban modern. Ketentuan-ketentuan hudud sifatnya memang mutlak (absolute). Akan tetapi, hudud itu sendiri mempunyai unsur dan syarat yang harus terpenuhi. Dengan kata lain, tidak dapat dijatuhkan hukuman sebelum unsur dan syaratnya terpenuhi. Apakah seseorang yang mencuri sebutir telur lantas dipotong tangannya? Atau dua orang yang ditemukan tengah berduaan, lantas dihukum rajam? “Hukum Islam tidak sesempit yang mereka asumsikan,” Kata Daud Rasyid.

Bahkan pada masa Pemerintahan Amirul-Mukminin, Umar bin Khathab, seorang pencuri yang kelaparan mencuri bahan makanan, tidak dihukum potong, karena tahun tersebut dikenal sebagai ‘tahun panceklik”. Sebenarnya dalam hukum pidana Islam, hudud adalah ancaman yang akan menimbulkan rasa takut bagi orang lain. Apabila diterapkan sekali, akan mencegah orang lain dari perbuatan serupa.

Agaknya tidak objektif jika kita hanya melihat hukuman dari satu sisi saja, yaitu sisi kejamnya, tanpa melihat sisi yang lain, yaitu kejamnya perbuatan kriminal si pelaku yang melanggar kehormatan orang lain (dalam kasus zina), merampas hak orang lain (dalam kasus pencurian), dan menghabisi nyawa orang lain (dalam kasus pembunuhan). Bukankah ini tidak adil? Lagipula, bukankah hukuman mati tetap dipertahankan oleh hukum modern untuk kejahatan tertentu, mengapa kita apriori dengan Hukum Syariat Islam?

Prasangka Negatif
Ada prasangka yang mengatakan, bahwa pelaksanaan hukum Islam berarti menjadikan suatu negara menjadi negara agama (Islam). Hal ini dianggap bisa mempersempit hubungan dengan dunia internasional.
Asumsi ini jelas keliru. Di dunia ini ada dua negara yang berdiri atas dasar ideology agama tertentu, yaitu Vatikan dan Israel. Vatikan berdasarkan agama Katolik, dan Israel berdasarkan agama Yahudi. Akan tetapi, keduanya tetap mempunyai hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. Apalagi Negara Islam yang sesungguhnya bukan negara agama, seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang, tetapi negara sipil yang menjalankan Syariat Islam.

Bahkan negara yang tidak mengakui agama sekalipun, seperti halnya Uni Soviet dan RRC, juga punya hubungan diplomatic dengan dunia luar. Arab Saudi, salah satu negara yang menjalankan qishas dan hudud, juga punya hubungan baik dengan dunia internasional. Jadi, masalah hubungan internasional bukan berdasarkan atas ideologi negara tertentu dan juga bukan hukum yang berlaku di dalam negeri, tetapi didasarkan atas asas kepentingan bersama.

Stigmatisasi yang lain adalah prasangka bahwa penerapan Hukum Islam dapat membahayakan kalangan non-muslim. Pemberlakuan hukum secara unifikasi akan memaksa penduduk non-muslim tunduk kepada hukum Islam.

Alasan ini jelas datang dari pihak yang melupakan atau menguburkan sejarah, yaitu pada munculnya Islam pertama kali di Jazirah Arab. Betapa kaum Yahudi dan Nasrani ketika itu menjalankan ibadahnya dengan bebas dalam iklim yang toleran. Islam menjamin hak asasi semua orang, harta benda, kehormatan dan ide.
Bahkan ketika itu Islam membentuk pengadilan khusus yang mengadili perkara intern mereka. Islam belum pernah melakukan pembantaian terhadap non-muslim sebagaimana yang dilakukan orang-orang Eropa terhadap umat Islam di Andalusia, tentara salib di Jerusalem, dan tentara Israel di Shobra dan Chatilla, di Qana, Lebanon Selatan (1996), dan pembantaian sadis terhadap umat Islam Bosnia oleh kaum Kristen Serbia dan sebagainya.

Berlakunya hukum mayoritas bagi kelompok minotitas tanpa memperhatikan ketentuan khusus mereka, adlah merupakan kaidah umum dalam politik demokrasi Barat. Asumsi negatif yang dilemparkan ke arah Hukum Islam, jelas didasari oleh kejahilan pihak yang salah paham terhadap syariat Islam.

Monday, June 18, 2012

Konglomerat Zionis Anti Islam Terbukti Danai Irshad Manji

Pemikir kontroversial yang mengaku Islam dan dicap sesat oleh banyak umat muslim Irshad Manji boleh jadi bakal makin kontroversial setelah sebuah laporan menyebutkan dia mendapat dana dari seorang konglomerat Zionis anti-Islam.

Surat kabar the Nation melaporkan, Rabu (13/6), taipan Zionis bernama Nina Rosenwald telah mendanai program nirlaba dijalankan oleh Irshad bernama Proyek Ijtihad. "Pada 2007, Rosenwald memberikan dana USD 10 ribu atau sekitar Rp 94,3 juta buat Proyek Ijtihad," tulis koran itu. Proyek ini untuk membangun jaringan para pemikir moderat muslim dan muslim di seluruh dunia.

Nina adalah putri dari William Rosenwald, tokoh Zionis Amerika Serikat yang mendirikan organisasi Seruan Yahudi Bersatu pada 1939. Lewat yayasan Dana Keluarga William Rosenwald, Nina bersama kakaknya, Elizabeth Varet, selama 12 tahun terakhir telah menyumbang lebih dari USD 2,8 juta (sekitar 26,4 miliar) bagi pegiat anti-Islam dan kegiatan buat menyebarkan kebencian terhadap muslim.

Nina juga turut mendukung perjuangan politikus anti-Islam dari Belanda, Geert Wilders. Pemimpin Partai Kebebasan ini menuding Dia menyerukan penghentian Islamisasi di seluruh Eropa. "Islam adalah ancaman terbesar bagi kebebasan sedang kita hadapi," ujarnya. Lewat film Fitnah, politikus sayap kanan ini mendiskreditkan Islam sebagai agama kekerasan dan imperialis.

Irshad Manji datang ke Indonesia bulan lalu untuk peluncuran buku keduanya berjudul Allah, Liberty, and Love. Berbeda dengan lawatannya empat tahun lalu, kali ini banyak organisasi Islam menolak. Diskusi bukunya di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dibubarkan paksa. Acara serupa di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dibatalkan. Kajian bukunya di sebuah lembaga di Yogyakarta berujung ricuh.

Majelis Ulama Indonesia bersama sejumlah kelompok Islam menuding pemikiran Irshad sesat. Bahkan, dia juga dicap kafir.

Pemikiran irshad memang bertentangan dengan syariat islam. Perempuan mengaklaim lesbian ini mengaku salat saban hari 12-15 kali. Itu pun bukan melakukan salat seperti orang Islam umumnya

Cawagub pasangan Jokowi Ajak Umat untuk Tidak Taat pada Kitab Suci

Tidak semua pihak mengecam pernyataan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama terkait dengan kitab suci, dimana harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci. Beberapa pihak mendukung pernyataan tersebut.

Salah satu yang mendukung pernyataan Cagub dan Cawagub yang akrab disapa Jokowi dan Ahok itu adalah Ketua Umum Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (Gema Nusantara), Jay Muliadi. Dia mendukung pemikiran pasangan Cagub bernomor urut 3 itu, yang memisahkan kepentingan ayat suci dan konstitusi harus didukung. " Indonesia khususnya Jakarta butuh pemimpin yang berfikiran sekuler dan liberal agar masyarakat pluralis dapat terbentuk dengan baik," ujarnya.

Dikatakan Jay, dengan adanya paham yang tegas dalam pemikiran pasangan Jokowi-Ahok bakal menguatkan nilai-nilai persatuan sehingga tidak lagi terjadi benturan dan konflik di masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Hal senada juga diungkapkan Pujadi Aryo S, Pengurus Alumni ( PA) Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia ( GMNI) Jakarta Timur. Menurutnya, masyarakat Jakarta harus dididik dengan pemikiran-pemikiran yang bebas sehingga tidak lagi kaku dan terhegemoni oleh doktrin-doktrin yang salah.

Aryo berharap, kalau pasangan Jokowi Ahok maju tidak ada lagi pemikiran kerdil yang dalam beragama, sehingga harus dipisahkan antara urusan beragama dan bernegara. "Yah kita ingin nanti pasangan Jokowi-Ahok tetap konsisten dengan pemikirannya dan juga mereka tidak lagi memberikan bantuan hibah baik untuk mesjid maupun gereja," ujarnya.

Aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet berpendapat apa yang dikatakan oleh Ahok soal kitab suci untuk kepentingan pribadi sudah tepat. "Dalam kontek apa yang diucapkan oleh Ahok itu benar. Dia tidak mengulas ayat. Dia hanya mengatakan ayat yang berhubungan dengan agama itu dimakanai untuk kepentingan pribadi," kata Ratna.

Dia menilai pernyataan itu benar, dan merasa tidak perlu ada pihak yang marah terkait pernyataan tersebut . Namun, Ratna juga mengingatkan Ahok itu terlalu banyak bicara dan itu tidak menolong dia sebagai calon.

"Saat ini dia punya peluang untuk dipojokan orang. Ahok terlalu banyak bicara akan merugikan semua orang, perlu ditegur. Ini untuk kepentingan Jakarta, bukan kepentingan dian tapi kita butuh pemimpin yang lebih baik kedepan. Karena mendukung sebagai ibukota, Jakarta ini harus dipimpin oleh cagub-cawagub dari keberagaman," tegasnya.

Diketahui kepercayaan masyarakat Jakarta kepada Pasangan bernomer urut 3 ini semakin memudar ketika, Cawagub Jokowi, yaitu Basuki T Purnama alias Ahok, yang melecehkan Kitab Suci. Dimana Ahok mengkritik sikap pemeluk agama tertentu yang menjadikan dalil ayat suci yang digunakan sebagai dalil menolak Lady Gaga.

Kata Ahok, kitab suci hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, sehingga lebih tepat untuk patuh kepada kitab konstitusi. "Kita tidak boleh taat pada ayat suci. Kita taat pada ayat-ayat konstitusi," ujar Ahok. Pernyataan tersebut juga dapat dukungan dari Jokowi saat acara debat di Metro TV.

Sunday, June 17, 2012

Gila, Menkes Baru SBY inginkan Remaja Mudah Mendapat Kondom!


Menteri Kesehatan SBY yang baru dilantik, Dr Nafsiah Ben Mboi, Kamis (14/6/2012) menggelar jumpa pers. Tak ada program baru yang disampaikan. Tetapi ia berharap dapat melakukan gebrakan. Gebrakannya, agar remaja dipermudah aksesnya untuk mendapat kondom.

Sudah bisa ditebak, maksud Ibu Menkses ini agar para remaja yang melakukan hubungan seks dini, tanpa nikah, aman saat berhubungan seks. Dengan kata lain, aman berzina, tanpa berisiko tertular penyakit
HIV/AIDS. Parah! Sangat disayangkan, baru saja menjabat, bukannya bikin gebrakan yang positif supaya bangsa ini sehat jasmani dan jiwanya, eh malah makin menambah peluang orang untuk berzina!

“Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganlisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN,” kata Menkes.

Menkes melihat, angka sebanyak itu menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Ia menegaskan, Undang-Undang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak yang dikandung sampai dilahirkan harus diberikan haknya sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan.

Menkes pun menepis kemungkinan pemberian kondom kepada para remaja yang belum menikah akan memicu seks bebas. Alasannya, jika pemahaman mengenai reproduksi sudah cukup baik, maka tidak perlu ada kekhawatiran idenya ini akan memicu seks bebas.

Astaghfirullah… Ini pendapat yang sangat fatal salahnya. Memangnya Ibu Menteri ini tidak tahu, yang namanya manusia, khususnya remaja, jika sudah mabok dan dilanda hawa nafsu, apa sempat mikirin reproduksi, sehingga tak berani melakukan zina karena takut hamil?

Justru dengan mempermudah mendapatkan kondom, apalagi gratis, itu sama saja dengan menyuruh para remaja, “Anak-anakku, jika kalian ingin aman, tak takut hamil, pakai saja kondom!”
Dan, aneh saja, memangnya para remaja sekarang sulit mendapatkan kondom? Kondom kan dijual di mana-mana, sangat mudah kok mendapatkannya. Lihat saja di mini market, toko-toko, apotik, dan lainnya. Mudah mendapatkannya. Jadi, mau “mempermudah” apanya lagi? Atau mau dibagikan gratis, untuk disuruh berzina?

Jika Ibu Menkes berpendapat bahwa tak usah khawatir idenya jadi mendorong seks bebas dengan cara memberikan pemahaman reproduksi sehingga—mungkin maksudnya—para remaja itu akan berpikir ulang untuk melakukan zina (lantaran takut hamil), ini pendapat yang tak mau melihat realitas akan kondisi sesungguhnya masyarakat, khususnya remaja.

Orang mau berzina yang nafsunya sudah diubun-ubun mana kepikiran akan reproduksi segala.
Dalam konteks ini mestinya Ibu Menkes membuat program untuk penyuluhan khusus para remaja agarmenjauhi zina (seks bebas), menjelaskan akibat-akibat dan efek negatifnya, terutama bagi kesehatan dan masa depan, supaya ke depannya hidup mereka sehat jasmani dan rohani. Jadi, tak hanya sehat fisik, tapi juga sehat secara psikologis dan rohani. Karena, mereka, para remaja itu adalah aset dan calon pemimpin masa mendatang. Jadi, tak hanya sehat fisik, tapi juga sehat secara psikologis dan rohani.

Sekali lagi, bukannya malah didorong untuk menggunakan kondom karena takut hamil. Jika tak hamil, karena pakai kondom, itukah yang diharapkan? Mau pakai kondom atau tidak, sama saja, itu namanya zina. Itu jelas tak sehat. Tak sehat pikiran, jasmani dan rohani. Justru jasmani, rohani dan otak mesum macam ini perlu “disetrum”!

Karenanya, gebrakan Menkes baru ini perlu “digebrak”! Jika Ibu Menkes pola pikirnya seperti ini, siapa sesungguhnya yang tak sehat? Kita masih berharap, para pengelola negeri ini masih waras!

Friday, June 15, 2012

Beda Islam dengan Demokrasi

Bisakah Islam bertemu dengan demokrasi barat?  Apakah mereka sejalan? Atau apakah demokrasibarat mengambil konsep dari Islam? Atau sebaliknya Islam mengambil nilai nilaidemokrasi yang telah berkembang di Yunani? Atau konsep nilai Islam telahberubah karena zaman sudah berubah pula, dan karena saat ini penduduk duniasemakin banyak hingga dibutuhkanlah sebuah sistem yang berguna untukmenyederhanakan dalam sistem pemerintahan, makanya kaum muslim bersediamenerima konsep demokrasi barat sebagai jalan keluar yang modern?

Ada satu pertanyaan yang membuat berfikir berkali kali bagipenulis, kenapa barat (Amerika dan sekutunya) selalu mengirimkan pasukanperangnya bila ada suatu negara menolak sistem demokrasi barat? Dan kenapaamerika dan sekutunya tidak merasa perlu  mengirimkan pasukan senjata perangnya bilasuatu negara muslim sudah mengadopsi sistem demokrasi barat dalampemerintahannya? Apakah demokrasi itu merupakan cara hidup kaum barat? Dan bilaada Negara muslim memakai sistem tersebut , kaum barat sudah merasakan negaramuslim demokrasi tersebut sudah satu millah / din yang sama dengan mereka? Jaditidak perlu berperang?

Beribu ribu pertanyaan yang terngiang.

Berikut disampaikan beberapa analisis pemikir Islam, semogahal hal tersebut terurai sedikit demi sedikit kenapa kita harus selalu memegang harta termahal kita yaitu Islam.
Abul Ala Maududi dalam bukunya Human Right in Islam,terbitan The Islamic Foundation, London, menjelaskan perbedaan mendasar antarkeduanya, Islam dan demokrasi barat. Dan ternyata tidak terdapat irisan dan titiksinggung antar kedua sistem tersebut.

Singkatnya, tidak ada penyandingan yang layak antar kedua sistemtersebut, tidak ada Islam demokrasi.
Demokrasi barat didasarkan atas kedaulatan rakyat . SedangIslam , kedaulatan hanya ada di tangan Allah, dan manusia /masyarakat hanyalahkhalifah khalifah atau wakil wakilnya.

Demokrasi barat , masyarakatlah yang membuat hukum hukummereka sendiri. Sedang Islam, masyarakatnya harus tunduk pada hukum hukum Allah(syariat Allah) yang diberikanNya melalui rasulNya.

Demokrasi barat , pemerintah memenuhi apapun kehendak rakyat.Sedang Islam , pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan, kedua duanyaharus memenuhi kehendak dan tujuan Allah.

Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak yangmenjalankan kekuasaan kekuasaannya dengan cara bebas dan tidak terkontrol .Sedang Islam,  adalah kepatuhan kepadahukum Allah, dan melaksanakan wewenangnya sesuai dengan perintah perintah Allahdan dalam batas batas yang telah digariskan oleh Nya.
Sebagai melengkapi pemahaman demokrasi barat, menurutMuhammad Assad, dalam bukunya Minhaj Al Islam fi al Hukumi, konsep demokrasiasli yang dimiliki oleh bangsa yunani, Negara penemu sistem demokrasi berawal.Bagi bangsa  yunani (kuno), istilahpemerintahan dari rakyat untuk rakyat , yang merupakan inti dari demokrasi,dimaksudkan sebagai suatu pemerintahan oligarchis , suatu pemerintahan yangdipegang oleh elite tertentu yang tidak mencakup seluruh rakyat. Di dalamnegara negara yang pernah ada pada masa mereka, istilah rakyat berarti warga negarasejati yang merupakan penduduk yang dilahirkan secara merdeka yang lazimnya jumlahnya tidak lebih dari seper-sepuluh jumlah penduduk yang ada. Sedangkansisanya  yang Sembilan puluh persen ituterdiri dari budak budak dan hamba sahaya yang tidak diberi kesempatanmelakukan aktifitas apapun selain pekerjaan pekerjaan fisik yang kasar, danmereka , sekalipun tetap diwajibkan berpartisipasi dalam pertahanan negara,sama sekali tidak diberi hak dalam hal kewarga negaraan. Hanya warga negarasejati itu (yang hanya 10%) sajalah yang memegang hak kebebasan aktif maupunpasif, yang dengan demikian seluruh kekuasaan politik berpusat sepenuhnya ditangan mereka.

Sebuah sistem yang katanya menuntut persamaan , hak asasimanusia , tapi nyatanya persamaan dan hak asasi manusia itu semu dan hanyaberlaku bagi warga negara khusus antara mereka saja. Sistem  yang berlaku bila hanya kelompok yang mereka setujuisaja yang memenangi pemilihan umum, dan tidak berlaku bila kelompok Islam yangmemenangi pemilihan rakyat , lihatlah FIS di Aljazair, Lihatlah Hamas dipalestina…Sistem demokrasi adalah sebuah sistem jadi jadian mereka, jebakanpolitik, sistem yang menuruti sekehendak hawa nafsu dan syahwat kelompokborjuis saja, dan tidak berlaku bagi yang mereka anggap sebagai musuh bersama mereka.

Semoga keterangan ini menjadi jelas adanya, dan di saat kehidupanakhir zaman ini, kedua sistem tersebut mengemuka dan menjadi pilihan bagi umat,nah sekarang kembali kepada anda, dalam kedua sistem tersebut, kembali ke andasebagai manusia dan hamba Allah, yang kelak semua hal yang kita lakukan diduniaini akan diminta pertanggung jawaban di akherat kelak, so , mana yang andayakini dan berniat berusaha untuk meninggikannya?

Benarkah Uskup Soegija gigih melawan penjajah?

Film Soegija menjadi propaganda seolah-olah hanya Uskup Soegijopranoto yang gigih berjuang melawan Jepang.

"Film Soegija mengandung misi dan visi bahwa di negeri ini ada uskup yang pernah mengusir tentara Jepang. Padahal, dalam benak publik bisa jadi tidak ada uskup yang benar-benar berjuang," kata Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam (LKSI), Fauzan Al Anshari seperti dirilis situs iToday, Kamis (7/6/2012).

"Film Soegija ini menampilkan pejuang masa lalu. Namun dari sisi validitas kejadian sebenarnya masih perlu dipertanyakan. Belum ada film kisah nyata yang benar-benar valid. Bangsa Indonesia juga harus mengenal sosok Imam Bonjol atau Pengeran Diponegoro," ungkap Fauzan.

Menurut Fauzan, film Soegija harus menjadi cambuk bagi semua pihak untuk membuat film yang lebih otentik, sehingga umat Islam bangga dengan nenek moyangnya yang gigih berjuang melawan Belanda. "Film ini harus memicu sutradara Muslim supaya mengambil sejarah film tokoh-tokoh Islam," tegas Fauzan.

Fauzan menegaskan, film-film tokoh Islam yang berjuang melawan penjajah akan menjadi penyeimbang dari film-film tokoh non Islam. "RA Kartini tidak pernah berperang dengan Belanda. Tetapi RA Kartini justru menjadi idola wanita Indonesia. Ini tidak adil. Cut Nyak Dien yang mengorbankan jiwa dan raga untuk mengusir Belanda, mengapa tidak menjadi idola bagi wanita Indonesia," ungkap Fauzan.

Siapa sesungguhnya Uskup Soegija?

Berdasarkan catatan di Wikipedia, Soegija atau nama lengkapnya Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ adalah seorang uskup yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 November 1896. Nama kecilnya adalah Soegija. Soegija lahir di sebuah keluarga Kejawen yang merupakan abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta.

Sugiyopranoto adalah Vikaris Apostolik Semarang, yang kemudian menjadi Uskup Agung Semarang. Ia juga merupakan Uskup pribumi Indonesia pertama. SJ di belakang namanya menandakan dia anggota ordo Serikat Yesus (Societas Jesu).

Ia meninggal di Steyl, Venlo, Belanda, 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun. Karena ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963, jasadnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.

Belajar di Kolese Xaverius yang didirikan oleh Pastor Franciscus Georgius Josephus van Lith, SJ. Sekolah ini pindahan dari sekolah dari Lampersari dari Semarang. Ketika bersekolah, Soegijapranata dibaptis di Muntilan oleh Pastor Meltens, SJ dengan mengambil nama permandian Albertus Magnus. Dari didikan yang didapat di sinilah kemudian ia berhasrat untuk menjadi 'imam', kemudian ia dikirim ke Belanda belajar di Gymnasium, yang diasuh oleh Ordo Salib Suci/ Ordo Sanctae Crucis (OSC) di Uden, propinsi Noord-Brabant (Brabant Utara), di sana ia belajar bahasa Latin dan Yunani. Rute perjalanan ke Belanda mulai dari Tanjung Priok - Muntok - Belawan - Sabang - Singapore - Colombo - Terusan Suez dan terus ke Amsterdam.

Kemudian masuk Novisiat SJ di Mariendaal, Grave. Di sini ia bertemu dengan Pastor Willekens, SJ, yang kelak menjadi Vikaris Apostolik Batavia. Pada 22 September 1922 Soegija mengucapkan kaul prasetia yang pertama. Rentang waktu 1923-1926 ia belajar Filsafat di Kolese Berchman, Oudenbosch.

Sekitar1926-1928 ia kembali ke Muntilan mengajar di Kolese Xaverius Muntilan. Pada Agustus 1928 Soegija kembali ke Belanda belajar Teologi di Maastricht.

Pada 15 Agustus 1931 menerima Sakramen Imamat, ditahbiskan oleh Mgr. Schrijnen, Uskup Roermond di kota Maastricht. Namanya ditambah Pranata sehingga menjadi Soegijapranata. Tahun 1933 Soegijapranata kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di Paroki Kidulloji, Yogyakarta, selama satu tahun sebagai pastor pembantu. Tahun 1934 ia dipindahkan ke Paroki Bintaran sampai tahun 1940.

Pada 1 Agustus 1940, Mgr. Willekens, SJ, Vikaris Apostolik Batavia, menerima telegram dari Roma yang berbunyi: "from propaganda fide Semarang erected Vicaris stop, Albert Soegijapranata, SJ appointed Vicar Apostolic titular Bishop danaba stop you may concecrete without bulls" dan ditanda tangani oleh Mgr. Montini, yang kelak menjadi Paus Paulus VI. Setelah menerima penyampaian telegram dari Roma melalui Mgr. Willekens, SJ, Vikaris Apostolik Batavia, lalu Soegijapranata pun menjawab: "Thanks to his holiness begs benediction".

Pada 6 November 1940 ia ditahbiskan sebagai Uskup pribumi Indonesia pertama untuk Vikaris Apostolik Semarang oleh Mgr. Willekens, SJ (Vikaris Apostolik Batavia), Mgr. AJE Albers, O.Carm (Vikaris Apostolik Malang) dan Mgr. HM Mekkelholt, SCJ (Vikaris Apostolik Palembang).

Pada tahun 1943, bersama Mgr. Willekens, SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus.

Jadi, dimana perlawanan Soegija terhadap penjajah, baik Belanda maupun Jepang?. Sementara yang dicatat Wikipedia hanya kalimat, "Pada tahun 1943, bersama Mgr. Willekens, SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus."

Bandingkan dengan pahlawan-pahlawan Islam, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim, Jenderal Soedirman, Muhammad Natsir, dan sebagainya yang mereka 'berdarah-darah' dalam berjuang, baik secara fisik maupun diplomatis dalam melawan penjajah.

Aung San Suu Kyi Diam terhadap Penindasan Muslim Myanmar

Teknaf. Muslim Rohingya Myanmar yang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh meminta bantuan pada Aung San Suu Kyi. Mereka meminta Suu Kyi membantu mengakhiri penindasan yang mereka derita selama ini.

Wilayah Bangladesh yang berbatasan 200 kilometer dengan Myanmar adalah rumah bagi sekitar 300 ribu pengungsi Muslim Rohingya. Sepersepuluh dari mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp bantuan PBB.

Seorang pejabat Myanmar mengatakan, kerusuhan antara umat Buddha lokal dan Muslim Rohingya di Rakhine menimbulkan banyak korban. Sekitar 49 orang tewas dan 41 lainnya terluka dalam lima hari kerusuhan antarkelompok tersebut.

“Kami memohon pada PBB, negara-negara asing, pemerintah Myanmar dan terutama Suu Kyi,” ujar Mohammad Islam, pemimpin pengungsi Rohingya di Kamp Nayapara, Teknaf, Bangladesh.

Ia menambahkan, hingga saat ini Suu Kyi tak melakukan atau mengatakan apa-apa untuk kami. Padahal orangtua kami termasuk yang melakukan kampanye untuknya pada pemilu 1990.

“Seperti kebanyakan orang Burma lain, ia juga diam tentang hak-hak Rohingya,” tambah dia.
Dalam kunjungan pertama Suu Kyi ke luar Myanmar, ia menemui ribuan pengungsi Myanmar di perbatasan Thailand. Ia berjanji membantu mereka kembali.

Islam mengatakan, Suu Kyi menyoroti nasib pengungsi Myanmar di Thailand yang kebanyakan orang Karen. Tapi Suu Kyi tak berbicara apa pun yang dapat menimbulkan harapan bagi Rohingya.

“Kami dengar hubungan pemerintah dan Suu Kyi telah diperbaiki. Akan ada reformasi di negara ini, tapi kami tak merasakan perubahan berarti untuk Rohingya,” kata Islam.

Muslim Rohingya telah lama diperlakukan buruk dan dianggap sebagai ‘orang asing’ oleh pemerintah Myanama. Para aktivis mengatakan, hal tersebut memupuk perpecahan dengan umat Buddha di negara bagian Rakhine.(AFP)

Monday, June 4, 2012

Free Download 2008 ASHRAE Handbook—HVAC Systems and Equipment


Table of Contents 2008 ASHRAE Handbook—HVAC Systems and Equipment

AIR-CONDITIONING AND HEATING SYSTEMS
1. HVAC System Analysis and Selection
2. Decentralized Heating and Cooling
3. Central Heating and Cooling Plants
4. Air Handling and Distribution
5. In-Room Terminal Systems
6. Panel Heating and Cooling
7. Combined Heat and Power Systems
8. Applied Heat Pump and Heat Recovery Systems
9. Small Forced-Air Heating and Cooling Systems
10. Steam Systems
11. District Heating and Cooling
12. Hydronic Heating and Cooling
13. Condenser Water Systems
14. Medium- and High-Temperature Water Heating
15. Infrared Radiant Heating
16. Ultraviolet Lamp Systems
17. Combustion Turbine Inlet Cooling


AIR-HANDLING EQUIPMENT AND COMPONENTS
18. Duct Construction
19. Room Air Distribution Equipment
20. Fans
21. Humidifiers
22. Air-Cooling and Dehumidifying Coils
23. Desiccant Dehumidification and Pressure-Drying Equipment
24. Mechanical Dehumidifiers and Related Components
25. Air-to-Air Energy Recovery Equipment
26. Air-Heating Coils
27. Unit Ventilators, Unit Heaters, and Makeup Air Units
28. Air Cleaners for Particulate Contaminants
29. Industrial Gas Cleaning and Air Pollution Control Equipment
HEATING EQUIPMENT AND COMPONENTS
30. Automatic Fuel-Burning Systems
31. Boilers
32. Furnaces
33. Residential In-Space Heating Equipment
34. Chimney, Vent, and Fireplace Systems
35. Hydronic Heat-Distributing Units and Radiators
36. Solar Energy Equipment
COOLING EQUIPMENT AND COMPONENTS
37. Compressors
38. Condensers
39. Cooling Towers
40. Evaporative Air-Cooling Equipment
41. Liquid Coolers
42. Liquid-Chilling Systems
GENERAL COMPONENTS
43. Centrifugal Pumps
44. Motors, Motor Controls, and Variable-Speed Drives
45. Pipes, Tubes, and Fittings
46. Valves
47. Heat Exchangers
PACKAGED, UNITARY, AND SPLIT-SYSTEM EQUIPMENT
48. Unitary Air Conditioners and Heat Pumps
49. Room Air Conditioners and Packaged Terminal Air Conditioners
GENERAL
50. Thermal Storage
51. Codes and Standards

DOWNLOAD

20 Mei Bukan Hari kebangkitan Nasional, Tapi Hari Lahirnya Organisasi Rasis Indonesia!

  • Tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo. Sedangkan para tokoh BO (Boedi Oetomo)  adalah pengikut Theosofi (sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi), anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam.
  • Sistem pendidikan yang dianut dalam BO (Boedi Oetomo) sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.
  • Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka.
  • BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.
  • ·          Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat.
  • ·          “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).
  •  
  • Tanggal 20 Mei Negara Republik Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun sebenarnya penentuan tanggal ini meninggalkan permasalahan yang besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaannya. Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap  dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain :
  •  
    Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah  untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.
     KH Firdaus AN (Mantan Majelis Syuro Syarikat Islam) mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya”. Selain itu dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri”. KH Firdaus AN juga mengatakan “BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.”
    Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.
    Hal yang sama juga dikemukakan oleh peneliti Robert van Niels yang mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja. Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat. ”
    ***
    Para tokoh BO adalah pengikut Theosofi, anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam
    Penggagas organisasi BO, dr Wahidin Soediro Hoesodo adalah anggota Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky. Theosofi-Freemason tidak mempercayai adanya ritual doa kepada Sang Maha Pencipta. Mereka juga tak mempercayai adanya surga dan neraka. Anggota Theosofi yang mengaku muslim, membuat penafsiran ajaran Islam dengan pemahaman yang menyimpang. Theosofi tidak percaya dengan doa, dan tidak melakukan doa. Theosofi mempercayai “doa kemauan” yang ditujukan kepada Bapak di sorga dalam artian esoteris, yaitu Tuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bayangan manusia, atau Tuhan yang menjadi intisari ilahiah yang dimiliki semua agama. Berdoa, kata Blavatsky mengandung dua unsur negatif: Pertama, membunuh sifat percaya diri manusia yang ada dalam diri manusia sendiri. Kedua, mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri. Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat.
    Penghinaan ini yang kemudian memunculkan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad di bawah pimpinan HOS Cokroaminoto dimana salah satu anggotanya adalah KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
    Tokoh utama BO adalah Dokter Soetomo.  Dalam buku “Kenang-kenangan Dokter Soetomo” yang dihimpun oleh Paul W van der Veur, disebutkan bahwa Soetomo pernah mengatakan bahwa pemancaran zat Tuhan, “Itulah sebenarnya keyakinan saya. Itulah keyakinan yang mengalir bersama darah dalam segala urat tubuh saya. Sungguh, sesuai-sesuai benar.” (hal. 30). Soetomo juga mengatakan, “Aku dan Dia satu dalam hakikat, yakni penjelmaan Tuhan. Aku penjelmaan Tuhan yang sadar…” (hal.31). Ini menunjukkan Dokter Soetomo seorang penganut  paham sesat “Manunggaling Kawula Gusti” buatan Syech Siti Jenar. Dokter Soetomo juga seorang penganut Theosofi, sebagaimana pengikut aliran theosofi lainnya, maka dia tidak melakukan shalat lima waktu selayaknya umat Islam lainnya, melainkan melakukan semedi, meditasi, yoga, dan sebagainya. “Soetomo lebih mementingkan “semedi” untuk mendapat ketenangan hidup, ketimbang sholat. Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,”Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri.”
    Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya “Pan-Islamisme”, yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.
    Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, agama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah. Apakah bahasa kita yang indah itu kurang patut, terlalu profan untuk menyampaikan pesan Nabi?”
    Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…” Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”
    Salah satu pimpinan BO yaitu Dr. Radjiman Wediodiningrat dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.” Radjiman yang merupakan ketua BO 1914-1915 adalah anggota Freemasonry dan perhimpunan Theosofi. Beberapa pimpinan BO adalah anggota Freemasonry antara lain : Raden T. Tirtokusumo (Ketua BO pertama), Bupati Karanganyar kemudian  Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam (Ketua BO yang kedua).
    Tokoh yang lain bernama Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”
    Ada fakta lain yang lebih mencengangkan, dalam sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).
    Kenapa bukan tanggal 16 Oktober sebagai Hari Kebangkitan Nasional ?
    Tanggal 16 Oktober 1905 adalah tanggal berdirinya Sarekat Islam. SI merupakan kawah candradimuka berbagai pemikir Indonesia kelas dunia. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno sampai dengan Tan Malaka, Muso dan Semaun. Tokoh-tokoh ini memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Hal ini terlihat pada susunan para pemimpinnya, Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda. SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang. Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia.

     Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini. Pelurusan sejarah mengenai kebangkitan Indonesia nampaknya perlu dilakukan, sangat disayangkan kalau peran umat terbesar di negeri ini dihilangkan begitu saja. (Dikumpulkan dari berbagai sumber).
     

AS Siap Kirim Pasukan Untuk Memerdekakan Papua dari Indonesia

Asing akan tetap melibatkan diri dengan urusan Papua. Itulah yang menjadi perhatian Hariyadi Wirawan ketika diwawancarai itoday.

“Asing terlibat karena persoalan Papua tidak pernah selesai,” tutur pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia ini.

Menurutnya, apa yang terjadi di Papua sekarang, jelas mengikuti skenario kemerdekaan Kosovo, yang berhasil memerdekakan dirinya dengan bantuan lembaga internasional. Hal ini terlihat dengan didaftarkannya kemerdekaan Papua Barat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa waktu lalu.

“Jika asing melihat masalah Papua sebagai sebuah isu internasional yang hangat, dan menganggap Indonesia tidak peduli. Maka kesempatan Papua untuk merdeka akan semakin besar,” jelasnya.

Hariyadi mengingatkan, keberadaan AS di Darwin, Australia, walau sebenarnya adalah untuk membendung Cina, tetapi jika masalah Papua semakin memanas, dan memperoleh pengakuan lembaga internasional sebagai sebuah negara merdeka, maka pangkalan AS di Darwin akan menjadi pangkalan yang bersifat multifungsi.

“AS akan mengerahkan pasukannya di Darwin guna melindungi Papua, jika Indonesia nantinya menolak kemerdekaan Papua yang disahkan PBB secara sepihak,” kata Hariyadi.

Apa yang dikatakan Hariyadi mengenai ancaman pangkalan AS di Darwin memang tidak bisa dianggap enteng. Sebab posisi Darwin sangat untuk mendukung posisi AS di ASEAN dan Laut Cina Selatan, atas Cina dan Rusia.

Tidak hanya itu, posisi Darwin juga memudahkan AS untuk mengirimkan pasukannya dengan menggunakan kapal selam dan kapal induk, ke berbagai belahan dunia, khususnya Asia Pasifik.

Bagi Hariyadi, alasan mengapa masalah Papua tidak pernah selesai, karena pemerintah selalu menggunakan cara represif dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Sedangkan cara pendekatan lainnya kurang maksimal, sebab tim yang dibentuk selalu saja tidak bekerja dengan semestinya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More