Tuesday, August 21, 2012

Penentang Dakwah Islam di Ranah Minang

Setelah Kekalahan kaum agama Dalam perang Paderi, maka Belanda mulai melakukan politik belah bambu. Orang-orang yang memiliki kecenderungan kepada agama, atau keturunan dari pahlawan perang paderi tidak lagi diberi kesempatan untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat. bahkan orang-orang yang taat ini di singkirkan dari perikehidupan masyarakat minang. yang di angkat sebagai pemangku adat atau datuk di negeri ini adalah orang-orang yang secara nyata membenci para ulama paderi dan Islam. Belanda berusaha menguburkan faham-faham Radikal yang akan merongrong kekuasaan mereka di ranah minang dengan mengangkat para penjilat dan kaum adat yang membenci Islam.

Salah seorang penentang yang paling keras terhadap gerakan kaum muda yaitu Datuk Sutan Maharaja. Beliau ini terkenal sebagai seorang yang membenci islam, dan ayahnya ketika menjadi laras pernah melarang orang berpuasa ramadhan. Iapun merupakan turunan dari keluarga yang sangat menentang islam sebagai lanjutan atau kebangkitan kembali gerakan Paderi. Apalagi syaikh Ahmad Khatib memang merupakan turunan seorang hakim Paderi.

Berkata datuk ini :
”Awas, jangan biarkan masa Paderi kembali. Kita orang Minangkabau harus berjaga-jaga agar kemerdekaan kita jangan hilang dengan tunduk kepada orang-orang Mekkah. Negeri indah Minangkabau dengan wanitanya yang cantik memang merupakan surga dibandingkan dengan negeri Arab yang panas tandus dimana jenis lemah dan memang kurang diberkati alam memang perlu memakai cadar.”

Oleh sebab itu Datuk Maharaja bekerja sama dengan kaum bangsawan di Padang untuk melawan kaum pembaharu, datuk tersebut kehilangan alasan perlawanannya dalam hal waris tadi. Faktor-faktor lain yang turut memperlemah kedudukan datuk. Pertama pada masa paderi sebenarnya telah terdapat kesepakatan antara ulama dan kaum adat mengenai bukan saja tentang harta warisan, tetapi juga tentang kedudukan masing-masing dalam masyarakat pada umumnya. Kesepakatan yang diakui tidak akan diubah sampai kiamat(Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Hal 236)

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More