Sunday, August 12, 2012

Dibalik 'Kebenaran' Politik Pencitraan ala Jokowi

Meski terbilang sukses dalam membangun politik pencitraan, namun tak banyak yang terekspos mengenai 'dunia' lain dari sosok Jokowi. Jokowi sempat melejit di berbagai media lewat mobil SMK nya yang meskipun sudah diruwat namun akhirnya tetap gagal uji kelayakan. Padahal sejatinya mereka hanya melakukan proses asembling (perakitan) semata yang sebenarnya bisa dilakukan oleh anak SMP sekalipun.

Daftar kegagalan Jokowi sebenarnya cukup panjang selama tiga tahun Jokowi memimpin solo berpasangan dengan FX Hadi Rudiatmo, bahkan angka kemiskinan justru cenderung meningkat setiap tahun. Selama periode 2009-2011 angka kemiskinan di solo berdasarkan laporan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPD) meningkat sampai 30%.

Berdasarkan data yang dipaparkan TKPD , pada tahun 2009 jumlah warga miskin solo hanya sebanyak 107.000 jiwa. Lalu angka meningkat pada 2010 menjadi 125.000 . kemudian pada 2011 meningkat menjadi 130.000. Dalam situs tersebut juga diungkapkan tentang motif dibalik perseteruan antara jokowi dengan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo yang sempet muncul dipermukaan beberapa waktu yang lalu yang sesungguhnya berlatar belakang persaingan bisnis.

Visi Jokowi untuk menjadikan Solo sebagai World Heritage City tak ubahnya politik mercusuar belaka. Karena faktanya banyak proyek yang tak terealisasi bahkan banyak bangunan heritage yang berubah menjadi lahan bisnis. Serta banyak kebijakan yang lebih beraroma untuk kepentingan bisnis kelompoknya semata. Seperti misalnya pengelola Solo Paragon, Solo Grand Mall, Solo Square, mengadu ke Jokowi karena merasa terancam dengan rencana pembangunan mall yang didukung Bibit Waluyo. Namun wacana yang berkembang Jokowi berani melawan Bibit Waluyo untuk melindungi para pedagang kecil.

Banyak kebijakan Jokowi yang dinilai masih “jauh panggang dari api” tetapi sudah terlanjur diklaim sebagai sebuah kesuksesan seperti misalnya pencanangan ekonomi kerakyatan tetapi yang terjadi dilapangan justru sebaliknya. Contoh teraktual banyak pasar ritel yang kini telah dikuasai oleh para pemilik modal dan pedagang besar. Sehingga keberadaan pasar tradisional menurut Sudarmono, dosen UNS kini tinggal menunggu waktu. Dengan kata lain pemberdayaan ekonomi rakyat miskin terbilang gagal.

Ada hal yang sangat ironis menyikapi keberhasilan Jokowi dalam bursa Pemilukada DKI Jakarta, Jokowi yang pernah memperoleh Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) kini justru was-was karena merasa sedang terancam dibidik KPK karena kepemilikan Restoran Omah Sinten. Sementara pasangannya Wawali FX. Hadi Rudiatmo terancam diperiksa KPK terkait dana hibah untuk klub sepak bola Persis Solo.

Yang tak kalah mengejutkan dan merupakan referensi buruk bagi masyarakat jakarta adalah track record Jokowi dalam mengelola sampah di Solo. Ternyata selama memimpin Solo Jokowi tidak memiliki grand design untuk mengelola sampah di Solo yang volumenya cenderung terus meningkat. Sampah yang dimiliki warga solo hanya dikumpulkan dan dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.

Sehingga air limbah (Lindi) yang dihasilkan menimbulkan bau yang menyengat bagi masyarakat sekitar tanpa adannya kompensasi. Ini adalah referensi yang sangat berbahaya mengingat produksi sampah di DKI Jakarta sudah mencapati 7000 ton perhari. Persoalan sampah merupakan persoalan krusial yang menjadi persyaratan mutlak siapapun yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Yang tak kalah menyedihkan visi Jokowi untuk menjadikan Solo sebagai Green City ternyata juga dinilai gagal. Banyak sekali taman-taman di Solo yang tak terawat padahal alokasi dana untuk pembangunan taman tersebut telah menguras kantong APBD cukup dalam. Ruang taman Hijau dibangun  dimana mana tetapi cenderung tak terawat. Kondisi ini tak urung membuat kalangan DPRD gusar dan menganggap proyek tamanisasi gagal total. Tidak hanya itu, tuduhan terhadap Jokowi melakukan kebohongan publik dengan strategi pencitraan untuk membuai warga JakartA juga diungkap.


Jokowi banyak mengundang simapti dengan selalu mengatakan selama menjalankan tugas, dirinya tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang sifatnya penghargaan atau apapun bentuknya. “saya hanya ingin terus bekerja melayani masyarakat. Kalau masyarakat menilai baik, silahkan. Kalau masyarakat menilai buruk, silahkan. Yang penting saya bekerja,”. Kata Jokowi kepada wartawan, pada rabu 20 Juni 2012 lalu terkait namanya yang masuk dalam nominasi 25 walikota terbaik dunia versi City Mayors Foundation.

Jokowi, seakan akan sudah terpilih menjadi walikota terbaik. Padahal, penetapan walikota masih berproses dan berlangsung hingga Oktober 2012. Artinya hingga saat ini belum ada penetapan walikota terbaik. Jokowi juga berupaya, seakan akan dirinya tidak mendaftar pada pemilihan walikota terbaik itu. Padahal situs http://www.worldmayor.com/contes_2012 menjelaskan, keikutsertaan sebagai kandidiat harus melewati proses pendaftaran dengan syarat yang ditentukan oleh organisasi itu. 

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More