Friday, August 17, 2012

Kenangan Ariel pada Abu Bakar Ba'asyir terlukis dalam Puisinya di Buku "Kisah Lainnya"

Sosok ustadz Abu Bakar Ba’asyir memang dikenal sebagai ulama kharismatik yang teguh memperjuangkan Islam. Sikap istiqomah dan zuhud yang terpancar dari ustadz Abu Bakar Ba’asyir diakui oleh orang-orang yang pernah bersama beliau di dalam penjara.
 

Misbakhun yang pernah satu sel dengan ustadz Ba’asyir, pernah mengungkapkan kekagumannya. "Beliau seorang muslim yang kaffa. Saya mencium aroma surga bersama beliau," tuturnya.


Hal senada ternyata juga diungkapkan Ariel. Sebelum menjalani masa hukuman di rutan Pondok Waru Bandung, Ariel sebelumnya menjalani masa tahanan di Rutan Baresekrim Mabes Polri, JL. Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di tempat ini, Ariel bertemu dengan banyak orang, termasuk Misbakhun (yang oleh Ariel hanya dipanggil pak Mis) hingga ustadz Abu Bakar Ba'asyir.


Ariel mengenal ustadz Ba’asyir yang sedang menjalani vonis zalim karena dituduh terlibat kasus terorisme lewat pak Mis. Ustadz Ba’asyir hanya mengenal nama Ariel namun ia tidak pernah bertemu wajah. "Oh ini toh Ariel? Saya hanya tahu namanya saja," kata ustadz Abu Bakar Ba'asyir dalam buku "Kisah Lainnya" Catatan 2010-2012, Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David.


Ustadz Abu Bakar Ba'asyir pun sempat beberapa kali memberi wejangan untuk Ariel. Salah satu yang paling dingat Ariel adalah "Jangan berkecil hati. Manusia diciptakan di dunia ini memang untuk dibikin kesalahan, lalu memperbaiki diri. Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan Tuhan, karena tidak ada lagi tujuan kehidupan." Kata-kata tersebut sangat tersimpan di kepala Ariel.


Jika ingin menilai secara obyektif, dari kisah di atas sebenarnya terungkap begitu santunnya ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam mendakwahi siapa pun, jauh dari kesan sebagai gembong ‘teroris’ sebagaimana distigmakan selama ini.


Suatu hari sekitar pukul 05.00, Ariel duduk sendirian di Kampung Atas (sebutan untuk Rutan Bareskrim).  Ariel yang susah tidur melihat Ompung tua, tahanan lainnya, keluar dari selnya untuk melakukan senam pagi.


Tak lama kemudian ustadz Abu Bakar Ba'asyir keluar dari selnya menggunakan celana panjang. Ia juga memulai aktivitasnya dengan berlari-lari kecil, bolak balik sepanjang koridor sel.


Ariel pun membuat puisi khusus untuk ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang melukiskan kekagumannya kepada beliau.


Ba'asyir tua, berlari kecil di gang yang bergema

Larut dalam dunianya sendiri

Dia tidak menolerensi dunia

Sehingga dunia tidak menolerensinya

Keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras

Hitam putih, tapi tidak abu-abu

Keras memang ...

Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More