Friday, August 17, 2012

PM Erdogan, Modernis Turki yang Berjuang Mengganti Sekulerisme dengan Nilai-Nilai Islam

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, saat ini Recep Tayyip Erdogan adalah salah satu Perdana Menteri Turki yang paling sukses. Erdogan lahir pada tanggal 26 Februari 1954 di Rize, sebuah kota kecil di pantai Laut Hitam Turki. Anak dari lima bersaudara ini dulunya hanya hidup dari pendapatan sang ayah yang merupakan seorang penjaga pantai di Angkatan laut, di samping sebagai politisi Muslim.

Ketika Erdogan berusia 13 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Istanbul demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Erdogan kemudian masuk ke sebuah sekolah Islam. Lulus dari sana, ia melanjutkan studinya tentang manajemen bisnis di Istanbul Marmara University. Ketika masih aktif menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan gerakan politik yang berkembang di Negara Islam tersebut.

Bekal ketika menjadi aktivis kemahasiswaan itulah yang kemudian membantu perjalanan karirnya. Pada tahun 1994, ia mulai aktif dalam dunia politik dengan mengikuti pemilihan Walikota Istanbul, kota terbesar di Turki. Berkat kemampuannya dalam berpidato dan strategi-strategi kampanyenya, ia berhasil menduduki kursi Walikota Istanbul dengan dukungan sebagian besar warga ibukota Turki tersebut.

Pada bulan Januari 1998, pengadilan tertinggi Turki menutup partai yang ia pimpin dan melarang anggotanya untuk melakukan kegiatan politik. Ia kemudian ditahan karena dianggap berusaha untuk melemahkan dasar-dasar sekularisme negara tersebut.

Ia menjabat Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003. Ia juga seorang pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia.

Erdogan terpilih Sebagai Walikota Istanbul dalam pemilu lokal pada 27 Maret 1994. Dia dipenjara pada 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah.Ia menentang paham sekular di negaranya. Ia ingin mengembalikan Islam sebagai satu-satunya sistem dalam seluruh aspek kehidupan.

Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) pada tanggal 14 Agustus 2001. Dari tahun pertama, Partai AK menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki. Pada pemilihan umum tahun 2002, Partai AK memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun. Namun, karena masih dalam masa hukuman, Erdogan tidak bisa menjadi perdana menteri saat itu; sehingga Abdullah Gul, kemudian diangkat menjadi perdana menteri.

Pada bulan Desember 2002, Dewan Pemilihan Agung membatalkan hasil pemilihan umum 2001 karena disinyalir terjadi ketidakberesan pemilihan.Pemilihan baru dijadwalkan pada 9 Februari 2003. Di pemilu ulangan inilah ia kemudian kembali unggul. Erdogan pun diangkat menjadi perdana menteri.Walau berada di tengah masyarakat dan negara Turki yang sekuler, Erdogan dan partainya tetap ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam yang redup di negara yang pernah berdiri Kekhalifahan Islam terakhir ini.

Pada tanggal 4 Juli 1978, Erdogan menikah dengan seorang Muslimah bernama Ermine Gulbaran. Sang istri lahir pada tahun 1955 di Siirt. Dari pernikahan ini, Erdogan menjadi seorang ayah dari empat anak: Ahmad Burak, Necmettin (Najmuddin) Bilal, Sumayyah, dan Isra.

Setelah tamat di sekolah dasar dan menengah Islam, Erdogan melanjutkan kuliah di Universitas Marmara, fakultas ekonomi dan bisnis. Selain mengikuti pendidikan, pada usia 16 tahun, Erdogan muda ikut tergabung dalam tim sepak bola semi profesional. Selain itu, ia juga bekerja di perusahaan angkutan kota Istanbul.
Pada tahun 1980, Erdogan meninggalkan sepak bola dan bekerja di sektor swasta. Dua tahun kemudian, Erdogan terkena wajib militer dan sempat menjadi perwira dengan tugas khusus.

Ada peristiwa miris di tahun 1980. Saat itu, terjadi kudeta militer di Turki yang akhirnya mengeluarkan kebijakan pelarangan semua partai politik. Tiga tahun kemudian, akhirnya kebijakan tersebut mengalami pemulihan dengan membolehkan kembali partai-partai politik.

Sebelum pelarangan partai, Erdogan sudah bergabung dengan Partai Keselamatan Nasional yang Islamis pimpinan Najmuddin Erbakan yang dibubarkan militer. Ketika partai sudah diperbolehkan lagi di Turki, para mantan pengurus partai pimpinan Erbakan mendirikan partai baru yang bernama partai Refah atau Partai Kesejahteraan. Dua tahun kemudian, atau tahun 1985, Erdogan menjadi ketua partai tersebut untuk Provinsi Istanbul.

Pada pemilu 1991, Partai Kesejahteraan melampaui ambang 10 persen yang menjadi syarat memperoleh kursi di Dewan Nasional Agung. Dan saat itu, Erdogan terpilih menjadi anggota dewan mewakili provinsi Istanbul. Sayangnya, Komisi Pemilihan Pusat mencabut posisi Erdogan karena dianggap telah menyalahi sistem pemilu yang berlaku.

Tiga tahun kemudian, pada pemilu lokal yang diselenggarakan pada 27 Maret 1994, Partai Kesejahteraan memperoleh suara terbanyak untuk pertama kalinya di wilayah Istanbul. Dari kemenangan itu, Erdogan resmi menjadi wali kota Istanbul Raya serta Presiden dari Dewan Metropolitan Istanbul Raya.

Kepiawaian Erdogan dalam memimpin Istanbul menjadi bukti bahwa ia memang sanggup dan layak menjadi pemimpin umat. Ia berhasil membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pengadaan air bersih, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.

Dalam aspek moral, Erdogan pun tidak mau tinggal diam. Erdogan melarang segala praktik prostitusi dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada para wanita muda. Ia juga melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol walikota.

Selain soal pelacuran dan minuman keras, kasus korupsi juga tidak luput dari pembenahan. Sebelumnya, anggaran belanja Istanbul selalu minus. Dengan pembenahan yang dilakukan Erdogan, anggaran belanja menjadi plus, suatu hal yang belum pernah terjadi di pemerintahan daerah Istanbul. Ini semakin meningkatkan citra partai Rafah (kesejahteraan) di mata masyarakat.

Keistiqamahan Erdogan membuat para sekuleris di Turki gelisah. Dan saat itu, Erdogan memang menyatakan perjuangan demi Islamnya secara terang-terangan. Padahal, Turki memang masih menganut ideologi sekuler seperti Indonesia sampai sekarang.

Pernyataan Erdogan yang mengejutkan kaum sekuleris adalah, “Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya.” Kontan saja, para kaum sekuler memberikan peringatan kepada lembaga tinggi negara tentang ancaman yang bisa merongrong wibawa ideologi sekuler di Turki. “Kita harus melawan Erdogan. Karena ini ancaman serius untuk ideologi kita yang sudah dibangun oleh pendiri negara ini!”
Tahun 1998, Erdogan akhirnya dipenjara. Pengadilan memutuskan penjara 9 bulan untuk Erdogan. Ia dianggap mengkhianati asas Sekularisme negara. Dalam waktu yang sama, justru Erdogan mendapat simpati dari rakyat banyak karena karakternya yang berani menegakkan kebenaran. Selama ini, masyarakat Turki memang sudah muak dengan moto ideologi sekuler yang hanya berisi kebobrokan para rezim di Turki yang korup.

Dalam suatu jajak pendapat, Erdogan justru terpilih sebagai walikota terfavorit dari 200 walikota di Turki. Erdogan tidak kehilangan semangat dengan penangkapannya ini. Ia justru menggubah sebuah puisi karangan Ziya Gokalp, yang menambah semangat para pendukungnya, yang sebagian besar adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Turki.

Berikut puisinya (terjemahan bebas), Bahasa Turki:
Minareler süngü, kubbeler miğfer Camiler kışlamız, mü’minler asker Bu iláhi ordu dinimi bekler Allahu Ekber, Allahu Ekber.

Bahasa Indonesia:
Masjid adalah barak kami, Kubah adalah helm kami, Menara adalah bayonet kami, Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini menjaga ad-Din kami. Perjalanan suci kami adalah takdir kami. Akhir tujuan perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setelah Partai Rafah dibubarkan oleh dewan nasional karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara sekuler Turki, pada Agustus 2001, Erdogan mendeklarasikan partai baru yang bernama Partai Keadilan Pembangunan (AKP: Adalet ve Kalkinma Partisi, yang artinya putih, bersih, dan murni). Meski tidak secara tegas mencantumkan asas Islam karena hal itu memang dilarang, orang-orang AKP sudah dikenal masyarakat Turki sebagai penerus perjuangan Erbakan.

Meski baru berusia 12 bulan, pada pemilu 3 November 2002, AKP secara fantastis meraih 34,1 persen suara. Perolehan ini menjadikan AKP sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan partai-partai nasionalis dan sekuler.

Karena masih berstatus terpidana, Erdogan tidak boleh menjabat sebagai perdana menteri. Dan jabatan itu dipegang oleh wakil ketua AKP, Abdullah Gul. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret 2003, setelah kasus tuduhan terhadap Erdogan dianggap selesai dan disetujui parlemen, Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri menggantikan Abdullah Gul.

Salah satu kebijakan Erdogan yang dianggap mengkhianati ideologi sekuler Turki adalah pencabutan larangan memakai jilbab. Padahal, sejak pendirian negara Turki sekuler oleh Mustafa Kemal Ataturk, jilbab sudah tidak lagi diperbolehkan berada dalam dinamika pemerintahan dan masyarakat Turki.

Karena pelarangan jilbab itulah, Erdogan terpaksa menyekolahkan anak-anak gadisnya ke Amerika dan Eropa yang memang membolehkan siswi berjilbab. Hal ini karena demi menjaga jilbab agar tidak lepas dari busana anak-anak wanitanya.

Fenomena inilah yang diperjuangkan Erdogan di Turki. Menurutnya kepada publik Turki, bagaimana mungkin Eropa dan Amerika yang jauh lebih sekuler dari Turki masih membolehkan siswi untuk mengenakan jilbab. Sementara Turki malah melarang. Erdogan pun akhirnya mengangkat logika ini untuk menyerang para anti Islam yang berlindung di balik topeng ideologi sekuler.

Akhirnya, pada pemilu 2007, partai yang dipimpin Erdogan mendapatkan suara yang sangat luar biasa, 46, 7 persen. Suatu perolehan yang belum pernah terjadi di pemilu Turki secara demokratis. Angka ini menjadikan AKP memperoleh 340 kursi dari 550 kursi parlemen.

Dalam kemenangan itulah, Erdogan dan partainya mengajukan proposal RUU Paket Demokrasi. Yang di antaranya, undang-undang yang membolehkan jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah.
Keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina, membuatnya secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melakukan lobi demi mendukung perjuangan Palestina. Dalam diskusi internasional ‘World Economic Forum’ di Davos, Swiss, yang dihadiri Presiden Israel Shimon Peres, Sekjen PBB Ban Ki-Moon, dan Amir Moussa, Erdogan yang duduk di samping Presiden Israel Shimon Peres menyatakan, “Israel adalah negara yang lebih daripada sekadar biadab.” Ia menatap tajam mata Presiden Israel Shimon Peres yang seolah cuek saja dengan Erdogan. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum.

Walau masih tidak terang-terangan menyatakan menegakkan syariat Islam di Turki, Erdogan dan partainya sudah berhasil meyakinkan masyarakat Turki yang sudah sekian puluh tahun terkungkung dalam topeng sukuler Turki kepada pembangunan nilai-nilai Islam yang universal.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More