Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Thursday, November 29, 2012

Sejarah Dilengserkannya Gus Dur dari Istana

Siapapun tahu, kalau Gus Dur sosok humoris. Salah satu humornya yang paling diingat adalah humor tentang presiden. Coba simak petikan humornya yang konon terjadi kala bertemu dengan Fidel Castro. Saat itu Castro menyatakan kekagumannya pada Indonesia dan menyatakannya sebagai bangsa yang besar.

Gus Dur seperti biasanya menanggapi pujian Castro dengan humornya, berikut:“Ya iyalah. Itu kan karena presiden Indonesia pada gila semua. Soekarno, presiden gila wanita. Soeharto, presiden gila harta. Habibie, presiden yang benar-benar gila ilmu dan teknologi. Nah, saya sendiri presiden yang benar-benar gila yang dipilih oleh orang-orang gila.”

Jadi, Gus Dur sendiri mengakui dirinya gila yang dipilih oleh orang-orang gila. Seperti diketahui, tahun 2000 muncul kasus bulogate dan brunaigate. Kemudian skandal pencopotan mentri, darurat militer Maluku semakin memburuk, Amien Rais yang semula mendukung kini jadi pihak oposisi.

Pada bulan Maret 2001, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan di dalam kabinetnya sendiri. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra ketika itu dicopot dari kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur.

Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001.

Pada akhirnya roda kepemimpinan tidak mampu tertahan lagi untuk berputar. Sekali lagi kekuasaan seorang presiden harus digulingkan secara tidak hormat. Gus Dur pada akhirnya merasakan kejamnya dunia politik serta pahitnya rasa pil yang harus ditelan mentah-mentah.

Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Saat itulah rakyat Indonesia melambai tangan seraya berkata: “Sayonara Gus Dur.”

Detik-detik Kejatuhan Gus Dur

Kisah menegangkan menjelang kejatuhan Gus Dur dari kursi Presiden RI pada 23 Juli 2001 memang kerap dibahas sebagai bagian dari sejarah penting perpolitikan Indonesia. Kekuasaan Gus Dur dihentikan oleh MPR melalui Sidang Istimewa dalam situasi gejolak politik yang cukup panas dan genting. Para pendukung Gus Dur melakukan unjuk rasa besar-besaran di depan Istana. Polisi dan tentara juga berjaga-jaga.

Bahkan, rumah Wakil Presiden Megawati yang dipastikan bakal menggantikan Gus Dur sebagai orang nomor satu RI juga dijaga ketat tentara. Di sana, dua panser juga siap siaga. Suasana di kediaman Mega benar-benar siaga I.

Dari berbagai sumber, termasuk dari buku Gus Dur, Politik dan Militer, terungkap bagaimana panasnya suhu politik saat itu. Berikut ini detik-detik peristiwa menegangkan dibalik kejatuhan Presiden Wahid.

Pada 22 Juli 2001, Minggu malam, para kyai NU, kelompok LSM dan simpatisan mendatangi Istana guna memberikan dukungan pada Gus Dur. Massa pendukung Gus Dur dari berbagai daerah melakukan aksi di Monas dan depan Istana Merdeka Jakarta.

Esoknya, 23 Juli 2001, pukul 01.10 WIB: Gus Dur mengeluarkan dekrit Presiden yang berisi pembubaran parlemen (DPR dan MPR) dan pembekuan partai Golkar, serta mempercepat pemilu. Dekrit ini molor tiga jam dari rencana semula yang akan diumumkan pada 22 Juli, pukul 22.00 WIB.

Pukul 01.30 WIB, MPR menggelar rapat pimpinan yang diketuai oleh Amien Rais. Sesuai menggelar rapat, Ketua MPR menggelar jumpa pers didampingi wakil Ketua Ginanjar Kartasasmita, Hari Sabarno dan Matori Abdul Djalil. Amien meminta TNI mengamankan Sidang Istimewa MPR.

Kemudian pukul 08.30 WIB, MPR menggelar sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban Presiden Abdurrahman Wahid. SI MPR diawali dengan pandangan fraksi-fraksi. Sidang digelar setelah 592 dari 601 anggota MPR dalam sidang sebelumnya menyatakan persetujuannya.

Pukul 12.45 WIB, Alwi Shihab menemui Gus Dur. Presiden menyatakan dirinya dizalimi secara politik oleh orang Senayan. "Gus Dur akan bertahan di Istana," kata Alwi.

Pukul 16.53 WIB, MPR memberhentikan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI dan mengangkat Megawati sebagai Presiden. Mobil RI II seketika diganti RI I.

Selanjutnya Megawati dilantik oleh MPR dan mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden baru hingga 2004 yang menggantikan posisi Abdurrahman Wahid.

Pada malam harinya, pukul 20.50 WIB, Gus Dur keluar menuju beranda Istana Merdeka dengan mengenakan celana pendek, kaos dan sandal jepit. Dituntun putrinya Yenni serta dan mantan asisten pribadi Zastrouw, Gus Dur melambaikan tangan pada para pendukungnya yang histeris di depan Istana. Singkat cerita, Presiden RI ke 4 Alm. Abdurrahman Wahid: ”Digulingkan dengan paksa” dari jabatannya oleh keputusan Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, yang membuatnya terdepak dari Istana sebelum akhir masa jabatannya. Presiden Abdurrahan Wahid (Gus Dur) menduduki kursi kepresidenan hanya 2 tahun 9 bulan

Fanatisme Sempit Warga NU terhadap Gus Dur

Begitu marahnya para pendukung mendiang Gus Dur di berbagai daerah ketika Tokoh Partai Demokrat Sutan Bhatoegana menuding lengsernya Gus Dur akibat kasus korupsi Bruneigate dan Buloggate. Lalu apa sesungguhnya yang menyebabkan lengsernya Gus Dur dari tampuk kekuasaan?

Greg Barton pernah mengatakan Gus Dur adalah  salah seorang pemikir Islam liberal di Indonesia, meskipun ia tidak pernah secara formal mengenyam pendidikan tinggi sekuler, seperti Nurcholish Madjid, dkk. Bahkan Fachri Ali berpendapat bahwa dalam batas-batas tertentu, Gus Dur adalah agamawan dan pemikir yang paling liberal di Indonesia, dan belum tertandingi oleh Nurcholish Madjid.

Betapa buruknya hubungan Gus Dur dengan kaum muslimin. Dalam banyak hal, pemikiran dan statemen Gus Dur kerap menyakiti dan merugikan umat Islam Indonesia. Inilah fakta sejarah yang akan selalu segar dalam ingatan umat Islam Indonesia atas dosa-dosa Gus Dur selama hidupnya :
  1. Mengatakan al-Qur’an sebagai kitab paling porno di dunia
  2. Memperjuangkan pluralisme
  3. Mengakui semua agama benar
  4. Menjalin kerjasama dengan Israel
  5. Mendukung gerakan kristenisasi
  6. Membela Ahmadiyah
  7. Ingin mengganti ucapan assalamu alaikum dengan selamat pagi.
  8. Tidak bersimpati terhadap korban Muslim pada konflik Ambon.
  9. Di dalam RUU Sisdiknas, Gusdur lebih membela aspirasi kaum kafirin untuk mentiadakan / mencabut pasal memasukkan pelajaran agama di sekolah-sekolah, dan justru menentang aspirasi kaum Muslim agar pasal pelajaran agama di sekolah-sekolah dimasukkan di dalam UU Sisdiknas. Di dalam hal ini, kaum Kristen menuntut supaya pasal pendidikan agama dicabut dari system Sisdiknas, karena dengan demikian supaya kaum Kristen semakin mudah mengkafirkan generasi Muslim di Indonesia.
  10. Menginginkan Indonesia menjadi sekuler.
  11. Di dalam RUU Pornografi, kembali Gusdur lebih membela aspirasi kaum kafirin agar DPR tidak mensahkan RUU Anti Pornografi menjadi undang-undang, dan justru menentang aspirasi kaum Muslim supaya Indonesia / DPR mensahkan UU Anti Pornografi demi menjaga moral bangsa. Pada moment inilah gusdur menyatakan bahwa Alquran adalah kitab paling porno se-Dunia!
  12. Gusdur ikut bersama kaum kafirin merangsek untuk menuntut Pemerintah mencabut pasal penodaan agama. Padahal pasal itu amat sentral demi terjaminnya kerukunan umat beragama. Yang dibidik Gusdur adalah kaum Muslim, supaya kaum Muslim tidak berkutik ketika agamanya dihina.
  13. Gusdur ikut bersama kaum kafirin merangsek untuk menuntut Pemerintah mencabut pasal pendirian rumah ibadah melalui Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Padahal pasal itu amat sentral demi terjaminnya kerukunan umat beragama. Yang dibidik Gusdur adalah kaum Muslim, supaya kaum Muslim tidak berkutik ketika kaum kafirin membangun Gereja di mana-mana.
  14. Gus Dur penah Dibaptis.
  15. Menyerukan supaya MUI (Majelis Ulama Indonesia) dibubarkan.
  16. Merestui dan membela Inul dengan goyang ngebornya, padahal semua Ulama sudah mengutuknya.
Ada yang ingin menambahkan dosa-dosa apa yang dilakukan Gus Dur terhadap umat Islam? Biarlah Gus Dur "beristirahat" dengan tenang di alam barzah dengan menanggung dosa-dosanya.  Tinta sejarah tak bisa terhapuskan begitu saja. Semakin banyak kita bicara soal mendiang Gus Dur, maka sama saja membuka aibnya sendiri di hadapan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam.

Tuesday, November 27, 2012

Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto: Pemerintah Fitnah Ustadz Ba'asyir

Tadrib ‘Asykari atau pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh tahun 2012 silam yang dilakukan para mujahidin sebagai persiapan (i’dad) untuk berjihad ke Palestina dianggap sebagai aksi terorisme.

Mereka yang terlibat dalam pelatihan tersebut diburu, ditangkapi bahkan ditembak mati oleh Densus 88.

Hal itu juga ternyata dialami ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Ia ditangkap pada Senin pagi (9/8/2010) di Banjar Patroman, Ciamis, Jawa barat usai kegiatan safari dakwah.

Menurut Polri Ustadz Ba’asyir ditangkap karena merestui dan mendanai pelatihan militer di Aceh, seperti disampaikan Kadiv. Humas Irjen Pol Edward Aritonang waktu itu. Hal itu kemudian dibantah oleh ustadz Abu Bakar Ba’asyir di persidangan.

Namun setelah menjalani persidangan di PN Jakarta Selatan, tetap saja ustadz Abu Bakar Ba’asyir divonis zalim dengan 15 tahun penjara dan kini menjalani masa tahanan di LP Batu Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto mengungkapkan bahwa seharusnya pemerintah mengajak dialog ustadz Ba’asyir bukan langsung menuduh dan memvonis.

“Kalau tidak diadakan diskusi, musyawarah, pembicaraan kemudian langsung dituduh, divonis itu tidak bisa, itu namanya fitnah. Adakanlah dialog, apa sih keinginan ustadz Ba’asyir? Kalau dia memperjuangkan kepentingan umat, kepentingan rakyat, kepentingan pembebasan Palestina dari penjajahan itu kan baik, itu bukan teroris,” ujarnya kepada voa-islam.com, Kamis (22/11/2012).

Ia menambahkan jika sikap pemerintah tidak fair karena tidak memberikan kesempatan pada ustadz Ba’asyir untuk menyampaikan penjelasan.

“Ini kok kemungkinan menurut saya begini ya; pemerintah tidak memberikan suatu kesempatan kepada ustadz Ba’asyir untuk memberikan penjelasan dengan baik, langsung dicap saja. Menurut saya ini tidak fair, kalau memang ada kesalahan di dalam cara-caranya mbok diluruskan, niatnya kan bagus,”ungkapnya.

Isu terorisme menurut Tyasno Sudarto memang sengaja dibuat pemerintah Amerika Serikat. “Isu itu disebarkan untuk menjadi jalan pendekat Amerika, agar bisa menguasai daerah itu,” ucapnya.

Selain itu, isu terorisme merupakan bagian dari perang persepsi yang akhirnya orang akan menilai Islam identik dengan teroris.

“Jadi hati-hati dengan isu terorisme ini karena isu ini dihembuskan, ini adalah perang persepsi. Bahwa terorisme itu kejahatan, terorisme itu membunuh semaunya tetapi kemudian disimpangkan bahwa teroris itu pejuang Islam. ini orang terbawa, akhirnya masyarakat menilai bahwa Islam itu identik dengan teroris,” jelasnya.

Namun, saat ditanyakan perihal Densus 88 dan BNPT apakah kedua lembaga tersebut juga ditunggangi Amerika untuk menghembuskan isu terorisme, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI itu justu menjawab tidak tahu. “Kalau itu saya tidak tahu persis, saya tidak berkewengan untuk menilai instansi itu,” tuturnya.

Eks KSAD Tyasno Sudarto:"Relawan kok Dibilang Teroris?"

Kita tentu masih ingat peristiwa pembunuhan dan penangkapan oleh Densus 88 terhadap ratusan mujahidin yang mengikuti i’dad atau pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh pada Februari 2010 silam.

Berdasarkan pengakuan para mujahidin sendiri, ternyata maksud dan tujuan yang sebenarnya dari diadakannya Tadrib 'Askary (Pelatihan Militer) tersebut sejak awal adalah semata-mata sebagai persiapan untuk menolong kaum muslimin yang tertindas dan terjajah dengan keji di berbagai belahan bumi Islam dan kaum muslimin, terutama bumi suci Palestina.

Pertengahan November 2012 kemarin situasi di Gaza sempat kembali memanas setelah Israel melakukan serangan udara.

Umat Islam di Indonesia tentu tak mau tinggal diam, diantara mereka ada yang memiliki ghirah (semangat) tinggi sehingga berniat menjadi relawan dan berangkat berjihad menolong saudaranya di Palestina.

Namun, berbagai kekhawatiran muncul lantaran pemerintah negeri ini yang sama sekali tak mau mengirimkan TNI ke Gaza justru malah menangkapi para mujahidin yang berniat jihad ke Palestina saat melaksanakan i’dad seperti di Aceh beberapa tahun lalu.

Melihat fenomena tersebut, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto menyatakan bahwa sistem negeri inilah yang keliru dengan menangkapi para relawan.

“Itu kan sistem yang keliru, relawan kan kok dibilang teroris. Orang yang berjuang membela umat Islam, memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan dari penindasan itu tidak bisa dibilang teroris, ini yang salah,” kata Tyasno Sudarto usai menjadi pembicara dalam Halaqoh Islam dan Peradaban di Wisma Antara, Kamis (22/11/2012).

Tyasno mengungkapkan jika pelatihan militer tersebut dikatakan sebagai terorisme lantas bagaimana dengan Pramuka?

“Itu keliru, tidak bisa semua itu kemudian dibilang teroris. Oke, pelatihan militer itu kan harus dilaporkan, harus terkoordinir oleh TNI atau polisi misalnya, kemudian mereka mengadakan latihan tentara. Begitu ketahuan kan harusnya diinterogasi dulu, kamu ini latihan tentara untuk apa? Jangan kemudian orang melakukan latihan militer terus dibilang teroris, terus bagaimana dengan pramuka?” jelas pria kelahiran Magelang 14 November 1948 itu.

Ia menilai jika stigma teroris itu kadang digunakan pemerintah untuk mencari proyek.“Stigma teroris ini kadang-kadang dipakai oleh pemerintah atau Polri ini untuk mencari proyek. Terutama karena sistem ini sudah lepas dari sistem Islam menjadi sistem kapitalis dan sekuler maka musuhnya menjadi umat Islam,” ungkap Pimpinan Keluarga Besar Marhaenisme tersebut.

Menurutnya, TNI justru seharusnya melatih para pemuda dan rakyat sesuai undang-undang yang menganut prinsip pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankamrata).

“TNI yang benar itu harusnya mendidik pemuda-pemuda untuk menjadi cadangan kekuatan. Karena undang-undang Dasar kita mengatakan bahwa pertahanan dan keamanan ini menjadi kewajiban seluruh warga negara, TNI itu menjadi kekuatan ini. Kekuatan inti ini melatih kekuatan rakyat untuk menjadi agen-agen pertahanan dan keamanan, prinsipnya pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankam Rata),” tambah mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI itu.

Sunday, November 25, 2012

Perwakilan PBB Perlakukan Delegasi Ormas Islam Bak Anjing Jalanan ?

"Ternyata kita barusan masuk ke dalam, seluruh pegawai dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak ada yang berani menerima delegasi. Kita hanya diterima oleh staf biasa berkebangsaan Indonesia itupun diamanatkan oleh perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa cukup untuk menerima delegasi di atas jembatan, di atas kali, diatas sungai. Jadi mereka ingin memperlakukan kita semua seperti anjing-anjing jalanan."
Hal ini disampaikan Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq Shihab ketika Perwakilan perserikatan enam orang perwakilan delegasi ormas-ormas Islam pun bermaksud menyampaikan petisi yang berisi pernyataan pembelaan terhadap rakyat Palestina kepada perwakilan PBB di Indonesia disambut dengan penghinaan oleh perwakilan PBB di Indonesia tersebut.
"Sekarang saya mau tanya, yang anjing kita atau PBB?," tanyanya yang menjadi salah satu delegasi umat Islam di depan kantor perwakilan PBB, Jakarta, Jum'at (23/11).
Oleh Karena itu, menurut Habib Rizieq, tidak salah kalau dahulu presiden pertama Republik Indonesia menyatakan keluar dari PBB karena PBB begitu sombong dan begitu pengecut.
Karena perlakuan PBB yang tidak beradab dan tidak beretika, serta tidak tidak bermoral tersebut. Perwakilan delegasi ormas melakukan protes keras dan menolak pertemuan yang direncanakan akan memberikan petisi yang sudah dibuat kepada PBB.
"Kita tolak pertemuan, karena kita umat Islam pantang dihina," tegasnya.
Habib Rizieq pun mengingatkan sebagai perwakilan PBB di dunia seharusnya mempunyai moral, etika, dan tidak membeda-bedakan suku bangsa, negara, golongan maupun agama.
"Kenapa begitu ada rombongan LSM-LSM antek-antek asing begitu mudah diterima oleh PBB, kurang ajar PBB!," tukasnya.
Kata Habib Rizieq, PBB jelas telah melakukan penghinaan terhadap gerakan Islam. Sehingga, menurutnya pada hari itu PBB telah mendeklarasikan perang terhadap umat Islam. Ia pun meminta sejak saat itu untuk menghadang semua program PBB  di mana keberadaannya.
"Wahai umat Islam jangan berikan jalan, jangan berikan izin kepada program PBB manapun masuk kampung kita. Dan untuk program-program PBB yang ada di Indonesia kita tolak!," pungkasnya
Seperti diketauhi, ribuan massa Forum Umat Islam yang merupakan gabungan dari berbagai ormas Islam melakukan aksi solidaritas untuk palestina serta mengecam agresi brutal militer Israel terhadap rakyat Muslim Gaza. Massa berkumpul di Bundaran HI yang kemudian long march menuju kantor perwakilan PBB serta Kedubes AS.

Saturday, November 24, 2012

Waspadai Operasi Intelijen dalam Kasus Agresi Zionis di Gaza

Abdillah Onim : Mujahidin sudah banyak di Gaza, Bantuan kemanusiaan lebih dibutuhkan
Hidayatullah.com—Banyaknya SMS yang beredar di masyarakat beridentitas Divisi Pemberangkatan Komite Pemberangkatan Pejuang Palestina (KP3) yang mencari relawan ke Jalur Gaza seiring agresi militer sejak Hari Rabu (14/11/2012) dinilai Direktur The Community of Islamic Ideological Analyst (CIIA), Harist Abu Ulya sebagai gejala yang perlu diwaspadai.

Menurut Harits, ini bukan karena ia menolak gagasan jihad membela Palestina dan rakyat Gaza, tetapi ia mengkhawatirkan ada operasi intelijen hitam dibalik SMS tersebut.

“Awas, ini bisa jadi jebakan inteligen apalagi perekrutan itu dilakukan oleh orang yang fiktif dan tidak memiliki latar belakang ormas Islam yang jelas,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai kegiatan “Halaqoh Peradaban Hizbut Tahri Indonesia” di Wisma Antara Jakarta, Kamis (21/11/2012) kemarin.

Harist mengingatkan pada umat Islam, bagaimana ketika Ustad Abubakar Ba’asyir (ABB) justru diseret ke pengadilan dengan mengundangan Undang-undang Terorisme, setelah “dijebak” pada kasus latihan jihad di Aceh. Menurutnya, latihan jihad dalam SMS yang belakangan muncul di masyarakat tersebut juga terjadi saat serangan Zionis-Israel ke Jalur Gaza.

“Tapi karena tidak dikoordinasikan akhirnya mereka justru jadi lahan jebakan intel untuk agar mudah dituduh teroris, ini bisa jadi boomerang,” jelasnya lagi.

Senada dengan Harist, Mantan Kasad Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto menilai masyarakat yang ingin berjuang ke Jalur Gaza sebaiknya melalui prosedur yang benar.

Tyasno mengkhawatirkan pemberangkatan relawan yang ingin berjihad di Jalur Gaza bisa dipolitisir. Menurutnya, hal itu sangat mungkin terjadi mengingat proyek perang terhadap terorisme ini terus mencari kambing hitam.

“Sudah jadi rahasia umum, bahwa terorisme itu harus ada (diciptakan, red), akhirnya siapa saja bisa dituduh terorisme. Kalau tidak ada penangkapan terorisme mana ada suntikan dana dari luar negeri. kan intinya disitu,” jelasnya kepada hidayatullah.com.

Tyasno menekankan, TNI siap memfasilitasi pemberangkatan relawan ke Jalur Gaza atau ke Suriah. Selama semua itu dilakukan melalui prosedur-prosedur yang positif.

Bahkan ia menjelaskan bahwasanya TNI itu berdiri diawali oleh Laskar Hizbullah dan Sabilillah buatan Masyumi. Sebelum Indonesia merdeka Masyumi sudah mendirikan laskar militer tersebut. Dan Laskar tersebut langsung di bina oleh tentara Pembela Tanah Air (PETA).

“Jangan jadikan TNI itu musuh, TNI itu akar berdirinya dari umat. Kalau perlu saya siap memfasilitasi kerjasama antara para relawan dan TNI. Jangan sampai umat dijebak dengan tuduhan terorisme” tegasnya lagi.

Sebelumnya, menurut Dr Jose Rizal, Presidium MER-C juga menjelaskan bahwa rakyat Gaza lebih membutuhkan bantuan kemanusiaan dibandingkan relawan mujahidin.

Menurutnya faksi-faksi mujahidin seperti Brigade Izzudin Al-Qassam dan elemen-elemen perlawanan lain di Jalur Gaza justru sangat berhati-hati dengan masuknya kelompok-kelompok baru di Jalur Gaza.

"Saya pernah ke sana dan bertemu mereka, relawan kami juga tinggal di sana dan menikah di sana. Hati-hati, karena bukan cuma di Indonesia, di dunia internasional juga banyak agen intelijen berpura-pura jadi mujahidin," tegas Jose Rizal kepada hidayatullah.com saat konferensi pers di kantor MER-C Jakarta.

Friday, November 23, 2012

Majalah Tempo, Media Liberal Pembenci Syari'at Islam

Untuk menyegarkan kembali ingata, artikel Tempo tentang 'Surat Terakhir Dari Putri" menyakitkan umat Islam Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

Dengan simplifikasi yang buru-buru dan tanpa penelitian yang mendalam, Tempo langsung mengambil kesimpulan : "Terlepas dari penyebab kematiannya, banyak pihak berharap agar Putri menjadi korban terakhir dari penerapan qanun yang dibuat dan diterapkan tanpa memperhatikan perlindungan atas hak-hak anak."

Tulisan yang dibuat Jajang Jamaludin dan Imran MA ini juga menyimpulkan: "Kematian Putri menjadi kian tak biasa karena berkaitan dengan penerapan hukum syariah di Bumi Serambi Mekah..

Misi Tempo yang anti syariat Islam ini makin jelas, dengan ditampilkannya artikel kedua tentang kasus di Aceh itu dengan artikelnya : "Diskriminasi Sana Sini".

Dalam alinea pertama, Tempo menulis: "Kematian Putri Erlina tak hanya mengundang belasungkawa dari masyarakat biasa. Lebih dari itu, kematian remaja 16 tahun ini juga memantik kembali perlawanan kalangan aktivis perlindungan anak dan perempuan terhadap peraturan yang mereka anggap diskriminatif. "Putri menjadi korban kebijakan diskriminatif atas nama moralitas dan agama," kata Komisioner Komisi Nasional Perempuan Andy Yentriyani dalam siaran persnya, Jumat pekan lalu.

Artikel itu kemudian ditutup dengan : "Karena itulah Andy mendesak agar aturan aturan yang diskriminatif dan sangat merugikan tersebut segera direvisi. Sesuatu yang juga sejak dulu diteriakkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia."

Dan kebijakan Tempo yang sinis terhadap syariat Islam itu makin terlihat jelas dengan Catatan Pinggir yang dibuat 'god father-nya' Goenawan Mohamad. "Mengenang Putri, 16 tahun, yang bunuh diri setelah dituduh sebagai pelacur oleh polisi syariah di Langsa, Aceh," kata Goenawan mengawali catatannya.

Kebijakan Tempo anti Perda Syariah dan Undang-Undang yang Islami ini sebenarnya sudah lama dan nampak terang benderang pada Tempo edisi 4 September 2011, dengan menampilkan judul liputan khusus: Perda Syariah Untuk Apa. Kebijakan redaksinya nampak dalam kolom opininya yang menyatakan :

"Indonesia tampaknya bukan tempat yang tepat untuk menegakkan hukum yang berlatar belakang syariah. Lihat saja penerapan aturan-aturan baru bernuansa keagamaan itu . Ketentuan itu diterapkan secara diskriminatif: begitu tegas terhadap masyarakat kelas bawah, tapi tidak bergigi manakala harus berhadapan dengan pelanggar aturan dari kalangan elite atau masyarakat kelas atas. Inilah antara lain kritik terhadap penerapan syariah Islam yang telah berjalan lebih dari sepuluh tahun di Bumi Serambi Mekah, Aceh. Hampir semua hukuman hanya mengena pada masyarakat kelas bawah."

Tempo menutup kebijakan redaksinya itu dengan: "Lahirnya aturan-aturan syariah ini barangkali lebih efektif ketimbang dakwah puluhan tahun para kiai di kampung-kampung. Sebab aturan-aturan itu menggunakan tangan-tangan perkasa pemerintah (daerah) untuk memaksa para perempuan setempat mengenakan kerudung dan pakaian yang Islami, atau memaksa pasangan yang hendak menikah belajar membaca Al Quran lebih serius. Namun kemungkinan besar aturan-aturan itu tidak sanggup menjawab persoalan substansial yang sedang dihadapi bangsa ini, seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan dan korupsi."

Majalah Tempo yang dikenal dengan majalah investigasi ternama, ternyata dalam kasus bunuh diri Putri di Langsa Aceh ini melakukan simplifikasi yang buru-buru dan dipaksakan. Tempo tidak berusaha mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang kasus ini dan mengambil kesimpulan bahwa kasus bunuh diri itu karena berkaitan dengan penerapan hukum syariah di Bumi Serambi Mekah.

Tempo Bukan Media Rujukan

Dosen STID Moh Natsir, Nuim Hidayat ketika dimintai tanggapannya soal pemberitaan Majalah Tempo edisi 17-23 September 2012 tentang kasus kematian Putri Erlina yang berujung terhadap upaya melemahkan penegakan syariat Islam di Aceh dan sejumlah daerah di Tanah Air, mengatakan majalah itu telah menyakiti umat Islam. Menurutnya Tempo telah gegabah dengan menurunkan berita yang berjudul “Diskriminasi Sana-Sini”.

Sebelumnya Dinas Syariat Islam Kota Langsa juga menyatakan keberatannya atas pemberitaan majalah yang digawangi tokoh JIL yang bernama Goenawan Muhammad itu.

Dalam temu persnya, Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Aceh, Ibrahim Latief mengatakan, kematian Putri Erlina tidak ada sangkut pautnya dengan penerapan syariat Islam di Aceh.

Nuim Hidayat menilai, jurnalis Tempo yang menulis berita itu, tidak mengadakan penelitian mendalam kepada pihak-pihak yang terkait dengan kematian Putri Erlina, apakah itu keluarga, teman dan sahabat, guru-guru, dan dinas syariat Islam kota Langsa itu sendiri.

“Dinas syariat Islam di kota Langsa tak pernah mengatakan bahwa korban adalah pelacur. Kalau ada media massa lokal di Aceh yang mengatakan bahwa kematian Putri Erlina terkait dengan penerapan syariat Islam di sana, itu bukanlah tanggung jawab lembaga tersebut atas efek negatif dari pemberitaannya.”

Kesimpulan majalah Tempo yang mengatakan kematian Putri Erlina terkait dengan penerapan syariah Islam, patut dianalisis lebih lanjut, karena belum pernah ada sebelumnya orang-orang yang terkena razia syariah bunuh diri, padahal dinas syariah kota Langsa sudah menahan banyak sekali pelaku pelanggar syariah di sana.

Kemudian faktor penyebab Putri Erlina bunuh diri juga patut diteliti, apakah alasannya membunuh dirinya sendiri?

Bagaimana kondisi kejiwaan sang korban, bagaimana hubungan korban dengan keluarganya, apakah korban terkena kasus lain yang menyebabkan dia bunuh diri, menyusul ditahannya korban akibat pelanggaran syariah oleh dinas penegak syariah di sana?

Lalu penjelasan di surat wasiatnya yang mengatakan korban tidak menjual dirinya, apakah penyebabnya karena tudingan pelacur dari media massa atau dari dinas syariah itu sendiri?

Nuim yang merupakan adik Adian Husaini ini menggarisbawahi, sebagai media massa Tempo harus selalu menyajikan berita yang adil dan berimbang, to cover both side, mengingat efek pemberitaannya kepada masyarakat luas, khususnya bagi kalangan yang tidak mengerti tentang syariah Islam.

Menurut Nuim, diterapkannya syariah Islam justru membawa kemajuan bagi masyarakat Aceh. Syariah Islam yang sudah diterapkan di Aceh sejak zaman Samudera Pasai dahulu, terbukti ampuh mengatasi kriminalitas, kerusakan akhlak dan moral masyarakat, dan melawan penjajahan Belanda serta akibat buruk di baliknya (program pemurtadan besar-besaran di sana).

Nuim menyadari masih adanya kelemahan dalam upaya penegakan syariah di sana, tapi setidaknya Aceh lebih kondusif dan aman sekarang di bawah hukum Syariah ketimbang daerah-daerah lainnya yang tidak menggunakan hukum Syariah.

Nuim pun menantang Tempo untuk mengadakan survei secara nasional dengan obyektif. Membandingkan faktor kriminalitas dan amoralitas; korupsi, pemerkosaan, pencurian, perampokan, tawuran remaja, seks bebas, penggunaan narkoba dan miras, penyebaran pornografi dan pornoaksi, aktivitas pelecehan agama, dan sebagainya, antara daerah yang tidak menggunakan syariah Islam dengan Aceh, yang menggunakan syariah Islam.

Jika sedikit-sedikit Tempo mengaitkan keburukan-keburukan yang menimpa Aceh dan masyarakatnya terkait penegakan syariah, Tempo harus berani menarik kesimpulan bahwa di daerah-daerah non penegakan syariah pun, tingginya kasus-kasus kriminalitas dan amoralitas di sana, adalah akibat diterapkannya hukum sekuler.

Nuim dan dinas syariah kota Langsa akan selalu berkomitmen untuk melawan penyebaran ide-ide Islamofobia yang diusung media massa nasional (dan internasional), apapun medianya. Terakhir Nuim menyerukan dan mendorong agar penegakan syariah Islam ditingkatkan kualitasnya, mulai dari kualitas guru agama, para penegak syariah dan dinas yang terkait, hingga pengambil kebijakannya, sehingga penegakan syariah bisa dirasakan manfaatnya oleh segenap warga Aceh.

Thursday, November 22, 2012

Jodoh Adalah Amanah

Bismillah ... Seseorang yang menjadi jodoh bagi kita berarti adalah amanah. Sesuatu yang dititipkan adalah sesuatu yang penjagaannya dipercayakan kepada orang yang dititipi hingga suatu saat sesuatu itu akan diambil oleh yang menitipkan.

Maksud menitipkan adalah agar sesuatu yang dititipkan itu tetap terjaga dan terlindungi keberadaannya.

Tanggung jawab memelihara sesuatu yang dititipkan itulah yang disebut amanah.

Jodoh adalah amanah Allah kepada pasangannya agar berkualitas untuk bisa mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Bila sudah menikah maka isteri adalah amanah Allah kepada suami dimana suami wajib melindunginya dari gangguan yang datang, baik gangguan fisik maupun psikis.

Demikian juga suami adalah amanah Allah kepada isteri dimana ia wajib memberikan sesuatu yang membuatnya tenang, tenteram, aman dalam menjalankan tugas-tugas hidupnya.

Sahabat...bila memang ada niat & keinginan sungguh-sungguh untuk menjemput jodohnya maka Allah akan kirimkan jodoh yg terbaik dari sisiNya.

Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadaKu tentang AKU, maka (jawablah), bahwa AKU sangat dekat, AKU mengabulkan permohonan orang yang memohon kepadaKU." (Qs. 2:186)--

'Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah'

Artinya. 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia & akhirat.

Aamiin Yaa Robbal'aalamiin




Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Kantor Berita Al Jazeera, AFP & AP Dibom Zionis

Gaza City - Serangan udara Zionis atas wilayah Palestina di Jalur Gaza menghancurkan gedung kantor-kantor media internasional dalam hari keempat serangan berturut-turut pada hari Rabu kemarin (21/11/2012), lapor Maan.

Serangan itu menyusul serangan udara hari Selasa yang menewaskan tiga orang warga Palestina.

Serangan lewat tengah malam hari pertama Zionis menarget gedung kantor Agence France-Presse (AFP) di Gaza City, kata seorang fotografer AFP. Menurut keterangan orang itu, sedikitnya tiga rangkaian serangan mengenai lantai keenam bangunan kantor mereka.

Lewat tengah malam tadi, Al Jazeera mengatakan bahwa bironya yang berada di Gaza City rusak setelah serangan udara Zionis menghantam bangunan pemerintah yang dekat dengan kantornya di Abu Khadra.

Seorang reporter Associated Press mengatakan bahwa kantor AP juga mengalami kerusakan.

Jurubicara militer Zionis kepada Maan mengatakan, serangan udara atas gedung pemerintah Abu Khadra di pusat kota Gaza adalah untuk menarget sebuah “tempat aktivitas teror.”

Sebelumnya, militer Zionis mengkonfirmasi telah menghantam sebuah gedung media dan menyebut serangan itu menarget “pusat operasi intelijen Hamas.”

Setelah melancarkan serangan tersebut, militer Zionis menulis di akun Twitter-nya memperingatkan para wartawan agar menjauh dari fasilitas operasi Hamas.

Serangan udara Zionis juga menimbulkan kerusakan kantor media internasional yang terletak di dua buah hotel.

Reporter Hugh Naylor dari koran National kepada Maan mengatakan bahwa serangan Zionis, baik serangan udara maupun tembakan mortir telah menghancurkan jendela-jendela di Deira dan Beach Hotel.

Press TV melaporkan bhawa korespondennya Akram Al Sattari terluka.

Kelompok pendukung kebebasan pers Mada mengutuk serangan yang terjadi pada hari Selasa kemarin dengan menyebutnya sebagai sebuah “tindak kejahatan yang sangat keji … dan pelanggaran terang-terangan atas konvensi internasional yang melindungi jurnalis.”

Komite Perlindungan Jurnalis (CJP) mendesak Israel untuk segera menghentikan serangan udara yang menarget kantor-kantor media di Gaza.

“Israel harus menghormati kewajibannya di bawah hukum internasional dan segera menghentikan serangannya atas kantor-kantor media berita,” pejabat CJP Sherif Mansour.

Pada hari Ahad kemarin, serangan udara Israel telah menghancurkan dua kantor media dan melukai sedikitnya enam orang jurnalis. Gedung Al Shawa yang pertama kali digempur terdapat kantor pusat dari Kantor Berita Maan di Jalur Gaza.*

Monday, November 19, 2012

Indonesia Jalin Kerjasama dengan Israel di Bidang Cyber

Di saat Israel tengah gencar memborbardir Gaza, Palestina, dimana Presiden SBY tak ada suara mengecam, eh, tersiar kabar Indonesia menjalin kerjasama dengan jahanam zionis itu.

Indonesia dan Israel, memang  tak memiliki hubungan diplomatik secara resmi, tetapi itu tidak menghalangi kedua negara untuk melakukan kerjasama, khususnya kerjasama di bidang keamanan dunia maya.
Tersiar kabar, Indonesia mengirimkan delegasi resmi di bidang pertahanan dan keamanan, ke sebuah konferensi internasional di Tel Aviv, Israel yang diadakan minggu ini.

Dikutip dari Haaretz, Indonesia dan Israel berencana melakukan kerjasama dibidang cyber. Untuk itu, pihak Indonesia telah mengirimkan pejabat pertahanan yang bertanggungjawab atas pembangunan infrastruktur pertahanan dan keamanan cyber.

Direktur Israeli Export Institute (bagian dari Kementerian Industri dan Perdagangan Israel), Ramzy Gabbay mengatakan konferensi internasional yang diadakan di Tel Aviv terbuka untuk siapa saja. Dan mengharapkan kedatangan delegasi Indonesia.

Walau Kementerian Luar Negeri Indonesia bersikap tegas mengenai masalah Israel. Namun pada kenyataannya, Kemlu tidak pernah bisa mencampuri urusan kerjasama Indonesia-Israel, jika berkaitan dengan pertahanan dan keamanan.

Sebab, menurut pengamat hubungan internasional, Hariyadi Wirawan, ada ‘orang ‘ yang lebih tinggi kedudukannya yang berkepentingan.

“Kemlu tahu, tetapi untuk menabrak urusan itu belum ada keberanian. Tidak pernah ada sekalipun Kemlu mempertanyakan kebijakan tersebut, “ ungkap Hariyadi kepada itoday, Jum’at (16/11/2012).

Hariyadi pun mengungkapkan adanya peranan Amerika Serikat (AS) dalam hubungan Indonesia-Israel.
Jika melihat delegasi Indonesia yang dikirimkan ke Tel Aviv, Hariyadi yakin, bahwa yang mengirimkan adalah pihak Kemhan.

Uniknya, perihal kerjasama ini diumumkan oleh Israel di media mereka, bukan oleh Pemerintah Indonesia. Sebab menurut Hariyadi, Indonesia tidak akan pernah mengumumkan hal tersebut. Karena akan menuai tekanan dari dalam.

Namun bagi Israel, hal ini menguntungkan dirinya. Sebab, ini memperlihatkan bahwa negara seperti Indonesia yang menentang keberadaan Israel saja mau bekerjasama dengan mereka.

Walau yang mengumumkan adalah pihak Israel, bukan berarti tidak ada risiko yang dihadapi Pemerintah Indonesia. Hariyadi memperkirakan pemerintah tidak akan mengakui adanya kerjasama tersebut.

“Pemerintah tidak akan mengakui adanya kerjasama tersebut, dan akan berusaha menutup rapat fakta yang ada dengan terus menghindar, “ ujarnya. Kerjasama itu sendiri, menurutnya, sudah terjadi sejak dulu.
Ya, ibaratnya, lantaran takut mendapat tekanan dan protes dari dalam, seperti dikatakan Hariyadi, maka terjadilah “hubungan gelap”, tidak berani terang-terangan.

Indonesia sendiri, menurut Hariyadi adalah sedikit negara yang bermain di dua kaki, dimana Indonesia menolak Israel, namun di sisi lain bekerjasama dengan negara tersebut sejak lama.

“Yang saya tahu, pihak keamanan selalu meminta bantuan nasihat para ahli dari Israel di bidang terorisme, teknik-teknik tertentu bahkan beberapa peralatan dari Israel,“ ungkapnya.

Apa yang dikatakan Hariyadi memang ada benarnya, kerjasama ini bukanlah yang pertama kalinya dilakukan Indonesia. Sebelumnya, Indonesia sudah melakukan kerjasama pengadaan pesawat tempur A-4 Skyhawk dari Israel dengan menggelar operasi intelijen, Operasi Alpha di dekade 1980-an. Jenderal Benny Moerdani berperan aktif dalam hubungan kerja sama ini.

Jadi, “hubungan gelap” Indonesia-Israel ini sudah sejak lama berlangsung. Meski di atas permukaan seakan mendukung Palestina, tapi di belakang itu terjadi “perselingkuhan” dengan Israel sekaligus pengkhianatan terhadap Palestina, rakyat Indonesia, konstitusi negara RI dan Dunia Islam.

Tidak hanya di bidang keamanan, bahkan disinyalir kerjasama di bidang lainnya seperti budaya.
Di bidang perdagangan, pada 2008, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 750 juta, dan US$ 450 juta di 2009. Bahkan di 2009, Indonesia dan Israel sepakat untuk membuat kamar dagang yang diketuai Emanuek Shahaf, seorang diplomat Israel dan CEO dari Technology Asia Consulting.

Sekadar informasi, di era Presiden Abdurrahman Wahid, Indonesia-Israel mulai nekat sedikit mengungkap “hubungan gelap”nya itu, meski mendapat protes dari kalangan Islam.

Lantas, bagaimana kelanjutan “hubungan gelap” yang terlanjur mengandung benih kerjasama–meski bertentangan dengan UUD 45 yang menentang penjajahan di atas dunia ini?  (isa)-sumber: itoday

Mayoritas Generasi NU Tak Paham Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari

Kenapa harus alergi mendengar kata jihad. Padahal seruan jihad, mendorong perlawanan bangsa Indonesia hingga terbebas dari belenggu penjajah. Tanpa jihad dan berkat rahmat Allah, Indonesia tak akan merdeka, tidak punya harga diri dan kedaulatan di negeri ini. Tapi kini, jihad dikebiri, diredam, bahkan dikaburkan maknanya. Padahal, sesungguhnya, jihad tak akan lekang oleh waktu.

Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Yang menarik, berdasarkan laporan pemerintah Belanda sendiri, bahwa peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji.

Ironis, sejarah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah, tidak mengenalkan peran “Resolusi Jihad” yang dikomandoi oleh KH. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan fatwa “wajib” bagi setiap muslim untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dan sangat disayangkan, sejarah negeri ini tenyata tidak pernah berkata jujur tentang peran Laskar santri yang terhimpun dalam Hizbullah maupun laskar kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam berperang melawan penjajah. Ketika itu Hizbullah berada di bawah Masyumi, dimana KH. Hasyim Asy’ari menjabat sebagai Ketua Masyumi.

Laskar Hizbullah (Tentara Allah) dan Sabilillah (Jalan Allah) didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di Cibarusah, sebuah desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual KH. Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zaenul Arifin. Adapun laskar Sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur. Konon, pemuda pesantren dan anggota Ansor NU (ANU) adalah pemasok paling besar dalam keanggotaan Hizbullah.

Peran kiai dalam perang kemerdekaan ternyata tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak diantara mereka yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air). Menurut penelitian Agus Sunyoto, dari enam puluh bataliyon tentara PETA, hampir separuh komandannya adalah para kiai.

Patut diketahui, Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia. Meskipun dalam sejarah, keberadaan laskar tersebut disisihkan. Buktinya, perjuangan mereka tidak ditemukan dalam museum-museum. Boleh jadi, para laskar ini seringkali berselisih paham dengan pemerintah Soekarno yang tidak bersikap tegas dalam menentang pendaratan pasukan Sekutu dan Belanda ketika itu.

Resolusi Jihad
Tahukah? Pada 21 Oktober 1945, telah berkumpul para kiai se-Jawa dan Madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”. Sejarawan Belanda Bruinessen mengakui, Resolusi Jihad ini tidak mendapat perhatian yang layak dari para sejarawan.

Dari perspektif historis, banyak orang-orang NU sendiri yang tidak mengerti posisi sejarah Resolusi Jihad. Sangat disayangkan, Resolusi Jihad yang diperankan NU termaginalisasi, bahkan terhapus dari memori sejarah bangsa. Itu akibat pergulatan dan manuver politik, ada upaya-upaya dari kelompok tertentu yang ingin menggusur NU dari dinamika percaturan politik kebangsaan.

Tak dipungkiri, semangat ke-jam’iyyah-an NU di kalangan generasi muda kini semakin merosot. Pada lingkup internal, banyak kader-kader muda NU yang tidak mengerti rangkaian sejarah Resolusi Jihad. Survei membuktikan, ingatan masyarakat tentang Resolusi Jihad NU 1945 yang memiliki mata rantai dengan Peristiwa 10 November di Surabaya semakin punah.

“Oleh karena itu, wacana Resolusi Jihad NU harus dihidupkan kembali, direkonstruksi dan tidak ditempatkan pada upaya politisasi sejarah. Tanpa Resolusi Jihad, tidak akan ada NKRI seperti yang kita cintai saat ini,” kata Gugun El-Guyanie, penulis buku Resolusi Jihad Paling Syar’i.

Jangankan masyarakat umum, generasi-generasi penerus NU dari pusat sampai ranting, Ansor-Fatayat, IPNU-IPPNU pun banyak yang tidak mendapatkan transfer sejarah mengenai resolusi penting itu.
Setelah menginjak lebih dari setengah abad, memori tentang resolusi itu hendak dihidupkan kembali. Di Surabaya, sudah mulai dibangun museum Resolusi Jihad oleh PCNU Surabaya. Pengurus NU dan kader-kadernya pun mulai berdiskusi dan memperingati hari Resolusi Jihad tiap tanggal 22 Oktober.

Anti Kolonial
Untuk menyegarkan ingatan kembali, dulu, NU telah mengharamkan pantalon dan dasi. NU dengan tegas menolak sistem pendidikan model Belanda. Ketika itu NU memakai hadits: ”man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum” (siapa yang menyerupai suatu golongan, tentu dia merupakan bagian dari mereka).

Perlawanan kultural terhadap pemerintah kolonial Belanda, berhasil membentuk kiai dan santri-santrinya menjadi lapisan masyarakat bangsa Indonesia yang sangat anti penjajah, Pada gilirannya, sikap anti penjajah ini memberikan sumbangan yang sangat besar pada perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Juga ingatlah, ketika Jepang mewajibkan agar bangsa Indonesia mengikuti pendewaan terhadap Kaisar Jepang Tenno Haika dengan cara membungkukkan badan ke arah Timur pada waktu-waktu tertentu, NU langsung menyatakan penolakannya. Seperti juga semua orang Islam, pendewaan kepada selain Allah, dipandang sebagai perbuatan syirik oleh NU.

KH. Hasyim Asy’ari secara terbuka menyatakan penolakan itu. Pengaruhnya yang besar menghantarkan kiai pendiri NU ini dijebloskan Jepang ke dalam tahanan.  Saikerei yang diwajibkan kepada bangsa Indonesia menjadi api yang membakar perlawanan umat Islam. Adalah KH. Zaenal Musthofa dari Singaparna, seorang anggota NU, kemudian mengangkat senjata. Sebuah perlawanan bersenjata pertama kali terhadap Jepang.
Ketika NU melihat ancaman terhadap negara yang sudah menyatakan proklamasi kemerdekaannya, dan sudah mempunyai konstitusinya sendiri (UUD 1945), maka pada tanggal 22 Oktober 1945, organisasi ini mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad. Namun, sebelumnya NU mengirim surat resmi kepada pemerintah yang berbunyi:

”Memohon dengan sangat kepada pemerintah Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap Belanda dan kaki tangannya. Supaya pemerintah melanjutkan perjuangan yang bersifat ”sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan beragama Islam.

Adapun resolusi yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa itu berbunyi:
  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.
  2. Republik Indonesia (RI) sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan.
  3. Musuh RI, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
  4. Umat Islam, terutama NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
  5. Kewajiban tersebut adalah jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap muslim (fardhu ’ain) yang berada pada jarak radius 94 km (jarak dimana umat Islam diperkenankan shalat jama’ dan qashar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut.
Resolusi jihad tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat arek-arek Surabaya untuk bertempur habis-habisan melawan penjajah. Dengan semangat takbir yang dipekikkan Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat yang heroik pada 10 November 1945 di Surabaya.  

Dari sejarah ini, warga NU dan para elitnya, seyogianya tidak menjadi alergi ketika akhir-akhir ini ada upaya untuk mengebiri, meredam dan mengaburkan makna jihad. Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari, seyogianya diingat kembali. Karena resolusi jihad yang bersejarah itu tak pernah lekang oleh waktu. Karena umat Islam memenuhi panggilan jihad, maka disaat itulah harga diri dan kemuliaan akan diraih.

Di era kemerdekaan ini, bisa saja seruan jihad dikembangkan maknanya, tapi bukan berarti jihad harus dilenyapkan dan dikubur dalam-dalam. Apalagi sampai  membuat stigmatisasi, seolah jihad adalah sesuatu yang mengancam dan membahayakan penguasa. Tanpa jihad,  umat ini akan lesu dan ternina-bobokan, juga tak punya visi ke depan.

BNPT Mulai Getol Memberangus Dakwah yang Menyuarakan Syari'ah

Ketua Lembaga Politik dan Kajian Syariat Islam (LKPSI), Ustadz fauzan Al Anshori mangatakan proyek deradikalisasi BNPT dan Bimas Islam Kemenag sudah memasuki fase akar rumput untuk membasmi pemikiran ideologis Islam yakni perjuangan penerapan Syariat di indonesia.

"Saya pernah bertemu Dirjen Bimas Islam untuk menawarkan diklat Hudud gratis di seluruh Indonesia. Tapi, mereka menolak," Ujarnya kepada arrahmah.com, Kamis (16/11).

Lanjutnya, sudah sangat jelas bahwasanya BNPT dan Bimas Islam melalui program deradikalisasinya ingin mematikan keinginan umat Islam untuk menjalankan ajarannya secara utuh. Ustadz Fauzan juga pernah menjadi korban terkait sejumlah masjid yang takmirnya ditekan oleh penguasa thoghut  agar mencoret da'i-da'i yang mendakwahkan jihad dan penegakan Syariat Islam dari daftar penceramah.

"Anda bisa buktikan sendiri, jika nanti masjid-masjid sudah takut mendakwahkan syariat apalagi Jihad, tinggal tunggu dibantai seperti di Rohingya," tegasnya.

Ia pun prihatin dengan kondisi umat Islam di Indonesia. Karena, secara tidak langsung pendanaan BNPT dan program deradikalisasinya dibiayai oleh APBN yang notabene berasal dari pajak yang sebagian besar ditarik dari umat Islam sendiri.

Maka dari itu, ia meminta media-media Islam untuk berani mengcounter semua isu murahan yang dilansir oleh BNPT.

"Semoga ini menjadi ladang dakwah ghazwul fikri yang berpahala besar dibawah jihad fisik," tutup Ustadz Fauzan.

Isu Terorisme Bom Sulsel Penuh Rekayasa

Jika Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menyatakan aksi pelemparan bom kepada Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo pada Minggu (11/11/2012) pagi lalu, masih terkait dengan jaringan Jamaah Ansharut Tauhid serta jaringan Ambon dan Poso, tidak demikian dengan Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris.
 
Irfan justru menduga kuat klaim teror bom yang dihembuskan Syahrul dan tim pemenangnya itu sebagai bentuk rekayasa. Prof Irfan Idris pun menjelaskan rekaman video insiden tersebut di Warkop Ganesha, Makassar, kepada Tribun Timur, kemarin (Kamis, 15 November 2012).

"Waktu kejadian itu saya ada di Makassar, saya tahu acara itu. Jadi, isu teror bom itu rekayasa, itu diada-adakan, indikasinya kelihatan," ungkap Irfan Idris sembari menunjuk video insiden tersebut, seperti dikutip tribun.


Menurut Irfan Idris, aksi terorisme tidak demikian. Selain itu, jejak rekam kejadian didominasi tim pemenang Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang). Dalam video itu, Irfan Idris menyaksikan Tim Sayang yang mengenakan baju biru Mark Sampan Induk dan baju kaos kuning (Tautoto) dkk langsung menggiring dan mengkroyok yang diduga pelaku tengah kerumunan jauh dari panggung Syahrul bernyanyi.

Selanjutnya, Tim Sayang pula yang menggiring pelaku dari tempat kejadian awal bukan polisi. Polisi mengamankan setelah beberapa menit kemudian. Lemparan benda pun ternyata yang Irfan saksikan tidak jelas. Ia menduga hanya berupa botol air minuman mineral. Syahrul tetap melenggang menyanyi, penonton pun terlihat aman seperti biasa.

"Tiba-tiba ada orang dipukul dituduh melempar. Yang bertindak orangnya dia (Syahrul), yang mengatakan teror bom lebih awal, orangnya Syahrul dan Syahrul juga setelah manggung. Padahal selama di panggung Syahrul terus asyik bernyanyi. Penonton aman-aman saja. Itu kan mencerminkan bahwa ini rekayasa,

Kenapa dengan mudah Syahrul dan tim menyimpulkan bahwa itu teror bom sementara bukan ahlinya yang tangani? Ahlinya saja belum meyimpulkan sampai sekarang.

Tiba-tiba mereka perlihatkan barang bukti. Kata mereka ada tas berisi amunisi, senjata, loh siapa yang bawa itu, siapa bawa itu? siapa saksinya? Itu bisa jadi sengaja mereka pasang.

Keterangan pers Tim Sayang bahwa itu high explosive, dari mana? Kalau itu teror bom, maka pasti ada Jihandak (tim ahli penjinak bom), ada evakuasi, warga diamankan, itu standar operasinya, orang lain tidak boleh mendekat. Tapi kan tidak ada, Syahrul tetap menyanyi, video ini jelas, tidak ada apa-apa," jelas Irfan Idris.

Prof Irfan Idris mengklarifikasi komentar sebelumnya yang sempat dimuat bahwa yang diduga pelaku adalah jaringan teroris Poso demikian keterangan pers polisi. Menurutnya, kabar jaringan Poso sebatas praduga demi keamanan masyarakat Sulsel.

"Itu kan hanya praduga, teroris Poso ini kan lagi booming. Tidak boleh juga lambat kepolisian menjadi penonton, dia harus cepat praduga bahwa jaringan Poso, karena memang hanya Poso, mau dibawa ke mana? jadi itu praduga toh kita tanya ke polisi sekarang, pasti mereka bilang kita tunggulah hasilnya. Tapi setelah saya menelusuri, ini rekayasa untuk menghabisi pihak lain," ujar Irfan Idris.

Lebih lanjut, kata Irfan, jika dikatakan jaringan Poso, maka alasan tersebut kurang tepat. Pasalnya, tim Sayang sendiri yang diduga memformat insiden. Begitu juga aksi pelaku tidak pada level dan aksi teroris biasanya.

"Nah kalau memang dikatakan jaringan Poso, kenapa di event ini digunakan? event Poso sekarang kan persoalannya aparat keamanan, dia bergeser dari sasaran objek asing? dia sendiri menakdirkan ini teroris dengan aparat keamanan. Sampai mereka membuka surat kepada TNI, TNI duduk manis saja menonton, kalau perlu teroris head to head polisi,"tutur Irfan Idris.

Pascainsiden, Irfan Idris terus mengamati reaksi Syahrul dan tim. Menurutnya, getolnya Syahrul dan tim menjual isu teror bom menjadi indikasi ganjal bahwa insiden sebuah rekayasa.

Kemarin sebagaimana dilansir portal Tribun, Syahrul:  “Ambil jabatanku Kalau Bom Pilkada". Hari ini, Jubir Sayang, Maqbul Halim melakukan broadcast di BBM berupa ungkap syukur selamat dari teror bom.

"Indikasi semua ini, bisa dilist bahwa Tim Sayang sendiri yang merekayasa. Kedua, Sayang merekayasa tapi sasaran tembaknya ke kandidat lain, ketiga bukan dia yang rekayasa tetapi memang ada pihak lain yang merekayasa untuk dialamatkan di sini agar pihak Ilham-Aziz terkuras energi, memikirkan ini, hanya mau mengutak-atik, peta konflik kan begitu. Aziz ini kan kalangan ustadz, bisa jadi dia mau dihabisi," ungkap Irfan Idris.

Skenario isu teror bom, ulas Irfan Idris, bisa diduga kuat bahwa itu merupakan upaya untuk menghabisi kelompok Aziz sebagai tokoh yang punya ciri khas religius.

"Kalau begini baru mau dikatakan teroris, itu diketawai. Caranya saja mau meledakkan mana. tidak begini. Nah kalau mau disamakan kayak Poso, jangan-jangan dipaksakan hanya diadakan pipa parolone, seperti komentar Maqbul di Celebes TV supaya membuat kesimpulan bahwa itu bom betul, padahal ternyata, dibalik yang tersurat itu, ada pesan yang tersirat, bahwasanya ini hanya shock terapi aja. Bahwasanya agar orang mulai simpatik bahwa oh kasian Syahrul mau dibom. Padahal tidak ada," ujar Irfan Idris.

"Nah kenapa tidak ada jihandak, kenapa orang langsung melihat seperti ada meteor jatuh dari langit tiba-tiba berkerumun begitu, sementara bintangnya di sana tetap menyanyi," usik Irfan lagi.

Indikasi Rekayasa temuan BNPT melalui rekaman video dan reaksi Sayang Pascainsiden:
*Tiba-tiba ada pemukulan Pascapelemparan botol Aqua (terlihat BNPT) jauh dari depan panggung. Jatuhnya lemparan tidak diketahui hingga ada asap tipis dikabarkan.

*Pelaku tidak mengenakan tas dikroyok, digiring, diinterogasi Tim Sayang di suatu ruangan disusul polisi
"Di video, Tim Sayang yang mengenakan baju Sampan Induk menjelaskan pelaku dipukul karena melempar botol aqua sebanyak dua kali.

*Tiba-tiba tas berisi amunisi diperlihatkan Tim Sayang dan belum diketahui asal usul penemu tas tersebut.
*Keterangan Pers Tim Hukum Sayang lebih mendahului polisi menyimpulkan bom high explosive
*Tidak ada Jihandak (tim ahli penjinak bom), tidak ada evakuasi, tidak ada pemasangan police line
*Syahrul tetap menyanyi, penonton aman tanpa evakuasi
*Pascainsiden, Syahrul, Maqbul, Amirullah Tahir, Moh Roem getol menjual isu teror bom
*Polda memilih diam dan sampai sekarang belum ada kesimpulan


Thursday, November 15, 2012

AS Dukung Israel Untuk Terus Gempur Gaza

PEMERINTAH Obama dikabarkan telah memberikan dukungan penuh terhadap serangan udara Israel di Jalur Gaza yang terkepung.
Pasukan Israel meluncurkan serangan udara terbaru di Jalur Gaza Utara pada Rabu malam (14/11), bertepatan dengan tahun baru Islam. Serangan bertubi-tubi oleh pasukan Israel terjadi tak lama setelah sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam, tewas akibat roket yang diluncurkan pasukan Israel.
Serangan udara Israel kali ini, adalah awal dari serangan terberat di wilayah Palestina dalam empat tahun terakhir.
Pada Rabu malam (14/11), jet tempur dan drone Israel terus menggempur puluhan target di seluruh wilayah Gaza, termasuk rumah tempat tinggal warga Palestina. Setidaknya sepuluh warga Palestina, termasuk komandan senior Hamas Ahmed al-Ja’bari dinyatakan tewas.
Namun, di luar dugaan, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner menyatakan dukungannya kepada Israel untuk menyerang Gaza.
Selain itu, Presiden AS Barack Obama juga telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu (14/11). Obama menegaskan dukungan AS untuk Israel –yang ia sebut hak untuk membela diri –  menurut Gedung Putih.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB bertemu dalam pertemuan darurat tertutup untuk membahas serangan Israel terhadap Gaza, Reuters melaporkan

Friday, November 9, 2012

Penyanyi R&B Miss Jojo Tak Menyesal Jadi Muslimah

Lebih dari empat tahun lalu, Josiane Uwineza membuat keputusan yang mengubah hidupnya: ia masuk Islam.
Penyanyi, yang dikenal dengan nama panggung Miss Jojo tersebut menegaskan keputusan dirinya untuk masuk Islam tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, dia telah mempelajari agama Islam untuk waktu yang lama dan sebagai seorang wanita, ia percaya Islam menawarkan nilai-nilai terkuat dalam iman.

Tapi begitu dia masuk Islam, segala sesuatu di sekelilingnya berubah. Sebagian besar penggemar menerima berita ini banyak yang skeptisis, menuduh dia masuk Islam untuk menyenangkan manajernya yang juga kekasihnya.

Namun penyanyi, yang mengubah namanya dari Josiane menjadi Iman, menegaskan bahwa memilih Islam adalah hal terbaik yang pernah dilakukannya.

“Saya tidak menyesal dalam hal ini,”ujarnya. “Meskipun semua pandangan negatif terhadap saya telah dihadapi sejak saya memeluk Islam, seluruh hidup saya telah berubah menjadi lebih baik. Saya telah berurusan dengan setiap situasi stres dengan tenang dan damai. Saya telah menemukan kekuatan batin baru dari agama saya,” kata Miss Jojo, 28 tahun.

Bintang “Siwezi enda” itu mengatakan keputusannya untuk masuk Islam atas keinginannya sendiri dan pacarnya hanya memainkan peran pendukung.

“Jujur, pacar saya tidak pernah meminta saya untuk masuk Islam tetapi orang-orang akan selalu mengatakan apa yang ingin mereka katakan,” kata Miss Jojo.

Lahir di Bugesera, provinsi timur Rwanda, Miss Jojo memegang gelar Bachelor of Arts dalam bahasa Inggris dari Universitas Nasional Rwanda.

Dia adalah artis R & B terkenal dan telah memenangkan penghargaan musik bergengsi lokal dan regional termasuk tahun 2007 National University of Rwanda Rector Excellence Award 2007, Best Female Artist dan PAM Awards 2008, Best Rwandan Female Artiste.

Selain karir musiknya, penyanyi Afrika ini terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
“Saat ini saya bekerja pada sebuah proyek untuk meningkatkan kesadaran HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak muda, serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam program-program pembangunan nasional,” kata Miss Jojo.

Peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi Justru Inginkan Tentara 'Membereskan' Rohingya

Pemimpin oposisi Myanmar yang Aung San Suu Kyi, berseru kepada pemerintah Myanmar untuk mengirim lebih banyak tentara ke negara bagian Rakhine yang mengalami kerusuhan etnik. Padahal, selama ini konflik terjadi juga karena keterlibatan pihak militer.
 
Dikutip laman radioaustralia.net.au, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu, yang dikritik karena tidak mengecam khusus perlakuan terhadap kaum Muslim Rohingya, menyerukan diakhirinya kerusuhan.
Suu Kyi mengeluarkan sebuah statement yang mengatakan, semua pihak bertanggung-jawab untuk menghormati hak asasi manusia (HAM).


Sebelum ini Suu Kyi pernah dikritik banyak pihak karena berdiam diri ketika ratusan ribu orang Muslim menjadi korban kekerasan.

Pemimpin yang akrab dengan penjara rumah itu pernah menyatakan bahwa dirinya tidak mau berbicara karena dia tidak ingin menggunakan "kepemimpinan moral" dalam  sikap politiknya.

"Saya mendukung toleransi, tapi bukan berarti seseorang harus bertindak karena dorongan moral dalam kepemimpinannya. karena banyak aspek lain yang menyebabkan suatu konflik bisa terjadi," ujarnya seperti dilansir BBC (04/11/2012).

Puluhan orang telah tewas dan lebih dari 100.000 menjadi pengungsi dalam kerusuhan antara etnik Rakhine yang Budhist dan kaum Rohingya yang Muslim sejak Juni.

PBB melukiskan Rohingya sebagai salah-satu minoritas paling tertindas di dunia.

Puluhan-ribu orang yang rumahnya dibakar kini menghuni kamp-kamp sementara di Rakhine, dan banyak lainnya mencoba meninggalkan tempat itu dengan kapal.

Bangladesh masih mencari 50 orang yang hilang setelah sebuah kapal yang membawa pencari suaka Rohingya menuju Malaysia tenggelam minggu ini.

Sebuah lembaga advokasi Kristen, Christian Solidarity Worldwide (CSW) telah menuduh pihak keamanan Myanmar  sengaja ”berkolusi dengan massa, yang menyerang, membunuh dan menangkap warga Rohingya”. Bahkan telah menangkapi  ulama Muslim,  katanya dikutip  ucanews.com, Jumat (02/11/2012).

Karenanya, CSW mendesak masyarakat internasional untuk menekan pemerintah untuk mengizinkan pengamat internasional dan bantuan kemanusiaan ke daerah bencana tersebut.

“Aksi internasional dan bantuan adalah kebutuhan mendesak untuk mengakhiri kekerasan ini,” kata Johnston. Krisis itu menimbulkan “ancaman serius bagi perdamaian dan demokratisasi” di Myanmar, tambahnya.*

Habisi Aktivis Islam, Densus 88 Ciptakan Instabilitas Keamanan NKRI

Aparat Densus 88 telah bertindak ngawur dengan menghabisi para aktivis Islam dengan tuduhan terlibat terorisme.

Aksi Densus 88 itu akan memunculkan balas dendam. Masyarakat akan bertindak anarkis terhadap anggota Polri, khususnya Densus 88.

Penegasan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) M Ilyas kepada itoday, Selasa (6/11/2012). “Perilaku Densus 88 yang ngawur ini harus dipertanggungjawabkan,” tegas Ilyas.

Menurut Ilyas, tindakan ngawur Densus 88 terhadap aktivis Islam telah mengancam ketenangan NKRI. “Perilaku Densus 88 yang asal menembak dan mengambil paksa orang-orang yang diduga teroris tanpa disertai bukti, akan mengancam ketenangan NKRI,” tandas Ilyas.

Terkait dengan aksi ngawur itu, Ilyas mendesak Komisi III DPR RI memanggil Kapolri untuk dimintai pertanggungjawabannya atas tindakan yang telah dilakukan Densus 88 tersebut. “Komisi III mesti memanggil Kapolri untuk meminta tanggung jawab anak buahnya yang ngawur,” kata Ilyas.

Ilyas juga mengingatkan, tindakan Densus 88 yang ngawur dengan menghabisi para aktivis Islam dengan tuduhan terlibat terorisme akan memunculkan balas dendam. “Tindakan yang ngawur itu bisa menyebabkan masyarakat balas dendam dan bertindak anarkis terhadap anggota Polri atau Densus 88,” ungkap Ilyas.
Diberitakan sebelumnya, aparat Densus 88 telah menembak mati terduga “teroris” Kholid di kawasan Kayamanya, Poso. Menurut informasi masyarakat, Kholid ditembak tanpa perlawanan, karena almarhum baru pulang dari masjid usai menjalankan shalat Subuh, Sabtu (3/11/2012). Selain menembak Kholid, Densus 88 menangkap Ustadz Yasin usai shalat subuh di masjid yang sama dengan Kholid.


Pihak kepolisian menyatakan, Kholid ditembak mati karena berusaha melawan aparat saat akan ditangkap. Bahkan Kholid dikatakan sempat melemparkan bom pipa kepada petugas–satu hal yang dibantah oleh warga sekitar yang langsung melihat kejadian. (itoday)

Monday, November 5, 2012

Densus 88, Wajah Asli 'Detasemen Yesus' ?

Oleh: Nuim Hidayat

TRAGEDI Ambon hanya terpaut tiga tahun dengan bom Bali. Tragedi Ambon terjadi pada 19 Januari 1999, sedangkan Bom Bali pada12 Oktober 2002. Polisi dari Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88) hanya mengobrak-abrik jaringan Bom Bali dan tidak pernah menelusuri dan mendetailkan “Jaringan Kristen Radikal” yang menjadi menyebab tragedi Ambon.

Banyak penjelasan yang cukup bisa jadi alasan, bahwah dengan “memburu” jaringan “Islam Radikal” bisa mengalirkan uang.

Seorang sumber penting bercerita, bagaimana anggota-anggota Densus 88 kini hidupnya dikenal makmur. Rumah bagus disediakan dan bonus-bonus selalu mengalir. Karena nampaknya pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau BPK seolah tidak ada yang ‘berani’ untuk memeriksa keuangan Densus. Atas nama ‘pemberantasan terorisme’ seolah-olah semua sah dilakukan. Apalagi cuma pat gulipat uang, penghilangan nyawa beberapa orang yang masih ‘terduga teroris’ tidak ada yang berani menggugat sampai ke pengadilan.

Kita semua masih ingat, saat pertama kali diluncurkan, mantan Kapolri Dai Bachtiar menyatakan, polisi menerima dana dari pemerintah Bush 50 juta dolar. Berdasarkan data dari Human Right Watch, ketika Densus pertama kali dibentuk 2002, mendapat dana 16 juta dolar.

Tahun 2001, polisi juga mendapat dana untuk pemberantasan terorisme sebesar 10 juta dolar. Dana yang diberikan pemerintah AS kepada Densus ini diperkirakan tiap tahun meningkat. Untuk pemberantasan terorisme di seluruh dunia ini, tahun 2007 AS mengeluarkan dana sebesar 93 milyar dolar dan tahun 2008 sebesar 141 milyar dolar. (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=G3yjS_J59vk).

Peristiwa penembakan ‘terduga teroris’ beberapa bulan lalu, kini juga tak ada kelanjutannya. Tidak ada satu lembaga pun –termasuk mereka yang aktif dalam gerakan HAM- mempersoalkan penembakan tanpa proses pengadilan itu, serius ke pengadilan. Kini Densus 88 digugat oleh Tim Pengacara Muslim, karena menangkap sembarangan anak-anak muda.

Tiga terduga teroris yang ditangkap Densus baru-baru ini, yakni David Ashari, Herman Setyono, dan Sunarto Sofyan, mengaku kepada TPM bahwa mereka dijebak oleh seseorang bernama Basir yang dikenal melaluiFacebook.

"Dua anak saya mengenal Basir dari Facebook sekitar enam bulan yang lalu," kata Maryam ibu David dan Herman, dua kakak beradik yang dibekuk di Palmerah Barat. Maryam akahirnya meminta bantuan tim pengacara Muslim pimpinan Achmad Michdan SH di kantornya, Jalan Pinang 1, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Entah apa maksud Densus menangkap anak-anak muda yang baru ikut pengajian selama 6 bulan. Bila tuduhan polisi atau Densus memang benar mereka mau meledakkan beberapa tempat –seperti diterangkan polisi—Densus harusnya memaparkan data-datanya secara kongkrit, tidak main duga-duga. Bila hal seperti ini terus terjadi, maka bisa dibenarkan pendapat banyak ahli bahwa ‘terorisme’ kini hanya proyek untuk mendapatkan fulus dari Amerika (dan menjelekkan citra Islam).

RMS dan Gerakan Papua Merdeka
Selalu menjadi pertanyaan penulis, kenapa Jaringan Kristen Radikal di Ambon tidak pernah dijelaskan atau diobrak-barik oleh kepolisian atau Densus. Penulis terkenang dengan peristiwa beberapa hari setelah tragedi Ambon 19 Januari 1999. Saat itu penulis menghadiri jumpa pers yang dilakukan oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), di Jalan Salemba. Penulis kala itu masih sebagai wartawan.

Tokoh-tokoh PGI dalam konferensi pers itu menyatakan bahwa tragedi Ambon adalah kesalahan dua belah pihak, baik umat Kristen maupun Islam. Mereka saling menyerang. Mendengar pernyataan tokoh PGI saat itu, penulis langsung angkat tangan waktu sesi tanya jawab.

Pernyataan penulis kala itu adalah; Apakah mungkin kaum Muslim Ambon menyerang lebih dulu, bukankah saat itu mereka lagi merayakan Idul Fitri? Bukankah yang lari dan pergi berbondong-bondong ratusan atau ribuan, naik kapal dan sebagainya orang-orang Islam? Mungkinkah penyerang kemudian melarikan diri sebagaimana dapat dilihat di media TV? Beberapa teman wartawan Muslim ‘mendukung’ saya dengan pertanyaan itu.

Tokoh PGI itu nampaknya nggak mau kalah argumen. Ia tetap menyatakan yang terjadi di Ambon adalah saling serang. Ia menyatakan bahwa ada pengungsi-pengungsi Kristen dengan kapal-kapal kecil dan tidak diliput media massa, katanya.

Bisa bayangkan apa yang terjadi di Ambon bila mujahidin-mujahidin dari seluruh pelosok tanah air tidak berangkat ke sana (Maluku dan Poso). Beberapa kelompok yang ingin seperti Kompak Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dari Laskar Jihad, dari ormas-ormas Islam di Jakarta, Solo, Bandung dan lain-lain seluruh pelosok Nusantara. Tentu Ambon akan seperti Timor Timur yang mudah direkayasa untuk lepas dari Indonesia.

Saat itu kebetulan penulis juga mendapat kesempatan wawancara dengan Prof Bilveer Singh, ahli politik dari National of Singapora University. Bilveer Singh intinya menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan bahaya dan ada fihak-fihak yang menginginkan ‘The End Of Indonesia’. Yakni pihak luar bekerjasama dengan fihak dalam negeri Indonesia menginginkan Indonesia terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil. Maluku sendiri. Irian sendiri. Timor Timur sendiri, Kalimantan sendiri dan seterusnya.

Prof Bilveer Singh ini menarik. Ia menyukai Presiden Habibie saat itu dan tidak menyukai Jendral LB Moerdani. Pandangan politiknya terhadap Indonesia sering jujur dan cukup obyektif. Misalnya, ketika tokoh-tokoh Kristen/Katolik di Indonesia dan Barat, menyatakan terjadi Islamisasi di Timor Timur, ia menulis buku tebal tentang Timor Timur. Ia menyatakan dalam bukunya bahwa yang terjadi di Timtim adalah “Katolikisasi” bukan “Islamisasi”.

Perlunya Mengenang Tragedi Ambon
Bila pemerintah dan warga Australia dan Amerika rajin mengadakan perayaan-perayaan tragedi WTC dan Bom Bali, umat Islam mestinya juga terus mengenang tragedi Ambon tiap tahunnya. Untuk mengenang tragedi ini, berikut kutipan penuturan dari KH Abdul Aziz, Imam Besar Masjid al Fatah Ambon tentang awal mula tragedi yang dimotori oleh tokoh-tokoh Kristen Radikal itu :

“Kejadian Idul Fitri berdarah di Ambon bukan karena umat Islam di Batu Merah memeras sopir angkot yang bernama Yopie. Itu berita yang salah yang dilansir, oleh banyak mass media. Yang benar adalah diawali dengan pembakaran perkampungan umat Islam di kampung Waylete oleh umat Nasrani dari Hative Besar. Itu terjadi pada 14 November (1998). Kampung Waylette dihuni oleh orang BBM (Bugis, Buton, Makasar). Mereka tidak senang kepada umat Islam, sehingga mereka membakar perkampungan tersebut dan mereka merasa kurang puas dengan hanya membakar kampungnya, lalu dirusaknya masjid di kampung Waylete tersebut….”

Pada 10 Ramadhan (sebelum Idul Fitri 1999 –pen), saya sempat memberikan ceramah di Maluku Tengah. Sepulangnya dari sana saya melihat banyak truk yang berisikan parang-parang. Pada waktu itu saya tidak mempunyai pikiran suuddzon, saya hanya berfikir bahwa parang-parang dibawa dari pulau Seram ke Ambon untuk dijual. Yang melihat itu bukan hanya saya saja, banyak saksi mata lainnya yang melihat pemandangan sehari-hari seperti itu.

Kemudian pada 17 Ramadhan saya memberikan ceramah di Kairatu dan Jomba. Sepulang dari sana saya melihat mereka sudah membawa parang-parang tersebut ke mobil truk masuk ke Ambon. Kemudian di bulan Ramadhan (itu) saya mengajar di PLN Ambon setiap Selasa dan Jumat. Saya dijemput oleh sopir yang beragama Nasrani, lalu saya berkata kepada sopir itu, Alhamdulillah bulan puasa keadaannya tenang, aman dan tidak ada kerusuhan apa-apa. Tapi sopir itu menyatakan, inikan bulan puasa pak Kiai, tapi setelah bulan puasa belum tentu aman…” (lihat buku Ambon Bersimbah Darah, Hartono Ahmad Jaiz, Dea Press).

Gerakan tokoh-tokoh ‘Kristen Radikal’ ini terus berlangsung. Di media kita lihat, hampir tiap tahun mereka selalu mengibarkan bendera RMS. Republik Maluku Selatan (RMS) ini didirikan oleh Dr Soumokil pada 24 April 1950. Gerakan ini mensahkan adanya penggunaan kekerasan untuk perjuangannya dan gerakan ini menginginkan terus berlangsungnya dominasi Kristen di Ambon/Maluku.

Sedangkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah gerakan separatis Papua yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Seperti RMS, gerakan ini terus menerus menggalang dukungan baik dalam negeri maupun luar negeri untuk melancarkan gerakannya. OPM mempunyai pendukung-pendukung baik di Inggris, Amerika, Australia dan lain-lain.

Setelah tahun 1969, Papua/Irian bergabung dengan Indonesia, dua tahun kemudian tepatnya 1 Juli 1971, Nicolaas Jouwe dan dua komandan OPM yang lain, Seth Jafeth Raemkorem dan Jacob Hendrik Prai menaikkan bendera Bintang Fajar dan memproklamasikan berdirinya Republik Papua Barat. Kini mereka tiap tahun juga terus menarikkan benderanya sebagai lambang terusnya gerakan mereka. Dan nampaknya tokoh-tokoh ‘Kristen Radikal’ di sana pun mendukung gerakan ini secara diam-diam. Nampaknya mereka ingin meniru jejak Timor Timur yang dengan bantuan tokoh-tokoh gereja di sana, khususnya Uskup Bello, akhirnya lepas dari Indonesia.

Walhasil, bila Densus 88 begitu semangat ‘memberangus terorisme’ kenapa Densus tidak berani mengobrak-abrik jaringan RMS dan OPM? Karena itu wajar bila umat Islam curiga terhadap Densus dan timbul opini-opini di kalangan umat. Densus bahkan diplesetkan sebagian orang dengan istilah ‘Detasemen Yesus’.

Benar atau tidak, Densus harus membuktikan. Setidaknya bisa berlaku adil terhadap gerakan-gerakan ‘Kristen Radikal’, sebagaimana cara mereka memperlakukan kalangan Muslim selama ini. Jika tidak, umat Islam akan semakin meyakini dan membenarkan isu selama ini, bila kehadirannya “disengaja” sebagai agenda untuk memperburuk citra Islam. Wallahu aziizun hakiim.*

Thursday, November 1, 2012

Perlunya Mewaspadai Fitnah Intelijen

Masyarakat dan wartawan perlu kritis dalam memberitakan masalah-masalah terorisme. Isu-isu terorisme yang terus berkembang hingga hari ini tak lepas rekayasa yang dibuat oleh operasi Intelijen. Menurut pengamat intelijen Mustofa B. Nahrawardaya, gerakan-gerakan terorisme dengan isu-isu negara Islam saat ini justru banyak ditunggangi oleh “orang-orang buatan”.

“Ide mendirikan negara Islam itu baik, tapi mendirikan negara Islam dengan kekerasan, membunuh yang tidak bersalah, merampok, menipu ini jelas sesuatu yang dikendalikan intelijen untuk menjerumuskan umat Islam,” jelas Mustofa B. Nahrawardaya kepada hidayatullah.com, Kamis, (01/10/2012).

Saat ini kelemahan masyarakat indonesia dan para wartawannya adalah mereka gampang percaya dengan pers rilis dari pihak aparat, khususnya dari Densus 88, BNPT hingga kepolisian. Padahal seharusnya setiap informasi itu diinvestigasi dulu kebenaran dan fakta lapangannya.

Selain itu, Musthofa juga menjelaskan adanya perpecahan di tubuh Densus.

“Saya menganalisa saat ini diinternal Densus dan kepolisian terjadi konflik kepentingan antara aparat Muslim dan aparat non Muslim, banyak juga pihak kepolisian beragama Islam yang tahu sandiwara intelijen namun mereka justru dikebiri bahkan dijadikan korban,” jelas Narawardaya.

"Saya melihat polisi-polisi di Solo yang ini catatan recordnya mereka orang-orang yang sholat dan ibadahnya rajin, ini juga keganjilan yang harus diinvestigasi,” tambahnya.

Karena Itu Mustofa menilai, gerakan-gerakan yang ingin menegakkan negara Islam saat ini justru dikhawatirkan lebih banyak telah disusupi orang-orang buatan (baca:intelijen). Orang-orang buatan ini menggagas perlawanan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memanfaatkan emosi umat atas kerinduan pada Syariat Islam.

Namun, ketika umat sudah bergerak dan terjebak pada cara kekerasan, orang-orang buatan ini justru menghilang dan selalu dalam kondisi aman tidak ditangkap. Padahal di lapangan mereka sangat frontal dan radikal dalam memprovokasi dengan isu-isu jihad dan anti NKRI.

Terlebih, doktrin-doktrin takfir (mengkafirkan sesama muslim) yang dikembangkan membuat umat Islam mudah terpecah belah. “Hati-hati kita umat Islam jangan mau dipecah belah oleh operasi
intelijen ini,” tambahnya lagi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More