Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Tuesday, December 25, 2012

Tokoh Muhammadiyah Bekasi Minta Warga Tambun Waspadai Provokasi Pendeta HKBP


Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bekasi mengingatkan umat Islam warga Jejalen Jaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, agar waspada dan tidak terpancing provokasi murahan Pendeta HKBP.

Imbauan itu disampaikan KH Agus Trisundani M.HI, Penasihat PDM Kabupaten Bekasi, menanggapi insiden penganiayaan Pendeta HKBP Philadelphia Bekasi, Palti Panjaitan terhadap Ustadz Abdul Aziz.

Sebagai langkah hukum, Agus setuju dengan tindakan prosedural Forum Komunikasi Umat Islam (FKUI) Warga Jejalen Jaya yang mempolisikan Pendeta HKBP. “Laporkan kepada pihak yang berwajib untuk mengusut Pendeta Palti, karena termasuk kriminal. Kalau polisi tidak bertindak, maka umat Islam harus beraksi sesuai koridor yang berlaku,” ujarnya kepada voa-islam.com, Selasa (25/12/2012).

Terhadap ulah nekad Pendeta Palti yang berani menganiaya Ustadz Abdul Aziz secara terbuka di hadapan aparat kepolisian, para jemaat dan warga setempat, Agus menengarai insiden itu sebagai tindakan provokatif murahan. Menurutnya, tindakan itu biasa dilakukan di berbagai daerah untuk memancing amarah warga agar membalas dengan tindakan anarkhis, dalam rangka menggalang dukungan internasional terhadap gereja yang merasa dizalimi.

“Umat Islam harus waspada. Jangan terprovokasi, karena bisa saja ulah pendeta itu untuk memcancing umat Islam agar berbuat anarkhis. Kalau umat Islam anarkhis, maka di dunia internasional akan jadi tertuduh sebagai umat yang tidak toleran. Itu adalah strategi murahan para pendeta untuk menggalang dukungan internasional,” tegasnya.

Malam Natal Pendeta HKBP Bekasi Hajar Ustadz


Slogan kasih yang selama ini digembar-gemborkan para pendeta Kristen harus ditinjau ulang, setidak-tidaknya di Kabupaten Bekasi. Pasalnya, Pendeta HKBP Philadelphia Palti Panjaitan mempertontonkan adegan anarkhis menganiaya ustadz. Ironinya, tindakan tidak manusiawi itu dilakukan dalam persiapan kebaktian pada malam Natal di hadapan jemaat, aparat keamanan dan ratusan warga Muslim.

Insiden memalukan ini terjadi Senin malam (24/12/2012) di RT o1/RW 04 desa Jejalen Jaya, Tambun Kabupaten Bekasi, sekitar 200 meter dari lahan kosong milik HKBP Philadelphia.

Sekira jam 7 malam, Pendeta Palti dan beberapa jemaatnya pulang dari lahan kosong milik HKBP Philadelphia untuk persiapan kebaktian Natal di pinggir jalan depan lahan kosong yang sudah disegel tersebut.

Mendengar rencana kebaktian liar di pinggir jalan, seribuan warga turun ke jalan melakukan protes ke jalan yang akan dilalui rombongan HKBP. Massa yang berbaur dengan puluhan aparat keamanan dari Polsek Tambun dan Polres Kabupaten Bekasi.

Sebagai tokoh masyarakat, Ustadz Abdul Aziz turun ke jalan untuk meredakan massa agar tidak terjadi tindakan anarkhis. Ustadz Aziz memberikan instruksi kepada kerumunan massa agar memberikan jalan supaya Pendeta Palti bisa pulang meninggalkan lokasi.

“Saudara-saudara, tolong minggir. Ayo minggir, ayo minggir biarkan pendeta lewat!” ujarnya dengan sabar kepada ratusan warga.

Meski diperlakukan dengan sangat baik, anehnya Pendeta Palti justru naik pitam. Dengan tergesa-gesa, pendeta ini turun dari kendaraan dan berjalan menghampiri Ustadz Aziz. Tanpa basa-basi, dengan sangat emosi Pendeta Batak ini menghujamkan beberapa kali bogem mentah ke arah Ustadz Abdul Aziz, tepat mengenai bagian ulu hatinya.

“Bangsat lu!!” teriaknya ketika memukul sang ustadz. Tindakan premanisme ini dilakukan pendeta dengan sangat emosi, tak peduli disaksikan langsung oleh Kapolsek Tambun Selatan Kompol Andri Ananta dan Pak Sigit, anggota Provos Polres Kabupaten Bekasi.

Ustadz Abdul Aziz belum sempat membalas, Kapolsek Tambun Selatan dan warga segera memisahkan keduanya.

Pasca insiden itu, Ustadz Aziz mempolisikan Pendeta HKBP ke Polres Kabupaten Bekasi, dengan laporan nomor: LP/1395/K/XII/2012/SPK/Resta Bekasi. Tak sendirian, Ustadz Aziz didampingi pengacara, beberapa saksi dan pengurus Forum Komunikasi Umat Islam (FKUI) Warga Jejalen Jaya.

Abdul Aziz meluruskan berita salah kaprah yang selama ini beredar bahwa warga tidak toleran terhadap jemaat gereja. Pasalnya, di desa Jejalen belum berdiri gereja. Yang ada hanyalah lahan kosong milik gereja yang belum dibangun gereja apapun. “Versi mereka ingin berkebaktian di gereja. Tapi mana ada gerejanya? Lihat aja lokasinya, yang ada hanya tanah kosong!” tegasnya kepada voa-islam.com usai melakukan BAP di Bekasi. “Mereka biasa menggelar kebaktian di pinggir jalan di depan tanah kosong itu,” tambahnya.

Abdul Aziz meluruskan berita salah kaprah yang selama ini beredar bahwa warga tidak toleran terhadap jemaat gereja. Pasalnya, di desa Jejalen belum berdiri gereja. Yang ada hanyalah lahan kosong milik gereja yang belum dibangun gereja apapun. “Versi mereka ingin berkebaktian di gereja. Tapi mana ada gerejanya? Lihat aja lokasinya, yang ada hanya tanah kosong!” tegasnya kepada voa-islam.com usai melakukan BAP di Bekasi. “Mereka biasa menggelar kebaktian di pinggir jalan di depan tanah kosong itu,” tambahnya.

Selain itu, Abdul Aziz membantah jika warga Jejalen Jaya tidak ingin berdampingan dengan pemeluk agama lain. Warga hanya keberatan jika kampungnya dijadikan gereja oleh orang dari luar. “Jemaat dia juga bukan pribumi HKBP di Jejalen Jaya. Jemaat yang biasa datang kesini adalah orang luar dari Pondok Ungu, Klender dan lain-lain yang dikerahkan untuk meramaikan Jejalen Jaya. Di sini memang ada beberapa warga Kristen pendatang, tapi mereka justru kebaktian di gereja di luar Jejalen Jaya,” tandasnya.

Menanggapi insiden anarkhis Pendeta HKBP tersebut, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi mendukung langkah hukum yang ditempuh Ustadz Abdul Aziz.

“Karena Pendeta Palti sudah melanggar kepatutan dan mengarah kriminal, maka harus ada upaya hukum dari pihak korban agar permasalahan ini tidak melebar kepada konflik horisontal,” ujar Sudarno Soemodimedjo kepada voa-islam.com, Selasa (25/12/2012).

Kepada umat Islam Jejalen Jaya, Sekretaris FKUB Kabupaten Bekasi itu mengimbau agar tidak terprovokasi oleh anarkhisme Pendeta Palti. “Masyarakat muslim jangan terpancing dengan permainan murahan Pendeta Palti, terkecuali jika mereka menghina Islam,” tegasnya. “Kedua belah pihak, baik warga Jejelen maupun HKBP Philadelphia harus menahan diri agar tidak terjadi konflik horisontal,” tambahnya.

Sebagaimana diberitakan voa-islam.com terdahulu, kasus penolakan berdirinya Gereja HKBP Philadelphia ini dilakukan oleh warga sejak tahun 2009. Warga menolak keberadaan gereja Batak ini karena proses awalnya dilakukan dengan tipuan tanda tangan warga. Warga diminta tanda tangan diatas kertas dengan blangko kosong dan menyerahkan photo copy KTP. Katanya untuk mendapatkan bantuan dana BLT (bantuan langsung tunai), tapi disalahgunakan sebagai berkas mengurus perizinan pendirian Gereja.


Merasa dibohongi dan dibodohi oleh oknum HKBP, 256 warga yang menandatangi blangko tersebut telah melayangkan surat pernyataan mencabut tanda-tangan blangko yang disalahgunakan tersebut.




Friday, December 21, 2012

Paus : "Penghitungan Kelahiran Yesus Keliru"


ROMA (SALAMPOS): Pemimpin umat Katolik Roma sedunia Paus Benediktus XVI menyampaikan pernyataan mengejutkan tentang kelahiran Yesus Kristus.

Laman Telegraph melansir pernyataan Paus bahwa perhitungan tentang kelahiran Yesus yang selama ini diyakini adalah keliru. Yesus lahir beberapa tahun lebih awal dari yang selama ini diyakini.

Menurut Paus, kalender Masehi yang digunakan untuk membuat perhitungan hari kelahiran Yesus itu tak tepat.

Ia mengungkapkan bahwa kesalahan tersebut dilakukan oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus di abad ke-6. Demikian diungkapkan Paus melalui buku berjudul “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, yang diluncurkan, Rabu (21/11/2011).

“Penghitungan awal kalender kami, yang didasarkan pada kelahiran Yesus, dibuat oleh Dionysius Exiguus. Yang ternyata telah membuat kesalahan dalam penghitungannya, dimana mengalami perbedaan sekitar beberapa tahun,” tulis Paus dalam bukunya, seperti dilansir The Telegraph, Kamis (22/11/2012).

“Tanggal kelahiran Yesus sebenarnya lebih cepat beberapa tahun,” ujar Paus menambahkan.

Dionysius Exiguus atau ‘Dennis the Small”, selama ini diberi gelar sebagai ‘penemu’ kalender modern dan konsep era Anno Domini atau yang dikenal sebagai AD.

Tak hanya itu, ia juga dikenal telah menciptakan sistem baru untuk membagi jarak pada kalender saat itu, yang masih berpatokan pada tahun saat dimulainya pendudukan Kekaisaran Roma, Diocletian.

Kekaisaran itulah yang menganiaya penganut Kristen, sehingga sistem penghitungannya diganti dengan sistem yang baru dengan didasarkan pada kelahiran Yesus.

Kalender yang diciptakan Dionysius itulah yang kemudian diberlakukan secara luas di wilayah Eropa. Setelah diadopsi oleh seorang biarawan bernama Venerable Bede.

Meski demikian, bagaimana cara Dionysius menghitung kelahiran Yesus juga tidak jelas.

Isu soal salah penghitungan hari lahir Yesus sebenarnya bukanlah hal baru. Terutama di kalangan akademisi dunia. Sebelumnya banyak sejarawan yang meyakini, bahwa Yesus sebenarnya lahir antara 7 Masehi hingga 2 Masehi atau antara 6 Masehi sampai 4 Masehi.

Permasalahan itulah yang kembali diangkat oleh Paus melalui buku terbarunya. Kitab Injil sendiri tidak menyebutkan secara mendetil tanggal kelahiran Yesus.

Dionysius diduga melakukan penghitungan berdasarkan usia Yesus memulai pelayanan, dan fakta ketika Yesus “dibaptis” saat masa Kekaisaran Tiberius.

“Tidak ada referensi tentang kapan Yesus lahir di dalam Alkitab, kita semua tahu Yesus lahir saat masa kepemimpinan Herodes, yang meninggal sebelum tahun 1 AD. Telah disimpulkan sejak lama bahwa Yesus lahir sebelum 1 AD, namun tak ada yang tahu pasti,” ujar Profesor Penafsiran Kitab Suci pada Oriel College, Oxford University.

Dalam bukunya, Paus juga mengangkat soal kontroversi lainnya. Seperti soal lokasi kelahiran Yesus, yang selama ini diyakini di sebuah kandang ternak tradisional. Kemudian juga soal tempat kelahiran Yesus, yang diyakini lahir di Nazareth bukan di Bethlehem.

Sebenarnya, soal kekeliruan Yesus yang dalam Islam adalah Nabi Isa ‘Alaihissalam ini, tak hanya pada penghitungan tahun, tapi juga bermasalah dalam tanggal dan bulannya.

Sejumlah sejarawan mengungkapkan ditemukannya dokumen yang menyebut Isa as lahir saat panen tiba, dimana digambarkan kicau burung yang ramai. Itu sebagai bantahan, bahwa mustahil Yesus lahir pada bulan Desember, karena, itu adalah saat musim dingin.

Melihat dokumen itu, Yesus diprediksi lahir antara bulan Maret, April, Mei dan Juni. Sedang 25 Desember adalah kepercayaan kaum pagan Yunani-Romawi kuno sebagai tanggal kelahiran anak dewa matahari.

Gereja Barat, memang, merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, sementara Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut. Lucunya, di tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II sendiri telah mengumumkan kepada umatnya jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember.

Kata Paus, tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan tengah-musim dingin kaum pagan (penyembah berhala) Romawi kuno. Saat itu umat Katolik gempar. Padahal banyak sejarawan telah menyatakan bahwa 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan kepercayaan masyarakat Yunani kuno (yang mempercayainya) sebagai tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain.

Kisah yang sesungguhnya tentang hari Natal ini juga bisa kita simak dari pernyataan Pastor Herbert W. Amstrong, sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember.

Yang banyak orang tidak tahu, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaruan Osirian di Mesir kuno. Lalu, jika kaum Kristiani merayakan 25 Desember sebagai “hari kelahiran Yesus”–yang padahal diakui Paus Yohanes Paulus II sendiri sebagai perayaan kaum Pagan atas dewa mereka–maka, itu pada hakikatnya adalah merayakan “hari kelahiran Dewa Matahari”. Meskipun memang, terasa aneh, “tuhan” (Yesus) dan dewa “lahir”, lalu “dirayakan” kelahirannya.

Kebohongan Media Sekuler Seputar Penangkapan Ali Zainal

Foto : Pelantikan Pengurus IST  (OSIS) 2012/2013 Ponpes Al Mukmin Ngruki

Terkait penangkapan Ali Zainal Abidin (20 tahun) seorang santri penghafal Al Qur’an yang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) El-Suchary Purbalingga oleh Densus 88 pada hari Ahad (16/12/2012) lalu, ustadz Hamim Sufyan selaku Humas Ponpes Al Mukmin Ngruki sangat prihatin dengan pemberitaan media yang begitu tendensius dan menyudutkan instansi lembaga pendidikan pondok pesantren.

“Ya, kita sangat prihatin dengan pemberitaan media yang begitu menyudutkan instansi semisal ponpes,” katanya kepada voa-islam.com di kantor Ponpes Al Mukmin Ngruki Sukoharjo pada Selasa siang (18/12/2012).

Menurutnya, apa yang diberitakan oleh beberapa media sekuler yang mengatakan bahwa Ali ditangkap di dalam Ponpes lalu mengaitkan dengan Al Mukmin Ngruki, tak lain hanya untuk menjelek-jelekkan instansi lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren.

“Yang kita lihat arahnya kesitu, untuk membentuk opini dan pencitraan buruk kepada pesantren. Kalau wartawan menulis bahwa Ali itu seangkatan dengan Farhan, maka saya katakan itu salah besar, sebab Ali itu seangkatan dengan Muchsin. Kalau ada lagi yang memberitakan bahwa Ali itu masih ada kaitannya dengan Ngruki, itu malah lebih salah besar lagi, pertama karena Ali sudah tidak ada kaitannya lagi dengan pondok (Ngruki, red.) dan yang kedua tidak ada wartawan yang bertanya langsung sama saya tentang hal itu,” paparnya.

Maka dari itu, Abah Hamim -sapaan akrabnya- berpesan agar media bisa lebih obyektif dalam memberitakan sebuah peristiwa khususnya jika hal itu berkaitan dengan kasus terorisme. Sebab, selama ini menurutnya, berita-berita yang muncul di media-media sekuler cenderung mendiskriditkan Islam dan umat Islam.

“Kalau bisa ya bersikap obyektiflah dalam memeberitakan tentang kasus terorisme ini. Jangan sampai ada upaya untuk membuat citra buruk kepada Islam dan umat Islam. Atau membentuk opini negatif dan mengarahkan sebuah kejadian terorisme kepada agama tertentu,” cetusnya.

Terakhir, Abah Hamim menyatakan bahwa sampai saat ini media Islam sudah cukup bagus perannya dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Meskipun dirinya juga mengakui bahwa masih banyak kekurangan.

“Sampai saat ini saya lihat cukup baguslah. Tapi juga kurang, sebab jangkauannya dalam lingkup tertentu saja. jadi kalau bisa media Islam lebih meningkatkan kwalitasnya dan pemberitaannya dalam menyampaikan informasi ke masyarakat,” pesannya.

Friday, December 14, 2012

Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam [3]

LB MORDANI, KADER JESUIT YANG MEMUSUHI ISLAM

Jika ‘Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam’ di bagian sebelumnya mengungkap sosok Ali Moertopo, di bagian ketiga ini menyingkap kader atau penerusnya Ali Moertopo, yaitu Benny Moerdani yang juga dikenal sangat memusuhi umat Islam.

Benny diduga berada di balik tragedi berdarah Tanjung Priok, 1984. Pada masanya, militer Indonesia pernah dilatih di Israel.

Raut wajahnya keras dan kaku. Terkesan angker dan tak bersahabat. Itulah Leonardus Benjamin “Benny” Moerdani, sosok jenderal militer pada masa Orde Baru yang dikenal sangat benci Islam dan kaum Muslimin.

Benny Moerdani adalah orang kepercayaan Ali Moertopo. Benny sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Moertopo untuk menggantikannya dalam menjalankan tugas mengawasi bahaya “ekstrem kanan”, yang tak lain adalah gerakan Islam.

Benny Moerdani lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Di kalangan Katolik, jenderal yang dikenal ahli intelijen ini sangat dibangga-banggakan. Benny bisa dibilang sebagai representasi kelompok Katolik yang mempunyai posisi penting dalam lingkaran militer dan kekuasaan Orde Baru pada masa lalu.

Sebagai kader Moertopo, Benny pernah diangkat menjadi wakilnya ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Ia juga termasuk sosok yang terlibat dalam pembentukan Centre for International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tank yang sangat dekat dengan Orde Baru, didukung oleh para birokrat Kejawen dan pengusaha etnik Cina yang saat itu membangun gurita dalam lingkar elit kekuasaan Orde Baru.

Di kalangan tentara Muslim, Benny Moerdani dikenal sangat tidak aspiratif terhadap kelompok Islam. Almarhum mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Ka-BAKIN), Letjend TNI Z.A Maulani pernah mengatakan, pada masa Benny Moerdani menjadi panglima ABRI, sangat sulit mendapatkan masjid atau mushalla di komplek dan barak-barak militer.

Keberadaan tempat ibadah umat Islam tersebut dikontrol begitu ketat. Bahkan, pada masa itu banyak tentara Muslim yang tidak berani mengucapkan “Asssalamu’alaikum” ketika berada di lingkungan militer.

Benny pernah melontarkan pernyataan kontroversial yang melarang umat Islam mengucapkan salam. Dalam sebuah rapat kabinet bidang Polkam, Jaksa Agung Ali Said pernah dibentak oleh Benny karena mengucapkan “salam” dalam rapat tersebut. “Indonesia bukan negara Islam, tak perlu ucapkan salam,” bentaknya saat itu.

Peristiwa pembajakan pesawat yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi kelompok jihad, juga digagalkan atas peran Moerdani. Ia terlibat dalam aksi pembebasan para sandera dan penangkapan orang-orang yang dianggap sebagai “teroris” atau “ekstrem kanan” ketika itu.

Pasca Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) yang diduga kuat melibatkan operasi intelijen Ali Moertopo, Presiden Soeharto memanggil Moerdani yang ketika itu sedang bertugas sebagai konsulat di KBRI Korea Selatan untuk datang menghadap.

Belakangan diketahui, pemanggilan Moerdani ke Jakarta oleh Presiden Soeharto adalah hasil lobi-lobi Ali Moertopo untuk menempatkan kader pentingnya di lingkaran presiden.

Dengan diantar oleh Moertopo, Moerdani kemudian bertemu Pak Harto. Setelah pertemuan, Moerdani kemudian diangkat oleh Soeharto sebagai Ketua G-1 Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan kepolisian. Selain itu Moerdani juga diperbantukan untuk BAKIN.

Karir militer Benny Moerdani terus melesat, meskipun ketika itu umat Islam mulai mencurigai sepak terjangnya yang sangat antipati terhadap aspirasi Islam.

Benny Moerdani dilibatkan dalam menangani intelijen Kopkambtib dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Intelijen, sebuah lembaga yang dikenal sangat angker dan ditakuti pada masa Orde Baru.

Para ulama, khatib, mubaligh dan aktivis Islam pernah merasakan bagaimana bengisnya lembaga ini dalam memosisikan Islam sebagai ancaman dan lawan. Moerdani bahkan diduga berada di balik perpecahan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga terbentuklah dua HMI: HMI Dipo dan HMI MPO.

Tahun 1983, ketika Benny Moerdani diangkat sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Yusuf, umat Islam makin khawatir dengan sepak terjangnya.

Moerdani kemudian melakukan berbagai upaya restrukturisasi secara drastis, dengan menempatkan tentara-tentara yang Nasrani dalam jajaran penting di militer.

Benny Moerdani juga dicurigai dalam menjegal karir para perwira ABRI Muslim. Tak heran, jika ada yang menyebut telah terjadi kristenisasi di tubuh ABRI di bawah kepemimpinan Benny Moerdani.

Dalam persepsi Benny Moerdani, semua gerakan Islam adalah ancaman, sebagaimana DI/TII pada masa lalu yang kemudian ditumpas.

Benny Moerdani yang pernah terlibat dalam operasi menumpas DI/TII dan PRRI/Permesta tidak bisa membuang persepsi negatif terhadap gerakan Islam, sehingga menjadikan Islam sebagai ancaman yang membahayakan keutuhan NKRI.

Berbeda dengan Ali Moertopo yang kerap pamer kekuasaan, Benny justru dikenal sebagai sosok yang misterius dan penuh rahasia. Meski sama-sama haus kekuasaan, Bennyi bermain “cantik” untuk menjalankan obesesinya tersebut.

Sebagai orang yang malang melintang di dunia intelijen, segala tindakan ia perhitungkan dengan matang dan sangat tertutup. Bahkan ihwal tentara yang sering kali di latih di Israel pun, pada masa Benny Moerdani tidak terungkap, tertutup rapat.

Di kalangan tentara Muslim, isu tentang militer yang dilatih di Israel pada masa Benny Moerdani sudah santer terdengar. Benny menyadari posisinya sebagai bagian dari kelompok minoritas di Indonesia. Itu membuanya sulit untuk menggapai puncak kekuasaan di republik ini.

Karena itu, dengan kelihaiannya ia berperan sebagai king maker, orang yang mempengaruhi pihak yang berkuasa. Kepada perwira kopassus di akhir tahun 1980-an Benny pernah berseloroh, “Buat apa jadi orang yang berkuasa, jika bisa dengan tanpa risiko kita mengontrol orang yang berkuasa.”

Karena itu, Benny membuat strategi agar orang yang berkuasa nanti, meskipun berasal dari kalangan Islam, namun bisa dengan leluasa ia atur.

Itulah yang menyebabkan ia menjegal habis-habisan langkah Soedharmono untuk menjadi wakil presiden, karena Sudharmono bukan sosok yang bisa ia atur, di samping, menurutnya, Soedharmono dekat dengan kalangan santri. Benny kemudian menjadikan Naro sebagai calon wakil presiden yang ia gadang.

Benny juga dikenal lihai dalam mendekati kelompok Islam yang pernah memendam kekecewaan dengan Masyumi. Ia melakukan politik belah bambu dengan mendekati kiai dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU), dan menginjak kelompok lain yang berseberangan dengan NU.

Pertentangan antara NU sebagai kelompok tradisionalis Islam dengan kelompok Masyumi sebagai santri modernis ia pertajam. Karenanya, Benny kerap bersafari dari pesantren ke pesantren NU dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk melakukan politik pecah belah tersebut.

Safari bersama dilakukan Benny dan Gus Dur di tengah kecaman umat Islam yang menuntut Benny bertanggung jawab dalam tragedy pembantaian umat Islam Tanjung Priok, di Jakarta pada 12 September 1984.

Saat peristiwa Priok, Benny sedang berada di Jakarta. Bahkan pada tengah malam usai tragedi pembantantaian, Benny sudah berada di lokasi kejadian.

Pada dini harinya ia langsung meluncur ke rumah sakit dan sempat menghitung jumlah mayat yang tergeletak di rumah sakit. Anehnya, sampai akhir hayatnya, Benny Moerdani sama sekali tidak tersentuh hukum dalam tragedi berdarah ini.

Leonardus Benny Moerdani meninggal di Jakarta, pada 29 Agustus 2004 dalam usia 72 tahun, karena menderita stroke. Kepergiannya mendapatkan penghormatan yang luar biasa di kalangan militer.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Bendera setengah tiang selama tujuh hari dikibarkan di lingkungan militer. Setelah Moerdani tiada, siapakah sosok intelijen anti Islam yang menggantikannya?






Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam [2]

ALI MOERTOPO, ARSITEK PEMBERANGUS GERAKAN ISLAM MASA ORDE BARU (2)
Untuk memuluskan langkah-langkah politik Islamophobia, kelompok militer anti-Islam yang dikomandoi oleh Ali Moertopo, oknum pengusaha etnik Cina, Serikat Jesuit, dan pejabat sekular-kejawen, mendirikan sebuah lembaga think tank bernama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 1 September 1971, bermarkas di Tanah Abang III, Jakarta Pusat.

Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani (penasihat kebatinan Soeharto) menjadi sosok yang berada di belakang CSIS. Lembaga ini kemudian membuat masterplan pembangunan Orde Baru yang sangat menguntungkan pemerintah, pengusaha etnik Cina dan kelompok Kristen.

Sementara umat Islam dianggap sebagai bahaya yang mengancam, yang bercita-cita mendirikan negara Islam. Mereka masih menjadikan isu “Darul Islam” sebagai jualan untuk memberangus gerakan Islam. Selain pula mewaspadai kebangkitan Islam politik yang pada masa lalu direpresentasikan melalui kekuatan Partai Masyumi.

Kelompok Kristen dan oknum pengusaha etnik Cina yang merapat ke militer, meyakinkan pemerintah dan tentara, bahwa jika umat Islam berkuasa, maka akan terjadi diktator mayoritas, dimana penegakan syariat Islam akan diberlakukan.

Pemerintah yang ketika itu mabuk kekuasaan dan tentara yang diindoktrinasi untuk mewaspadai ancaman terhadap kebhinekaan Pancasila, kemudian termakan isu tersebut, sehingga memposisikan umat Islam sebagai bahaya.

Agenda politik kelompok anti Islam ini berhasil menciptakan konglomerasi dan gurita bisnis antara penguasa dan pengusaha. Di antara jaringan bisnis tersebut adalah Pan Group milik Panlaykim dan Mochtar Riady, PT Tri Usaha Bakti milik Soedjono Hoemardani, Pakarti Grup milik Lim Bian Kie dan Panlaykim, dan Berkat Grup milik Yap Swie Kie.

Masuknya kekuatan konglomerat dalam lingkaran Orde Baru membuat rezim tersebut semakin kuat. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa Orde Baru dibangun oleh empat pilar kekuatan, yaitu ABRI, Birokrat, Golkar dan konglomerat.

Keempat pilar tersebut memainkan peran penting dalam memarjinalkan peran politik umat Islam saat itu. Kolaborasi rezim Orba dengan pengusaha Katolik/Cina di antaranya dengan membuat kebijakan yang memotong urat nadi ekonomi umat Islam dan menghidupkan kelompok kecil Cina keturunan.

Sentra-sentra ekonomi umat Islam seperti di Pekalongan, Solo, Pekajangan, Majalaya, dan lain-lain, dengan aneka kebijakan pemerintah dapat dikerdilkan.

Jaringan perbankan dan sektor keuangan lainnya juga berhasil mereka kuasai. Karena itu, ketika Orba berkuasa, gurita bisnis kelompok ini begitu perkasa dan dapat memengaruhi kebijakan pemerintah.

Siapa Ali Moertopo sesungguhnya?

Mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro mengatakan asal usul Ali Moertopo sangat gelap, sehingga banyak rumor yang beredar tentang sosoknya.

Kasman Singodimedjo, tokoh Islam yang pada zaman Soekarno aktif di militer mengatakan, Ali Moertopo adalah bekas intel tentara Angkatan Laut Belanda (Netherland Information Service) yang ditangkap Hizbullah di daerah Tegal, Jawa Tengah. Saat ditangkap, Ali Moertopo nyaris dibunuh. Ia kemudian dijadikan double agent oleh Hizbullah.

Versi lain, seperti diceritakan Adam Malik, Ali Moertopo adalah pendiri AKOMA (Angkatan Komunis Muda) yang berafiliasi pada partai Murba Alimin, yang berhaluan Sneevliet. Meski tidak percaya bahwa Moertopo bekas pentolan salah satu organisasi Komunis, Soemitro menceritakan kisah yang dikait-kaitkan dengan sosok Komunis Moertopo.

Saat ada seorang staf Moertopo ingin membuat tulisan tentang “Peristiwa Tiga Daerah” yang menyebutkan Komunis sebagai dalang dari peristwa itu, Moertopo membentaknya. “Mau Apa? Mau mendiskreditkan saya?”

Moertopo juga dikenal dekat dengan Kolonel Marsudi, salah seorang anggota PKI yang pernah menjadi Direktur Opsus. Selama di Opsus, Marsudi selalu berada di belakang layar dan sangat tertutup.

Marsudi pun disebut-sebut sebagai pendiri Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), organisasi mahasiswa underbouw PKI. Cerita mengenai ini diungkap dalam buku biografi Jenderal Soemitro, senior Ali Moertopo di lingkungan militer, yang ditulis oleh Ramadhan K.H.

Dalam catatan Jenderal Soemitro, jauh-jauh hari Ali Moertopo sudah merencanakan CSIS dan Opsus sebagai alat untuk memperkuat dan mengamankan rezim Orba.

Ali Moertopo yang melihat kekuatan Islam sebagai gerakan yang bisa mengancam ‘gerak laju pembangunan’, mencari partner yang bisa diajak untuk sama-sama menjegal gerakan Islam. Dan partner tersebut adalah kelompok Katolik yang tergabung dalam Ordo Jesuit.

Ali Moertopo didekati kelompok ini karena posisinya sebagai orang dekat Soeharto dan mempunyai pengaruh di ABRI. Kabarnya, Ali Moertopo sudah didekati kelompok ini sejak tahun 1960-an.

Ali Moertopo sendiri sudah mengetahui bahaya dari kelompok Orde Jesuit ini, yang ia sebut lebih berbahaya dari komunisme karena terdiri dari para intelektual adventurir. Namun, kata Ali, kedekatannya dengan kelompok itu adalah untuk meredam gerakan mereka, atau dalam bahasanya “untukmengandangkannya ketimbang bergerak liar”.

Apakah dalam rangka “mengandangkan” Orde Jesuit ini juga, kemudian Ali Moertopo menjadikan rumah Pater Beek (tokoh Jesuit Indonesia) di jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, sebagai markas Opsus?

Saat peristiwa 15 Januari 1974, Ali Moertopo diduga terlibat penunggangan aksi apel mahasiswa yang menolak kedatangan PM Jepang yang berujung pada kerusuhan di Jakarta.

Tujuan manuver politik Moertopo adalah untuk menyingkirkan orang-orang yang mencoba mendekati Soeharto dan menjadi rival politiknya. Untuk menggambarkan bahwa dia orang yang bisa mengendalikan kebijakan politik Orde Baru, Benny Moerdani, kadernya Moertopo, pernah mengatakan, ”Kuda boleh berganti, tapi saisnya tetap satu”.

Artinya, siapapun bisa menggantikan Soeharto, asalkan tetap bisa dikendalikan oleh Moertopo dan kelompoknya.

Setelah peristiwa 15 Januari 1974, Ali Moertopo melakukan lobi politik kepada Presiden Soeharto untuk memanggil Benny ke Jakarta agar ditempatkan dalam jajaran penting di militer.

Keseriusan Ali Moertopo untuk menempatkan kadernya dalam posisi strategis di elit militer terlihat dengan menelepon langsung Benny yang saat itu berada di Korea Selatan.

Kemudian, dengan diantar sendiri oleh Ali Moertopo, Benny menghadap langsung ke Soeharto. Oleh penguasa Orde Baru itu Benny diserahi jabatan sebagai Ketua G-I Asisten Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan Polri. Selain itu, Benny juga ditugaskan untuk membantu Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).

Sebagai kader Ali Moertopo, beberapa posisi penting itu tentu saja sudah direncanakan dengan matang. Apalagi kemudian Benny ikut pula menangani intelijen Kopkamtib dan menjadi Ketua Satuan Tugas Intelijen, serta kemudian menjabat sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis Hankam.

Karir intelijen Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani terus melejit dan menjadi sorotan penting dalam hubungannya dengan umat Islam saat ia menggantikan Jenderal M Yusuf sebagaiPanglima ABRI pada tahun 1983.

Setelah Ali Moertopo, tongkat estafet permusuhan militer terhadap umat Islam dilanjutkan oleh Benny Moerdani, kader Jesuit yang juga kader Moertopo.

Bagaimana kiprah Benny Moerdani dalam memberangus gerakan Islam? Lanjutannya di bagian 3. (Artawijaya/salam-online.com)


Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam

Sosoknya dikenal sebagai tangan kanan Soeharto. Ia menggunakan siasat “Pancing dan Jaring” untuk memberangus gerakan Islam. Umat Islam disusupi dan dipancing untuk bertindak ekstrem, setelah itu dijaring untuk diberangus atau dikendalikan!

Namanya Ali Moertopo. Meski Muslim, dalam karir intelijen dan militernya ia dikenal sebagai arsitek pemberangus gerakan Islam pada masa Orde Baru.

Ia menjadikan umat Islam sebagai lawan, bukan kawan. Untuk memuluskan misinya, ia berkolaborasi dengan kelompok anti-Islam, di antaranya kelompok Serikat Jesuit, kejawen, dan para pengusaha naga yang menjadi pilar kekuatan Orde Baru.

Mereka tak hanya mengebiri kekuatan Islam secara politik, tetapi juga memarjinalkan perekonomian umat Islam.

Ali Moertopo dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 23 September 1924. Sebagai tangan kanan penguasa Orede Baru, Seoharto, beberapa jabatan mentereng di dunia militer, intelijen, dan pemerintahan pernah dipegangnya, yaitu; Deputi Kepala Operasi Khusus (1969-1974), Wakil Kepala Bidang Intelijen Negara (1974-1978), Penasihat Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Golkar, dan Menteri Penerangan RI (1978-1983).

Hampir semua posisi dan karir yang didudukinya, berkaitan dengan upaya menyingkirkan peranan umat Islam dan memberangus gerakan Islam.

Pada pemilu tahun 1971, Moertopo memobilisasi kekuatan militer untuk menekan para mantan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk memilih Golkar. Sedangkan saat menjabat sebagai Kepala Operasi Khusus (Opsus), lembaga yang dikenal angker pada saat itu, Ali Moertopo banyak melakukan upaya-upaya penyusupan (desepsi, penggalangan dan pemberangusan gerakan Islam).

Siasat “Pancing dan Jaring” digunakan oleh Moertopo untuk menyusup ke kalangan Islam, melakukan pembusukan dengan berbagai upaya provokasi, kemudian memberangusnya.

Operasi intelijen tersebut pada saat ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Densus 88, sebuah detasemen yang juga dikendalikan oleh musuh-musuh Islam, dengan tujuan yang sama.

Beberapa peristiwa seperti Komando Jihad, tragedi Haur Koneng, penyerangan Polsek Cicendo, Jamaah Imran, dan Tragedi pembajakan pesawat Woyla, tak lepas dari siasat licik Moertopo.

Stigma “ekstrem kanan” yang ditujukan kepada umat Islam dan “ekstrem kiri” yang ditujukan kepada anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga hasil dari kerja intelijen Moertopo.

Umat Islam dipancing, kemudian dijaring dan diberangus. Sebagian yang tak kuat iman, dikendalikan kemudian digalang untuk bekerjasama dengan penguasa.

Pada peristiwa Komando Jihad misalnya, simpatisan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII), dipropaganda dan dimobilisasi oleh Ali Moertopo untuk melakukan perlawanan terhadap ancaman Komunis dari Utara (Vietnam).

Ali Moertopo kemudian mendekati beberapa orang tokoh DI, yaitu Haji Ismail Pranoto, Haji Danu Muhammad Hassan, Adah Djaelani, dan Warman untuk menggalang kekuatan umat Islam, yang memang sangat memendam luka sejarah terhadap komunisme.

Setelah ribuan umat Islam termobilisasi di Jawa dan Sumatera, dengan siasat liciknya, Moertopo kemudian menuduh umat Islam akan melakukan tindakan subversif dengan mendirikan Dewan Revolusi Islam lewat sebuah organisasi “Komando Jihad (KOMJI)”.

Mereka kemudian digulung dan dicap sebagai “ekstrem kanan”. Istilah “Komando Jihad” muncul pada tahun 1976 sampai 1982. Selain KOMJI, rekayasa intelijen juga terlihat jelas dalam kasus Jamaah Imran, Cicendo, dan pembajakan pesawat DC-9 Woyla.

Jamaah Imran adalah kumpulan anak-anak muda yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein, pria asal Medan. Aktivitas kelompok yang didirikan pada 7 Desember 1975 ini berpusat di Bandung, Jawa Barat.

Kelompok ini berobsesi ingin membangun sebuah komunitas Muslim yang melaksanakan syariat Islam secara murni. Untuk menjalankan misinya, menurut laporan intelijen, mereka mendirikan Dewan Revolusi Islam Indonesia (DRII).

Istilah Jamaah Imran juga diberikan oleh aparat, bukan penamaan yang dibuat kelompok anak muda tersebut. Kasus Jamaah Imran mencuat ke publik saat terjadi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung, pada 11 Maret 1981.

Peristiwa itu bermula ketika polisi menahan anggota jamaah tersebut karena kasus kecelakaan. Kemudian mereka berusaha membebaskan anggotanya dengan melakukan penyerangan bersenjata. Peristiwa berdarah itu menjadi legitimasi aparat untuk melakukan penangkapan anggota Jamaah tersebut.

Peristiwa Cicendo berlanjut dengan aksi pembajakan pesawat terbang DC 9 Woyla GA 208 dengan rute Jakarta-Palembang pada Sabtu, 28 Maret 1981. Pembajakan tersebut dilakukan oleh lima orang anggota Jamaah Imran dengan membelokkan pesawat menuju Bandara Don Muang, Thailand.

Drama pembajakan ini berhasil ditumpas oleh Pasukan Khusus TNI di bawah pimpinan LB Moerdani dan Sintong Pandjaitan. Mengapa sekelompok anak muda itu begitu radikal dan berani melakukan perlawanan terhadap pemerintah? Setelah diusut, sikap radikal kelompok itu ternyata diciptakan oleh seorang intel ABRI yang bernama Johny alias Najamuddin yang menyusup dalam Jamaah Imran.

Johny yang sudah diterima oleh jamaah tersebut kemudian melakukan beragam provokasi dengan menebar kebencian kepada ABRI. Johny kemudian ‘membeberkan rahasia’ ABRI yang dikatakan akan melakukan de-islamisasi di Indonesia.

Untuk itu, Johny merencanakan agenda besar: melakukan perlawanan terhadap ABRI. Di tengah sikap ABRI yang memang telah membuka “front” terhadap umat Islam, para anggota Jamaah Imran kemudian terbujuk dengan gagasan Johny.

Tanpa sepengetahuan para anggota jamaah lainnya, Johny membuat dokumentasi setiap aktivitas yang dilakukan jamaah tersebut. Dengan skenario licik, Johny kemudian membuat rencana untuk melakukan operasi pencurian senjata api di Pusat Pendidikan Perhubungan TNI AD pada 18 November 1980.

Senjata curian itulah yang kemudian dilakukan untuk menyerang Polsek Cicendo. Anehnya, Johny yang telah menghasut anggota Jamaah Imran untuk menyerang markas polisi tersebut, ternyata tak menampakkan batang hidungnya saat peristiwa terjadi. Bahkan saat polisi melakukan aksi besar-besaran untuk menangkap Jamaah Imran, Johny ‘lolos’ dari penangkapan.

Johny akhirnya tewas dieksekusi anggota Jamaah ini di suatu tempat. Saat persidangan kasus ini digelar di pengadilan, majelis hakim menolak untuk membuka identitas Johny. Selain itu, Jaksa penuntut umum juga selalu mementahkan usaha untuk mengorek identitas pria itu lebih dalam.

Jenderal Soemitro, seniornya Ali Moertopo di lingkungan militer, dalam biografinya menyebut kasus Jamaah Imran, peristiwa penyerangan terhadap Golkar di Lapangan Banteng, dan pembajakan Pesawat Woyla sebagai rekayasa Opsus (Operasi Khusus) Ali Moertopo yang menerapkan teori “Pancing dan Jaring”.

Dalam kasus Jamaah Imran, kata Seomitro, Opsus memakai tokoh Imran yang bernama asli Amran. Selama lima tahun Imran dibiayai oleh Ali Moertopo belajar di Libya untuk mempelajari Islam dan ilmu terorisme. Imran Kemudian dimunculkan sebagai sosok yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia kembali.

Soemitro juga menceritakan, laporan intelijen menyebut tujuan operasi Woyla untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto dan mendiskreditkan umat Islam. Operasi ini ingin memunculkan kesan bahwa kelompok Islam cenderung radikal dan masih memiliki keinginan untuk mendirikan negara Islam seperti halnya DI/TII.

Inilah yang kata Soemitro disebut sebagai teori “Pancing dan Jaring”, dimana umat Islam dirangkul (dibina, pen) terlebih dahulu, lalu dikipasi untuk memberontak, baru kemudian ditumpas sendiri oleh Opsus.

Jenderal Soemitro menceritakan, “Kecurigaan saya terhadap kasus Woyla, mulai muncul, ketika ada laporan bahwa sebetulnya Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Jenderal TNI M Jusuf akan membawa Awaloedin Djamin—yang notabene memiliki pasukan anti-teror untuk menyelasaikan kasus pembajakan tersebut.

Namun, rencana itu tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan Jusuf, tidak tahu siapa yang mengubahnya. Akhirnya yang berangkat bukan lagi pasukan Awaloedin Djamin, melainkan pasukan RPKAD yang dipimpin Sintong Pandjaitan.

Ini yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, mengapa RPKAD yang berangkat, bukannya polisi. Dari situ saya bisa menganalisis bahwa ada dua komando, yakni yang langsung ke jalur Pangab, dan satunya lagi: Jalur invisible hand!” (Lihat, biografi Jenderal Soemitro yang ditulis oleh Ramadhan K.H, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994 dan buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998, Cetakan Ketiga)… (Lanjut ke Bagian 2). (Artawijaya/salam-online.com)

Thursday, December 13, 2012

AS Desak Kongres Beri Kerugian Perang dan Dukungan Israel

Hidayatullah.com--Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA)dan Pentagon sedang mengajukan usulan kepada Kongres Amerika Serikat (AS) untuk dapat menambah bantuan negara itu sebesar 647 USD  sebagai mengganti kerugian akibat kekalahan perang delapan hari di Gaza bersandi "Pillar of Defense” yang diderita Zionis-Israel. Rencananya bantuan akan diberikan Amerika kepada Zionis-Israel dalam bentuk sumbangan Smart Weapons (jenis persenjataan mutakhir).

Dikutip dailyfinance.com, hari Rabu (12/12/2012), dalam sebuah pernyataan hari Senin, DSCA mengatakan bila bantuan persenjataan yang dimaksudkan  meliputi sejumlah perangkat elektronik canggih yang digunakan untuk meningkatkan keakuratan roket-roket peluncur.

Menurut kesepakatan, Amerika bahkan akan menyerahkan puluhan ribu bahan peledak kepada Zionis-Israel. Di antara bahan peledak ini, 3.450 jenis bom dengan berat lebih dari satu ton, dan 1.725 bom dengan berat 250 kg. Sisanya adalah bom-bom penghancur bunker.

Warga Yahudi menyaksikan senjata bantuan AS
"Amerika Serikat (AS) berkomitmen membantu keamanan Israel, dan sangat penting untuk kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap. Usulan penjualan ini konsisten dengan tujuan tersebut, "kata pernyataan itu dikutip washington.cbslocal.com.
Sementara itu,  Jeff White seorang analis militer dari Washington Institute for Near East Policy (WINEP) sekaligus mantan analis Defense Intelligence Agency  juga memberi dukungan kepada Zionis dengan mengatakan pada Bloomberg News, Israel perlu pasokan sendiri untuk bom-bom  yang dijatuhkan selama konfliknya dengan Hamas bulan lalu.

"Hamas dan kelompok lain memiliki banyak target bawah tanah yang diserang," ujar White kepada Bloomberg News. Senjata tambahan, ujarnya "bisa menjadi upaya untuk memberikan kemampuan kampanye udara yang lebih diperpanjang atau lebih besar daripada sebelumnya.”

Jeff White bahkan mengatakan, bom-bom seberat 250 kilogram dengan diameter kecil bisa digunakan Israel di areal banyak gedung dan perumahan seperti Gaza dan bagian-bagian Libanon Selatan di mana musuh Israel angkatan perang mereka bersampur dengan penduduk sipil.

Seperti diketahui serangan ke Gaza yang dijuluki Hamas Hijarah As Sijjil (Perang Batu Neraka) secara langsung telah menghabiskan anggaran Israel hingga mencapai 760 juta dolar, dan membuat kerugian wisatawan dari wilayahnya hingga 1,8 juta dolar.  Menariknya, meski tindakan ini adalah bentuk penjajahan, Amerika Serikat (AS) terus mendukung dan memberinya bantuan

Saturday, December 8, 2012

Cak Imin Berulah, Tuding ROHIS sebagai Penghasil Kader Radikal

Pernyataan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar dalam Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) XVII dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) XVI, yang menuding ROHIS penghasil kader radikal dan culun terus menuai kecaman.

"Siswa-siswi SMA kita kini tidak kenal NU, kenalnya Rohis, yang hasilnya radikal dan culun-culun itu. Oleh karena itu mari kita benahi pendidikan, modalnya adalah percaya diri. Kalau tidak percaya diri jangan pernah ngaku jadi anak buah KH. Hasyim Ashari dan Gus Dur yang kokoh dan berani," kata Muhaimin di Asrama Haji Palembang, Minggu (2/12/2012).

Padahal, menurut Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, selama ini ROHIS tak pernah terbukti memberi kontribusi negatif.

“ROHIS tidak pernah menyodorkan fakta dan data (tidak pernah terbukti) memberikan kontribusi negatif untuk pertumbuhan anak didik di Indonesia. Dan Muhaimin terlihat ngibul dan bicara hanya berdasarkan opini dan propaganda,” ujarnya kepada voa-islam.com, melalui pesan singkat, Kamis (6/11/2012).

Oleh sebab itu ia mendesak Muhaimin meminta maaf atas pernyataannya tersebut dan tidak bersembunyi di balik nama besar NU.

“Muhamimin harus minta maaf dengan terbuka, tidak perlu arogan bersembunyi di ‘ketiak’ kebesaran organisasasi NU dan merasa menjadi pahlawan NU karena pernyataannya adalah demi eksistensi NU,”tegasnya.

Harits juga menyatakan bahwa umat Islam saat ini makin cerdas dan bisa menilai siapa yang culun.

“Umat Islam makin cerdas bisa menilai siapa yang cerdas dan siapa sesungguhnya yang culun. Moga umat selalu siaga pada tiap makar yang melecehkan atau mendiskriditkan Islam,” tandasnya.

Tuesday, December 4, 2012

5 Dimensi Fotografi Jurnalistik

Kegiatan fotografi bagi sebagian orang dapat menjadi candu. Ada yang sekadar hobi ada juga yang menjadikan ini sebagai profesi. Terutama bagi Anda yang bekerja sebagai fotografer jurnalistik, setiap jepretan diusahakan menjadi berguna.

Coba simak 5 dimensi fotografi jurnalistik dari Enny Nuraheni (Chief Photographer Reuters Indonesia) di bawah ini. Siapa tahu dapat menambah ilmu dan inspirasi Anda dalam bertugas.

1. Fotografer jurnalistik tidak boleh meninggalkan kameranya ke mana pun pergi. Momen berharga sekecil apapun wajib ditangkap. Jika bukan liputan dadakan, usahakan punya gambaran tentang angle dan frame yang akan diambil, sehingga bisa menyiapkan caption (teks keterangan foto) dari rumah. Ini dibutuhkan agar bisa cepat mengirim berita supaya tak kalah dengan kantor berita lain.

2. Setiap fotografer rentan terkena cedera tulang belakang atau tulang punggung, akibat terlalu sering membawa beban berat dan selama bertahun-tahun kurang memerhatikan kondisi. Pencegahan bisa dilakukan dengan olahraga, terutama berenang. Karena dengan berenang seluruh anggota badan bergerak sekaligus bisa membuat relaks.

3. Tekanan mental kerap terjadi setelah liputan, khususnya di daerah bencana dan konflik. Apalagi wanita, pasti lebih cepat tersentuh hatinya bila melihat hal-hal yang miris. Kesiapan mental wajib dipersiapkan. Dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan kondisi mental agar lebih tenang lagi seperti sedia kala. Salah satu caranya dengan mengisi rohani atau dengan berjalan-jalan menenangkan diri ke tempat yang disenangi.

4. Menguasai setting kamera dan jangan hanya berani bermain di satu setting-an saja. Kini, fotografer sudah dimanjakan dengan teknologi yang serba ringkas, namun tetap harus belajar manual dan mengerti jenis dan sifat kamera. Fotografer jurnalistik juga tidak hanya berperan sebagai fotografer saja, tapi juga sekaligus berpikir seperti reporter. Pandai-pandai membaca draft story sehingga bisa menciptakan foto dari informasi yang ada.

5. Berkomitmen Pada Profesi Menjadi Harga Mati, terlebih di kantor berita asing. Jika mental tak mampu, pasti akan drop dan akhirnya meninggalkan profesi. Memang ada risiko untuk bisa berbagi dengan keluarga. Masing-masing ada pengorbanannya. Dukungan keluarga mutlak harus ada karena dedikasi penuh atas pencarian informasi tak kenal waktu dan tempat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More