Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Wednesday, October 31, 2012

"Nanto Orangnya Gaul, Bukan Pendiam Seperti Pemberitaan Media"

Sunardi, saudara kembar Sunarto alias Narto alias Nanto (38), terduga “teroris” yang ditangkap Densus 88 Antiteror Polri di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Sabtu (27/10/2012), mengaku sangat kaget atas penangkapan adiknya itu.

Menurut dia, penangkapan saudaranya tersebut merupakan sebuah bentuk fitnah.

“Nanto itu orangnya terbuka, ngocol, mana ada itu dia katanya tertutup, saudara saya itu anak gaul,” tutur Sunardi alias Nandi saat ditemui di rumah orangtuanya di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Ahad (28/10/2012).

Nandi sendiri merasa heran terhadap Densus 88 yang menuduh saudara kembarnya sebagai teroris. Ia mengatakan, Nanto selama ini, kalau tidak sedang bekerja, dia ada dirumah.

“Nanto tidak pernah menghilang tanpa diketahui keberadaannya. Ia juga dikenal sebagai sosok yang humoris dan terbuka, dia tidak pendiam dan tertutup seperti pemberitaan yang beredar,” ungkap Nandi.

Sebagai saudara kembarnya, Nandi mengaku mengetahui betul karakter Nanto. Nanto adalah seorang Muslim yang taat tetapi bukan sosok yang setuju dengan tindakan terorisme.

“Orangnya pecicilan (konyol) gitu, nggak tertutup sama sekali. Benerin kipas angin aja nggak bisa, apalagi rakit bom,” tandas Nandi.

Nandi menambahkan bahwa saudaranya itu aktif di masjid Baitul Karim yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Nanto juga menjadi sekretaris seksi bagian dakwah di masjid tersebut.

“Jihad itu kalau dalam kondisi perang, di Palestina, di Irak, bukan di Indonesia. Indonesia itu ladang dakwah bukan jihad, Nanto itu pemahamannya seperti itu,” tutur Nandi.

Keluarga Nanto merupakan keluarga yang taat dalam menjalankan ibadah. Bahkan, seperti diungkapkan pengacara Muhammad Assegaf yang pernah menjadi tetangga keluarga Nanto, Ayah Nanto merupakan tokoh yang dihormati oleh warga sekitar.

Muhammad Assegaf memang cukup dekat dengan ayahanda Nanto seperti diungkapkan oleh kakak Nanto.
Seperti diketahui, Sabtu (27/10/2012) kemarin Sunarto ditangkap Densus 88 saat akan mengantarkan daging qurban kepada warga sekitar rumah orangtuanya, di kawasan Kebun Kacang.

Keluarga besar Sunarto sendiri tidak mempercayai Nanto terlibat jaringan terorisme dan mengatakan penangkapan tersebut merupakan fitnah.

Satya (57), tetangga keluarga Nanto di Kebon Kacang,  tak habis pikir tindakan Detasemen Khusus 88 Antiteror yang melakukan penangkapan terhadapnya.

“Kita semua dekat dengan tetangga di sini. Dia kalau mau lebih banyak di lingkungan sini. Tidak tahu juga kalau sedang bekerja. Dia selalu bertugas sebagai pembuka acara sebelum khutbah shalat Jumat,” ujar Satya kepada tribunnews.

Pria yang sudah 30 tahun ini tinggal di Kebon Kacang juga sudah mengenal Nanto sejak kecil. Bahkan, orangtua Nanto, d mana bapaknya salah satu tokoh di kawasan yang masih masuk kawasan Tanah Abang ini.

“Setahu saya orangtuanya tokoh yang dihormati. Lihat saja 48 kambing qurban semuanya dipotong di masjid ini. Bapaknya mendidik dia tidak salah. Dia anak yang baik, bergaul dengan lingkungan di sini,” terang Satya.
Nanto ditangkap Densus 88 berpakaian preman di mulut gang tanpa surat penangkapan, ketika membawa plastik berisi daging qurban untuk tetangga. Habis itu Nanto langsung dibawa masuk ke dalam mobil Densus 88 Antiteror.

Fenti, istri Nanto, turut ditangkap Densus 88 Antiteror Polri. Saat ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Jalan Kemanggisan Pulo Jalan Kemanggisan Pulo C1/59, RT 15 RW 09, Palmerah, Jakarta Barat, Fenti mengenakan jilbab merah, dan tengah hamil muda, usia kandungannya tiga bulan.

Tuesday, October 30, 2012

Raja Bali Juga Pernah Tuduh Islam Sebagai Penyebar HIV/AIDS

Menjelang hari raya Idul Adha pekan lalu, seorang tokoh Hindu Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, mengimbau supaya umat Islam di Bali tidak memotong sapi sebagai hewan kurban. Alasannya sapi adalah hewan yang disucikan kaum Hindu.

”Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton (saudara, red) Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme," kata President The Hindu Center Of Indonesia  seperti dikutip Tribunnews.com, Rabu (24/10/2012).

Rupanya, Rektor Universitas Mahendradatta Bali ini, bukan kali ini saja membuat pernyataan yang menyakiti umat Islam. Menurut seorang Muslim Bali yang mengirimkan sebuah artikel yang ditulis Arya Wedakarna kepada Suara Islam Online, lelaki yang juga President World Hindu Youth Organisation (WHYO) ini telah seringkali melecehkan Islam. 


Salah satu contohnya, dalam artikelnya berjudul "HIV/AIDS, Jihad Model Baru di Bali?", yang dimuat tabloid TOKOH edisi edisi 9-15 januari 2012, pria berusia 32 tahin ini terang-terangan menuduh orang-orang Islam sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di Bali dan melalui merekalah virus HIV/AIDS disebarkan untuk menghancurkan generasi muda Hindu Bali.

"Tentu cafe liar ini dilengkapi dengan SDM para pekerja seks komersial (PSK) yang saya yakini (lagi) didominasi oleh perempuan non-Hindu dan pendatang luar Bali," tulisnya di paragraf kedua artikel itu.

Meski tidak tegas menyebut para PSK itu adalah perempuan-perempuan Islam, tetapi pernyataan Ketua DPD PNI Marhaenisme Bali itu dipertegas lagi dalam tulisannya di paragraf empat. Arya Wedakarna tegas memfitnah Islam bahwa gerakan penyebaran HIV/AIDS adalah jihad tersembunyi yang dilakukan kelompok kecil fundamentalis Islam.

"Dan kini, saya dituntut makin percaya, ternyata gerakan penyebaran HIV/AIDS ini adalah gerakan jihad tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok kecil fundamentalis Islam yang sama-sama menjadi sponsor Bom Bali I dan Bom Bali II," tulisnya.

"Kenapa? Menurut mereka, Bali tidak akan pernah bisa hancur karena Bom, ini di buktikan Bom bali I dan Bom Bali II Tidak mampu menghancurkan kekuatan taksu Bali. Bali sebagai pulau Hindu yang disayangi Dunia," lanjutnya.

Cacian dan fitnah murahan Arya Wedakarna tak berhenti sampai disitu, ia bahkan menuding berdirinya warung-warung pecel lele, nasi pedas, tukang cukur, sertifikasi halal bagi hotel dan restoran di Bali adalah upaya untuk menghancurkan Basli.

"Tetapi, kini ada senjata model baru untuk menghancurkan Bali yakni gerakan ekonomi seperti gerakan pecel lele, nasi tempong, nasi pedas, tukang cukur, gerakan labelisasi Halal di setiap Hotel dan restoran di bali (saya akan bahas di setiap tulisan berikutnya)," tulisnya.

Arya Wedakarna menjelaskan bahwa dalam hal penyebaran HIV/AIDS, diduga orang-orang Bali, anak-anak muda Bali ketika mereka datang ke cafe, maka PSK tidak menyarankan untuk memakai kondom, tapi sebaliknya jika kaum pendatang yang memanfaatkan PSK, maka sangat disarankan memakai Kondom.

"Mungkin gadis PSK itu sudah di cuci otaknya, agar Bali ini 10 tahun ke depan banyak suami-suami, anak-anak muda yang mati nelangsa karena HIV/AIDS," tandasnya.

Sebelumnya, di paragraf yang sama ia juga menuduh program Keluarga Berencana (KB) yang digallakn pemerintah merupakan cara untuk mengurangi populasi warga Hindu. Karena kebodohannya, dia menyebut ada umat agama lain boleh berpoligami hingga lima orang. Entah agama mana yang dia fitnah.

"Belum lagi aksi pemerintah dan program KB-nya yang sukses mengurangi jumlah Krama Hindu dengan paksaan selalu punya anak dua (yang di satu sisi umat lain boleh berpoligami dengan istri maksimal lima orang). Tentu hal ini akan merugikan keluarga Hindu yang terlanjur punya dua anak, tapi putranya mati karena AIDS atau rabies," katanya.

Siapa Arya Wedakarna?

Lantas, siapa sebenarnya sosok yang bernama lengkap Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III , SE (MTRU), M.Si itu?

Rupanya biodata sosok muda itu bisa ditemukan dalam websitenya, http://vedakarna.com. Di sana dijelaskan bahwa Arya Wedakarna adalah lelaki kelahiran Denpasar, 23 Agustus 1980. Gelarnya Raja Majapahit Bali Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I.

Berulang kali dia mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). Tercatat ia pernah menyabet gelar sebagai doktor termuda di Indonesia saat berusia 27 tahun dan rektor termuda di Indonesia dengan usia 28 tahun. Ia sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Mahendradatta Bali, yang dikatakannya sebagai universitas tertua di Bali yang didirikan oleh ayahnya, Shri Wedastera Suyasa, bersama Presiden Sukarno.

Pendidikan SD-SMAnya ditempuh di Bali. Tahun 2000 ia menempuh pendidikan di Melbourne Languange Center, Australia. Pada 2002 ia kembali ke Indonesia dan masuk ke Jurusan Manajemen Transportasi Udara di Universitas Trisakti. Kemudian ia menyelesaikan S-2 dan S-3 nya di Universitas Satyagama Jakarta. Ia mengklaim memiliki keahlian dalam bidang transportasi udara dan manajemen pemerintahan.

Arya Wedakarna juga pernah terjun ke dunia hiburan. Ia menjadi model dan bintang film serta sinetron.
 

SBY Dapat Gelar "Ksatria Salib Agung" Dari Ratu Inggris

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin negara muslim terbesar di dunia akan menerima gelar 'Knight Grand Cross’ yang artinya Ksatria Salib Agung dari Inggris.

Selain Presiden SBY gelar tersebut juga pernah diterima oleh Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, Presiden Perancis Jacques Chirac dan Presiden Turki Abdullah Gul.

"Nama penghargaannya 'Knight Grand Cross in the Order of Bath'. Pemimpin asing lain yang menerima penghargaan tersebut Presiden Ronald Reagan, Presiden Jaques Chirac dan Presiden Abdullah Gul," jelas Staf Ahli Presiden Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah dalam rilisnya, seperti dikutip detik Senin (29/10/2012).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab mengungkapkan bahwa gelar tersebut berarti Ksatria Salib Agung.

“Luar Biasa! SBY sebagai Presiden Muslim dari negeri Muslim terbesar di dunia dapat gelar ‘Knight Grand Cross’yang artinya ‘Ksatria Salib Agung!’ dari Ratu Inggris,” ujar Habib Rizieq dalam pesan singkatnya kepada voa-islam.com, Selasa (30/10/2012).

Menurut Habib Riziq, tak perlu kaget jika SBY menerima gelar tersebut dari Inggris, sebab selama ini SBY berjasa dalam pembangunan gereja liar, perlindungan gerakan Kristenisasi dan Ahmadiyah.

“Jangan kaget! Karena SBY berjasa besar dalam pembangunan gereja liar dan perlindungan Gerakan Kristenisasi serta pembelaan terhadap Ahmadiyah yang dipelihara Inggris,” jelasnya.

Hari ini, dikabarkan Presiden SBY bersama istri, Kristiani Herawati Yudhoyono, telah bertolak ke London Inggris menggunakan pesawat khusus kepresidenan Airbus 330-300 milik Garuda yang lepas landas dari Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 07.00 WIB.

Monday, October 29, 2012

Korban Kebiadaban Densus Dilarang Pakai Tim Pembela Muslim

PARA korban penangkapan Tim Densus 88 seharusnya diberikan keleluasaan untuk didampingi pengacara pilihannya. Namun dalam banyak kasus, Densus justru sudah mempersiapkan pengacara khusus tanpa persetujuan pihak keluarga dan si pelaku yang dituduh teroris..

“Kami ini hanya mengawal korban penangkapan di awal-awal, tapi seterusnya kami dilarang menjadi penasehat hukum,” tandas Achmad Michdan dalam konferensi pers di Pondok Labu, Senin (29/10/2012).
Hal itulah yang membuat Tim Pengacara Muslim (TPM) mengkritisi ketidaktransparanan penyelidikan kepada para korban penangkapan Densus.

“Memang tidak ada undang-undangnya untuk memakai Tim Pengacara di luar Densus, tapi juga tidak ada undang-undang yang mengatakan kuasa hukum harus dari Densus,” jelas Michdan.

Banyak kasus ditemukan TPM bahwa para korban penangkapan justru diiming-imingi jika kuasa hukum dari Densus sama dengan kuasa hukum lainnya, termasuk TPM.

“Padahal pengacaranya selalu Si Asludin (kuasa hukum Densus,red),” ujar Michdan.

Jaringan Gereja Internasional Terlibat Upaya Kemerdekaan Papua

Jaringan gereja internasional terlibat upaya melepaskan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Bukan rahasia lagi jaringan gereja internasional mendukung Papua merdeka,” kata tokoh Papua, Fadlan Garamatan sebagaimana dikutip itoday, Kamis (25/10/2012).

Menurut Fadlan, dalam persoalan Papua, gereja bermain di dua kaki. “Gereja kadang mendukung Indonesia tetapi mempunyai misi melepaskan Papua dari NKRI,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan kejadian lepasnya Timor Timur dari Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jaringan gereja internasional terutama Vatikan. “Waktu Timor Timur lepas, Vatikan mempunyai peran besar, Anda bisa lihat peran Uskup Belo dalam melepaskan Timor Timur dari NKRI,” ungkapnya.

Kata Fadlan, umat Islam di Papua mempunyai peran dalam mempertahankan wilayah paling Timur Indonesia dalam naungan NKRI. “Tidak bisa dipungkiri umat Islam di Papua berupaya mempertahnakan Papua dalam wilayah NKRI,” jelasnya.

Ia menyesalkan pihak intelijen Indonesia yang tidak bisa mendeteksi pergerakan jaringan gereja internasional di Papua. “Ini intelijennya tumpul, atau takut dengan jaringan Vatikan?” tanya Fadlan.

Terkait berbagai bentrokan di wilayah Papua, ia mengatakan, sengaja dibuat kelompok yang mengingankan Papua merdeka.

“Bentrokan dengan aparat itu memang disengaja agar terjadi pelanggaran HAM dan yang jadi korban orang-orang Papua,” paparnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ratusan massa yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) bentrok dengan aparat Polres Manokwari dalam unjuk rasa mendukung sidang International Lawyers For West Papua di Inggris, Selasa (23/10/2012) di depan kampus Universitas Negeri Papua (Unipa).

Bangkitnya Generasi Kristen Ekstrem


Oleh: Dr. Adian Husaini
BEBERAPA hari lalu, saya mendapatkan sebuah buku berjudul “Bangkitnya Generasi Ekstrem: Generasi Baru Pemegang Tongkat Komando Misi Allah di Garis Depan” (Yogyakarta: Penerbit Andi,2012), karya Carl Anderson.  Di bagian sambul belakangnya, tertulis kata-kata mencolok: “PENGGILAN UNTUK TINDAKAN EKSTREM”, dilanjutkan dengan untaian kata:

“Allah rindu mencurahkan kemuliaan-Nya ke atas generasi yang sedang bangkit. Buku Bangkitnya Generasi  Ekstrem menjabarkan faktor-faktor yang telah membentuk kita semua supaya diposisikan dengan tepat sebagai bagian dari barisan tentara pada akhir zaman yang ditetapkan untuk menjungkirbalikkan dunia bagi Injil. Buku ini akan menginspirasi Anda untuk memiliki hubungan lebih dalam dan akrab dengan Allah, dan memberikan petunjuk praktis kepada Anda untuk dilatih dan diutus sebagai bagian dari garda tentara yang baru, berdisiplin, dan bergairah.” 

“Generasi ekstrem”  yang diidamankan kaum Kristen ini disebut juga sebagai “Generasi Yosua”.  Mengapa disebut Generasi Yosua?  “Alasan kami memakai istilah “Generasi Yosua” adalah Yosua, pemimpin yang kuat dan dilatih oleh Musa, bangkit dan memimpin para pejuang muda lainnya untuk merebut Tanah Kanaan yang telah Allah janjikan pada generasi sebelumnya.”  (hal. 5).

“Anda adalah Generasi Yosua. Allah telah menetapkan Anda untuk menjadi orang besar. Ada peranan yang harus Anda mainkan dalam drama terakhir yang akan ditampilkan di dunia dan gereja. Sekarang adalah saat krusial dalam Roh. Segera, mungkin dalam beberapa tahun berikutnya, beberapa hamba Tuhan, pria, dan wanita, yang dipakai Tuhan pada masa lalu, akan meninggalkan dunia ini, dan masuk dalam kemuliaan Allah, dan ketika hal itu terjadi, mereka akan menyerahkan tongkat estafet kepada Anda dan saya. Para pria dan wanita, para pemimpin dan anggota generasi sebelumnya akan meninggal atau menjadi martir.” (hal. 190). 

“Generasi Ekstrem” Kristen yang sedang dibangkitkan ini mengambil sosok Yosua sebagai idola mereka.  Dalam Bibel, sosok Yosua digambarkan sebagai pemimpin yang sangat keras dan kejam saat melakukan penaklukan.  Ketika menaklukkan Yerikho, pasukan Yosua membantai seluruh penduduk kota itu, termasuk binatang-binatangnya: “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.” (Yosua, 6:21. Teks Bibel versi Lembaga Alkitab Indonesia, 2007). 

Begitu juga yang dilakukan oleh Yosua dan pasukan Israel saat menaklukkan Kota Ai. Semua penduduk kota itu dibantai. Digambarkan dalam Bibel:

“Segera sesudah orang Isarel selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka ke mana orang Isarel mengejar mereka, dan orang-orang ini semuanya tewas oleh mata pedang sampai orang yang penghabisan, maka seluruh Israel kembali ke Ai dan memukul kota itu dengan mata pedang. Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, ada dua belas ribu orang, semuanya orang Ai. Dan Yosua tidak menarik tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk kota Ai ditumpasnya. Hanya ternak dan barang-barang kota itu dijarah oleh orang Israel, sesuai dengan firman TUHAN, yang diperintahkan-Nya kepada Yosua. Yosua membakar Ai dan membuatnya menjadi timbunan puing untuk selama-lamanya, menjadi tempat yang tandus sampai sekarang.  Dan raja Ai  digantungnya pada sebuah tiang sampai petang. Ketika matahari terbenam, Yosua memerintahkan orang menurunkan mayat itu dari tiang, lalu dilemparkan di depan pintu gerbang kota, kemudian didirikan oranglah di atasnya timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang.” (Yosua, 8:24-29, Teks Bibel versi Lembaga Alkitab Indonesia, 2007).

Bagi kaum Muslim, keberanian kaum Kristen Indonesia untuk mendeklarasikan pembentukan generasi radikal dan ekstrim  -- di tengah-tengah maraknya program deradikalisasi terhada kaum Muslim Indonesia – adalah sesuatu yang menarik untuk diambil hikmahnya.  Buku Bangkitnya Generasi Ekstrem ini menggambarkan, bahwa di kalangan  kaum Kristen evangelis, semangat untuk mengkristenkan Indonesia masih terus terpelihara.  Tahun 2007, penerbit Kristen yang sama  juga menerbitkan buku berjudul “How to Share Gospel, Kiat Menginjil dengan Sukses”, karya Prof. Dr. Ir. Bambang Yudho, M.Sc., M.A., Ph.D.  

Profesor Kristen ini menyesalkan kurang aktifnya misi penginjilan di Indonesia selama ini, sehingga jumlah kaum Kristen masih di bawah 16%.  Dinyatakan dalam buku ini:

“Tampaknya semangat penginjilan yang dimiliki gereja mula-mula sudah luntur saat ini. Banyak gereja dan jemaatnya hanya menikmati anugerah keselamatan tanpa melakukan apa pun terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus, yang merupakan esensi dari geraja yang sebenarnya. Indonesia, yang  kekristenan masuk lebih dahulu dibandingkan Islam, menghadapi kenyataan yang tidak semestinya. Saat ini jumlah pemeluk agama Kristen hanya  di bawah 16%. Ini adalah bukti kurang aktifnya misi penginjilan  di Indonesia.” (hal. 23).

Dalam keyakinan kaum Kristen model ini, menjalankan misi Kristen adalah kewajiban yang terpenting dalam kehidupan mereka. Menurut mereka, sebagaimana ditulis dalam buku ini: “Kebutuhan manusia yang utama adalah keselamatan kekal setelah kehidupannya di dunia berakhir. Kehidupan manusia di dunia akan sia-sia apabila pada akhirnya mereka binasa karena tidak menerima Kristus sebagai juru selamat. Keselamatan itu pasti hanya dalam pribadi Yesus, seperti yang ditunjukkan Alkitab.”  (hal. 30).

Kaum Kristen percaya, bahwa “Semua manusia di dunia sudah berdosa dan terputus dari Allah, serta akan masuk ke dalam kebinasaan kekal. Injil keselamatan merupakan berita baik bagi mereka dan merupakan harapan satu-satunya agar dapat terhindar dari kebinasaan tersebut.” (hal. 76). 

Di mata kaum misionaris Kristen ini, Indonesia merupakan tempat yang sangat ideal untuk mencari pengikut-pengikut Kristen. Pendeta dari Gereja Bethany ini menyerukan:

“Di seluruh dunia, kita dapat dengan mudah menemukan manusia (jiwa). Indonesia dengan penduduk lebih dari dua ratus juta merupakan tempat yang sangat ideal untuk menemukan manusia untuk dijala. Mata seorang penginjil harus selalu terbuka melihat manusia yang memerlukan keselamatan dan harus dengan segera menyampaikan kabar baik tersebut kepada mereka…” (hal. 49).

Seruan agar kaum Kristen hidup secara radikal dalam mengkikuti Yesus, misalnya, juga disuarakan oleh tokoh Katolik B.S. Mardiatmadja SJ., melalui bukunya, Beriman Dengan Radikal  (Yogyakarta: Kanisius, 1986).  Diserukan dalam buku ini:

“Keradikalan Yesus harus dibayar dengan hidup-Nya. Yesus radikal dalam tuntutan-tuntutan-Nya. Bagi-Nya, pengikut Mesias harus menjadi garam, dan kalau garam kehilangan kemampuannya meng-asin-kan ya tak berguna: dibuang saja (Mat 5:13). Keterlibatan Kristen harus menjadi cahaya yang menerangi dunia (Mat 5:17-20). Kalau kita memilih Yesus Kristus: itu harus secara radikal di tempat pertama, di atas orang tua, anak dan hidup sendiri (Mat 10:37-39). Setiap hal dan setiap nilai harus dikorbankan bila tak selaras dengan keradikalan pilihan di atas (Mat 18:8), seperti orang yang menjual segala miliknya untuk dapat memiliki mutiara berharga atau harta terpendam (Mat 13:44-46). “ (hal. 84-85).

Respon balik
Begitulah, kalangan Ktisten terus menyerukan agar umat mereka melakukan program kehidupan Kristen dan misi penginjilan secara radikal dan ekstrim.  Mereka begitu ambisius untuk mengkristenkan Indonesia. Bagi kaum Muslim, gerakan misi Kristen jelas dilihat sebagai usaha yang sangat destruktif  dalam  merusak keimanan kaum Muslim.  Tokoh Islam dan Pahlawan Nasional, Mohammad Natsir,  pernah menyampaikan seruan kepada kaum Kristen:

"Hanya satu saja permintaan kami: Isyhaduu bi anna muslimuun. Saksikanlah dan akuilah bahwa kami ini adalah Muslimin. Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas-identitas Islam. Jangan identitas kami saudara-saudara ganggu, jangan kita ganggu-mengganggu dalam soal agama ini. Agar agama-agama jangan jadi pokok sengketa yang sesungguhnya tidak semestinya begitu. Marilah saling hormat menghormati identitas kita masing-masing, agar kita tetap bertempat dan bersahabat baik dalam lingkungan "Iyalullah" keluarga Tuhan yang satu itu.
Kami ummat Islam tidak apriori menganggap musuh terhadap orang-orang yang bukan Islam. Tetapi tegas pula Allah SWT melarang kami bersahabat dengan orang-orang yang menganggu agama kami, agama Islam. Malah kami akan dianggap zalim bila berbuat demikian (almumtahinah). Dengan sepenuh hati kami harapkan supaya saudara-saudara tidaklah hendaknya mempunyai hasrat sebagaimana idam-idaman sementara golongan orang-orang Nashara yang disinyalir dalam Al Quran yang tidak senang sudah, bila belum dapat mengkristenkan orang-orang yang sedang beragama Islam. Mudah-mudahan jangan demikian, sebab kalau demikian maka akan putuslah tali persahabatan, akan putus pula tali suka dan duka yang sudah terjalin antara kita semua.

Jangan-jangan nanti jalan kita akan bersimpang dua dengan segala akibat yang menyedihkan. Baiklah kita berpahit-pahit, kadang-kadang antara saudara dengan saudara ada baiknya kita berbicara dengan berpahit-pahit, yakni yang demikian tidaklah dapat kami lihatkan saja sambil berpangku tangan.

Sebab, kalaulah ada sesuatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini." (Seperti dikutip oleh Prof. Umar Hubeis dalam mukaddimah buku Dialog Islam dan Kristen, yang ditulis oleh Bey Arifin, 1983:28-29). 

Bukan hanya kaum Muslim yang memberikan respon keras terhadap gerakan misi Kristen yang berambisi mengkristenkan Indonesia. Kaum Hindu di Indonesia pun menyatakan keresahannya atas gerakan misi Kristen yang agresif.  Majalah Media Hindu edisi Juni 2012, menurunkan sebuah artikel berjudul “Program Misi Kristen adalah Pelanggaran”, tulisan K. Donder.  Berikut ini kita kutip catatan K. Donder dalam artikelnya tersebut:

“Jika Yesus masih hidup, pasti menangis melihat program misi Kristen dewasa ini, yang dilaksanakan dengan cara-cara rentenir… Selama tiga setengah tahun saya berdoa di dalam gereja, sebagai berikut:

“Wahai Yesus, kalau Engkau memamg benar-benar Tuhan yang berperasaan, tolong jangan sampai Engkau memanggilku untuk menjadi umat-Mu. Sebab, saya tidak cocok dengan cara atau jalan Kristen ini. Jika Engkau (Yesus) tetap memaksa saya untuk mengikuti jalan-Mu, maka saya akan akan menjadi musuh-Mu selamanya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tetapi, jika Engkau membiarkan iman Hinduku tetap teguh, maka saya akan menghargai-Mu sebagai Tuhan Yang Penuh Kasih dan Toleran”…

Saya percaya bahwa Yesus datang bukan untuk orang non-Kristen ddan bukan juga untuk mengkonversi orang-orang non-Kristen. Karena itu, aktivitas mengkonversi yang dilakukan oleh perseoragan maupun oleh Lembaga Kristen, merupakan bentuk kejahatan prostitusi teologis dan barter teologis yang mesti diperingatkan atau kalau perlu diperangi. Upaya misi konversi yang terus digalakkan oleh oknum atau lembaga Kristen, bukanlah aktivitas ketuhanan tetapi bisnis dari orang-orang Kristen dan lembaga-lembaga Kristen yang telah menjadikan agama Kristen sebagai lembaga rentenir, tengkulak, pasar, supermarket, perusahaan, Yayasan Konversi, Perusahaan Jasa Konversi.

Para intelektual Hindu, baik intelektual akademis ataupun intelektual non-akademis, terlebih para intelektual Parisada, sudah selayaknya berani dan mampu menyusun strategi untuk menanggulangi adanya epidemic misi konversi…

Orang Hindu harus memahami bahwa di pundak orang-orang Kristen, setiap orang Kristen, ada beban untuk mengkonversi umat non-Kristen untuk masuk agama Kristen. Setiap orang Kristen, telah dibekali dengan senjata Trisula Misi…”. (hal. 73).

****
Sebagai Muslim, kita patut mengambil hikmah dari fakta ini.  Betapa hebatnya semangat kaum Kristen dalam membentuk generasi radikal dan ekstrim sebagai pasukan Yesus untuk mengkristenkan Indonesia. Uniknya, gerakan Kristen ini dilakukan pada saat gencarnya program deradikalisasi terhadap kaum Muslim Indonesia.  Akan tetapi, tidak terekspose di media massa, ada program “deradikalisasi” Kristen secara besar-besaran, baik oleh pemerintah maupun oleh tokoh-tokoh Gereja. 

Semoga semua kaum Muslim Indonesia – apapun paham keagamaan, posisi sosial-politik, dan kelompoknya – memahami realitas yang ada di depan mata mereka, sehingga mereka bisa belajar dari sejarah, saat mereka begitu mudah ditaklukkan penjajah dengan cara sederhana: jadikan muslim-muslim itu sebagai domba-domba aduan”!  Lihatlah kini, sebagian Muslim bangga dipuja-puji dan didanai, sebagian lain diburu dan dicaci-maki tanpa daya dan media untuk bela diri!  Wallahu a’lam bil-shawab. (Depok, 29 Oktober 2012).*

Lagi, Polisi Sengaja Menjadikan Islam Sebagai Isu Teror ?

HARI Jum’at, 27 Oktober 2012, tepat di saat umat Islam merayakan Idul Adha, sebuah berita terdengar cukup menyentak. Tim Densus 88 menangkap 11 orang terduga “teroris”.  Tertuduh ditangkap pada hari yang sama di tempat yang berbeda. Yang perlu kita perhatikan semua,  adalah kata “terduga”, bukan tersangka.

Anda juga tidak perlu menebak atau bertaruh siapa sosok para “terduga tersebut”. Ini adalah kalimat retorik yang tak pantas dijawab, karena sudah mafhum bahwa semua tertuduh, terduga dan tersangka “terorisme” adalah seorang Muslim.

Juga tak usah diperdebatkan bahwa selama ini, terduga “teroris” dari kalangan Islam saja. Anda tak percaya? Coba saja buka lembaran-lembaran sejarah penangkapan para tertuduh teroris. Mana itu para pelaku separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) meski mereka banyak mengancam elemen-elemen pengaman NKRI macam Polisi dan TNI?
Mana pula peluru Densus bersarang ditubuh separatis RMS? Minimal dikaki. Saya rasa, dengan segala peralatan canggih, pengaman tingkat expert, dan pendidikan aksi militer contra terrorism hasil didikan AS tak bakal membuat mereka tega  untuk menangkap mereka yang  secara hakiki berstatus tersangka (bukan tertuduh). Apalagi melukai mereka meski dalam taraf mencubit, saya kira. Toh selama mereka bukan Muslim, kegiatan militer para separatis itu --aksi terror para pengacau tatanan Negara—itu tak bakal disebut sebagai kegiatan teror dan pelakunya bukan terduga teroris, apalagi tersangka teroris.

Kembali pada berita penangkapan 11 orang terduga teroris itu tidak spektakuler bagi saya. Apanya yang spektakuler? Toh selama ini para separatis OPM dan RMS itu masih berkeliaran dan tidak juga mereka tindak. Saya sangat mengapresiasi Densus 88, jika mereka mampu menindak organisasi yang saya sebut tadi, sebagaimana tindakan mereka terhadap orang-orang tertuduh teroris yang selama ini dinisbatakan dari kalangan Muslim.

Tulisan diatas adalah pengantar kekecewaan saya. Kecewa karena media begitu mudahnya dalam pemberitaan mereka menyebut-nyebut kata “teroris”. Begitu juga, kekecewaan ini lahir akibat ceteknya “kacamata rasa adil” para jurnalis kita. Begitu mudahnya mereka  memberitakan ini dan itu, tapi kadangkala seringkali dihinggapi pemberitaan berdasar egositas dan jauh dari kadar objektivitas yang seharusnya mereka junjung tinggi-tinggi. Lebih-lebih, pemeberitaan itu sering sepihak. Ya sepihak, karena sering hanya laporan dari aparata keamaan. Bukan berdasarkan investigasi sendiri dalam waktu cukup lama dan akurat.

Aksi penangkapan para “terduga” ini boleh saja benar demi pengamanan Negara. Sebab, sejarah selalau berkaitan dengan kekuasaan. Siapa berkuasa, dialah yang akan menguasai sejarah dan elemen-elemen terkait. Mungkin, termasuk stigma dan wacana.

Dan berita terbaru dari media adalah; soal HASMI, sebuah organisasi dakwah yang ikut dikaitakan sebagai “kelompok teroris” atau terkait dengan jaringan teroris.

Sosok HASMI
HASMI adalah sebuah organisasi dakwah Islam singkatan dari “Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami”. Bukan “Harokah Sunni untuk Masyarakat Indonesia” sebagaimana diungkap oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Suhardi Aliyus pada sabtu, 27 Oktober kemarin.

HASMI  merupakan ormas Islam resmi yang terdaftar di Kemdagri Dirjen Kesbangpol dengan no. 01-00-00/0064/D.III.4/III/2012 yang didirikan sejak tahun 2005. HASMI merupakan Ormas yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan dakwah umum. (press release Ketua Hasmi, Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I ,27 Oktober 2012)

Boleh jadi “HASMI”, Harokah Sunni untuk Masyarakat Indonesia itu memang organisasi “teror” sebagaimana yang media sebutkan. Hanya saja, penyebutan akronim singkatan “HASMI” tanpa penjelasan, pasti menjadi pertanyaan banyak orang. Ini “HASMI” yang mana?

Ujungnya, akan membuat masyarakat melakukan generalisasi terhadap organisasi dakwah HASMI dan bisa menimbulkan efek trauma. Setidaknya phobia terhadap dakwah mereka.
Islam adalah agama, tapi bukan berarti semua agama adalah Islam. Bukan begitu?
Fallacies (sesat pikir) semacam ini sungguh luar biasa, belum lagi efek argumentum ad populum yang digunakan media secara general bisa menghasut masa secara luas.

Saya bukan anggota HASMI dan bukan berarti saya tidak mempunyai hubungan dengan mereka. Anda, atau teman Anda, saudara Anda juga bukan berarti tak memiliki hubungan dengan HASMI. Namun sebagaimana ormas lain, sepengetahuan saya, HASMI adalah lembaga dakwah dan bukan organisasi radikal sebagaimana yang ikut dicapkan oleh media.

Kasus HASYMI  mengingatkan saya terhadap kasus JAT (Jama’ah Anshorut Tauhid) yang terus disebut-sebut aparat sebagai organisasi yang memiliki hubungan dengan “teroris”. Sekalipun memiliki hubungan sebab beberapa anggotanya terlibat dalam aksi teror, belum tentu organisasi itu telah bermutasi menjadi organisasi teror. Bukankah JAT juga selalu dikait-kaitkan dengan prejudice yang acak, ngawur, asal dan tak berdasar?

Saya tidak tahu secara pasti apakah tren ‘menuding secara tendensius’ ini memiliki tujuan-tujuan terselubung. Bukannya saya tidak tahu, tapi saya berharap bukan salah satu bagian dari mereka karena saya ikut-ikutan secara tendensius menuding mereka tanpa mengkaji terlebih dahulu. Hanya saja, ‘trend’ yang aneh ini muncul semuanya pada lembaga dakwah maupun organisasi dakwah. Minimal lembaga yang berkaitan dengan dakwah. Secara sederhana begitu.

Bukankah kita semua telah menyaksikan tudingan terhadap Rohis, FPI, HTI,  JAT dan terakhir HASMI? Anehnya semua adalah ormas Islam. Lebih aneh lagi, organisasi-organisasi itu (tanpa melibatkan Rohis), rajin mengusung ide penerapan hukum syari’ah dalam tatanan hukum negara. Aneh? Memang aneh!

Akhir-akhir ini apapun yang berhubungan dengan syari’ah mendapatkan tuduhan yang lumayan keji. Sebuah majalah nasional memberitakan masalah hukum syar’i di Aceh dengan “ngaco”. Sekarang belum hilang hangat ingatan kita, memuncak lagi tudingan tak berdasar ini.  Apakah mereka-mereka itu memiliki tujuan lain selain memberangus dakwah islam? Intinya begitu. Saya rasa tidak mungkin jika tujuan mereka-mereka ini bukanlah hendak mematikan dakwah Islam, dakwah penerapan syari’ah dan apapun dalam tataran ideologis ummat Islam.

Memang, bisa jadi ada kemungkinan lain pengaruh media dalam pemberitaan ini. Contohnya pengalihan isu. Tapi, toh faktanya telalu banyak kita saksikan hasutan-hasutan di media, artikel ngawur yang data dan faktanya tidak bisa dipertanggungjawabkan tentang syariat Islam, dan seribu satu penggiringan opini pada satu tujuan pokok, yakni memberangus dakwah Islam dan mengucilkan pelakunya serta orang-orang yang berhubungan dengannya.

Aih, jikalau salah satu ayam yang terkena virus bukan berarti menyamakan asumsi bahwa semua ayam itu tanpa terkecuali terkena virus. Bukan begitu? Wallahu a’lam bis showwab

Densus Sengaja Ciptakan Musuh Baru ?

Hidayatullah.com—Apa yang dilakukan Detasemen Khusus Antiteror(Densus 88) dalam terkait tuduhan pada 11 orang anggota Harakah Sunniyah untuk Masyarakat Islami (HASMI) hanya menambah musuh. pernyataan ini disampaikan oleh  Harits Abu Ulya, pemerhati Kontra-Terorisme dan Direktur CIIA. Menurut Harits, kekurang cermatan Densus hanya akan membuat institusi ini menambah daftar musuh.

“Kalau sekiranya benar ada orang-orang HASMI, maka bisa saja itu oknum dan mereka berafiliasi ke Jamaah Islamiyah (JI), karena beberapa orang seperti Abu Hanifah masih terkait dengan Sigit Qordowi (Keluarga Hisbah-Solo). Makanya saya katakan istilahnya oknum,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke redaksi hidayatullah.com, Senin (29/10/2012).

Hanya saja yan menjadi pertanyaannya, untuk apa nama kelompok ini sengaja dimuculkan?
Menurut Harits, seharusnya Densus bisa menangani lebih profesional tanpa perlu mengaitkan dengan kelompok mana pun. Sebab, dengan menyebut nama kelompok, maka sama saja mengeneralisasi persoalan. Akibatnya, Polri hanya punya pekerjaan rumah (PR) baru  untuk membuktikan apakah benar kelompok baru tersebut eksistensinya untuk melakukan berbagai tindakan teror atau terorisme.

Masalahnya, menurut Harits, pada kasus kejahatan yang senada (extra ordinary crime) semacam korupsi, jika ada yang tertangkap tidak pernah disebut nama partainya atau nama universitas asal tempat dia menimba ilmu?

Menurutnya, kasus ini bisa saja sebuah kesengajaan untuk mendelegitimasi kelompok tertentu.Upaya yang dinilainya ngawur ini semata untuk membangun citra buruk kelompok-kelompok Islam dan aktifisnya. Dan ada kemungkinan tidak berhenti di HASMI. Sebab bisa saja merembet kepada kelompok-kelompok lain dengan modus tertentu yang sama atau beda sama sekali, ujarnya.

“Menurut saya, ini dilakukan oleh aparat bukan faktor kepanikan.Tapi mereka sengaja mau memelihara isu terorisme ini dengan menangkapi banyak aktifis dengan bukti premature bahkan hanya berdasarkan dugaan. Dan merekayasa keterkaitan-keterkaitan dengan kelompok tertentu. Sebuah langkah pre-emptif aparat tapi banyak menabrak rambu-rambu hukum (criminal justice system).”

Dalam pemantauan Haris selama ini, dalam banyak statement yang diungkap Polri atau Densus pasca penangkapan dengan proses dipengadilan ternyata tidak nyambung. Contoh kasus Insinyur dari Cibiru-Bandung yang ditangkap dengan tuduhan mengancam keselamatan Presiden SBY dll, bahkan SBY sempat merespon. Tapi kenyataannya, sampai diproses di pengadilan, dakwaan tidak ada.

Dalam kasus serupa, penangkapan Densus atas kasus orang yang di tangkap di Kalbar dan dibawa ke Jakarta akhirnya dilepas setelah tidak terbukti. Sementara, media dengan gegap gempita sudah mewartakan Densus menangkap terduga “teroris” dan orangpun sudah mencapnya “teroris”.

Dulu adiknya Yosefa bom Mapolresta Cirebon dan wartawan JAT juga jadi korban main tangkap, dan menuruynya, ini sangat menyalahi prosedur hukum. Menurutnya masih banyak kasus serupa lainya.
Media Sepihak

Menurut Harits, perlakukan terhadap orang-orang salah tangkap sangatlah tidak memadai dan kurang manusiawi. Bahkan rehabilitasi atas orang-orang yang salah tangkap tidak pernah dilakukan, kadang cuman dikasih uang 1 juta sebagai ganti rugi kerusakan materiil atau setelah fisik mereka babak belur.

“Apa yang Densus lakukan itu arogan dan itu malah memantik perlawanan-perlawanan sporadis untuk orang-orang yang merasa terdzolimi. Contohlah poso seperti itulah faktanya, mereka orang-orang yang merasa terdzolimi  dan mereka melakukan perlawanan. Apa yang dilakukan Densus88 disadari atau tidak telah menyemai, menumbuh suburkan dan melestarikan aksi teror oleh orang-orang lama maupun yang baru.”

Menurutnya,  tidak salah kalau ada orang yang berkomentar terorisme itu terkesan menjadi isu yang dipelihara.

Karenanya, Harits mengkritik agar Densus lebih professional lagi dan tak lagi mengkait-kaitkan dengan agama dan kelompok tertentu jika ada kasus terjadi.
“Kalau ada orang yang melakukan teror, ya tindak saja karena Islam pun tidak membenarkan hal itu. Dan Densus harus berani bertanggungjawab atas tindakan-tindakan exstra judicial killing selama menjalankan proyek kontra-terorisme.”

Kedua, Harits, juga mengkritik media cetak maupun elektronik, yang dinilai lepas kontrol bahkan sangat semena-mena melakukan penghakiman secara sepihak atas orang-orang yang masih terduga.
Menariknya, para pekerja dan pemilik media itu telah banyak mengambil keuntungan materi dengan tanpa peduli telah melecehkan Islam dan para aktifis pejuangnya. Bahkan secara sengaja membantu untuk membangun persepsi khalayak untuk membenci para aktifisnya.

Ketiga,  pada orang-orang yang merasa terdzolimi, Harits menyarankan untuk berfikir lebih matang. Apalagi untuk menuntut balas atas nama jihad. Karena itu dinilainya hanya kontra produktif dengan misi besar penegakan syariah. Karena itu, sebaiknya mengikuti jalan yang benar dan perlu kiranya kembali merujuk kepada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Friday, October 26, 2012

Al Qur'an Menjawab Misteri Piramida Mesir

BANGUNAN menjulang berbentuk segitiga itu, diyakini memiliki beragam analisis tentang misteri konstruksinya. Dibangun pada masa kekuasaan Firáun Khufu pada tahun 2560 SM, rupa-rupanya kontraversi masih terus berlanjut hingga akhir abad ke-19.

Logika para ilmuwan pun bingung menangkap bagaimana sebuah piramida dibangun? Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini?

Koran Amerika Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.

Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat.

Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam.

Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Singkatnya lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid.

Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan.
Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu sepuluh hari hingga mirip dengan batu aslinya.

Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.”
Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar dua puluh tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang piramida Bosnia, “Piramida Matahari” dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. (Gambar dari batu piramida).

Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!

Al-Qur’an Ternyata Lebih Dulu Punya Jawaban
Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1400 tahun sebelem mereka mengungkapkannya, perhatikan sebuah ayat dalam Al Quran berikut ini:

“Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashash: 38

Subhanallah! bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis.

Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini.

Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, berbilang tahun setelah Berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monumen yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat.

Kenyataan ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah berbicara sesuai hawa nafsunya saja melainkan petunjuk dari Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa … Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi terakhir-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya dikemudian hari!!
Subhanallah! Sungguh suatu hal yang hanya dapat dipahami oleh orang orang yang bukan sekedar berakal, tetapi juga mempergunakan akalnya. Wallahua’lamu



Intoleran, Raja Bali Minta Umat Islam Tidak Kurban Sapi

DI BALI, selama ini ketika umat Hindu menjalankan Nyepi, umat Islam dilarang mengumandangkan adzan. Kini, menghadapi Idul Qurban ternyata umat Islam masih juga diimbau untuk tidak menyembelih sapi.

Adalah Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali, di sela-sela dialog Islam–Hindu di Jawa Tengah, seperti dikutip Tribunnews.com, Rabu (24/10/2012), meminta agar umat Islam tidak menyembelih sapi dengan dalih sapi adalah hewan yang disucikan kaum Hindu.

”Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton (saudara, red) Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme,” katanya.

Dengan dalih toleransi, Arya meminta Desa Adat di Bali untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam. Harapannya, kata Arya, tanah Bali tetap sakral dan suci.

“Ya ibaratnya, di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung seperti yang dilakukan Sunan Kudus yang sangat toleran,” ungkap Arya yang juga President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini.
Tak berhenti sampai di situ, Arya juga mengimbau kepada perusahaan-perusahaan dan pejabat di Bali jika ingin membagikan dana CSR supaya tidak berupa sapi.

”Karena umat Hindu harus memberi contoh dan teladan sebagaimana tatwa yang diajarkan Sang Sulinggih. Mari hargai perasaan umat Hindu sehingga persatuan bisa dijaga,” ungkap President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini.

Arya beralasan, imbauannya itu sesuai dengan kebijakan Sunan Kudus saat mendakwahkan Islam di tanah Jawa dahulu. Menurutnya, kala itu Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi di wilayah Kudus demi menghargai penganut Hindu. (Pz/Islampos/Trib)

Definisi dan macam Transducer

Berasal dari kata “traducere” dalam bahasa Latin yang berarti mengubah. Sehingga transduser dapat didefinisikan sebagai suatu peranti yang dapat mengubah suatu energi ke bentuk energi yang lain. Bagian masukan dari transduser disebut “sensor ”, karena bagian ini dapat mengindera suatu kuantitas fisik tertentu dan mengubahnya menjadi bentuk energi yang lain.
Gambaran Umum Input-Output Transducer


Dari sisi pola aktivasinya, transduser dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 

  • Transduser pasif, yaitu transduser yang dapat bekerja bila mendapat energi tambahan dari luar. 
  • Transduser aktif, yaitu transduser yang bekerja tanpa tambahan energi dari luar, tetapi menggunakan energi yang akan diubah itu sendiri. 

Untuk jenis transduser pertama, contohnya adalah thermistor. Untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik yaitu tegangan listrik, maka thermistor harus dialiri arus listrik. Ketika hambatan thermistor berubah karena pengaruh panas, maka tegangan listrik dari thermistor juga berubah. Adapun contoh untuk transduser jenis yang kedua adalah termokopel. Ketika menerima panas, termokopel langsung menghasilkan tegangan listrik tanpa membutuhkan energi dari luar.

Pemilihan suatu transduser sangat tergantung kepada kebutuhan pemakai dan lingkungan di sekitar pemakaian. Untuk itu dalam memilih transduser perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini: 

  • Kekuatan, maksudnya ketahanan atau proteksi pada beban lebih. 
  • Linieritas, yaitu kemampuan untuk menghasilkan karakteristik masukan-keluaran yang linier. 
  • Stabilitas tinggi, yaitu kesalahan pengukuran yang kecil dan tidak begitu banyak terpengaruh oleh faktor-faktor lingkungan. 
  • Tanggapan dinamik yang baik, yaitu keluaran segera mengikuti masukan dengan bentuk dan besar yang sama. 
  • Repeatability : yaitu kemampuan untuk menghasilkan kembali keluaran yang sama ketika digunakan untuk mengukur besaran yang sama, dalam kondisi lingkungan yang sama. 
  • Harga. Meskipun faktor ini tidak terkait dengan karakteristik transduser sebelumnya, tetapi dalam penerapan secara nyata seringkali menjadi kendala serius, sehingga perlu juga dipertimbangkan.

Tuesday, October 23, 2012

Sengketa Pasar Tanah Abang, 'Uji Nyali' Bagi Jokowi


Seharian ini berita soal inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh gubernur baru Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memenuhi halaman-halaman berita dan media sosial.

Kalau diperhatikan, berita dan respon mengenai hal ini menjadi semacam dagelan yang tentunya sangat disukai publik yang jenuh dengan berita-berita buruk tentang ibukota tercinta. Namun, jika kita perhatikan, dagelan hari ini sungguh berhasil menutup satu isu besar yang sedang berhembus sekitar kinerja sang gubernur baru, yakni seputar pengelolaan pasar Blok A Tanah Abang.

Hari ini, berita tentang desakan masyarakat agar Jokowi secepatnya menyelesaikan sengketa pengelolaan pasar Blok A Tanah Abang antara Pemprov Jakarta dengan PT PT Priamanaya Djan International milik putra Djan Faridz (Mentri Perumahan Rakyat) seolah hilang dihembus angin.

Mungkin yang dilakukan Jokowi hari ini memang yang terbaik yang dia bisa. Karena, dengan ‘berkunjung’ ke kelurahan-kelurahan, dia seolah telah melakukan sesuatu untuk memperbaiki kinerja perangkat pemerintahan yang dikomandoinya saat ini.

Lagi pula, dagelan hari ini membuat sosoknya yang sejak awal memang sudah merupakan seorang ‘media darling’ semakin populer di masyarakat. Kalau memang begitu, saya sungguh mengkhawatirkan nasib Jakarta di kemudian hari. Alangkah baiknya jika waktu yang dipergunakan Jokowi untuk sidak digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang lebih penting.

Masyarakat membutuhkan tindakan yang nyata, bukan aksi-aksi pencitraan seperti yang terjadi hari ini. Di lain pihak, untuk menyelesaikan perkara Pasar Blok A Tanah Abang memang membutuhkan curahan tenaga dan pikiran ekstra keras dari Jokowi dan stafnya yang katanya masih belum tahu soal ini.

Kenapa hal ini merupakan masalah pelik untuk Jokowi?

Sebagai gubernur yang baru saja melewati masa kampanye yang panjang dan melelahkan untuk meraih kemenangan, Jokowi tentu harus mempertimbangkan balas jasa terhadap siapapun yang telah berjasa memenangkannya dalam Pilkada Jakarta baru-baru ini.

Meskipun membantah, Djan Faridz sempat diisukan sebagai seorang donatur besar terhadap upaya pemenangan Jokowi merebut tampuk pimpinan DKI Jakarta. Sebagai donatur, tentu Djan berharap setelah menang, Jokowi akan memenangkan pihaknya dalam sengketa Tanah Abang yang sudah berlangsung sejak lama. Di era Foke, nampaknya Djan Faridz tidak mengalami kendala yang begitu berarti dalam memenangi pengelolaan pasar terbesar se Asia Tenggara ini.

Sementara itu, Jokowi juga berhutang banyak kepada Prabowo Subianto dan ‘pasukan’ Gerindranya dalam kemenangannya menjadi gubernur Jakarta. Tentu kita belum lupa, Prabowo Subianto di depan publik mempertemukan Jokowi dengan Hercules Rosario Marshal, ‘tokoh’ Tanah Abang yang berpeluang besar juga menginginkan kembali ‘pengaruh’ yang pernah dimilikinya di tempat tersebut sebelum kelompok Betawi menyingkirkannya.

Keputusan Jokowi dalam kasus ini sangat menentukan. Apakah ia akan berpihak pada Djan Faridz, ataukan pada Gerindra? Tentu dalam kemasannya nanti, sang gubernur akan menyatakan bahwa apapun hasilnya, keputusan tersebut merupakan yang terbaik untuk masyarakat Jakarta.

Saya, sebagai masyarakat, sangat berharap gubernur baru menyudahi dagelan-dagelan pencitraannya di media dan mulai mengurai benang kusut kekuasaan Ibukota. Meskipun besar kemungkinan Jokowi masih akan disetir oleh banyak pihak. Terutama mereka yang berjasa mendudukkannya di jabatan gubernur DKI saat ini. Lantas, akankah Jokowi berani mengambil sikap tegas dan bijak terkait 'uji nyali' ini ?

Akankah Jokowi Meniru Kesalahan Ali Sadikin ?

Mungkin masih banyak orang tidak mengetahui bahwa Ali Sadikin adalah gubernur DKI Jakarta yang kontroversial. Dia lah yang pertama kali mencanangkan tempat prostitusi Kramat Tunggak dan melegalkan judi di Jakarta. Saat menjadi gubernur (1966-1977) banyak fihak –terutama alim ulama dan tokoh-tokoh Islam- yang terus menerus memprotesnya. Tapi Ali Sadikin memang menggunakan aksi kepala batu. Itu, diakuinya sendiri bahkan ia terus merealisasikan idenya yang ‘kotor’ itu.
 
Dalam wawancara dengan Majalah Tempo, 21-27 Maret 2005, Ali Sadikin terang-terangan menyatakan : “Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka.” Dalam wawancara itu ia juga menyatakan: “Saya ingin bersikap realistis dan tidak munafik. Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), saya melegalkan judi karena pemda tak punya anggaran cukup. Padahal saat itu butuh banyak uang untuk membangun sekolah, puskesmas, dan jalan. Alim ulama semua meributkan, tapi saya bilang ke mereka, kalau mengharamkan judi, mereka harus punya helikopter. Soalnya, jalan-jalan saya bangun dari uang judi. Jadi, jalan di Jakarta juga haram.”

Ia juga menyatakan: “Ya! Saya tahu judi itu haram. Tapi kita harus memikirkan masyarakat kecil. Demi judi, saya rela masuk neraka. Tapi saya yakin Allah mengerti apa yang saya perbuat. Saya jengkel dengan orang-orang yang mengaku Islam itu. Mereka merasa dirinya malaikat. Mereka masih berpikir seperti abad ke-15.”

Menurutnya bila Gubernur DKI (2005) mau melegalkan judi maka akan mendapatkan dana yang besar. Kata Ali Sadikin: “Kalau judi di Jakarta legal, Pemda DKI Jakarta bisa mendapat uang sekitar Rp 15 triliun per tahun. Itu jumlah yang besar. Bisa untuk membangun macam-macam. Untuk melanjutkan Proyek Banjir Kanal Timur, mendalamkan sungai, membuat rumah susun, membangun jalan-jalan. Proyek-proyek itu tak bisa ditunda lagi. Padahal pemerintah tak punya uang untuk menjalankannya.”

Ia juga mengaku terus terang, dialah yang membuat lokalisasi pelacuran di Kramat Tunggak (sebelum akhirnya Gubernur Sutiyoso merubuhkannya dan menggantinya dengan Jakarta Islamic Center).

“Ya. Saya yang membuat lokalisasi di Kramat Tunggak. Soalnya, ketika itu banyak berkeliaran “becak komplet” yang isinya wanita tunasusila. Daripada berkeliaran di jalan, lebih baik dibuat lokalisasi khusus. Sekarang juga banyak ABG di mal-mal yang menjadi wanita tunasusila. Mengapa tidak kita lokalisasi saja? Itu lebih baik. Saya heran Pemda DKI dan DPRD menutup Kramat Tunggak. Saya sudah bilang ke Sutiyoso, “Memang nanti Sutiyoso masuk surga. Kalau saya, sih, akan masuk neraka,” kata Ali Sadikin.

Tokoh Masyumi yang ‘sezaman’ dengan Ali Sadikin, Mohammad Roem dalam catatannya di “Bunga Rampai Sejarah”, juga mengritik sikap Gubernur yang urakan ini.

Menurutnya, Ali Sadikin juga pernah menyatakan:

“Sembahyang 1000 kali tidak dapat menghasilkan uang satu juta rupiah.” Waktu memberikan sambutan di Panti Asuhan di wilayah Lenteng Agung (1973), menurut Roem, Ali Sadikin menyatakan di depan wartawan: “Kalau panti asuhan ini menginginkan perbaikan jalan, apakah tahu berapa biayanya untuk jarak sepanjang 7 km. Biayanya adalah 140 juta. Dari mana uangnya? Apakah bisa dari tajuk rencana surat-surat kabar?”

Begitulah sikap Ali Sadikin yang kini banyak diopinikan ‘hebat’ oleh para tokoh dan media massa tanah air. Boleh jadi gubernur ini mencatat ‘prestasi’, seperti membuat Taman Ismail Marzuki dan bersama istri mantan presiden Soeharto membuat Taman Mini Indonesia Indah. Tapi, perilakunya yang tidak terpuji dengan merintis dan mengembangkan pelacuran dan judi tentu saja adalah catatan merah. Meski ia mengaku saat menjadi gubernur, kas Pemda defisit dan dengan hasil judi itu ia menerima sedikitnya 20 milyar setahun saat itu.

Karena itu para ulama dan tokoh Islam yang faham sejarah, akan kritis terhadap perilaku Ali Sadikin ketika menjabat gubernur. Mereka tidak akan serta merta mengidolakan Ali Sadikin, apalagi mengambil inspirasi darinya.
Masalah judi dan pelacuran telah jelas dan tegas diharamkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Al Qur’an menganggap bahwa pelaku judi dan zina adalah kriminal. Karena itu ia harus dihukum, bukan malah diberikan tempat yang nyaman untuk bekerja.

Al Qur’an menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS: Al Maidah [5]: 90)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS: An Nuur 2)

Maka, karena judi, perzinahan/pelacuran, minum khamr adalah perbuatan kriminal, seorang pejabat negara Muslim dilarang mensahkannya dan menfasilitasinya. Meskipun bermilyar-milyar atau trilyunan uang didapat dari sana. Pejabat yang memakai dalil bahwa dengan lokalisasi judi dan pelacuran uang mudah didapat, maka pejabat itu sebenarnya menunjukkan jati dirinya yang tidak kreatif dan tidak mau mencari uang dengan kerja keras.  Dengan kata lain, hanya mau mencari enaknya dan tidak peduli urusan halal dan haram.

Ulama besar Syeikh Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya “Halal dan Haram dalam Islam”, menjelaskan : “Salah satu kebaikan Islam dan kemudahannya yang dibawakan untuk kepentingan ummat manusia, ialah "Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali di situ memberikan suatu jalan keluar yang lebih baik guna mengatasi kebutuhannya itu."

Hal ini juga seperti yang diterangkan oleh Ibnul Qayim dalam “A'lamul Muwaqqi'in” 2: 111 dan “Raudhatul Muhibbin” halaman 10. Beliau mengatakan:

“Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan mereka untuk mengetahui nasib dengan membagi-bagikan daging pada azlam, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya dengan doa istikharah. Allah mengharamkan mencari untung dengan menjalankan riba; tetapi di balik itu Ia berikan ganti dengan suatu perdagangan yang membawa untung. Allah mengharamkan berjudi, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa hadiah harta yang diperoleh dari berlomba memacu kuda, unta dan memanah. Allah juga mengharamkan sutera, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa aneka macam pakaian yang baik-baik, yang terbuat dari wool, kapuk dan cotton. Allah telah mengharamkan berbuat zina dan liwath, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa perkawinan yang halal. Allah mengharamkan minum minuman keras, tetapi dibalik itu Ia berikan gantinya berupa minuman yang lezat yang cukup berguna bagi rohani dan jasmani. Dan begitu juga Allah telah mengharamkan semua macam makanan yang tidak baik (khabaits), tetapi di balik itu Ia telah memberikan gantinya berupa makanan-makanan yang baik (thayyibat).”

Beberapa hari lalu, sebelum pergi ke DPRD DKI Jakarta, gubernur terpilih Joko Widodo (Jokowi) lebih dulu singgah di rumah Ali Sadikin.

"Saya cuma ingin mengambil spirit Pak Ali, karena beliau kan pernah jadi gubernur juga, makanya saya berangkat dari sini,"
kata pria 56 tahun itu di kediaman Ali Sadikin, Jl Borobudur 2, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2012).


Karena itu tokoh-tokoh dan ormas-ormas Islam Jakarta, perlu terus memantau kebijakan yang diambil gubernur DKI saat ini.  Apa yang dimaksudkan Jokowi, bahwa ia akan mengambil inspirasi dari Ali Sadikin? Apakah ia akan menghalalkan yang haram sebagaimana mantan gubernur berlatar belakang militer tersebut?


Jakarta yang penuh masalah memang butuh orang yang bertangan dingin menyentuh hati rakyat. Namun, tentusaja, bukan yang menerabas halal-haram yang ujungnya, hanya melahirkan ketidak-berkahan di sana-sini. Wallahu alimun hakim.*

Ternyata, Panitia Seminar BNPT Suka Mark Up Dana

Akhir-akhir ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mulai kembali mengadakan beberapa acara seminar, diskusi dan workshop deradikalisasi dihotel-hotel mewah di sejumlah kota besar di Indonesia.
 
Tak cukup itu saja, BNPT juga sedang gencar-gencarnya membentuk sebuah forum yang kemudian diberi nama dengan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT). Forum ini oleh BNPT ditargetkan agar bisa terbentuk di 15 provinsi besar di Nusantara pada tahun 2012. 

Hingga saat ini 11 provinsi yang telah memiliki forum diantaranya adalah Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Palembang, Jawa Tengah dan Bali. Sementara yang telah direncanakan untuk didirikan adalah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Palu dan Kalimantan Timur.

Menurut ustadz Abu Rusydan bahwa sejumlah proyek termasuk forum yang dibentuk BNPT dengan nama FKPT hanyalah sekedar untuk menghabiskan dana dan anggaran negara semata.

“Itu hanya proyek saja. Selama ini saya mengikuti acara-acara mereka, hal semacam itu merupakan acara untuk menghabiskan anggaran semata. Dan beberapa kali saya diundang oleh mereka untuk mengisi acara-acara seminar atau diskusi mereka, yang saya lihat seperti itu,” Ujarnya di sela-sela bedah majalah islam An Najah dengan tema “Ketika Jihad Harus Sendiri” di masjid  Jami’ An Nur Sangkal Putung Klaten Jawa Tengah pada Minggu pagi (21/10/2012).

Ustadz yang juga pernah mengeyam pendidikan militer di Afghanistan ini juga mengungkapkan, bahwa pernah suatu kali dia diundang BNPT untuk memberikan pandangannya tentang jihad di sebuah universitas di kota Semarang yang diikuti oleh para dosen kampus di Semarang.

Namun betapa kagetnya Ustadz Abu Rusydan ketika dia mendengar bisikan-bisiskan dari para peserta kepada peserta lainnya yang hadir dengan mengatakan, “Nanti amplopannya berapa tho? Coba tanyakan dulu sama panitia. Kemarin yang acara disana amplopannya gede lho,” cerita Abu Rusydan menirukan peserta yang hadir kala itu.

Tidak hanya itu saja, ustadz Abu Rusydan juga mengisahkan saat dirinya diminta ngisi seminar BNPT di Jakarta, dari pihak panitia sempat menggelembungkan biaya perjalannya hingga berkali-kali lipat.

“Pernah saya diminta ngisi seminar oleh BNPT di Jakarta. Dari rumah di Kudus sampai Jakarta selalu saya tulis berapa biaya yang saya keluarkan. Sebab dari panitia bilang akan mengganti ongkos transport saya, dan saya diminta untuk menuliskan besarannya. Lalu saya tulis, dari Kudus ke bandara Semarang naik bis bayar 10 ribu, beli karcis pesawat Lion Air sekitar 300 ribu, naik taksi ke tempat acara 50 ribu. Tapi setelah acara, saya kaget, karena naik taksi saya hanya bayar 50 ribu, oleh panitia seminar dari BNPT kemudian ditulis 500 ribu dan yang lain juga sama,” kata Abu Rusydan sambil tersenyum.

Guna menghadapi upaya deradikalsasi dan berbagai rongrongan pihak-pihak yang memusuhi Islam, ustadz Abu Ruysdan berpesan kepada kaum muslimin khususnya para aktivis Islam untuk selalu merapatkan barisan dalam menghadapi makar orang-orang kafir.

“Pesan saya kepada kaum muslimin, khususnya aktivis islam, hendaknya kita saling bersinergi dan merapikan barisan untuk menghadapi setiap rencana jahat orang-orang kafir. Jangan hanya karena adanya suatu perbedaan pandangan malah membuat kita bercerai dan saling mencela dan merendahkan,” ucapnya.


Selain itu ia berpesan kepada media Islam agar semakin meningkatkan volume pemberitaan dan kwalitasnya untuk membela setiap kegiatan umat Islam.


“Dan kepada media islam, saya rasa sudah mencoba untuk semaksimal mungkin memberikan pembelaannya terhadap setiap kegiatan kaum muslimin. Cuma menurut saya yang perlu ditingkatkan yaitu dari segi volume dan kwalitasnya. Jangan kita hanya mengutamakan kaidah-kaidah jurnalistik sekuler, tanpa mengedepankan kejujuran dalam materi pemberitaannya. Jadi disini memang perlu adanya investigasi langsung dalam setiap peristiwa”, tambahnya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More