Tuesday, January 29, 2013

Ini Dia Janji Jokowi yang Tidak bisa Dipegang

Kendati 'di-bully' oleh banyak pihak, tokoh muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya terus mengkritisi kinerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Mustofa bersikeras bahwa kritik yang dialamatkan kepada Jokowi adalah bentuk kasih sayang warga Jakarta kepada pemimpinnya.

Kritik keras Mustofa itu masih terus menghiasi time line akun Twitter Mustofa, @MustofaNahra. Kepada itoday (23/01) menegaskan, bahwa upaya mengkritik sama sekali bukan untuk menebar kebencian. "Kalau pejabat sudah kepilih, rakyat yang mendukung pun tidak harus anti kritik. Ketika seseorang menjadi pemimpin, besar kemungkinan akan melakukan pelanggaran atau pun keluar dari garis," tegas Mustofa.

Menurut Mustofa, banyak kata-kata atau janji Jokowi yang tidak bisa dipegang, sehingga perlu dikritik dan diingatkan. Di antaranya soal 'Kartu Jakarta Pintar', pembangunan deep tunnel, enam ruas jalan tol dalam kota, dan persoalan pedagang kaki lima.

"Jokowi sebelum ke Jakarta saya kira sudah mengerti karena pernah menjadi Walikota Surakarta. Berarti ke Jakarta bukan otak kosong. Soal enam ruas jalan tol, Jokowi dulu menolak. Tetapi setelah ketemu Djoko Kirmanto, dia setuju," ungkap Mustofa.

Soal 'Kartu Jakarta Pintar', menurut Mustofa, Jokowi mengkritik Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun belakangan Jokowi menggunakan konsep itu untuk 'Kartu Jakarta Pintar'. "Soal BLT, Jokowi berkali-kali mengatakan tidak setuju BLT, tetapi Kartu Jakarta Pintar itu bantuan langsung tunai juga. Sama saja, Jokowi mengkritik BLT tetapi dipraktikkan," tegas Mustofa.

Secara khusus Mustofa juga menyorot aksi blusukan Jokowi di sejumlah tempat di Jakarta. "Jokowi tidak perlu blusukan. Data awal tentang kondisi Jakarta bisa dilihat di internet. Berita bahwa masalah Jakarta  ada di sungai sudah diketahui. Jadi tidak perlu mengulang-ulang riset," kata Mustofa.

Tak hanya itu, Mustofa juga mengingatkan agar Jokowi tidak secara tiba-tiba mencetuskan ide yang sebelumnya tidak direncanakan. "Banyak program-program yang tidak disebut di awal tetapi muncul belakangan. Seperti pembangunan Masjid Raya Jakarta. Dulu Jokowi mengatakan akan mengoyomi pedagang kaki lima dan pengamen. Tetapi dalam tiga bulan pertama jabatannya tidak disentuh sama sekali. Akhirnya yang kita lihat, pengamen berbuat brutal. Yang diucapkan saat kampanye tidak terbukti," pungkas Mustofa.

Kendati 'di-bully' oleh banyak pihak, tokoh muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya terus mengkritisi kinerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Mustofa bersikeras bahwa kritik yang dialamatkan kepada Jokowi adalah bentuk kasih sayang warga Jakarta kepada pemimpinnya.

Kritik keras Mustofa itu masih terus menghiasi time line akun Twitter Mustofa, @MustofaNahra. Kepada itoday (23/01) menegaskan, bahwa upaya mengkritik sama sekali bukan untuk menebar kebencian. "Kalau pejabat sudah kepilih, rakyat yang mendukung pun tidak harus anti kritik. Ketika seseorang menjadi pemimpin, besar kemungkinan akan melakukan pelanggaran atau pun keluar dari garis," tegas Mustofa.

Menurut Mustofa, banyak kata-kata atau janji Jokowi yang tidak bisa dipegang, sehingga perlu dikritik dan diingatkan. Di antaranya soal 'Kartu Jakarta Pintar', pembangunan deep tunnel, enam ruas jalan tol dalam kota, dan persoalan pedagang kaki lima.

"Jokowi sebelum ke Jakarta saya kira sudah mengerti karena pernah menjadi Walikota Surakarta. Berarti ke Jakarta bukan otak kosong. Soal enam ruas jalan tol, Jokowi dulu menolak. Tetapi setelah ketemu Djoko Kirmanto, dia setuju," ungkap Mustofa.

Soal 'Kartu Jakarta Pintar', menurut Mustofa, Jokowi mengkritik Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun belakangan Jokowi menggunakan konsep itu untuk 'Kartu Jakarta Pintar'. "Soal BLT, Jokowi berkali-kali mengatakan tidak setuju BLT, tetapi Kartu Jakarta Pintar itu bantuan langsung tunai juga. Sama saja, Jokowi mengkritik BLT tetapi dipraktikkan," tegas Mustofa.

Secara khusus Mustofa juga menyorot aksi blusukan Jokowi di sejumlah tempat di Jakarta. "Jokowi tidak perlu blusukan. Data awal tentang kondisi Jakarta bisa dilihat di internet. Berita bahwa masalah Jakarta  ada di sungai sudah diketahui. Jadi tidak perlu mengulang-ulang riset," kata Mustofa.

Tak hanya itu, Mustofa juga mengingatkan agar Jokowi tidak secara tiba-tiba mencetuskan ide yang sebelumnya tidak direncanakan. "Banyak program-program yang tidak disebut di awal tetapi muncul belakangan. Seperti pembangunan Masjid Raya Jakarta. Dulu Jokowi mengatakan akan mengoyomi pedagang kaki lima dan pengamen. Tetapi dalam tiga bulan pertama jabatannya tidak disentuh sama sekali. Akhirnya yang kita lihat, pengamen berbuat brutal. Yang diucapkan saat kampanye tidak terbukti," pungkas Mustofa.


Read more about Bahwa by www.itoday.co.id

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More