Thursday, February 21, 2013

7 Catatan Kritis Untuk RUU Tindak Pidana Pendanaan Terorisme



Oleh: Harits Abu Ulya

Direktur The Community of Ideological Islamic Analisyst

Terkait legislasi RUU Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, bahwa dari kajian yang kita lakukan terhadap draft RUU, ada beberapa catatan kritis sebagai berikut;

1. Sejatinya RUU ini adalah komplemen (pelengkap) dari UU yang ada terkait pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme (UU no 15/2003). Dan, ini satu paket dengan 4 UU lainya, yakni UU intelijen yang sudah disahkan, UU Teroris yang dalam proses revisi, RUU Kamnas, dan UU Ormas yang juga mau direvisi. Yang secara khusus diarahkan kepada kontra-terorisme dalam ragam bentuknya, UU ini diharapkan bisa mengabsorsi substansi penindakan terorisme yang lebih efektif. Dan pijakannya pada 8 poin berikut;
  • 1. kelemahan intelijen (dan solusinya ini sudah dirumuskan dalam UU Intelijen).
  • 2. Masa penangkapan dan penahanan yg terlalu singkat (dan ini perlu diperpanjang di UU yang baru)
  • 3. Perbuatan awal yang mengarah kepada aksi teror yang belum dapat ditindak (dan ini mengarah kepada kriminalisasi pemikiran/pendapat/ konsep).
  • 4. Ancaman hukuman terhadap teroris terlalu ringan (dalam UU revisi akan diperberat).
  • 5. Perlu ada pengadilan khusus tipiter (tindak pidana teroris) dan terpusat
  • 6. Pelibatan TNI berdasarkan UU TNI No 34/2004 dan UU Polri No2/2002.
  • 7. Deradikalisasi dengan melibatkan instansi terkait (Kementrian Agama dan lain-lain)
  • 8. Memutus aliran dana/pendanaan.

Dan dalam RUU yang lagi di tangan pansus dan masuk tahapan dengar pendapat, diharapkan bisa mempersempit ruang gerak teroris dengan memutus semua akses pendanaan yang memungkinan.

2. Namun demikian, dalam kajian atas draft RUU ini pemerintah hendak memberangus individu atau korporasi atau kelompok yang dicap teroris. Dan “nafsu” ini berdiri di atas paradigma yang salah kaprah sejak awal dan bahkan sangat terkesan ini adalah langkah penyelarasan atas proyek global Barat yang bernama WOT (war on terrorism) yang sangat pejoratif tendensius menjadikan umat Islam sbagai musuh dan bidikan.

3. Dalam RUU ini memuat pasal karet, karena banyak frase “patut diduga”. Dan seseorang/korporasi/lembaga bisa dikenai UU ini hanya karena alasan patut diduga mendanai aksi teror langsung/tidak langsung.

4. Bahkan dalam pasal 9 ayat 4 begitu rentannya disalahgunakan oleh lembaga keuangan (lebih dari 18 jenis) untuk memfitnah seseorang/korporasi/lembaga dengan alasan “patut diduga” kemudian melaporkan ke PPATK dengan delik tindak pidana terorisme. Ini cara-cara jahat, melibatkan banyak pihak dengan parameter yang kabur.

5. Bahkan terkesan pemerintah seperti “perampok” atas aset korporasi jika mereka tertuduh terlibat dalam pendanaan aksi teror langsung atau tidak, lihat pasal 6 ayat 5d dan e.

Dalam kejahatan besar, korupsi tidak diterapkan pasal ini, padahal korupsi juga melibatkan persekongkolan banyak orang dengan sebuah perusahaan atau departemen.

6. Dan Indonesia mengacu kepada arahan asing untuk menentukan apakah individu/kelompok/korporasi masuk katagori teroris atau tdk, (pasal 1 ayat 7b juncto pasal 22 ayat 1b). Dan ini bukti Indonesia tidak independen dalam isu terorisme, tetapi mengekor kepada kepentingan asing.

7. Dan lebih parah lagi, semua substansi RUU ini berdiri di atas definisi “teroris” yang kabur dan sangat politis. Sampai hari ini kelompok Islam yang mengusung Islam sebagai ideologi menjadi sasaran dengan berbagai rekayasa dan kriminalisasi atas nama drama terorisme. Dan ini adalah kepentingan Barat yang diaminkan pemerintah Indonesia yang sekuler. Di samping penjelasan Menkeu Agus Marto lebih mempertegas (secara implisit) bahwa RUU ini dibuat untuk mengikuti kepentingan asing sekalipun alasanya untuk meningkatkan bargaining ekonomi Indonesia di pentas dunia. Indonesia terlalu jauh masuk dalam kubangan perang melawan teroris versi Barat yang dikomandani AS.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More