Tuesday, April 30, 2013

Bos Baru BBC Fans Berat Israel

PENYAIR Amerika TS. Eliot menulis, “April adalah bulan terkejam.” April ini merupakan bulan terpilihnya pemimpin baru BBC yang dalam waktu dua pekan saja telah memasukkan orang-orang pro-Zionis garis keras di jajaran organisasi media terbesar di dunia yang dibiayai oleh masyarakat (Inggris).

Tony Hall menjabat sebagai Direktur Jenderal BBC yang baru per 2 April. Sebelumnya ia menjabat Direktur Pemberitaan BBC. Ia bekerja di sana hampir 30 tahun. Di samping berpengalaman dalam memahami nilai-nilai yang dipegang BBC, ia juga tahu apa yang diinginkan BBC.

Tak lama setelah penunjukkan dirinya, Hall menunjuk James Harding sebagai Direktur Pemberitaan BBC yang baru. Sampai Desember lalu, Harding menjabat sebagai editor di The Times—surat kabar Inggris pro-penjajah ’israel’ yang dimiliki oleh konglomerat media internasional Rupert Murdoch.

Pada 2011, dalam sebuah acara media yang diselenggarakan oleh The Jewish Chronicle, Harding secara terbuka mengakui, “Saya pro-’israel’. Saya mengakui keberadaan negara ‘israel’. Saya akan menghadapi masalah jika saya datang ke harian ini (The Times) ini dengan latar belakang sebagai orang yang anti ‘israel’. Tentu saja Rupert Murdoch pun pro-’israel’.”

Pernyataan Harding ini dicetak oleh The Jewish Chronicle dengan suka cita. Pernyataan Harding itu mengingatkan para pembacanya pada serangan ‘israel’ di Gaza akhir 2008 sampai awal 2009 lalu yang menewaskan 1.400 lebih warga Palestina, di mana Harding membuat ulasan di harian The Times dengan judul “Pembelaan ‘Israel’.

Sekarang dengan membawa sikap pro-’israel’-nya ke jajaran atas BBC, Harding akan bertanggung jawab untuk berita-berita andalan, terkini, termasuk program Today, Newsnight, Panorama dan Question Time. Ia juga bertanggung jawab untuk buletin harian pada saluran televisi utama BBC dan stasiun radio.

Menurut harian Inggris, Guardian, Harding saat ini bisa dikatakan memegang “pekerjaan redaksi paling penting di Inggris”. Ia dikabarkan dibayar £340.000 (US$518,000) per tahun. Kabar ini beredar dua minggu setelah mantan Menteri dari Partai Buruh, James Purnell mengisi jabatan barunya di BBC sebagai Direktur Strategi dan Digital.

Purnell pernah menjabat selama dua tahun di parlemen sebagai Ketua Kelompok Lobi Westminster, Labour Friends of ‘Israel’ (LFI). LFI yang memiliki pengaruh besar telah menarik dukungannya dari tokoh-tokoh politik senior di partai Buruh, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair dan Gordon Brown.

Tak mengherankan, Purnell yang menganut pandangan Zionis seringkali mempengaruhi pemberitaan BBC dan mengkondisikan bahwa ‘israel’ tidak berbuat salah.

Bukannya menyebut sebagai penjajah agresif, Purnell menggambarkan ‘israel’ sebagai korban dari permusuhan dan ‘teroris’ Arab. Dalam sebuah surat kepada majalah Prospect tahun 2004, Purnell menulis perbandingan yang dibuat jurukampanye antara ‘Israel’ dengan era apartheid Afrika Selatan.

Ia menyebutkan, “’Israel’ adalah negara demokrasi yang menderita oleh serangan teroris, dikepung oleh negara-negara yang tidak mau mengakui keberadaannya. ‘Israel’ menjadi korban dari organisasi teroris berdana besar yang menyebarkan kebencian anti Semit.” (“Judt on anti-Semitism,” 13 Desember 2004).

‘Israel’ yang memiliki 60 lebih peraturan diskriminasi terhadap warga Palestina yang mencakup seluruh aspek hidupnya, termasuk hak politik dan sipil, sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai negara demokrasi.

Dua dari negara tetangga terdekatnya secara geografis, Yordania dan Mesir memiliki perjanjian perdamaian jangka panjang dengan ‘israel’. Ini adalah sesuatu yang mustahil jika mereka tidak mengakui keberadaan ‘israel’.

Meski begitu, pandangan Purnell terhadap ‘israel’ itu tidak akan kehilangan tempat di BBC. Meskipun Royal Charter (piagam yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk mengesahkan sebuah badan atau organisasi) mewajibkan BBC agar bersikap netral dalam pemberitaannya.

Komitmen itu tidak dipegang oleh Hall yang juga mengajukan mantan editor Today, Ceri Thomas untuk mengisi kepala programming BBC. Pada tahun terakhirnya sebagai redaktur di Today, Thomas mengepalai sebuah program yang berisi wawancara dengan politikus senior ‘israel’ atau pun duta besarnya, rata-rata sekali setiap dua bulan.

Program itu di antaranya pernah mewawancarai bekas Wakil Menteri Luar Negeri, Danny Ayalon dan bekas Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, otak dibalik pembantaian di Gaza pada 2008-2009.

Pada periode yang sama, tidak ada satu pun pemimpin Palestina atau pun juru bicaranya yang mendapatkan kehormatan serupa. Di bawah kepempimpinan Thomas pada program berita Today tersebut, tidak ada pengakuan yang serius terhadap Palestina.

Thomas mungkin merasa Today tidak memerlukan pemberitaan dari sudut pandang Palestina. Setiap wawancara berputar-putar pada masalah ‘ancaman’ yang dirasakan ‘israel’ dari negara-negara Arab dan Iran.

Tidak ada wawancara tentang penjajahan ‘israel’ di tanah Palestina, beragam kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil Palestina atau pun gudang senjata nuklirnya yang mengancam keseluruhan Timur Tengah.

Setiap selesai wawancara, Kampanye Solidaritas Palestina (PSC) yang berbasis di Inggris akan menanyakan kepada Today mengapa penjajahan ‘israel’ di Tepi Barat dan Gaza di tengah kecaman dunia tidak ditampilkan dalam wawancara tersebut. Dan jawabannya selalu: “Tidak mungkin membahas kompleksitas konflik Timur Tengah dalam wawancara yang sempit waktunya.”

Jadi, selama enam kali wawancara yang dilakukan dalam 12 bulan, program berita Today di bawah kepemimpinan Thomas tidak bisa menemukan waktu untuk membahas penjajahan ‘israel’ dengan petinggi ‘Israel’ yang diwawancarainya. Semua waktu yang disediakan hanya diisi oleh kisah-kisah ‘israel’ sebagai korban, bukan penjajah agresif.

Ada satu peristiwa pada 2011 yang cukup terkenal. Pada 23 Maret, ‘Israel’ membombardir Jalur Gaza hingga menewaskan delapan warga Palestina, termasuk dua anak dan kakeknya. Pada tengah malamnya, Gaza membalas serangan ini dengan menembakkan dua roket ke ‘Israel’. Tidak ada korban luka atau pun tewas dari serangan balasan tersebut.

Keesokan paginya, buletin berita Today melaporkan serangan roket yang menghantam ‘israel’ dan sama sekali tidak menyebut serangan sebelumnya yang dilakukan pasukan ‘Israel’ ke Gaza hingga menewaskan delapan warga Palestina dan menimbulkan banyak kerusakan.

Dalam jurnalisme, itu adalah hal yang sangat memalukan. BBC sendiri secara konsisten melaporkan berita-berita yang menggambarkan ‘israel’ sebagai negara yang diserang, yang mencoba hidup dengan damai.

BBC pernah menjawab pernyataan PSC yang menanyakan mengapa kematian delapan warga Palestina—dua di antaranya adalah anak-anak—tidak dianggap sebagai berita layak sementara serangan roket yang tidak berakibat fatal diberitakan.

Jawaban BBC, “Memilih berita yang akan dimasukkan dalam buletin, termasuk menentukan urutan kapan berita itu muncul dan berapa lama waktunya adalah masalah subyektif dan satu hal yang kami tahu tidak setiap pemirsa dan pendengar selalu merasakan bahwa kami benar setiap saat.”

Peranan Thomas tersebut kini dibawanya dalam jabatan barunya di BBC sebagai kepala programming. Sementara Harding dan Purnell membawa komitmen mereka terhadap Zionisme. Sekarang, apa yang bisa diharapkan dari BBC tentang Palestina?*


0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More