Tuesday, April 16, 2013

Sejarah Gerakan Theosofi di Indonesia

Oleh: Artawijaya
Penulis buku “Gerakan Theosofi di Indonesia”



Pada akhir tahun 2011 ini, Komunitas Bambu, penerbit buku-buku sejarah yang dikelola oleh sejarawan muda, JJ Rizal, menerbitkan ulang buku berjudul “Theosofi, Nasionalisme, dan Elit Modern Indonesia“. Buku yang ditulis oleh Iskandar P Nugraha ini sebelumnya berjudul “Mengikis Batas Timur dan Barat: Theosofi dan Gerakan Nasionalisme di Indonesia” yang terbit pada tahun 2001. Buku ini adalah hasil penelitian Iskandar yang ditulis untuk skripsinya di Universitas Indonesia.

Dalam sinopsis yang ditulis di websitenya, Komunitas Bambu menulis, “Buku ini menguak peran historis Gerakan Theosofi di Indonesia. Di balik tuduhan Gerakan Theosofi adalah bagian dari konspirasi Yahudi, dihubungkan dengan isu-isu aktual termasuk isu neolib, ternyata Teosofi memberikan nuansa bagi cikal bakal sejarah pluralisme di Indonesia, yakni dengan mengikutsertakan semua unsur (pribumi, Eurasia, Belanda totok, dan Cina). Lebih jauh lagi, Gerakan Teosofi berkontribusi dalam penciptaan nasionalisme dan kemunculan elit modern Indonesia lantaran persentuhannya dengan gerakan pendidikan, gerakan politik, dan gerakan wanita…”

Theosofi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky, seorang wanita asal Rusia berdarah Yahudi, pada 1875 di New York, Amerika Serikat, ini memang memberikan pengaruh yang cukup besar bagi gerak nasionalisme di negeri ini. Banyak elit-elit nasional dan founding father negeri ini pada masa lalu yang terpengaruh dalam ajaran-ajaran Theosofi ini. Sebagian dari mereka bahkan menjadi anggota resmi dan memegang teguh keyakinan Theosofi. Kebanyakan dari para tokoh yang tergabung dalam Theosofi adalah mereka yang mengusung paham kebangsaan (nasionalisme), dan penganut kebatinan. Mereka umumnya tertarik dengan Theosofi karena jargon yang dikampanyekan oleh organisasi itu, diantaranya soal pluralisme, dimana semua agama pada intinya sama saja, selama menebarkan kebajikan, kasih sayang, toleransi, perdamaian, persamaan, dan sebagainya. Semua itu tercermin dalam motto organisasi ini, yaitu ”There is no religion higher than truth”, tak ada agama yang lebih tinggi daripada kebajikan.

Jargon-jargon tersebut pada masa itu disuarakan oleh para humanis Eropa, yaitu mereka yang mengusung paham humanisme sebagai pokok tertinggi dalam kehidupan, yang mana kebanyakan dari mereka adalah para penganut Theosofi ataupun Freemasonry yang datang ketika Indonesia masih bernama Hindia Timur atau sering disebut Hindia Belanda.

Tak salah jika Komunitas Bambu menyebut bahwa Theosofi memberikan nuansa bagi cikal bakal pluralisme di Indonesia. Karena, disamping para anggotanya dari beragam etnis, bangsa, dan agama, Theosofi juga mengajarkan kesamaan semua agama-agama (trancendent unity of religion) dan kesamaan Tuhan (trancendent unity of God) sebagaimana tercermin dalam pemikiran para tokohnya seperti Madame Blavatsky dan Annie Besant. Ujungnya, mereka ingin membangun sebuah persaudaraan universal, dengan menghapus sekat-sekat agama. Ajaran-ajaran masing-masing agama dihapus dengan nilai-nilai universal yang berlandaskan pada paham humanisme.

Sejarawan Robert Van Niels dalam buku ”Munculnya Elit Modern Indonesia” menyatakan bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Hindia Timur pada masa lalu memiliki peranan penting bagi munculnya elit modern Indonesia. Orang-orang Eropa yang datang pada masa itu, adalah para humanis yang tak hanya bekerja sebagai pegawai kolonial, tetapi juga membawa serta pemikiran dan kebudayaan mereka. Sejak tahun 1870, kata Van Niels, kota-kota di Jawa tidak hanya menjadi pusat perdagangan orang-orang Eropa, namun juga menjadi tempat bersemainya kebudayaan dan pemikiran yang mereka bawa.

Selanjutnya pada masa 1900-an organisasi seperti Theosofi dan Freemason makin berkembang pesat, khususnya di Tanah Jawa dengan munculnya loji-loji tempat pertemuan mereka di berbagai daerah. Karena itu, tak berlebihan jika Theosofi dan Freemason disebut sebagai organisasi yang bergeliat bersama gerak laju kolonialisme di negeri ini, yang kemudian secara tidak langsung melalui elit-elit nasional yang direkrut menjadi anggotanya, mempengaruhi gerak laju nasionalisme negeri ini juga.

Dalam kata pengantar buku “Teosofi, Nasionalisme dan Elit Modern” Prof. David Reeve dari Universitas New South Wales Australia menyatakan, ”Dalam lingkaran orang-orang nasionalis yang sekular, begitu banyak orang-orang yang memiliki hubungan dengan Gerakan Theosofi, “tulisnya. Prof Reeve juga menyatakan, para aktifis Teosofi yang merupakan elit nasional pada masa lalu adalah orang-orang yang juga banyak terlibat dalam perumusan naskah UUD 1945, meskipun ia tak berani menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar Theosofi mempengaruhi pola pikir mereka dalam menyusun UUD tersebut.

Nama-nama seperti Mohammad Yamin, Prof. Soepono, dan Radjiman Wediodiningrat, adalah tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang banyak menyampaikan gagasan-gagasan soal prinsip-prinsip dasar negara ketika itu. Bahkan Radjiman, yang merupakan tokoh penting dalam Gerakan Theosofi dan anggota resmi kelompok Freemason, adalah ketua sidang BPUPKI, sidang yang kemudian menghasilkan Pancasila sebagai dasar negara. Sedangkan Mohammad Yamin termasuk orang yang berkontribusi besar dalam merumuskan lambang negara Pancasila.

Tokoh-tokoh nasional lain yang sangat dekat dengan Gerakan Theosofi adalah Mohammad Tabrani (Tokoh kongres Pemuda Pertama pada 1926 ‘Ketua Pemuda Theosofi), Ki Sarmidi Mangoensarkoro (Tokoh Taman Siswa), Ki Hadjar Dewantara (Tokoh Taman Siswa), Tjipto Mangoenkoesomo (Tokoh Boedi Oetomo), Goenawan Mangoenkoesoemo (Tokoh Boedi Oetomo), Armin Pane (Sastrawan), Sanoesi Pane (Sastrawan), Mohammad Amir (tokoh Jong Sumatrenan Bond), Datoek Soetan Maharadja (tokoh kaum adat Minangkabau), Siti Soemandari (pemimpin Majalah Bangoen), dan tokoh-tokoh nasional lainnya, terutama yang berasal dari Keraton Paku Alaman Yogyakarta, organisasi Tri Koro Dharmo, Jong Java, Boedi Oetomo, Perhimpoenan Goeroe Hindia Belanda (PGHB/cikal bakal PGRI), dan para alumnus Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA) di Batavia.

Pada masa berkembangnya Gerakan Theosofi, gesekan-gesekan pemikiran dengan tokoh-tokoh Islam yang berasal dari Sarekat Islam berlangsung sengit. Bahkan rivalitas antara Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, diantaranya juga berpangkal dari pemahaman soal keyakinan dan pemahaman Islam.

Tokoh Boedi Oetomo, seperti Goenawan Mangoenkoesomo dan Radjiman Wediodiningrat cenderung bersikap konfrontatif terhadap aspirasi Islam. Sehingga tak heran, jika Prof Reeve sebagai akademisi yang pernah meneliti Gerakan Theosofi, menyatakan, ”Perkumpulan Teosofi mengaku terbuka untuk semua agama, namun tampaknya mereka menjalin sangat sedikit persentuhan dengan Islam,” jelasnya.

Bukti kedekatan Gerakan Theosofi dengan Boedi Oetomo terlihat dalam Perayaan 10 Tahun Organisasi Boedi Oetomo pada 1918 yang berlangsung di Loji Theosofi, di De Ruijstestraat 67 Den Haag, Belanda. Dalam perayaan tersebut, tokoh-tokoh Boedi Oetomo dan mahasiswa Indonesia, termasuk Ki Hadjar Dewantara dan Goenawan Mangoenkoesomo, menggelar perayaan dan peluncuran buku Soembangsih: Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-20 Mei1918. Dalam buku itu, Goenawan Mangoenkoesomo menulis, “Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat, “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak,” tulisnya.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More