Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Tuesday, May 28, 2013

Benarkah Jihad Melawan Hawa Nafsu Lebih Tinggi Dibanding Jihad Fisabilillah ?



Catatan ini saya buat untuk membantah argumentasi kaum liberal, para orientalis serta orang2 yg sudah terjangkit Al-Wahn akut dalam dirinya yang ingin merubah makna jihad yg sebenarnya.

Diantara kesalahan tentang pemahaman Jihad yang menyebabkan ummat enggan untuk melaksanakannya adalah pemahaman jihad besar (jihad melawan hawa nafsu) dan jihad yang lebih rendah. Seiring dengan keyakinan ini, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri dipertimbangkan sebagai jihad yang terbesar, yang menjadikan jihad dengan berperang di medan pertempuran merupakan jihad yang paling rendah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sewaktu pulang dari perang Tabuk:


Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Mereka berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad hati.” (HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (384) dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (Bab Al-Wawi/Dzikr Al-Asma` Al-Mufradah) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhuma. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (biografi Ibrahim bin Abi Ablah Al-Adawi/210) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (biografi Ibrahim bin Abi Ablah); dari Ibrahim bin Abi Ablah. 

Imam As-Suyuthi mengatakan, “Diriwayatkan Ad-Dailami, Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd, dan Al-Khathib.”[Jami’ Al-Ahadits (15164)]

Dalam riwayat Al-Khathib disebutkan, bahwa ketika NabiShallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat baru saja dari suatu peperangan, beliau bersabda kepada mereka,



Kalian telah kembali ke tempat kedatangan terbaik, dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Nabi bersabda, “Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.


Konsepsi ini walaupun secara fakta didasarkan atas sebuah hadits, akan tetapi hadits ini dapat disangkal dari beberapa aspek, yang akan saya sebutkan berikut ini.

1. Status Keshahihannya hadits jihaad al-nafs  lemah (dhaif), baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan.

Dari sisi sanad, isnad hadits tersebut lemah (dha'if). Al-Hafidz al-'Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin 'Ablah. (lihat kitab Al Jihad wal Qital fi Siyasah Syar’iyah karya Dr. Muhammad Khair Haikal)  
Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini,

Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini sanadnya lemah." 
As-Suyuthi menukil dari Ibnu Hajar, “Hadits ini sangat terkenal dan sering diucapkan. Ia adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah dalam Al-Kunanya An-Nasa`i.”[Ad-Durar Al-Muntatsarah fi Al-Ahadits Al-Musytaharah (1/11)]
Al-Iraqi mendha’ifkan hadits ini dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya` (2567).
As-Suyuti juga berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam bukunya, Jami’ As-Shaghir.


Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa hadits dha’if bisa diterima dalam persoalan keutamaan amal. Pendapat ini tidak bisa diterima, karena kami tidak percaya bahwa jihad bisa digunakan untuk keutamaan amal. Jika hal itu memang benar, bagaimana mungkin Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Diamnya ummat ini adalah penghianatan terhadap jihad”


Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.

Bahkan Ibnu Taimiyah mengkategorikannya sebagai hadist mungkar. Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada dasarnya dan tidak seorang pun ahli makrifat yang meriwayatkannya sebagai perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bagaimanapun, jihad melawan kaum kafir adalah termasuk amalan yang terbesar dan paling utama.”[ Majmu’ Al-Fatawa: 11/197, dan Al-Furqan Baina Awliya` Ar-Rahman wa Awliya` Asy-Syaithan: 46]
Dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (2460), Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits mungkar.” Dan dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir (8510), Al-Albani mendha’ifkannya


Dari sisi matan hadits (redaksi), redaksi hadits jihaad al-nafs  di atas bertentangan dengan nash Al Qur’an maupun Hadits yang menuturkan keutamaan jihaad fi sabilillah di atas amal-amal kebaikan yang lain. Oleh karena itu, redaksi (matan) hadits jihad al-nafs tidak dapat diterima karena bertentangan dengan nash-nash lain yang menuturkan keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal-amal perbuatan yang lain.


Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

Tidaklah sama antara mu`min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai `uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk [340] satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk [341] dengan pahala yang besar,

(yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nissa':95-96)

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.(QS.At-Taubah:20-22)


Hadits ini (hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) juga bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya.

“Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)

“Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)
Abu Hurairah ra berkata,
“ Apakah ada diantara kamu yang mampu berdiri dalam shalat tanpa berhenti dan terus melakukannya sepanjang hidupnya?” Orang-orang berkata, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang mampu melakukannya?” Beliau berkata “Demi Allah! Satu harinya seorang mujahid di jalan Allah adalah lebih baik daripada itu.”Pernyataan dari orang yang mengatakan bahwa “Berjuang melawan dirinya sendiri adalah jihad yang terbesar karena tiap individu mendapatkan ujian siang dan malam”, dapat disangkal dengan hadits berikut:Dari Rasyid, dari Sa’ad r.a., dari seorang sahabat, seorang laki-laki bertanya, “ Ya Rasulallah! Kenapa semua orang-orang yang beriman mendapatkan siksa kubur kecuali orang-orang yang syahid?” Beliau saw. menjawab: “Pertarungan dari pedang di atas kepalanya telah cukup sebagai siksaan (ujian) atasnya.” (Shahih Jami’)

Berkata Ibnu Hajar pengertian yg segera dapat ditangkap dari kata2 fisabilillah adalah jihad Kalau fisabilillah disebutkan secara mutlak (tdk tersambung dg kata lain) secara bebas artinya adalah jihad. Ada sebagian org yg merubah pengertian syar’i dg memperluas pengertian fisabilillah menafsirkan sabda Rasulullah ini Sungguh berangkat dipagi hari atau di sore hari fi sabilillah itu lebih baik daripada bumi dan seisinya (HR.Bukhari)

Mereka menafsirkan hadist ini dg tabligh, kutbah, pidato!!! Menafsirkan dg duduk menyadarkan seseorang agar sholat, puasa!!! Inikah perang fisabilillah yg lebih baik daripada dunia & seiisinya?! Ini adalah perluasan arti dalam bhsa yg memang memungkinnya. Tetap istilah syar’I tidak memperbolehkannya. Rasulullah bila mengucapkan secara mutlak kata2 fisabilillah, kata2 itu berarti jihad jika dimutlakan, karena itu kletika seseorang bertanya kepada rasulullah : Tunjukanlah kepada kami amal yg menyamai jihad, beliau menjawab: “aku tdk mendapatkannya, lalu beliau bersabda: apakah kamu mampu bila seoarang mujahid keluar(berperang) kamu masuk ke dalam masjid lalu berdiri utk sholat tanpa terputus, & berpuasa tanpa berbuka. Orang itu berkata :siapakah yg dapat melakukan itu? (HR.Bukhari)


2. Kesalahpahaman dari penafsiran hadist ini termasuk dalam bentuk ketidak adilan dan salah dalam menempatkan status para mujahid.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Maidah:8)

Apakah adil, kita mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan perang adalah jihad yang paling rendah? Ketika dalam hitungan menit saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka, tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan (karena telah hancur).

Itu semua mereka lakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai, jika anda menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam) maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda.

Dr.Muhammad Amin, seorang penduduk Mesir berkata dalam kitabnya, bagian dari dakwah Islam adalah jihad dengan dirinya sendiri, adapun jihad dengan harta tidak menunjukkan atas penegakkan seruan atas kebenaran dan berpendirian di atas kebenaran, menyeru kepada kebenaran dan melarang kemunkaran serta memberikan kontribusi hidup dan hartanya di jalan Allah merupakan jihad yang kurang sempurna. Ini adalah ungkapan yang aneh!!!

Tatkala kita ditimpa ujian yang sangat berat dimana kaki ikut terguncang dan hati selalu was-was akan ancaman, bisakah itu disebut jihad yang rendah? Ketika kita merasakan keadaan aman dan nyaman di rumah, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, bisakah ini disebut dengan tingkatan jihad yang tertinggi ! Keadaan ini seperti ungkapan seseorang yang gembira dalam keadaan duduk membelakangi perintah Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya. Seperti orang yang mendapati kesenangan dan kenyamanan dalam hidupnya padahal realitanya mereka hanya menipu jiwa mereka sendiri yang lemah karena nilai-nilai kebenaran amal seluruhnya mereka tentang.

3. Pertimbangan Jihad
Sebagian orang mungkin heran ketika mereka mendengar orang yang menggambarkan jihad (di medan perang) adalah jihad yang terendah atau orang yang menganggap berperang di jalan Allah merupakan aktivitas yang kecil dibandingkan dengan perbuatan yang lain. Jika kita menelusuri kehidupan orang-orang tersebut, melihat sejarah mereka dan mempelajari alasan-alasan mereka atas penolakan persoalan ini, maka akan kita temukan bahwa penjelasan atas pendirian mereka adalah sangat sederhana. Orang-orang tersebut meremehkan jihad dan memberikan prioritas kepada studi di Universitas, menulis di majalah-majalah dan berpidato di konferensi-konferensi untuk mengakhiri perang dan mengakhiri aksi syahid. Dengan melihat kehidupan mereka, maka akan ditemukan sebuah ancaman terhadap kesatuan ummat, karena ummat ini akan digiring pada pandangan mereka.

Ummat akan merasa bahwa dirinya lemah dan menahan diri dari aktivitas jihad (mereka hanya menerima teori dan konsepnya saja) akan tetapi tidak berpartisipasi dalam jihad. Tidak ada keinginan atas dirinya untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah (Syahid), mereka juga menganggap tidak memiliki keuntungan untuk bergabung dengan camp-camp mujahid. Sebuah camp yang serba sederhana, jauh dari kemewahan dan kekurangan akan bahan pokok, yang akan menjadikan mereka merasakan perbedaannya antara kehidupan di camp tersebut dengan kehidupan yang dijalaninya di universitas yang penuh dengan makanan-makanan, hiburan dan ruangan kelas yang berAC.

Bagaimana mungkin orang-orang tersebut dapat menerima kebenaran nilai dari jihad ketika mereka tidak berpartisipasi dalam dunia perang, tidak juga masuk ke dalam arena kerusuhan dalam perang?

Jika seorang terjun ke dalam sebuah pertempuran maka cukup untuk membenarkan atas semua kesalahpahamannya. Seorang mujahid, hanya dalam hitungan beberapa jam saja dapat melihat segala sesuatu yang menakutkan yang akan menyebabkan rambut anak-anak pun menjadi beruban. Bom-bom yang meledak akan membersihkan jiwa-jiwa saudara-saudara kita yang kita cintai yang ikut andil dalam perjuangan dan jihad. Mereka akan melihat bagaimana situasi dari orang-orang ketika roket-roket meledak di atas kulit kepala mereka atau di bawah kaki mereka? Bagaimana situasi ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri anggota tubuh seperti lengan, kaki dan usus hancur berhamburan, anggota tubuh yang sehat menjadi cacat, hilang ingatan atau lumpuh? Inilah alasan pokok atas penolakan orang-orang yang meremehkan jihad.

Dalam beberapa jam atau hari seorang mujahid melihat dengan mata kepalanya sendiri bentuk-bentuk kekerasan, ujian dan kesengsaraan yang dialami tatkala jihad, tidakkah yang lainnya melihat hal ini selama 10 tahun terakhir ini? Akan menjadi sesuatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk melaksanakan aktivitas jihad secara fisik kecuali ia dapat berpartisipasi di dalamnya. Oleh karena itu orang yang masih berselisih dengan mujahid dalam persoalan jihad ini atau orang-orang menyeru manusia untuk meninggalkan perang maka sebaiknya bergabung dengan camp jihad walaupun hanya sebagai pembantu atau dia seharusnya berpartisipasi dalam perang walaupun hanya sebagai orang yang masak, lalu setelah itu kita akan melihat pendapat-pendapatnya, apakah masih dia mengatakan bahwa pena sebanding atau sama dengan kalashnikov ?


Di akhir tulisan ini, saya kutipkan beberapa kalimat yang telah dikirim oleh seorang mujahid Abdullah bin Al-Mubaraq dari tanah jihad kepada temannya Al-Fudail bin Iyyad, orang yang menasihati para penguasa dan membuatnya menangis, beliau tidak meminta bayaran akan tetapi murni muncul dari keikhlasan.


“ Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain, seandainya engkau melihat kami tentu engkau tahu bahwa engkau dalam beribadah itu hanya main-main saja, kalau orang pipinya berlinang air mata, maka, leher kami dilumuri darah “

Wallahu'alam bishshowab...


 

Saturday, May 25, 2013

Suripto, Legenda Intelijen Tiga Zaman


Intelijen asing tak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk mengobok-obok Indonesia. Meningkatnya suhu politik menjelang Pemilu 2009 pun ditingkahi operasi intelijen asing.

Partai politik telah menjadi target penyusupan, pecah belah, provokasi dan proganda hitam. Sinyalemen itu tentu bukan isapan jempol, apalagi dilontarkan oleh “tokoh intelijen tiga zaman”, Suripto.

Mantan Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1999-2001) ini dikenal kritis dan tajam dalam melakukan analisis intelijen. Tak heran jika analisisnya dijadikan rujukan dalam diskusi-diskusi formal maupun informal.

Pisau analisis yang tajam, tentunya tak lepas dari kepiawaian Suripto dalam menganalisa data dan informasi. Anggota Komisi I DPR RI ini rajin mengasah daya analisis dengan rajin membaca buku-buku terkait dunia intelijen.

Bagi Suripto, bagian terpenting dari produk intelijen adalah analisis. Menurut Suripto, intelijen sebagai knowledge, ilmu intelijen harus dipelajari semua pihak. Tanpa dibekali ilmu intelijen, analisis yang dibuat akan melenceng dari sasaran.

Banyak hal yang membedakan Suripto dengan praktisi intelijen lainnya. Selain memiliki bekal ilmu intelijen yang cukup, pengalaman hidup telah menyempurnakan Suripto sebagai insan intelijen yang disegani lawan ataupun kawan.

Putra pasangan R. Djoko Said-Siti Nursyiah Lubis ini dikenal berpenampilan sederhana. Kendati sang ayah pernah menjabat sebagai Bupati Cirebon, kehidupan Suripto jauh dari kemewahan.

Seperti dikisahkan dalam buku “Suripto-Menguak Tabir Perjuangan”, ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pajajaran, Suripto sempat bekerja sebagai sopir taksi 4848 jurusan Bandung-Jakarta.

Sifat sederhana itu sejalan dengan faham sosialis yang dianut pria yang terlahir pada 20 November 1936 ini ketika menjadi mahasiswa. Suripto tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), organisasi massa onderbouw Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Bandung.

Antikomunis

Tahun 1957-1964 menjadi periode perjuangan bagi Suripto untuk menghadang laju Nasakomisasi yang diusung Presiden Soekarno. Suripto harus bertarung dengan kelompok mahasiswa komunis yang tergabung dalam Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).

Kesungguhan Suripto membendung tekanan Partai Komunis Indonesia (PKI) menarik  perhatian petinggi Kodam VI Siliwangi, yang memang anti PKI. Walhasil, terjadilah sinergi antara mahasiswa anti PKI dengan Kodam VI Siliwangi.

Sejak saat itulah anak sulung dari empat bersaudara itu bersentuhan dengan dunia intelijen yang sesungguhnya. Bersama dengan sembilan aktivis mahasiswa dari Universitas Pajajaran dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Suripto mengikuti pendidikan dasar intelijen di Kodam VI Siliwangi di bawah Kharis Suhud.

Berbagai resiko pun harus siap dihadapi Suripto, termasuk hilangnya nyawa. Suripto bahkan sempat dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung, karena dituding terlibat dalam kerusuhan massa di Bandung pada 10 Mei 1963.

Kerusuhan rasial itu muncul sebagai reaksi atas pembukaan “Poros Jakarta-Peking” oleh Presiden Soekarno. Ketika itu, merebak aksi pembakaran mobil dan toko-toko milik warga keturunan Cina di seluruh wilayah Bandung.

Sikap anti PKI tidak pernah padam di benak Suripto. Pria yang hobi tinju ini melihat bahwa militer Indonesia ketika itu perlu diperkuat dengan pemikiran anti PKI. Tidak cukup sebatas pemikiran, Suripto mengikuti pendidikan militer sukarela (Milsuk), setelah meraih gelar sarjana hukum pada 1964.

Setahun kemudian, Suripto direkrut Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), sebagai anggota Tim Sarjana G (Gabungan) V Komando Mandala Siaga.

Di era Orde Baru, karier intelijen Suripto kian mencorong. Tak salah jika periode 1966-1967, pria kelahiran Bandung ini dipercaya menjadi staf G (Gabungan) 1 Komando Operasi Tertinggi (Koti) yang membidangi intelijen.

Setidaknya, sikap anti PKI Suripto tersalurkan ketika bergabung dengan TNI-AD, yang notabene menjadi target serangan PKI.

Karir keturunan Jawa-Batak ini di dunia intelijen terus menanjak. Periode 1967-1970, Suripto menjalankan tugas sebagai staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Lembaran Baru

Analisis Suripto terkait berbagai persoalan bangsa semakin tajam. Bersama dengan sejumlah tokoh akademis seperti Yuwono Sudarsono dan Fuad Hassan, Suripto menjadi tulang punggung Lembaga Studi Strategis (LSS). Lembaga di bawah Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) Dephankam.

Pemikiran Suripto cukup memberi warna analisis-analisis LSS. Sayangnya, kiprah Suripto di LSS terhenti setelah Suripto menyatakan mengundurkan diri dari LSS.

Pengunduran diri itu bukan tanpa alasan. Suripto mundur setelah sebelumnya Wakil Kepala Bakin Benny Moerdani meminta agar Suripto diinterogasi di Bakin setelah sebelumnya bertemu dengan Wakil Menlu Cina Han Nian Long di Cina pada 1981.

Saat itu Suripto mendapat tugas rahasia dari Menlu Mochtar Kusumaatmadja untuk menjajagi kemungkinan normalisasi hubungan Indonesia-Cina. Memang, banyak pihak menolak normalisasi Indonesia-Cina mengingat bahaya laten komunis.

Menarik untuk disimak, Suripto yang sebelumnya anti komunis bisa berubah menjadi akomodatif terhadap penganut komunis.

Menurut pengakuan Suripto, tahun 1980 telah menjadi lembaran baru dalam kehidupan Suripto. Pertengahan tahun 1980 seorang ustadz berhasil meluruskan jalan hidupnya, sehingga dia bisa menjadi Muslim yang santun.

Sejak saat itulah Suripto terlibat aktif dalam gerakan Tarbiyah yang kelak bertransformasi menjadi Partai Keadilan (Sejahtera) dan KAMMI yang berbasis di sejumlah perguruan tinggi terkemuka.

Secara kebetulan, sejak 1986-2000, Suripto menjabat sebagai Ketua Tim  Penanganan Masalah Khusus DIKTI/Depdikbud yang menangani masalah  kemahasiswaan.

Menantang Maut

Sejumlah tudingan dan tuntutan hukum memang menghadang idialisme Suripto. Bapak tujuh putra ini sampat dituding penguasa Orde Baru mendalangi peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974.

Ketika itu Ali Moertopo menuding bahwa jaringan PSI dan eks Masyumi turut meletuskan peristiwa yang menewaskan 13 orang, 300 luka-luka, 775 orang ditahan itu. Belakangan, banyak tokoh yang dibebaskan di pengadilan. Bahkan muncul sinyalemen, justru Ali Moertopo lah dalang peristiwa Malari.

Tuduhan paling menyakitkan bagi Suripto adalah dugaan penyelewengan dana bantuan kemanusiaan Bosnia dari Komite Solidaritas Muslim untuk Bosnia yang diketuai pengusaha Probosutedjo. Suripto dituduh telah mengganti bantuan makanan dan obat-obatan menjadi bantuan senjata.

Menurut pengakuan Suripto, dirinya masuk ke Bosnia pada November-Desember 1992 memang mengemban misi Komite Solidaritas Bosnia untuk memasok senjata kepada pejuang Muslim Bosnia.

Tudingan penyelewengan dana itu menyeruak ketika Suripto menjabat sebagai Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan sejak 1999. Probosutedjo mengangkat kembali isu penggelapan saat Probo diancam akan diseret ke pengadilan oleh Suripto dalam kasus dana reboisasi.

Faktanya, Suripto tidak mundur sejengkal pun. Suripto tetap mengejar konglomerat hutan  bermasalah, setidaknya terjaring 12 kasus. Bahkan The Asia Wallstreet Journal menulis Suripto sebagai satu-satunya orang yang berani memberantas KKN di bidang kehutanan.

Akibat bersinggungan dengan konflik kekuasaan, Suripto dipecat oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Maret 2001. Sementara jabatan Menteri Kehutanan dan Perkebunan yang dijabat Nurmahmudi Ismail diciutkan menjadi Menteri Muda Kehutanan.

Awalnya, Gus Dur meminta Nurmahmudi Ismail memecat Suripto. Gus Dur menyebut Suripto dan mantan Danjen Kopassus Muchdi PR merencanakan tindakan makar di Hotel Kempinski. Namun Nurmahmudi menolak, karena alasannya tidak jelas. Akibatnya Nur Mahmudi dilengserkan, diganti menteri baru, Marzuki Usman. Marzuki lah yang memberhentikan Suripto.

Suripto sempat ditahan Polda Metro Jaya terkait tuduhan dugaan korupsi dan mark up pembelian dua helikopter bekas tipe Bell 412 pada tanggal 14 Desember 2000. Sekitar tiga bulan  kemudian, salah  satu helikopter tersebut jatuh di Gunung Burangrang , Subang. Ironisnya, helikopter itu ditengarai digunakan Tommy Soeharto untuk melarikan diri.

Disebut-sebut, penahanan Suripto tidak hanya mark-up pembelian helikopter. Suripto dinilai terlalu sering melontarkan analisis yang bertentangan dengan polisi soal pelaku peledakan Bom Bali.

Pada awal Mei 2001, Suripto dan Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) dituduh membocorkan rahasia negara. Di antaranya, dokumen-dokumen rahasia militer dan peta udara.

Disebut-sebut, sejumlah anak buah Suripto tertangkap tangan mengumpulkan info rahasia sambil membawa senjata. Lesperssi ditengarai banyak berhubungan dengan agen rahasia asing

Tak hanya itu, sebelumnya Suripto dituduh terlibat dalam peledakan bom di Parkir Timur Senayan, saat berlangsung acara Istigotsah Nahdlatul Ulama, 29 April 2001. Tuduhan lain, Suripto juga mendalangi kerusuhan Sampit, seperti dituduhkan Gus Dur. Berikut kutipan wawancaranya dengan INTELIJEN pada akhir Maret 2009 di Jakarta.

Paradigma Intelijen RI Harus Dirubah
Pada awalnya Anda adalah pengusung pemikiran sosialis Syahrir, mengapa tiba-tiba berputar haluan terlibat dalam gerakan Tarbiyah?

Saya menapaki lembaran baru, dari sosialis menjadi idialis agamis, sejak bertemu dengan Ustad Hilmy Aminuddin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera). Ustad Hilmy yang mengubah pandangan hidup saya.

Saya bertemu Ustad Hilmy pada 1984, di dalam satu pengajian di rumahnya almarhum Hartono Marjono. Sejak saat itulah saya mendalami Tarbiyah bersama Ustad Hilmy.

Hilmy Aminudin dikenal sebagai anak biologis sekaligus idiologis Danu Mohammad Hassan, panglima NII. Sejauh ini apa keterkaitan pemikiran Danu dengan konsep yang Anda kembangkan bersama Hilmy Aminuddin?

Saya tidak sampai mendalami sampai sejauh itu. Saya juga tidak pernah menanyakan soal itu ke Ustad Hilmy. Yang pasti Hilmy adalah seorang ustad yang banyak merubah hidup saya. Saya kurang mengerti latar belakang beliau.

Ada sinyalemen, Anda mengembangkan skenario, seperti yang dijalankan Ali Moertopo dalam Operasi Khusus (Opsus). Yakni, membentuk gerakan Tarbiyah untuk menyeragamkan sekaligus  meredam gerakan Islam radikal yang membahayakan penguasa?

Saya tidak tahu kalau sampai sejauh itu. Saya tidak pernah di Opsus. Apa yang saya sampaikan ini tidak ada yang saya sembunyikan. Saya mendapat pelajaran intelijen atau dididik intelijen pada saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pajajaran. Saya dididik oleh Asisten 1 Kodam Siliwangi, Kharis Suhud.

Ketika itu ada sepuluh mahasiswa dibina untuk menghadapi atau mengawasi gerakan Partai Komunikas Indonesia di dalam kampus. Dalam aktivitas itulah saya mendapat pengalaman politik dan intelijen. Setelah itu saya masuk dalam Milsuk (militer sukarela) dalam rangka konsolidasi dengan Malaysia. Kami direkrut dalam Komando Siaga Mandala 1965.

Ketika pecah G30S PKI saya diminta untuk memberikan pemikiran-pemikiran kepada Asisten 1 Kostrad, Yoga Sugama. Setelah Yoga diangkat sebagai Wakil Kepala KOTI, saya menjadi stafnya. Demikian juga ketika Yoga diangkat sebagai Kepala BAKIN, saya menjadi tenaga ahlinya.

Karir Anda di pemerintahan cukup fenomenal. Salah satunya saat menjabat Sekjen Dephutbun, Anda direstui sekaligus dicopot oleh Gus Dur yang saat itu menjadi presiden. Anda melihat adanya konflik kepentingan, mengingat sejak awal pengangkatan Anda ditentang banyak  pihak?


Sampai saat ini saya tidak tahu apa sebenarnya alasan Gus Dur ngotot mencopot saya. Yang pasti, saya memang terus menyuarakan adanya korupsi di lingkungan Dephutbun. Banyak yang merasa terganggu dengan aktivitas saya. Saya hanya melaporkan apa adanya, bahwa banyak pengusaha yang terbukti melakukan tindakan ilegal.

Saya dicopot oleh Gus Dur mungkin karena adanya informasi yang menyesatkan. Bahkan saya sempat dituduh melarikan Tommy (Hutomo Mandala Putra) dengan helikopter. Saya juga dituduh terlibat dalam rencana kudeta. Aktivitas saya dituding didanai oleh militer. Tentu saja saya tidak terima dituduh seperti itu, sehingga Gus Dur saya gugat.
Meskipun Gus Dur presiden, saya sebagai warga negara tentunya boleh menggugat Gus Dur.

Ada kesan Nurmahmudi Ismail (Menhutbun) membela Anda karena alasan politis, di mana Anda satu barisan dengan Nurmahmudi?

Untuk mencopot saya, presiden harus melalui menteri terlebih dahulu (Nurmahmudi). Hanya saja karena menteri tidak menemukan bukti itu. Memang sempat terjadi tarik menarik.

Anda sering dituduh terlibat korupsi, salah satunya penyelewengan dana bantuan  dari Komite Solidaritas Muslim Bosnia?
Bisa konfirmasikan kepada Sri Edi Swasono. Ketika itu perintah Probosutedjo sebagai ketua Komite Solidaritas Bosnia ke saya seperti apa. Semua pihak harus mengetahui persoalan ini. Ketika itu kami datang ke Bosnia dan kami petakan apa sebenarnya yang dibutuhkan.

Pihak Muslim Bosnia menyatakan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Hanya saja meskipun bantuan makanan, obat-obatan dan pakaian cukup, menjadi tidak berarti karena tetap saja muslim Bosnia disembelih tanpa perlawanan karena tidak memiliki senjata. Terus terang mereka meminta bantuan senjata.

Ketika itu saya sampaikan permintaan itu ke petinggi komite, termasuk Sri Edi Swasono. Satu saksi yang sudah meninggal yakni Lukman Harun. Dari situ perintahnya cukup jelas.

Jadi jika ada tuduhan merubah bentuk bantuan atau memanipulasi, bisa ditanyakan kepada saksi hidup. Ada satu saksi lagi, Adi Sasono. Saya ketemu Adi Sasono di Kroasia ketika itu, dalam rangka delivery senjata tersebut. Saya juga mengajak Adi Sasono masuk ke Bosnia.

Dua saksi itu cukup karena keduanya dalam posisi yang berbeda. Keduanya “berseteru” terkait Dewan Koperasi. Jadi, jika dua sumber yang “bertentangan” bersaksi sudah cukup  sebenarnya.

Presiden Soeharto bilang tidak mengetahui langkah yang Anda ambil terkait bantuan senjata?

Mungkin saja Soeharto tidak tahu. Dalam dunia intelijen, seorang agen dimungkinkan untuk memungkiri apa saja kalo memang ada covernya. Presiden mungkin saja tidak tahu, atau tahu tetapi pura pura tidak tahu. Kuncinya ada di Probosutejo, disampaikan atau tidak informasi itu ke Soeharto.

Justru Probosutejo membidik Anda dengan kasus itu?
Jangan tanya saya, yang jelas Probosutedjo yang memerintahakan kepada saya.

Selain terlibat dalam kerusuhan rasial di Bandung, Anda juga dituduh mendalangi Peristiwa Malari?

Malari dimulai dari adanya sekelompok mahasiswa yang melihat ada kecenderungan dominasi asing di sektor usaha. Untuk itu modal asing harus ditentang. Berbarengan dengan hal itu ada semacam gesekan, antara kelompok Ali Murtopo dan kelompok militer, sehingga timbul ketegangan.

Ada satu kelompok mahasiswa yang meminta pendapat saya. Mereka tidak setuju backing-backingan militer. Beberapa kali saya berdiskusi dengan mereka. Akhirnya digelarlah demo-demo di Jakarta.

Sebenarnya dengan hal-hal tersebut sudah cukup bukti untuk menyeret Anda sebagai provokator aksi?
Buktinya saya tidak pernah diperiksa. Memang saya dengar nama saya sudah masuk dalam target. Tetapi ada bantuan dari teman-teman saja di intelijen sehingga nama saya tidak masuk.

Anda  adalah sosok aktivis yang bisa dibilang jarang berurusan dengan penjara, tidak seperti aktivis lainnya. Itu karena kedekatan Anda dengan kalangan intelijen?

Saya pernah dihukum dua tahun, waktu hura-hara di Bandung. Jujur saya akui memang ada yang membantu saya, khususnya dalam peristiwa Malari.

Anda dikenal cukup tajam dalam membuat analisa intelijen. Sebenarnya apa saja yang dibutuhkan dalam menciptakan produk intelijen yang usefull?
Dari difinisi, Intelijen itu bisa dipandang sebagai ilmu pengetahuan, sebagai aktivitas dan intelijen sebagai organisasi. Intelijen sebagai knowledge, ilmu intelijen harus dipelajari. Misalnya, seorang aktivis, dia harus rajin mengakses informasi, salah satunya rajin membaca buku. Jika tidak, dia akan kurang pengetahuan. Saya disebut sebagai pengamat intelijen karena saya rajin membaca buku-buku terkait intelijen.

Intelijen saat ini yang terpenting adalah analisis. Saat ini banyak perwira intelijen yang tidak dibekali ilmu intelijen sehingga analisis yang dibuat kurang sasaran.

Perkembangan intelijen Indonesia saat ini ketika harus berhadapan dengan operasi intelijen asing?

Paradigma intelijen di Indonesia harus dirobah. Saat ini paradigma masih ekstrim kanan ekstrim kiri. Jika intelijen masih mengacu pada pemikiran ekstrim kanan ekstrim kiri, maka cara menganalisa dan cara mengamankan ancaman terhadap negara itu menjadi usang.

Pasca perang dingin, ada masalah-masalah yang bisa mengancam integrasi negara. Semuanya harus dimulai dari self perseption. Masalah pertama yang terkait dengan self perseption adalah masalah kerusakan lingkungan hidup, transnational crime, pangan, dan separatisme. Transnational crime meliputi ilegal logging, money loundring, cybercrime.

Karena saat ini dunia ini tidak ada batas teritorial, tenaga dan organisasi harus menyesuaikan dengan ancaman-ancaman tersebut. Tujuannya, agar supaya tenaga profesional itu siap diterjunkan. Tenaga-tenaga profesional harus disesuaikan dengan badan-badan intelijen yang ada.

Source : intelijen.co.id

Tuesday, May 21, 2013

Boedi Oetomo, Organisasi 'radikal' terhadap Islam, namun kooperatif dengan Belanda

Tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo. Sedangkan para tokoh BO (Boedi Oetomo)  adalah pengikut Theosofi (sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi), anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam.

Sistem pendidikan yang dianut dalam BO (Boedi Oetomo) sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka.

BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. 

Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. 

· “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Tanggal 20 Mei Negara Republik Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun sebenarnya penentuan tanggal ini meninggalkan permasalahan yang besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaannya. Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap  dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain :

Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah  untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

KH Firdaus AN (Mantan Majelis Syuro Syarikat Islam) mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya”. Selain itu dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri”. KH Firdaus AN juga mengatakan “BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.”

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh peneliti Robert van Niels yang mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja. Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat. ”

Para tokoh BO adalah pengikut Theosofi, anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam
Penggagas organisasi BO, dr Wahidin Soediro Hoesodo adalah anggota Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky. Theosofi-Freemason tidak mempercayai adanya ritual doa kepada Sang Maha Pencipta. Mereka juga tak mempercayai adanya surga dan neraka. Anggota Theosofi yang mengaku muslim, membuat penafsiran ajaran Islam dengan pemahaman yang menyimpang. Theosofi tidak percaya dengan doa, dan tidak melakukan doa. Theosofi mempercayai “doa kemauan” yang ditujukan kepada Bapak di sorga dalam artian esoteris, yaitu Tuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bayangan manusia, atau Tuhan yang menjadi intisari ilahiah yang dimiliki semua agama. Berdoa, kata Blavatsky mengandung dua unsur negatif: Pertama, membunuh sifat percaya diri manusia yang ada dalam diri manusia sendiri. Kedua, mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri. Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoenyang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat.

Penghinaan ini yang kemudian memunculkan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad di bawah pimpinan HOS Cokroaminoto dimana salah satu anggotanya adalah KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Tokoh utama BO adalah Dokter Soetomo.  Dalam buku “Kenang-kenangan Dokter Soetomo” yang dihimpun oleh Paul W van der Veur, disebutkan bahwa Soetomo pernah mengatakan bahwa pemancaran zat Tuhan, “Itulah sebenarnya keyakinan saya. Itulah keyakinan yang mengalir bersama darah dalam segala urat tubuh saya. Sungguh, sesuai-sesuai benar.” (hal. 30). Soetomo juga mengatakan, “Aku dan Dia satu dalam hakikat, yakni penjelmaan Tuhan. Aku penjelmaan Tuhan yang sadar…” (hal.31). Ini menunjukkan Dokter Soetomo seorang penganut  paham sesat “Manunggaling Kawula Gusti” buatan Syech Siti Jenar. Dokter Soetomo juga seorang penganut Theosofi, sebagaimana pengikut aliran theosofi lainnya, maka dia tidak melakukan shalat lima waktu selayaknya umat Islam lainnya, melainkan melakukan semedi, meditasi, yoga, dan sebagainya. “Soetomo lebih mementingkan “semedi” untuk mendapat ketenangan hidup, ketimbang sholat. Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,”Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri.”
Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya “Pan-Islamisme”, yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.

Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, agama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah. Apakah bahasa kita yang indah itu kurang patut, terlalu profan untuk menyampaikan pesan Nabi?”
Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat“Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”
Salah satu pimpinan BO yaitu Dr. Radjiman Wediodiningrat dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.” Radjiman yang merupakan ketua BO 1914-1915 adalah anggota Freemasonry dan perhimpunan Theosofi. Beberapa pimpinan BO adalah anggota Freemasonry antara lain : Raden T. Tirtokusumo (Ketua BO pertama), Bupati Karanganyar kemudian  Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam (Ketua BO yang kedua).
Tokoh yang lain bernama Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Ada fakta lain yang lebih mencengangkan, dalam sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi,“Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Kenapa bukan tanggal 16 Oktober sebagai Hari Kebangkitan Nasional ?
Tanggal 16 Oktober 1905 adalah tanggal berdirinya Sarekat Islam. SI merupakan kawah candradimuka berbagai pemikir Indonesia kelas dunia. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno sampai dengan Tan Malaka, Muso dan Semaun. Tokoh-tokoh ini memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Hal ini terlihat pada susunan para pemimpinnya, Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda. SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang. Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia.

Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini. Pelurusan sejarah mengenai kebangkitan Indonesia nampaknya perlu dilakukan, sangat disayangkan kalau peran umat terbesar di negeri ini dihilangkan begitu saja.

Merayakan Harkitnas 20 Mei, Mewarisi Kebodohan Sejarah

Rasulullah Saw sebagai tauladan terbaik umat manusia sepanjang zaman mengatakan jika dalam melakukan sesuatu itu, manusia harus memahami terlebih dahulu apa yang akan dilakukan atau diperbuatnya. Istlahnya: “Fahmu qabla ‘amal” atau “Paham terlebih dahulu baru melakukan”.

Ini merupakan prinsip yang harus diikuti oleh manusia yang oleh Allah Swt diberi akal, sehingga manusia bisa bepikir, memilah yang baik atau buruk, dan tidak melakukan sesuatu hanya karena latah atau berdalih “sudah tradisi”.

Akal-lah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan akal, manusia bisa berpikir. Beda dengan hewan yang hanya mengandalkan insting, sehingga semua yang dilakukan hewan sesungguhnya hanya merupakan pengulangan dari apa yang telah dilakukan hewan-hewan lainnya.

Sebab itu, sangatlah tidak layak seorang manusia di dalam melakukan sesuatu hanya menyatakan “Sudah tradisi”. Karena yang namanya tradisi tentu ada yang bagus dan ada pula yang jelek.

Salah satu peringatan yang terus dipelihara sepanjang tahun oleh penguasa di negeri ini adalah Peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Tidak dahulu tidak sekarang, pemerintah selalu saja mendengungkan jika tanggal 20 Mei, tanggal berdirinya organisasi priyayi Jawa Boedhi Oetomo tahun 1908, merupakan tonggak kebangkitan nasional. Padahal Boedhi Oetomo sama sekali tidak berhak mendapat tempat terhormat seperti itu. Mengapa?

Budi Utomo Tidak Punya Andil Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Adalah KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam dalam bukunya “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa“, dengan tegas menulis jika Budi Utomo (BO) tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. BO terdiri dari para pegawai negeri (ambtenaar) yang hidupnya tergantung pada uang penjajah Belanda.

BO juga tidak turut mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis sentris. Hanya bangsawan Jawa Tengah dan Madura yang boleh menjadi anggotanya, orang Sunda, Betawi, dan sebagainya dilarang masuk BO.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan dalam penyusunan Anggaran Dasar Organisasi-pun BO tidak menggunakan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Belanda.

Dalam rapat-rapat, BO tidak pernah membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka hanya membahas bagaimana memperbaiki tarap hidup orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis tentang tujuan organisasi yakni untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Tujuan BO tersebut jelas bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

BO juga memandang Islam sebagai batu sandungan bagi upaya mereka. Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam salah satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini Alsrichtnoer voor de Indische Vereniging berkata: “ Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…. sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan “.

Sebuah artikel di ”Suara Umum“, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, yang dikutip oleh Al-Ustadz A. Hassan dalam majalah “Al-Lisan “ terdapat tulisan berbunyi: “Digul lebih utama dari pada Mekkah, Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu kamu punya kiblat.“ ( M.S. Al-Lisan Nomer 24, 1938)

Oleh karena sangat loyal pada penjajah Belanda, tidak ada seorang pun anggota BO yang ditangkap Belanda. Arah perjuangan BO yang tidak nasionalis, telah mengecewakan dua pendiri BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya keluar dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, ternyata tokoh Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak 1895. Sekretaris BO (1916) , Boediardjo, juga seorang mason yang mendirikan cabang sendiri dengan nama Mason Boediardjo. Buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962”, karya Dr. Th. Stevens memuat fakta ini.

Peneliti Robert van Niels juga mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo, sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja.

Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat. ” (Robert van Niels, Munculnya Elit Modern Indonesia, hal. 82-83).

Budi Utomo merupakan organisasi binaan Freemasonry yang menginduk kepada Yahudi Belanda. Pengkultusan terhadap Budi Utomo, dengan menisbatkannya sebagai organisasi pelopor kebangkitan Indonesia, merupakan hasil kerja Freemasonry dan Yahudi Belanda.

Jadi, siapa pun yang dengan sadar memelihara pengkultusan ini—dengan salah satunya ikut-ikutan merayakan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dengan sadar, padahal mereka tahu tentang sejarah yang sesungguhnya dari Budi Utomo ini—berarti telah ikut bergabung dengan barisan kaum Freemasonry dalam menyesatkan bangsa ini.

Berdirinya Syarikat Islam Jadikan Sebagai Harkitnas


Seharusnyalah peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan tanggal 20 Mei, namun tanggal 16 Oktober. Sejarah telah mencatat jika tiga tahun sebelum Budi Utomo berdiri, Syarikat Dagang Islam (yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam) didirikan, tepatnya pada 16 Oktober 1905.

Sangat beda dengan Budi Utomo, SI lebih nasionalis dan berterus terang ingin mencapai Indonesia yang merdeka. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Sebab itu para pengurusnyapun terdiri dari berbagai macam suku dari seluruh Nusantara.

SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, bersifat nasional, Anggaran Dasarnya ditulis dalam Bahasa Indonesia, bersikap non-kooperatif dengan Belanda, dan ikut mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan.

Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia. Der Mehden tidak sendirian, ada banyak sejarawan asing dan juga Indonesia yang dengan tegas menyatakan jika SI-lah organisasi nasionalis pertama. Sedangkan Budi Utomo bukanlah organisasi yang nasionalis.

Usaha untuk menjadikan SI (atau SDI) sebagai tonggak Harkitnas menggantikan kesalah-kaprahan sejarah selama ini, pernah diusulkan umat Islam kepada pemerintah. Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini.

Akhir tahun 1980-an Indonesia katanya dilanda fenomena kebangkitan Islam dan saat ini sudah ada banyak orang yang mengaku sebagai tokoh Islam yang masuk ke lingkaran pusat pemerintahan, bahkan duduk dalam pos-pos strategis. Namun bukannya mewarnai pemerintahan, mereka malah terwarnai pemerintahan yang sampai hari ini masih saja mewarisi tradisi Yahudi Belanda.

Bukannya meluruskan sejarah negeri Muslim terbesar di dunia ini, mereka malah ikut-ikutan latah memelihara warisannya Freemasonry Belanda ini. Jika untuk meluruskan sejarah yang kecil saja mereka tidak punya keberanian sebesar biji dzarrah sekali pun, maka apa lagi yang bisa kita harapkan dari mereka?

Monday, May 20, 2013

Pluralisme & Kerancuan Berpikir yang Melahirkan Neo Sophist

BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.

Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.

Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.

Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.

Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.

Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)

Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)

Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.

Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.

Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.

Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.

Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)

Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.

Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).

Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.

Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.

“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).

Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.

Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.

Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.

Tasawwuf dan Wali Menurut Syeikh Hasyim Asy’ari

SYEIKH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menjelaskan tentang hakikat tasawwuf serta penyimpangannya dalam dua kitab yaitu, Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah dan Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah. Kitab Al-Dhurar ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’ari khusus mengkaji tentang wali dan tariqah tasawwuf.

Dalam dunia tasawwuf – juga dalam cabang-cabang ilmu lain – dalam kenyataannya memang terdapat cendekiawan palsu yang membelokkan jalan dari aturan syariah. Dalam bidang tasawwuf ini menurut Syeikh Hasyim juga terdapat orang yang merusak konsep tasawwuf. Peringatan adanya jahlatul mutashawwifah (orang-orang bodoh yang mengaku bertasawwuf) disebutkan oleh Syeikh Hasyim dalam Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Ciri-ciri mereka disebutkan menganut paham ibahiyyah (aliran menggugurkan kewajiban syariat untuk maqom tertentu), reinkarnasi, manunggaling kawulo (Syeikh Hasyim Asy’ari,Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 12).

Kewajiban syari’at bagai penganut tariqah sufi dan para sufi tetaplah wajib dijalankan, dimanapun, kapapun dan dalam keadaan apapun. Syeikh Hasyim menolak jika kewajiban syariat Nabi Muhammad itu terpakai untuk orang tertentu dan terbatas pada waktu tertentu. Orang yang meymakini gugurnya syariat pada orang dan waktu tertentu dikatakan sebagai orang yang mendustakan dan merendahkan al-Qur’an yang agung (istihza anil Qur’anil ‘adzim).
Dengan pemahaman ini, tidak ada perbedaan antara seorang murid (pengikut tariqah) dengan mursyid (pemimpin tariqah), antara wali dan yang bukan wali, seluruhnya menanggung kewajiban syari’at.

Pandangan Syeikh Hasyim tersebut sejalah dengan Syeikh al-Qusyairi, ulama’ sufi tersohor dari Khurasan. Dalam kitabnya al-Risalah al-Qusyairiyah, Syeikh al-Qusyairi menerangkan karakterisitik ahli tasawwuf. Di antaranya hifdzul Adabi al-Syari’ah (menjaga adab syariah). Syeikh Hasyim juga banyak menukil para sufi beraliran Sunni, yang terutama Syeikh al-Junaid dan Hujjatul Islamm Imam al-Ghazali.

Dalam anggaran dasar NU, bahwa dalam aspek tasawwuf NU mengikuti Syeikh al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Pemikiran sufi Syeikh Hasyim banyak dipengaruhi dua ulama sufi tersebut.

Corak yang menonjol dari pemikiran tassawuf Syeikh Hasyim adalah membangun citra positif tentang sufi dalam menghadapi aliran-aliran sesat di luar Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Secara geneologis, tasawwuf Syeikh Hasyim berasal dari ajaran Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Khatib Sambas ketika belajar di Makkah al-Mukarramah. Syeikh al-Bantani dan Syeikh Khatib Sambas adalah dua ulama’ dari Indonesia yang mengajar di Makkah. Keduanya mewarisi tasawwuf Imam al-Ghazali.

Syeikh al-Junaid yang dikenal guru besar para sufi dari Baghdad sangat ketat mengajarkan syariat dalam murid-muridnya. Menurutnya, orang yang merasa telah wushul (sampai) kepada tingkat tertentu kemudian meninggalkan aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt itu lebih buruk dari orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat bukanlah wali tapi jahil (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya’, hal. 368).

Imam al-Ghazali mengkritik bahwa seoarang sufi yang mengikuti paradigma asing, yang bukan paradigma Sunni, tidak pantas disebut ahli sufi, sebagaimana dilakukan kaum ta’limiyyah/bathiniyyah.

Corak pemikiran tersebut diadopsi oleh Syeikh Hasyim Asy’ari. Orang yang mengaku dirinya wali tetapi dalam kesaksiannya tidak mengikuti syariat Nabi Muhammad saw, maka orang tersebut adalah pendusta. Beliau mengatakan:

“Barangsiapa yang mengaku dirinya wali tanpa kesaksian bahwa dia mengikuti syariat Nabi Muhammad saw, maka pengakuan tersebut dusta bohong.” (Hasyim Asy’ari, Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 4).

Syeikh Hasyim berpendapat, wali tidak akan memamerkan dirinya sebagai wali. Justru seorang sufi tidak menyukai popularitas. Ia mengatakan: “Jenis fitnah itu banyak sekali. Di antara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi guru tarekat dan wali. Bahkan sampai mengaku dirinya wali quthb, dan imam mahdi. Padahal mmereka bukan ahli syariat.” (Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 1).

Sedangkan kaum muslimin, banyak yang tertipu mengikuti ajakan yang bermacam-macam tanpa memikirkan apakah ajakan itu haq atau batil, benar atau salah, tidak mengikuti norma-norma yang disebutkan dalam kitab fikih.

Dikatakan bahwa karakter seorang wali justru menyembunyikan kewalian dan mengedepankan tawadhu’. Ia mengatakan: “Wali itu tidak membuka jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Bahkan kalau bisa ia akan menyembunyikannnya. Karena itu orang yang ingin terkenal dalam hal tersebut, bukanlah ia seorang ahli tariqah” (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 9).

Seorang wali, menurut Syeikh Hasyim adalah seseorang yang dipelihari oleh Allah Subhanahu Wata'ala dari melakukan dosa besar, terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejab, bila melakukan dosa ia bersegera bertaubat kepada Allah swt. Inilah tiga ciri khas dan utama dari seorang wali.

Karena itu, seorang wali menjaga hak-hak Allah dan hak-hak seorang hamba Allah dengan cara mengikuti syariat Rasulullah saw. Atas dasar ini, Syeikh Hasyim berpendapat bahwa syarat menjadi wali adalah mahfudz (terjaga dari kemaksiatan). Artinya terjaga dari terus-menerus berada dalam kesalahan dan kekeliruan. Apabila terjatuh kepada kesalahan, ia segara bertaubat dan kembali kepada kebenaran.

Seorang tidak dapat disebut wali jika ia meremehkan syariat, mengejek al-Qur’an, membela kesesatan. Sifat pokok kewalian disebut oleh Syeikh Hasyim dengan “istiqamatu ‘ala adabi al-syari’ah al-Islammiyah” (istiqamah dalam adab syariat Islam). Seseorang yang mengaku secara dusta bahwa dirinya wali, sesungguhnya orang tersebut tertipu oleh bujuk setan. Ia mengatakan:

“Setiap orang yang bertentangan dengan syariat, maka orang tersebut tertipu oleh nafsu dan setan.” (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 6).

Ia sangat selektif dan ketat menerapkan syariat dalam menilai kewalian seseorang. Tauhid dan syariat adalah parameter utama. Dalam kisahnya, beliau tidak mudah melabelkan gelar wali pada seorang ulama’/kyai, meskipun kyai tersebut dzahirnya tidak terlihat melakukan dosa terus-menerus.

Kritik keras juga diungkapkan kepada konsep tariqah yang tidak memalui jalur syariah. Beliau bukanlah sufi yang anti-tariqah. Beliau dikenal menganut tariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Ia berpendapat, tariqat mana saja yang ditempuh sesuai ajaran al-Qur’an dan Hadis boleh diikuti. Bagi beliau, dalam bertariqah dilarang mengkultuskan secara berlebihan di luar batas kepada guru sufinya. Ia mengatakan tidak boleh mengikuti ucapan guru tariqah yang bertentangan dengan syariah (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 8). Jika ada guru tariqah yang maksiat, maka harus ditinggalkan.

Dari sini tampak jelas bahwa, seorang sufi dalam pandangan Syeikh Hasyim adalah orang yang benar-benar menjaga adab. Adab kepada Allah, Rasulullah dan hamba manusia dalam bentuk praktik syariah secara total. Dan membersihkan akidahnya dari aliran-aliran yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kritik Syeikh Hasyim Asyari untuk membentengi Islam dan umatnya dari pengaruh-pengaruh luar yang dikhawatirkan menyimpang dari ajaran syariat Islam.*

Pandangan KH. Hasyim Asy’ari Terhadap Fanatisme Buta

MENYIKAPI isu-isu khilafiyyah yang makin meruncing seperti sekarang ini dan gelombang arus pemikiran yang tidak terarah, KH. Hasyim Asy’ari patut menjadi teladan. Ia pendiri NU yang dikenal tegas terhadap pemikiran di luar Islam, dan menyeru pada pentingnya ukhuwah Islamiyyah.

KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama’ kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama’. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah seorang ulama’ di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kyai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kyai Sihah, juga ulama’, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah berguru kepada masyayikh di tanah haram. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh ‘Alawi dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadits yang berasal dari Termas Jawa Timur.

Sepulang ke tanah air, ia memulai tapak perjuangan melalui pendidikan dan organisasi sosial. Di bidang pendidikan ia mendirikan pesantren bercorak tradisional di Tebuireng Jombang. Untuk mengkonsolidasi dakwah secara efektif ia mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, yang artinya organisasi kebangkitan ulama’ pada 31 Januari tahun 1936.

Ia termasuk penulis produktif. Yang dibukukan sekarang ini ada sekitar 19 kitab. Itu belum risalah-risalah pendek yang belum dicetak yang menurut informasi masih tersimpan di perpustakaan keluarga di Jombang.

Barangkali Syekh Hasyim Asy’ari ingin meneladani Imam al-Ghazali dalam perjuangan. Imam al-Ghazali dalam gerakan pembaharuannya dengan membenahi ilmu dan ulama’. Syekh Hasyim Asy’ari dengan berdirinya NU, berusaha membangkitkan ulama dan semangat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ulama’ adalah ‘mesin’ dakwah Islam. Oleh sebab itu ketika terjadi krisis, ulama harus dibangkitkan, dibenahi keilmuannya dan diatur strategi perjuangannya.

Jihad Pemikiran

Dalam kitabnya al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan terekam nasihat-nasihat penting yang disampaikan dalam pidato Mu’tamar NU XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya.

Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjihad melawan akidah yang rusak dan pengkhina al-Qur’an. Untuk itu, ia mewanti-wanti agar menjaga keutuhan umat Islam dan tidak fanatik buta kepada perkara furu’.

Di hadapan peserta muktamar yang dihadiri para ulama, Syekh Hasyim Asy’ari menyeru untuk meninggalkan fanatisme buta kepada satu madzhab. Sebaliknya ia mewajibkan untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur’an, dan sifat-sifat Allah SWT, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak. Usaha dalam bentuk ini wajib hukumnya.

Ia mengatakan: “Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghina al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-aku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” (al-Tibyan, hal. 33).

Menurut Syekh Hasyim Asy’ari, fanatisme terhadap perkara furu’ dan itu tidak diperkenankan oleh Allah SWT, tidak diridlai oleh Rasulullah SAW (al-Tibyan, hal. 33). Oleh sebab itu ia menyeru untuk bersatu padu, apapun mazhab fikihnya. Selama ia mengikuti salah satu madzhab yang empat, ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama terdahulu. Inilah sikap adil, yakni menempatkan perkara pada koridor syariah yang sebenarnya.

Dalam kitab Risalah Ahlus Sunnnah Syekh Hasyim Asy’ari menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan meluber ke dalam umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, Rafidlah yang mencaci sahabat Nabi SAW, dan kelompok Ibahiyyun harus diperangi dan dibenahi akidahnya.

Dalam kitab yang sama, beliau mengutip hadits dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepankan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Ditulis dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Seykh Hasyim Asy’ari mewanti-wanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam lautan fitnah, yaitu berdakwah mengajak kepada agama Allah akan tetapi dalam hati ia durhaka kepada-Nya.

Inilah karakter Syekh Hasyim Asy’ari yang patut diteladani umat. Tegas terhadap penyimpangan Islam, teduh dalam menyikapi perbedaan furu’.

Pejuang Syari’ah

Ia salah satu tokoh nasional pejuang syari’ah. Ia adil. Kepada pengikutnya yang salah, ia tak segan membenahi, dan terhadap kelompok lain yang menyimpang, tanpa sungkan ia mengkritik. Semuanya demi Islam, demi keagungan Allah, bukan demi manusia tertentu.

Wednesday, May 15, 2013

Said Aqil Siradj: Cikal Bakal ‘Teroris’ Itu Rajin Shalat Malam, Puasa dan Hafal Qur’an


JAKARTA - Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, mengungkapkan bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat.

Said Aqil pun menceritakan sosok Dzulkhuwaisir yang begitu sombong meminta Rasulullah berbuat adil.

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya, artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi narasumber “Dialog Ormas-ormas Islam dalam Mempertahankan NKRI”, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013).

Prediksi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun terjadi, orang-orang yang berpaham Khawarij membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib.

“Prediksi Rasulullah ini terbukti tahun 40 H, Sayyidina Ali keluar dari rumahnya mengimami shalat Subuh dibunuh, bukan oleh orang Kristen, bukan oleh orang Katolik, bukan orang Hindu, bukan orang non-Muslim. Yang membunuh, Abdurrahman bin Muljam; Qaimul Lail, Shaimun Nahar, Hafizhul Qur’an. Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam tahajjud, dan hafal Qur’an,” paparnya.

Alasan pembunuhan Ali bin Abi Thalib, kata Said Aqil, karena Khawarij menuduhnya telah menggunakan hukum manusia hasil musyawarah Daumatul Jandal atas perselisihan antara pihak Ali dan Muawiyah.

“Wal hasil, inilah cikal bakal radikalisme, terorisme dalam Islam. Korbannya bukan siapa-siapa, korbannya adalah awwalu man aslama minal sibyan, remaja pertama yang memeluk Islam,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Amir JAT Wilayah Jakarta, Ustadz Nanang Ainur Rofiq meluruskan penjelasan Ketua PBNU Said Aqil Siradj tentang Khawarij. Menurutnya, ciri Khawarij yang disampaikan Said Aqil Siradj justru tendensius bagi kaum Muslimin.

Said Aqil begitu sering mengulang-ulang ciri Khawarij adalah Qaimul Lail, Shaimun Nahar, Hafizhul Qur’an (sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari dan hafal Al-Qur’an) padahal ciri itu sebenarnya gambaran seorang Muslim yang taat.

“Apakah khawarij itu karena rajin shalat malam dan lain sebagainya? padahal ada perkara mendasar di sana soal Khawarij,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin yang hadir.

Padahal substansi dari kisah Dzilkhuwaisir adalah paham mengkafirkan yang serampangan terhadap Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan menerapkan syariat Islam. Jauh berbeda dengan pemerintah sekarang yang tidak menerapkan hukum Islam.

Kemudian, ciri yang paling mencolok dari paham Khawarij juga mengkafirkan para pelaku dosa besar, inilah yang tidak dijelaskan oleh Said Aqil Siradj.

“Persoalan Khawarij itu adalah karena mereka mengkafirkan pelaku dzanbun kabair (pelaku dosa besar), ini yang tidak dijelaskan. Padahal semua ulama itu paham apa itu dzanbun mukaffirah, dzanbun kabair, dzanbun ma’ashi,” jelasnya. Pemahaman itulah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. “Ahlus Sunnah melarang mengkafirkan orang yang melakukan dzanbun kaba’ir (pelaku dosa besar),” tandasnya.(salam-online)

Feminis Teriak 'Lantang' pada Aa Gym, Namun 'Letoy' pada Poligami Subur yang Over Kuota


Pada 13 Desember 2012, Indra Maulana, pembaca berita Headlines Malam Metro TV, menyiarkan aksi unjuk rasa menolak calon pemimpin yang berpoligami.

Aksi yang digelar di depan kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (13/12/2012), kala itu dipenuhi oleh pengunjuk rasa yang rata-rata kaum ibu yang dimotori penganut feminisme. Menurut pengunjuk rasa, pejabat yang memiliki banyak istri akan rentan korupsi.

Dalam aksinya, mereka membawa pakaian dalam wanita dan spanduk bertuliskan ‘tolak pemimpin yang berpoligami’. Mereka meminta kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk menindak tegas pemimpin yang memiliki istri lebih dari satu seperti dilakukan Bupati Garut Aceng Fikri dan calon Walikota Bekasi Rahmat Effendy.

Sebanyak 400 ibu yang tergabung dalam Gerakan Wanita Anti Poligami (Gerwap) bahkan membawa pakaian dalam wanita sebagai protes kepada Mendagri dan meminta Gamawan Fauzi memecat para pejabat yang berlatar belakang dari NU itu karena dinilai memiliki cacat moral.

Berita serupa langsung dirilis semua stasiun TV tanah air. Bahkan Liputan6 melalui presenter Joy Astro, sempat menambahkan kata-kata, “Padahal aksi unjuk rasa ini bertujuan mulia karena untuk menolak calon incumbent yang akan berlaga Desember mendatang.“

Di saat lain, presenter Liputan 6 SCTV David Silahooij juga memberitakan ribuan kaum perempuan Garut yang menamakan diri “Koalisi Perempuan Indonesia” berdemo di depan Kantor Bupati Garut yang menuntut Aceng Fikri segera turun dari jabatannya.

Aceng dianggap pemimpin tak amanah karena melakukan poligami. Aceng, adalah salah satu tokoh di tanah air paling apes, karena ‘dikerjain’ berhari-hari oleh liputan media.

Pria yang pernah aktif di organisasi milik NU, GP Anshor Garut, Garda Bangsa PKB, lalu sebagai Plt. Ketua DPC PKB Garut ini menjadi fokus media massa, khususnya TV atas kasus ‘nikah kilat’ nya dengan Fani Oktora (18 thn).

Perdebatan poligami seolah tidak ada habisnya. Tujuh tahun lalu, umat sempat heboh dengan pemberitaan Ustadz Abdullah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym yang menikah lagi pada Desember 2006.

Yang menarik, beberapa bulan setelah kejadian itu, Presiden SBY pada Senin (5/12/2006), memanggil secara khusus Seskab Sudi Silalahi, Menneg Pemberdayaan Perempuan (PP) Meutia Hatta, dan Dirjen Bimas Islam Depag Nazaruddin Umar guna membahas revisi UU Perkawinan dan PP Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi PNS.

Menariknya lagi, yang mendasari ide revisi UU Perkawinan ini adalah pernikahan keduanya Aa Gym. (baca: detiknews.com, Selasa, 5/12/2006, Poligami Aa Gym Picu Revisi UU & PP Perkawinan)

Tak berlangsung lama, Jumat, 8 Desember 2006, puluhan mahasiswa di Yogya mendemo Aa Gym yang telah memutuskan menikah kedua kali. Aksi keprihatinan yang digelar di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati, dilakukan oleh anggota Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut mahasiswa, poligami lebih banyak mudharat daripada manfaatnya karena sering menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga dan konflik antarkeluarga serta penelantaran anak-anak.

Selain berorasi, mahasiswa juga menggelar happening art dan pembacaan puisi yang berisikan kritikan tajam terhadap orang-orang yang melakukan poligami. Salah seorang mahasiswa dengan mengenakan sorban dan baju Muslim beperan sebagai Aa Gym. Dua orang mahasiswi berperan sebagai Teh Ninih dan Alfarini Eridani atau Rini.

Tak Cuma mahasiwa, di Jakarta, kelompok LSM Perempuan angkat bicara. Tokoh feminis, Gadis Arivia, dalam konferensi pers yang diselenggarakan Yayasan Jurnal Perempuan, Sabtu (9/12/2006) bersama Koalisi Perempuan serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat lainnya menolak praktik poligami. Alasannya, poligami melanggar hak-hak perempuan serta rawan terhadap kekerasan psikis dan fisik terhadap kaum perempuan.

Gadis juga mengutip guru besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Jakarta) Prof Dr Siti Musdah Mulia, seorang guru besar bidang sejarah politik dari UIN yang ke mana-mana selalu membahas hukum Islam (syariah). Menurut Gadis, menirukan Musdah, suami yang berpoligami berpotensi empat atau lima kali lebih besar menularkan penyakit kanker mulut rahim.

Di Jakarta, Jumat, 22 Desember 2006, Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3) melakukan hal yang sama. Mereka melakukan aksi yang diikuti perempuan. Acara di Bundaran HI itu diisi orasi.

Sebagian pendemo memakai topi caping. Beberapa ibu tampak membawa buah hatinya yang masih balita. “Satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga tolak poligami!,” demikian yel-yel yang disuarakan.

Beda Subur dan Aa Gym

Polemik poligami tak berhenti di situ. Kamis, 21 Desember 2006, lebih dari 500 perempuan dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Makassar yang umumnya ibu-ibu menggelar aksi mendukung poligami.

Aksi serupa juga terjadi di beberapa kota. Di Medan, ratusan wanita membawa poster dan spanduk melakukan aksi unjuk rasa di Balai Kota Medan. Dalam aksinya ibu-ibu aktivis Hizbut Tahrir itu menilai, polemik seputar poligami tidak perlu diperdebatkan lagi. Pasalnya persoalan poligami sudah mempunyai aturan tegas yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an.

Lucunya, tak satu pun media massa (khususnya TV) mengangkatnya dalam sebuah dialog panjang. Aksi unik ini jelas sebuah berita menarik daripada yang lain. Mengapa ketika banyak LSM, aktivis perempuan menolak poligami, justru ada ratusan (bahkan ribuan orang di berbagai daerah mendukung poligami)?

“Ketidakwajaran” ini seharusnya menjadi hal menarik bagi media massa. Bahkan dalam jurnalistik sekalipun, ini sudah memenuhi unsur unusualness (sebuah keunikan dalam berita).

Tapi mengapa aksi para wanita (yang mendukung syariat poligami) tak banyak diekspos sebagaimana TV mengulang berita demo (tolak poligami) aktivis perempuan dalam wawancara (dialog) yang panjang? Mengapa ratusan bahkan ribuan orang (yang mendukung poligami) itu kalah dengan aksi di Bundaran HI yang hanya dilakukan segelintir orang?

Parahnya, kisah poligami ‘tak normal’ ala Subur justru menyita banyak perhatian publik. MUI menyimpulkan adanya beberapa penyimpangan syariat guru klenik itu.

“Kita berunding, berdiskusi, dan ternyata ditemukan praktik perdukunan dan penyimpangan syariat dimana istri Subur lebih dari empat. Kami juga mengimbau kepada umat Islam supaya hati-hati terhadap praktik perdukunan dan praktik peramalan. Kita harapkan mereka menghentikan praktiknya dan kembali sadar ke ajaran yang benar,” kata Ketua Investigasi MUI, Dr Umar Shihab saat ditemui di kantor MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013).

MUI yang menyebut Subur telah melakukan penyimpangan syariat Islam dengan menikahi lebih empat perempuan, justru menimbulkan reaksi dari para istri Subur. Mereka tidak terima untuk diceraikan dan akan menggugat lembaga keulamaan yang memiliki otoritas masalah agama di Indonesia ini.

“Senin (6/5/2013) kami akan ajukan gugatan melalui Pengadilan Agama Jakarta Pusat,” kata kuasa hukum istri-istri Subur, Made Rahman Marasabessy.

Sikap ini ditindaklanlanjuti istri-sitri Subur yang dengan aktif menerima undangan stasiun TV. Yang terakhir, Ahad (12/5/2013), mereka pamer dalam acara Just Alvin! di Metro TV, bahkan isti terakhir Subur Nita Septrian seolah menantang MUI dengan mengatakan, “Siapapun tidak ada yang berhak melarang saya keluar dari rumah (Subur, red).”

Fenomena ini menandakan pelajaran banyak hal kepada kita. Pertama, betapa banyak orang menyebut dirinya Islam namun dia justru melawan hukum Islam itu sendiri. Bahkan ketika ulama yang memiliki otoritas mengingatkan pun, justru dilawan.

Kedua, betapa banyak media di Indonesia dan aparat tak memiliki kecakapan urusan syariah. Subur dan Istri-istrinya adalah pelanggar hukum karena UU Perkawinan hanya mengakui pernikahan dibatasi maksimal 4 istri.

Tanpa perlu diadukan, pelanggar seperti ini harusnya segera ditangkap bahkan tak perlu dibesar-besarkan apalagi diberi tempat untuk mengampanyekan kekeliruannya di hadapan publik. Kacaunya lagi, orang yang dinilai sesat oleh MUI justri difasilitasi kampanye untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Yang lebih aneh, ketika banyak kalangan feminis merasa meradang melihat orang berpoligami dengan alasan yang selalu sama, atas nama ‘kekerasan keluarga’ dan ‘pelecehan pada wanita’, tetapi ketika kasus Subur yang “menghinakan” banyak wanita (jika ukuran ini menggunakan ukuran feminis), tidak satu pun mereka melakukan demo, bawa spanduk atau konferensi pers melakukan penolakan. Bahkan nyaris membisu. Termasuk aktivis liberal.

Hingga kini, penulis kesulitan melihat, apa yang menjadikannya berbeda di mata feminis, antara Aa Gym dan Subur?

Pertanyaan ini sudah penulis lontarkan ke mana-mana sebagai bagian keresahan penulis. Tapi ada jawaban yang menggelitik hati penulis dalam kasus ini. “Ya mungkin karena Aa Gym menjalankan poligami sesuai Syariat Islam, sedang Subur tidak.” Apakah benar bisunya kaum feminis dan liberal karena syariat Islam atau tidak, Anda pasti tahu jawabannya

Sunday, May 12, 2013

Pudarnya Sejarah Islam Indonesia dalam Buku Pendidikan Sejarah


Direktur Adab Institute Jogja, Fathurraham Kamal, menegaskan, di antara problem penting yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah pudarnya semangat mengkaji, memahami dan menyadari kejayaan masa lalu Islam yang gemilang, khusunya di nusantara. Generasi muda kehilangan kesadaran yang baik dan kebanggaan tentang sejarahnya sendiri, yang kemudian menimbulkan sikap inferiority complex dalam mengaktualisasikan peran keIndonesiaan mereka. Menyitir pandangan Mohammad Asad, (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads,: “Tidak ada peradaban yang bisa makmur - atau bahkan eksis, setelah kehilangan kebanggaan dan hubungan dengan masa lalu mereka sendiri” (No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past…). 

Kegalauan kesejarahan ini dimanfaatkan betul oleh pihak-pihak yang tidak menyukai Islam melalui upaya pendistorsian sejarah perjuangan umat Islam. Untuk konteks Indonesia, wacana digiring kepada “Islam merupakan pendatang yang seharusnya harus menyesuaikan diri dengan ‘budaya asli’ bangsa Indonesia. Ingat, Nusantara dan Republik ini eksis meraih kemerdekaannya karena cucuran keringat dan banjir darah para syuhada’!”, ungkap alumni Fakultas Dakwah & Ushuluddin Universitas Islam Madinah Saudi Arabia ini.

Alih-alih melakukan konsolidasi, para aktivis Islam baik yang di dataran elite maupun para mahasiswa masih sibuk dengan kampanye membesarkan kelompoknya masing-masing. “Sehingga diperlukan perubahan mendasar untuk menyatukan umat Islam Indonesia dalam konsep keummatan yang tidak cukup dengan jalinan psikologis-emosional silaturahim semata, tapi harus mengedepankan jalinan keilmuan, silatul ‘ilmi.” tutur Fathurrahman.

Tampil sebagai pembicara tunggal, Tiar Anwar Bachtiar, M.A. memulai presentasinya dengan menampilkan foto Candi Borobudur. Sudah menjadi kemahfuman bagi masyarakat internasional bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. “Tetapi ikon yang ditonjolkan dan selalu ditampilkan ke luar negeri adalah Candi Borobudur?” kritik kandidat doktor bidang Sejarah Universitas Indonesia ini.

Keindonesiaan yang direpresentasikan melalui Borobudur termasuk satu kesadaran sejarah yang dipaksakan. Padahal banyak bangunan lain yang bisa ditampilkan. Banyak masjid-masjid kuno dengan arsitektur berfilosofi tinggi yang bisa dijadikan ikon dan juga dibuat oleh “nenek moyang orang Indonesia”.

Situasi ini bukan sekedar karena Borobudur telah diakui sebagai salah satu keajaiban dunia, tetapi ada kolonialisasi paradigma dimana peran umat Islam yang begitu besar coba untuk dihilangkan. “Banyak yang terjadi di masa lalu. Tidak semua bisa dituliskan. Sejarawan memilihkan untuk kita, mana yang perlu diingat dan mana yang dilupakan. Sebagaimana Voltaire menukil, yang menang peranglah yang menulis sejarah,” ujar Tiar.

Riset yang dilakukan oleh Tiar terhadap konten Buku Pelajaran Sejarah Nasional Indonesia, untuk siswa-siswi SMA mempertegas penegasian peran umat Islam dan bahkan Islam ditempatkan sebagai pemecah belah.

Salah satunya adalah teks yang menyatakan Kerajaan Majapahit sebagai pemersatu Indonesia. Majapahit dianggap memainkan peran dalam menyatukan Indonesia, baik secara politik maupun ekonomi. “Sumpah Palapa” yang diikrarkan Patih Gadjah Mada disebut sebagai tonggak bersejarah penyatuan Nusantara.

“Seharusnya kita mempertanyakan, apakah yang dilakukan Majapahit menjajah atau mempersatukan? Jika kemudian proses ‘penyatuan’ itu dilakukan dengan peperangan dan bersimbah darah, kemudian daerah yang mampu ditaklukkan diwajibkan memberikan upeti dan dijadikan daerah koloni, apakah masih rasional jika kita mengatakan Majapahit sebagai pemersatu?”, timpal Tiar.

Tidak sampai hanya di situ. Islam juga dikambing-hitamkan sebagai penyebab keruntuhan Majapahit. “Setelah Wikramawardhana meninggal (1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447. Sampai dengan akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang memerintah sebagai keturunan Majapahit , namun telah suram karena tidak ada persatuan dan kesatuan sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu melepaskan diri. Para bupati di pantai utara Jawa, seperi Demak, Gresik, dan Tuban telah menganut agama Islam sehingga satu per satu memisahkan diri dari Majapahit,” kutip Tiar.

Tudingan kedua yang implisit dalam buku ajar itu adalah kerajaan-kerajaan Islam terutama Kerajaan Mataram disebut berkembang atas pandangan sinkretisme, bukan atas dasar prinsip ajaran Islam. Kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayan Jawa, Hindu, Buddha dengan Islam ditempatkan sebagai “budaya adiluhung Jawa”. Padahal upacara-upacara dan penanggalan Jawa Islam yang dilakukan Sultan Agung bukan proses sinkretisasi tapi Islamisasi.

“Peminggiran peran umat Islam dalam penulisan buku-buku ajar Sejarah Indonesia terus berlanjut kepada porsi halaman yang tidak proporsional, ketika membahas organisasi pergerakan Islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis, SI, dan sebagainya. Bayangkan saja, Muhammadiyah yang berperan besar dalam perjalanan sejarah bangsa ditulis tak sampai 1 halaman,” ungkap Tiar yang juga Ketua Pemuda Persatuan Islam ini.
Tak dapat dipungkiri penulisan buku-buku sejarah di Indonesia sangat bergantung kepada literatur-literatur yang ditulis oleh ilmuan imperialis yang membawa misi pelanggengan penjajahan. Maka tak mengherankan jika kemudian peran Islam tak banyak disebut atau dikaburkan sehingga terkesan sebagai pendatang yang menyebabkan kehancuran kebudayaan yang lebih dulu eksis.

“Namun, hal itu tidak membuat kita apatis dan elergi dengan buku-buku yang ditulis oleh sejarawan Barat. Ada banyak fakta-fakta yang bisa diambil untuk kemudian disusun kembali. Selain itu, masih ada 90% naskah-naskah kuno Nusantara yang belum serius diteliti. Jika naskah-naskah itu bisa dimaksimalkan sejarawan Muslim, maka harapan melahirkan buku-buku sejarah yang menempatkan Islam secara proporsional bisa diwujudkan,” Jelas Tiar.

Menanggapi pertanyaan dari salah seorang audiens terkait Buku Aliran Syiʼah di Nusantara karangan Prof. Abu Bakar Atjeh yang mengatakan Islam Syi’ah yang masuk pertama kali di Nusantara dengan bersandarkan kepada keberadaan Kerajaan Perlak (840 - 1292 M) yang bermahzab Syiah dan keberadaan makam Fatimah binti Maimun, di desa Leran, Manyar, Gresik yang batu nisannya bertuliskan tanggal wafat 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M), Tiar mengungkapkan bahwa pandangan Prof. Abu Bakar Atjeh sudah banyak dikritisi oleh para sejawaran. Mahzab Syi’ah baru tampil sebagai mahzab negara lewat kehadiran Kerajaan Safawi yang berdiri pada awal abad ke-13. Sehingga sangat kecil kemungkinan Mahzab Syiah adalah pembawa Islam pertama di Indonesia. Bahkan HAMKA berpendapat bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara pada awal abad ke-7 dengan bukti sebuah naskah Tiongkok yang menceritakan keberadaan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus) kala itu.

Di akhir presentasinya, Tiar mengajak para aktivis Islam untuk tidak memutus jalur keilmuan dengan mengabaikan peran para ulama-ulama Nusantara dan para tokoh-tokoh pejuang Islam Indonesia. “Sanad pembelajaran Islam yang terputus hanya akan membuat kita semakin jauh dari ulama kita sendiri. Ujungnya adalah kesalahan dalam mendakwahkan Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kita punya ulama-ulama besar sekaliber Nuruddin Al-Raniri yang karya-karyanya menjadi kajian ilmuan dunia, Syaikh Nawawi al-Bantani,Mahfudz At Tirmasi, dan Syaikh Achmad Chatib Al Minangkabawi yang pernah menjadi Imam Mahzab Syafi’i di Makkah, HAMKA yang dianugerahi gelar Doktor oleh Universitas Al Azhar Mesir, serta Natsir yang keilmuannya dikagumi oleh berbagai tokoh dunia,” tutup Tiar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More