Wednesday, May 15, 2013

Feminis Teriak 'Lantang' pada Aa Gym, Namun 'Letoy' pada Poligami Subur yang Over Kuota


Pada 13 Desember 2012, Indra Maulana, pembaca berita Headlines Malam Metro TV, menyiarkan aksi unjuk rasa menolak calon pemimpin yang berpoligami.

Aksi yang digelar di depan kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (13/12/2012), kala itu dipenuhi oleh pengunjuk rasa yang rata-rata kaum ibu yang dimotori penganut feminisme. Menurut pengunjuk rasa, pejabat yang memiliki banyak istri akan rentan korupsi.

Dalam aksinya, mereka membawa pakaian dalam wanita dan spanduk bertuliskan ‘tolak pemimpin yang berpoligami’. Mereka meminta kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk menindak tegas pemimpin yang memiliki istri lebih dari satu seperti dilakukan Bupati Garut Aceng Fikri dan calon Walikota Bekasi Rahmat Effendy.

Sebanyak 400 ibu yang tergabung dalam Gerakan Wanita Anti Poligami (Gerwap) bahkan membawa pakaian dalam wanita sebagai protes kepada Mendagri dan meminta Gamawan Fauzi memecat para pejabat yang berlatar belakang dari NU itu karena dinilai memiliki cacat moral.

Berita serupa langsung dirilis semua stasiun TV tanah air. Bahkan Liputan6 melalui presenter Joy Astro, sempat menambahkan kata-kata, “Padahal aksi unjuk rasa ini bertujuan mulia karena untuk menolak calon incumbent yang akan berlaga Desember mendatang.“

Di saat lain, presenter Liputan 6 SCTV David Silahooij juga memberitakan ribuan kaum perempuan Garut yang menamakan diri “Koalisi Perempuan Indonesia” berdemo di depan Kantor Bupati Garut yang menuntut Aceng Fikri segera turun dari jabatannya.

Aceng dianggap pemimpin tak amanah karena melakukan poligami. Aceng, adalah salah satu tokoh di tanah air paling apes, karena ‘dikerjain’ berhari-hari oleh liputan media.

Pria yang pernah aktif di organisasi milik NU, GP Anshor Garut, Garda Bangsa PKB, lalu sebagai Plt. Ketua DPC PKB Garut ini menjadi fokus media massa, khususnya TV atas kasus ‘nikah kilat’ nya dengan Fani Oktora (18 thn).

Perdebatan poligami seolah tidak ada habisnya. Tujuh tahun lalu, umat sempat heboh dengan pemberitaan Ustadz Abdullah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym yang menikah lagi pada Desember 2006.

Yang menarik, beberapa bulan setelah kejadian itu, Presiden SBY pada Senin (5/12/2006), memanggil secara khusus Seskab Sudi Silalahi, Menneg Pemberdayaan Perempuan (PP) Meutia Hatta, dan Dirjen Bimas Islam Depag Nazaruddin Umar guna membahas revisi UU Perkawinan dan PP Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi PNS.

Menariknya lagi, yang mendasari ide revisi UU Perkawinan ini adalah pernikahan keduanya Aa Gym. (baca: detiknews.com, Selasa, 5/12/2006, Poligami Aa Gym Picu Revisi UU & PP Perkawinan)

Tak berlangsung lama, Jumat, 8 Desember 2006, puluhan mahasiswa di Yogya mendemo Aa Gym yang telah memutuskan menikah kedua kali. Aksi keprihatinan yang digelar di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati, dilakukan oleh anggota Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut mahasiswa, poligami lebih banyak mudharat daripada manfaatnya karena sering menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga dan konflik antarkeluarga serta penelantaran anak-anak.

Selain berorasi, mahasiswa juga menggelar happening art dan pembacaan puisi yang berisikan kritikan tajam terhadap orang-orang yang melakukan poligami. Salah seorang mahasiswa dengan mengenakan sorban dan baju Muslim beperan sebagai Aa Gym. Dua orang mahasiswi berperan sebagai Teh Ninih dan Alfarini Eridani atau Rini.

Tak Cuma mahasiwa, di Jakarta, kelompok LSM Perempuan angkat bicara. Tokoh feminis, Gadis Arivia, dalam konferensi pers yang diselenggarakan Yayasan Jurnal Perempuan, Sabtu (9/12/2006) bersama Koalisi Perempuan serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat lainnya menolak praktik poligami. Alasannya, poligami melanggar hak-hak perempuan serta rawan terhadap kekerasan psikis dan fisik terhadap kaum perempuan.

Gadis juga mengutip guru besar IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Jakarta) Prof Dr Siti Musdah Mulia, seorang guru besar bidang sejarah politik dari UIN yang ke mana-mana selalu membahas hukum Islam (syariah). Menurut Gadis, menirukan Musdah, suami yang berpoligami berpotensi empat atau lima kali lebih besar menularkan penyakit kanker mulut rahim.

Di Jakarta, Jumat, 22 Desember 2006, Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3) melakukan hal yang sama. Mereka melakukan aksi yang diikuti perempuan. Acara di Bundaran HI itu diisi orasi.

Sebagian pendemo memakai topi caping. Beberapa ibu tampak membawa buah hatinya yang masih balita. “Satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga tolak poligami!,” demikian yel-yel yang disuarakan.

Beda Subur dan Aa Gym

Polemik poligami tak berhenti di situ. Kamis, 21 Desember 2006, lebih dari 500 perempuan dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Makassar yang umumnya ibu-ibu menggelar aksi mendukung poligami.

Aksi serupa juga terjadi di beberapa kota. Di Medan, ratusan wanita membawa poster dan spanduk melakukan aksi unjuk rasa di Balai Kota Medan. Dalam aksinya ibu-ibu aktivis Hizbut Tahrir itu menilai, polemik seputar poligami tidak perlu diperdebatkan lagi. Pasalnya persoalan poligami sudah mempunyai aturan tegas yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an.

Lucunya, tak satu pun media massa (khususnya TV) mengangkatnya dalam sebuah dialog panjang. Aksi unik ini jelas sebuah berita menarik daripada yang lain. Mengapa ketika banyak LSM, aktivis perempuan menolak poligami, justru ada ratusan (bahkan ribuan orang di berbagai daerah mendukung poligami)?

“Ketidakwajaran” ini seharusnya menjadi hal menarik bagi media massa. Bahkan dalam jurnalistik sekalipun, ini sudah memenuhi unsur unusualness (sebuah keunikan dalam berita).

Tapi mengapa aksi para wanita (yang mendukung syariat poligami) tak banyak diekspos sebagaimana TV mengulang berita demo (tolak poligami) aktivis perempuan dalam wawancara (dialog) yang panjang? Mengapa ratusan bahkan ribuan orang (yang mendukung poligami) itu kalah dengan aksi di Bundaran HI yang hanya dilakukan segelintir orang?

Parahnya, kisah poligami ‘tak normal’ ala Subur justru menyita banyak perhatian publik. MUI menyimpulkan adanya beberapa penyimpangan syariat guru klenik itu.

“Kita berunding, berdiskusi, dan ternyata ditemukan praktik perdukunan dan penyimpangan syariat dimana istri Subur lebih dari empat. Kami juga mengimbau kepada umat Islam supaya hati-hati terhadap praktik perdukunan dan praktik peramalan. Kita harapkan mereka menghentikan praktiknya dan kembali sadar ke ajaran yang benar,” kata Ketua Investigasi MUI, Dr Umar Shihab saat ditemui di kantor MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013).

MUI yang menyebut Subur telah melakukan penyimpangan syariat Islam dengan menikahi lebih empat perempuan, justru menimbulkan reaksi dari para istri Subur. Mereka tidak terima untuk diceraikan dan akan menggugat lembaga keulamaan yang memiliki otoritas masalah agama di Indonesia ini.

“Senin (6/5/2013) kami akan ajukan gugatan melalui Pengadilan Agama Jakarta Pusat,” kata kuasa hukum istri-istri Subur, Made Rahman Marasabessy.

Sikap ini ditindaklanlanjuti istri-sitri Subur yang dengan aktif menerima undangan stasiun TV. Yang terakhir, Ahad (12/5/2013), mereka pamer dalam acara Just Alvin! di Metro TV, bahkan isti terakhir Subur Nita Septrian seolah menantang MUI dengan mengatakan, “Siapapun tidak ada yang berhak melarang saya keluar dari rumah (Subur, red).”

Fenomena ini menandakan pelajaran banyak hal kepada kita. Pertama, betapa banyak orang menyebut dirinya Islam namun dia justru melawan hukum Islam itu sendiri. Bahkan ketika ulama yang memiliki otoritas mengingatkan pun, justru dilawan.

Kedua, betapa banyak media di Indonesia dan aparat tak memiliki kecakapan urusan syariah. Subur dan Istri-istrinya adalah pelanggar hukum karena UU Perkawinan hanya mengakui pernikahan dibatasi maksimal 4 istri.

Tanpa perlu diadukan, pelanggar seperti ini harusnya segera ditangkap bahkan tak perlu dibesar-besarkan apalagi diberi tempat untuk mengampanyekan kekeliruannya di hadapan publik. Kacaunya lagi, orang yang dinilai sesat oleh MUI justri difasilitasi kampanye untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Yang lebih aneh, ketika banyak kalangan feminis merasa meradang melihat orang berpoligami dengan alasan yang selalu sama, atas nama ‘kekerasan keluarga’ dan ‘pelecehan pada wanita’, tetapi ketika kasus Subur yang “menghinakan” banyak wanita (jika ukuran ini menggunakan ukuran feminis), tidak satu pun mereka melakukan demo, bawa spanduk atau konferensi pers melakukan penolakan. Bahkan nyaris membisu. Termasuk aktivis liberal.

Hingga kini, penulis kesulitan melihat, apa yang menjadikannya berbeda di mata feminis, antara Aa Gym dan Subur?

Pertanyaan ini sudah penulis lontarkan ke mana-mana sebagai bagian keresahan penulis. Tapi ada jawaban yang menggelitik hati penulis dalam kasus ini. “Ya mungkin karena Aa Gym menjalankan poligami sesuai Syariat Islam, sedang Subur tidak.” Apakah benar bisunya kaum feminis dan liberal karena syariat Islam atau tidak, Anda pasti tahu jawabannya

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More