Thursday, July 11, 2013

Kisah Si Epilepsi yang jadi Buronan Obama


Hampir tak pernah meninggalkan kamar. Lelaki ini bertubuh ramping. Rambut dibanting ke kanan. Kumis tipis. Janggut juga tipis. Dia berkacamata. Pertengahan Mei lalu, pada kamar hotel di keramaian Hongkong itu, dia selalu berdebar. Rasa takut sudah stadium empat.

Ya, dia adalah Edward Snowden. Pria yang paling diburu Amerika Serikat hari-hari ini. Negeri adidaya itu berang, sebab Snowden membongkar dokumen Agen Keamanan Nasional (NSA). Gempar memang. Sebab yang dibongkar adalah soal penyadapan pemerintahan Barrack Obama terhadap ponsel dan e-mail warga negeri itu.

Snowden mengungkap rahasia ini dari bilik hotel di Hongkong itu. Berjam-jam di depan laptop. Tiga pekan di situ, dia baru tiga kali meninggalkan kamar. Itupun tak lama. Makan dan minum dipesan. Diantar room service masuk kamar. Berhari-hari begitu, tentu saja tagihan kamar itu melambung.

Di kamar itu Snowden bekerja. Dengan tingkat kewaspadaan yang tak biasa. Celah-celah pintu kamar ditutup bantal. Tak ada lubang sekecil apapun mengintip. Ketika membuka laptop, dia melempangkan sebuah kain merah. Kain itu akan menutup kepala juga laptop di depannya. Saban hari begitu.

Siasat itu dipilih sebab dia cemas dengan kamera tersembunyi. Yang bisa merekam semua polah tingkah dan memelototi apa yang diunduh. Snowden sungguh sadar, intelijen Amerika Serikat bertebaran di seluruh jagat. Sekutu juga banyak, yang dengan sukaria berkeras memburunya.

"Saya bisa saja ditangkap CIA. Saya bisa dikejar orang atau pihak ketiga. Mereka bekerja sama dengan banyak negara. Atau mereka bisa membayar Triad. Agen-agen mereka ada di banyak negara," kata Snowden saat diwawancara The Guardian, Juni lalu.

Musuh banyak. Taruhan nyawa. Tapi lelaki yang didera penyakit epilepsi ini, tampaknya memang siap bertempur. Memikul semua resiko itu, termasuk mati. Dia mengaku menempuh semua kenggerian itu demi hati nurani. “Saya tidak ingin membiarkan pemerintah Amerika Serikat menghancurkan privasi. Menghancurkan kebebasan internet di seluruh dunia dengan mesin mata-mata yang secara rahasia mereka bangun,” tegasnya.

Demi misi pribadi itu, Snowden rela meninggalkan semua kemewahan di Hawaii. Gajinya Rp1,9 miliar per tahun. Rela meninggalkan pacar cantik dan keluarga yang amat dicintai. Melepas semua itu, katanya, tidak akan membuatnya sekukupun menyesal.

Kepada kekasih dan bosnya di kantor NSA Hawaii, Snowden beralasan ingin pergi berobat selama beberapa pekan ke luar negeri, 20 Mei lalu. Kawan-kawan dan keluarga sungguh percaya. Sebab penyakit epilepsi itu baru diketahui tahun lalu.

Snowden memilih mendarat di Hongkong. Sebab, katanya, di wilayah inilah semua aspirasi bebas diramaikan. Sesudah sukses mengunduh semua data, merekam modus intelijen Amerika Serikat memata-mata warga dan dunia, Snowden mengundang wartawan ke bilik hotel itu.

Dua media besar dunia, The Guardian dan Washington Post, mendapat rejeki ini. Snowden membeberkan praktik busuk negeri Paman Sam itu. Artikel soal aksi intelijen AS ini terbit pada 6 Juni 2013. Dunia gempar.

Semula Snowden menutup identitas. The Guardian menggambarkannya sebagai pria pendiam. Pintar dan supel. Sangat menguasai komputer. Lebih antusias berbicara soal teknis dari praktik mata-mata Amerika, ketimbang berkisah bagaimana cara dia menemukannya. Berapi-api ketika bicara soal nilai-nilai pribadi. Dan menjelaskan bagaimana pemerintah Amerika membunuh nilai-nilai itu.

Belakangan dia berani membuka identitas. Atas kemauan sendiri. Soal perubahan itu, dia menegaskan, “Saya tidak berniat menyembunyikan siapa saya. Karena saya tahu saya tidak salah.” Sesudah membuka jatidiri itu, foto Snowden kemudian bertabur ke seluruh dunia.

Dipampang media massa. Mungkin juga dipegang para telik sandi. Lelaki penyakitan itu menjadi buronan nomor satu Amerika bersama para sekutunya.

Dan Snowden sudah paham semua resiko itu. "Saya paham bahwa saya akan menderita karena tindakan ini. Tapi saya puas jika hukum rahasia, keadilan yang timpang, dan kekuatan eksekutif tanpa batas yang menguasai dunia yang saya cintai ini, bisa terungkap walau cuma sebentar," katanya.

Tak Lulus SMA Jago Komputer

Snowden lahir 21 Juni 1983. Masa-masa belia dihabiskan di Elisabeth, sebuah kota kecil di North Carolina. Mengikuti ayah ibunya, kemudian pindah ke Maryland. Sempat masuk SMA Negeri Anna Arundel di Maryland. Tapi cuma hingga kelas dua.

Dia tidak pernah menyelesaikan sekolah. Namun mendapat sertifikat General Education Development (GED) akhir tahun 1990an. GED mirip program Kejar Paket C untuk mendapat ijazah setara SMA di Indonesia. Sesudah itu dia mengambil kurus komputer.

Tahun 2003 dia bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat. Dilatih untuk bergabung dalam Pasukan Khusus. Kedua kakinya patah saat latihan. Dia akhirnya dikeluarkan. Snowden mengaku bergabung dengan militer untuk membantu AS berperang di Irak. "Membebaskan rakyat dari tekanan".

Namun yang dia temukan justru bertolak belakang dengan apa yang selama ini diyakini. "Kebanyakan yang melatih kami hanya semangat soal bagaimana membunuh orang Arab, tidak untuk membantu siapapun," begitu kesannya soal latihan itu.

Kandas menjadi tentara, dia lalu bekerja sebagai petugas keamanan di kantor rahasia NSA di Universitas Maryland. Kemudian, pindah ke CIA menjadi petugas keamanan jaringan. Karirnya meningkat cepat karena dia mengerti internet dan bahasa program.

Tahun 2007, CIA menempatkannya di Kedutaan Besar AS di Jenewa, Swiss. Di situ dia bertugas merawat dan memperbaiki jaringan komputer. Pekerjaan yang sangat disukainya, tapi justru disitulah dia mencium apa yang disebutnya sebagai kebusukan CIA. Kepada media massa dia menuturkan bahwa CIA sering merekrut bankir di Swiss, demi mendapat informasi perbankan.

Agen CIA, ujar Snowden, menjebak bankir dengan cara membuat mereka mabuk, lalu meminta mereka pulang mengendarai mobil. Tentu saja polisi akan menangkap di bankir itu. Ketika ditangkap itulah, agen yang menyamar menawar bantuan. Si bankir merasa berutang budi. Lalu rela bekerja untuk si agen.

Apa yang terjadi di Jenewa, katanya, “Sungguh mengecewakan saya. Tentang bagaimana pemerintahan berjalan dan apa dampaknya bagi dunia. Saya sadar telah jadi bagian dari sesuatu yang lebih banyak menciptakan mudharat ketimbang manfaat."

Ketika bertugas di Jenewa itu, Snowden sesungguhnya sudah ingin membongkar cara kerja CIA itu. Namun niat itu diredam karena dua alasan. Pertama, dokumen CIA di Jenewa melibatkan nama-nama orang, bukan mesin atau sistem. "Saya tidak ingin mengungkap sesuatu yang membahayakan seseorang," katanya.

Kedua, saat itu jelang pemilihan Barack Obama tahun 2008. Dia berharap Obama bisa membawa perubahan. Dan perubahan itulah yang menyudahi praktek intelijen yang disebutnya busuk itu. Faktanya tidak.

Snowden lalu keluar dari CIA tahun 2009. Lalu bekerja untuk perusahaan rekanan NSA, Booz Allen Hamilton, yang disewa untuk mengawasi sistem komputer mata-mata mereka. Awalnya dia ditempatkan di pangkalan militer AS di Jepang. Baru pada Maret 2013, dia ditugaskan mengurus markas di Hawaii.

Di situlah dia memulai misi pribadinya. Dia mencuri perintah penyadapan NSA terhadap jutaan warga Amerika Serikat. Penyadapan itu dilakukan via telepon dan internet. Dia menilai Obama sama tabiatnya dengan pemerintahan sebelumnya. Melanggar hak-hak warga.

Dia mengaku tidak ingin hidup di dunia tanpa privasi. Tanpa ruang untuk menjelajahi intelektualitas dan kreativitas. Pemerintah, katanya, membentuk kekuatan yang sebenarnya tidak diberikan kepada mereka.

Snowden mengaku masih memiliki banyak dokumen rahasia Amerika Serikat. Namun, tidak semua dokumen rahasia itu dia publikasikan. Dia pilah yang mana yang bisa dan mana pula yang terlarang dikonsumsi publik.

Dia mengaku harus cermat mengevaluasi setiap dokumen yang disebarkan, demi memastikan bahwa itu benar-benar melanggar kepentingan publik. Banyak dokumen berdampak besar tidak disebarkan. Sebabnya, katanya, “Menyakiti orang lain bukan tujuan saya, melainkan transparansi."

Sesudah membuka sejumlah dokumen di Hongkong itu, Snowden kemudian kabur mencari suaka. Mengincar suaka di 20 negara. Semula dia berencana terbang ke Ekuador tapi batal. Saat ini Snowden masih berdiam di Rusia, di bawah perlindungan pemerintahan Kremlin.

Hidupnya kini tak nyaman. Diburu agen-agen Amerika ke dengan segala cara. Pesawat kepresidenan Bolivia, yang membawa Presiden Evo Morales terbang dari Moskow ke Bolivia dijemput pesawat tempur di langit Belgia. Dipaksa mendarat, hanya karena curiga Snowden ada di dalam pesawat itu. Kecurigaan itu tak terbukti.

Snowden sendiri haqul yakin telah melakukan sesuatu yang benar. Demi rakyat Amerika. Bukan demi uang. Dia menegaskan, "Banyak hal yang lebih penting dari uang. Jika motivasi saya uang, bisa saja saya jual dokumen ini ke banyak negara dan menjadi sangat kaya.”

Source : vivanews.com

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More