Saturday, July 27, 2013

Warganya Dituduh Sembunyikan Teroris, PP Muhammadiyah Berikan Advokasi


Pengurus Pusat Muhammadiyah secara khusus memberikan bantuan hukum bagi dua warganya, Sapari dan Mugi Hartanto, yang menjadi korban salah tangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror saat dilakukannya penggerebekan disertai penembakan dua terduga kasus terorisme jaringan Poso di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013).

Slamet Hariyanto Ketua Majelis Hukum dan HAM Pengurus Wilayah Muammadiyah Jawa Timur, Jumat mengatakan, instruksi dilakukannya pendampingan hukum disampaikan langsung oleh Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah, karena dua orang yang ditangkap Densus 88 dan disebut-sebut terlibat dalam persembunyian terduga kasus terorisme Poso adalah warga salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Instruksi disampaikan Pak Din Syamsudin melalui SMS (pesan singkat) saat beliau masih di Tokyo, Senin (22/07/2013) malam," terang Slamet seperti dilansir Antara.

Dikatakan, ada dua yang menjadi alasan PP Muhammadiyah secara khusus memberikan pendampingan hukum. Pertama karena kedua orang tersebut tercatat sebagai warga sekaligus pengurus cabang Muhammadiyah di Kecamatan Pagerwojo. Kedua karena munculnya keyakinan Sapari dan Mugi menjadi korban salah tangkap.

"Dari dua orang ini, yang menjadi korban paling parah adalah Pak Mugi Hartanto. Beliau bahkan tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan kedua tamu ini, dia hanya kebetulan beberapa saat sebelum kejadian (penggerebekan dimintai tolong untuk mengantar Riza dan Dayah, tamu pak Sapari yang berniat pulang dan minta diantar ke terminal," terang Ketua Majelis Informasi Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung, Timoer Prawiranegera menimpali.

Demikian juga dengan Sapari. Meski menjadi tuan rumah dan berinteraksi aktif dengan Riza, salah satu terduga kasus terorisme, perangkat dibagian Kaur Kesra Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo ini tidak mengenali latar belakang mubaligh tamunya tersebut selama tiga bulan tinggal dan beraktifitas di Masjid Al Jihad maupun Madratsah Aisiyah.

"Selama di desa itu pak Sapari juga tidak pernah menyembunyikan Riza. Mubalig tamu ini beraktivitas secara terbuka dan berinteraksi dengan masyarakat secara wajar, bahkan kamar tempatnya mondok (menginap) juga tidak pernah dikunci," imbuhnya.

Sayang, sejak kedua pengurus cabang Muhammadiyah Kecamatan Pagerwojo itu ditangkap dan dikait-kaitkan dengan terorisme, tim pengacara dari Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Provinsi Jatim sampai saat ini belum bisa bertemu dan bertatap muka langsung.

Pihak kepolisian di tingkat Polda Jatim dan Polres Tulungagung bahkan terkesan saling lempar informasi setiap kali ditanya perwakilan advokat yang ditunjuk PW Muhammadiyah Jatim.

"Iya, tapi tadi siang saya sudah bertemu dengan salah satu anggota Densus di Mapolda Jatim dan disampaikan bahwa Pak Sapari dan Mugi sudah dibantarkan di Mapolda, cuma belum bisa ditemui sekarang karena masih dalam pemeriksaan," terang Slamet Hariyanto.

Dikatakan, Densus memang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga terlibat kegiatan terorisme selama tujuh hari sejak penangkapan.

"Jadi kami memiliki waktu sampai hari Senin (29/07/2013) untuk mengetahui hasil pemeriksaan mereka, apakah saudara-saudara kita (Sapari dan Mugi Hartanto) terlibat (terorisme) atau tidak. Kalau tidak, otomatis akan langsung dilepas oleh Densus," tambahnya.

Slamet menegaskan, pihaknya bertekad untuk terus melakukan pendampingan hukum kepada kedua warga Muhammadiyah tersebut, termasuk apabila polisi bersikeras menetapkan keduanya sebagai tersangka dalam kasus terorisme.

"Kami akan dampingi sampai di Pengadilan untuk memastikan hak-hak hukum serta HAM kedua warga kami terlindungi," tegasnya.

Diberitakan, Sapari dan Mugi Hartanto ditangkap Densus 88 Antiteror saat dilakukannya operasi penggerebekan disertai penembakan di depan warung kopi Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Senin (22/07/2013).

Dalam operasi tersebut, dua pemuda terduga kasus terorisme, Riza dan Dayah alias Kim tewas ditembak anggota Densus dari jarak dekat, sementara Sapari dan Mugi ditangkap dalam kondisi hidup karena dituduh menjadi pemandu dan membantu persebunyian. Meski telah ditangkap sejak Senin, surat penangkapan dan penetapan tersangka keduanya baru disampaikan polisi Rabu (25/07/2013) malam.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More