Friday, August 23, 2013

Malam Ketika Hasan Al Banna Dibunuh


SEORANG tua—berusia sembilan puluh tahun, membuka pintu rumahnya, menjelang tengah malam, ketika mendengar ketukan. Seorang perwira militer membawa jenazah, yang tak lain, adalah putranya sendiri, Hasan al-Banna. Maka, 12 Februari l949, adalah peristiwa pertama yang bersejarah yang dialami Jamaah Al-Ikhwanul Al-Muslimun, di mana pemimpin jamaah itu, dibunuh aparat Raja Farouk.

Malam itu, sang perwira memberi instruksi kepada orang tua itu: “Tidak boleh ada suara, tidak boleh ada tangis, tidak boleh ada ucapan belasungkawa, dan tidak boleh orang lain yang ikut mengurus jenazah itu, tidak boleh ada yang mengiringi jenazah ke tempat pekuburan. Kecuali, keluarga yang berada di rumah itu, dan pukul sembilan pagi, jenazah itu sudah harus dikubur!”

Menjelang pagi hari , perwira itu datang lagi, dan memberi perintah: “Bawalah anakmu untuk dikubur!”

“Bagaimana cara membawanya. Silakan tentara membawa?” tegas orang tua itu.

Perwira itu balik membentak : “Keluargamu yang membawa! Cepat!”

Di pagi hari, orang tua yang sudah lanjut usianya itu mengurus sendiri anaknya. Ia mengusap seluruh tubuh anaknya yang penuh dengan darah, akibat rentetan tembakan. Orang tua itu menshalatkan jenazah Hasan al-Banna bersama anak lekakinya yang masih kecil dan keluarga wanitanya. Kemudian, menggali liang dan menguburkan jenazah anaknya bersama dengan isteri dan putri-putrinya. Tanpa bantuan siapapun. Di saat yang hampir bersamaan, Raja Farouk mengadakan pesta besar, merayakan ulang tahun kelahirannya, 11- 12 Februari, l949, di Amerika, perpaduan antara ulang tahun raja, dan perayaan atas kematian Hasan al-Banna, yang sangat meriah.

MAKA mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah ia dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian ia berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini ia lakukan teratur dua minggu sekali. Ia dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun,” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll.

Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah ia.

Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), ia memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin.

Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.

Dakwah Aal-Banna bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato di depan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).

Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah ia. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya. Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid ia yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid ia yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More