Sunday, August 18, 2013

Pendeta: Pembakar Gereja di Mesir Itu Milisi Husni Mubarak


Cairo - Saat terjadi aksi biadab dari pasukan teroris Mesir terhadap rakyat pendukung Mursi, beberapa gereja di Mesir dibakar orang. Media Mesir yang pro rezim teroris langsung menuduh massa pro Mursi yang didukung Ikhwanul Muslimin-lah yang membakar gereja tersebut. Parahnya, karena kaum kuffar ada kepentingan, berita ini langsung dikutip dan dibenarkan oleh media-media kafir Barat.

Provokasi dan fitnah murahan seperti ini memang sering terjadi. Seolah sudah menjadi rumus jika gereja terbakar pasti yang membakar adalah kelompok Islam ‘militan’. Ditambah logika bahwa gereja kristen ortodoks koptik memang mendukung penggulingan Mursi yang dilakukan oleh teroris Militer Mesir. Maka sudah pasti kelompok pro Mursilah yang dituduh menyerang gereja. Padahal dalam situasi rusuh yang tidak terkontrol seperti kemarin, dengan mudahnya siapapun menyusup dan berbuat anarki.

Namun di tengah media internasional ramai-ramai menuding Ikhwanul Muslimin sebagai pembakar gereja, Vicar (istilah pendeta dari gereja ortodoks) dari Gereja Mary Gerges di Al Minya Jum’at (16/8/2013) menyatakan, bahwa di saat para imam menyeru pengikutnya untuk melindungi gereja, datanglah gerombolan Milisi Baltagiya pendukung mantan Presiden Husni Laa Mubarak yang melempar bom molotov dan membakar gereja. Baltagiya adalah istilah (bahasa) Mesir untuk menyebut tentara bayaran. Orang-orang Mesir tahu bahwa Diktator Husni Laa Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun lebih itu masih memiliki milisi Baltagiya (tentara bayaran).

Vicar Ayub Yusuf mengatakan kepada stasiun berita “On TV” Mesir bahwa sejak “peristiwa 3 Juli 2013, dimana militer mengumumkan kup terhadap Presiden Mursi, Milisi Baltagiya telah melakukan beberapa kali serangan terhadap gereja dan bangunan monastery bersejarah yang telah berdiri sejak 1.500 tahun yang lalu”. Dalam berbagai aksi demonstrasi, batalgiya inilah yang sering melakukan penjarahan, perampokan dan aksi anarki.

Vicar Yusuf mengatakan bahwa komunitasnya telah melakukan kesepakatan dengan polisi dan tentara untuk melindungi gereja mereka dari serangan batalgiya, namun ternyata polisi tak bisa mengatasinya. Bisa jadi memang ada unsur kesengajaan yang bertujuan membentuk opini bahwa kelompok pendukung Mursi-lah pelakunya.

Beberapa jam setelah pembubaran paksa kamp aksi duduk damai di masjid Rabi’ah Al-Adawiyah dan Al-Nahdhah Square, datanglah gerombolan batalgiya ini dan membakar sejumlah gereja.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More