Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Saturday, April 19, 2014

Jokowi, 'Ronin' yang Terbuang ?


Seperti yang bisa diduga, Megawati telah meneken jalan kehancuran bagi PDIP dengan deklarasi pencapresan Jokowi. Pada pemilu legislatif 9 April 2014, rakyat memberikan pelajaran telak kepada Lembaga Survei, pengamat dan tokoh-tokoh politik seperti Luhut Pandjaitan, yang selama ini mendorong PDIP segera mencapreskan Jokowi untuk suara 30%-35%. PDIP memang pemenang pemilu, tapi 19% jelas bukan 35%.

Sesaat setelah Quick Count dimulai dan posisi PDIP segera ketahuan, diberitakan bahwa Jokowi duduk termenung-menung di teras. Saat ditanya wartawan, yang pertama keluar dari mulutnya adalah menyalahkan Bappilu, caleg PDIP dan Puan Maharani. Semua, kecuali dirinya. Strategi marketing internal yang tak baik. Caleg-caleg kurang bekerja di akar rumput. Jatah beriklannya yang cuma 3 hari.

Seolah-olah dengan tambahan beriklan 3 hari, seminggu atau 2 minggu, akan menaikkan 19% menjadi 35%. Sementara Nasdem yang sudah beriklan 2 tahun saja hanya 7%. Jokowi sendiri acapkali melakukan hal yang tidak efektif saat berkampanye. Misalnya, kampanye ke Solo, ibarat kampanye di rumah sendiri, buat apa…? Atau saat ditunggu masyarakat Trenggalek sampai 8 jam, begitu remote control dipencet Megawati, langsung balik Jakarta mengecewakan pendukungnya. Atau berkampanye ke Papua, selain perjalanannya menghabiskan waktu, jumlah pemilihnyapun tak seberapa.

Yang menarik adalah ketika Jakarta Post, koran berbahasa Inggris milik Jusuf Wanandi CSIS, yang bersama Cyrus adalah promotor ‘Jokowi Effect’, pada 2 hari yang lalu memuat kisah ‘Infighting Could Ruin Jokowi’s Bid’. Alkisah, Puan, yang sangat kesal karena tidak terjadinya Jokowi Effect, sementara Jokowi di luaran sibuk menyalahkan Bappilu yang dipimpinnya dan PDIP, mengusir Jokowi dari Teuku Umar. Pertengkaran pun pecah antara Puan dan Prananda yang membela Jokowi, sehingga Mega menangis. Tidak terlalu terkejut mendengar Mega menangis, karena saat konpers Quick Count pun sudah tampak berkali-kali menyusut hidung.

Kutipan :

“Puan then told Jokowi to leave. She was very disappointed, as she had expected Jokowi’s popularity to help the PDI-P win at least 30 percent of the vote, paving the way for her to become the party’s vice presidential candidate later on,” the source said, adding that Megawati had broken down in tears during the debate.

“Megawati cried, not because she was sad to see Jokowi ousted from her home by her own daughter, but because she was witnessing a growing gap between Puan and her second son, Prananda Prabowo, who backs Jokowi.”

Artikel tersebut diikuti artikel lain pada hari berikutnya ‘Jokowi Shrugs Off Infighting’, yang isinya adalah kurang lebih sama.

Sejak artikel tersebut terbit, PDIP dan Jokowi mati-matian membantah terjadinya pertengkaran tersebut. Yang lucunya, tampaknya tak ada koordinasi yang baik dalam menjawab. Menurut Eriko Sotarduga, Puan ada di Kebagusan. Sementara Jokowi mengatakan bahwa dirinya tak bertemu Puan Maharani sama sekali sampai hari ini, karena setelah mencoblos, Puan berangkat ke Hong Kong.

Bau kebohongan amat tajam dalam pernyataan Jokowi ini. Karena jelas-jelas Puan mendampingi Megawati saat konpers setelah Quick Count, petang tanggal 9 April. Pada pertemuan evaluasi itu, Puan disebut orang-orang PDIP tidak ada di situ, tapi suaminya Happy Hapsoro hadir. Puan juga ditunjuk bersama Tjahjo Kumolo untuk memimpin negosiasi koalisi. Apakah mungkin, Puan yang merupakan kepala Bappilu, pemimpin negosiasi koalisi, akan meninggalkan partai saat yang demikian genting, pergi sendirian entah untuk urusan apa ke Hong Kong…?

Pada hari Jumat tanggal 11 April, kita menyaksikan aksi safari politik Jokowi ke tiga partai. Pagi bersama Nasdem, yang menghasilkan keputusan mendukung pencapresan Jokowi dengan catatan, cawapres akan diajukan dalam 2-3 hari untuk dibicarakan dengan Megawati. Ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Tjahjo Kumolo dan Hasto Kristiyanto sehari sebelumnya.

Dalam safari berikutnya ke Golkar, Jokowi terpaksa menelan kekecewaan. ARB yang tampak santai sehabis berolah-raga, menolak berkoalisi dan menyebut akan tetap capreskan dirinya. Meskipun Luhut Pandjaitan sudah hadir untuk memuluskan, tetap tidak ada kesepakatan.

Sebuah media menyebutkan, Jokowi adalah satu-satunya capres yang sedemikian sibuk berkeliling sana-sini melobby. Sementara capres lain adem-ayem, mengirimkan lapis dua atau tiganya melakukan pendekatan. Kata Jokowi, saya butuh kepastian. Mukanya seribu persen galau, sudah pelit tersenyum, guraupun hambar dan dibuat-buat. Sungguh berat, seorang capres harus berusaha keras memperjuangkan sendiri kepastiannya nyapres, datang seperti salesman door to door, lalu ditolak oleh ARB dan digantung oleh Cak Imin.

Isu perpecahan internal PDIP yang diangkat oleh Jakarta Post, sebenarnya senada dengan tulisan Jeffrey Winters ‘What Went Wrong with the PDI-P and Jokowi?‘ di Financial Times. Tulisan Winters ini bahkan lebih awal dari Jakarta Post, karena dimuat tanggal 10 April 2014 lalu. Jeffrey Winters menggambarkan hubungan Jokowi dan Megawati tidak saling menyukai dan mempercayai : ‘The core problem is that Jokowi and Megawati Sukarnoputri, don’t really like or trust each other’ dan Megawati seperti ditodong senapan yang tidak kelihatan saat mendeklarasikan Jokowi : ‘Megawati sat subdued at a table and held up a hand-written note to the cameras stating, in tortured prose, that Jokowi would be the presidential candidate. She looked as if she had an invisible gun to her head’.

Winters, yang dikenal anti Orba dan pada awal reformasi dekat dengan Megawati, juga menceritakan bagaimana Jokowi tidak mendapat alokasi dana kampanye, juga dibatasi untuk memakai pesawat jet ‘Indonesia Hebat’ yang selalu dibooking Megawati dan Puan. Dan bagaimana seorang kandidat cawapres dari partai lain yang diundang ke studio dimana Jokowi shooting iklan, kaget disodori bonnya.

Menurut Winters, PDIP meminta agar donasi dari para sponsor harus masuk ke Bendahara PDIP, partai-lah yang mengalokasikannya, termasuk ke Timses bentukan Jokowi. Dengan alasan tidak kebagian dana tersebut, timses Jokowi meminta para cukong, yang disebut Winters sebagai ‘tycoons’ alias pengusaha kelas kakap, agar tidak memberikan dana kepada PDIP, dan langsung memberikannya kepada mereka : ‘Some tycoons have been warned by Jokowi’s camp not to donate to the PDI-P and instead give directly to the Jokowi machine’. Apabila membaca semua indikator ini, tampak jelas upaya kudeta yang sedang dilakukan Jokowi dan timsesnya terhadap PDIP dan Megawati.

Pertama, soal Puan. Jokowi digambarkan para promotornya seperti Cyrus sebagai capres setengah dewa. Apabila mencapreskan Jokowi, PDIP akan mendapat suara sampai 35%. Ini yang disebut ‘Jokowi Effect’. Efek-efek yang banyak disebut berhari-hari setelah Pileg oleh pembela Jokowi adalah efek definisi ngga-ngga mereka sendiri untuk membela Jokowi. Dengan mempercayai Jokowi Effect itu, Megawati, Puan dan PDIP setuju deklarasi pencapresan, dengan harapan suara minimum 27% akan mantap untuk memajukan duet Jokowi-Puan. Karena itu pula, tentu tidak ada salahnya Puan mulai menonjolkan diri di billboard dan di iklan, sebagai seseorang yang segera akan menjadi cawapres. Toh selama ini dia setia mendampingi bundanya membangun partai. Itu tak ada artinya dibandingkan penggorengan image Jokowi selama 1,5 tahun terakhir oleh media.

Ternyata Puan dan Megawati tertipu. Hasil pileg jauh di bawah 35%, bahkan jauh di bawah target Puan yang digambarkannya gede-gede di paving block dengan kapur. Tiba-tiba saja, Jokowi Effect jadi banyak syarat. Karena cuma beriklan 3 hari jadi tidak effect. Karena jarang pakai pesawat jet jadi tidak effect. Tetap perlu caleg PDIP untuk kerja keras, bukan seperti yang dikira selama ini : asal memajang foto bersama Jokowi yang nyengir lebar sudah cukup. Lebih mengenaskan lagi, Jokowi selalu ngotot atas kelebihan dirinya dengan menyalahkan Puan dan PDIP.

Kedua, meskipun ditunjuk menjadi pemimpin negosiasi, sejak pengusiran dan pecahnya berita tersebut di Jakarta Post, tiba-tiba saja Puan raib. Ada banyak opini yang ditulis di media, seperti Wimar Witoelar, yang menyebut bahwa sebaiknya Jokowi yang didapuk untuk menego koalisi. Tiba-tiba saja Jumat itu Jokowi yang bersafari ke sana kemari. Pertanyaannya, apakah semudah itu menyisihkan Puan…? Apakah Megawati memang memilih mengesampingkan anak biologis dan ideologisnya, demi si anak angkat dan boneka yang kian hari kian terbongkar topeng ambisi dan ketamakannya…?

Titik saat ini merupakan titik paling kritis baik untuk Megawati maupun Jokowi. Jokowi mungkin berpikir, dengan jebakan deklarasi itu, Megawati telah disudutkan pada ‘point of no return’, tetap mendukung pencapresannya atau beresiko semakin dimusuhi rakyat. Itu bisa terjadi, kalau dia pintar mengelola persepsi publik agar tetap positif terhadapnya, dibantu media-media yang didanai sponsornya. Gerah manut dan dijuluki boneka, pembangkangannya terhadap Megawati meningkat. Seiring dengan kegalauan dan kepanikannya untuk menekan Megawati memastikan tiket pencapresannya. Andaikan pada Jumat itu, Jokowi telah mengamankan dukungan 3 partai : NasDem, Golkar dan PKB, berarti telah memastikan definitif pencapresannya dengan 39%-40% suara. Apa lacur, yang dia dapat hanya 7% dari Paloh, penolakan ARB dan tarik-ulur Cak Imin.

Di pihak lain, Megawati bukan tak punya pilihan. Bahkan kecenderungan untuk membatalkan pencapresan Jokowi itu sudah sangat kencang. Mungkin inilah tujuan Jakarta Post membocorkan pengusiran itu. Untuk memancing reaksi publik, supaya Jokowi tidak dibuang diam-diam. Berita itu juga sukses mencoreng dan mengandangkan Puan, setidaknya untuk sementara.

Sampai dengan batas pendaftaran ke KPU, kendali sebenarnya tetap di tangan Megawati. Manuver dari kader yang menurut Winters, tidak disukainya dan tidak menyukainya ini, sudah semakin tidak terkendali. Boneka sudah hendak memakan tuannya. Sebelum deklarasi, sudah membibitkan ProJo melawan ProMeg. Dan kini berani menyabot donasi cukong agar langsung ke dirinya bukan ke kas partai. Begitu namanya didaftarkan resmi ke KPU, Jokowi tak butuh Megawati lagi. Melihat yang terjadi pada Puan, ini bisa jadi awal pemunahan trah Soekarno di PDIP.

Di tengah kemelut ini, Jokowi boleh dibilang sudah bukan lagi capres setengah dewa tapi capres setengah ronin. Mitos capres setengah dewa sudah rontok oleh hasil pemilu. Jokowi ternyata bukan cukup dengan sandal jepit bisa menang, tapi butuh cawapres yang kuat, butuh babysitter yang bagus, butuh koalisi dengan partai lain. Sementara dengan segala pembangkangan dan manuvernya yang makin telanjang, upayanya memarginalisasi Puan, juga kepanikan dan kegalauan yang merupakan tanda-tanda dari ketidak-matangan berpolitik dan mental yang tidak kuat; bisa semakin menguatkan resolusi Megawati untuk membatalkan pencapresannya.

Ronin artinya samurai tanpa shogun, tanpa tuan, tanpa rumah. Capres ronin artinya capres tanpa partai, yang mengaku punya puluhan juta pendukung sekalipun. Capres setengah ronin artinya apabila tidak hati-hati, selangkah lagi bernasib ronin. Capres ronin akan berkelana sendiri mencari-cari partai yang masih percaya mitos kekuatan dan popularitasnya. Pertanyaannya, siapa yang mau beli barang yang sudah dibuang tuannya…?

Thursday, April 10, 2014

Negara-Negara Maju Beranjak Tinggalkan Dollar

 
Pernah tidak kita kepikiran kalau menjadi Amerika itu sebenarnya enak banget, contohnya seperti ini, Indonesia itu jika mengalami defisit perdagangan seperti dewasa ini, pasti nilai rupiahnya fluktuatif, tetapi seperti tahun-tahun kemarin ketika Amerika mengalami defisit perdagangan, kok kurs dolarnya terkesan stabil-stabil saja ya, kan seharusnya ketika defisit semakin besar nilai mata uangnya juga harus turun seperti Indonesia dong secara teorinya.

Inilah enaknya Amerika, karena nilai kurs itu pada dasarnya juga tunduk pada asas supply and demand, di mana dollar dipakai banyak negara sebagai cadangan devisa, oleh karena itu demand terhadap dollar sangatlah tinggi untuk pasar investasi saham mereka atau T-Bill* mereka, padahal kita semua juga tahu bahwa T-Bill ini yield-nya sangat rendah, suku bunganya saja lebih rendah dari inflasi, jadi meskipun Amerika impor barang banyak juga tidak akan ada masalah karena mereka cetak Dollar sendiri, dalam hal ini mereka hanya butuh menekan mata uang negara lain seperti yang baru-bari ini ramai diberitakan dengan Yuan (china), agar produk mereka masih bisa bersaing dengan barang impor. Nah sekarang kalau Indonesia ikutan impor banyak apa jadinya nanti ini Negara, apalagi kalau bukan menambah hutang hasil akhirnya.

Memang negara-negara pengguna Dollar seperti Indonesia ini sangat tergantung dengan Amerika, kita masih ingat bagaimana hasil kerja seorang Goege soros sendiri yang menarik negara-negara Asia ke jurang krisis moneter 1997-1998 karena dollar ditarik dari Indonesia, yang membuat BI menaikkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) supaya Dollar masuk lagi ke Indonesia yang ujung-ujungnya memberikan hutang yang sangat banyak kepada Indonesia. Selain itu Dollar memang masih diminati banyak negara sebagai komoditas utama dalam investasi dan perdagangan karena kursnya yang cenderung selalu menguat dibandingkan mata uang lain, seperti dalam transaksi perdagangan utama minyak dan gas, dan komoditi-komoditi lain, inilah yang membuat tiap negara harus berupaya mengumpulkan Dollar untuk bertransaksi.

Tetapi dewasa ini trend Dollar mau tidak mau harus diakui kalau menurun, negara-negara Eropa sudah mulai menggunakan Euro dalam transaksi perdagangan mereka, dan juga keberanian China dalam melakukan swap currency (menggunakan mata uang sendiri) dengan partner dagangnya, dan malah akhir-akhir ini China berani menggunakan Yuan dalam perdagangan komoditi utama dunia, yaitu Migas, inilah yang membuat Amerika mulai ‘galau’ dan berusaha mengintervensi mata uang China tersebut.

Karena kalau ini dibiarkan terjadi, Amerika tentunya akan keberatan menanggung beban hutangnya kepada China yang sudah semakin banyak, dan itu akan membawa kesulitan bagi Amerika sendiri ke depannya, di mana stimulus moneternya tidak bisa lagi menjadi solusi dalam menyeimbangkan ekonominya, sedikit-sedikit memang sudah terlihat tren ke arah situ dengan melihat kepanikan Amerika akhir-akhir ini. Belum lagi melihat perjanjian yang dilakukan Jepang dan China untuk menyingkirkan penggunaan Dollar dalam perdagangan mereka, dan diikuti oleh BRICs (Brazil, India, china, Rusia, Afrika Selatan) yang melakukan hal serupa (Tempo Bisnis.2013).

Memang tidak ada ketentuan yang mengharuskan semua negara di dunia ini untuk menggunakan Dollar dalam transaksi perdagangan mereka, tetapi semua negara pengguna Dollar tersebut akan berpikir dua kali kalau mau mengganti mata uang Internasional mereka, terlebih kan ada konspirasi ekonomi tuh, gosip-gosip-nya kan Irak dan Afganishtan ‘digebuk’ Amerika karena tidak memakai Dollar sebagai mata uang Internasional mereka, kan serem banget tuh kalau dipikir-pikir, maka dari itu banyak negara yang masih secara ’sukarela’ menggunakan Dollar sebagai mata uang internasional mereka, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia ini.

Nah beberapa hari kemarin Amerika dibikin puyeng lagi, karena Rusia mengharamkan Dollar untuk membeli komoditas mereka seperti minyak, dll. dan menaikkan harga pasokan gas mereka (Russia Today, Sabtu 05-April-2014). pengumuman ini langsung membuat ’syok’ para spekulan di wall street, di mana dengan sistem pembayaran menggunakan Rubel benar-benar melindungi Rusia dari dollar dan taring spekulan. Ini merupakan blunder Amerika karena memberikan sanksi pada Rusia yang akhirnya malah diberi jawaban oleh ‘Putin’ akan hal tersebut. Rusia berpendapat rezim Dollar akan segara runtuh, karena sebenarnya nilai tukar yang benar itu adalah emas bukan uang kertas karena lebih stabil pergerakannya. Menyikapi hal ini Wall Street menilai deklarasi ini sudah seperti tabuhan perang oleh Rusia terhadap Amerika.

Nah Indonesia sendiri apa ke depannya bisa mampu lepas dari cengkeraman Dollar dengan belajar dan meniru kesuksesan ekonomi China serta negara-negara lainnya, atau mungkin saja akan menggunakan mata uang bersama ASEAN seperti halnya Euro, atau malah menggunakan Yuan ke depannya, apa pun itu yang dilakukan harapanya sudah tentu harus membawa kesejahteraan rakyat Indonesia.

Menurut saya pribadi bukan mata uang kertasnya yang beresiko sebenarnya dan bukan berarti harus selalu menggunakan emas seperti yang dikemukakan oleh Rusia, tetapi sistem yang dipakai oleh mata uang kertas itulah yang terkadang membawa resiko, yaitu ketika menggunakan sistem mata uang terkatrol, di mana ketika sebuah negara bisa mencetak mata uang kertas sebanyak-banyaknya bahkan lebih banyak dari cadangan emas yang dimilikinya, hal ini sangatlah riskan, karena jika perkiraan itu melesat imbasnya akan sangat rentan terhadap inflasi dan defaluasi, karena pada dasarnya sifat uang itu sendiri adalah konsumtif.

Melihat berbagai masalah tersebut apakah rezim Dollar akan segera berakhir? Menurut saya itu tidak semudah membalik tangan, kita lihat saja contoh mudahnya, Uni Eropa yang jumlah GDP-nya saja lebih besar dari Amerika belum bisa menggeser peran Dollar, tetapi masa depan tetaplah masa depan yang akan datang dengan segala misterinya, dan kita sebagai manusia hanya bisa menganalisisnya, Yah mungkin saja akumulasi perdagangan China yang semakin besar di tiap waktunya akan membuat Dollar lengser dan digantikan Yuan, entahlah, toh semua kemungkinan itu tetap ada kan, dan Indonesia harusnya tetap waspada terhadap segala perkembangan situasi yang ada di Dunia.


Notes:

1. *T-bill: instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Sentral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More