Thursday, May 1, 2014

Kronologi Dugaan Penyiksaan Aparat Terhadap Tiga Aktivis Islam Solo


RABU (30/4) Tim Pencari Fakta (TPF) Kekerasan di Polres Solo beraudiensi ke DPRD Solo. Rombongan yang di ketuai Edi Lukito SH dan Sekertaris Drs. Yusuf Suparno menyerahkan laporan hasil temuan TPF atas dugaan kekerasan terhadap ketiga aktivis Islam di Polresta Solo selama Maret-April 2014.

Ketiga aktivis yang ditangkap itu adalah Khuzaimah alias Jaim, Susilo Agung Nusantoro dan Haedar.

“Khuzaimah alias Jaim ditangkap karena dugaan penganiayaan anak Punk di Baturono. Susilo ditangkap terkait dengan pengrusakan Karaoke Zensho dan Haedar ditangkap lantaran dugaan pengrusakan Warung Jamu Dinda,” kata Edy saat audiensi.

Berikut kronologi penangkapannya seperti diterangkan Tim Pencari Fakta (TPF) kepada Islampos, Kamis (1/5).
Kronologi Penangkapan Khuzaimah Alias Jaim

Minggu 30 Maret 2014 pukul 18.00 terjadi penangkapan atas nama Khuzaimah alias Jaim di daerah Semanggi oleh anggota Polres Solo yang berjumlah sekitar 9 orang. Dalam Surat Perintah Penangkapan Nomor : Sp.Kap/4/III/2014/Reskrim Jaim diduga terkait penganiayaan terhadap anak Punk di daerah perempatan Baturono Pasar Kliwon.

Dalam perjalanan, muka Jaim ditutup dengan jaket sehingga tidak bisa melihat. Sesampai di Polres Solo Jaim dipukuli lebih dari 10 kali, jenggot dicabuti, dan diteriaki kata kotor [Bajingan].

Selama dalam tahanan, Jaim tidak menjalankan sholat Jum’at. Hingga tanggal 26 April 2014, Jaim mengeluhkan kepala masih pusing. Ketika disiksa tanpa ada pengacara yang mendampingi.

2. Kronologi Penangkapan dan Penyiksaan Susilo

Senin 31 Maret 2014 usai sholat shubuh sekitar pukul 05.15 WIB terjadi penangkapan atas nama Susilo Agung Nusantoro. Berdasar Surat Penangkapan Sp.Kap/42/III/2014/Reskrim Susilo diduga terkait dengan pengrusakan Karaoke Zensho. Polisi berjumlah sekitar 6-8 orang, 3 kendaraan bermotor dan 1 mobil.

Dalam perjalanan menuju Polres Solo, Susilo dipukul, ditendang, dibentak, dicaci dengan kata-kata keji, mata ditutup dengan lakban.

Setelah sampai di sebuah ruangan, celana panjang Susilo dilucuti dan kembali disiksa dengan cara dipukuli ditendang, disunduti (diselomoti) rokok, kedua kaki dipelangkangkan (dibuka lebar) lalu dipukuli pahanya.

Dengan hanya memakai celana dalam saja, kemaluan Susilo dipanasi dengan korek api, jenggot dicabuti.

Masih diruang tadi, Susilo dipaksa mengakui kejadian yang tidak ia lakukan, kemudian dibawa ke ruang penyidik baru lakban yang menutupi matanya dilepas. Ketika disiksa tanpa ada pengacara yang mendampingi.

3. Kronologi Penangkapan dan Penyiksaan Haedar

Rabu 2 April 2014 sekitar pukul 11.00 WIB terjadi penangkapan atas nama Haedar. Berdasarkan Surat Penangkapan Sp.Kap/ 44/IV/2014/Reskrim, penangkapan Haedar diduga terkait dengan pengrusakan Warung Jamu Dinda Norowangsan Kleco. Depot Jamu Dinda dinilai meresahkan karena turut menjual minuman keras di wilayah kota Surakarta. Anggota Polisi kemudian melakukan penangkapan para aktivis sekitar 10 orang.

Dalam perjalanan mata Haedar ditutup dengan lakban. Ketika sampai di Polres Solo, Haedar ditendang dan dipukuli di bagian kepala, badan dan tangan.

Jenggot Haedar dicabuti oleh anggota Polisi disertai dengan mengeluarkan kata-kata kotor. Haedar mengaku badannya juga disiksa. Ketika disiksa tanpa ada pengacara yang mendampingi.

Kapolres Solo Membantah

Tim Pencari Fakta (TPF) menerangkan Keluarga Khuzaimah alias Jaim tanggal 30 Maret 2014 malam mendatangi ke SPK Polres Solo untuk menanyakan keberadaan Jaim sambil membawakan minuman.

Namun anggota SPK Wardoyo menyampaikan bahwa bahwa ada perintah dari Wakapolres AKBP Guritno Wibowo agar keluarga datang besok. Keluarga khawatir Jaim diperlakukan tidak wajar.

Namun diyakinkan oleh Kasat Intel Kompol Fakhrudin bahwa Kapolres menjamin tidak ada penyiksaan sebagaimana kasus Kipli beberapa tahun lalu.

Dalam sebuah pertemuan dengan elemen Muslim terkait dengan laporan dan keluhan para tahanan. salah satu tokoh umat Islam telpon Kapolres Kombes Iriansyah, mengkonfirmasi atas laporan penyiksaan di Polres Solo. Namun Kapolres Solo membantah dan bersumpah demi Allah dan Rasul bahwa tidak ada penyiksaan di Polres Solo.

0 komentar:

Post a Comment

Please leave your constructive comments and use polite manner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More