Syirik Masih Tetap Menjadi Budaya Bangsa Yang Terus Dilestarikan
Acara pernikahan pejabat tinggi selalu mendapat sorotan dari media. Bukan hanya pas
acara puncak, jauh-jauh hari biasanya sudah banyak ulasan tentang
persiapannya. Sehingga perjalanan acara sakral perjalanan hidup manusia
tersebut dapat disaksikan orang banyak. Jika media memujinya, sudah
barang tentu banyak khalayak yang menilainya sebagai kebaikan. Karena
zaman sekarang media seolah sudah menjadi wahyu yang membawa kebenaran.
Apa kata media, maka masyarakat akan mengikutinya.
Terhadap pernikahan putri bungsu Raja
Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara
atau GRAy Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara
atau Achmad Ubaidillah, tak henti-henti media mengulasnya. Bahkan di
beberapa stasiun televisi ditayangkan berulang kali dalam Headline News-nya. Beberapa event
yang ditayangkan dan diberi perhatian khusus tak semua selaras dengan
akidah dan nilai-nilai Islam. Salah satunya -acara yang dianggap menarik
dan unik- adalah penganten edan-edanan.
Penganten edan-edanan menjadi salah satu
proses pernikahan agung di Kraton Yogyakarta saat mengawal KPH
Yudanegara saat hendak melakukan prosesi panggih atau temu penganten.
Yaitu dua pasang penganten yang berdandan seperti penganten namun
berantakan. Bahkan terlihat seperti orang gila, makanya disebut
penganten edan-edanan.
Menurut keyakinan kraton, tradisi
penganten edan-edanan yang berperilaku seperti orang gila sambil
menari-nari ini untuk membuka jalan bagi penganten dan untuk mengusir
atau menolak bala, agar proses pernikahan berjalan lancar.
"Ini sebagai tolak bala' agar acara
berlangsung lancar tanpa halangan apapun, kamilah penolak balanya," kata
salah satu pemeran manten edan-edanan Nyi Mas Wedono Hamong
Sumowiyardjo. (Lihat: Tolak Bala, Manten Edan-edanan Kawal Mantu Sultan Selasa, www.detiknews.com, 18/10/2011)
Isti'adzah Kepada Selain Allah Adalah Syirik
Isti'adzah maknanya adalah meminta
perlindungan. Yakni meminta agar dilindungi dan diamankan dari
keburukan. Dan itu termasuk bagian dari thalab (permintaan)
seperti istighatsah (meminta dihilangkan bencana), isti'anah (minta
pertolongan), istisqa' (meminta diberikan hujan) dan semisalnya. Semua
itu termasuk doa. Dan doa termasuk ibadah. Oleh karena itu ia harus
ditujukan dan dimohonkan kepada Allah Allah semata, jika kepada
selain-Nya maka termasuk syirik. Allah Ta'ala berfirman,
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
"Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu
adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di
dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin: 18)
ذَلِكُمُ
اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا
يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ
وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ
يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
"Yang (berbuat) demikian Allah
Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru
(sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit
ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar
seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan
permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. .
." (QS. Faathir: 13-14)
Maka mengusir bala' dan berlindung dari
gangguan makhluk halus dengan mengadakan dua pasang penganten
edan-edanan yang bertingkah dan menari-nari seperti orang gila termasuk
bagian dari isti'adzah. Hanya kepada siapa itu dimohonkan. Jika kepada
Allah tentu ada aturan/syariat yang mengaturnya, dan pasti tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam lainnya seperti menutup aurat
dan mejaga kehormatan diri. Sementara tolak bala' ala kraton Yogyakarta
jelas tidak ada petunjuknya dalam syariat Islam, padahal Islam selalu
memberikan perhatian pada urusan doa. Kemudian pertanyaan, ini syariat
siapa? Dan jika menuruti pembuat syariat penganten edan-edanan itu
berarti doa ditujukan kepadanya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin
menyebutkan satu kaidah, "Sesungguhnya setiap manusia yang bersandar
kepada suatu sebab yang tak pernah ditetapkan oleh syariat sebagai
sebab, maka ia telah melakukan kesyirikan dengan syirik kecil." (Al-Qaul al-Mufid, Syarhu Kitab al-Tauhid, Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin: 1/358)
Dan dalam perkataan beliau yang lain,
"Sesungguhnya setiap orang yang meyakini sesuatu sebagai sebab dalam
satu perkara, tapi tidak pernah ada ketetapan bahwa itu sebagai sebab,
baik secara kauni (sebab akibat) atau syar'i, maka kesyirikan yang
diperbuatnya itu termasuk syirik kecil. Karena kita tidak punya hak
untuk menetapkan bahwa ini merupakan sebab kecuali apabila Allah telah
menjadikannya sebagai sebab, baik kauni atau syar'i. Yang disebut syar'i
itu seperti membaca Al-Qur'an dan doa. Sedangkan yang kauni itu seperti
berobat yang telah terbukti manfaatnya." ((Al-Qaul al-Mufid, Syarhu Kitab al-Tauhid: 1/358)
Maka jikapun acara tola' balak tersebut
benar dimintakan kepada Allah, agar Dia menjaga acara tersebut dan
melindunginya dari berbagai gangguan, maka itu masih termasuk syirik
kecil, karena melakukan sebab yang tak dijadikan syariat sebagai sebab.
Dan ia menjadi pintu gerbang menuju kesyirikan sebagaimana yang
dijelaskan para ulama. Tapi kalau diperhatikan, sangat jauh kalau tolak
bala' itu dimohonkan kepada Allah karena berbalutkan kemaksiatan seperti
mengumbar aurat. sang wanita hanya pakai kemben, dan lainnya.
Jika demikian maka perbuatan itu termasuk syirik besar yang bisa
membatalkan keimanan pelakunya, menghapus amal-amal baiknya, dan jika
dibawa mati (belum bertaubat) maka Allah tidak akan mengampuninya
sehingga ia akan kekal di dalam neraka. wal-'iyadhu billah. . .
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al Nisaa': 48 dan 116)
إِنَّهُ
مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang dzalim itu seorang penolong pun." (QS. Al Maaidah: 72)
وَلَقَدْ
أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan
kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu
mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-Zumar: 65)
Meminta Perlindungan Kepada Selain Allah Adalah Tradisi Jahiliyah
Kebiasaan bangsa Arab Jahiliyah dahulu,
apabila mereka melewati suatu lembah atau tempat yang menyeramkan maka
mereka berlindung kepada raja jin di tempat tersebut agar melindungi
mereka dari gangguan jin atau hewan yang ingin mencelakakan mereka.
Sebagaimana mereka, apabila datang ke negeri musuh lalu mereka meminta
perlindungan kepada pembesar negeri tersebut dan di bawah jaminannya.
Maka saat jin melihat para manusia
tersebut meminta perlindungan kepada mereka karena takutnya, maka jin
tersebut semakin menakut-nakuti mereka sehingga para manusia tersebut
terus-menerus meminta perlindungan. Sehingga jin tersebut menambah
kesesatan dan dosa, karena mereka terus-menerus melakukan kesyirikan dan
kemungkaran yang diperintahkannya.
Allah Ta'ala berfirman,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
"Dan sesungguhnya ada beberapa orang
laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada
beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka
(manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jin: 6)
Para ulama telah sepakat bahwa perbuatan
semacam ini, yaitu isti'adzah (memohon perlindungan) kepada selain
Allah adalah tidak boleh, bahkan termasuk bagian kesyirikan.
Mula Ali al-Qari al-Hanafi berkata, "Tidak boleh memohon perlindungan kepada jin. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencela orang-orang kafir atas perbuatan tersebut." Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan firman Allah Ta'ala:
وَيَوْمَ
يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ
الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ
بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ
النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ
رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
"Dan pada suatu hari saat Allah
mengumpulkan mereka semua (dan berfirman): "Wahai golongan jin! Kamu
telah benyak menyesatkan manusia." Dan kawan-kawan mereka dari golongan
manusia berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah saling
mendapatkan kesenangan. Dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan
kepada kami telah datang." Allah berfirman, "Nerakalah tempat kamu
selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain." Sungguh Tuhanmu
Mahabijaksana, Mahamengetahui." (QS. Al-An'am: 128)
. . .Para ulama telah sepakat isti'adzah (memohon perlindungan) kepada selain Allah adalah tidak boleh, bahkan termasuk bagian kesyirikan. . .
Kesenangan yang didapatkan manusia dari
jin berupa dituruti keinginannya, dikerjaka apa yang disuruhnya, dan
diberitahu dari sebagian kabar ghaib. Sementara kesenangan yang
didapatkan jin, manusia mengagungkannya, meminta perlindungan kepadanya,
dan tunduk terhadap titahnya. (Diringkas dari Fathul Majid: 196)
Pelajaran dari kisah tersebut, bahwa
diperolehnya manfaat duniawi berupa dihindarkan dari keburukan atau
mendapatkan keuntungan tidak menunjukkan bahwa itu bukan syirik. Dan
terkadang perbuatan syirik yang dilarang oleh Syariat bisa mendatangkan
hasil duniawi yang diinginkan, seperti tukang sihir yang meminta bantuan
jin untuk menimpakan sihir kepada orang yang disihirnya.
Memohon perlindungan kepada jin (sering
dikatakan orang: penguasa tempat tersebut) supaya menghindarkannya dari
berbagai mara bahaya, bala', dan gangguan makhluk-makhluk halus (syetan)
tidak hanya terjadi pada zaman jahiliyah. Di zaman modern ini pun masih
banyak yang melakukannya, seperti memohon perlingdungan kepada Nyi Roro
kidul (sering disebut penguasa laut selatan, padahal semua belahan bumi
adalah milik Allah dan tunduk pada-Nya) saat melaut dengan melarung
sesajen.
Di sebagian tempat meminta pertolongan
dan perlindungan kepada jin 'nyi roro kidul' juga menjadi tradisi,
khususnya saat melakukan hajatan, agar lancar dan tidak ada gangguan
makhluk halus (syetan). Apakah Seperti itu pula yang terjadi pada acara
pernikahan keluarga kraton Yogyakarta?
.
. .diperolehnya manfaat duniawi berupa dihindarkan dari keburukan atau
mendapatkan keuntungan tidak menunjukkan bahwa itu bukan syirik, dan
terkadang perbuatan syirik yang dilarang oleh Syariat bisa mendatangkan
hasil duniawi yang diinginkan, . .
Tuntunan Syar'i Dalam Memohon Perlindungan
Islam telah memberikan tuntutan di saat
muncul kekhawatiran akan gangguan syetan, yaitu dengan berlindung kepada
Allah Ta'ala. Yakni dengan berdoa yang disertai dengan iman kepada
Allah, yakin dan bersandar kepada-Nya.
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya." (QS. Al-Nahl: 99)
Kemudian kesempurnaan isti'adzah itu
disertai dengan bertawakkal kepada Allah dan menyerahkan semua urusan
kepada-Nya dengan menjaga ketaatan-ketaatan kepada-Nya seperti
menjalankan amal wajib, sunnah, dan berdzikir. Dan siapa yang
melaksanakan demikian maka Allah berfirman,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
"Bukankah Allah cukup untuk
melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan
(sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya." (QS. Al-Zumar: 36)
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Jika Allah menimpakan suatu
kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia
sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha
Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (QS. Al-An'am: 17)
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barang siapa yang bertawakal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya." (QS. Al-Thalaq: 3)
Salah satu contoh isti'adzah yang
dituntunkan syariat adalah saat seorang muslim singgah di satu tempat
yang seram atau menempati rumah baru dan berharap tidak mendapatkan
gangguan atau kejahatan dari jin, kalajengking, ular dan makhluk Allah
lainnya yang mempunyai potensi jahat, maka ia dianjurkan untuk
berlindung kepada pencipta mereka semua, yaitu Allah Ta'ala. Salah
satunya dengan membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
مَنْ
نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ
مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca: A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya), maka tak ada sesuatupun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut." (HR. Muslim)
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya."
Jika orang-orang jahiliyah saat singgah
di satu tempat mereka berlindung kepada jin-jin penguasa tempat
tersebut, maka syariat datang dengan memerintahkan kepada kaum muslimin
agar berlindung kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah dan
sifat-sifat-Nya. Wallahu Ta'ala a'lam.Labels: islam
0 Comments:
Post a Comment
Please leave your constructive comments and use polite manner
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home