Diluar kesadaran para Guru besar King Abdul Aziz dan Ummul Qura, ketika ternyata ada seorang alumnus dari kedua perguruan tinggi tersebut jauh dari rel fakultas yang ditempuhnya. Sangat mengecewakan tentunya produk kedua fakultas yang diharapkan mampu melanjutkan visi dan misi semagai motto dari kedua lembaga pendidikan resmi Arab Saudi. Sebut saja seorang santri pondok pesatren di Indonesia, datang kearab saudi dengan cita cita dapat meraih gelar gelar favoritnya. Profesor, Doktor, Master, lambang kebanggaan tersendiri buat seorang Said Aqil siroj yang kelak menjadi modal mengayun langkah menuju Istana PB.NU, sebagai pemegang kekuasan tertinggi dalam struktur organisasi tersebut. Perjuangan dan ketekunan seorang Said aqil memang luar biasa merambat jalan meraih gelar gelar elita pendidikan, paling tidak, bisa menjadi cambuk pemicu semangat bertarung menduduki kursi tertinggi ormas Islam yang lahir tahun 1926.
Gaya Said Aqil mengejar gelar bergengsi itu bukan main indahnya, mengecoh semua orang yang mengantarnya meraih gelar gelear terebut, model Abdul Ghafur yang berhasil mengecoh lembaga pendidikan Islam ditimur tengah. Dan setelah berhasil mendalami ilmu ilmu Islam dengan segala titik bengiknya. Abdul Ghafur sebagai ganti nama dari “ Christiaan Snouck Hurgronje”, seorang Oreintalis belanda , justru menjadi bumerang terhadap kelangsungan peradaban agama. Metode oreintalislah yang dipakai oleh Said Aqil selama belajar di arab saudi, sopan dan santun mengikuti arus pemahman yang terdapat diarab saudi, tidak seorangpun menyangka sosok Said aqil kelak akan menjadi Bumerang terhadap perguruan tinggi arab saudi dan dakwah Islam sunah ditanah air. Sekalipun Disertasinya memuaskan dan meyakinkan para dosen dosen pembimbing , terutama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji, tetapi Said aqil dan disertasinya itu tidak sama, jauh panggang dari api. Dalam segala kiat dakwahnya di Indonesia bertolak belakang dengan karya ilmiahnya yang mencengangkan guru besar arab saudi.
CV Said aqil dalam pendidikan di arab saudi meliputi
- S1, ditempuh di Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.
- S2 ditempuh di Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).
- S3 di Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji Inilah bagian paling menarik dari disertasinya yang mengesan Said aqil seorang wahaby yang menentang berbagai penyelewengan dalam Islam. Ini juga merupakan fakta antara Said dan profesor Said satu orang yang berbeda haluan berpikir, pertama menghasilkan pernyatan seperti dibawa, menilai sufistik di Indonesia identik dengan dengan kesesatan, kedua menghasilkan profesor said sebagai ketua PB NU yang justru menyerang Disertasinya sendiri…
“Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar” (Bagian Disertasi Said Aqil)
Jelas sekali kenyataan, siapakah Said Aqil yang memanjat jenjang pendidikan dengan modal adaptasi lingkungan, dan setelah berhasil menggondol sejumlah perangkat kesarjanaan, maka tidak sama dengan Prof. Dokter Said Aqil Siroj MA yang menghujat semua lembaran disertasinya, karena usai sudah ngapusin orang orang Arab, yang mungkin di mata pak Prof ini, orang Arab sangat bodoh, karena ternyata Said bisa masuk kearab tanpa kendala meraih gelar gelar pendidikan, dan setelah tiba di tanah air, tanpa merasa berhutang budi kepada para tutor pendidikan yang mengantarnya sampai ditempat tujuan, lalu said aqil menghujat semua tulisan dirinya yang menjadi dasar pengabdiamnya, sehingga meraih gelar. Sikap Said juga mencerminkan seorang petualang yang menyamar dengan bentuk pengabdian, tetapi ujung ujungnya adalah pengkhianatan. Disertasi hanya sekedar menjadi alat meraih harapan, namun juga digunakan sebagai bahan “Caci Maki” Said aqil siroj dengan melampiaskan kekesalannya pada apa yang disebut “Wahaby”….Salam Damai
Labels: islam