Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Friday, August 23, 2013

Dekonstruksi Jurnalistik Mainstream


Oleh: Mohamad Fadhilah Zein*

Haruskah seorang jurnalis melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistik? Pertanyaan ini menggelitik penulis karena ada cara pandang sebagian jurnalis yang mengatakan, jika jurnalis tidak melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistiknya, contoh meliput konflik agama, maka akan kehilangan obyektivitas. Benar kah cara pandang demikian? Apakah seorang jurnalis yang memegang teguh ajaran agamanya akan kehilangan obyektivitasnya ketika melakukan tugas jurnalistik di tengah konflik? Apapun penyebab konflik tersebut?

Penulis beranggapan cara pandang demikian tidak lepas dari paham sekulerisme yang memisahkan agama dari realita kehidupan. Paham ini sudah berkelindan dalam ilmu-ilmu jurnalistik yang diajarkan di banyak perguruan tinggi. Keduanya sudah menjadi darah daging yang sulit dipisahkan. Hal itu dapat dilihat dari sembilan elemen jurnalisme yang menjadi ideologi mainstream dalam jurnalistik. Salah satu elemen yang diajarkan adalah, jurnalistik harus mengejar kebenaran untuk disampaikan kepada masyarakat.

Namun, jurnalistik tidak mengajarkan apa itu kebenaran dan apa parameter kebenaran yang dianut. Dalam kajian jurnalistik, kebenaran menjadi relatif dengan alasan terlepas dari kepentingan tertentu atau tidak memihak demi keberimbangan. Penulis buku sembilan elemen jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, bahkan mengaku kesulitan menentukan apa itu kebenaran. Bagi keduanya, jurnalistik akan sampai pada kebenaran jika sudah mewawancarai ribuan orang mengenai suatu persoalan. Dengan ribuan pendapat yang dikumpulkan, maka akan diolah untuk kemudian dijadikan sebuah kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan dari wawancara terhadap ribuan individu tentunya akan menimbulkan persoalan lain. Bukan kah setiap kepala memiliki pendapat yang tidak sama? Seperti pepatah mengatakan, rambut boleh hitam, tapi isi kepala belum tentu sama. Belum lagi pendapat ribuan orang di suatu negara akan berbeda dengan di negara lain. Artinya, kebenaran yang diajarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel kehilangan parameter dan pijakannya. Dia akan menjadi relativisme yang kemudian sulit menemukan definisi kebenaran sejati.

Jurnalistik yang mengadopsi paham sekulerisme telah menjadikan para jurnalis sebagai manusia yang tercerabut dari identitas agama. Di dalamnya, ditelan mentah-mentah gelombang perubahan cara pandang. Jurnalistik menjadi sebuah bagian dari industrialisasi media massa yang dikuasai oleh kelompok kapitalis. Harvey Cox memberikan istilah sekulerisme sebagai pembebasan manusia dari agama dan pengawasan metafisik, menjadi pengalihan perhatian kepada yang ada "di sini dan kini", sebagai konsekuensi logis dari dampak keyakinan yang bersumber dari teologi kristen terhadap sejarah.

Perguruan Tinggi Islam yang mengajarkan jurnalistik harus mengubah cara pandang pemisahan agama dalam jurnalisme. Dalam sejarahnya, gerakan sekulerisme selalu mendapat penolakan di negara-negara muslim. Bahkan, di Turki saat ini, secara perlahan-lahan politik Islam mulai bergeliat melawan dominasi paham sekuler. Kajian yang dilakukan Mark Juergensmeyer (1993) menunjukkan, negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim belum merasakan hakikat kemerdekaan dari kolonialisme barat, jika negaramereka belum menerapkan Syariat Islam.

Jurnalistik dengan Islamic Worldview

Islam memiliki catatan yang panjang dalam kegiatan jurnalistik. Para ulama Islam menulis ratusan kitab yang di dalamnya sarat dengan informasi, peristiwa dan cara pandang. Ali bin Abi Thalib bahkan menggambarkan "tulisan adalah tamannya para ulama". Imam al Ghazali adalah jurnalis ketika menceritakan ulama di zamannya dalam Ihya Ulumuddin. At-Thabari adalah jurnalis ketika dia merekam peristiwa sejak Nabi Adam sampai peristiwa di zamannya dalam tarikh al Umam wa al Muluk. Ibnu Abdi Rabbin juga jurnalis, ketika dia menuturkan peristiwa-peristiwa sosiokultural dunia Islam klasik dalam 25 kitab yang diberinya nama Al-Iqd al Farid. Dalam permulaan bukunya, dia bahkan mengutip ucapan Plato: "Pikiran manusia terekam di ujung pena mereka".

Para ulama Islam itu merupakan jurnalis-jurnalis andal di zamannya. Mereka jujur dan dapat dipercaya menyampaikan informasi secara obyektif. Mereka telah berjasa bukan saja sebagai perekam peristiwa atau pengawal peradaban Islam, melainkan juga tonggak-tonggak sejarah perkembangan Islam. Kitab-kitab yang mereka tulis menjadi media yang kemudian bisa dipelajari oleh generasi saat ini. Satu hal paling penting yang dapat diambil hikmahnya adalah, menjadi jurnalis yang obyektif tidak perlu menanggalkan kebenaran agama yang dianut.

Para ulama di atas mampu membuktikan, jurnalis dengan cara pandang yang dibalut dengan Islamic Worldview, tidak akan menghilangkan obyektivitas. Kebenaran dalam Islam yang sudah dibakukan dalam kitab suci, tidak menghilangkan obyektivitas jurnalis dalam melihat realita kehidupan. Lebih dari itu, jurnalis muslim hendaknya sanggup menjadi jurnalis profetik. Artinya, dia mampu menjadi pembawa amanat kenabian dan risalah agama, serta mampu melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Dalam konteks saat ini, Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi kajian untuk menghadang dominasi negara maju di bidang komunikasi massa. Meminjam istilah ilmuwan sosial, Johan Galtung, adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang komunikasi massa. Imperialisme di bidang komunikasi massa ini kemudian merasuk dalam ilmu-ilmu jurnalistik. Mengapa disebut imperialisme komunikasi? Karena pada kenyataannya, hubungan negara maju dengan negara berkembang menciptakan arus informasi yang mengalir bersifat feodalistik dan deterministik.

Negara-negara barat menjadi jendela informasi secara sepihak terhadap negara-negara muslim. Tapi negara-negara muslim tidak bisa menyebarkan informasi yang benar tentang kondisi mereka ke negara-negara barat. Maka, yang terjadi adanya distorsi informasi tentang Islam dan umat Islam di negara-negara barat. Sistem informasi yang demikian sudah dirancang jauh-jauh hari sebagai bagian dari hubungan antara negara maju (baca: barat) dan negara-negara berkembang (baca: Islam).

Kantor-kantor berita yang dimiliki negara-negara Barat, bukan hanya pembuat berita, tetapi mereka juga menjadi penentu berita apa saja yang layak disalurkan ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Dengan pola arus penyebaran informasi seperti ini, setidaknya ada dua implikasi. Pertama, menyangkut akurasi pemberitaan. Kedua, menyangkut soal preferensi obyek pemberitaan.

Untuk hal yang pertama, buku Covering Islam, karya Edward Said, berbicara dengan sangat detail bagaimana kantor-kantor berita Barat menyajikan Islam sebagai berita. Menurut Said, banyak pemberitaan tentang Islam yang disajikan secara superfisial oleh jurnalis-jurnalis Barat. Hal itu, menurutnya, bisa terjadi karena ketidaktahuan atau kesengajaan.

Tentang hal yang kedua, Preferensi obyek pemberitaan, biasanya erat hubungannya dengan persoalan ideologis. Dalam soal pemberitaan, negara-negara Barat menganut ideologi "free flow of ideas by words and image". Ideologi ini kemudian diartikan sebagai bebas memberitakan apa saja yang menarik untuk diketahui publik. Ideologi pemberitaan yang demikian sudah tentu menguntungkan negara-negara Barat, karena mereka yang menguasai sarana informasi dan komunikasi.Ideologi ini juga menjadi alat legitimasi yang paling baik bagi negara-negara barat untuk berperan sebagai "jendela dunia" bagi negara-negara Muslim.

Kita beruntung hidup di era internet yang demikian luas. Jurnalis-jurnalis muslim bisa membangun media massa online yang mudah dan murah, namun memiliki daya pengaruh yang besar.Bahkan kehadiran sosial media bisa mengimbangi adanya imperalisme dan kolonialisme di bidang informasi dan komunikasi.

Dengan gencarnya arus sekulerisasi di lini massa, maka kajian Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi alternatif untuk menghadangnya. Penolakan terhadap sekulerisme tidak hanya terjadi di dunia Islam.Sejarah telah menunjukkan penentangan terhadap sekulerisme di seluruh negara. Agama dan politik jalin-menjalin sepanjang sejarah di seluruh dunia. Sejumlah pemberontakan melawan penguasa, dari Revolusi Maccabean di Israel kuno sampai pemberontakan Taiping di Cina, gerakan Wahabiyah di Arab Saudi dan Puritanisme di Inggris, merupakan gerakan perlawanan kelompok agama terhadap sekulerisme.

* Penulis Buku “Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” dan Dosen Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Labels: ,

Monday, June 17, 2013

Menguak Topeng Syiah [Bagian 2]


IMAM Ali sendiri mengharamkan Mut’ah. Ini tercantum dalam Shahih Muslim, yang mudah ditemukan di perpustakaan sekolah maupun pesantren. Tetapi Khomeini memiliki pendapat lain. Katanya, yang mengharamkan nikah Mut’ah adalah Umar bin Khattab.

Dalam kitab Kasyful Asrar, Khomeini memulai pembahasan mengenai Mut’ah dengan judul: “Penyimpangan Umar dari Al-Qur’an”. Lalu ia mengatakan: “Sesuai dengan khabar yang mutawatir dari Ahlul Bait dan hadits yang shahih, Jabir bin Abdillah Al-Anshari menukil dalam Sahih Muslim dari pengikut sunni bahwa mereka mengatakan: ‘Kami dahulu –pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar– melakukan Mut’ah, sampai Umar melarangnya.”

Artinya, Umar melarang sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nikah Mut’ah yang dibolehkah oleh Allah dan Rasul-Nya, dilarang oleh Umar. Dengan itu Umar telah menyeleweng dari Al-Qur’an. Begitulah kesimpulan yang ingin dibangun oleh Khomeini.

Pendapat ini diikuti oleh seluruh Syi’ah, baik yang ulama, ustad maupun orang awam, yang ikutan sok kritis. Semangat ilmiah yang dinampakkan dan dihasung oleh ustad-ustad Syi’ah, ternyata tidak mereka anut sendiri. Semua itu hanya sekedar retorika untuk memukau orang awam. Para ustad Syi’ah dan ulama Syi’ah tidak mau memeriksa dalam kitab Shahih Muslim. Kepercayaan dan kharisma Khomeini telah meruntuhkan semangat ilmiyah dan objektifitas mereka sendiri.

Tapi kami tidak begitu saja percaya pada Khomeini, meski Syi’ah telah menganggapnya sebagai wakil Imam Mahdi. Ternyata wakil Imam Mahdi sengaja berbohong. Ini nampak jelas pada makalah sebelumnya tentang; “Akhlak Imam Khomeini”.

Dalam Shahih Muslim, dalam bab Mut’ah, tercantum riwayat bahwa Ali marah pada orang yang menghalalkan Mut’ah. Orang itu memberi fatwa bahwa nikah Mut’ah adalah halal, berita itu sampai kepada Ali dan Ali pun marah. Katanya: “Engkau adalah orang bingung. Rasulullah telah melarang nikah Mut’ah..” –seperti pada hadits Yahya bin Yahya dari Malik–.

Sedangkan hadits riwayat Yahya bin Yahya dari Malik adalah sebagai berikut:

Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Abdullah dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Ali bin Abi Thalib bahwa “Rasulullah melarang nikah Mut’ah pada hari khaibar, dan melarang makan daging keledai jinak.”

Ali bin Abi Thalib, yang orang sering menyebutnya dengan julukan pintu ilmu, tidak rela jika ajaran Rasulullah SAW diselewengkan. Ketika ada yang menyimpang, segera dia meluruskan dan menyampaikan apa yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Ali yang menjadi pintu ilmu, tentunya lebih mengetahui ajaran Rasul dibanding orang yang menghalalkan nikah Mut’ah tadi.

Rupanya Khomeini tidak melihat langsung dari Shahih Muslim, hanya mendengar dari orang lain, lalu tidak dicek langsung ke Shahih Muslim. Oleh karenanya, Khomeini tidak melihat bahwa Ali juga mengharamkan nikah Mut’ah. Jika Umar divonis menyimpang dari Al-Qur’an karena menghalalkan nikah Mut’ah, apakah Ali juga akan divonis menyimpang?

Ternyata Umar telah mendengar langsung pengharaman Mut’ah dari Nabi, jika dinyatakan bahwa Umar adalah orang pertama yang mengharamkan, berarti di sini Ali telah mengikuti Umar bin Khattab, mengikuti pendapat sesatnya.

Ali pun menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena Ali menganggap Umar adalah orang baik-baik yang layak diambil menantu. Pernikahan itu melahirkan anak yang bernama Zaid bin Umar bin Khattab. Memang sebagian Syi’ah susah untuk menerima kenyataan ini, karena peristiwa ini akan meruntuhkan seluruh madzhab Syi’ah. Ada pertanyaan untuk mereka, jika memang Ummi Kultsum tidak menikah dengan Umar, siapa ayah dari Zaid bin Umar bin Khattab?

Selengkapnya bisa dirujuk ke makalah “Benarkah cucu Nabi diperkosa?”

Khomeini mengambil riwayat dari Jabir bin Abdullah dalam Shahih Muslim, tapi mengabaikan pendapat Ali bin Abi Thalib, karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya. Saya yakin Khomeini memiliki akses ke kitab Shahih Muslim.Ini semakin membuat kita ragu dan bertanya, apakah madzhab yang dianut oleh Khomeini adalah madzhab Ali bin Abi Thalib?

Baca Artikel Sebelumnya :
Menguak Topeng Syiah [bagian 1]

Labels: , ,

Menguak Topeng Syiah

KHOMEINI, sebuah nama yang dikenal di seluruh penjuru dunia, sebuah nama yang dikagumi jutaan orang di dunia. Sosok yang menjadi idola dan panutan jutaan orang. Tidak banyak orang seperti dia.

Pada beberapa makalah yang lalu, pembaca telah menyimak beberapa pembahasan dan riwayat tentang peristiwa “kamis kelabu” -seperti disebut oleh kawan kita yang satu itu-. Riwayat-riwayat itu berasal dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dibanding Kitab Al-Kafi, Al-Irsyad, atau Jawahirul Kalam, kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim jauh lebih mudah dicari. Artinya, kalau orang ingin melihat langsung ke Shahih Bukhari, dia akan dengan mudah menemukan kitabnya, dan melihat langsung riwayat haditsnya. Orang yang berbohong dengan mengatas-namakan riwayat Bukhari, begitu mudah kebohongannya itu akan terbongkar, dia akan ketahuan berbohong. Ini karena kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim begitu mudah dicari dan didapatkan.

Logikanya, orang yang akan berbohong atas nama Bukhari Muslim, akan berpikir beberapa kali. Pembaca barangkali tidak percaya jika ada orang yang nekad berbohong, dan mengklaim hadits tertentu ada di Shahih Bukhari dan Muslim, namun nyatanya tidak. Tapi ada saja orang yang nekad berbohong meski mudah juga ketahuan.

Ada yang berbohong atas nama Bukhari dan Muslim tentang kisah hari kamis. Siapa dia? Dia adalah Khomeini, sosok yang dianggap oleh Syi’ah sebagai wakil Imam Mahdi, imam yang bersembunyi dan tidak memunculkan diri. Kapan Imam Mahdi melantik Khomeini menjadi wakilnya? Tidak jelas kapan waktunya. Yang jelas Syi’ah meyakini hal itu. Asal pembaca tahu saja, Imam Mahdi yang diyakini Syi’ah hari ini, tidak jelas keberadaannya. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya.

Dalam Kasyful Asrar, hal. 137 -edisi bahasa arab-, Khomeini mengatakan:
عندما كان رسول الله في فراش المرض,و يحف به عدد كثير,قال مخاطبا الحاضرين: تعالوا أكتب لكم شيئا يحميكم من الوقوع في الضلالة , فقال عمر بن الخطاب : لقد هجر رسول الله. وقد نقل نص هذه الرواية المؤرخون وأصحاب الحديث من البخاري ومسلم وأحمد مع اختلاف في اللفظ ، وهذا يؤكد أن هذه الفرية صدرت من ابن الخطاب المفتري .

Terjemahannya kurang lebih demikian:

“Saat Rasulullah terbaring sakit, dan dikelilingi oleh banyak orang, Beliau bersabda pada orang-orang yang hadir di situ: ‘Kemarilah, aku akan menuliskan pada kalian tulisan yang akan menjaga kalian dari kesesatan.’ Lalu Umar bin Khattab mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau (berbicara tidak jelas).’ Text riwayat ini telah dinukil oleh para ahli sejarah dan ahli hadits seperti Bukhari, Muslim, Ahmad, dengan sedikit perbedaan pada redaksi/lafadznya. Ini berarti menegaskan bahwa kebohongan bersumber dari Ibnul Khattab, si pembohong.”

Mari Kita lihat langsung ke sumber aslinya, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

Riwayat dari Shahih Bukhari:
عن سعيد ابن جبير عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال : يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى خضب دمعه الحصباء فقال : اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه يوم الخميس فقال (( ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا هجر رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).

Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu ia menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, Nabi bersabda (pada hari itu): ‘Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya’. Lalu mereka saling berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau?’ Maka Rasulullah pun bersabda: ‘Tinggalkanlah aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari apa yang kalian serukan kepadaku.” (Shahih Al-Bukhari, bab Jawaizul Wafd, Nomer hadits: 3053).

Riwayat lain dari kitab Shahih Bukhari:عن سعيد بن جبير قال قال ابن عباس : يوم الخميس وما يوم الخميس ؟ اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال (( ائتوني أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما شأنه أهجر استفهموه ؟ فذهبوا يردون عليه فقال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu ia menangis dan melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Lalu Rasulullah bersabda: Tinggalkan aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari ajakan kalian.” (Shahih Al-Bukhari, bab Maradhin NabiyShallalahu ‘Alaihi wa Sallam, Nomer hadits: 4431).

Riwayat dari Shahih Muslim:عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى بَلَّ دَمْعُهُ الْحَصَى. فَقُلْتُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعُهُ. فَقَالَ (( ائْتُونِى أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدِى )) فَتَنَازَعُوا وَمَا يَنْبَغِى عِنْدَ نَبِىٍّ تَنَازُعٌ. وَقَالُوا مَا شَأْنُهُ أَهَجَرَ اسْتَفْهِمُوهُ.


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, Wahai Ibnu Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).

Riwayat lainnya dari Shahih Muslim:عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ. ثُمَّ جَعَلَ تَسِيلُ دُمُوعُهُ حَتَّى رَأَيْتُ عَلَى خَدَّيْهِ كَأَنَّهَا نِظَامُ اللُّؤْلُؤِ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (( ائْتُونِى بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ – أَوِ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ – أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا )). فَقَالُوا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهْجُرُ.


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu menangis, lalu air matanya mengalir di pipinya, sampai aku melihat di pipinya seakan untaian mutiara, Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).

Kita lihat sendiri dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, ternyata apa yang diucapkan oleh Khomeini tidak ada. Dalam seluruh riwayat di atas, tidak ada kata Umar. Sementara yang menuduh Nabi meracau adalah mereka. Artinya, jumlahnya lebih dari tiga.

Siapakah mereka yang berani menuduh Nabi meracau? Riwayat-riwayat lainnya –termasuk dalam Shahih Bukhari dan Muslim– tidak menyebutkan siapa mereka. Bahkan mereka juga ribut di depan Nabi saat Nabi sedang sakit keras. Siapakah mereka itu? Silahkan menyimak kembali makalah: “Siapa yang ribut saat Nabi sakit?”. Dengan mudah kita mendapati bahwa yang berbohong adalah Khomeini sendiri, bukan Umar bin Khattab. Khomeni lah sang pembohong, bukan Umar bin Khattab.

Ini sebuah pertanda, berbohong adalah kebiasaan ustadz dan ulama Syi’ah yang susah ditinggalkan. Kita tidak perlu heran, karena mereka bermakmum kepada Khomeini, sedangkan makmum harus mengikuti imamnya.

Apa maksud dan tujuan ini semua? Semua ini untuk mengungkapkan kebencian Khomeini kepada Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang membawa obor cahaya Islam menaklukkan negeri Persia. Bersambung  

Klik Menguak Topeng Syiah [Bag 2]

Labels: ,

Friday, June 14, 2013

Burhanudin Muhtadi, Tokoh Liberal di Lingkaran LSI


SETELAH berselancar internet, mencari berita dan berdiskusi dengan beberapa teman di dunia maya, saya menemukan artikel yang menarik di academia edu. Artikel itu memuat tulisan (artikel ilmiah) dari Burhanuddin Muhtadi di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, yang berjudul “The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah”. Artikel berbahasa Inggris sepanjang 24 halaman itu intinya (dengan bahasa halus) Burhanuddin membela Yahudi dan memojokkan Majalah Media Dakwah yang pernah diterbitkan Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII). Amien Rais, Daud Rasyid dan kru redaksi Media Dakwah berada pada fihak yang salah dan William Liddle, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Harun Nasution pada fihak yang benar. Burhanudin, seolah-olah meniadakan adanya konspirasi Yahudi di dunia selama ini. Burhanuddin, saat ini aktiv pada Indonesian Survey Institute (LSI).

Artikel itu dimulai dengan sinisme kepada Harian Republika yang memberitakan tentang kejadian WTC 2001 silam.

“THE EVENTS of September 11th were reported with different nuances by various Islamic publications in Indonesia. The daily newspaper Republika published the headline: ‘4,000 Jewish employees did not attend work at the World Trade Centre (WTC) on 9/11.’1 This newspaper, which has a primarily Muslim-readership, sought to draw people’s attention to a grand conspiracy theory behind the tragedy. In addition to reporting the alleged absence of Jews from their work on the day of the explosions, Republika also made related claims that Ariel Sharon, the Israeli Prime Minister, was prevented from visiting New York and his planned speech to the United Jewish Communities of New York in September 2001 had been cancelled.”2

Not only did Republika promote the idea of the so-called Jewish conspiracy concerning September 11th, but Islamic-based magazines such as Media Dakwah, Suara Hidayatullah and Sabili also repeatedly published claims relating to the Jews. As the official magazine of the modernist-Islamist group DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia or Indonesian Council for Islamic Preaching), Media Dakwah has contributed to the creation and dissemination of Jewish conspiracy theories in the aftermath of September 11th.”


Peneliti politik andalan UIN Jakarta ini juga mengritik Mohammad Natsir karena selama ini beliau dinilai sinis terhadap Yahudi: “In addition, the founder of the DDII, Mohammed Natsir, was well known as a long standing anti- Semite. He characterized the Jews as, ‘worms on the leaves of banana trees.’ (halaman 4).

Dukungannya terhadap William Liddle, Nurcholish, Abdurrahman Wahid dan JIL tercermin dalam kutipannya:

“Since Nurcholish Madjid and AbdurrahmanWahid’s Islamic reform movement, in which scholars coined the term, the DDII has propagated the view that the Cultural Islam movement is a secular approach to understand Islam. In recent years the ideas underpinning Cultural Islam have undoubtedly become institutionalised through the Liberal Islam Network (Jaringan Islam Liberal), which is regarded as a continuation of renewal projects by Islamic neomodernists… In the following section, I will focus on the magazine’s views of Jews, especially in its emphasis on the issue of a Jewish conspiracy. To begin with, it emphasizes the controversial issue triggered by an American Indonesianist, R. William Liddle, who wrote an article entitled, ‘Skripturalisme Media Dakwah: Satu Bentuk Pemikiran dan Aksi Politik Islam Masa Orde Baru (Media Dakwah’s Scripturalism: One Form of Islamic Political Thought and Action in New Order Indonesia).’60 In the article, Liddle had to confront the dilemma of being a non-Muslim scholar who engaged with deep doctrinal issues. As will be outlined below, at the time of the publication of Liddle’s article, Media Dakwah was fighting for the refutation of Islamic reform issues pioneered by Nurcholish Madjid and Abdurrahman Wahid. Even though his article was descriptively accurate, its tone was sympathetic to the ideological rival of Media Dakwah. The magazine was labelled by Liddle as ‘scripturalist,’ while the other contending group as ‘substantialist.’61

In reaction to Liddle’s article, Media Dakwah produced a cover story outlining the responses of its own writers or the DDII supporters. A large picture of Liddle was published on the cover of Media Dakwah No. 230 (August 1993) with the title printed in a large capitals, ‘Menjawab Liddle’ (To Answer Liddle). This conveyed a strong message to rival publications, notably the Ulumul Qur’an Journal, in which Liddle’s article had previously been published.62

This particular cover caught my attention when I was looking through the Media Dakwah’ serials provided by the Menzies Library at the Australian National University (ANU), Canberra. Its caricature of Liddle behind a Star of David made a direct connection between the Liddle and Judaism, and by implication that Jews may have been responsible for the controversial article. In addition, Media Dakwah began the report with a short quotation from Amien Rais, “Saya tidak habis berpikir, bagaimana William Liddle, yang Yahudi “tengik” itu, dapat diberi halaman yang begitu panjang di Ulumul Qur’an’ (I could not understand why a rotten Jew William Liddle was given such a large space by the journal of Ulumul Qur’an).63

In fact, at the same time as the publication of Liddle’s article, the journal also published an article by noted Indonesian communication expert, Ade Armando, on the same topic, entitled ‘Citra Kaum Pembaru Islam dalam Propaganda Media Dakwah’ (The Image of Islamic Reformers in the Propaganda of Media Dakwah).64 Nonetheless, most of the reports in the edition were focused on Liddle with only a minor reference to Armando’s article. This appeared to be because Media Dakwah aimed to highlight a Jewish conspiracy embodied by Liddle, who was known as a Jewish follower, rather than Armando who is a Muslim. Aside from that, the magazine intended to launch counter attacks on Cultural Islam, which —according to Media Dakwah—largely benefited from the article written by Liddle.65
Burhanuddin juga membuat sub judul: Media Dakwah, Paranoia, and Conspiracy Theory. Dianggapnya Media Dakwah seringkali tulisan-tulisannya ‘reduksionis’ dan ‘menyederhanakan masalah.’

“As explained above, Nurcholish had launched his progressive thought before he began studying at Chicago University. He did not only study with Leonard Binder, but also with a number of professors at the university, including a Pakistan-born professor, Fazlurrahman. There are many issues covered by the magazine showing the extensive use of reductionism and oversimplification. Particular details of political, social, religious, and economic dimensions have been neglected in order to show that the root cause of human disasters is the Jews and, in effect, that the rest of the world suffers because of them.

Ex-post factum analysis has been employed to fix the magazine’s prejudice towards contemporary events.”

Burhanudin juga mendukung pendapat Liddle bahwa Yahudi juga mendapat keselamatan dalam Al Quran. Sebagaimana dinyatakan pembela pluralisme, seperti Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rahmat dll. Mereka menafikan puluhan ayat al Qur’an yang menyatakan bahwa kaum Yahudi adalah sering menolak perintah Allah, pembunuh Nabi dan terutama menolak kenabian Rasulullah Muhammad Shalallahu a’alaihi Wassalam.

Liddle, mendasarkan pada Surah al Baqarah ayat 62 yang menyatakan : “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Mayoritas ulama Islam menafsirkan ayat ini bahwa keselamatan itu didapatkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Dalam Tafsir al Manar jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, disebutkan bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya dan kebenaran agama tidak tampak bagi mereka. Karena itu mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi. (Lihat buku Dr Hamid Ilyas “Dan Ahli Kitap pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis Terhadap Keselamatan Non Muslim”). Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3 : 199), Mohammad Abduh dan Rasyid Ridha menetapkan lima syarat keselamatan, yaitu:

Pertama, beriman kepada Allah dengan iman yang benar, tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan

Kedua, beriman kepada Al Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat yang lainnya, karena Al Qur’an merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya, tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan

Ketiga, beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka

Keempat, rendah hati (khusyu’) yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan yang dituntut oleh iman


Kelima, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apapun dari kesenangan dunia.

Hal yang hampir sama dikatakan Sayid Qutb dalam tafsir fi Zhilalil Qur’an: “Ayat ini menegaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih di kalangan mereka semua, akan mendapat pahala dari sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Jadi penilaian itu berdasarkan hakikat aqidah bukan berdasarkan rasa tau kebangsaan. Ini tentu berlaku sebelum pengutusan Nabi Muhammad saw. Sedangkan sesudah pengutusan Nabi saw, telah ditetapkan bentuk keimanan yang terakhir.”

Dalam kesimpulannya akhirnya Burhanudin menyalahkan Media Dakwah, sebagai pendorong kaum Muslim Indonesia bersikap anti Semit dan paranoid terhadap Yahudi.

Kata Burhanuddin:

“Finally, Media Dakwah has contributed significantly to a boost in anti-Semitic attitudes among Indonesian Muslims in the way that the DDII-sponsored magazine triggers a paranoid mindset against Jews. Everything that happens that has negative effects towards Islam is attributed to the Jews. Concerning its ideological rivalries in the Cultural Islam movement, Media Dakwah has sought to delegitimise its opponents, most notably Nurcholish, with the strong claim that he was part of a Jewish international conspiracy. Using Bale’s conceptual framework of theories of conspiracy, it is clear that Media Dakwah is caught up in a conspiracy theory. This is not only a fantastic product of its paranoid style, but also a tool for mobilizing support against its “enemies.”

(Akhirnya, Media Dakwah telah memberikan kontribusi signifikan terhadap dorongan anti-Semit pada sikap kaum Muslim Indonesia, denan cara majalah yang disponsori DDII ini memicu pola pikir paranoid terhadap Yahudi. Segala sesuatu yang terjadi yang negative efek terhadap Islam dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. Mengenai persaingan ideologis dalam gerakan Islam Budaya, Media Dakwah telah berupaya untuk mendelegitimasi lawan, terutama Nurcholish, dengan klaim yang kuat bahwa dia adalah bagian dari Konspirasi internasional Yahudi. Menggunakan kerangka konseptual Bale dari teori konspirasi, jelas bahwa Media Dakwah terperangkap dalam sebuah teori konspirasi. Ini tidak hanya produk yang fantastis gaya paranoid, tetapi juga alat untuk memobilisasi dukungan terhadap "musuh.")

Siapa Liddle?

R. William Liddle adalah ahli politik dari Amerika. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Indonesianis (orientalis) ini dikenal sebagai pengamat politik Indonesia dan aktif menulis tentang permasalahan politik di Indonesia. Profesor dari Ohio State University ini mempunyai murid-murid yang ‘hebat’ yang berperan besar dalam perpolitikan di Indonesia. Di antaranya: Rizal Mallarangeng yang sekarang salah satu Ketua DPP Golkar, Saeful Mujani dan Denny JA perintis ‘Quick Count’ pemilu di tanah air dan Dodi Ambardi pemilik sebuah lembaga riset. Liddle telah melakukan pengamatan politik di Indonesia sejak tahun 1960-an hingga saat ini.

Ketika terjadi polemik sekulerisme Nurcholish di TIM 90-an, Liddle mendukung aktif Nurcholish. Ia secara terbuka menyatakan setuju konsep Nurcholish tentang ‘pluralisme agama’. Ia setuju adanya istilah Islam (I besar yang menunjuk pada institusi agama) dan islam (i kecil yang menunjuk pada makna kepasrahan diri. Ia bersepakat dengan tokoh paramadina itu, adanya istilah ‘yahudi islam’. Dukungannya yang kuat terhadap ide-ide Nurcholish tahun 90-an itu, yang menyebabkan pakar politik Amien Rais dengan spontan menyatakan Liddle sebagai ‘Yahudi Tengik’.

Dukungannya terhadap tokoh sekulerisme Indonesia ini juga nampak ketika Nurcholish sakit di Singapura. Jauh-jauh dari AS ia menjenguk dan menyalami Nurcholish yang dirawat di negeri Singa saat itu. Liddle juga bersikap sinis terhadap istri Eep Saefullah Fatah, Sandrina Malakiano, ketika mengubah penampilannya menjadi jilbab. Eep adalah bekas murid Liddle di Ohio State University.

Awal tahun 2013 ini ia meluncurkan buku terbarunya “Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan“ yang diluncurkan di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, 7 Februari 2013 lalu.

Ia pun tidak lupa akhir-akhir ini memberi komentarnya tentang ‘gonjang-ganjing’ PKS. Dalam wawancaranya dengan Radio Jerman, Deutsche Welle sebagaimana dikutip Suara Pembaruan Online ("Bill Liddle: Saya Khawatir Golkar Semakin Kanan, Suara Pembaruan, Sabtu, 9 Februari 2013 | 8:00).

Ia menyatakan terus terang tidak khawatir terhadap perkembangan PKS atau HTI, ia lebih khawatir adanya kecenderungan arah Golkar yang ke kanan (lebih Islami).

Ketika radio itu bertanya: Apakah anda melihat partai tengah seperti Golkar kini cenderung semakin kanan untuk menarik dukungan kelompok yang dulu memilih partai Islam? Bill Liddle menjawab: “Ya saya khawatir begitu. Ada kecenderungan partai tengah seperti Golkar sekarang semakin ke kanan. Saya khawatir Golkar menjadi ke-islam-islam-an (secara aspirasi politik-red). Itu lebih berbahaya, karena menyangkut perlindungan terhadap warga negara. Saya melihat di masa depan, kemungkinan kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah akan semakin terancam. Itu mengkhawatirkan karena mereka tidak mendapat perlindungan dari polisi serta sistem politik. Saya lebih khawatir soal itu ketimbang kemungkinan radikaliasi kelompok Islamis seperti PKS atau HTI (Hizbut Thahrir Indonesia-red).” Ia juga mengingatkan: “Anda harus ingat sejarah, dulu Golkar lebih populer di daerah daripada di Jawa, dan jangan lupa suara santri lebih banyak di luar Jawa. Lalu ketika terjadi perpecahan di partai Golkar tahun 1999, kelompok non santri seperti Edi Sudrajat hengkang, angkat kaki dari Golkar. Akibatnya, yang tinggal adalah orang seperti Akbar Tandjung yang punya jaringan santri (Akbar Tandjung dikenal sebagai tokoh HMI-red). Jadi Golkar sejak 1999 sudah menjadi lebih Islami ketimbang sebelumnya. Sudah lama saya menyaksikan partai besar seperti Golkar dan juga Demokrat, memposisikan diri untuk menampung aspirasi umat Islam. Bahkan ada pemimpin Golkar yang bilang kepada saya: kami ingin dianggap ramah terhadap Islam. Misalnya dalam Undang-Undang Anti Pornografi, Golkar mendukung undang-undang itu, dengan tujuan agar suara umat Islam masuk ke mereka.


Entah mengapa, Burhanudin Muhtadi cenderung mengikuti pendapat seorang orientalis, bahwa tidak ada konspirasi Yahudi. Ulah William Liddle mendukung penuh sekulerisme Nurcholish dan Leonard Binder (pakar politik Amerika) meluncurkan istilah ‘pertama kali’ Liberal Islam dengan penerbitan bukunya “Islamic Liberalism”, mungkin belum cukup baginya bukti adanya ‘konspirasi itu’. Bila pendirian negara Yahudi Israel 1948 dan pemboikotan besar-besaran kemenangan Hamas dalam Pemilu 2006 di Palestina, pun ditolaknya sebagai konspirasi Yahudi, jangan-jangan ia sendiri nun jauh di sana berkonspirasi dengan orientalis untuk meniadakan teori ‘konspirasi Yahudi’.

Bisa saja Media Dakwah dalam satu dua kalimat salah mengungkapkan makna. Tapi secara umum Media Dakwah benar. Konspirasi Yahudi benar adanya, baik terlihat maupun tidak dan apalagi mayoritas kaum Yahudi adalah pendukung negara Yahudi Israel. Hanya ‘satu dua’ atau minoritas yang menentang pendirian negara ini. Maka benar firman Allah SWT : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS Al Maidah 78-79). Wallahu a’lam bishawab.*

Profil Burhanudin Muhtadi :
PENDIDIKAN
  • SDN Kutoarjo I, Rembang (1990)
  • MTs Muallimin/at NU Rembang
  • MAN-PK (Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus), Surakarta (1996)
  • Bachelor of Islamic Theology and Philosophy, State Islamic University (IAIN Syarif Hidayatullah), Jakarta (2002)
  • Master pertama di ANU (Australian National University) Faculty of Asian Studies (MAPS)
  • Master kedua di ANU, konsentrasi bidang Ilmu Politik (research)
KARIR
Organisasi & Pekerjaan:
  • Aliansi Lembaga-lembaga Formal Kemahasiswaan Se-Indonesia (2000-2002)
  • Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (2000-2001)
  • Ketua Departemen Penelitian dan Pembangunan Intelektual BEM UIN Syarif Hidayatullah,  Jakarta (1999-2000)
  • FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat) pada tahun 1998-1999
  • Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (1996-2002)
  • Majelis Pengembangan Tilawatil Qur'an, Surakarta (1994-1995)
  • Peneliti Senior LSI (Lembaga Survei Indonesia).
  • Peneliti di CENSIS (Center fot the Study of Islam and Society).
  • Dosen di UIN Syarif Hidayatullah.
  • Editor-in-Chief for Bulletin of “Islam and Good Governance,” Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) Jakarta (2003 - 2004).
  • Anggota National Consortium of People’s Voter Education Network (JPPR) pada tahun 2004-2005.
  • Editor di Jaringan Islam Liberal, Jakarta (sejak tahun 2001).
  • Program Manager for Voter Education and Public Service Announcement UNDP and JIL(2004).
  • Program Manager for Voter Education at The Asia Foundation and JIL (2004).
  • Koordinator Penelitian, Moslem Perception on US Foreign Political Affair conducted by US Embassy, PPIM, JIL, LSI and Freedom Institute (2004).
  • Program Manager for Voters Education in General Election 2004 conducted by Japan International Cooperation Agency (JICA and JIL (2004).
  • Koordinator daerah and Peneliti di Indonesian Survey Institute (Lembaga Survei Indonesia/LSI) Jakarta (2003- 2006).

Labels: ,

Tuesday, June 11, 2013

Poso Panggung Kekerasan dan Kepentingan


Oleh: Harits Abu Ulya

ALAM bawah sadar setiap orang menghendaki suasana damai dan ketentraman,tidak terkecuali masyarakat Poso Sulteng. Sikon aman dalam hidup menjadi hajat asasi yang tidak bisa ditawar.Namun apa dikata, bom kembali mengoyak benih kedamaian yang masih sedang kuncup. Pagi yang relatif sepi di kota Poso sekitar pukul 08.00 wita bom tersebut meledak di halaman Mapolres Poso (3 Juni 2013).Terduga pelaku tewas terkoyak hancur menyisakan beberapa bagian tubuh saja. Akhirnya menambah tragedi susulan, Tim Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 kembali membuat masyarakat Poso makin meradang. Hari Senin (10 Juni 2013) kemarin ada seorang warga yang di tembak hingga tewas dalam pengejaran hanya karena alasan membahayakan.Tak pelak akhirnya memicu masyarakat kota Poso bersitegang berhadapan dengan aparat kepolisian yang di back up aparat TNI.

Apakah ini kali pertama di Poso? Jawabanya,tidak. Ditahun 2012 lalu juga tercatat beberapa kali kasus bom; 9 Oktober 2012 bom di Kawua, 22 Oktober 2012 bom di Poslantas Smaker, 22 Oktober 2012 di rumah Pastori Madale, 25 Desember 2012 temuan bom di Poslantas Pertokoan. Untuk kasus penembakan dan pembunuhan juga tercatat; 27 Agustus 2012 di Sepe, 4 Oktober 2012 di Masani, 16 Oktober 2012 pembunuhan di Tamanjeka, 20 Desember 2012 penembakan di Kalora. Seperti kekerasan yang siklik, menggeliat secara periodik dengan beragam faktor penyebab.

Fakta masa lalu konflik Poso begitu dalam telah meninggalkan luka, hingga begitu mudahnya Poso di siram air garam untuk bisa maradang kembali. Di tengah upaya masyarakat menjahit luka dengan segenap kemandirian lokalnya ternyata tidak linear dengan syahwat segelintir orang yang bermain untuk menjadikan Poso tetap meregang membuat kontraksi melemahnya rasa aman. Entah para pemain ini sadar atau tidak, bahwa itu rekayasa sosial yang kontraproduktif. Siapa mereka? mereka bisa saja yang lagi duduk dikursi-kursi “kekuasaan” negara atau kelompok yang berada di luar Poso atau di dalam Poso. Kepentingannya bisa jadi demi perut atau jabatan.Sekalipun sayup-sayup juga didengar ada yang mengatakan kepentinganya di luar keduanya.Yaitu sebuah gagasan ideal politik, negara mondial berbasis agama.Tapi point ini sulit dibuktikan relevansinya dengan realitas sosio-geopolitik dari sebuah wilayah sempit di celukan pulau Sulawesi yang relatif jauh dari mana-mana.

Pendekatan ekonomi di coba, tidak sedikit dana di gelontorkan untuk recovery Poso paska konflik. Di tahun 2003 saja sebesar 13 M, tahun 2006 sebesar 58 M, tahun 2008 50 M, ditahun-tahun berikutnya juga masih terus dianggarkan tapi dana ini juga tidak luput dari tikus-tikus rakus (koruptor).Dan ternyata uang tersebut juga belum mampu menjawab persoalan sepenuhnya Poso paska konflik.Seperti kebijakan asal-asalan yang tidak komprehensif. Justru lebih bernafsu pendekatan militeristik yang dikedepankan oleh pemerintah.Jika ada langkah persuasif itupun menjadi mandul tergerus hebohnya pola penindakan (law enforcement) yang dilakukan oleh aparat keamanan khususnya Densus-88. Awalnya, saat konflik dan beberapa tahun paska konflik penanganan belum ada label teroris, teror dan puzzle kekerasan yang terjadi masih mengindikasikan residu konflik yang baru reda.

Tapi dikemudian hari pendekatan militeristik dioperasikan dibawah label proyek perang melawan terorisme.Entah mulai kapan ada pergeseran label tersebut, yang pasti bukan dari masyarakat tapi dari pihak aparat yang diaminkan oleh hampir semua insan media.Dan Poso menjadi panggung perburuan teroris, bahkan secara bombastis dicap sebagai sarang jaringan al-Qaidah di Indonesia.

Yang tampak dari pendekatan militeristik cenderung provokatif bahkan sebagian masyarakat Poso menilai terlalu arogan, dihidangkan sebagai tontonan yang tanpa sadar justru menjadi energi potensial lahirnya kekerasan berikutnya. Lihatlah, banyak kasus tindakan teror telah menempatkan aparat keamanan (polisi) menjadi obyek musuh dan sasaran. Erosi kepercayaan sebagian masyarakat di Poso demikian rentan melahirkan sikap antipati bahkan lebih dari itu.Padahal sejatinya Polisi simbol kehadiran negara dengan segenap perannya dalam taraf kebutuhan krusial yang disebut dengan rasa aman dan keamanan oleh masyarakat.

Komentar dari pihak terkait semisal Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) justru terasa memperuncing permusuhan kepada kelompok atau pihak tertuduh. Seolah tidak mengenal lagi cara arif dalam komunikasi publik. Belum lagi media TV yang mendewakan rating, cenderung ambil keuntungan minus solusi dan tidak peduli bagaimana bisa mengendapkan cara berpikir jernih untuk khalayak seantero Nusantara dalam memahami persoalan teror. Hiruk pikuk penangkapan dengan menghambur ribuan peluru yang hasilnya terduga tewas bersimbah darah, semua ini mengendapkan bara dendam yang kapan saja bisa meledak dari saudara korban, teman, sahabat dan kelompok atau yang empati kepadanya.

Siapapun sepakat bahwa pembunuhan di luar hak itu adalah kejahatan yang luar biasa, siapapun pelakunya. Apakah pelakunya dari terduga teroris, aparat Densus 88, preman, atau siapapun yang menjadi aktor dari hilangnya nyawa seseorang. Dialog oleh banyak orang tetap masih dipandang sebagai media dan kekuatan yang bisa mereduksi teror demi teror.

Pendekatan persuasif dan humanis masih menjadi pilihan bagi orang-orang yang berakal dan bernurani.Teror ataupun terorisme tidak bisa disentuh dilevel akibatnya saja tanpa peduli dengan akar atau sebab utama kelahirannya. Terorisme di Indonesia juga bukan kasus yang berdiri sendiri, masih terkait erat dengan dimensi politik domestik dan global.

Kedamaian Poso akan tumbuh berbanding lurus dengan sejauh mana negara mampu mereduksi teror dengan pendekatan manusiawi dan berkeadilan. Pendekatan yang komprehensif mengurai akar konflik, mereduksi akar teror dan menjunjung tinggi keadilan untuk semua warga negara.Mengerem pendekatan militeristik serta mengubur moral arogansi aparat keamanan yang selama ini dipertontonkan.Orang-orang yang secara aktual terdzalimi harus mendapatkan haknya, dan yang melakukan kedzaliman harus mendapatkan ganjaran setimpal.

Negaralah yang punya peran dominan dan harus hadir untuk meretas ini semua. Jika tidak, maka semua masyarakat Indonesia harus memaklumi baik dengan suka atau terpaksa bahwa “pengadilan jalanan” kapan saja bisa berlaku.Atau ada kesimpulan lain bahwa karena sebuah kepentingan maka konflik, teror dan kekerasan di Poso seperti drama yang terus dilestarikan dengan banyak episode.*

Penulis adalah pemerhati Kontra-Terorisme dan Direktur CIIA

Labels: ,

Wednesday, June 5, 2013

Jihad Merupakan Sunnatullah Sistem Pertahanan Diri


Banyak yang menafsirkan definisi jihad hanya upaya sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu. Ada pula yang mengartikan bahwa jihad itu bermakna melawan hawa nafsu, kesewenang-wenangan dan sebagainya. Dan ada juga yang menyebutkan bahwa jihad hakikatnya mengekang hawa nafsu syathoni.

Terkait makna jihad yang ditarsirkan berbagai macam makna oleh banyak kalangan, Ustadz Fauzan Al Anshori menyatakan bahwa sejatinya syari’at jihad yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw merupakan sunatullah yang diberikan kepada manusia untuk sistem pertahanan diri.

“Jihad itu sunatullah sistem pertahanan diri bagi manusia,” ujar Ustadz Fauzan saat menjadi pematri Seminar Nasional “Reinterpretasi Konsep Jihad” dan Bedah Buku “Antara Jihad dan Terorisme” di Graha IAIN Surakarta, pada Kamis (30/5/2013).

Menurutnya, jihad yang merupakan sebuah perlawanan balik dari serangan musuh adalah kebutuhan mutlak dan fitrah bagi manusia yang syari’at jihad tersebut kemudian disempurnakan Allah ketika mengutus Rasulullah saw. Allah swt berfirman :

“Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (orang-orang yang dizalimi), yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah.” (QS. Al Hajj 22 : 39-40).

“Fitrahnya seperti itu. Jika ada orang yang diganggu apalagi terancam nyawanya kok diam saja, itu orang gak waras namanya,” kata Direktur Pusat Kajian Syariah dan Politik Jakarta ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fauzan juga menepis pemateri lainnya, yakni Dr. Syafaatun Al-Mirzanah Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sebagian kelompok yang mengatakan bahwa Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin dan agama yang mengedepankan mauidhotul hasanah dalam mengajak orang lain kepada Islam.

“Ini malah gak faham. Yang saya bahas tadi itukan jihad, bukan dakwah. Bedakan dong antara jihad dengan dakwah. Kalau dakwah, apa yang tadi disampaikan tadi betul itu, mengajak orang dengan lemah lembut dan cara yang baik. Gak ada yang bilang yang ngebom itu dakwah, mereka jelas mengatakan sedang berjihad, meskipun saya juga berbeda pendapat,” terangnya.

Ustadz Fauzan menerangkan bahwa tak akan ada orang yang mau disakiti meskipun disakiti dengan sebuah ucapan lisan. Secara naluri pasti dia akan membalas. Jika sebuah lisan yang menyakiti saja akan dilawan, tentu saja sebuah serangan dengan tangan akan dilawan juga.

“Sekarang siapa yang mau saya tampar pipi kanannya lalu dia memberikan pipi kirinya coba maju kesini? Gak ada yang mau kan? Ndak mau. Karena apa, tentu saja dia akan balas. Jadi seperti itu bukan akhlak karimah namanya kalau kita justru memberikan pipi kita satunya lagi,” jelasnya.

Terakhir Ustadz Fauzan berpesan dan mengingatkan bahwa jihad itu secara syar’i bermakna perang fisik. Jihad itu satu-satunya syari’at yang bisa meninggikan kalimat Allah demi tercapainya Daulah dan Khilafah Islamiyyah. Dan Jihad itu berlaku dan wajib hukumnya tatkala terjadi sebuah kedzoliman dan pembantaian terhadap kaum muslimin. “Nah, jika contoh yang simpel aja seperti itu kita pasti melawan, lalu bagaimana jika ada orang yang mau membunuh kita, pasti melawan kita. Lha ini ada suatu negeri yang diserang orang kafir, maka Jihad dengan menggunakan kekuatan fisik dan bersenjata sudah tentu menjadi wajib,” pungkasnya.




Labels: ,

Monday, May 20, 2013

Pandangan KH. Hasyim Asy’ari Terhadap Fanatisme Buta

MENYIKAPI isu-isu khilafiyyah yang makin meruncing seperti sekarang ini dan gelombang arus pemikiran yang tidak terarah, KH. Hasyim Asy’ari patut menjadi teladan. Ia pendiri NU yang dikenal tegas terhadap pemikiran di luar Islam, dan menyeru pada pentingnya ukhuwah Islamiyyah.

KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama’ kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama’. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah seorang ulama’ di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kyai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kyai Sihah, juga ulama’, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah berguru kepada masyayikh di tanah haram. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh ‘Alawi dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadits yang berasal dari Termas Jawa Timur.

Sepulang ke tanah air, ia memulai tapak perjuangan melalui pendidikan dan organisasi sosial. Di bidang pendidikan ia mendirikan pesantren bercorak tradisional di Tebuireng Jombang. Untuk mengkonsolidasi dakwah secara efektif ia mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, yang artinya organisasi kebangkitan ulama’ pada 31 Januari tahun 1936.

Ia termasuk penulis produktif. Yang dibukukan sekarang ini ada sekitar 19 kitab. Itu belum risalah-risalah pendek yang belum dicetak yang menurut informasi masih tersimpan di perpustakaan keluarga di Jombang.

Barangkali Syekh Hasyim Asy’ari ingin meneladani Imam al-Ghazali dalam perjuangan. Imam al-Ghazali dalam gerakan pembaharuannya dengan membenahi ilmu dan ulama’. Syekh Hasyim Asy’ari dengan berdirinya NU, berusaha membangkitkan ulama dan semangat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ulama’ adalah ‘mesin’ dakwah Islam. Oleh sebab itu ketika terjadi krisis, ulama harus dibangkitkan, dibenahi keilmuannya dan diatur strategi perjuangannya.

Jihad Pemikiran

Dalam kitabnya al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan terekam nasihat-nasihat penting yang disampaikan dalam pidato Mu’tamar NU XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya.

Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjihad melawan akidah yang rusak dan pengkhina al-Qur’an. Untuk itu, ia mewanti-wanti agar menjaga keutuhan umat Islam dan tidak fanatik buta kepada perkara furu’.

Di hadapan peserta muktamar yang dihadiri para ulama, Syekh Hasyim Asy’ari menyeru untuk meninggalkan fanatisme buta kepada satu madzhab. Sebaliknya ia mewajibkan untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur’an, dan sifat-sifat Allah SWT, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak. Usaha dalam bentuk ini wajib hukumnya.

Ia mengatakan: “Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghina al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-aku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” (al-Tibyan, hal. 33).

Menurut Syekh Hasyim Asy’ari, fanatisme terhadap perkara furu’ dan itu tidak diperkenankan oleh Allah SWT, tidak diridlai oleh Rasulullah SAW (al-Tibyan, hal. 33). Oleh sebab itu ia menyeru untuk bersatu padu, apapun mazhab fikihnya. Selama ia mengikuti salah satu madzhab yang empat, ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama terdahulu. Inilah sikap adil, yakni menempatkan perkara pada koridor syariah yang sebenarnya.

Dalam kitab Risalah Ahlus Sunnnah Syekh Hasyim Asy’ari menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan meluber ke dalam umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, Rafidlah yang mencaci sahabat Nabi SAW, dan kelompok Ibahiyyun harus diperangi dan dibenahi akidahnya.

Dalam kitab yang sama, beliau mengutip hadits dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepankan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Ditulis dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Seykh Hasyim Asy’ari mewanti-wanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam lautan fitnah, yaitu berdakwah mengajak kepada agama Allah akan tetapi dalam hati ia durhaka kepada-Nya.

Inilah karakter Syekh Hasyim Asy’ari yang patut diteladani umat. Tegas terhadap penyimpangan Islam, teduh dalam menyikapi perbedaan furu’.

Pejuang Syari’ah

Ia salah satu tokoh nasional pejuang syari’ah. Ia adil. Kepada pengikutnya yang salah, ia tak segan membenahi, dan terhadap kelompok lain yang menyimpang, tanpa sungkan ia mengkritik. Semuanya demi Islam, demi keagungan Allah, bukan demi manusia tertentu.

Labels: ,

Monday, May 6, 2013

Media, demokrasi, dan mekanisme sistem dajjal


“Akibat cara kerja sistem Dajjal, sudah pasti banyak orang yang menderita dan diperbudak olehnya, tetapi mereka tidak menyadari apa penyebab penderitaan ataupun bagaimana hakikat penjara yang mengungkung mereka. Sebagai hasil dari pengkondisian, mereka terus berperan aktif dan terkadang berperang penting dalam menjalankan sistem yang tanpa mereka sadari merupakan sumber kesakitan dan dinding penjara maya bagi diri mereka sendiri”


Ucapan di atas penulis kutip dari tulisan Syekh Ahmad Thompson, dalam buku fenomenalnya berjudul Dajjal The Anti Christ. Buku tersebut menjelaskan secara baik lagi rinci mengenai konspirasi Freemason dalam menaklukan dunia lewat hal-hal yang tidak kita fikirkan sama sekali. Bisa dikata, inilah curhatan Syekh Ahmad Thompson yang memang hidup di negeri masonik, Inggris, dan melihat ketelanjangan begitu rupa mengenai bobroknya sistem sekular.

Dalam bukunya itu, ia menjelaskan bahwa sejak hampir satu abad yang lalu dunia makin hari makin membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Kafir yang lebih cocok disebut sebagai Sistem Dajjal.

Syekh Ahmad Thomson berkeyakinan bahwa dewasa ini Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata sudah mewujud. Tinggal Dajjal sang individu atau oknum yang belum muncul. Seluruh nilai-nilai yang berlaku dalam sistem Dajjal secara diameteral pun bertentangan dengan nilai-nilai Sistem Kenabian. Sebab sistem Dajjal mutlak berisi nilai-nilai kekafiran sedangkan sistem Kenabian mengandung nilai-nilai keimanan.

Media Kafir dan Cara Kerja Sistem Dajjal

Salah satu yang menjadi isu penting dalam buku yang sudah tidak dicetak lagi itu adalah media. Kata Syekh Ahmad Thompson, pada dasarnya para pengusung sistem Dajjal adalah orang-orang yang mengendalikan media untuk bisa terus menciptakan ilusi apapun sekehendak mereka. Maka siapapun yang mempercayai peristiwa di media-media massa, sejatinya kata Syekh Ahmad Thompson justru mereka tidak mengetahui masalah yang sebenarnya.

Jika kita flash back ke bangsa kita, maka akan kita dapatkan bahwa secara bertubi-tubi Indonesia ditimpa “bencana” dan kasus yang datang silih berganti. Mata kita pun diajak untuk tidak dari lepas layar kaca mulai Skandal Bank Century, Mafia Pajak Gayus, Korupsi Menpora, Anas Urbangingrum, LHI, Djoko Susilo, dan serentetan kasus lainnya tidak putus-putus.

Dengan memunculkan serangkaian kasus ini, sebenarnya kita sedang digiring untuk berlelah mata dan pikiran hingga melupakan esensi utama dalam permasalahan ini. Kita diajak untuk hanya –sekali lagi hanya- memperbincangkan kasus, namun dijauhkan pada aksi dan tindakan nyata meretas masalah.

Ketika kita, sebagai umat Islam melontaran wacana untuk kembali ke hukum Allah sebagai pintu keluar dari drama problematika ini. Maka pada saat itu pula, cara kerja Sistem Dajjal akan beraksi, dimana sebisa mungkin peluang perbincangan itu akan ditutup. (Pembicara) Islam hanya akan ditampilkan seorang diri, sedangkan pembicara yang mengusung ide Sistem Dajjal berupa sekularisme akan dihadirkan sebanyak-banyaknya untuk menenggelamkan suara Islam.

Pada gilirannya, untuk mengalihkan masyarakat dari isu kembali kepada Islam sebagai jalan solusi, maka perangkat Sistem Dajjal pun akan memunculkan masalah baru, kasus baru, dan isu baru.

Kita memang sekarang sedang digiring untuk mengikuti pola pikir mereka, dan di saat bersamaan mereka sedang melakukan aksi-aksi lain mengantar kita kepada pola pikir yang murni demokratis.

Selain itu menggilir berbagai kasus secara beruntutan akan menyuburkan para analis-analis sekular dari Australia dan Amerika untuk mendekatkan masyarakat dengan sistem anti Tuhan. Kita digiring hanya untuk memperbicangkan masalah, menjadi pembicara, analis, pengamat, dan pencermat tapi minus solusi, terlebih solusi Islami.

Dua buah mata pun sehari-harinya diisi oleh perdebatan, chaos, konflik, tanpa diinisiasi mencari jalan keluar persoalan. Bahkan ada sebuah acara yang menghadirkan para hukum ternama, uniknya tidak ada solusi berarti dari para tokoh yang katanya paling mengerti hukum itu. Tidak jarang acara itu hanya berujung pada perdebatan dan masyarakat kembali dibingungkan.

Maka itu, kita dapat melihat bahwa pada sistem media saat ini semakin banyak acara-acara diskusi dari mulai pagi, siang, sore hingga ketemu pagi kembali. Bahkan melibatkan begitu banyak manusia. Semuanya serempak berbicara rumus-rumus dunia dan kita lupa apa yang sedang terjadi.

“Siapapun yang mempercayai peristiwa-peristiwa menurut media massa kafir, mustahil bisa mengetahui masalah yang sebenarnya,” kata Syekh Ahmad Thompson.

Yang kedua, hadirnya kasus ini seakan-akan lahir untuk mempertebal keyakinan masyarakat kepada demokrasi. Apa hubungannya? Bukankah citra demokrasi akan semakin bobrok dengan banyak kejadian ini? Pada kenyataannya sebaliknya, justru warna demokrasi semakin terang menyala. Masyarakat digiring untuk semakin yakin bahwa Negara kita belum sepenuhnya demokratis.

Akhirnya dari akumulasi dari itu semua, maka Sistem Dajjal akan melahirkan berbagai lapisan untuk mengerahkan keyakinan masyarakat tentang demokrasi. Muncullah KPK, Satgas Mafia Hukum, dan produk-produk pelaksana hukum buatan manusia lainnya yang tidak akan menyentuh akar persoalan. Semua elemen ini diciptakan untuk menarik kembali minat masyarakat kepada ide bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat itu.

Padahal cara kerja lembaga-lembaga ini sangat dikontrol oleh penampuk kebijakan. Ia tidak serta merta akan menjamin perubahan. Lihatlah nasib KPK saat ini. Apa yang bisa kita harapkan dari lembaga yang tebang pilih dalam menyelesaikan kasus itu? Lihatlah pula Mahkamah Konstitusi yang bertikai dengan salah satu kader partai penguasa.

Maka bagi Sistem Dajjal, mudah saja untuk menarik harapan masyarakat kembali tentang ilusinya tentang demokrasi, yakni menguatkan lembaga-lembaga tersebut ketika kondisi negara mulai genting hingga kemudian ada pemikiran bahwa di zaman reformasi ini, ide Demokrasi pun masih lebih baik ketimbang orde baru.

“Salah satu dalih yang sering dikemukakan politisi kafir, jika sistem kafir yaitu Sistem Dajjal dihujat adalah bahwa sistem ini mungkin tidak sempurna tapi masih lebih baik dari anarki,” kata Syekh Ahmad Thompson.

Kasus ini sama dengan kejadian agar para pekerja setia pada kapitalisme perusahaan. Untuk menutupi ketakutan para perkerjanya, maka perusahaan dalam basis sistem Dajjal akan memback-up pekerjanya dengan segala fasilitas agar mereka tetap bertahan disana, atau minimal terus loyal kepada kapitalisme dan materialisme.

“Sekecil apapun rasa aman pada pekerjaan, akan diluluhkan oleh pemberlakukan tawaran kontrak kerja jangka pendek dan ancaman PHK, dan ketakutan ini dijadikan sarana untuk menumbuhkan semangat kerja,” ujar Syekh Ahmad Thompson.

Ironisnya, umat Islam kini berbondong-bondong terperangkap pada jaring ini. Terperangkap cara kerja Sistem Dajjal yang berjalan dengan baik dan sempurna. Sebagian umat Islam meminta umat Islam lainnya untuk tidak berdiam diri (baca: ikut di parlemen). Bagi mereka diam adalah mati dan ramai-ramai menduduki kursi kuasa gengsi adalah keniscayaan. Padahal inilah yang memang diinginkan The New World Order dimana Umat Islam akan bertarung di panggung yang memang mereka ciptakan. Sebab bermain di kandang akan semakin mudah untuk menaklukkan sembari merekayasa lawan. Tak jarang kita lihat terkikisnya iman beberapa petinggi muslim yang masuk karena politik parlemen lewat kasus-kasus korupsi dan amoral.

“Kenyataan yang langgeng ini menandakan tidak saja tingginya kesangkilan para freemason, tapi juga menandakan betapa tingginya derajat pengendalian mereka atas rakyat banyak. Mungkin big brother tidak sedang mengawasi anda, tapi yang pasti dia sedang memprogram dan mengkondisikan anda.” tandas Syekh Ahmad Thompson.

Menyulap Penjahat Menjadi Malaikat

Selain itu, salah satu trik ampuh yang juga dilakukan sistem Dajjal adalah mengubah penjahat menjadi “malaikat” lewat jalur media. Mereka dengan begitu mudah merekayasa empedu menjadi madu. Trik inilah diperkenalkan oleh founding father dunia marketing, Edward Bernays. Y,a tokoh Yahudi sekaligus kemenakan langsung Sigmund Freud.

Ia menunjukkan (lebih tepatnya mengajari) bagaimana caranya perusahaan bisa membuat orang-orang ingin hal-hal yang sebenarnya mereka tidak perlu dengan cara sistematis lewat keinginan sadar mereka. Persis seperti saat kita gajian dan kita seakan terhipnotis untuk membeli produk yang sebenarnya tidak kita perlukan.

Bukti keberhasilan mind control Bernays adalah kampanye rokok perempuan di tahun 1920-an. Saat itu, Bernays berhasil membantu industri mengatasi salah satu tabu sosial terbesar masyarakat Amerika kala itu, yakni larangan perempuan merokok di depan publik. Dengan “cantiknya”, Bernays menampilkan seorang wanita muda sedang memegang rokok. Lewat teknik pemintalan kata-kata dan gambar film tentang ratusan wanita yang sedang merokok, maka sontak saja penjualan rokok di Amerika melambung tinggi dan para wanita pun seolah tersihir untuk merokok.

Maka itu Bernays pernah berkata dalam bukunya ‘Propaganda’, yakni “Kalau kita mengerti mekanisme dan motif-motif pikiran kelompok tertentu, kini mungkinlah untuk mengontrol dan mengarahkan massa menurut keinginan kita tanpa mereka mengetahuinya,”

Bernays memang memiliki track record mengendalikan opini politik publik. Peningkatan pesat Partai Nazi di Jerman tidak lain adalah hasil dari cara-cara marketing “brilian” Bernays. Ketika tokoh Nazi Joseph Goebbels meninggal, para aparat menemukan buku Propaganda karya Bernays di kamarnya. Bernays sendiri mendadak kaya raya. Berkat temuannya itu ia naik daun menjadi konsultan berbagai perusahaan besar Amerika.

Dalam negeri ini, kita masih ingat bagaimana SBY pernah naik daun setelah dipecat sebagai tampuk Menteri di rezim Mega. Keran simpati masyarakat pun mulai mengalir dan sedikit banyak mengantarkannya ke kursi Presiden RI tahun 2004.

Hal ini pula yang pernah terjadi pada naiknya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden tahun 1999. Dilihat dari berbagai sisi, sebenarnya tokoh ini tidak terlalu istimewa. Bahkan, Gus Dur pernah menjadi anggota MPR dari Golkar, ketika Soeharto masih dekat dengan Moerdani CS. Masih banyak tokoh yang lebih baik dari Gus Dur. Namun kepentingan asing yang sangat bertumpu kepada Gus Dur, mengingat Gus Dur terbuka pada ide liberalisasi, membawanya dapat melenggang mengungguli rival lainnya.

Begitu juga rekayasa citra Obama di Indonesia, yang hanya mengucapkan “nasi goreng dan bakso” publik pun tersihir. Obama pun diundang bicara tentang masa kecilnya, dan segenap pandangan kita terhadap aktor Zionis itu ikut memudar meski Invasi Obama terhadap negeri-negeri muslim masih berlangsung hingga kini.

Dan jangan aneh bisa para koruptor yang kini dihujat bisa sekejap mata menjadi pahlawan. Hanya dengan satu cara: membuka aib-aib kawan-kawannya, dan kita kembali terjebak pada diskusi-diskusi.

Terapkan Islam Seluruhnya Atau Tidak Sama Sekali

Maka itu, salah satu cara untuk mengenyahkan Sistem Dajjal adalah sebuah komitmen dalam diri umat muslim untuk menerima Islam sepenuhnya atau tidak sama sekali. Sebab komitmen ini akan sangat menakutkan bagi penampuk Sistem Dajjal. Inilah yang pernah terjadi kepada Sayyid Quthb. ‘Pembunuhan’ Sayyid Quthb adalah cara terakhir yang dilakukan Barat karena tidak juga berhasil merobah pola pikir Asy Syahid meski sudah digoda berkali-kali, dengan jalan kekuasaan, pendidikan, sampai wanita. Namun apa dampak dari itu semua? Semangat militansi untuk kembali kepada Islam yang sesungguhnya menjadi sangat besar pasca buku-buku Sayyid Quthb diterbitkan seusai kematiannya.

Oleh karenanya, benturan Islam vis a vis Sistem Dajjal belum akan usai. Islam akan terus dirongrong oleh media sistem Dajjal lewat berbagai arah. Pertama, Islam akan disudutkan sebagai agama teroris dan bukan bagian dari solusi. Kedua, Islam akan dilihat dari tindak-tanduk keburukan akhlak yang diciptakan oleh oknum-oknum Islam itu sendiri.

Hal ini lah yang pernah disinggung Sayyid Quthb, ketika Barat tidak fair dalam melihat Islam. Ketika Islam diperintahkan oleh Barat menyelesaikan masalah-masalah yang justru diciptakan oleh Demokrasi, Sosialisme, dan Kapitalisme. Oleh karenanya, dalam Bab Ambil Islam Seluruhnya atau tidak sama sekali dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, Sayyid Quthb menulis,

“Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapatnya mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Jadi tidak logis dan juga tidak adil, kalau dari suatu sistem tertentu diminta menyelesaikan dari masalah-masalah yang tidak ditimbulkannya sendiri, tetapi ditimbulkan oleh sistem lain yang berbeda watak dan metodenya dari sistem itu.”

Atas tantangan Barat itu, dengan pintarnya Sayyid Quthb membalas,

“Laksanakan Islam sebagai suatu keseluruhan dalam sistem hukum pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan, dan dalam prinsip-prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilang dengan sendirinya.”

Akhirnya semua ini seperti lagu masonik The Beatles yang berjudul Across the Universe, dimana John Lennon berkata, “Nothing Gonna Changes My Wolrd.” Ya tidak ada yang boleh merubah Sistem Dajjal dan media mereka akan terus bergerak sesuai tata kerjanya: penuh rekayasa dan manipulasi.

“Kita harus berusaha agar opini umum tidak mengetahui permasalahan sebenarnya. Kita harus menghambat segala yang mengetengahkan buah pikiran yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memuat berita lain yang menarik di surat kabar. Agen-agen kita yang menangani sektor penerbitan akan mampu mengumpulkan berita semacam itu.” Protokol of Zion ke 13.

Labels: , ,

Friday, March 22, 2013

Hollywood Rilis Film Tentang Citra Jelek Islam Di Tengah Eksotiknya Yogya


BUKAN Hollywood jika dalam filmnya tidak berusaha mencoreng citra Islam. Bisa dibilang hampir seluruh film-film Hollywood yang bertemakan terorisme, para pelakunya digambarkan sebagai umat Islam, tentu saja dengan simbol-simbol khas umat Islam seperti berjenggot, mengucapkan salam, takbir hingga terdengar suara adzan.

Tak ketinggalan dengan film terbaru Hollywood berjudul “Java Heat”. Mengambil suting di Yogjakarta dan sekitarnya, film ini berusaha mempertemukan dua budaya yaitu Amerika dan Indonesia yang ceritanya ditengahi dengan intrik-intrik dalam keindahan bangunan istana tua, candi-candi dalam labirin terowongan bawah tanah dan dunia kriminal di sebuah kota di tengah-tengah Pulau Jawa, kata penulis skenario dan produser film tersebut, Rob Allyn, pada tahun 2010 lalu.

“Java Heat” mengangkat kisah penculikan putri kraton Yogyakarta Hadiningrat yang dibarengi dengan pencurian barang berharga seperti perhiasan milik istana oleh penjahat internasional. Kemudian untuk mengungkap kasus ini, Polisi Indonesia mendapat bantuan dari tim profesional Amerika Serikat (Intel), sebuah cerita yang sangat biasa dan tidak memerlukan otak untuk mencerna film yang berbiaya belasan milyar ini.

Film ini menjadi tidak biasa ketika mengangkat eksotiknya Yogyakarta dengan kasus terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam. Dalam salah satu adegan di awal-awal film, sudah digambarkan sosok ‘teroris’ dengan rompi penuh berisi bom, meledakkan diri ditengah kerumunan orang sambil meneriakkan “Allahu Akbar”.

Lebih parahnya lagi, sosok Jake Travers (diperankan oleh Kellan Lutz salah satu pemain dalam film Twillight) yang menjadi jagoan Amrik di film ini, sewaktu di kampus bertemu dengan mahasiswi berjilbab, tidak berapa lama kemudian lewat dua mahasiswa berpakaian ala ‘Salafi’, memakai kupluk, gamis, berjenggot dan si mahasiswi mengatakan “they killed her”. Berusaha menjelaskan bahwa orang-orang seperti itulah yang telah melakukan aksi bom bunuh diri tersebut.

Sosok sentral penjahat dalam film “Java Heat” adalah seorang bule bernama ‘Malik’ (diperankan oleh aktor terkenal Hollywood Mickey Rourke). Meski bernama Islami, ‘Malik’ juga doyan ama bocah laki-laki untuk penyaluran hasrat seksualnya.

Malik sendiri seorang penjahat kelas internasional yang berburu perhiasan mahal milik kraton Yogyakarta namun berkolaborasi dengan ‘jihadis’ lokal bernama Ahmad yang di film ini digambarkan sangat nyaman duduk di tempat maksiat meskipun tidak melakukan yang dilarang agama selama berada di tempat maksiat tersebut.

Film berdurasi hampir satu setengah jam ini, bisa dibilang dari awal hingga akhir telah membuat stigmanisasi negatif tentang Islam dan umat Islam. Alih-alih berusaha membuat bagaimana tolerannya umat Islam, yang ada justru unsur pluralisme yang diangkat. Bagaimana letnah Hasyim anggota Densus 88 (diperankan oleh Ario Bayu) memandikan jasad rekan polisinya yang kristen di masjid dan memandikannya ala Islam.

Beberapa poin yang unik dalam film “Java Heat” adalah penggambaran kantor polisi. Kantor polisi sekelas kota Yogyakarta, digambarkan kumuh, kucel, terbelakang. Untuk memutar video rekaman saja, yang tersedia televisi jadul hitam putih. Bahkan kantor polisi sekelas polsek di daerah pun tidak sebegitu terbelakangnya. Dan uniknya lagi, letnan Hasyim mengenakan baju polisi dengan di kiri bajunya bertuliskan Densus 88, juga mobil sedan polisinya di pintu sampingnya juga bertuliskan densus 88, sesuatu yang aneh dan menggelikan. Karena anggota Densus 88 sangat tidak ingin sosok dirinya dikenal di tengah masyarakat.Sebagai catatan akhir, film “Java Heat” adalah film yang sudah layu sebelum berkembang, karena pemutaran perdananya di bioskop seharusnya pada 18 April, namun bajakannya (bahkan sudah versi blue ray) hampir sebulan sudah beredar di lapak-lapak penjualan DVD bajakan serta di internet.


Labels:

Thursday, March 7, 2013

Ketika Isu Wahabi Dijadikan Alat Politik


Oleh: Abu Muhammad Waskito
Pengarang Buku Bersikap Adil Pada Wahabi

Tidak diragukan lagi, isu Wahabi sudah lama muncul. Buya Hamka rahimahullah pernah menulis seputar isu Wahabi di tahun 55-an, ketika menjelang Pemilu 1955. Waktu itu Partai Masyumi diidentikkan dengan Wahabi, lalu Buya Hamka memberikan penjelasan-penjelasan. Ternyata, sampai saat ini juga isu Wahabi masih dipakai dalam “permainan politik” seputar Pemilu dan Pilkada.

PKS sering diserang lawan-lawan politiknya dengan isu Wahabi ini. Sayangnya, mereka kurang bagus dalam diplomasi, seperti kasus Pilkada Jakarta kemarin, dimana PKS tidak mau dikaitkan dengan Wahabi; tetapi sembari memojokkan Wahabi juga. Cara begitu tidak benar.

Dalam hal ini ada kaidah dasar, yaitu:

Masyarakat Awam Cenderung Sensitif dan Simplisit. Perlu Komunikasi Khusus dalam Menghadapi Mereka.

[a]. Menjelaskan ke masyarakat awam tidak bisa dengan bahasa ilmiah, telaah mendalam, atau komparasi pendapat-pendapat. Bukan maqam mereka diajak berpikir dalam tataran ilmiah, apalagi akademik. Mereka perlu diberi penjelasan yangcespleng. Maksudnya, sederhana, tidak berdusta, tapi juga mudah mereka pahami.

[b]. Boleh saja siapa pun memiliki pendapat politik tentang Wahabi, atau bersikap kepadanya; tetapi jangan lalu memojokkan, jangan menyebarkan stigma (penodaan citra), jangan pula membohongi masyarakat. Hal-hal demikian bisa merusak ukhuwah dan persatuan ummat, serta mencerai-beraikan hubungan di antara sesama Muslim.

Nah, terkait upaya mengelola isu Wahabi di mata masyarakat awam ini, ada beberapa ide retorika diplomatis yang bisa disampaikan disini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Ketika seseorang, suatu lembaga, suatu partai, atau suatu gerakan ditanya: “Apakah Anda Wahabi atau bukan?” Jawabannya bisa positif, bisa negatif. Jawaban positif maksudnya meng-IYA-kan, jawaban negatif maksudnya men-TIDAK-kan. Kedua jawaban sama-sama boleh, tetapi argumentasinya harus baik dan tidak menyesatkan.

[2]. Atas pertanyaan di atas, bisa saja seseorang atau sebuah lembaga menjawab: “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi.” Lalu dijelaskan: “Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.” Atau jawaban lain: “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”

[3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi jugaMauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

[4]. Mungkin orang akan mendebat lagi: “Tapi kan orang Wahabi menghancurkan kuburan-kuburan, rumah-rumah para Sahabat Nabi, dan sebagainya?” Lalu dijawab: “Itu dulu, dan terjadi di Arab sana. Kalau di Indonesia tidak ada yang begitu. Wahabi dulu beda dengan sekarang. Wahabi di Indonesia beda dengan di Arab.”

[5]. Bisa juga diberikan jawaban negatif seperti: “Bukan, kami bukan Wahabi.” Jawaban begini boleh, sebagaimana bolehnya seseorang mengaku diri sebagai bagian dari Wahabi. Tetapi kemudian tambahkan penjelasan sebagai berikut: “Kami bukan Wahabi, tapi kami juga bukan musuh Wahabi. Kita semua ini Muslim, kita bersaudara. Kita diperintahkan oleh agama untuk saling bersaudara, saling berkasih-sayang, dan bantu-membantu dalam kebaikan.”

[6]. Atau berikan jawaban yang sekaligus berisi nasehat: “Sudahlah jangan diungkit-ungkit masalah Wahabi atau non Wahabi. Kita semua ini Muslim. Kita bersaudara. Kita harus bersatu-padu, saling tolong-menolong. Jangan berpecah-belah dan jangan pula memberi kesempatan agar musuh memecah-belah kita semua.”

Intinya, berikan penjelasan yang bersifat mudah, argumentatif, meskipun ia bersifat simplisit (menyederhanakan masalah). Karena memang kadar pemahaman orang awam sulit untuk diajak memahami yang rumit-rumit.

Sebuah contoh, Pak Prabowo Subianto sering mendapat stigma: “Buat apa memilih presiden yang pembunuh?” Maksudnya, beliau dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa Trisakti saat Kerusuhan Mei 1998. Bahkan pihak korban, aktivis LSM, juga kalangan media sangat mudah mengangkat isu Trisakti itu untuk membarikade Prabowo agar tidak menjadi Presiden RI. Sampai sejauh ini, tim Prabowo masih kesulitan mengatasi stigma-stigma itu.

Level berpikir orang kecil sangat mudah dipengaruhi hal-hal simplisit seperti itu. Maka ketrampilan komunikasi kita, perlu terus ditingkatkan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Rahiim.

Labels: ,

Thursday, February 21, 2013

7 Catatan Kritis Untuk RUU Tindak Pidana Pendanaan Terorisme



Oleh: Harits Abu Ulya

Direktur The Community of Ideological Islamic Analisyst

Terkait legislasi RUU Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, bahwa dari kajian yang kita lakukan terhadap draft RUU, ada beberapa catatan kritis sebagai berikut;

1. Sejatinya RUU ini adalah komplemen (pelengkap) dari UU yang ada terkait pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme (UU no 15/2003). Dan, ini satu paket dengan 4 UU lainya, yakni UU intelijen yang sudah disahkan, UU Teroris yang dalam proses revisi, RUU Kamnas, dan UU Ormas yang juga mau direvisi. Yang secara khusus diarahkan kepada kontra-terorisme dalam ragam bentuknya, UU ini diharapkan bisa mengabsorsi substansi penindakan terorisme yang lebih efektif. Dan pijakannya pada 8 poin berikut;
  • 1. kelemahan intelijen (dan solusinya ini sudah dirumuskan dalam UU Intelijen).
  • 2. Masa penangkapan dan penahanan yg terlalu singkat (dan ini perlu diperpanjang di UU yang baru)
  • 3. Perbuatan awal yang mengarah kepada aksi teror yang belum dapat ditindak (dan ini mengarah kepada kriminalisasi pemikiran/pendapat/ konsep).
  • 4. Ancaman hukuman terhadap teroris terlalu ringan (dalam UU revisi akan diperberat).
  • 5. Perlu ada pengadilan khusus tipiter (tindak pidana teroris) dan terpusat
  • 6. Pelibatan TNI berdasarkan UU TNI No 34/2004 dan UU Polri No2/2002.
  • 7. Deradikalisasi dengan melibatkan instansi terkait (Kementrian Agama dan lain-lain)
  • 8. Memutus aliran dana/pendanaan.

Dan dalam RUU yang lagi di tangan pansus dan masuk tahapan dengar pendapat, diharapkan bisa mempersempit ruang gerak teroris dengan memutus semua akses pendanaan yang memungkinan.

2. Namun demikian, dalam kajian atas draft RUU ini pemerintah hendak memberangus individu atau korporasi atau kelompok yang dicap teroris. Dan “nafsu” ini berdiri di atas paradigma yang salah kaprah sejak awal dan bahkan sangat terkesan ini adalah langkah penyelarasan atas proyek global Barat yang bernama WOT (war on terrorism) yang sangat pejoratif tendensius menjadikan umat Islam sbagai musuh dan bidikan.

3. Dalam RUU ini memuat pasal karet, karena banyak frase “patut diduga”. Dan seseorang/korporasi/lembaga bisa dikenai UU ini hanya karena alasan patut diduga mendanai aksi teror langsung/tidak langsung.

4. Bahkan dalam pasal 9 ayat 4 begitu rentannya disalahgunakan oleh lembaga keuangan (lebih dari 18 jenis) untuk memfitnah seseorang/korporasi/lembaga dengan alasan “patut diduga” kemudian melaporkan ke PPATK dengan delik tindak pidana terorisme. Ini cara-cara jahat, melibatkan banyak pihak dengan parameter yang kabur.

5. Bahkan terkesan pemerintah seperti “perampok” atas aset korporasi jika mereka tertuduh terlibat dalam pendanaan aksi teror langsung atau tidak, lihat pasal 6 ayat 5d dan e.

Dalam kejahatan besar, korupsi tidak diterapkan pasal ini, padahal korupsi juga melibatkan persekongkolan banyak orang dengan sebuah perusahaan atau departemen.

6. Dan Indonesia mengacu kepada arahan asing untuk menentukan apakah individu/kelompok/korporasi masuk katagori teroris atau tdk, (pasal 1 ayat 7b juncto pasal 22 ayat 1b). Dan ini bukti Indonesia tidak independen dalam isu terorisme, tetapi mengekor kepada kepentingan asing.

7. Dan lebih parah lagi, semua substansi RUU ini berdiri di atas definisi “teroris” yang kabur dan sangat politis. Sampai hari ini kelompok Islam yang mengusung Islam sebagai ideologi menjadi sasaran dengan berbagai rekayasa dan kriminalisasi atas nama drama terorisme. Dan ini adalah kepentingan Barat yang diaminkan pemerintah Indonesia yang sekuler. Di samping penjelasan Menkeu Agus Marto lebih mempertegas (secara implisit) bahwa RUU ini dibuat untuk mengikuti kepentingan asing sekalipun alasanya untuk meningkatkan bargaining ekonomi Indonesia di pentas dunia. Indonesia terlalu jauh masuk dalam kubangan perang melawan teroris versi Barat yang dikomandani AS.

Labels:

Wednesday, February 13, 2013

Penyiksaan Global CIA Bukti Pengkhianatan para Penguasa


Laporan Penyiksaan Global CIA, Bukti Pengkhianatan Penguasa Negeri Islam dan Hipokrasi Sistem Internasional

Oleh: Farid Wadjdi, Pengamat Hubungan Internasional

Pengkhianatan penguasa negeri Islam yang berkerjasama dengan Amerika tampak dari laporan Open Society Foundation (OSF), Selasa, 5 Februari 2013. Lembaga itu meluncurkan hasil studi berjudul “Globalizing Torture: CIA Extraordinary Rendition and Secret Detention”. Studi ini menyoroti program rendition (pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum) dan penahanan rahasia yang dilakukan dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, paska serangan teroris 11 September 2001 ke negara itu. Partner CIA dalam program rahasia ini 54 negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara yang menjadi partner CIA dalam program rahasia tersebut: Afganistan, Albania, Aljazair, Australia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Kanada, Kroasia, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Djibouti, Mesir, Ethiopia, Finlandia, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani, Hongkong, Islandia, Indonesia, Iran, Irlandia, Yordania, Kenya, Libya, Lithuania, Macedonia, Malawi, Malaysia, Mauritania, Moroko, Pakistan, Polandia, Portugal, Romania, Arab Saudi, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Suriah, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Uzbekistan, Yaman, dan Zimbabwe.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita catat berkaitan dengan laporan ini: Pertama, laporan yang sebenarnya bukan menjadi rahasia lagi, kembali mencerminkan hipokrasi sistem internasional di bawah kendali negara-negara imperialis.

Negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, yang menjadi pemain utama dalam sistem internasional saat ini, di satu sisi membanggakan diri sebagai negara pendukung penegakan hukum dan HAM. Disisi lain mereka terlibat langsung dalam penyiksaan global terhadap umat Islam yang dituduh tanpa bukti terlibat terorisme. Bersama CIA , negara-negara ini terlibat dalam program program rendition.

Hipokrasi negara-negara Barat tersebut tampak jelas , ketika mereka justru bekerjasama dengan penguasa-penguasa diktator di negeri-negeri Islam Mesir, Libya, Saudi Arabia, Suriah untuk melakukan penyiksaan terhadap pihak-pihak yang diklaim secara sepihak oleh Barat sebagai terorisme.

Umat Islam yang dituduh teroris kemudian disiksa secara keji di penjara-penjara negara-negara yang oleh Barat sendiri diakui memperlakukan para tahanan dengan sangat kejam dan di luar batas kemanusiaan.

Kedua, diamnya PBB dalam masalah ini juga menunjukkan organisasi internasional itu hanyalah alat politik negara-negara imperialis. PBB kerap kali melegitimasi penjajahan negara-negara Barat terhadap negeri-negeri Islam dengan tudingan melakukan terorisme dan melanggar HAM. Seperti yang dilakukan oleh PBB untuk melegitimasi pembunuhan terhadap umat Islam di Irak, Afghanistan, Pakistan, Yaman, dan Mali. Namun ketika lembaga intelijen Amerika seperti CIA melakukan tindakan melanggar HAM, PBB menjadi macan ompong.

Ketiga, laporan ini juga kembali menunjukkan bahwa penguasa-penguasa negeri Islam termasuk Indonesia adalah boneka negara-negara Barat. Mereka terlibat langsung dalam penyiksaan global ini dengan memberikan jalan bagi CIA menculik, memindahkan, dan menyiksa siapapun yang dituding terlibat terorisme oleh Barat. Penguasa negeri-negeri Islam telah menjadi pelayan setia dalam program global war on terrorism (GWOT) .

Perang global yang sejatinya merupakan perang untuk kepentingan penjajahan Amerika dengan menjadikan umat Islam sebagai obyek utamanya. Sebab teroris yang dimaksud oleh Barat adalah sangat jelas, siapapun yang melawan penjajahan Barat baik dengan senjata atau pemikiran. Dalam pandangan Barat, teroris adalah siapapun yang ingin menegakkan sistem Islam- syariah dan Khilafah- yang akan menggeser sistem kapitalisme Barat yang sudah rapuh dan membusuk.

Keterlibatan Indonesia bisa dilihat dari penangkapan oleh intelijen Indonesia yang disebut laporan OSF tersebut sebagai bagian dari kerjasama operasi rahasia ini, yaitu terhadap Muhammad Saad Iqbal Madni, Nasir Salim Ali Qaru, dan Omar al-Faruq. Madni ditangkap di Jakarta, sebelum dikirim ke Mesir. Nasir ditangkap di Indonesia tahun 2003 dan ditransfer ke Yordania, sebelum akhirnya ditemukan di Yaman. Faruq ditangkap di Bogor tahun 2002, lalu dipindahkan ke Bagram, Afganistan.

Turki yang juga merupakan sekutu NATO, membantu CIA dengan mengizinkan beroperasinya perusahaan penerbangan Richmor Aviation, yang telah dikaitkan dengan CIA. Mereka mengizinkan pesawat yang dioperasikan Richmor, mengisi bahan bakar di kota Adana pada tahun 2002. Rezim Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) ini juga terlibat dalam penyerahan tersangka teroris berkewarganegaraan Irak kepada CIA di tahun 2006.

Peran penting penguasa negeri Islam dalam membantu CIA tampak sebagaimana yang ditegaskan dalam laporan itu: “Namun, tanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran tidak berakhir pada Amerika Serikat. Penahanan rahasia dan operasi rendisi yang luar biasa, dirancang untuk dilakukan di luar Amerika Serikat dalam selubung kerahasiaan, yang tidak bisa dilaksanakan tanpa partisipasi aktif dari pemerintahan asing.. Pemerintahan itu juga harus ikut bertanggung jawab. ”

Keempat, laporan ini juga menunjukkan adanya kerjasama diam-diam antara CIA dengan negara-negara yang diposisikan sebagai anti Amerika. Sudah menjadi rahasia umum, meskipun dalam retorika globalnya negara-negara seperti Suriah, Libya, dan Iran diposisikan sebagai anti Amerika, dalam kenyataannya negara-negara itu justru bekerjasama dengan CIA untuk melakukan penyiksaan terhadap umat Islam dan memuluskan kepentingan penjajahan negara-negara Barat.

Iran , yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS, berpartisipasi dengan menyerahkan setidaknya 15 terduga teroris ke tangan pihak berwenang AS tanpa melalui kota Kabul, Afghanistan tanpa proses hukum yang berlaku.

Oleh karena itu, laporan yang sebenarnya sudah diketahui umum ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita tentang kebutuhan umat Islam akan Khilafah Islam. Negara global yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Khilafah akan menjadi negara adi daya yang melindungi umat Islam dari kerakusan politik imperialistis Barat.

Keberadaan Khilafah juga akan menyingkirkan penguasa-penguasa boneka dan pengkhianat di negeri Islam, yang selama ini telah dengan setia melayani kepentingan Barat. Meskipun mereka harus membunuh rakyat mereka sendiri dan menjual kekayaan alam mereka sendiri. Semua itu mereka lakukan untuk sekedar mempertahankan kekuasaan rapuh mereka lewat dukungan Amerika Serikat dan sekutunya.

Labels: ,