Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Saturday, April 19, 2014

Jokowi, 'Ronin' yang Terbuang ?


Seperti yang bisa diduga, Megawati telah meneken jalan kehancuran bagi PDIP dengan deklarasi pencapresan Jokowi. Pada pemilu legislatif 9 April 2014, rakyat memberikan pelajaran telak kepada Lembaga Survei, pengamat dan tokoh-tokoh politik seperti Luhut Pandjaitan, yang selama ini mendorong PDIP segera mencapreskan Jokowi untuk suara 30%-35%. PDIP memang pemenang pemilu, tapi 19% jelas bukan 35%.

Sesaat setelah Quick Count dimulai dan posisi PDIP segera ketahuan, diberitakan bahwa Jokowi duduk termenung-menung di teras. Saat ditanya wartawan, yang pertama keluar dari mulutnya adalah menyalahkan Bappilu, caleg PDIP dan Puan Maharani. Semua, kecuali dirinya. Strategi marketing internal yang tak baik. Caleg-caleg kurang bekerja di akar rumput. Jatah beriklannya yang cuma 3 hari.

Seolah-olah dengan tambahan beriklan 3 hari, seminggu atau 2 minggu, akan menaikkan 19% menjadi 35%. Sementara Nasdem yang sudah beriklan 2 tahun saja hanya 7%. Jokowi sendiri acapkali melakukan hal yang tidak efektif saat berkampanye. Misalnya, kampanye ke Solo, ibarat kampanye di rumah sendiri, buat apa…? Atau saat ditunggu masyarakat Trenggalek sampai 8 jam, begitu remote control dipencet Megawati, langsung balik Jakarta mengecewakan pendukungnya. Atau berkampanye ke Papua, selain perjalanannya menghabiskan waktu, jumlah pemilihnyapun tak seberapa.

Yang menarik adalah ketika Jakarta Post, koran berbahasa Inggris milik Jusuf Wanandi CSIS, yang bersama Cyrus adalah promotor ‘Jokowi Effect’, pada 2 hari yang lalu memuat kisah ‘Infighting Could Ruin Jokowi’s Bid’. Alkisah, Puan, yang sangat kesal karena tidak terjadinya Jokowi Effect, sementara Jokowi di luaran sibuk menyalahkan Bappilu yang dipimpinnya dan PDIP, mengusir Jokowi dari Teuku Umar. Pertengkaran pun pecah antara Puan dan Prananda yang membela Jokowi, sehingga Mega menangis. Tidak terlalu terkejut mendengar Mega menangis, karena saat konpers Quick Count pun sudah tampak berkali-kali menyusut hidung.

Kutipan :

“Puan then told Jokowi to leave. She was very disappointed, as she had expected Jokowi’s popularity to help the PDI-P win at least 30 percent of the vote, paving the way for her to become the party’s vice presidential candidate later on,” the source said, adding that Megawati had broken down in tears during the debate.

“Megawati cried, not because she was sad to see Jokowi ousted from her home by her own daughter, but because she was witnessing a growing gap between Puan and her second son, Prananda Prabowo, who backs Jokowi.”

Artikel tersebut diikuti artikel lain pada hari berikutnya ‘Jokowi Shrugs Off Infighting’, yang isinya adalah kurang lebih sama.

Sejak artikel tersebut terbit, PDIP dan Jokowi mati-matian membantah terjadinya pertengkaran tersebut. Yang lucunya, tampaknya tak ada koordinasi yang baik dalam menjawab. Menurut Eriko Sotarduga, Puan ada di Kebagusan. Sementara Jokowi mengatakan bahwa dirinya tak bertemu Puan Maharani sama sekali sampai hari ini, karena setelah mencoblos, Puan berangkat ke Hong Kong.

Bau kebohongan amat tajam dalam pernyataan Jokowi ini. Karena jelas-jelas Puan mendampingi Megawati saat konpers setelah Quick Count, petang tanggal 9 April. Pada pertemuan evaluasi itu, Puan disebut orang-orang PDIP tidak ada di situ, tapi suaminya Happy Hapsoro hadir. Puan juga ditunjuk bersama Tjahjo Kumolo untuk memimpin negosiasi koalisi. Apakah mungkin, Puan yang merupakan kepala Bappilu, pemimpin negosiasi koalisi, akan meninggalkan partai saat yang demikian genting, pergi sendirian entah untuk urusan apa ke Hong Kong…?

Pada hari Jumat tanggal 11 April, kita menyaksikan aksi safari politik Jokowi ke tiga partai. Pagi bersama Nasdem, yang menghasilkan keputusan mendukung pencapresan Jokowi dengan catatan, cawapres akan diajukan dalam 2-3 hari untuk dibicarakan dengan Megawati. Ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Tjahjo Kumolo dan Hasto Kristiyanto sehari sebelumnya.

Dalam safari berikutnya ke Golkar, Jokowi terpaksa menelan kekecewaan. ARB yang tampak santai sehabis berolah-raga, menolak berkoalisi dan menyebut akan tetap capreskan dirinya. Meskipun Luhut Pandjaitan sudah hadir untuk memuluskan, tetap tidak ada kesepakatan.

Sebuah media menyebutkan, Jokowi adalah satu-satunya capres yang sedemikian sibuk berkeliling sana-sini melobby. Sementara capres lain adem-ayem, mengirimkan lapis dua atau tiganya melakukan pendekatan. Kata Jokowi, saya butuh kepastian. Mukanya seribu persen galau, sudah pelit tersenyum, guraupun hambar dan dibuat-buat. Sungguh berat, seorang capres harus berusaha keras memperjuangkan sendiri kepastiannya nyapres, datang seperti salesman door to door, lalu ditolak oleh ARB dan digantung oleh Cak Imin.

Isu perpecahan internal PDIP yang diangkat oleh Jakarta Post, sebenarnya senada dengan tulisan Jeffrey Winters ‘What Went Wrong with the PDI-P and Jokowi?‘ di Financial Times. Tulisan Winters ini bahkan lebih awal dari Jakarta Post, karena dimuat tanggal 10 April 2014 lalu. Jeffrey Winters menggambarkan hubungan Jokowi dan Megawati tidak saling menyukai dan mempercayai : ‘The core problem is that Jokowi and Megawati Sukarnoputri, don’t really like or trust each other’ dan Megawati seperti ditodong senapan yang tidak kelihatan saat mendeklarasikan Jokowi : ‘Megawati sat subdued at a table and held up a hand-written note to the cameras stating, in tortured prose, that Jokowi would be the presidential candidate. She looked as if she had an invisible gun to her head’.

Winters, yang dikenal anti Orba dan pada awal reformasi dekat dengan Megawati, juga menceritakan bagaimana Jokowi tidak mendapat alokasi dana kampanye, juga dibatasi untuk memakai pesawat jet ‘Indonesia Hebat’ yang selalu dibooking Megawati dan Puan. Dan bagaimana seorang kandidat cawapres dari partai lain yang diundang ke studio dimana Jokowi shooting iklan, kaget disodori bonnya.

Menurut Winters, PDIP meminta agar donasi dari para sponsor harus masuk ke Bendahara PDIP, partai-lah yang mengalokasikannya, termasuk ke Timses bentukan Jokowi. Dengan alasan tidak kebagian dana tersebut, timses Jokowi meminta para cukong, yang disebut Winters sebagai ‘tycoons’ alias pengusaha kelas kakap, agar tidak memberikan dana kepada PDIP, dan langsung memberikannya kepada mereka : ‘Some tycoons have been warned by Jokowi’s camp not to donate to the PDI-P and instead give directly to the Jokowi machine’. Apabila membaca semua indikator ini, tampak jelas upaya kudeta yang sedang dilakukan Jokowi dan timsesnya terhadap PDIP dan Megawati.

Pertama, soal Puan. Jokowi digambarkan para promotornya seperti Cyrus sebagai capres setengah dewa. Apabila mencapreskan Jokowi, PDIP akan mendapat suara sampai 35%. Ini yang disebut ‘Jokowi Effect’. Efek-efek yang banyak disebut berhari-hari setelah Pileg oleh pembela Jokowi adalah efek definisi ngga-ngga mereka sendiri untuk membela Jokowi. Dengan mempercayai Jokowi Effect itu, Megawati, Puan dan PDIP setuju deklarasi pencapresan, dengan harapan suara minimum 27% akan mantap untuk memajukan duet Jokowi-Puan. Karena itu pula, tentu tidak ada salahnya Puan mulai menonjolkan diri di billboard dan di iklan, sebagai seseorang yang segera akan menjadi cawapres. Toh selama ini dia setia mendampingi bundanya membangun partai. Itu tak ada artinya dibandingkan penggorengan image Jokowi selama 1,5 tahun terakhir oleh media.

Ternyata Puan dan Megawati tertipu. Hasil pileg jauh di bawah 35%, bahkan jauh di bawah target Puan yang digambarkannya gede-gede di paving block dengan kapur. Tiba-tiba saja, Jokowi Effect jadi banyak syarat. Karena cuma beriklan 3 hari jadi tidak effect. Karena jarang pakai pesawat jet jadi tidak effect. Tetap perlu caleg PDIP untuk kerja keras, bukan seperti yang dikira selama ini : asal memajang foto bersama Jokowi yang nyengir lebar sudah cukup. Lebih mengenaskan lagi, Jokowi selalu ngotot atas kelebihan dirinya dengan menyalahkan Puan dan PDIP.

Kedua, meskipun ditunjuk menjadi pemimpin negosiasi, sejak pengusiran dan pecahnya berita tersebut di Jakarta Post, tiba-tiba saja Puan raib. Ada banyak opini yang ditulis di media, seperti Wimar Witoelar, yang menyebut bahwa sebaiknya Jokowi yang didapuk untuk menego koalisi. Tiba-tiba saja Jumat itu Jokowi yang bersafari ke sana kemari. Pertanyaannya, apakah semudah itu menyisihkan Puan…? Apakah Megawati memang memilih mengesampingkan anak biologis dan ideologisnya, demi si anak angkat dan boneka yang kian hari kian terbongkar topeng ambisi dan ketamakannya…?

Titik saat ini merupakan titik paling kritis baik untuk Megawati maupun Jokowi. Jokowi mungkin berpikir, dengan jebakan deklarasi itu, Megawati telah disudutkan pada ‘point of no return’, tetap mendukung pencapresannya atau beresiko semakin dimusuhi rakyat. Itu bisa terjadi, kalau dia pintar mengelola persepsi publik agar tetap positif terhadapnya, dibantu media-media yang didanai sponsornya. Gerah manut dan dijuluki boneka, pembangkangannya terhadap Megawati meningkat. Seiring dengan kegalauan dan kepanikannya untuk menekan Megawati memastikan tiket pencapresannya. Andaikan pada Jumat itu, Jokowi telah mengamankan dukungan 3 partai : NasDem, Golkar dan PKB, berarti telah memastikan definitif pencapresannya dengan 39%-40% suara. Apa lacur, yang dia dapat hanya 7% dari Paloh, penolakan ARB dan tarik-ulur Cak Imin.

Di pihak lain, Megawati bukan tak punya pilihan. Bahkan kecenderungan untuk membatalkan pencapresan Jokowi itu sudah sangat kencang. Mungkin inilah tujuan Jakarta Post membocorkan pengusiran itu. Untuk memancing reaksi publik, supaya Jokowi tidak dibuang diam-diam. Berita itu juga sukses mencoreng dan mengandangkan Puan, setidaknya untuk sementara.

Sampai dengan batas pendaftaran ke KPU, kendali sebenarnya tetap di tangan Megawati. Manuver dari kader yang menurut Winters, tidak disukainya dan tidak menyukainya ini, sudah semakin tidak terkendali. Boneka sudah hendak memakan tuannya. Sebelum deklarasi, sudah membibitkan ProJo melawan ProMeg. Dan kini berani menyabot donasi cukong agar langsung ke dirinya bukan ke kas partai. Begitu namanya didaftarkan resmi ke KPU, Jokowi tak butuh Megawati lagi. Melihat yang terjadi pada Puan, ini bisa jadi awal pemunahan trah Soekarno di PDIP.

Di tengah kemelut ini, Jokowi boleh dibilang sudah bukan lagi capres setengah dewa tapi capres setengah ronin. Mitos capres setengah dewa sudah rontok oleh hasil pemilu. Jokowi ternyata bukan cukup dengan sandal jepit bisa menang, tapi butuh cawapres yang kuat, butuh babysitter yang bagus, butuh koalisi dengan partai lain. Sementara dengan segala pembangkangan dan manuvernya yang makin telanjang, upayanya memarginalisasi Puan, juga kepanikan dan kegalauan yang merupakan tanda-tanda dari ketidak-matangan berpolitik dan mental yang tidak kuat; bisa semakin menguatkan resolusi Megawati untuk membatalkan pencapresannya.

Ronin artinya samurai tanpa shogun, tanpa tuan, tanpa rumah. Capres ronin artinya capres tanpa partai, yang mengaku punya puluhan juta pendukung sekalipun. Capres setengah ronin artinya apabila tidak hati-hati, selangkah lagi bernasib ronin. Capres ronin akan berkelana sendiri mencari-cari partai yang masih percaya mitos kekuatan dan popularitasnya. Pertanyaannya, siapa yang mau beli barang yang sudah dibuang tuannya…?

Labels:

Monday, June 17, 2013

Syiah & Yahudi, Sahabat Sejati Yang Pura-Pura Bermusuhan di Media


USTADZ Abdullah Muhammad Al-Gharib berkata, “Kerja sama Syiah dengan musuh zionis di selatan Lebanon adalah fakta yang nyata dan bukanlah legenda yang dikarang oleh musuh-musuh Syiah. Semua surat kabar dan kantor berita nasional maupun internasional telah berbicara tentang sama ini dan telah dirasakan oleh kaum muslimin dan kaum Nasrani di selatan, sebagaimana tangan yang merasakan sesuatu. Dan kedua belah pihak, Syiah dan Yahudi juga telah mengakuinya.”

Kantor berita Reuters mengatakan dalam penjelasannya di An-Nabathiyah pada tanggal 1/7/1982, “Kekuatan militer zionis yang telah menduduki Palestina, mengizinkan organisasi Amal untuk melindungi milisi-milisi tertentu yang ikut dengannya dan membawa semua persenjataan miliknya. Salah seorang pemimpin milisi organisasi Amal yang bernama Hasan Musthafa menjelaskan, bahwa senjata-senjata ini akan dipergunakan untuk membela diri kami dari orang-orang Palestina. Setelah Israel mengumumkan keinginannya untuk menarik mundur pasukannya dari Lebanon, organisasi Amal meningkatkan pengejarannya terhadap kekuatan bersenjata Palestina di Beirut barat dan selatan serta di selatan Lebanon. Tuntutan Israel terhadap Organisasi Pembebasan Palestina sama dengan tuntutan Gerakan Amal. Apakah masalah-masalah seperti ini akan terselesaikan secara otomatis di antara kedua belah pihak?”

Surat kabar Yerusalem Post dalam salah satu terbitannya tanggal 23/5/1985, memberikan jawaban atas pertanyaan itu, “Tidak semestinya mengabaikan bersatunya kepentingan amal dan Israel, yang dibangun atas dasar keinginan bersama untuk menjaga wilayah selatan Lebanon dan menjadikannya wilayah yang aman, bebas dari berbagai macam serangan terhadap Israel. Sampai sekarang Israel masih ragu-ragu untuk menyerahkan tugas menjaga keamanan dan undang-undang di perbatasan antara Palestina dan Lebanon kepada Gerakan Amal. Waktunya sudah tiba bagi Israel untuk mempercayakan tugas ini kepada Gerakan Amal.” Kepala Intelejen Militer Yahudi Eihud Barak juga memberikan jawaban atas pertanyaan itu, dia berkata, “Saya sangat percaya bahwa Gerakan Amal akan menjadi satu-satunya front yang menguasai wilayah selatan Lebanon, dan ia akan melarang para tokoh organisasi dan Front Nasional Lebanon untuk menetap di wilayah selatan dan bekerja menentang keinginan-keinginan Israel.”

Menteri Luar Negeri Swedia, Beir Obeirt juga memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yang dinyatakannya di Jenewa pada tanggal 24/6/1985. Dia membawakan surat dari Pemimpin Gerakan Amal, Nabih Bari kepada pimpinan Israel… tetapi dia menolak memberikan penjelasan tentang rincian surat tersebut.

Dalam pernyataan yang ditulis oleh majalah mingguan Al-Arabi tertanggal 24/10/1983, tentang pertemuan yang diadakan oleh majalah tersebut dengan Haidar Dayekh, salah seorang pimpinan Amal di wilayah selatan, dikatakan di sana, “Kami sampai di kamp Haidar Dayekh… anggota-anggotanya mengenakan pakaian militer dan membawa senjata, sebagian dari mereka belum berusia dua puluh tahun dan sebagian yang lain memanjangkan jenggotnya. Pada saat itu kami tahu bahwa mereka adalah anggota pasukan Syiah, dan Israel-lah yang telah melatih mereka. Ketika dari jarak beberapa meter dari kamp, kami menyaksikan sebuah villa yang dijadikan markas orang-orang Israel. Salah satu dari orang-orang Israel itu dari waktu ke waktu mengangkat kekernya ke matanya dan menatap muka-muka kami…

Kami mendekati Haidar Dayekh di tengah-tengah kamp. Bendera Lebanon dikibarkan dan sebagian mobil diberi tulisan “Tentara Karbala.” Kami bertanya pada Haidar tentang sebab pemberian nama tersebut, dia berkata, “Peperangan Karbala’ mempunyai makna yang banyak dalam pandangan saya, itu adalah tragedi Imam Al-Husain yang telah memerangi kezhaliman, dan kami memerangi kezhaliman. Menurut saya, Lebanon seluruhnya sekarang ini mengalami nasib yang sama dengan Karbala’, karena sikap Lebanon seperti sikap Al-Husain di Karbala’. Musuh-musuh Imam sangat banyak dan para sahabatnya meninggalkannya, begitu juga dengan Lebanon, karena itulah kami mengikuti Imam Al-Husain dan berjalan di atas jalannya.

Kami bertanya tentang salah seorang prajurit Dayekh, kenapa dia membawa senjata? Dia menjawab, “Sebab hanya membawa senjata dapat melawan berbagai macam bahaya yang mengancam kelompok Syiah, dan kemungkinan adanya disintegrasi yang dihadapinya di masa yang akan datang.”

Kami menanyakan kepada Haidar Dayekh, “Apakah benar penamaan kalian sebagai pasukan Syiah disebabkan oleh karena anggota-anggota kalian dari kelompok Syiah?” Dia berkata, “Kami berada di wilayah Syiah dan semua anggota saya (anak-anak selatan Lebanon) adalah dari kelompok Syiah, tetapi ini tidak berarti bahwa kami adalah sektarian, bahkan tidak ada sama sekali dimensi atau pemikiran sektarian. Wahai saudaraku, apabila kami adalah orang¬orang Syiah, apa yang harus kami lakukan? Apakah kami harus mengubah identitas kami? Apakah kami harus mengubah kelompok kami untuk memuaskan hati semua orang? Kami tidak mungkin meninggalkan identitas ini dan Anda tidak mungkin mengingkari bahwa kami adalah orang-¬orang Islam.”

Kemudian Dayekh meneruskan pembicaraannya, “Semua orang mengetahui dan pemerintah pun juga, bahwa kami membawa senjata sejak permualaan terjadinya berbagai peristiwa. Kami terlibat dalam peperangan melawan terorisme Palestina dan menghentikan aksi kekerasan yang terjadi di wilayah selatan.”

Kemudian dia memuji Israel dengan mengatakan, “Kami sudah membawa senjata sebelum Israel masuk ke wilayah selatan, walaupun demikian mereka membuka kedua tangannya pada kami dan senang bisa membantu kami, mereka membasmi terorisme Palestina dari wilayah selatan dan lainnya. Kami tidak akan dapat membalas kebaikan mereka dan kami tidak akan meminta apa pun dari mereka agar kami tidak mengacaukan mereka.”

Pembaca…

Saya berharap, setelah memaparkan semua bukti-bukti pengkhianatan kaum Syiah dan kerja sama mereka dengan musuh zionis, setiap muslim hendaknya menjadi sadar dan dapat melihat setiap permasalahan yang ada yang berkaitan dengan langkah dan gerak mereka di berbagai negara muslim, secara lebih hati-hati. Masalahnya bukan hanya sekadar pembelaan negara yang semangatnya berkobar dan padam sesuai dengan fluktuasi politik yang ada.

Dalam kaitannya dengan pengkhiantan-pengkhiantan mereka, sebenarnya masih terdapat beberapa hal yang masih misteri, namun mudah-mudahan itu semuanya suatu saat akan terbongkar, mungkin oleh kita dan mungkin oleh generasigenerasi sesudah kita.

Sumber: Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, oleh Dr Imad Abdus Sami’ Husain, terbitan al-Kautsar.

Labels: ,

Friday, June 14, 2013

Burhanudin Muhtadi, Tokoh Liberal di Lingkaran LSI


SETELAH berselancar internet, mencari berita dan berdiskusi dengan beberapa teman di dunia maya, saya menemukan artikel yang menarik di academia edu. Artikel itu memuat tulisan (artikel ilmiah) dari Burhanuddin Muhtadi di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, yang berjudul “The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah”. Artikel berbahasa Inggris sepanjang 24 halaman itu intinya (dengan bahasa halus) Burhanuddin membela Yahudi dan memojokkan Majalah Media Dakwah yang pernah diterbitkan Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII). Amien Rais, Daud Rasyid dan kru redaksi Media Dakwah berada pada fihak yang salah dan William Liddle, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Harun Nasution pada fihak yang benar. Burhanudin, seolah-olah meniadakan adanya konspirasi Yahudi di dunia selama ini. Burhanuddin, saat ini aktiv pada Indonesian Survey Institute (LSI).

Artikel itu dimulai dengan sinisme kepada Harian Republika yang memberitakan tentang kejadian WTC 2001 silam.

“THE EVENTS of September 11th were reported with different nuances by various Islamic publications in Indonesia. The daily newspaper Republika published the headline: ‘4,000 Jewish employees did not attend work at the World Trade Centre (WTC) on 9/11.’1 This newspaper, which has a primarily Muslim-readership, sought to draw people’s attention to a grand conspiracy theory behind the tragedy. In addition to reporting the alleged absence of Jews from their work on the day of the explosions, Republika also made related claims that Ariel Sharon, the Israeli Prime Minister, was prevented from visiting New York and his planned speech to the United Jewish Communities of New York in September 2001 had been cancelled.”2

Not only did Republika promote the idea of the so-called Jewish conspiracy concerning September 11th, but Islamic-based magazines such as Media Dakwah, Suara Hidayatullah and Sabili also repeatedly published claims relating to the Jews. As the official magazine of the modernist-Islamist group DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia or Indonesian Council for Islamic Preaching), Media Dakwah has contributed to the creation and dissemination of Jewish conspiracy theories in the aftermath of September 11th.”


Peneliti politik andalan UIN Jakarta ini juga mengritik Mohammad Natsir karena selama ini beliau dinilai sinis terhadap Yahudi: “In addition, the founder of the DDII, Mohammed Natsir, was well known as a long standing anti- Semite. He characterized the Jews as, ‘worms on the leaves of banana trees.’ (halaman 4).

Dukungannya terhadap William Liddle, Nurcholish, Abdurrahman Wahid dan JIL tercermin dalam kutipannya:

“Since Nurcholish Madjid and AbdurrahmanWahid’s Islamic reform movement, in which scholars coined the term, the DDII has propagated the view that the Cultural Islam movement is a secular approach to understand Islam. In recent years the ideas underpinning Cultural Islam have undoubtedly become institutionalised through the Liberal Islam Network (Jaringan Islam Liberal), which is regarded as a continuation of renewal projects by Islamic neomodernists… In the following section, I will focus on the magazine’s views of Jews, especially in its emphasis on the issue of a Jewish conspiracy. To begin with, it emphasizes the controversial issue triggered by an American Indonesianist, R. William Liddle, who wrote an article entitled, ‘Skripturalisme Media Dakwah: Satu Bentuk Pemikiran dan Aksi Politik Islam Masa Orde Baru (Media Dakwah’s Scripturalism: One Form of Islamic Political Thought and Action in New Order Indonesia).’60 In the article, Liddle had to confront the dilemma of being a non-Muslim scholar who engaged with deep doctrinal issues. As will be outlined below, at the time of the publication of Liddle’s article, Media Dakwah was fighting for the refutation of Islamic reform issues pioneered by Nurcholish Madjid and Abdurrahman Wahid. Even though his article was descriptively accurate, its tone was sympathetic to the ideological rival of Media Dakwah. The magazine was labelled by Liddle as ‘scripturalist,’ while the other contending group as ‘substantialist.’61

In reaction to Liddle’s article, Media Dakwah produced a cover story outlining the responses of its own writers or the DDII supporters. A large picture of Liddle was published on the cover of Media Dakwah No. 230 (August 1993) with the title printed in a large capitals, ‘Menjawab Liddle’ (To Answer Liddle). This conveyed a strong message to rival publications, notably the Ulumul Qur’an Journal, in which Liddle’s article had previously been published.62

This particular cover caught my attention when I was looking through the Media Dakwah’ serials provided by the Menzies Library at the Australian National University (ANU), Canberra. Its caricature of Liddle behind a Star of David made a direct connection between the Liddle and Judaism, and by implication that Jews may have been responsible for the controversial article. In addition, Media Dakwah began the report with a short quotation from Amien Rais, “Saya tidak habis berpikir, bagaimana William Liddle, yang Yahudi “tengik” itu, dapat diberi halaman yang begitu panjang di Ulumul Qur’an’ (I could not understand why a rotten Jew William Liddle was given such a large space by the journal of Ulumul Qur’an).63

In fact, at the same time as the publication of Liddle’s article, the journal also published an article by noted Indonesian communication expert, Ade Armando, on the same topic, entitled ‘Citra Kaum Pembaru Islam dalam Propaganda Media Dakwah’ (The Image of Islamic Reformers in the Propaganda of Media Dakwah).64 Nonetheless, most of the reports in the edition were focused on Liddle with only a minor reference to Armando’s article. This appeared to be because Media Dakwah aimed to highlight a Jewish conspiracy embodied by Liddle, who was known as a Jewish follower, rather than Armando who is a Muslim. Aside from that, the magazine intended to launch counter attacks on Cultural Islam, which —according to Media Dakwah—largely benefited from the article written by Liddle.65
Burhanuddin juga membuat sub judul: Media Dakwah, Paranoia, and Conspiracy Theory. Dianggapnya Media Dakwah seringkali tulisan-tulisannya ‘reduksionis’ dan ‘menyederhanakan masalah.’

“As explained above, Nurcholish had launched his progressive thought before he began studying at Chicago University. He did not only study with Leonard Binder, but also with a number of professors at the university, including a Pakistan-born professor, Fazlurrahman. There are many issues covered by the magazine showing the extensive use of reductionism and oversimplification. Particular details of political, social, religious, and economic dimensions have been neglected in order to show that the root cause of human disasters is the Jews and, in effect, that the rest of the world suffers because of them.

Ex-post factum analysis has been employed to fix the magazine’s prejudice towards contemporary events.”

Burhanudin juga mendukung pendapat Liddle bahwa Yahudi juga mendapat keselamatan dalam Al Quran. Sebagaimana dinyatakan pembela pluralisme, seperti Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rahmat dll. Mereka menafikan puluhan ayat al Qur’an yang menyatakan bahwa kaum Yahudi adalah sering menolak perintah Allah, pembunuh Nabi dan terutama menolak kenabian Rasulullah Muhammad Shalallahu a’alaihi Wassalam.

Liddle, mendasarkan pada Surah al Baqarah ayat 62 yang menyatakan : “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Mayoritas ulama Islam menafsirkan ayat ini bahwa keselamatan itu didapatkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Dalam Tafsir al Manar jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, disebutkan bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya dan kebenaran agama tidak tampak bagi mereka. Karena itu mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi. (Lihat buku Dr Hamid Ilyas “Dan Ahli Kitap pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis Terhadap Keselamatan Non Muslim”). Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3 : 199), Mohammad Abduh dan Rasyid Ridha menetapkan lima syarat keselamatan, yaitu:

Pertama, beriman kepada Allah dengan iman yang benar, tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan

Kedua, beriman kepada Al Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat yang lainnya, karena Al Qur’an merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya, tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan

Ketiga, beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka

Keempat, rendah hati (khusyu’) yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan yang dituntut oleh iman


Kelima, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apapun dari kesenangan dunia.

Hal yang hampir sama dikatakan Sayid Qutb dalam tafsir fi Zhilalil Qur’an: “Ayat ini menegaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih di kalangan mereka semua, akan mendapat pahala dari sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Jadi penilaian itu berdasarkan hakikat aqidah bukan berdasarkan rasa tau kebangsaan. Ini tentu berlaku sebelum pengutusan Nabi Muhammad saw. Sedangkan sesudah pengutusan Nabi saw, telah ditetapkan bentuk keimanan yang terakhir.”

Dalam kesimpulannya akhirnya Burhanudin menyalahkan Media Dakwah, sebagai pendorong kaum Muslim Indonesia bersikap anti Semit dan paranoid terhadap Yahudi.

Kata Burhanuddin:

“Finally, Media Dakwah has contributed significantly to a boost in anti-Semitic attitudes among Indonesian Muslims in the way that the DDII-sponsored magazine triggers a paranoid mindset against Jews. Everything that happens that has negative effects towards Islam is attributed to the Jews. Concerning its ideological rivalries in the Cultural Islam movement, Media Dakwah has sought to delegitimise its opponents, most notably Nurcholish, with the strong claim that he was part of a Jewish international conspiracy. Using Bale’s conceptual framework of theories of conspiracy, it is clear that Media Dakwah is caught up in a conspiracy theory. This is not only a fantastic product of its paranoid style, but also a tool for mobilizing support against its “enemies.”

(Akhirnya, Media Dakwah telah memberikan kontribusi signifikan terhadap dorongan anti-Semit pada sikap kaum Muslim Indonesia, denan cara majalah yang disponsori DDII ini memicu pola pikir paranoid terhadap Yahudi. Segala sesuatu yang terjadi yang negative efek terhadap Islam dikaitkan dengan orang-orang Yahudi. Mengenai persaingan ideologis dalam gerakan Islam Budaya, Media Dakwah telah berupaya untuk mendelegitimasi lawan, terutama Nurcholish, dengan klaim yang kuat bahwa dia adalah bagian dari Konspirasi internasional Yahudi. Menggunakan kerangka konseptual Bale dari teori konspirasi, jelas bahwa Media Dakwah terperangkap dalam sebuah teori konspirasi. Ini tidak hanya produk yang fantastis gaya paranoid, tetapi juga alat untuk memobilisasi dukungan terhadap "musuh.")

Siapa Liddle?

R. William Liddle adalah ahli politik dari Amerika. Ia lahir pada 18 Januari 1938. Indonesianis (orientalis) ini dikenal sebagai pengamat politik Indonesia dan aktif menulis tentang permasalahan politik di Indonesia. Profesor dari Ohio State University ini mempunyai murid-murid yang ‘hebat’ yang berperan besar dalam perpolitikan di Indonesia. Di antaranya: Rizal Mallarangeng yang sekarang salah satu Ketua DPP Golkar, Saeful Mujani dan Denny JA perintis ‘Quick Count’ pemilu di tanah air dan Dodi Ambardi pemilik sebuah lembaga riset. Liddle telah melakukan pengamatan politik di Indonesia sejak tahun 1960-an hingga saat ini.

Ketika terjadi polemik sekulerisme Nurcholish di TIM 90-an, Liddle mendukung aktif Nurcholish. Ia secara terbuka menyatakan setuju konsep Nurcholish tentang ‘pluralisme agama’. Ia setuju adanya istilah Islam (I besar yang menunjuk pada institusi agama) dan islam (i kecil yang menunjuk pada makna kepasrahan diri. Ia bersepakat dengan tokoh paramadina itu, adanya istilah ‘yahudi islam’. Dukungannya yang kuat terhadap ide-ide Nurcholish tahun 90-an itu, yang menyebabkan pakar politik Amien Rais dengan spontan menyatakan Liddle sebagai ‘Yahudi Tengik’.

Dukungannya terhadap tokoh sekulerisme Indonesia ini juga nampak ketika Nurcholish sakit di Singapura. Jauh-jauh dari AS ia menjenguk dan menyalami Nurcholish yang dirawat di negeri Singa saat itu. Liddle juga bersikap sinis terhadap istri Eep Saefullah Fatah, Sandrina Malakiano, ketika mengubah penampilannya menjadi jilbab. Eep adalah bekas murid Liddle di Ohio State University.

Awal tahun 2013 ini ia meluncurkan buku terbarunya “Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan“ yang diluncurkan di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, 7 Februari 2013 lalu.

Ia pun tidak lupa akhir-akhir ini memberi komentarnya tentang ‘gonjang-ganjing’ PKS. Dalam wawancaranya dengan Radio Jerman, Deutsche Welle sebagaimana dikutip Suara Pembaruan Online ("Bill Liddle: Saya Khawatir Golkar Semakin Kanan, Suara Pembaruan, Sabtu, 9 Februari 2013 | 8:00).

Ia menyatakan terus terang tidak khawatir terhadap perkembangan PKS atau HTI, ia lebih khawatir adanya kecenderungan arah Golkar yang ke kanan (lebih Islami).

Ketika radio itu bertanya: Apakah anda melihat partai tengah seperti Golkar kini cenderung semakin kanan untuk menarik dukungan kelompok yang dulu memilih partai Islam? Bill Liddle menjawab: “Ya saya khawatir begitu. Ada kecenderungan partai tengah seperti Golkar sekarang semakin ke kanan. Saya khawatir Golkar menjadi ke-islam-islam-an (secara aspirasi politik-red). Itu lebih berbahaya, karena menyangkut perlindungan terhadap warga negara. Saya melihat di masa depan, kemungkinan kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah akan semakin terancam. Itu mengkhawatirkan karena mereka tidak mendapat perlindungan dari polisi serta sistem politik. Saya lebih khawatir soal itu ketimbang kemungkinan radikaliasi kelompok Islamis seperti PKS atau HTI (Hizbut Thahrir Indonesia-red).” Ia juga mengingatkan: “Anda harus ingat sejarah, dulu Golkar lebih populer di daerah daripada di Jawa, dan jangan lupa suara santri lebih banyak di luar Jawa. Lalu ketika terjadi perpecahan di partai Golkar tahun 1999, kelompok non santri seperti Edi Sudrajat hengkang, angkat kaki dari Golkar. Akibatnya, yang tinggal adalah orang seperti Akbar Tandjung yang punya jaringan santri (Akbar Tandjung dikenal sebagai tokoh HMI-red). Jadi Golkar sejak 1999 sudah menjadi lebih Islami ketimbang sebelumnya. Sudah lama saya menyaksikan partai besar seperti Golkar dan juga Demokrat, memposisikan diri untuk menampung aspirasi umat Islam. Bahkan ada pemimpin Golkar yang bilang kepada saya: kami ingin dianggap ramah terhadap Islam. Misalnya dalam Undang-Undang Anti Pornografi, Golkar mendukung undang-undang itu, dengan tujuan agar suara umat Islam masuk ke mereka.


Entah mengapa, Burhanudin Muhtadi cenderung mengikuti pendapat seorang orientalis, bahwa tidak ada konspirasi Yahudi. Ulah William Liddle mendukung penuh sekulerisme Nurcholish dan Leonard Binder (pakar politik Amerika) meluncurkan istilah ‘pertama kali’ Liberal Islam dengan penerbitan bukunya “Islamic Liberalism”, mungkin belum cukup baginya bukti adanya ‘konspirasi itu’. Bila pendirian negara Yahudi Israel 1948 dan pemboikotan besar-besaran kemenangan Hamas dalam Pemilu 2006 di Palestina, pun ditolaknya sebagai konspirasi Yahudi, jangan-jangan ia sendiri nun jauh di sana berkonspirasi dengan orientalis untuk meniadakan teori ‘konspirasi Yahudi’.

Bisa saja Media Dakwah dalam satu dua kalimat salah mengungkapkan makna. Tapi secara umum Media Dakwah benar. Konspirasi Yahudi benar adanya, baik terlihat maupun tidak dan apalagi mayoritas kaum Yahudi adalah pendukung negara Yahudi Israel. Hanya ‘satu dua’ atau minoritas yang menentang pendirian negara ini. Maka benar firman Allah SWT : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS Al Maidah 78-79). Wallahu a’lam bishawab.*

Profil Burhanudin Muhtadi :
PENDIDIKAN
  • SDN Kutoarjo I, Rembang (1990)
  • MTs Muallimin/at NU Rembang
  • MAN-PK (Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus), Surakarta (1996)
  • Bachelor of Islamic Theology and Philosophy, State Islamic University (IAIN Syarif Hidayatullah), Jakarta (2002)
  • Master pertama di ANU (Australian National University) Faculty of Asian Studies (MAPS)
  • Master kedua di ANU, konsentrasi bidang Ilmu Politik (research)
KARIR
Organisasi & Pekerjaan:
  • Aliansi Lembaga-lembaga Formal Kemahasiswaan Se-Indonesia (2000-2002)
  • Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (2000-2001)
  • Ketua Departemen Penelitian dan Pembangunan Intelektual BEM UIN Syarif Hidayatullah,  Jakarta (1999-2000)
  • FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat) pada tahun 1998-1999
  • Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (1996-2002)
  • Majelis Pengembangan Tilawatil Qur'an, Surakarta (1994-1995)
  • Peneliti Senior LSI (Lembaga Survei Indonesia).
  • Peneliti di CENSIS (Center fot the Study of Islam and Society).
  • Dosen di UIN Syarif Hidayatullah.
  • Editor-in-Chief for Bulletin of “Islam and Good Governance,” Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) Jakarta (2003 - 2004).
  • Anggota National Consortium of People’s Voter Education Network (JPPR) pada tahun 2004-2005.
  • Editor di Jaringan Islam Liberal, Jakarta (sejak tahun 2001).
  • Program Manager for Voter Education and Public Service Announcement UNDP and JIL(2004).
  • Program Manager for Voter Education at The Asia Foundation and JIL (2004).
  • Koordinator Penelitian, Moslem Perception on US Foreign Political Affair conducted by US Embassy, PPIM, JIL, LSI and Freedom Institute (2004).
  • Program Manager for Voters Education in General Election 2004 conducted by Japan International Cooperation Agency (JICA and JIL (2004).
  • Koordinator daerah and Peneliti di Indonesian Survey Institute (Lembaga Survei Indonesia/LSI) Jakarta (2003- 2006).

Labels: ,

Monday, May 6, 2013

Media, demokrasi, dan mekanisme sistem dajjal


“Akibat cara kerja sistem Dajjal, sudah pasti banyak orang yang menderita dan diperbudak olehnya, tetapi mereka tidak menyadari apa penyebab penderitaan ataupun bagaimana hakikat penjara yang mengungkung mereka. Sebagai hasil dari pengkondisian, mereka terus berperan aktif dan terkadang berperang penting dalam menjalankan sistem yang tanpa mereka sadari merupakan sumber kesakitan dan dinding penjara maya bagi diri mereka sendiri”


Ucapan di atas penulis kutip dari tulisan Syekh Ahmad Thompson, dalam buku fenomenalnya berjudul Dajjal The Anti Christ. Buku tersebut menjelaskan secara baik lagi rinci mengenai konspirasi Freemason dalam menaklukan dunia lewat hal-hal yang tidak kita fikirkan sama sekali. Bisa dikata, inilah curhatan Syekh Ahmad Thompson yang memang hidup di negeri masonik, Inggris, dan melihat ketelanjangan begitu rupa mengenai bobroknya sistem sekular.

Dalam bukunya itu, ia menjelaskan bahwa sejak hampir satu abad yang lalu dunia makin hari makin membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Kafir yang lebih cocok disebut sebagai Sistem Dajjal.

Syekh Ahmad Thomson berkeyakinan bahwa dewasa ini Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata sudah mewujud. Tinggal Dajjal sang individu atau oknum yang belum muncul. Seluruh nilai-nilai yang berlaku dalam sistem Dajjal secara diameteral pun bertentangan dengan nilai-nilai Sistem Kenabian. Sebab sistem Dajjal mutlak berisi nilai-nilai kekafiran sedangkan sistem Kenabian mengandung nilai-nilai keimanan.

Media Kafir dan Cara Kerja Sistem Dajjal

Salah satu yang menjadi isu penting dalam buku yang sudah tidak dicetak lagi itu adalah media. Kata Syekh Ahmad Thompson, pada dasarnya para pengusung sistem Dajjal adalah orang-orang yang mengendalikan media untuk bisa terus menciptakan ilusi apapun sekehendak mereka. Maka siapapun yang mempercayai peristiwa di media-media massa, sejatinya kata Syekh Ahmad Thompson justru mereka tidak mengetahui masalah yang sebenarnya.

Jika kita flash back ke bangsa kita, maka akan kita dapatkan bahwa secara bertubi-tubi Indonesia ditimpa “bencana” dan kasus yang datang silih berganti. Mata kita pun diajak untuk tidak dari lepas layar kaca mulai Skandal Bank Century, Mafia Pajak Gayus, Korupsi Menpora, Anas Urbangingrum, LHI, Djoko Susilo, dan serentetan kasus lainnya tidak putus-putus.

Dengan memunculkan serangkaian kasus ini, sebenarnya kita sedang digiring untuk berlelah mata dan pikiran hingga melupakan esensi utama dalam permasalahan ini. Kita diajak untuk hanya –sekali lagi hanya- memperbincangkan kasus, namun dijauhkan pada aksi dan tindakan nyata meretas masalah.

Ketika kita, sebagai umat Islam melontaran wacana untuk kembali ke hukum Allah sebagai pintu keluar dari drama problematika ini. Maka pada saat itu pula, cara kerja Sistem Dajjal akan beraksi, dimana sebisa mungkin peluang perbincangan itu akan ditutup. (Pembicara) Islam hanya akan ditampilkan seorang diri, sedangkan pembicara yang mengusung ide Sistem Dajjal berupa sekularisme akan dihadirkan sebanyak-banyaknya untuk menenggelamkan suara Islam.

Pada gilirannya, untuk mengalihkan masyarakat dari isu kembali kepada Islam sebagai jalan solusi, maka perangkat Sistem Dajjal pun akan memunculkan masalah baru, kasus baru, dan isu baru.

Kita memang sekarang sedang digiring untuk mengikuti pola pikir mereka, dan di saat bersamaan mereka sedang melakukan aksi-aksi lain mengantar kita kepada pola pikir yang murni demokratis.

Selain itu menggilir berbagai kasus secara beruntutan akan menyuburkan para analis-analis sekular dari Australia dan Amerika untuk mendekatkan masyarakat dengan sistem anti Tuhan. Kita digiring hanya untuk memperbicangkan masalah, menjadi pembicara, analis, pengamat, dan pencermat tapi minus solusi, terlebih solusi Islami.

Dua buah mata pun sehari-harinya diisi oleh perdebatan, chaos, konflik, tanpa diinisiasi mencari jalan keluar persoalan. Bahkan ada sebuah acara yang menghadirkan para hukum ternama, uniknya tidak ada solusi berarti dari para tokoh yang katanya paling mengerti hukum itu. Tidak jarang acara itu hanya berujung pada perdebatan dan masyarakat kembali dibingungkan.

Maka itu, kita dapat melihat bahwa pada sistem media saat ini semakin banyak acara-acara diskusi dari mulai pagi, siang, sore hingga ketemu pagi kembali. Bahkan melibatkan begitu banyak manusia. Semuanya serempak berbicara rumus-rumus dunia dan kita lupa apa yang sedang terjadi.

“Siapapun yang mempercayai peristiwa-peristiwa menurut media massa kafir, mustahil bisa mengetahui masalah yang sebenarnya,” kata Syekh Ahmad Thompson.

Yang kedua, hadirnya kasus ini seakan-akan lahir untuk mempertebal keyakinan masyarakat kepada demokrasi. Apa hubungannya? Bukankah citra demokrasi akan semakin bobrok dengan banyak kejadian ini? Pada kenyataannya sebaliknya, justru warna demokrasi semakin terang menyala. Masyarakat digiring untuk semakin yakin bahwa Negara kita belum sepenuhnya demokratis.

Akhirnya dari akumulasi dari itu semua, maka Sistem Dajjal akan melahirkan berbagai lapisan untuk mengerahkan keyakinan masyarakat tentang demokrasi. Muncullah KPK, Satgas Mafia Hukum, dan produk-produk pelaksana hukum buatan manusia lainnya yang tidak akan menyentuh akar persoalan. Semua elemen ini diciptakan untuk menarik kembali minat masyarakat kepada ide bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat itu.

Padahal cara kerja lembaga-lembaga ini sangat dikontrol oleh penampuk kebijakan. Ia tidak serta merta akan menjamin perubahan. Lihatlah nasib KPK saat ini. Apa yang bisa kita harapkan dari lembaga yang tebang pilih dalam menyelesaikan kasus itu? Lihatlah pula Mahkamah Konstitusi yang bertikai dengan salah satu kader partai penguasa.

Maka bagi Sistem Dajjal, mudah saja untuk menarik harapan masyarakat kembali tentang ilusinya tentang demokrasi, yakni menguatkan lembaga-lembaga tersebut ketika kondisi negara mulai genting hingga kemudian ada pemikiran bahwa di zaman reformasi ini, ide Demokrasi pun masih lebih baik ketimbang orde baru.

“Salah satu dalih yang sering dikemukakan politisi kafir, jika sistem kafir yaitu Sistem Dajjal dihujat adalah bahwa sistem ini mungkin tidak sempurna tapi masih lebih baik dari anarki,” kata Syekh Ahmad Thompson.

Kasus ini sama dengan kejadian agar para pekerja setia pada kapitalisme perusahaan. Untuk menutupi ketakutan para perkerjanya, maka perusahaan dalam basis sistem Dajjal akan memback-up pekerjanya dengan segala fasilitas agar mereka tetap bertahan disana, atau minimal terus loyal kepada kapitalisme dan materialisme.

“Sekecil apapun rasa aman pada pekerjaan, akan diluluhkan oleh pemberlakukan tawaran kontrak kerja jangka pendek dan ancaman PHK, dan ketakutan ini dijadikan sarana untuk menumbuhkan semangat kerja,” ujar Syekh Ahmad Thompson.

Ironisnya, umat Islam kini berbondong-bondong terperangkap pada jaring ini. Terperangkap cara kerja Sistem Dajjal yang berjalan dengan baik dan sempurna. Sebagian umat Islam meminta umat Islam lainnya untuk tidak berdiam diri (baca: ikut di parlemen). Bagi mereka diam adalah mati dan ramai-ramai menduduki kursi kuasa gengsi adalah keniscayaan. Padahal inilah yang memang diinginkan The New World Order dimana Umat Islam akan bertarung di panggung yang memang mereka ciptakan. Sebab bermain di kandang akan semakin mudah untuk menaklukkan sembari merekayasa lawan. Tak jarang kita lihat terkikisnya iman beberapa petinggi muslim yang masuk karena politik parlemen lewat kasus-kasus korupsi dan amoral.

“Kenyataan yang langgeng ini menandakan tidak saja tingginya kesangkilan para freemason, tapi juga menandakan betapa tingginya derajat pengendalian mereka atas rakyat banyak. Mungkin big brother tidak sedang mengawasi anda, tapi yang pasti dia sedang memprogram dan mengkondisikan anda.” tandas Syekh Ahmad Thompson.

Menyulap Penjahat Menjadi Malaikat

Selain itu, salah satu trik ampuh yang juga dilakukan sistem Dajjal adalah mengubah penjahat menjadi “malaikat” lewat jalur media. Mereka dengan begitu mudah merekayasa empedu menjadi madu. Trik inilah diperkenalkan oleh founding father dunia marketing, Edward Bernays. Y,a tokoh Yahudi sekaligus kemenakan langsung Sigmund Freud.

Ia menunjukkan (lebih tepatnya mengajari) bagaimana caranya perusahaan bisa membuat orang-orang ingin hal-hal yang sebenarnya mereka tidak perlu dengan cara sistematis lewat keinginan sadar mereka. Persis seperti saat kita gajian dan kita seakan terhipnotis untuk membeli produk yang sebenarnya tidak kita perlukan.

Bukti keberhasilan mind control Bernays adalah kampanye rokok perempuan di tahun 1920-an. Saat itu, Bernays berhasil membantu industri mengatasi salah satu tabu sosial terbesar masyarakat Amerika kala itu, yakni larangan perempuan merokok di depan publik. Dengan “cantiknya”, Bernays menampilkan seorang wanita muda sedang memegang rokok. Lewat teknik pemintalan kata-kata dan gambar film tentang ratusan wanita yang sedang merokok, maka sontak saja penjualan rokok di Amerika melambung tinggi dan para wanita pun seolah tersihir untuk merokok.

Maka itu Bernays pernah berkata dalam bukunya ‘Propaganda’, yakni “Kalau kita mengerti mekanisme dan motif-motif pikiran kelompok tertentu, kini mungkinlah untuk mengontrol dan mengarahkan massa menurut keinginan kita tanpa mereka mengetahuinya,”

Bernays memang memiliki track record mengendalikan opini politik publik. Peningkatan pesat Partai Nazi di Jerman tidak lain adalah hasil dari cara-cara marketing “brilian” Bernays. Ketika tokoh Nazi Joseph Goebbels meninggal, para aparat menemukan buku Propaganda karya Bernays di kamarnya. Bernays sendiri mendadak kaya raya. Berkat temuannya itu ia naik daun menjadi konsultan berbagai perusahaan besar Amerika.

Dalam negeri ini, kita masih ingat bagaimana SBY pernah naik daun setelah dipecat sebagai tampuk Menteri di rezim Mega. Keran simpati masyarakat pun mulai mengalir dan sedikit banyak mengantarkannya ke kursi Presiden RI tahun 2004.

Hal ini pula yang pernah terjadi pada naiknya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden tahun 1999. Dilihat dari berbagai sisi, sebenarnya tokoh ini tidak terlalu istimewa. Bahkan, Gus Dur pernah menjadi anggota MPR dari Golkar, ketika Soeharto masih dekat dengan Moerdani CS. Masih banyak tokoh yang lebih baik dari Gus Dur. Namun kepentingan asing yang sangat bertumpu kepada Gus Dur, mengingat Gus Dur terbuka pada ide liberalisasi, membawanya dapat melenggang mengungguli rival lainnya.

Begitu juga rekayasa citra Obama di Indonesia, yang hanya mengucapkan “nasi goreng dan bakso” publik pun tersihir. Obama pun diundang bicara tentang masa kecilnya, dan segenap pandangan kita terhadap aktor Zionis itu ikut memudar meski Invasi Obama terhadap negeri-negeri muslim masih berlangsung hingga kini.

Dan jangan aneh bisa para koruptor yang kini dihujat bisa sekejap mata menjadi pahlawan. Hanya dengan satu cara: membuka aib-aib kawan-kawannya, dan kita kembali terjebak pada diskusi-diskusi.

Terapkan Islam Seluruhnya Atau Tidak Sama Sekali

Maka itu, salah satu cara untuk mengenyahkan Sistem Dajjal adalah sebuah komitmen dalam diri umat muslim untuk menerima Islam sepenuhnya atau tidak sama sekali. Sebab komitmen ini akan sangat menakutkan bagi penampuk Sistem Dajjal. Inilah yang pernah terjadi kepada Sayyid Quthb. ‘Pembunuhan’ Sayyid Quthb adalah cara terakhir yang dilakukan Barat karena tidak juga berhasil merobah pola pikir Asy Syahid meski sudah digoda berkali-kali, dengan jalan kekuasaan, pendidikan, sampai wanita. Namun apa dampak dari itu semua? Semangat militansi untuk kembali kepada Islam yang sesungguhnya menjadi sangat besar pasca buku-buku Sayyid Quthb diterbitkan seusai kematiannya.

Oleh karenanya, benturan Islam vis a vis Sistem Dajjal belum akan usai. Islam akan terus dirongrong oleh media sistem Dajjal lewat berbagai arah. Pertama, Islam akan disudutkan sebagai agama teroris dan bukan bagian dari solusi. Kedua, Islam akan dilihat dari tindak-tanduk keburukan akhlak yang diciptakan oleh oknum-oknum Islam itu sendiri.

Hal ini lah yang pernah disinggung Sayyid Quthb, ketika Barat tidak fair dalam melihat Islam. Ketika Islam diperintahkan oleh Barat menyelesaikan masalah-masalah yang justru diciptakan oleh Demokrasi, Sosialisme, dan Kapitalisme. Oleh karenanya, dalam Bab Ambil Islam Seluruhnya atau tidak sama sekali dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, Sayyid Quthb menulis,

“Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapatnya mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Jadi tidak logis dan juga tidak adil, kalau dari suatu sistem tertentu diminta menyelesaikan dari masalah-masalah yang tidak ditimbulkannya sendiri, tetapi ditimbulkan oleh sistem lain yang berbeda watak dan metodenya dari sistem itu.”

Atas tantangan Barat itu, dengan pintarnya Sayyid Quthb membalas,

“Laksanakan Islam sebagai suatu keseluruhan dalam sistem hukum pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan, dan dalam prinsip-prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilang dengan sendirinya.”

Akhirnya semua ini seperti lagu masonik The Beatles yang berjudul Across the Universe, dimana John Lennon berkata, “Nothing Gonna Changes My Wolrd.” Ya tidak ada yang boleh merubah Sistem Dajjal dan media mereka akan terus bergerak sesuai tata kerjanya: penuh rekayasa dan manipulasi.

“Kita harus berusaha agar opini umum tidak mengetahui permasalahan sebenarnya. Kita harus menghambat segala yang mengetengahkan buah pikiran yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memuat berita lain yang menarik di surat kabar. Agen-agen kita yang menangani sektor penerbitan akan mampu mengumpulkan berita semacam itu.” Protokol of Zion ke 13.

Labels: , ,

Thursday, March 7, 2013

Ketika Isu Wahabi Dijadikan Alat Politik


Oleh: Abu Muhammad Waskito
Pengarang Buku Bersikap Adil Pada Wahabi

Tidak diragukan lagi, isu Wahabi sudah lama muncul. Buya Hamka rahimahullah pernah menulis seputar isu Wahabi di tahun 55-an, ketika menjelang Pemilu 1955. Waktu itu Partai Masyumi diidentikkan dengan Wahabi, lalu Buya Hamka memberikan penjelasan-penjelasan. Ternyata, sampai saat ini juga isu Wahabi masih dipakai dalam “permainan politik” seputar Pemilu dan Pilkada.

PKS sering diserang lawan-lawan politiknya dengan isu Wahabi ini. Sayangnya, mereka kurang bagus dalam diplomasi, seperti kasus Pilkada Jakarta kemarin, dimana PKS tidak mau dikaitkan dengan Wahabi; tetapi sembari memojokkan Wahabi juga. Cara begitu tidak benar.

Dalam hal ini ada kaidah dasar, yaitu:

Masyarakat Awam Cenderung Sensitif dan Simplisit. Perlu Komunikasi Khusus dalam Menghadapi Mereka.

[a]. Menjelaskan ke masyarakat awam tidak bisa dengan bahasa ilmiah, telaah mendalam, atau komparasi pendapat-pendapat. Bukan maqam mereka diajak berpikir dalam tataran ilmiah, apalagi akademik. Mereka perlu diberi penjelasan yangcespleng. Maksudnya, sederhana, tidak berdusta, tapi juga mudah mereka pahami.

[b]. Boleh saja siapa pun memiliki pendapat politik tentang Wahabi, atau bersikap kepadanya; tetapi jangan lalu memojokkan, jangan menyebarkan stigma (penodaan citra), jangan pula membohongi masyarakat. Hal-hal demikian bisa merusak ukhuwah dan persatuan ummat, serta mencerai-beraikan hubungan di antara sesama Muslim.

Nah, terkait upaya mengelola isu Wahabi di mata masyarakat awam ini, ada beberapa ide retorika diplomatis yang bisa disampaikan disini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Ketika seseorang, suatu lembaga, suatu partai, atau suatu gerakan ditanya: “Apakah Anda Wahabi atau bukan?” Jawabannya bisa positif, bisa negatif. Jawaban positif maksudnya meng-IYA-kan, jawaban negatif maksudnya men-TIDAK-kan. Kedua jawaban sama-sama boleh, tetapi argumentasinya harus baik dan tidak menyesatkan.

[2]. Atas pertanyaan di atas, bisa saja seseorang atau sebuah lembaga menjawab: “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi.” Lalu dijelaskan: “Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.” Atau jawaban lain: “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”

[3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi jugaMauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

[4]. Mungkin orang akan mendebat lagi: “Tapi kan orang Wahabi menghancurkan kuburan-kuburan, rumah-rumah para Sahabat Nabi, dan sebagainya?” Lalu dijawab: “Itu dulu, dan terjadi di Arab sana. Kalau di Indonesia tidak ada yang begitu. Wahabi dulu beda dengan sekarang. Wahabi di Indonesia beda dengan di Arab.”

[5]. Bisa juga diberikan jawaban negatif seperti: “Bukan, kami bukan Wahabi.” Jawaban begini boleh, sebagaimana bolehnya seseorang mengaku diri sebagai bagian dari Wahabi. Tetapi kemudian tambahkan penjelasan sebagai berikut: “Kami bukan Wahabi, tapi kami juga bukan musuh Wahabi. Kita semua ini Muslim, kita bersaudara. Kita diperintahkan oleh agama untuk saling bersaudara, saling berkasih-sayang, dan bantu-membantu dalam kebaikan.”

[6]. Atau berikan jawaban yang sekaligus berisi nasehat: “Sudahlah jangan diungkit-ungkit masalah Wahabi atau non Wahabi. Kita semua ini Muslim. Kita bersaudara. Kita harus bersatu-padu, saling tolong-menolong. Jangan berpecah-belah dan jangan pula memberi kesempatan agar musuh memecah-belah kita semua.”

Intinya, berikan penjelasan yang bersifat mudah, argumentatif, meskipun ia bersifat simplisit (menyederhanakan masalah). Karena memang kadar pemahaman orang awam sulit untuk diajak memahami yang rumit-rumit.

Sebuah contoh, Pak Prabowo Subianto sering mendapat stigma: “Buat apa memilih presiden yang pembunuh?” Maksudnya, beliau dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa Trisakti saat Kerusuhan Mei 1998. Bahkan pihak korban, aktivis LSM, juga kalangan media sangat mudah mengangkat isu Trisakti itu untuk membarikade Prabowo agar tidak menjadi Presiden RI. Sampai sejauh ini, tim Prabowo masih kesulitan mengatasi stigma-stigma itu.

Level berpikir orang kecil sangat mudah dipengaruhi hal-hal simplisit seperti itu. Maka ketrampilan komunikasi kita, perlu terus ditingkatkan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Rahiim.

Labels: ,

Sunday, January 13, 2013

Demokrasi, Inflasi dan Korupsi

Oleh: Muhaimin Iqbal

SEORANG professor di Frankfurt School of Finance and Management – Germany, Prof. Thorsten Polleit belum lama ini mengungkapkan teorinya bahwa faham demokrasi yang dianut di hampir seluruh dunia saat ini telah membawa dampak korupsi kolektif yang sangat besar yaitu berupa inflasi. Dengan tingkat keilmuan beliau – yang dipercaya sebagai Chief German Economist for Barclay Capital selama 12 tahun - tentu teori tersebut bukan teori yang tanpa dasar.

Demokrasi yang mengandalkan suara terbanyak membuat pemerintah-pemerintah di dunia berusaha memenuhi apa yang dikehendaki oleh rakyat banyak. Pemerintah atau penguasa berkepentingan dengan perolehan suara, sehingga beresiko terhadap kelangsungan keterpilihan mereka bila tidak merespon keinginan terbanyak ini.

Masalahnya adalah keinginan masyarakat terbanyak ini belum tentu yang terbaik dan yang benar bagi kepentingan keseluruhan negeri dalam jangka panjang. Masyarakat kebanyakan akan cenderung mengharapkan hasil jangka pendek, bukan solusi yang memerlukan kerja keras dan membawa kebaikan jangka panjang.

Dalam kaitan dengan pencetakan uang misalnya, jauh lebih mudah bank-bank central dunia berkolaborasi dengan pemerintah masing-masing mencetak uang lebih banyak lagi untuk mengatasi masalah-masalah sesaat yang menjadi perhatian publik – ketimbang mencari solusi permanen dan terbaik jangka panjang yang membuat jidat mengkerut!

Teori Prof. Thorsten Polleit ini nampaknya bisa kita saksikan langsung kebenarannya baik di negeri yang mengaku adikuasa seperti Amerika maupun apa yang kita alami di negeri ini.
Di Amerika saat ini yang menjadi isu besar adalah debt ceiling limit – batas atas hutang yang boleh dilakukan oleh pemerintah. Batas atas hutang sebesar US$ 16.4 trilyun yang diputuskan sekitar 1.5 tahun lalu tersebut kini sudah habis terpakai. Negeri itu dalam bahaya bila batas atas baru tidak berhasil disepakati antara eksekutif dan legislatif-nya dalam dua bulan ini.

Solusi yang akhirnya nanti dicapai tentu yang populer di pasar dan di rakyatnya yaitu menaikkan batas atas pinjaman ini, karena bila pinjaman dapat dinaikkan maka kehidupan masyarakat dan dunia usaha akan bisa berlanjut sebagaimana biasa - life as usual.


Tetapi masalahnya adalah apakah ini solusi terbaik? Solusi yang bersifat permanen jangka panjang? Jawabannya adalah bukan solusi terbaik, ibarat orang sakit hanya dihilangkan rasa sakitnya tetapi tidak diobati penyakitnya. Buktinya mudah sekali kambuh lagi, baru 1.5 tahun lalu penyakit yang sama diusahakan mati-matian diobati – sekarang sudah kambuh lagi.


Logika sederhananya adalah kalau tetangga Anda hidup mewah dengan credit card tetapi setiap saat dikejar-kejar debt collector, ketika mereka datang kepada Anda minta tolong – lantas solusinya apakah Anda menolong dengan meminjami mereka dengan credit card Anda, atau menasihatinya untuk hidup sesuai kemampuannya?

Yang pertama mudah dan menyenangkan tetapi membawa bahaya ke Anda juga dalam jangka panjang. Yang kedua pahit, membuat Anda tidak populer dihadapan tetangga Anda – tetapi itulah yang benar dan bisa menyembuhkan.

Hampir pasti solusi yang akan ditempuh Amerika adalah solusi pertama karena di masyarakat demokrasi mereka, pemerintah perlu populer meskipun dengan ini tumpukan hutang akan meninggi dan bebannya kembali ke rakyat dalam jangka panjang - hanya tidak atau belum disadari saja.

Hutang yang bertambah mendorong pencetakan uang yang lebih banyak, uang yang ada di masyarakat akan turun daya belinya secara menyeluruh – dan inilah inflasi yang menjadi korupsi kolektif itu. Inflasi menjadi instrumen legal untuk mengambil kekayaan masyarakat dengan paksa dan tanpa bisa dilawan, mudah dan yang diambil hartanya tidak segera merasa kehilangan.

Contoh kasus berikutnya adalah yang kita alami di Indonesia. Karena kita menganut demokrasi yang kurang lebih sama dengan yang di Amerika, maka keputusan-keputusan yang diambil oleh eksekutif dan legislatif kita juga cenderung untuk menyenangkan masyarakat banyak dalam jangka pendek.

Ambil misalnya krisis subsidi bahan bakar, keputusannya cenderung untuk menambah subsidi untuk mampu menekan harga bahan bakar sesaat – karena ini yang mudah, populer dan diharapkan oleh masyarakat banyak. Tetapi menambah subsidi ini kan bukan menyembuhkan penyakit? Dia hanya mengurangi rasa sakit sesaat.

Upaya penyembuhan penyakit yang sesungguhnya perlu kerja keras yang bisa pahit , tidak populer dan hasilnya jangka panjang. Hasil jangka panjang inilah yang tidak sesuai dengan kepentingan demokrasi – karena saat penyakit tersebut benar-benar sembuh sudah orang atau partai lain lagi yang mendapat gilirannya untuk berkuasa dan mendapatkan kredit-nya.

Kasus yang mirip dengan subsidi bahan bakar tersebut adalah masalah impor kebutuhan bahan pokok kita seperti kedelai, daging dlsb. Masih terngiang di ingatan kita bagaimana produsen tahu dan tempe menjerit atas tingginya harga kedelai? Apa solusinya? Solusinya impor yang lebih banyak.

Sesaat kemudian pedagang daging menjerit dengan tingginya harga daging, apa solusinya? Lagi-lagi membuka kran impor yang lebih banyak. Ini semua adalah obat penghilang rasa sakit dan bukan penyembuh penyakit.

Penyakitnya sendiri kambuh dalam skala yang lebih besar dengan wabah yang lebih luas. Berupa apa? Inilah defisit neraca perdagangan yang dialami negeri ini tahun 2012 lalu. Ini adalah defisit pertama sejak defisit terakhir 52 tahun lalu atau tepatnya tahun 1961.

Mengapa defisit neraca perdagangan ini ibarat penyakit adalah wabah yang lebih serius dan meluas? Karena meskipun mungkin gejalanya tidak atau belum kita rasakan – tetapi defisit ini akan menggerus nilai kekayaan siapa saja yang hidup di negeri defisit.

Karena kita lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi, maka kembali ki ibarat rumah tangga Anda – apa yang terjadi bila belanja keluarga Anda lebih besar dari pendapatan Anda?, makin lama makin miskin dan hutang akan semakin banyak.

Kalau sudah penyakit defisit ini kambuh, upaya penyembuhannya-pun bisa menyakitkan. Untuk mengurangi impor dan meningkatkan daya saing ekspor misalnya, salah satu instrumen yang biasa dipakai otoritas moneter adalah dengan menurunkan nilai uang kita.
Dengan cara ini barang-barang impor akan bertambah mahal dan kurang menarik, sebaliknya barang-barang ekspor kita terasa murah oleh uang negeri pengimpor.

Karena strategi menurunkan daya beli uang ini juga diketahui oleh seluruh negara lain di dunia, maka mereka berlomba menurunkan daya beli uangnya untuk bisa memenangkan persaingan pasar ekspor produk mereka masing-masing. Perlombaan menurunkan daya beli uang inilah yang sering disebut currency war – perang mata uang itu, perang untuk saling membanting harga uang!

Siapa korban perang dari currency war ini? Lagi-lagi adalah rakyat kebanyakan. Kekayaan mereka yang tersimpan dalam bentuk tabungan, deposito, asuransi, dana pensiun, tunjangan hari tua, dana kesehatan dlsb – semua yang terdenominasi dalam mata uang yang terlibat dalam currency war secara langsung maupun tidak langsung – menurun daya belinya. Inilah korban korupsi kolektif yang bermula dari demokrasi yang kemudian membawa kepada keputusan yang inflatif.

Lantas bagaimana kita dapat menghindarkan diri dari menjadi korban korupsi kolektif yang diteorikan oleh Prof. Thorsten Polleit tersebut di atas?

Pertama kita harus sadar dahulu bahwa kita sedang menjadi korban itu. Caranya adalah dengan mengecek penghasilan Anda, tabungan Anda, dana pensiun Anda dlsb. Apakah nilainya meningkat bila diukur dengan satuan yang baku – universal unit of account - atau malah menurun, bila ternyata menurun berarti Anda telah ikut menjadi korban korupsi kolektif itu.

Untuk mengecek pergerakan asset Anda tersebut dapat Anda gunakan Kalkulator Dinar di menu situs ini atau Kalkulator Point di www.indobarter.com .

Setelah ternyata Anda juga menjadi korban korupsi kolektif ini, maka amankan aset Anda dari Wealth Reducing Assets (aset-aset yang menjadi korban korupsi kolektif) menjadi Wealth Preserving Assets – yaitu aset-aset yang mampu mempertahankan kemakmuran pemiliknya. Yang kedua ini bisa Dinar/emas, property dan aset-aset riil lainnya yang terjaga nilainya.

Tahap berikutnya adalah mengupayakan agar aset-aset Anda menjadi Wealth Producing Assets, yaitu aset-aset yang meningkatkan kemakmuran Anda melalui usaha, perdagangan, pertanian, peternakan dlsb.

Tidak mudah, perlu kerja keras dengan berurai keringat dan kadang juga air mata, pahit dlsb. tetapi itulah obat yang sesungguhnya. Bukan sekedar penghilang rasa sakit, tetapi insyaAllah bener-bener menyembuhkan penyakit. InsyaAllah kita bisa menghindarkan diri dari menjadi korban masal dari wabah penyakit korupsi kolektif itu. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Labels: , ,

Saturday, November 24, 2012

Waspadai Operasi Intelijen dalam Kasus Agresi Zionis di Gaza

Abdillah Onim : Mujahidin sudah banyak di Gaza, Bantuan kemanusiaan lebih dibutuhkan
Hidayatullah.com—Banyaknya SMS yang beredar di masyarakat beridentitas Divisi Pemberangkatan Komite Pemberangkatan Pejuang Palestina (KP3) yang mencari relawan ke Jalur Gaza seiring agresi militer sejak Hari Rabu (14/11/2012) dinilai Direktur The Community of Islamic Ideological Analyst (CIIA), Harist Abu Ulya sebagai gejala yang perlu diwaspadai.

Menurut Harits, ini bukan karena ia menolak gagasan jihad membela Palestina dan rakyat Gaza, tetapi ia mengkhawatirkan ada operasi intelijen hitam dibalik SMS tersebut.

“Awas, ini bisa jadi jebakan inteligen apalagi perekrutan itu dilakukan oleh orang yang fiktif dan tidak memiliki latar belakang ormas Islam yang jelas,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai kegiatan “Halaqoh Peradaban Hizbut Tahri Indonesia” di Wisma Antara Jakarta, Kamis (21/11/2012) kemarin.

Harist mengingatkan pada umat Islam, bagaimana ketika Ustad Abubakar Ba’asyir (ABB) justru diseret ke pengadilan dengan mengundangan Undang-undang Terorisme, setelah “dijebak” pada kasus latihan jihad di Aceh. Menurutnya, latihan jihad dalam SMS yang belakangan muncul di masyarakat tersebut juga terjadi saat serangan Zionis-Israel ke Jalur Gaza.

“Tapi karena tidak dikoordinasikan akhirnya mereka justru jadi lahan jebakan intel untuk agar mudah dituduh teroris, ini bisa jadi boomerang,” jelasnya lagi.

Senada dengan Harist, Mantan Kasad Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto menilai masyarakat yang ingin berjuang ke Jalur Gaza sebaiknya melalui prosedur yang benar.

Tyasno mengkhawatirkan pemberangkatan relawan yang ingin berjihad di Jalur Gaza bisa dipolitisir. Menurutnya, hal itu sangat mungkin terjadi mengingat proyek perang terhadap terorisme ini terus mencari kambing hitam.

“Sudah jadi rahasia umum, bahwa terorisme itu harus ada (diciptakan, red), akhirnya siapa saja bisa dituduh terorisme. Kalau tidak ada penangkapan terorisme mana ada suntikan dana dari luar negeri. kan intinya disitu,” jelasnya kepada hidayatullah.com.

Tyasno menekankan, TNI siap memfasilitasi pemberangkatan relawan ke Jalur Gaza atau ke Suriah. Selama semua itu dilakukan melalui prosedur-prosedur yang positif.

Bahkan ia menjelaskan bahwasanya TNI itu berdiri diawali oleh Laskar Hizbullah dan Sabilillah buatan Masyumi. Sebelum Indonesia merdeka Masyumi sudah mendirikan laskar militer tersebut. Dan Laskar tersebut langsung di bina oleh tentara Pembela Tanah Air (PETA).

“Jangan jadikan TNI itu musuh, TNI itu akar berdirinya dari umat. Kalau perlu saya siap memfasilitasi kerjasama antara para relawan dan TNI. Jangan sampai umat dijebak dengan tuduhan terorisme” tegasnya lagi.

Sebelumnya, menurut Dr Jose Rizal, Presidium MER-C juga menjelaskan bahwa rakyat Gaza lebih membutuhkan bantuan kemanusiaan dibandingkan relawan mujahidin.

Menurutnya faksi-faksi mujahidin seperti Brigade Izzudin Al-Qassam dan elemen-elemen perlawanan lain di Jalur Gaza justru sangat berhati-hati dengan masuknya kelompok-kelompok baru di Jalur Gaza.

"Saya pernah ke sana dan bertemu mereka, relawan kami juga tinggal di sana dan menikah di sana. Hati-hati, karena bukan cuma di Indonesia, di dunia internasional juga banyak agen intelijen berpura-pura jadi mujahidin," tegas Jose Rizal kepada hidayatullah.com saat konferensi pers di kantor MER-C Jakarta.

Labels: ,

Friday, August 17, 2012

PM Erdogan, Modernis Turki yang Berjuang Mengganti Sekulerisme dengan Nilai-Nilai Islam

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, saat ini Recep Tayyip Erdogan adalah salah satu Perdana Menteri Turki yang paling sukses. Erdogan lahir pada tanggal 26 Februari 1954 di Rize, sebuah kota kecil di pantai Laut Hitam Turki. Anak dari lima bersaudara ini dulunya hanya hidup dari pendapatan sang ayah yang merupakan seorang penjaga pantai di Angkatan laut, di samping sebagai politisi Muslim.

Ketika Erdogan berusia 13 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Istanbul demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Erdogan kemudian masuk ke sebuah sekolah Islam. Lulus dari sana, ia melanjutkan studinya tentang manajemen bisnis di Istanbul Marmara University. Ketika masih aktif menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan gerakan politik yang berkembang di Negara Islam tersebut.

Bekal ketika menjadi aktivis kemahasiswaan itulah yang kemudian membantu perjalanan karirnya. Pada tahun 1994, ia mulai aktif dalam dunia politik dengan mengikuti pemilihan Walikota Istanbul, kota terbesar di Turki. Berkat kemampuannya dalam berpidato dan strategi-strategi kampanyenya, ia berhasil menduduki kursi Walikota Istanbul dengan dukungan sebagian besar warga ibukota Turki tersebut.

Pada bulan Januari 1998, pengadilan tertinggi Turki menutup partai yang ia pimpin dan melarang anggotanya untuk melakukan kegiatan politik. Ia kemudian ditahan karena dianggap berusaha untuk melemahkan dasar-dasar sekularisme negara tersebut.

Ia menjabat Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003. Ia juga seorang pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia.

Erdogan terpilih Sebagai Walikota Istanbul dalam pemilu lokal pada 27 Maret 1994. Dia dipenjara pada 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah.Ia menentang paham sekular di negaranya. Ia ingin mengembalikan Islam sebagai satu-satunya sistem dalam seluruh aspek kehidupan.

Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) pada tanggal 14 Agustus 2001. Dari tahun pertama, Partai AK menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki. Pada pemilihan umum tahun 2002, Partai AK memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun. Namun, karena masih dalam masa hukuman, Erdogan tidak bisa menjadi perdana menteri saat itu; sehingga Abdullah Gul, kemudian diangkat menjadi perdana menteri.

Pada bulan Desember 2002, Dewan Pemilihan Agung membatalkan hasil pemilihan umum 2001 karena disinyalir terjadi ketidakberesan pemilihan.Pemilihan baru dijadwalkan pada 9 Februari 2003. Di pemilu ulangan inilah ia kemudian kembali unggul. Erdogan pun diangkat menjadi perdana menteri.Walau berada di tengah masyarakat dan negara Turki yang sekuler, Erdogan dan partainya tetap ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam yang redup di negara yang pernah berdiri Kekhalifahan Islam terakhir ini.

Pada tanggal 4 Juli 1978, Erdogan menikah dengan seorang Muslimah bernama Ermine Gulbaran. Sang istri lahir pada tahun 1955 di Siirt. Dari pernikahan ini, Erdogan menjadi seorang ayah dari empat anak: Ahmad Burak, Necmettin (Najmuddin) Bilal, Sumayyah, dan Isra.

Setelah tamat di sekolah dasar dan menengah Islam, Erdogan melanjutkan kuliah di Universitas Marmara, fakultas ekonomi dan bisnis. Selain mengikuti pendidikan, pada usia 16 tahun, Erdogan muda ikut tergabung dalam tim sepak bola semi profesional. Selain itu, ia juga bekerja di perusahaan angkutan kota Istanbul.
Pada tahun 1980, Erdogan meninggalkan sepak bola dan bekerja di sektor swasta. Dua tahun kemudian, Erdogan terkena wajib militer dan sempat menjadi perwira dengan tugas khusus.

Ada peristiwa miris di tahun 1980. Saat itu, terjadi kudeta militer di Turki yang akhirnya mengeluarkan kebijakan pelarangan semua partai politik. Tiga tahun kemudian, akhirnya kebijakan tersebut mengalami pemulihan dengan membolehkan kembali partai-partai politik.

Sebelum pelarangan partai, Erdogan sudah bergabung dengan Partai Keselamatan Nasional yang Islamis pimpinan Najmuddin Erbakan yang dibubarkan militer. Ketika partai sudah diperbolehkan lagi di Turki, para mantan pengurus partai pimpinan Erbakan mendirikan partai baru yang bernama partai Refah atau Partai Kesejahteraan. Dua tahun kemudian, atau tahun 1985, Erdogan menjadi ketua partai tersebut untuk Provinsi Istanbul.

Pada pemilu 1991, Partai Kesejahteraan melampaui ambang 10 persen yang menjadi syarat memperoleh kursi di Dewan Nasional Agung. Dan saat itu, Erdogan terpilih menjadi anggota dewan mewakili provinsi Istanbul. Sayangnya, Komisi Pemilihan Pusat mencabut posisi Erdogan karena dianggap telah menyalahi sistem pemilu yang berlaku.

Tiga tahun kemudian, pada pemilu lokal yang diselenggarakan pada 27 Maret 1994, Partai Kesejahteraan memperoleh suara terbanyak untuk pertama kalinya di wilayah Istanbul. Dari kemenangan itu, Erdogan resmi menjadi wali kota Istanbul Raya serta Presiden dari Dewan Metropolitan Istanbul Raya.

Kepiawaian Erdogan dalam memimpin Istanbul menjadi bukti bahwa ia memang sanggup dan layak menjadi pemimpin umat. Ia berhasil membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pengadaan air bersih, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.

Dalam aspek moral, Erdogan pun tidak mau tinggal diam. Erdogan melarang segala praktik prostitusi dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada para wanita muda. Ia juga melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol walikota.

Selain soal pelacuran dan minuman keras, kasus korupsi juga tidak luput dari pembenahan. Sebelumnya, anggaran belanja Istanbul selalu minus. Dengan pembenahan yang dilakukan Erdogan, anggaran belanja menjadi plus, suatu hal yang belum pernah terjadi di pemerintahan daerah Istanbul. Ini semakin meningkatkan citra partai Rafah (kesejahteraan) di mata masyarakat.

Keistiqamahan Erdogan membuat para sekuleris di Turki gelisah. Dan saat itu, Erdogan memang menyatakan perjuangan demi Islamnya secara terang-terangan. Padahal, Turki memang masih menganut ideologi sekuler seperti Indonesia sampai sekarang.

Pernyataan Erdogan yang mengejutkan kaum sekuleris adalah, “Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya.” Kontan saja, para kaum sekuler memberikan peringatan kepada lembaga tinggi negara tentang ancaman yang bisa merongrong wibawa ideologi sekuler di Turki. “Kita harus melawan Erdogan. Karena ini ancaman serius untuk ideologi kita yang sudah dibangun oleh pendiri negara ini!”
Tahun 1998, Erdogan akhirnya dipenjara. Pengadilan memutuskan penjara 9 bulan untuk Erdogan. Ia dianggap mengkhianati asas Sekularisme negara. Dalam waktu yang sama, justru Erdogan mendapat simpati dari rakyat banyak karena karakternya yang berani menegakkan kebenaran. Selama ini, masyarakat Turki memang sudah muak dengan moto ideologi sekuler yang hanya berisi kebobrokan para rezim di Turki yang korup.

Dalam suatu jajak pendapat, Erdogan justru terpilih sebagai walikota terfavorit dari 200 walikota di Turki. Erdogan tidak kehilangan semangat dengan penangkapannya ini. Ia justru menggubah sebuah puisi karangan Ziya Gokalp, yang menambah semangat para pendukungnya, yang sebagian besar adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Turki.

Berikut puisinya (terjemahan bebas), Bahasa Turki:
Minareler süngü, kubbeler miğfer Camiler kışlamız, mü’minler asker Bu iláhi ordu dinimi bekler Allahu Ekber, Allahu Ekber.

Bahasa Indonesia:
Masjid adalah barak kami, Kubah adalah helm kami, Menara adalah bayonet kami, Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini menjaga ad-Din kami. Perjalanan suci kami adalah takdir kami. Akhir tujuan perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setelah Partai Rafah dibubarkan oleh dewan nasional karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara sekuler Turki, pada Agustus 2001, Erdogan mendeklarasikan partai baru yang bernama Partai Keadilan Pembangunan (AKP: Adalet ve Kalkinma Partisi, yang artinya putih, bersih, dan murni). Meski tidak secara tegas mencantumkan asas Islam karena hal itu memang dilarang, orang-orang AKP sudah dikenal masyarakat Turki sebagai penerus perjuangan Erbakan.

Meski baru berusia 12 bulan, pada pemilu 3 November 2002, AKP secara fantastis meraih 34,1 persen suara. Perolehan ini menjadikan AKP sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan partai-partai nasionalis dan sekuler.

Karena masih berstatus terpidana, Erdogan tidak boleh menjabat sebagai perdana menteri. Dan jabatan itu dipegang oleh wakil ketua AKP, Abdullah Gul. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret 2003, setelah kasus tuduhan terhadap Erdogan dianggap selesai dan disetujui parlemen, Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri menggantikan Abdullah Gul.

Salah satu kebijakan Erdogan yang dianggap mengkhianati ideologi sekuler Turki adalah pencabutan larangan memakai jilbab. Padahal, sejak pendirian negara Turki sekuler oleh Mustafa Kemal Ataturk, jilbab sudah tidak lagi diperbolehkan berada dalam dinamika pemerintahan dan masyarakat Turki.

Karena pelarangan jilbab itulah, Erdogan terpaksa menyekolahkan anak-anak gadisnya ke Amerika dan Eropa yang memang membolehkan siswi berjilbab. Hal ini karena demi menjaga jilbab agar tidak lepas dari busana anak-anak wanitanya.

Fenomena inilah yang diperjuangkan Erdogan di Turki. Menurutnya kepada publik Turki, bagaimana mungkin Eropa dan Amerika yang jauh lebih sekuler dari Turki masih membolehkan siswi untuk mengenakan jilbab. Sementara Turki malah melarang. Erdogan pun akhirnya mengangkat logika ini untuk menyerang para anti Islam yang berlindung di balik topeng ideologi sekuler.

Akhirnya, pada pemilu 2007, partai yang dipimpin Erdogan mendapatkan suara yang sangat luar biasa, 46, 7 persen. Suatu perolehan yang belum pernah terjadi di pemilu Turki secara demokratis. Angka ini menjadikan AKP memperoleh 340 kursi dari 550 kursi parlemen.

Dalam kemenangan itulah, Erdogan dan partainya mengajukan proposal RUU Paket Demokrasi. Yang di antaranya, undang-undang yang membolehkan jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah.
Keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina, membuatnya secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melakukan lobi demi mendukung perjuangan Palestina. Dalam diskusi internasional ‘World Economic Forum’ di Davos, Swiss, yang dihadiri Presiden Israel Shimon Peres, Sekjen PBB Ban Ki-Moon, dan Amir Moussa, Erdogan yang duduk di samping Presiden Israel Shimon Peres menyatakan, “Israel adalah negara yang lebih daripada sekadar biadab.” Ia menatap tajam mata Presiden Israel Shimon Peres yang seolah cuek saja dengan Erdogan. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum.

Walau masih tidak terang-terangan menyatakan menegakkan syariat Islam di Turki, Erdogan dan partainya sudah berhasil meyakinkan masyarakat Turki yang sudah sekian puluh tahun terkungkung dalam topeng sukuler Turki kepada pembangunan nilai-nilai Islam yang universal.

Labels:

Sejarah Muslim Rohingnya, Sudah Ada Jauh Sebelum Burma Merdeka

Dalam rangka lebih memahami akar sejarah Muslim Rohingya dan perkembangannya hingga saat ini, berikut kami coba segarkan pengetahuan dan pemahaman kita berkaitan dengan tema ini. Untuk itu, wawancara hidayatullah.com dengan Heru Susetyo, dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA), Rabu (25/7/2012) lalu kami share kembali ke hadapan pembaca.

Heru Susetyo adalah seorang praktisi hukum yang peduli atas kezaliman yang diderita umat maupun kelompok Islam di berbagai tempat. Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI ini mendirikan PIARA. Kunjungannya ke Myanmar banyak menyadarkannya bahwa Myanmar sebenarnya adalah negara yang kaya. Inilah petikan wawancaranya:

Bagaimana Sejarah Awal Muslim Rohingya?
Sejarahnya panjang. Sebagai etnis, mereka sudah hidup di sana sejak abad 7 Masehi. Tapi sebagai Muslim dengan nama kerajaan Arakan, mereka sudah mulai ada sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Jadi sekitar 3,5 abad mereka dalam kekuasaan kerajaan Muslim hingga mereka diserang oleh Kerajaan Burma, dan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu mereka dibawa menjadi bagian dari British India yang bermarkas di india. Meski India saat itu juga belum merdeka.

Kemudian berjalan bertahun-tahun lamanya sampai tahun 1940-an. Ketika Burma merdeka tahun 1948, ada 137 etnis yang ada di Burma. Sejak itupun, Myanmar tidak mengakui keberadaan mereka sebagai etnis yang ada di tanah Burma. Padahal ketika merdeka, Burma memasukkan negara bagian Arakan sebagai bagian dari Burma, namun setelah itu orang Rohingya atau Muslim Arakan tidak diakui sebagai etnis yang eksis di sana. Jadi ini masalahnya, padahal mereka sudah ada sebelum Negara (Burma) ada. Mereka dinilai minoritas dari segi warna kulit dan bahasa serta dianggap lebih dekat kepada orang Bangladesh. Walaupun mereka bukan orang Bangladesh.

Mana Istilah yang tepat bagi mereka, Rohingya atau Arakan?
Arakan itu nama provinsi. Kalau dalam Bahasa Inggris disebut Rakhine atau Rakhain. Sedangkan Rohingya adalah istilah yang dikenakan oleh orang luar (peneliti asing) pada abad 18-19 M.  Mereka sendiri menyebut diri mereka sebagai orang Muslim yang tinggal di Provinsi Arakan (Muslim Arakan). Cuma belakangan dikenal sebagai orang Rohingya. Karena ternyata di Arakan terdapat Muslim yang bukan berasal dari Arakan saja, tapi juga ada Muslim dari Bangladesh, juga dari bagian lain di Burma.

Selain etnis Arakan, ada etnis Muslim lain di Myanmar?
Banyak. Saya pernah mengadakan kunjungan lapangan ke Burma tahun 2008-2009. Saya mengunjungi Burma tiga kali. Saya datang ke ketiga kota; Yangoon, Mandalay, dan Pyin Oo Lwin. Dan saya mengunjungi 8 masjid di tiga kota itu. Peninggalan berupa masjid di sana banyak. Dan Muslim tidak hanya berasal dari Arakan, ada Muslim Burma, Muslim China, ada juga Muslim imigran dari India dan Bangladesh. Dan jumlahnya cukup signifikan. Bahkan di kota Mandalay, kota terbesar kedua di Burma, saya hitung ada 8 masjid. Di Yangoon lebih banyak lagi. Secara garis besar, mereka hidup lebih baik dari Muslim Arakan. Hanya Muslim Arakan yang hidup tertindas, dipinggirkan, dan tidak pernah diakui oleh pemerintah.

Bagaimana awal konflik Muslim Arakan terjadi?
Sejak sebelum Burma merdeka, tahun 1942, sudah ada aksi kekerasan kepada orang Rohingya. Ribuan orang Rohingya dibunuh. Baik oleh negara maupun etnis mayoritas, karena mereka dianggap minoritas dan bukan bagian dari Burma. Kemudian berulang terus setelah Burma merdeka, ada operasi-operasi tentara yang sering kali dilakukan sejak tahun 1950-an.

Yang paling sadis adalah Na Sa Ka Operation, di antaranya dengan metode kekerasan, pengusiran, Burmanisasi, halangan untuk menikah, dan pemerkosaan. Jadi ini adalah state violence, dimana negara melakukan genosida, etnic cleansing (pembersihan etnis), tapi kemudian berkembang menjadi kejahatan sipil antar orang Rohingya dengan orang Arakan lainnya yang non-Muslim.

Tapi saya berpikir positif bahwa orang Arakan non-Muslim sebenarnya cukup peaceful (tenang). Orang Budha itu peaceful, mereka non violence. Cuma saya kira mereka terprovokasi oleh media, pemerintah, dan agitasi dari tokoh-tokoh yang tidak bertanggung jawab sehingga timbul kekerasan. Konflik atas dua etnis itu jarang terjadi. Yang terjadi biasanya adalah konflik negara dengan orang Rohingya. Tapi sekarang jadi konflik horizontal. Dan saya yakin ini ada kepentingan di balik kekeruhan itu.

Jadi sebelum ini warga Budha dan Muslim relatif tidak pernah terjadi benturan?
Sejauh data-data yang saya miliki, konfliknya selalu vertikal. Tapi menjadi horizontal karena ada-tokoh yang memprovokasi. Karena Budha selama ini sebagai agama cukup peaceful. Saya kenal banyak orang Budha Burma, tidak ada yang namanya sikap perlawanan yang keras.

Sebenarnya mengapa Muslim Rohingya Ditakuti? Bukankah mereka minoritas?
Di mana pun mayoritas ingin menghegemoni kepada etnis yang berbeda. Ada istilah Myanmar for Burmese, not for moslem (Myanmar hanya untuk Burma, bukan untuk Muslim). Saya kira itu kurang sehat. Karena sejatinya di Myanmar itu tidak hanya orang Burma, ada banyak etnis di situ. Sementara orang Rohingya ini agamanya sudah beda, dan etnis juga sudah jauh. Sebagai Muslim dia juga berbeda dengan agama lainnya di Myanmar. Orang Rohingya tidak makan babi, (tidak) minum minuman keras, (tidak) menyembah dewa-dewa, itu halangan dari segi kultural.
Dari segi jumlah memang tidak menakutkan. Nah ini masalah jumlah juga tidak jelas.Sensus selama ini tidak mendapati angka yang sebenarnya. Ada yang 1 juta, ada yang 3.6 juta.

Jadi saya kira, pemerintah Myanmar tidak takut dengan jumlah tapi bahwasanya dari awal orang Rohingya dianggap stateless (tidak punya kewarganegaraan). Alasannya memang tidak jelas. Cuma karena mereka berbeda saja. Mungkin mereka tidak nyaman, dan secara sejarah mereka dinilai orang Benghali, bukan Burma.

Maka pernyataan terakhir dari Presiden Myanmar itu menyakitkan. Bahwa supaya orang Rohingya dipindahkan ke negara lain. Ini pernyataan kurang ajar. Padahal mereka sudah tinggal di situ sejak berabad-abad lamanya.

Ada yang mengatakan jika dibiarkan Muslim Arakan akan kembali membuat Kesultanan Islam?
Saya kira itu kecil kemungkinan. Arakan tidak hanya ada Muslim. Arakan Selatan itu kebanyakan non Muslim. Untuk membuat negara jauh panggang daripada api. Itu juga bukan target dari mereka. Mereka hanya ingin diakui seperti warga Myanmar lainnya. Beda dengan Muslim di Selatan Thailand atau di Moro, Filipina, mereka mungkin punya target ke arah sana, tapi beda dengan orang Rohingya. Mereka tidak punya sumber daya, karena jumlahnya sedikit, sekolah juga tidak. Akses ke ekonomi politik juga tidak tersedia. Karena Burma juga negara miskin, tetangga mereka Bangladesh juga miskin. Jadi jika mereka ingin membuat negara sendiri juga tidak menyelesaikan masalah, tapi minimal mereka ingin ada pengakuan.

Bisa dijelaskan pengalaman Anda mengunjungi Myanmar?
Dari segi alamnya indah dan luasnya terbesar kedua setelah indonesia di Asia Tenggara. Tapi mungkin seperti mutiara terpendam karena tidak dipoles dengan bagus. Orang pun tidak tahu banyak tentang Myanmar karena media dan internet pun disensor. Televisi juga jarang.

Ketika saya ke sana, negara tersebut penuh dengan tentara yang membuat kita tidak leluasa. Saya punya teman orang Burma, ketika saya ke sana, mereka mengatakan, ‘Jangan bicara politik di sini, kamu akan membahayakan kami.’ Jadi ada pembatasan yang membuat tidak nyaman. Jangankan bagi orang asing, orang sana pun merasa tidak nyaman.

Kalau secara fisik, saya melihat seperti Indonesia tahun 1980-an. Saya tidak melihat ada gedung bertingkat seperti di Sudirman-Thamrin. ATM tidak ada, money changer jarang sekali, telepon seluler juga sangat mahal, dan listrik pun byar pet, suka mati. Jadi ini konyol, penduduknya nyaris 90 juta, tapi tidak banyak orang mengetahui tentang Burma.

Ada Transisi Demokrasi di Myanmar Sekarang, Apakah Ini Akan Berdampak bagi Muslim di Arakan?
Masalahnya Aung San Suu Kyi sendiri diam. Karena mungkin dia punya kepentingan lain yang lebih besar untuk mendemokratiskan Burma, jadi seperttinya dia tidak mau mengambil risiko. Lebih baik dia tidak mengambil masalah dengan membicarakan Rohingya, daripada agenda besar dia tidak bisa dijalankan. Dan iklim demokratisasi itu tidak bisa langsung mengubah semuanya. Bagaimanapun Junta militer masih berkuasa. Meski dia (Su Kyi) punya kursi di parlemen, itu tidak langsung membuatnya berkuasa. Dan apakah berdampak bagi Rohingya, ini masih perlu dibuktikan. Kita juga menunggu peran aktif dari Suu Kyi, beranikah dia bicara tentang Rohingya.

Apa yang bisa kita bantu untuk Muslim Rohingya?Bantuan bisa bermacam ragam , yang jelas yang mereka butuhkan sekarang adalah status sipil sebagai warga Negara dan bahwasanya mereka punya kebebasan seperti warga Negara yang lain. Bebas untuk menikah, bebas untuk punya anak, bebas dari perbudakan, bebas sekolah, bebas mendapatkan akses kesehatan. Jadi itu yang mereka minta, kebebasan, keadilan, dan akses yang sama. Hentikan pemerkosaan, pembunuhan, kesewenang-wenangan, jangan ada Burmaisasi terhadap orang Rohingya.

Untuk Negara-negara penerima pengungsi, agar tidak mengusir mereka. Perlakukan mereka dengan baik. Dan jangan ikuti saran Presiden Thein Sein untuk memindahkan mereka ke negara ketiga. Pertanyaannya, negara mana yang mau menerima mereka? Karena Negara-negara sekarang juga punya masalah dengan penduduknya.

Mereka juga butuh bantuan lainnya seperti sandang, pangan, papan, tapi masalahnya bantuan juga sulit bisa masuk. Karena akses ke sana dibatasi oleh pemerintah Myanmar.

Uang juga sukar, karena Bank di Myanmar seperti bank zaman dulu, bagaimana mau ambil uang jika ATM tidak ada? Untuk buka account, itu juga bukan masalah sederhana karena mereka tidak punya ID Card (KTP). Yang bisa kami lakukan sekarang adalah melakukan advokasi dengan sesama Muslim Myanmar yang tinggal dalam pelarian di Jepang, Malaysia, Thailand, dan London. Mereka lebih vokal, karena lebih aman.

Labels: ,