Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Thursday, April 4, 2013

#7 Tips Komunikasi dalam Kerja


1.Utamakan komunikasi tatap muka langsung. Komunikasi jarak jauh via email, SMS, Messenger, atau telepon pada dasarnya adalah alat komunikasi darurat dengan segala keterbatasannya, sehingga resiko kesalahpahaman dalam menangkap atau menyimpulkan suatu pesan masih ada. Dengan komunikasi tatap muka langsung, ekspresi, bahasa tubuh lawan bicara dapat terlihat langsung dan segala hal yang kurang jelas dapat langsung dikonfirmasi saat itu juga untuk menghindari kesalahpahaman

2.Tumbuhkan minat dahulu kepada lawan bicara ketika mulai berkomunikasi. Biasanya minat berkaitan erat dengan kepentingan pribadi/golongan, baiknya gunakan kalimat pembuka yang mengindikasikan keuntungan/kelebihan lawan bicara

3.Bangun keakraban di awal interaksi dengan menyamakan postur tubuh, nada & volume suara, dan topik pembicaraan.

4.Sampaikan pesan dengan jelas dan spesifik. Hal tersebut untuk meminimalisasi kesalahpahaman dalam menerima pesan

5.Jadilah pendengar yang baik bagi rekan Anda. Pepatah mengatakan bahwa pembicara yang baik adalah mereka yang mampu membuat lawan bicaranya terusdan nyaman berbicara.

6.Hargai lawan bicara dan sampaikan kritik dengan sebaik baiknya dalam suasana yang tepat.

7.Apabila terjadi konflik, segera cari mediator yang tepat untuk mengembalikan kenyamanan dalam berkomunikasi.     

Labels: , , ,

Wednesday, January 16, 2013

Kronologi Pemecatan Luviana & Bobroknya Manajemen Metro TV

Luviana, jurnalis Metro TV, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Bekerja di Metro TV sejak 1 Oktober 2002. Tahun 2007 diangkat sebagai asisten produser. Berikut kisah singkatnya:

Temuan Luviana:
1. Macetnya saluran komunikasi antara manajemen redaksi dengan para jurnalis, terutama dengan para produser/asisten produser.

2. Ketiadaan penilaian terhadap kinerja karyawan yang dilakukan oleh manajemen redaksi. Kondisi ini berakibat, tidak ada indikator yang secara objektif bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja seorang karyawan. Penilaian lebih didasarkan pada rasa suka atau tidak suka. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan terhambatnya jenjang karir dan penyesuaian gaji karyawan. Kondisi di atas terjadi bertahun-tahun lamanya, tanpa ada perbaikan dari tingkat manajemen redaksi.

Berdasar pada situasi inilah, saya dan beberapa teman kemudian melakukan upaya bersama untuk membuat sebuah perubahan di Metro TV:

1.Mempertanyakan soal sistem penilaian terhadap para asisten produser dan beberapa jurnalis lainnya kepada manajemen redaksi. Namun pertanyaan kami tidak pernah mendapatkan jawaban. Selanjutnya, bersama 14 orang asisten produser lainnya, pada Agustus 2011 kami mengajukan surat untuk mempertanyakan persoalan ini kepada pihak manajemen redaksi.

2.Surat yang kami tujukan kepada manajemen redaksi, dijawab dengan pernyataan secara lisan oleh Dadi Sumaatmadja (Kepala Produksi berita saat itu), bahwasanya kami diminta untuk melakukan introspeksi diri kenapa tidak diangkat menjadi produser hingga sekarang. Pihak manajemen pun sekali lagi tidak dapat menunjukkan hasil penilaian yang terukur terhadap kinerja dan kemampuan kami.

3.Lebih kurang sebulan lamanya kami tidak mendapatkan jawaban dari manajemen redaksi soal draft penilaian untuk para produser/ assisten produser ini.

4. Kami kemudian berupaya menemui Direktur utama (Dirut) Metro TV yang baru, Adrianto Machribie. Kami menyatakan bahwa ingin mengadakan pertemuan untuk membahas soal buruknya manajemen redaksi yang berakibat pada terhambatnya penjenjangan karir dan gaji karyawan ini. Dirut Metro TV kemudian mengundang semua produser dan asisten produser untuk bertemu. Pada pertemuan tersebut, semua produser/ asisten produser yang hadir menyatakan kekecewaannya pada manajemen redaksi yang kami nilai menjalankan manajemen dengan buruk (tidak ada penilaian yang terukur, kebijakan yang subjektif hingga macetnya komunikasi di antara kami). Dirut Metro TV berjanji akan memperbaiki manajemen redaksi dan membentuk tim untuk memperbaikinya.

5. Dari berbagai kasus ini, maka saya dan beberapa teman kemudian membentuk organisasi karyawan untuk menyelesaikan beberapa persoalan di redaksi Metro TV, karena masalah ini tak hanya menimpa asisten produser dan produser, namun juga menimpa teman-teman kami yang lain yang punya persoalan dengan gaji, jenjang karir dan status mereka. Organisasi karyawan yang kami bentuk ini sebagai wujud keprihatinan kami terhadap buruknya manajemen redaksi Metro. Kami berharap dengan adanya organisasi ini, ke depannya bisa menjembatani komunikasi yang sehat antara manajemen dan karyawan seperti halnya yang ada dalam organisasi serikat pekerja.

6. Pada 22 Desember 2011, Dadi Sumaatmadja meminta saya untuk pindah ke program acara Metro Malam. Di saat yang sama, saya juga memberikan evaluasi pada program Metro Malam yang banyak melakukan pelanggaran HAM dan tidak sensitif gender, misal: menayangkan wajah tersangka secara terbuka, menayangkan wajah Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sedang dikejar-kejar petugas keamanan secara terbuka dan menayangkan tayangan-tayangan kekerasan secara vulgar. Saya ungkapkan bahwa tayangan seperti ini melanggar Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran serta melanggar Kode Etik Jurnalistik. Namun justru manager HRD menyatakan bahwa oleh manajemen redaksi, saya dinilai membangkang dan terlalu banyak mengkritik. Padahal kritikan ini didasari untuk perbaikan program siaran agar punya perspektif yang baik yang akan disajikan kepada pemirsa Metro TV.

7. Perlakuan manajemen redaksi yang subjektif dan tidak juga memberikan solusi ini akhirnya membuat puluhan produser dan assisten produser kecewa. Kurang lebih 30 orang produser dan assisten produser Metro TV kemudian memutuskan untuk keluar. Mereka sudah tidak tahan atas perlakuan dan penilaian secara subyektif dari manajemen redaksi Metro TV.

8. Pada Tanggal 26 Desember 2011, saya mulai bertugas di program siaran Metro Malam. Sementara beberapa pembenahan kemudian mulai dilakukan oleh Direktur Utama Metro TV, Adrianto Machribie, mulai dari pembenahan kedudukan/ organisasional manajemen redaksi, pemberian assesment pada semua karyawan hingga pembenahan ruangan di Metro TV yang kini lebih terbuka.

9. Pada Awal Januari 2012, manajemen redaksi memberikan kenaikan gaji kepada beberapa karyawan. Kenaikan gaji yang dilakukan hanya untuk beberapa assisten produser ini dilakukan secara tertutup dan dengan menggunakan surat khusus dari manajemen redaksi. Kami menyambut baik kenaikan gaji ini, namun amat kami sayangkan, kenaikan gaji ini tidak dilakukan secara transparan dan hanya terjadi pada beberapa orang saja. Sekali lagi, penilaian dilakukan atas dasar suka dan tidak suka. Hal ini terbukti ketika soal kenaikan gaji tersebut saya tanyakan pada pihak HRD Metro TV. Pihak HRD Metro TV menyatakan bahwa memang ada surat khusus dari manajemen redaksi untuk menaikkan gaji pada beberapa orang assisten produser saja.

10. Selanjutnya, pada hari Jumat, 27 januari 2012 manajemen redaksi membagikan bonus dari perusahaan. Namun, pembagian bonus ini kami nilai diskriminatif. Hal ini dikarenakan, ada karyawan yang tidak mendapatkan bonus. Ada juga karyawan yang hanya mendapatkan bonus 0,25 kali gajinya, namun ada karyawan yang mendapatkan bonus hingga 5 kali gaji. Kami sangat menyayangkan hal ini. Di saat Direktur Utama Metro TV melakukan beberapa pembenahan, justru manajemen redaksi memberikan keputusan yang sangat subyektif dan selalu didasarkan dari rasa suka dan tidak suka.

11. Berangkat dari situasi yang tidak fair ini, saya dan beberapa teman kemudian mempertanyakan soal surat khusus kenaikan gaji beberapa orang assisten produser dan soal pemberian bonus ini kepada kepala produksi berita Dadi Sumaatmadja. Saya juga meminta diadakan pertemuan untuk menjelaskan penilaian bonus ini, karena hampir semua awak redaksi mempertanyakan soal ini. Namun Dadi menolak bertemu di pertemuan besar. Dadi Sumaatmadja hanya mau ditemui secara personal.

12. Kami bertiga (Edi Wahyudi dan Matheus Dwi Hartanto) dan beberapa teman lain selanjutnya juga mempertanyakan hal ini kepada Wayan Eka Putra (kepala produksi berita yg baru) soal pemberian surat khusus pada beberapa assisten produser dan penilaian pada pemberian bonus yang diskriminatif, namun kami tidak mendapatkan jawaban. Selanjutnya kami meminta untuk diadakan pertemuan dengan pihak manajemen HRD Metro TV dan Wayan Eka Putra pada hari Selasa, 31 Januari 2012.

13. Pada proses selanjutnya, saya dan beberapa teman membuat notulensi soal perkembangan dan rencana pertemuan dengan manajemen redaksi. Notulensi tersebut saya kirimkan kepada dua orang teman melaui sms. Namun sms ini disebarluaskan oleh beberapa teman kepada banyak karyawan di Metro TV. Bahkan ada yang mengunggahnya ke situs jejaring sosial twitter/ facebook.

13. Pada tanggal 31 januari 2012 pertemuan batal dilakukan. Saya justru dipanggil Manager HRD, Avi Pranantha dan diminta mundur karena manajemen redaksi akan me-nonaktifkan kami (saya, Edi Wahyudi dan Matheus Dwi Hartanto). Kami akan diberikan pesangon sesuai UU ketenaga Kerjaan No 13/ 2003. Saat itu saya menyatakan menolak dan akan melaporkan kasus ini kepada AJI Jakarta.

14. Pada tanggal 1 Februari 2012 : Matheus Dwi Hartanto dan Edi Wahyudi menandatangani surat pesangon. Sedangkan saya mengambil surat pesangon dan belum menandatangani apapun karena belum ada kejelasan soal alasan mengapa saya disuruh mundur. Pada saat yang sama Wayan Eka Putra memberitahu kepada tim produser lain, bahwa sejak tanggal 1 Februari 2012 saya sudah dinyatakan mundur dari Metro TV. Sejak itulah saya sudah tidak diberikan tugas apapun di redaksi.

15. Pada tanggal 3 Februari 2012 saya berinisiatif untuk mengajak Wayan Eka Putra untuk bertemu. Wayan Eka Putra akhirnya bersedia menemui saya. Selama ini manajemen redaksi tidak pernah mau bertemu dan menjelaskan mengapa saya diminta untuk mundur. Wayan menjelaskan bahwa saat ini saya tidak dipecat sebagai karyawan Metro TV, namun menurutnya saya tidak lagi bekerja di bagian redaksi Metro TV. Dan mulai saat ini, saya menjadi tanggung jawab manajemen HRD Metro TV. Ketika saya tanyakan apa kesalahan saya, Wayan menyatakan tidak tahu. Yang jelas, setelah beredarnya SMS di jejaring sosial twitter/facebook tentang rencana pertemuan para karyawan Metro TV, manajemen redaksi menyerahkan nasib saya ke manajemen HRD. Dalam pertemuan dengan Wayan, saya juga menyatakan bahwa saya tidak menyebarluaskan sms serta tidak mengunggah notulensi hasil rapat ke twitter/facebook. Karena saya memang tidak memiliki akun di kedua jejaring sosial tersebut.

16. 3 Februari 2012 saya bertemu Manajer HRD Avi Pranantha. Avi juga menyatakan bahwa ia tidak tahu kesalahan saya. Menurut keterangan Avi Pranantha, saya masih menjadi karyawan Metro TV, namun dengan status di non-job-kan.

17. Pada 6 Februari 2012 : AJI Jakarta berinisiatif menghubungi Metro TV untuk melakukan pertemuan atas kasus yang menimpa saya. Pertemuan tersebut dihadiri oleh manajemen Metro TV yang diwakili Manager HRD (Avi Pranantha), Kepala Kompartemen redaksi Metro TV (Swasti Astra), saya, AJI Jakarta dan perwakilan LBH Pers. Dalam pertemuan ini tim AJI Jakarta dan LBH Pers meminta agar saya dipekerjakan kembali. Apalagi manajemen redaksi tidak menemukan kesalahan terhadap diri saya. Manajemen Metro TV ketika itu menyatakan akan mendiskusikan dan mengupayakan permintaan ini.

18. Pada tanggal 17 februari 2012 , saya bersama Winuranto, Aditya dan Kustiah (AJI Jakarta) kembali bertemu Avi Pranantha. Namun Avi Pranantha menyatakan bahwa: ia belum menemukan posisi bagi saya di bagian redaksi. Ia masih akan berusaha menanyakan kembali kepada manajemen redaksi Metro TV agar saya bisa kembali bekerja di bagian redaksi. Kemudian pada kesempatan tersebut saya juga menanyakan kembali tentang kesalahan yang saya lakukan sehingga saya kemudian di-nonjobkan. Avi Pranantha kembali menyatakan bahwa : saya tidak melakukan kesalahan, namun manajemen redaksi memang tidak mau menerima saya kembali dengan tanpa alasan.

19. Pada tanggal 24 Februari 2012, kami melakukan pertemuan terakhir. Saya, Winuranto dan Kustiah (AJI Jakarta) dan manajemen Metro TV. Namun Avi Pranantha kembali menyatakan bahwa pihak redaksi Metro TV tidak mau menerima saya kembali dengan tanpa alasan. Ketika saya kembali menanyakan apa kesalahan saya, pihak manajemen HRD kembali menyatakan bahwa dari sisi tugas jurnalistik maupun dari sisi administratif, saya tidak melakukan kesalahan apapun.

Demikian kronologi ini saya buat. Saya telah bekerja kurang lebih 10 tahun di Metro TV dan terbukti manajemen telah menyatakan tidak pernah menemukan kesalahan saya dari sisi tugas jurnalistik maupun secara administratif. Dengan tidak adanya kesalahan pada diri saya, maka saya menginginkan untuk dipekerjakan kembali di redaksi Metro TV.

Labels: ,

Sunday, January 13, 2013

Demokrasi, Inflasi dan Korupsi

Oleh: Muhaimin Iqbal

SEORANG professor di Frankfurt School of Finance and Management – Germany, Prof. Thorsten Polleit belum lama ini mengungkapkan teorinya bahwa faham demokrasi yang dianut di hampir seluruh dunia saat ini telah membawa dampak korupsi kolektif yang sangat besar yaitu berupa inflasi. Dengan tingkat keilmuan beliau – yang dipercaya sebagai Chief German Economist for Barclay Capital selama 12 tahun - tentu teori tersebut bukan teori yang tanpa dasar.

Demokrasi yang mengandalkan suara terbanyak membuat pemerintah-pemerintah di dunia berusaha memenuhi apa yang dikehendaki oleh rakyat banyak. Pemerintah atau penguasa berkepentingan dengan perolehan suara, sehingga beresiko terhadap kelangsungan keterpilihan mereka bila tidak merespon keinginan terbanyak ini.

Masalahnya adalah keinginan masyarakat terbanyak ini belum tentu yang terbaik dan yang benar bagi kepentingan keseluruhan negeri dalam jangka panjang. Masyarakat kebanyakan akan cenderung mengharapkan hasil jangka pendek, bukan solusi yang memerlukan kerja keras dan membawa kebaikan jangka panjang.

Dalam kaitan dengan pencetakan uang misalnya, jauh lebih mudah bank-bank central dunia berkolaborasi dengan pemerintah masing-masing mencetak uang lebih banyak lagi untuk mengatasi masalah-masalah sesaat yang menjadi perhatian publik – ketimbang mencari solusi permanen dan terbaik jangka panjang yang membuat jidat mengkerut!

Teori Prof. Thorsten Polleit ini nampaknya bisa kita saksikan langsung kebenarannya baik di negeri yang mengaku adikuasa seperti Amerika maupun apa yang kita alami di negeri ini.
Di Amerika saat ini yang menjadi isu besar adalah debt ceiling limit – batas atas hutang yang boleh dilakukan oleh pemerintah. Batas atas hutang sebesar US$ 16.4 trilyun yang diputuskan sekitar 1.5 tahun lalu tersebut kini sudah habis terpakai. Negeri itu dalam bahaya bila batas atas baru tidak berhasil disepakati antara eksekutif dan legislatif-nya dalam dua bulan ini.

Solusi yang akhirnya nanti dicapai tentu yang populer di pasar dan di rakyatnya yaitu menaikkan batas atas pinjaman ini, karena bila pinjaman dapat dinaikkan maka kehidupan masyarakat dan dunia usaha akan bisa berlanjut sebagaimana biasa - life as usual.


Tetapi masalahnya adalah apakah ini solusi terbaik? Solusi yang bersifat permanen jangka panjang? Jawabannya adalah bukan solusi terbaik, ibarat orang sakit hanya dihilangkan rasa sakitnya tetapi tidak diobati penyakitnya. Buktinya mudah sekali kambuh lagi, baru 1.5 tahun lalu penyakit yang sama diusahakan mati-matian diobati – sekarang sudah kambuh lagi.


Logika sederhananya adalah kalau tetangga Anda hidup mewah dengan credit card tetapi setiap saat dikejar-kejar debt collector, ketika mereka datang kepada Anda minta tolong – lantas solusinya apakah Anda menolong dengan meminjami mereka dengan credit card Anda, atau menasihatinya untuk hidup sesuai kemampuannya?

Yang pertama mudah dan menyenangkan tetapi membawa bahaya ke Anda juga dalam jangka panjang. Yang kedua pahit, membuat Anda tidak populer dihadapan tetangga Anda – tetapi itulah yang benar dan bisa menyembuhkan.

Hampir pasti solusi yang akan ditempuh Amerika adalah solusi pertama karena di masyarakat demokrasi mereka, pemerintah perlu populer meskipun dengan ini tumpukan hutang akan meninggi dan bebannya kembali ke rakyat dalam jangka panjang - hanya tidak atau belum disadari saja.

Hutang yang bertambah mendorong pencetakan uang yang lebih banyak, uang yang ada di masyarakat akan turun daya belinya secara menyeluruh – dan inilah inflasi yang menjadi korupsi kolektif itu. Inflasi menjadi instrumen legal untuk mengambil kekayaan masyarakat dengan paksa dan tanpa bisa dilawan, mudah dan yang diambil hartanya tidak segera merasa kehilangan.

Contoh kasus berikutnya adalah yang kita alami di Indonesia. Karena kita menganut demokrasi yang kurang lebih sama dengan yang di Amerika, maka keputusan-keputusan yang diambil oleh eksekutif dan legislatif kita juga cenderung untuk menyenangkan masyarakat banyak dalam jangka pendek.

Ambil misalnya krisis subsidi bahan bakar, keputusannya cenderung untuk menambah subsidi untuk mampu menekan harga bahan bakar sesaat – karena ini yang mudah, populer dan diharapkan oleh masyarakat banyak. Tetapi menambah subsidi ini kan bukan menyembuhkan penyakit? Dia hanya mengurangi rasa sakit sesaat.

Upaya penyembuhan penyakit yang sesungguhnya perlu kerja keras yang bisa pahit , tidak populer dan hasilnya jangka panjang. Hasil jangka panjang inilah yang tidak sesuai dengan kepentingan demokrasi – karena saat penyakit tersebut benar-benar sembuh sudah orang atau partai lain lagi yang mendapat gilirannya untuk berkuasa dan mendapatkan kredit-nya.

Kasus yang mirip dengan subsidi bahan bakar tersebut adalah masalah impor kebutuhan bahan pokok kita seperti kedelai, daging dlsb. Masih terngiang di ingatan kita bagaimana produsen tahu dan tempe menjerit atas tingginya harga kedelai? Apa solusinya? Solusinya impor yang lebih banyak.

Sesaat kemudian pedagang daging menjerit dengan tingginya harga daging, apa solusinya? Lagi-lagi membuka kran impor yang lebih banyak. Ini semua adalah obat penghilang rasa sakit dan bukan penyembuh penyakit.

Penyakitnya sendiri kambuh dalam skala yang lebih besar dengan wabah yang lebih luas. Berupa apa? Inilah defisit neraca perdagangan yang dialami negeri ini tahun 2012 lalu. Ini adalah defisit pertama sejak defisit terakhir 52 tahun lalu atau tepatnya tahun 1961.

Mengapa defisit neraca perdagangan ini ibarat penyakit adalah wabah yang lebih serius dan meluas? Karena meskipun mungkin gejalanya tidak atau belum kita rasakan – tetapi defisit ini akan menggerus nilai kekayaan siapa saja yang hidup di negeri defisit.

Karena kita lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi, maka kembali ki ibarat rumah tangga Anda – apa yang terjadi bila belanja keluarga Anda lebih besar dari pendapatan Anda?, makin lama makin miskin dan hutang akan semakin banyak.

Kalau sudah penyakit defisit ini kambuh, upaya penyembuhannya-pun bisa menyakitkan. Untuk mengurangi impor dan meningkatkan daya saing ekspor misalnya, salah satu instrumen yang biasa dipakai otoritas moneter adalah dengan menurunkan nilai uang kita.
Dengan cara ini barang-barang impor akan bertambah mahal dan kurang menarik, sebaliknya barang-barang ekspor kita terasa murah oleh uang negeri pengimpor.

Karena strategi menurunkan daya beli uang ini juga diketahui oleh seluruh negara lain di dunia, maka mereka berlomba menurunkan daya beli uangnya untuk bisa memenangkan persaingan pasar ekspor produk mereka masing-masing. Perlombaan menurunkan daya beli uang inilah yang sering disebut currency war – perang mata uang itu, perang untuk saling membanting harga uang!

Siapa korban perang dari currency war ini? Lagi-lagi adalah rakyat kebanyakan. Kekayaan mereka yang tersimpan dalam bentuk tabungan, deposito, asuransi, dana pensiun, tunjangan hari tua, dana kesehatan dlsb – semua yang terdenominasi dalam mata uang yang terlibat dalam currency war secara langsung maupun tidak langsung – menurun daya belinya. Inilah korban korupsi kolektif yang bermula dari demokrasi yang kemudian membawa kepada keputusan yang inflatif.

Lantas bagaimana kita dapat menghindarkan diri dari menjadi korban korupsi kolektif yang diteorikan oleh Prof. Thorsten Polleit tersebut di atas?

Pertama kita harus sadar dahulu bahwa kita sedang menjadi korban itu. Caranya adalah dengan mengecek penghasilan Anda, tabungan Anda, dana pensiun Anda dlsb. Apakah nilainya meningkat bila diukur dengan satuan yang baku – universal unit of account - atau malah menurun, bila ternyata menurun berarti Anda telah ikut menjadi korban korupsi kolektif itu.

Untuk mengecek pergerakan asset Anda tersebut dapat Anda gunakan Kalkulator Dinar di menu situs ini atau Kalkulator Point di www.indobarter.com .

Setelah ternyata Anda juga menjadi korban korupsi kolektif ini, maka amankan aset Anda dari Wealth Reducing Assets (aset-aset yang menjadi korban korupsi kolektif) menjadi Wealth Preserving Assets – yaitu aset-aset yang mampu mempertahankan kemakmuran pemiliknya. Yang kedua ini bisa Dinar/emas, property dan aset-aset riil lainnya yang terjaga nilainya.

Tahap berikutnya adalah mengupayakan agar aset-aset Anda menjadi Wealth Producing Assets, yaitu aset-aset yang meningkatkan kemakmuran Anda melalui usaha, perdagangan, pertanian, peternakan dlsb.

Tidak mudah, perlu kerja keras dengan berurai keringat dan kadang juga air mata, pahit dlsb. tetapi itulah obat yang sesungguhnya. Bukan sekedar penghilang rasa sakit, tetapi insyaAllah bener-bener menyembuhkan penyakit. InsyaAllah kita bisa menghindarkan diri dari menjadi korban masal dari wabah penyakit korupsi kolektif itu. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Labels: , ,

Monday, November 19, 2012

Isu Terorisme Bom Sulsel Penuh Rekayasa

Jika Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menyatakan aksi pelemparan bom kepada Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo pada Minggu (11/11/2012) pagi lalu, masih terkait dengan jaringan Jamaah Ansharut Tauhid serta jaringan Ambon dan Poso, tidak demikian dengan Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris.
 
Irfan justru menduga kuat klaim teror bom yang dihembuskan Syahrul dan tim pemenangnya itu sebagai bentuk rekayasa. Prof Irfan Idris pun menjelaskan rekaman video insiden tersebut di Warkop Ganesha, Makassar, kepada Tribun Timur, kemarin (Kamis, 15 November 2012).

"Waktu kejadian itu saya ada di Makassar, saya tahu acara itu. Jadi, isu teror bom itu rekayasa, itu diada-adakan, indikasinya kelihatan," ungkap Irfan Idris sembari menunjuk video insiden tersebut, seperti dikutip tribun.


Menurut Irfan Idris, aksi terorisme tidak demikian. Selain itu, jejak rekam kejadian didominasi tim pemenang Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang). Dalam video itu, Irfan Idris menyaksikan Tim Sayang yang mengenakan baju biru Mark Sampan Induk dan baju kaos kuning (Tautoto) dkk langsung menggiring dan mengkroyok yang diduga pelaku tengah kerumunan jauh dari panggung Syahrul bernyanyi.

Selanjutnya, Tim Sayang pula yang menggiring pelaku dari tempat kejadian awal bukan polisi. Polisi mengamankan setelah beberapa menit kemudian. Lemparan benda pun ternyata yang Irfan saksikan tidak jelas. Ia menduga hanya berupa botol air minuman mineral. Syahrul tetap melenggang menyanyi, penonton pun terlihat aman seperti biasa.

"Tiba-tiba ada orang dipukul dituduh melempar. Yang bertindak orangnya dia (Syahrul), yang mengatakan teror bom lebih awal, orangnya Syahrul dan Syahrul juga setelah manggung. Padahal selama di panggung Syahrul terus asyik bernyanyi. Penonton aman-aman saja. Itu kan mencerminkan bahwa ini rekayasa,

Kenapa dengan mudah Syahrul dan tim menyimpulkan bahwa itu teror bom sementara bukan ahlinya yang tangani? Ahlinya saja belum meyimpulkan sampai sekarang.

Tiba-tiba mereka perlihatkan barang bukti. Kata mereka ada tas berisi amunisi, senjata, loh siapa yang bawa itu, siapa bawa itu? siapa saksinya? Itu bisa jadi sengaja mereka pasang.

Keterangan pers Tim Sayang bahwa itu high explosive, dari mana? Kalau itu teror bom, maka pasti ada Jihandak (tim ahli penjinak bom), ada evakuasi, warga diamankan, itu standar operasinya, orang lain tidak boleh mendekat. Tapi kan tidak ada, Syahrul tetap menyanyi, video ini jelas, tidak ada apa-apa," jelas Irfan Idris.

Prof Irfan Idris mengklarifikasi komentar sebelumnya yang sempat dimuat bahwa yang diduga pelaku adalah jaringan teroris Poso demikian keterangan pers polisi. Menurutnya, kabar jaringan Poso sebatas praduga demi keamanan masyarakat Sulsel.

"Itu kan hanya praduga, teroris Poso ini kan lagi booming. Tidak boleh juga lambat kepolisian menjadi penonton, dia harus cepat praduga bahwa jaringan Poso, karena memang hanya Poso, mau dibawa ke mana? jadi itu praduga toh kita tanya ke polisi sekarang, pasti mereka bilang kita tunggulah hasilnya. Tapi setelah saya menelusuri, ini rekayasa untuk menghabisi pihak lain," ujar Irfan Idris.

Lebih lanjut, kata Irfan, jika dikatakan jaringan Poso, maka alasan tersebut kurang tepat. Pasalnya, tim Sayang sendiri yang diduga memformat insiden. Begitu juga aksi pelaku tidak pada level dan aksi teroris biasanya.

"Nah kalau memang dikatakan jaringan Poso, kenapa di event ini digunakan? event Poso sekarang kan persoalannya aparat keamanan, dia bergeser dari sasaran objek asing? dia sendiri menakdirkan ini teroris dengan aparat keamanan. Sampai mereka membuka surat kepada TNI, TNI duduk manis saja menonton, kalau perlu teroris head to head polisi,"tutur Irfan Idris.

Pascainsiden, Irfan Idris terus mengamati reaksi Syahrul dan tim. Menurutnya, getolnya Syahrul dan tim menjual isu teror bom menjadi indikasi ganjal bahwa insiden sebuah rekayasa.

Kemarin sebagaimana dilansir portal Tribun, Syahrul:  “Ambil jabatanku Kalau Bom Pilkada". Hari ini, Jubir Sayang, Maqbul Halim melakukan broadcast di BBM berupa ungkap syukur selamat dari teror bom.

"Indikasi semua ini, bisa dilist bahwa Tim Sayang sendiri yang merekayasa. Kedua, Sayang merekayasa tapi sasaran tembaknya ke kandidat lain, ketiga bukan dia yang rekayasa tetapi memang ada pihak lain yang merekayasa untuk dialamatkan di sini agar pihak Ilham-Aziz terkuras energi, memikirkan ini, hanya mau mengutak-atik, peta konflik kan begitu. Aziz ini kan kalangan ustadz, bisa jadi dia mau dihabisi," ungkap Irfan Idris.

Skenario isu teror bom, ulas Irfan Idris, bisa diduga kuat bahwa itu merupakan upaya untuk menghabisi kelompok Aziz sebagai tokoh yang punya ciri khas religius.

"Kalau begini baru mau dikatakan teroris, itu diketawai. Caranya saja mau meledakkan mana. tidak begini. Nah kalau mau disamakan kayak Poso, jangan-jangan dipaksakan hanya diadakan pipa parolone, seperti komentar Maqbul di Celebes TV supaya membuat kesimpulan bahwa itu bom betul, padahal ternyata, dibalik yang tersurat itu, ada pesan yang tersirat, bahwasanya ini hanya shock terapi aja. Bahwasanya agar orang mulai simpatik bahwa oh kasian Syahrul mau dibom. Padahal tidak ada," ujar Irfan Idris.

"Nah kenapa tidak ada jihandak, kenapa orang langsung melihat seperti ada meteor jatuh dari langit tiba-tiba berkerumun begitu, sementara bintangnya di sana tetap menyanyi," usik Irfan lagi.

Indikasi Rekayasa temuan BNPT melalui rekaman video dan reaksi Sayang Pascainsiden:
*Tiba-tiba ada pemukulan Pascapelemparan botol Aqua (terlihat BNPT) jauh dari depan panggung. Jatuhnya lemparan tidak diketahui hingga ada asap tipis dikabarkan.

*Pelaku tidak mengenakan tas dikroyok, digiring, diinterogasi Tim Sayang di suatu ruangan disusul polisi
"Di video, Tim Sayang yang mengenakan baju Sampan Induk menjelaskan pelaku dipukul karena melempar botol aqua sebanyak dua kali.

*Tiba-tiba tas berisi amunisi diperlihatkan Tim Sayang dan belum diketahui asal usul penemu tas tersebut.
*Keterangan Pers Tim Hukum Sayang lebih mendahului polisi menyimpulkan bom high explosive
*Tidak ada Jihandak (tim ahli penjinak bom), tidak ada evakuasi, tidak ada pemasangan police line
*Syahrul tetap menyanyi, penonton aman tanpa evakuasi
*Pascainsiden, Syahrul, Maqbul, Amirullah Tahir, Moh Roem getol menjual isu teror bom
*Polda memilih diam dan sampai sekarang belum ada kesimpulan


Labels:

Monday, September 24, 2012

Free Download Ebook : Hotel Management & Operations 4th edition

Contents :

The Hotel Development Process
Customer Relationship Management
The Art and Science of Opening a Hotel
On-line Pricing: An Analysis of Hotel-Company Practices
A Conceptual Framework of the Hotel General Manager’s Job
Grooming Future Hospitality Leaders:A Competencies Model
A Day in the Life of a Hilton Hotel General Manager
Mini Case: Sunset Hotels and Suites

The Electrifying Job of the Front OfficeManager
A Day in the Life of the Front Office Manager
Yield Management: Choosing the Most Profitable Reservations
As I See It: Management of the Front Office 
Mini Case: The New FOM
To Change or Not to Change: A Case Study at the Front Desk

A Day in the Life of a Director of Rooms
Housekeeping Organizations: Their History, Purpose, Structures, and Personnel
On Being an Executive Housekeeper
The Hotel Engineering Function: Organization, People, and Issues in the Modern Era
The Engineering Department and Financial Information
The Legal Environment of Lodging Operations
Workplace Violence in Hotels
Case Study: Housekeeping, Engineering, and Security

Managing Food and Beverage Operations in Lodging Organizations
As I See It: Hotel Director of Food and Beverage
Best Practices in Food and Beverage Management
Strategic Alliances Between Hotels and Restaurants
Contemporary Hotel Catering
The Organization and Management of Hotel Beverage Operations
Case Study: Crisis in the Food Court
Case Study: Outside the Box in the Food and Beverage Division

Building Market Leadership: Marketing as Process
Consumer Decision Rules and Implications for Hotel Choice
Hotel Pricing
Hotel Sales Organization and Operations
Putting the Public in Public Relations:The Case of the Seattle Sheraton Hotel
Mini Case: Revamping the Marketing Research Department and Towers

The Lodging Chief Financial Executive
Budgeting and Forecasting: Current Practice in the Lodging Industry 
As I See It: The Hotel Controller
The Hotel Purchasing Function
Data Mining for Hotel Firms: Use and Limitations

Driving Hospitality Into the Future
The Causes and Consequences of Turnover in the Hospitality Industry
Current Issues in Hospitality Employment Law
The Strategic and Operational Roles of Human Resources—An Emerging Model

DOWNLOAD

Labels: , , , , ,

Monday, February 27, 2012

Free Ebook 151 Quick Ideas To inspire Your Staff

Jerry’s book  offers a  treasury  of  ideas that are immediately usable, actionable, and profitable and that were forged and proven on the battlefields of business competition. Through-out the book and in a variety of ways, Jerry delivers his core message again and again: “Your staff will be no better than the people you hire and the inspiration you give them.”

Another of Jerry Wilson’s truths that underlies this book is about why people do what they do:

Inspiring people is about getting other
people to do, what you want done,
because  they  want  to  do  it.


Leadership is about creating the climate or culture where people are inspired from the inside out. Inspired employees want to see their organization succeed, because it will also lead them to their own personal successes. That is the winning formula: inspiring ordinary people to achieve extraordinary  outcomes.  151 Quick  Ideas  to  Inspire  Your  Staff provides us with the winning strategies that lead employees to that level of commitment.

As you read this book you will discover quick ideas from a man  who  speaks  from  experience,  not  theory.  Jerry  proved these ideas in his own successful business ventures. In addi- tion, they have been tested and proven by thousands of business  and  professional  people  following  Jerry’s  professional presentations to audiences across the United States and Canada, and in numerous foreign countries.

151 Quick Ideas to Inspire Your Staff will recharge your battery and excite you, as Jerry has provided not only what to do, but also how to do it. You will be ready and able to inspire your people to give their individual best. You will gain the proper mindset, have the right tools, and be able to practice effective techniques from this treasure trove of good ideas. Jerry taught thousands of people his enthusiastic, inspiring and authentic quick ideas to inspire others—and now it is your turn! Read the book and watch your visions become reality.

DOWNLOAD

Labels: ,

Sunday, January 3, 2010

Free Ebook Human Resource Management 7th Edition


Human Resource Managemen is the basis of all management activity, but it's not the basis of all business activity. A business may depend fundamentally on having a unique product, such as Dyson vacuum cleaner, or on identifying unnoticed market niche like Saga service. The basis of a management is the same, getting people of the business to make happen things in a productive way, so that the business prospers and people thrive.

In this 7th editon, a book that composed by Derek Torrington, Laura hall and Stephen Taylor will give you more comprehensive explanation on resourcing, performance management, development, employee relation, reward, and emerging issues.  Hope you enjoy this reference.
Human Resource Management

Labels: , ,

Sunday, December 27, 2009

Koleksi Buku Manajemen & Motivasi

Tak terasa penghujung akhir tahun 2009 tinggal beberapa hari lagi. Yang tentunya waktu kita hidup di dunia telah berkurang. Seiring dengan bertambahnya kedewasaan kita, manajemen akan waktu sudah seharusnya kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.  Pada postingan kali ini saya share beberapa ebook untuk lebih memperkaya khasanah pengetahuan kita.

Link Download :
Bussiness School by Robert Kiyosaki (Indonesian version)
Mega Selling - David Cowper (Indonesia)
Boosting Field Marketing Performance - Hermawan Kartajaya
The Art of War Sun Tzu (Seni Perang Sun Tzu)
Hermawan Kartajaya on Process-Seri 9 Element Marketing

Labels: , , , ,

Monday, August 17, 2009

Free ebook Marketing Revolution Tung Desem Waringin


Kepiawaian Tung Desem Waringin dalam dunia marketing tak diragukan lagi, dia merupakan salah satu motivator sekaligus marketer papan atas di kawasan Asia Tenggara yang banyak menelurkan ide-ide dahsyat. Penjualan bukunya yang berjudul Marketing Revolution pun menjadi best seller dan memecahkan rekor MURI dalam penjualan buku terlaris pada launching perdana.

Dalam bukunya ini, Tung memberikan ilmunya mengenai sikap dan paradigma para milliarder dalam menjalankan bisnis. Salah satu hal yang terpenting agar produk yang akan dijual dapat bersaing adalah dengan memberikan Value added (nilai tambah)baik terhadap produk itu sendiri maupun dari segi layanan (service). Disamping itu, efek multiplier juga perlu diperhatikan. Promosi yang baik adalah promosi mouth to mouth, yaitu bentuk promosi gratis yang merupakan efek dari kepuasan pelanggan terhadap produk yang dibeli.

Untuk mendownload ebook ini, silakan klik disini

Tag:

Labels: , , ,

Friday, August 14, 2009

Ebook 8 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey


Setelah menuai kesuksesan lewat bukunya 7 Habits of Highly Effective People yang menjadi best seller di seluruh dunia, rupanya hal ini membuat Stephen R Covey menjadi semakin termotivasi untuk membuat sekuelnya yang berjudul The 8 Habit :From The Effectiveness To Greatness.

Pria kelahiran 24 Oktober 1932 di Salt Lake City, Utah ini merupakan kakek dari 49 cucu, 9 anak dari hasil pernikahannya dengan Sandra. Ia juga sempat mengajar di Brigham Young University, sebelum menerbitkan buku best sellernya. Ia juga memperoleh penghargaan Untuk Seorang Ayah dari National Fatherhood Initiative pada 2003.

Covey juga mendirikan "Pusat Kepemimpinan Covey" yang, pada 1997, bergabung dengan Franklin Quest untuk mendirikan Franklin Covey, sebuah perusahaan pelayanan profesional global. Mereka menawarkan pelatihan dan perangkat produktivitas bagi berbagai individu dan organisasi.

Buku The 8 Habit ini banyak digunakan sebagai bahan referensi dalam traning Leadership management. Versi bahasa Indonesianya pun juga sudah banyak beredar di berbagai toko maupun edisi ebook. Untuk mendownload ebook gratisnya silakan klik disini

Labels: , ,