Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Monday, August 30, 2010

QR Code, Generasi Baru Teknologi Barcode

Bagi Anda yang pertama kali menjumpai semacam gambar kode segi empat, yang berisi kotak-kotak warna hitam yang tersusun acak, tentu akan dibuat bingung dengan makna code tersebut. Biasanya lambang ini ada dalam suatu artikel Koran, termasuk di situs ini.

Ya, gambar kotak itu biasa disebut QR Code. Jika Anda biasa melihat barcode di produk-produk makanan atau consumers good, maka QR code merupakan pengembangan  2 dimensi dari barcode konvensional tersebut.

Apa itu QR Code?

QR code merupakan singkatan dari Quick Response Code. Pertama kali dikembangkan oleh perusahaan Jepang Denso-Waves di tahun 1994. Saat ini Anda sudah dapat melihat
kode QR di berbagai media, spanduk, website, kaos, dan perangkat lain.

Kode QR dapat menyimpan link url, koordinat geografis, teks dan angka. Dibanding barcode biasa, QR memiliki ruang penyimpanan data yang besar. Untuk kode angka dan huruf, mereka mampu mneyimpan hingga 4,296 karakter. Bandingkan dengan barcode konvensional yang hanya mampu menyimpan 20 digit.

Bagaimana Mengakses QR code dari ponsel?

Untuk membaca kode QR, Anda membutuhkan aplikasi QR reader. Aplikasi ini bisa didownload langung ke ponsel dengan mengetikkan alamat http://reader.kaywa.com di browser ponsel dan kemudian mengikuti petunjuk di dalamnya.
Anda juga dapat mendownload aplikasi QR reader melalui komputer di alamat  http://reader.kaywa.com/getit. Sebelumnya, Anda akan diminta untuk melakukan registrasi.

QR Code dan WEB

Sekarang, coba jalankan aplikasi QR reader di ponsel Anda. Arahkan kamera ke kode QR yang ada di cover depan atau di bawah ini.
Bila berhasil, maka ponsel Anda akan membuka situs fariedrj.blogspot.com dan membuka halaman web ofisial homepage tersebut.

Blankon Sajadah, The Leading Islamic OS in Indonesia

BlankOn Linux is a Linux distribution developed by Indonesia Linux Movement Foundation (Yayasan Penggerak Linux Indonesia / YPLI) and Indonesia Ubuntu Community. It aims to fulfill the need of computer user in general. Using the easiness and stability philosophy of Ubuntu Linux as the base distribution, BlankOn Linux developed as an open source project and developed together to create a unique Indonesia Linux distribution.

BlankOn project always welcome anyone to contribute in developing BlankOn Linux. If you find any problems and bugs in BlankOn Nanggar, please report it through:

http://dev.blankonlinux.or.id/newticket

And if you have any questions or you need any more information about BlankOn, you can visit this links:

* BlankOn Users Mailing List: http://groups.google.com/group/BlankOn
* BlankOn Developer Mailing List: http://groups.google.com/group/BlankOn-dev
* BlankOn Forum: http://forum.blankonlinux.or.id

Please help us to make BlankOn to be a better Linux distribution.
Here are some key features of "BlankOn Sajadah":

· Contextual Desktop + GNOME 2.26
· Office Applications: OpenOffice 3.0.1, GNUCash
· GIMP 2.6.6
· Inkscape 0.46
· Firefox 3.0 Web Browser
· Kernel 2.6.28
· LXDE 0.3.2.1 Desktop
· Office Applications: AbiWord 2.6.6, GNUmeric 1.8.4, GNUCash 2.2.6
· GIMP 2.6.6
· Inkscape 0.46
· Epiphany 2.26 Web Browser
· Kernel 2.6.28

 Deskripsi
BlankOn Sajadah yang berbasiskan BlankOn 6.0 Ombilin mempunyai fitur dasar yang disertakan dalam BlankOn Ombilin edisi regular, seperti Aksara Nusantara, Chromium, Stardict dll yang ditambah dengan Fitur khas Islami seperti:
  • QiOO - Al Quran di OpenOffice,
  • Zekr - Al Qur'an terjemah dan suara tartil daring dan luring - online/offline (6.1),
  • Othman Quran dan Noor - Peramban Al Quran
  • Minbar - Pengingat waktu sholat,
  • Peramban Internet Chromium
  • Peramban Internet Firefox + addon penginat sholat dan webstrict,(6.1 dihilangkan)
  • Stellarium - aplikasi melihat tata surya / planetarium,
  • Dukungan penulisan huruf arab,
  • Penyaring konten negatif webstrict dansguardian,(6.1 dihilangkan)
  • DNS Nawala - DNS Penyaring domain berkonten negatif,
  • Hijra - Kalender Islam,
  • Monajat - Aplet penampil Doa-doa,
  • Thawab - Ensiklopedi dan penampil ebook hadis dan kitab,
  • Hadis-Web - Kumpulan hadis hadis Bukhori, Muslim dll 
DOWNLOAD


Friday, August 27, 2010

Golden Al-wafi Arabic Translator

Golden Al-wafi Arabic Translator adalah sebuah software penerjemah bahasa arab yang sangat professional. Software ini dikembangkan dan dikhususkan untuk melakukan penerjemahan multi dokumen. Dan hal itu membuat software ini menjadi sangat cocok dipergunakan untuk proses penerjemahan tingkat lanjut. Features
Seperti dijelaskan sebelumnya, software ini sangatlah bagus. Memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki oleh berbagai software kamu bahasa Arab sederhana lainnya.Beberapa fitur yang dimiliki oleh software ini antara lain:
  • Penerjemahan yang cepat dan akurat
  • Sebuah “mesin” penerjemah versi baru
  • Mampu menerjemahkan ribuan kata dalam beberapa detik saja
  • Pembacaan Text-to-Speech
  • Memiliki entri kamus lebih dari 2.000.000 kata
  • Memiliki beberapa kamus terspesialisaei dalam bidang Medicine, Biology, Physics, Mathematics, Chemistry, Engineering and Geology
  • Penerjemahan multi dokumen
  • Penerjemahan multi file via background
  • Kamus Arab-English
  • Kamua English-Arab
  • Pengecekan ejaan [English]
  • Text arab tanpa harakat
  • Penerjemahan kata benda yang tepat
  • User interface dengan dua macam bahasa
Fitur lainnya yang cukup menarik adalah:
  • Bilingual electronic user guide (HTML)
  • Runs under windows 98/2000/NT/ME/XP
  • Free internet updates (for version 3.00)
Sedangkan untuk kebutuhan minimum system:
  • 166 MHz processor
  • 32 MB RAM
  • 30 MB of free hard disk space
  • Sound Card (optional for text-to-speech)
  • Microsoft Internet Explorer™ 4.0 or later
  • Arabic-enabled Microsoft Windows™ 98/2000/ME/NT/XP operating system
DOWNLOAD

Hey Baba, New Muslim RNB Music (Halal Lyric by Farid Alhadi)



Original Song by Usher
Spoof lyrics Written by Farid Alhadi

I just wanna have the right intentions
I really wanna be alright in my head
Cuz what you cooked Imma wanna eat some
Yeah
But yo that’s only if its sunset

After salat
Gon pray maghreb
You just poke that burger I like it rare
The rice is hot, I know it all so smells
And when I walk in, all that I wanna hear

Chorus
Is you say Baba's home, home to eat
And I know you’ve been waiting for this iftar and dates
You know your baba’s home (baba’s home),
and it’s time to break (so it’s time to break)
So you ain’t got to give my labna/ludoo away

Post Chorus
So all my ibnees say hey hey hey baba
Hey hey hey baba
So all my bintees say hey hey hey baba
Hey hey hey baba

Tonight I gotta go to the masjid
Shadhi you already know what it is
And yo tonight we gonna do extra prostration
(Yeah)
Can’t nobody read tarawih like this

ohh After salat
Gon pray maghreb
You just poke that burger I like it rare
Said The rice is hot, I know it all so smells
And when I walk in, all that I wanna hear


Chorus

Bridge
Cook it on out cook it out right there
Poke that burger cause I like it rare
Imma break fast, then Ill make my prayer

Saturday, August 21, 2010

Presiden Menghina Islam

Agama itu ada dalam semua dimensi kehidupan manusia. Dan pada dimensi tertentu, agama tampak lebih menonjol dari aliran manapun. Umpamanya, rakyat dan kekuasaan negara. Realitas ini suka atau tidak, agama memiliki campur tangan yang besar dan dituntut menjadi lebih kritis dan proaktif.

Namun, dalam konteks rakyat dan kekuasaan di Indenesia, tafsir dan otoritas agama sering diposisikan terpisah, bahkan terkesan dimandulkan. Dengan dalil: Indonesia bukan negara berbasis agama. Jika dalil (pemahaman) ini menjadi sebuah rujukan mutlak, maka muncul pertanyaan: Apakah negara yang dibentuk itu tidak memiliki agama? Atau puncuk dari kekuasaan negara adalah politik kamuflasi untuk menguasai umat beragama?

Selanjutnya, pertanyaan yang paling mendasar antar hubungan kekuasaan negara dan umat beragama, yakni: Bagaimana peran dan fungsi negara menumbuhkan potensi agama dalam membangun kualitas kehidupan rakyat agar lebih cerdas, mandiri, sejahtera dan beradab? (baca)
Islam dan Pancasila

Secara teoritis, ideologi negara (NKRI) mempertegas dirinya meyakini ke-Esa-an Tuhan sebagai sumber keyakinan bernegara dan berbangsa. Namun, dalam prakteknya, keyakinan ini menuai problem yang krusial: Terjadi pertentangan dan terkesan diskriminatif.

Sebutlah, pemahaman tentang ke-Esa-an Tuhan oleh negara lebih condong pada ajaran Islam, yang tentunya berbeda dengan pemahaman Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Dari perbedaan konsep teologi dimaksut, jelas menunjukan bahwa ke-Esa-an dalam ideologi Pancasila adalah representasi Islam. Apakah hal ini adalah bentuk diskriminasi? (baca)

Walaupun secara teologi, terkesan negara memiliki hubungan khusus dengan Islam. Namun dalam implementasi sistem dan struktur kekuasaan negara, terjadi distorsi. Yakni, dari sisi keyakinan keagamaan, negara memberikan kebebasaan yang seluas-luasnya kepada ummat Islam. Akan tetapi dari sisi penerapan pengetahuan (syariat) ke dalam sistem ketatanegaraan, Islam tidak memiliki otoritas yang terukur. – Kecuali Aceh yang sepenuhnya menerapkan syariat Islam dengan memanfaatkan desentralisasi (otonomi khusus).

Contoh kasus yang menunjukan adanya kontraksi ideologi dan distorsi otoritas Islam dalam sistem dan kebijakan negara sebagai berikut:

Pertama, Penguasaan dan pengelolaan potensi Sumber Daya Alam (SDA) oleh negara lebih mengutamakan pendekatan konsep sekuler-liberal dengan menjadikan segelintir kelompok kapitalis sebagai mitra utama negara. Pendekatan ini menunjukan bahwa negara telah menafikan Pancasila dan otoritas ummat Islam secara tidak adil dan proporsional.

Dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan negara tersebut, menyebabkan ummat Islam berada dalam posisi dilemahkan dan kehilangan haknya atas nikmat dan karunia kekayaan alam yang diberikan oleh Allah SWT.

Kedua, penguasaan sumber daya ekonomi-perdagangan yang diterapkan oleh pemerintah dan negara, sepenuhnya berkiblat pada kekuatan ideologi sekuler-liberal (neolib). Hal itu menyebabkan posisi ummat Islam secara otomatis dikerdilkan dan selalu berada dalam kontrol kekuasaan kapitalisme global.

Ketiga, peran dan fungsi negara untuk melindungi kehormatan, keyakinan dan eksistensi Islam sebagai agama mayoritas, dirasakan tidak menyentuh masalah-masalah yang substansial. Sebagai contoh adalah kasus Ahmadiyah yang hingga kini masih menjadi pertentangan di masyarakat.

Dalam kasus Ahmadiyah, sebagian kalangan ummat Islam berpendapat bahwa pemimpin negara, dalam hal ini Presiden SBY, telah melakukan pendekatan penyelesaian masalah di luar konsep dan otoritas Islam. Yakni, menjadikan wacana pluraisme dan alasan kepentingan stabilitas nasional sebagai alat untuk membungkam aspirasi Islam yang mendesak Ahmadiyah dibubarkan.

Pendekatan kebijakan yang dilakukan oleh SBY, sangat kental dengan agenda politik sekuler-liberal dan dinilai menghina dan melecehkan aspirasi ummat Islam. Dari kasus ini juga dapat dilihat dengan jelas, bahwa ideologi Pancasila yang menegaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, sesungguhnya berada dalam tafsir yang bebas, kabur dan bergantung sepenuhnya pada kepentingan segelintir elit yang berkuasa.

Singkatnya, jika penyelenggara negara merujuk dan menempatkan dirinya di bawah kekuatan-kekuatan global yang berbasis liberal, maka posisi dan eksistensi mayoritas ummat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terpaksa dikorbankan dan termarginal.

Terbukti selama 60 tahun, posisi ummat Islam cenderung bergerak ke arah kemiskinan absolut dan hanya dijadikan sebagai alat legitimasi ideologi Pancasila untuk mempertahankan eksistensi NKRI secara tidak adil dan manusiawi. Apakah benar demikian?

Salam Faizal Assegaf
Artikel ini pernah dimuat di blog kompasiana 9 Februari 2010

Friday, August 20, 2010

Membebaskan Koruptor, Salah Satu 'Prestasi' SBY di bulan Ramadhan ?

Slogan "Lanjutkan !" yang didengungkan SBY tampaknya memiliki makna ganda. "Lanjutkan" ternyata bukan sekedar untuk melanggengkan pemerintahannya dengan segala kebijakan yang kerap menyengsarakan rakyat, tetapi juga selaras dengan obsesi koruptor yang ingin tetap eksis dalam kancah politik dan ekonomi di Indonesia.

Alih- alih meenjatuhkan hukuman mati bagi koruptor, SBY malah kembali melukai hati rakyat Indonesia dengan membebaskan besan kesayangannya yang merupakan koruptor kelas kakap di Indonesia.

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjilat ludah sendiri. Tudingan itu diberikan Bambang setelah SBY memberikan remisi tiga bulan kepada besannya, Aulia Tantowi Pohan.

Berkat remisi tiga bulan itulah terpidana kasus dugaan korupsi aliran dana Bank Indonesia itu bisa menghidup udara bebas secara bersyarat pada 18 Agustus lalu. Remisi itu diberikan setelah Aulia Pohan menjalani dua pertiga masa tahanan. Aulia Pohan ditahan sejak 27 November 2008.

"Ini bukan masalah layak atau tidak layak seorang terpidana koruptor bebas. Tapi soal konsistensi dalam memerangi korupsi. Dia sendiri yang memimpin pemberantasan korupsi, kemudian dia menjilat ludahnya sendiri," kata Bambang di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat (20/8).

Bambang menjelaskan, dengan memberikan grasi kepada terpidana kasus korupsi aliran dana Bank Indonesia itu, juga kepada Syaukani Hasan Rais hingga Arthalita Suryani, ia menjadi bertanya keseriusan SBY memberantas korupsi. Apakah serius atau sekedar kosmetik.

Sebab, kata Bambang, hal ini bisa jadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Alih-alih memberikan efek jera kepada koruptor, Presiden malah memberi remisi, bahkan grasi.

"Ini menunjukan Presiden tidak serius. Kita tuntut kepada pemerintah untuk menjelaskan. Apakah untuk menutupi besannya yang juga mendapat remisi. Kalau koruptor bebas dan diberi pengampunan di ujung percuma kita bangun KPK," kata Bambang.(Andhini)

Thursday, August 19, 2010

65 Tahun Indonesia Merdeka? (Renungan Hari Kemerdekaan NKRI)

[Al Islam 520] Tak terasa sudah 65 tahun usia “kemerdekaan” Indonesia. Saat ini tak ada lagi Belanda atau Jepang yang menjadi penguasa dan pemerintahnya. Namun, kita patut bertanya: Sudahkah rakyat dan bangsa ini benar-benar merdeka dalam pengertian yang sesungguhnya?
Memang, setiap 17 Agustus upcara pengibaran bendera dilakukan sebagai simbol kemerdekaan. Namun, perubahan nasib rakyat negeri ini ke arah yang lebih baik-antara lain rakyat menjadi sejahtera, adil dan makmur-sebagai cita-cita kemerdekaan masih jauh panggang dari api. Nasib mereka malah makin merana, seperti makin lusuhnya bendera sang saka.
Seharusnya dengan ‘umur kemerdekaan’ yang cukup matang (65th), idealnya bangsa ini telah banyak meraih impiannya. Apalagi segala potensi dan energi untuk itu dimiliki oleh bangsa ini. Sayang, fakta lebih kuat berbicara, bahwa Indonesia belum merdeka dari keterjajahan pemikiran, politik, ekonomi, hukum, budaya, dll. Indonesia belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kerusakan moral dan keterbelakangan. Singkatnya, Indonesia yang dihuni 237 juta jiwa lebih ini (yang mayoritas Muslim; 87%) masih dalam keadaan terjajah!
Pandangan di atas tentu tak mengada-ada. Sebagai contoh, dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan Harian Kompas, masyarakat menilai banyak aspek dan kondisi makin buruk saja pada saat ini. Misal, pada aspek keadilan hukum mereka menyatakan: 59,3% semakin buruk, 13,4%: tetap, 21,6%: semakin baik. Lalu pada aspek keadilan ekonomi mereka menyatakan: 60,7%: semakin buruk, 15,1%: tetap, 21,1%: semakin baik. Saat berbicara pada aspek peran negara, ternyata kesimpulannya: peran negara tidak memadai!
Lalu terkait kemerdekaan, terlihat jelas bahwa masyarakat memandang Indonesia belum merdeka baik dalam bidang ekonomi (67,5%: menyatakan belum merdeka), politik (48,9%; menyatakan belum merdeka), budaya (37,1%: menyatakan belum merdeka).
Pandangan dan penilaian masyarakat di atas rasanya cukup mewakili pandangan mayoritas rakyat Indonesia. Merekalah yang merasakan langsung atau bahkan menjadi obyek penderita dari keterjajahan di berbagai bidang justru di era “kemerdekaan” saat ini. Jadi, Indonesia merdeka, kata siapa?
Potret Nyata Keterjajahan
Dalam rentang waktu 65 tahun, Indonesia masih menyuguhkan potret kehidupan rakyatnya yang masih memprihatinkan. Dari data BPS yang dibacakan Presiden SBY (16/8), jumlah penduduk Indonesia 2010 adalah 237.556.363 jiwa. Yang masuk kategori miskin lebih dari 100 juta penduduk dengan ukuran pendapatan 2 dolar AS/hari.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengaku tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2009, mencapai 8,96 juta orang atau 7,87 persen dari total angkatan kerja sebanyak 113,83 juta orang. Jumlah itu tentu belum termasuk pengangguran ‘tertutup’ ataupun yang setengah menganggur. Dengan kenaikan tarif dasar listrik baru-baru ini, angka pengangguran diduga akan bertambah I juta orang karena akan banyak industri yang melakukan PHK. Di Ibukota Jakarta saja, lebih dari 73 ribu sarjana saat ini menjadi pengangguran.
Alhasil, pidato kenegaraan oleh Presiden setiap tanggal 17 Agustus menjadi tak berarti, karena hanya menjadi ajang “memuji” keberhasilan semu penguasa dan politik pencitraan. Berbusa-busa Presiden bercerita espektasi RAPBN-2011 dan nota keuangan dengan memaparkan asumsi makro dalam RAPBN 2011: pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,1 -6,4%; nilai tukar rupiah Rp 9.100-9.400 perdolar AS; inflasi 4,9-5,3%; dll (berdasarkan data BKF/Badan Kebijakan Fiskal). Pemerintah pun berencana menaikkan kembali gaji pegawai negeri sipil, TNI dan Kepolisian Negara RI serta pensiunan masing-masing 10 persen pada tahun anggaran 2011.
Namun, yang tak bisa diingkari adalah potret kemiskinan rakyat dan keterjajahan mereka di negeri sendiri. Rakyat dihadapkan pada kenaikan harga yang makin tidak terkendali, baik bahan pokok (sembako), pupuk pertanian, biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi, dll. Kebijakan Pemerintah untuk menaikkan TDL baru-baru ini jelas makin mendongkrok kenaikan harga kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.
Tak ketinggalan, APBN yang 70% sumbernya adalah dari pajak rakyat, sebagian besarnya justru tidak kembali kepada rakyat. Pasalnya, sebagian dirampok oleh para koruptor, sebagian untuk membayar utang dan bunganya yang bisa mencapai ratusan triliun, dan sebagian lagi untuk membiayai kebijakan yang tidak pro-rakyat. Sebaliknya, anggaran untuk program-program yang pro-rakyat relatif kecil.
Pemerintah pun terkesan lebih mengutamakan para pemilik modal ketimbang rakyat. Contoh: Pemerintah begitu sigap mengucurkan Rp 6,7 triliun (yang akhirnya di rampok juga) untuk Bank Century; sebaliknya begitu abai terhadap korban Lumpur Lapindo hingga hari ini. Pemerintah pun tega untuk terus mengurangi subsidi untuk rakyat di berbagai sektor: pendidikan, pertanian, kesehatan, BBM dan listrik. Yang terbaru, saat banyak rakyat menjadi korban akibat “bom” tabung gas elpiji, Pemerintah justru berencana mencabut subsidi gas elpiji tabung 3 kg. Artinya, harga gas elpiji tabung 3 kg akan dinaikkan dengan alasan untuk mengurangi kesenjangan (disparitas) harga dengan gas elpiji tabung 12 kg. Kesenjangan harga ini dituding sebagai faktor utama yang mendorong terjadinya banyak pengoplosan gas yang sering merusak katup tabung gas, dan pada akhirnya menimbulkan banyaknya kasus ledakan. Padahal jelas, kebijakan Pemerintah yang memaksa rakyat untuk mengkonversi penggunakan minyak tanah ke gas itulah yang menjadi akar masalahnya.
Dengan menyaksikan sekaligus merasakan fakta-fakta di atas, akhirnya bagi rakyat kebanyakan kemerdekaan menjadi sebatas retorika!
Sekadar Klaim
Di hadapan seluruh anggota DPD dan DPR RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010, Presiden SBY mengklaim keberhasilan Pemerintah dalam pelaksanaan demokrasi, termasuk Pemilukada langsung. Namun masalahnya, klaim keberhasilan berdemokrasi tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat. Inilah ilusi demokrasi. Seorang gubernur gajinya sekitar Rp 8 juta, walikota sekitar Rp 6 juta. Namun, saat hendak merebut kursi kekuasaan, ongkos politik yang mereka keluarkan bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Saat terpilih, mereka dituntut untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Tentu, tuntutan itu menjadi mimpi di siang bolong. Faktanya, kasus korupsi, termasuk di daerah-daerah, meningkat tajam justru sejak penguasa daerah, juga wakil rakyat daerah, dipilih langsung melalui Pemilukada. Pada tahun 2010 saja, Presiden SBY sudah meneken izin pemeriksaan 150 kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Keadaannya tak jauh berbeda dengan kasus korupsi di pusat kekuasaan, termasuk di DPR, yang notabene lembaga wakil rakyat.
Akar Masalah
Jika kita mau jujur, akar masalah dari semua persoalan di atas ada pada sistem kehidupan yang dipakai oleh Indonesia. Selama 65 tahun “merdeka” negeri ini mengadopsi sistem demokrasi-sekular. Demokrasi pada akhirnya hanya menjadi topeng penjajahan baru atas negeri ini. Pasalnya, melalui sistem dan proses demokrasilah lahir banyak UU dan kebijakan yang justru menimbulkan keterjajahan rakyat di negeri ini. UU KHUP masih warisan penjajah. UU SDA sangat liberal. Demikian pula UU Migas, UU Minerba, UU Kelistrikan, UU Pendidikan, UU Kesehatan dan banyak lagi UU lainnya. Sebagian besar UU yang ada bukan saja tak berpihak kepada rakyat, bahkan banyak yang menzalimi rakyat. Pasalnya, melalui sejumlah UU itulah, sebagian besar sumberdaya alam milik rakyat saat ini justru dikuasai pihak asing. Contoh, kekayaan energi termasuk migas (minyak dan gas) di negeri ini saat ini 90%-nya telah dikuasai perusahaan-perusahaan asing.
Jelas, rakyat negeri ini sesungguhnya masih terjajah oleh negara-negara asing lewat tangan-tangan para pengkhianat di negeri ini. Mereka adalah para komprador lokal yang terdiri dari para penguasa, politikus, wakil rakyat dan intelektual yang lebih loyal pada kepentingan asing karena syahwat kekuasaan dan kebutuhan pragmatisnya. Akibatnya, rakyat seperti “ayam mati di lumbung padi”. Mereka sengsara di negerinya sendiri yang amat kaya. Mereka terjajah justru oleh para pemimpinnya sendiri yang menjadi antek-antek kepentingan negara penjajah.
Kemerdekaan Hakiki
Jelas, kita masih dijajah. Kebijakan ekonomi masih merujuk pada Kapitalisme, ideologi penjajah. Di bidang politik, sistem politik yang kita anut, yakni demokrasi, juga berasal dari negara penjajah. Tragisnya, demokrasi menjadi alat penjajahan baru. Hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial.
Akibatnya, kemiskinan menjadi “penyakit” umum rakyat. Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. Bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka. Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan hubungan antarmusuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur di sana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para aktifis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam; mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas.
Karena itu, kunci agar kita benar-benar merdeka dari penjajahan non-fisik saat ini adalah dengan melepaskan diri dari: (1) sistem Kapitalisme-sekular dalam segala bidang; (2) para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis.
Selanjutnya, kita harus segera menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh kehidupan kita. Hanya dengan syariah Islamlah kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan. Hanya dengan syariah Islam pula kita bisa meraih kemerdekaan hakiki.
Syariah Islam yang diterapkan oleh Khilafah Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat karena kebijakan politik ekonomi Islam adalah menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Negara juga akan memberikan kemudahan kepada rakyat untuk mendapatkan kebutuhan sekunder dan tersier. Negara pun akan menjamin kebutuhan vital bersama rakyat seperti kesehatan gratis, pendidikan gratis dan kemudahan transportasi. Khilafah Islam juga akan menjamin keamanan rakyat dengan menerapkan hukum yang tegas. Capaian semua itu berdiri tegak di atas sebuah ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia, menenteramkan jiwa dan memuaskan akal. Itulah ideologi Islam yang akan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Mahabenar Allah Yang berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad saw.) melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []
KOMENTAR AL-ISLAM:
Ancaman Terhadap Presiden Selalu Ada (Kompas, 17/8/2010).
Itu baru dugaan, sementara ancaman terhadap rakyat (ancaman kemiskinan, ketertindasan, dll) adalah kenyataan!

Pidato SBY , Tidak Mencerminkan Seorang Presiden (Degradasi Akhlaq Seorang Presiden ? )

Jakarta,-Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus lalu terus menuai kritik. Banyak pengamat menilai bahwa pidato tersebut hanya pencitraan dan tidak menyentuh permasalahan utama yang dihadapi rakyat. Bahkan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menilai SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato. Tetapi tidak lebih seperti seorang pengamat yang sedang menyampaikan hasil amatannya.

Ismail mengingatkan bahwa SBY itu seorang presiden. Ia bukan seorang pengamat politik, bukan seorang anggota DPR, juga bukan rakyat biasa. Dia adalah seseorang yang ditangannya ada kewenangan dan kewajiban. Jadi semestinya pidatonya itu mencerminkan seorang presiden.

“Tapi saya melihat pidatonya itu baru mencerminkan dia sebagai seorang pengamat,dia potret masalah-masalah yang ada tetapi tidak terlihat langkah dia sebagai seorang presiden,” ujarnya kepada mediaumat.com, Selasa (17/8) petang di Jakarta.

Dia hanya mengatakan tahu banyak pilkada bermasalah, demokrasi mahal, ada ini ada itu, tetapi apa tindakan dia sebagai seorang presiden? “Saya ingin mengatakan daripada dia berpidato seperti itu lebih baik dia diam tetapi banyak melakukan berbagai hal yang diperlukan oleh rakyat banyak!” tegasnya. Misalnya, menerapkan kebijakan praktis soal gas sehingga rakyat tidak diteror lagi oleh ledakan gas; menstabilkan harga-harga agar tidak naik terus.

SBY pun terlalu membesar-besarkan sesuatu yang kecil. SBY menganggap pluralitas terancam, terorisme mengancam. Coba adakan jajak pendapat, tanya rakyat, apa yang sebenarnya paling menakutkan mereka? Bukan pluralisme dan bukan terorisme. Soalnya terorisme itu mengancam apa? itu hanya klaim dari para pejabat, khususnya dari kepolisian. Setelah bom Rizt Carlton kan tidak ada lagi. Bom itu pun relatif kecil ya. Artinya ada masalah lain yang lebih besar yang luput dari perhatian SBY.

Demoralisasi masyarakat misalnya. Itu lebih bahaya lagi dari terorisme. Banyak masyarakat yang putus asa sehingga bunuh diri. Itu kan harus diketahui akar penyebabnya? Itu semua kan terkait erat dengan kebijakan ekonomi yang berakibat menyengsarakan rakyat, ditambah lagi minimnya edukasi keimanan sehingga membuat rakyat rentan stress dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.

Jumlah korban bunuh diri ini lebih banyak daripada korban bom. Jadi sebenarnya bahaya mana?”Sehingga saya bependapat, sebagai pengamat pun SBY juga gagal menjadi pengamat yang baik untuk mengidentifikasi masalah negara ini!” ungkapnya.

Minoritas Tindas Mayoritas

Ismail pun menyinggung soal toleransi antar umat beragama. Ketika pelanggaran itu menimpa umat mayoritas dianggap tidak ada masalah tetapi umat minoritas selalu membesar-besarkan masalah yang menimpanya. Padahal kalau ditelisik, sebenarnya kesalahan bermula pada umat minoritas itu sendiri.

Hebohnya Jemaah Kristen HKBP di Bekasi, itu sebenarnya kasus kecil yang dibesar-besarkan. Itukan problem mereka sendiri. Problem administratif sebenarnya. Tetapi seolah-olah dianggap sebagai problem penindasan, agama mayoriyas terhadap minoritas. Mereka tidak memenuhi syarat untuk mendirikan gereja. Tetapi tetap mendirikan tempat ibadah, sehingga kan menjadi ilegal, warga setempat jelas saja tidak terima. Kemudian dibesar-besarkan seakan-akan umat yang mayoritas yang bersalah dan tidak toleransi.

Padahal banyak sekali diskriminasi yang ditimpakan kepada umat Islam. Lihatlah umat Islam di Bali, betapa sulitnya umat Islam mendirikan masjid di sana. Umat Islam tidak boleh adzan. Begitu juga umat Islam di NTT, di Papua, nasibnya juga sama. Tapi itu tidak diekspos, jadi seolah-olah yang dijadikan masalah kerukunan itu ketika ada orang non Muslim itu yang punya masalah, kemudian dicaplah orang Islam sebagai tidak toleran. Tetapi giliran umat Islam yang punya masalah tidak dianggap sebagai problem kerukunan antar umat beragama. “Nah, presiden juga lupa menyinggung masalah ini,” ungkap Ismail.

Itu baru sedikit bermasalah dengan umat Islam, itupan karena kesalahan umat Kristen sendiri yang tidak memenuhi syarat administratif mendirikan gereja. Sudah dihebohkan. Lha umat Islam sendiri malah sudah ditembagi oleh pemerintah! Kasus baru-baru ini saja di Cawang itu kan ditembak, dan polisi tidak tahu siapa mereka yang ditembak. Kalau tidak tahu siapa mereka itu, mengapa ditembak? Kalau sudah tahu mati, mengapa kemudian polisi tidak tahu siapa yang ditembak itu? Itukan sebenarnya masalah. Tapi SBY tidak pernah menyinggung-nyinggung ini. Seolah-olah absah kalau orang ditembak begitu saja, dengan cap teroris kemudian dianggap selesai.

“Intinya SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato, mutu pidatonya sangat mengecewakan, dianggap sebagai pengamat pun pengamatannya saja sudah keliru.” pungkasnya

Tuesday, August 10, 2010

Trik Menghilangkan Restriksi dokumen PDF dengan Tool PDF Unlocker 2.0


*Remove PDF Restriction – PDF Unlocker is a PDF Restriction Removal tool that can remove PDF restrictions for copying, editing, printing & extracting.
* Remove Restriction from Protected PDF File – Remove protected Adobe Acrobat PDF files, removing restrictions on printing, editing, copying (you should have the right to do it or you should know the User Password.).
* Support all version of Adobe Acrobat – SysTools PDF Unlocker successfully Acrobat version up to 9, even with 128-bit or 256-bit encryption.
* Software runs on all Windows version – SysTools PDF Unlocker software successfully supports & runs on all Windows.

PDF Unlocker merupakan tool yang dapat menghilangkan proteksi/restriksi pada dokumen yang berformat *.pdf . Restriksi dokumen pdf biasanya diterapkan untuk menjaga hak cipta seperti pada penyalinan file, editing, cetak dan ekstrak. Tool ini mendukung semua versi dari Adobe Acrobat - sysTool PDF Unlocker dapat menjangkau hingga versi 9, bahkan dengan enkripsi 128 maupun 256 bit. Software ini dapat berjalan pada seluruh versi windows.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More