Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Sunday, August 25, 2013

Amankah Penggunaan Alat Penghemat Listrik itu?



Banyak sekali dipasaran beredar alat penghemat listrik dengan haga yang relatif murah. Tetapi benarkah alat itu bekerja sesuai dengan apa yang dijanjikan yaitu bisa menghemat listrik yang ujung-ujungnya mengurangi tagihan?

Setelah dibongkar, ternyata alat “penghemat daya” tersebut hanya berisi kapasitor saja. Artinya dia bekerja layaknya kapasitor bank. Kita ulas secara teknis apa yang dilakukan alat penghemat listrik/kapasitor bank. Mari kita pelajari kembali teori segitiga daya, ada VA dan Var serta Watt. Daya semu yang mempunyai satuan VA itu tidak dapat dihilangkan. Daya aktif juga besarnya sesuai dengan kebutuhan beban, dan tidak bisa dikurangi. Dalam segitiga daya ada sudut antara VA dan Watt yang sering disebut power factor. Kalau pada beban banyak digunakan beban inductive maka akan timbul daya Reactive dengan vector keatas. Begitu pula sebaliknya bila beban yang digunakan adalah beban capastif maka akan menimbulkan daya reactive dengan vector kearah bawah. Semakin besar nilai daya reactive maka akan semakin besar pula daya semu(VA) yang harus disupply untuk daya aktiff (watt) yang sama. Nah apabila beban bersifat resistif maka tidak akan muncul daya reactive, sehingga VA=Watt.
Dengan menambahkan capasitor sebagai beban maka akan timbul daya reactive ke arah bawah. Apabila beban awal bersifat inductive (arah atas) maka beban reactive yang ditimbulkan kapasitor akan mengurangi daya reactive dari beban inductive, sehingga akan mendekati watt atau setara dengan beban resistive. Namun apabila beban awal sudah bersifat capasitive maka justru daya reactive akan semakin bertambah (kearah bawah) sehingga VA akan jauh lebih banyaak untuk Watt yang sama.

Jadi alat ini bukan untuk menghemat tagihan listrik, tapi untuk memaksimalkan daya listrik yg sudah kita beli. Bahkan, pemasangan kapasitor yang tidak terkontrol sesuai beban dapat menyebabkan beban kapasitif. Beban kapasitif ini menyebabkan kenaikkan tegangan yg berlebih sehingga bisa saja peralatan elektronik rusak dan ada peristiwa yg lebih ektrim yakni terjadi kebakaran karena seolah-olah terjadi “hubung singkat” atau “kosleting” karena terjadi resonansi akibat pemasangan kapasitor yg tidak sesuai dengan beban atau tak terkontrol. Jadi benarkah alat penghemat listrik itu?

Ketika Harmonic Filter Jebol

Harmonisa sekarang lagi santer-santernya diperbincangkan. “Penyakit” yang muncul bersamaan dengan kemajuan teknologi kelistrikan ini sekarang sedang trend lantaran biasanya ditimbulkan oleh alat-alat canggih yang notabene nya merupakan perangkat hemat energi. Kehadiran harmonisa sebenarnya dapat dilihat dari bentuk gelombang/sinyal listriknya, kalau bentuk sinyalnya sudah tidak sinus artinya mengandung harmonisa. Semakin besar harmonisa akan semakin besar juga perbedaan sinyalnya apabila dibandingkan dengan sinyal sinus.

Obat yang sekarang menjadi andalan adalah harmonic filter. Ada dua jenis harmonic filter yang beredar di pasaran, yaitu passive harmonic filter dan active harmonic filter. Ada banyak referensi yang bisa didapatkan mengenai kekurangan dan kelebihan dari kedua jenis harmonic filter tersebut. Disini akan saya kemukakan salah satu kelebihan dan kekurangan dari masing-masing apabila keduanya mengalami error atau gangguan.

Bisa dilihat dari gambar bahwa active filter dan pasive filter mempunyai cara instalasi yang berbeda (karena cara kerja berbeda). Active filter dipasang secara pararel, yaitu tidak memutuskan wiring dari source ke load. Sedangkan passive filter dipasang secara seri, yaitu dipasang diantara source dan load.
Apabila terjadi masalah, entah itu error atau kerusakan pada filter tentunya akan lebih menguntungkan apabila kita menggunakan active filter. Karena sifatnya yang pararel, kerusakan atau error pada filter tidak akan menghentikan proses supply dari source ke load, jadi load masih bisa beroperasi seperti biasa, hanya saja harmonisa tidak terfilter.

Lain halnya apabila menggunakan passive filter, karena sifatnya yang seri dengan load, maka apabila terjadi masalah/error pada filter maka sistem mau tidak mau ikut bermasalah (harus shutdown). Jadi proses supply dari source ke load akan terganggu yang artinya operational load akan terhenti. Semoga bisa menjadi referensi bagi anda yang sedang mencari filter harmonisa.

Tangkap Engineer, Aparat Mesir Temukan Data 750 Ribu Rakyat Miskin yang Dibantu IM


Engineer Muhammad Khairat Asy Syathir atau lebih di kenal dengan Eng. Khairat Asy Syathir, seorang pengusaha Mesir dan juga Wakil I Jamaah Ikhwanul Muslimin Mesir awal bulan lalu ditangkap junta militer dalam rangkaian operasi kudeta penjatuhan presiden terpilih DR Muhammad Mursi.

Saat penangkapannya, ditemukan sebuah hardisk yang setelah dibuka ternyata isinya adalah data 750 ribu keluarga miskin yang dibantunya selama ini.

Dalam sebuah video di Youtube, dijelaskan kalau setiap keluarga terdiri dari 4 orang maka totalnya menjadi 3 jutaan jiwa.

Bentuk bantuan berupa sembako dalam paket kardus senilai 37 Junaih Mesir. Jadi, jika ditotal, maka tiap bulan Khairat Asy Syathir merogoh sekitar 30 juta Junaih Mesir untuk membantu rakyat jelata.

Ustadz Anshari Taslim, Lc, pengamat gerakan Islam sekaligus penerjemah kitab-kitab turats (klasik), menyebutkan bahwa perbuatan Khairat Asy Syathir ini mirip dengan Ali Zainal Abidin, salah satu Ahlul Bait keturunan Rasulullah.

“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau yang lebih dikenal dengan nama Zainul Abidin. Syiah menganggapnya sebagai salah satu imamnya, padahal dia adalah Ahlus Sunnah. Zainul Abidin ini semasa hidup dikenal sebagai orang pelit (yang) tak pernah terlihat menyumbang. Tapi begitu dia meninggal dunia barulah mereka tahu bahwa selama ini tiap malam dia memberikan makan kepada seratus keluarga miskin di Madinah. Bahkan, di punggungnya masih terlihat bekas keranjang yang selalu dia bawa di malam hari untuk membawa makanan itu.”

Analisa Teknis Ledakan Kabel Underground di Mangga Besar

Pada hari Rabu (21/08/13) yang lalu, kita dikejutkan dengan peristiwa meledaknya kabel bawah tanah PLN. Tak kurang dari 6 titik lokasi dibuat porak poranda dalam waktu yang berbeda. Tak hayal, warga dikawasan Mangga Besar Taman Sari Jakarta Barat pun dibuat was-was karena kejadian tersebut. Menurut informasi yang kami dapatkan, kabel bawah tanah tersebut merupakan saluran tegangan medium voltage dengan besar tegangan mencapai 5000 volt. Dengan kapasitas itu, sangatlah wajar jika ledakan yang dihasilkan mampu meluluh lantakkan permukaan tanah yang ada diatasnya.

Meski saat ini belum ada keterangan resmi yang menyebutkan secara pasti apa penyebab terjadinya ledakan, namun korsleting listrik diduga menjadi salah satu penyebab yang paling berpotensi. Dugaan ini diperkuat dengan keterangan dari mantan Meneg BUMN Dahlan Iskan yang menyebutkan bahwa terjadinya ledakan berasal dari kabel lama. Beliau juga menyebutkan jika pekerjaan penggantian kabel atau peremajaan kabel bawah tanah bukanlah pekerjaan yang mudah. Posisi kabel bawah tanah saat ini banyak yang berlokasi di jalan raya, jalan tol hingga flyover. Dan memang terbukti jika area yang menjadi santapan empuk “si petasan listrik” kemarin adalah jalan raya yang berdekatan dengan bangunan komersil. Dari sisi usia, kabel bawah tanah yang meledak ditengarai telah berusia diatas 20 tahun sehingga besar kemungkinan sistem isolasinya telah terdegradasi.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa isolasi kabel dapat terdegradasi. Faktor alam seperti cuaca,panas, kelembaban, keasaman tanah, banjir dll, memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap menurunnya kualitas isolasi. Selain kerusakan isolasi, kabel bawah tanah juga memiliki resiko kerusakan fisik yang lebih besar. Adanya pembangunan gedung, penggalian tanah baru seperti pipa air minum dan sebagainya dapat meningkatkan resiko cacat pada isolasi kabel (terkelupas bahkan putus). Resiko akan makin besar jika dilokasi kabel banyak dihuni oleh binatang pengerat seperti tikus dsb.

Selain faktor eksternal, rusaknya sistem isolasi kabel dapat diakibatkan oleh buruknya kualitas dari listrik yang dialirkannya. Munculnya penyakit listrik modern seperti harmonisa menyebabkan temperatur kabel meningkat. Efeknya, struktur kimia dari isolasi kabel akan mengalami perubahan karakteristik menjadi seperti senyawa karbon. Dengan demikian, pada saat arus listrik mengalir dengan volume yang besar, sebagian dari arus tersebut dapat menembus sistem isolasi. Fenomena ini sering disebut dengan arus bocor. Arus bocor inilah yang sering menyebabkan hubung singkat atau korsleting. Tak seperti saluran kabel di udara yang lebih mudah diamati, kabel bawah tanah memiliki tingkat kesulitan maintenaance yang lebih tinggi.

Dalam ilmu kelistrikan, korsleting listrik dapat memicu terjadinya short current dimana arus akan mengalir dengan jumlah yang sangat besar. Guna mencegah timbulnya ledakan, lazimnya rangkaian listrik telah dilengkapi dengan sistem proteksi. Umumnya perangkat proteksi ini berupa circuit breaker, semacam switch yang akan otomatis akan memutuskan supply listrik ketika terjadi lonjakan arus melebihi kapasitasnya (instalatur listrik menyebut dengan istilah arus pengenal).

Ada fenomena yang menarik dari peryataan pak Dahlan Iskan dimana pada saat terjadinya ledakan, perangkat proteksi pada gardu ternyata masih ON alias tidak mengalami trip. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Inilah hal penting yang harus kita sadari. Penggunaan rangkaian proteksi seperti circuit breaker tak serta merta menjadikan sistem kelistrikan kita 100% aman. Menghadapi konsleting listrik ibarat mengadapi terkaman singa lapar. Meski anda dibekali dengan senapan AK47 sekalipun, bukan berarti anda dapat melumpuhkan si singa dengan mudah. Terlebih jika anda berhadapan dalam jarak dekat. Kecepatan dan ketepatan bidikan peluru akan beradu dengan kecepatan terkaman si raja hutan. Demikian halnya dengan konsleting listrik, kecepatan respon circuit breaker dalam memutus arus akan berhadapan dengan kecepatan pengumpulan energi ledakan. Jika respon breaker bagus, maka rangkaian dapat diputus sebelum titik kontak korsleting meledak. Akan tetapi jika circuit breaker lebih “lelet”, tak hayal ledakanlah yang akan keluar sebagai sang pemenang.

Dilihat dari kaca mata power quality, terdapat beberapa penyebab lambannya respon circuit breaker. Kemunculan harmonisa dalam jaringan listrik menyebabkan perangkat seperti relay dan circuit breaker bekerja secara abnormal. Fenomena ini sering dirasakan oleh teman-teman kita yang bekerja di industri dimana circuit breaker trip berada diluar batas arus pengenalnya. Harmonisa sendiri adalah sinyal penganggu yang diakibatkan oleh penggunaan beban non linier seperti lampu hemat energi , inverter, switching power supply dsb. Faktanya, justru beban jenis inilah yang saat ini sangat mendominasi di kelistrikan kita. Berbeda dengan kondisi 20 tahun lalu dimana pure load seperti lampu pijar,pemanas dan motor konvensional masih banyak ditemui.

Berkaca dari maraknya peristiwa kebakaran yang sering terjadi akhir-akhir ini, ada baiknya jika kita memulai untuk tidak menomor duakan urusan maintenance listrik. Mengapa?, dengan kondisi kualitas listrik yang buruk, semakin besar pula resiko tersebut terjadi pada kita. Dalam kondisi yang sudah demikian, maka pengecekan listrik dalam bentuk prediktif dan preventif maintenance akan menjadi solusi yang tepat. Segera lakukan pemeriksaan secara intensif dan berkala untuk mengetahui kualitas kelistrikan ditempat anda sebelum bahaya menimpa.

Friday, August 23, 2013

Rapper Jerman Masuk Islam dan Berjihad ke Suriah


Selasa (20/08/13) laporan pers Majalah Jerman Der Spiegel menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan para pejabat Jerman tentang mujahidin Jerman di Suriah.

Para pejabat Jerman cemas karena kemampuan Rapper Jerman yang masuk Islam kemudian pergi ke Suriah dan bergabung dengan mujahidin di sana, Deso Dogg, telah menjadi alat propaganda.

Laporan itu menyebutkan video yang mengajak muslimin untuk berjihad di Suriah dan Deso mengajak warga Jerman untuk mengikuti jejaknya. Dan video-video yang dipublikasikan tentang seruan untuk berjihad ke Suriah memberikan pengaruh kepada para pemuda.
Kiri: Deso saat menjadi Rapper Jerman, Kanan: Saat Berjihad di Suriah.

Deso Dogg atau yang dikenal oleh mujahidin Suriah dengan nama Abu Talha Al-Almani adalah penyanyi rap terkenal di Jerman melalui lagu-lagu hip hopnya. Namun, ia meninggalkan popularitas dan sorotan dunia setelah ia memeluk Islam.

laporan tersebut menegaskan, sekitar 20 orang warga Jerman yang sekarang berperang di Suriah melawan pasukan tiran Bashar Assad. Sebagian dari mereka membawa istri-istri mereka dan di front pertempuran.

Awal Agustus lalu, Deso dimasukkan dalam daftar pemantauan Otoritas Jerman di Berlin. Namun ia berhasil lari dari Jerman. Dan ia muncul di media setelah berulang kali berupaya masuk ke Suriah bersama teman-temannya yang muslim.

Perlu diketahui, Nama kelahiran Deso Doggg adalah Denis Mamadou Cupert.Ia memulai karir rapnya pada tahun 1995 dan berhenti pada tahun 2010. Setelah masuk Islam ia dienal dengan nama Abou Maleeq.

Link video Abu Talha Jihad in Syria

Dekonstruksi Jurnalistik Mainstream


Oleh: Mohamad Fadhilah Zein*

Haruskah seorang jurnalis melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistik? Pertanyaan ini menggelitik penulis karena ada cara pandang sebagian jurnalis yang mengatakan, jika jurnalis tidak melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistiknya, contoh meliput konflik agama, maka akan kehilangan obyektivitas. Benar kah cara pandang demikian? Apakah seorang jurnalis yang memegang teguh ajaran agamanya akan kehilangan obyektivitasnya ketika melakukan tugas jurnalistik di tengah konflik? Apapun penyebab konflik tersebut?

Penulis beranggapan cara pandang demikian tidak lepas dari paham sekulerisme yang memisahkan agama dari realita kehidupan. Paham ini sudah berkelindan dalam ilmu-ilmu jurnalistik yang diajarkan di banyak perguruan tinggi. Keduanya sudah menjadi darah daging yang sulit dipisahkan. Hal itu dapat dilihat dari sembilan elemen jurnalisme yang menjadi ideologi mainstream dalam jurnalistik. Salah satu elemen yang diajarkan adalah, jurnalistik harus mengejar kebenaran untuk disampaikan kepada masyarakat.

Namun, jurnalistik tidak mengajarkan apa itu kebenaran dan apa parameter kebenaran yang dianut. Dalam kajian jurnalistik, kebenaran menjadi relatif dengan alasan terlepas dari kepentingan tertentu atau tidak memihak demi keberimbangan. Penulis buku sembilan elemen jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, bahkan mengaku kesulitan menentukan apa itu kebenaran. Bagi keduanya, jurnalistik akan sampai pada kebenaran jika sudah mewawancarai ribuan orang mengenai suatu persoalan. Dengan ribuan pendapat yang dikumpulkan, maka akan diolah untuk kemudian dijadikan sebuah kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan dari wawancara terhadap ribuan individu tentunya akan menimbulkan persoalan lain. Bukan kah setiap kepala memiliki pendapat yang tidak sama? Seperti pepatah mengatakan, rambut boleh hitam, tapi isi kepala belum tentu sama. Belum lagi pendapat ribuan orang di suatu negara akan berbeda dengan di negara lain. Artinya, kebenaran yang diajarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel kehilangan parameter dan pijakannya. Dia akan menjadi relativisme yang kemudian sulit menemukan definisi kebenaran sejati.

Jurnalistik yang mengadopsi paham sekulerisme telah menjadikan para jurnalis sebagai manusia yang tercerabut dari identitas agama. Di dalamnya, ditelan mentah-mentah gelombang perubahan cara pandang. Jurnalistik menjadi sebuah bagian dari industrialisasi media massa yang dikuasai oleh kelompok kapitalis. Harvey Cox memberikan istilah sekulerisme sebagai pembebasan manusia dari agama dan pengawasan metafisik, menjadi pengalihan perhatian kepada yang ada "di sini dan kini", sebagai konsekuensi logis dari dampak keyakinan yang bersumber dari teologi kristen terhadap sejarah.

Perguruan Tinggi Islam yang mengajarkan jurnalistik harus mengubah cara pandang pemisahan agama dalam jurnalisme. Dalam sejarahnya, gerakan sekulerisme selalu mendapat penolakan di negara-negara muslim. Bahkan, di Turki saat ini, secara perlahan-lahan politik Islam mulai bergeliat melawan dominasi paham sekuler. Kajian yang dilakukan Mark Juergensmeyer (1993) menunjukkan, negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim belum merasakan hakikat kemerdekaan dari kolonialisme barat, jika negaramereka belum menerapkan Syariat Islam.

Jurnalistik dengan Islamic Worldview

Islam memiliki catatan yang panjang dalam kegiatan jurnalistik. Para ulama Islam menulis ratusan kitab yang di dalamnya sarat dengan informasi, peristiwa dan cara pandang. Ali bin Abi Thalib bahkan menggambarkan "tulisan adalah tamannya para ulama". Imam al Ghazali adalah jurnalis ketika menceritakan ulama di zamannya dalam Ihya Ulumuddin. At-Thabari adalah jurnalis ketika dia merekam peristiwa sejak Nabi Adam sampai peristiwa di zamannya dalam tarikh al Umam wa al Muluk. Ibnu Abdi Rabbin juga jurnalis, ketika dia menuturkan peristiwa-peristiwa sosiokultural dunia Islam klasik dalam 25 kitab yang diberinya nama Al-Iqd al Farid. Dalam permulaan bukunya, dia bahkan mengutip ucapan Plato: "Pikiran manusia terekam di ujung pena mereka".

Para ulama Islam itu merupakan jurnalis-jurnalis andal di zamannya. Mereka jujur dan dapat dipercaya menyampaikan informasi secara obyektif. Mereka telah berjasa bukan saja sebagai perekam peristiwa atau pengawal peradaban Islam, melainkan juga tonggak-tonggak sejarah perkembangan Islam. Kitab-kitab yang mereka tulis menjadi media yang kemudian bisa dipelajari oleh generasi saat ini. Satu hal paling penting yang dapat diambil hikmahnya adalah, menjadi jurnalis yang obyektif tidak perlu menanggalkan kebenaran agama yang dianut.

Para ulama di atas mampu membuktikan, jurnalis dengan cara pandang yang dibalut dengan Islamic Worldview, tidak akan menghilangkan obyektivitas. Kebenaran dalam Islam yang sudah dibakukan dalam kitab suci, tidak menghilangkan obyektivitas jurnalis dalam melihat realita kehidupan. Lebih dari itu, jurnalis muslim hendaknya sanggup menjadi jurnalis profetik. Artinya, dia mampu menjadi pembawa amanat kenabian dan risalah agama, serta mampu melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Dalam konteks saat ini, Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi kajian untuk menghadang dominasi negara maju di bidang komunikasi massa. Meminjam istilah ilmuwan sosial, Johan Galtung, adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang komunikasi massa. Imperialisme di bidang komunikasi massa ini kemudian merasuk dalam ilmu-ilmu jurnalistik. Mengapa disebut imperialisme komunikasi? Karena pada kenyataannya, hubungan negara maju dengan negara berkembang menciptakan arus informasi yang mengalir bersifat feodalistik dan deterministik.

Negara-negara barat menjadi jendela informasi secara sepihak terhadap negara-negara muslim. Tapi negara-negara muslim tidak bisa menyebarkan informasi yang benar tentang kondisi mereka ke negara-negara barat. Maka, yang terjadi adanya distorsi informasi tentang Islam dan umat Islam di negara-negara barat. Sistem informasi yang demikian sudah dirancang jauh-jauh hari sebagai bagian dari hubungan antara negara maju (baca: barat) dan negara-negara berkembang (baca: Islam).

Kantor-kantor berita yang dimiliki negara-negara Barat, bukan hanya pembuat berita, tetapi mereka juga menjadi penentu berita apa saja yang layak disalurkan ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Dengan pola arus penyebaran informasi seperti ini, setidaknya ada dua implikasi. Pertama, menyangkut akurasi pemberitaan. Kedua, menyangkut soal preferensi obyek pemberitaan.

Untuk hal yang pertama, buku Covering Islam, karya Edward Said, berbicara dengan sangat detail bagaimana kantor-kantor berita Barat menyajikan Islam sebagai berita. Menurut Said, banyak pemberitaan tentang Islam yang disajikan secara superfisial oleh jurnalis-jurnalis Barat. Hal itu, menurutnya, bisa terjadi karena ketidaktahuan atau kesengajaan.

Tentang hal yang kedua, Preferensi obyek pemberitaan, biasanya erat hubungannya dengan persoalan ideologis. Dalam soal pemberitaan, negara-negara Barat menganut ideologi "free flow of ideas by words and image". Ideologi ini kemudian diartikan sebagai bebas memberitakan apa saja yang menarik untuk diketahui publik. Ideologi pemberitaan yang demikian sudah tentu menguntungkan negara-negara Barat, karena mereka yang menguasai sarana informasi dan komunikasi.Ideologi ini juga menjadi alat legitimasi yang paling baik bagi negara-negara barat untuk berperan sebagai "jendela dunia" bagi negara-negara Muslim.

Kita beruntung hidup di era internet yang demikian luas. Jurnalis-jurnalis muslim bisa membangun media massa online yang mudah dan murah, namun memiliki daya pengaruh yang besar.Bahkan kehadiran sosial media bisa mengimbangi adanya imperalisme dan kolonialisme di bidang informasi dan komunikasi.

Dengan gencarnya arus sekulerisasi di lini massa, maka kajian Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi alternatif untuk menghadangnya. Penolakan terhadap sekulerisme tidak hanya terjadi di dunia Islam.Sejarah telah menunjukkan penentangan terhadap sekulerisme di seluruh negara. Agama dan politik jalin-menjalin sepanjang sejarah di seluruh dunia. Sejumlah pemberontakan melawan penguasa, dari Revolusi Maccabean di Israel kuno sampai pemberontakan Taiping di Cina, gerakan Wahabiyah di Arab Saudi dan Puritanisme di Inggris, merupakan gerakan perlawanan kelompok agama terhadap sekulerisme.

* Penulis Buku “Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” dan Dosen Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Pemimpin Arab Sumbang Miliaran Dollar Dukung Kudeta Mesir, Namun Pelit untuk Pengungsi Suriah

Dr Tariq Suwaidan

Dai sekaligus pemikir Islam Dr Tariq Suwaidan, menyatakan keheranannya dalam situs jejaring sosial Twitter, terhadap para pemimpin negara Arab khususnya negara-negara Arab teluk.

Dalam kicauannya, Dr Tariq Suwaidan bertanya,”Mengapa orang-orang baik susah payah mengumpulkan sumbangan untuk warga Suriah, sementara pemerintah dan para pemimpin Arab dengan mudahnya mengirimkan miliaran dollar Amerika kepada pemerintahan kudeta militer di Mesir.”

Dia menambahkan dalam serangkaian tweet di situs “Twitter” pada hari Kamis: “Anda memiliki hak untuk membenci Ikhwanul Muslimin dan Presiden Muhammad Mursi, tapi saya harap anda sekalian tidak membenci kebebasan dan hak asasi manusia.”

Ia melanjutkan: “kini Presiden Suriah, Bashar Assad sudah gila dengan mengirimkan rudal berisi gas beracun Sarin untuk melakukan kejahatan terburuk terhadap kemanusiaan.”

Dia menambahkan: “diantara pemimpin Arab ada yang dibutakan oleh konflik sektarianisme dan kelompok, akan tetapi tidak mau mengingkari pembantaian kemanusian di Suriah.”

Dia menjelaskan bahwa para pemimpin arab kini lebih diliputi rasa dendam dan haus kekuasaan daripada memiliki rasa kemanusiaan, mereka akan bertele-tele untuk mengeluarkan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi Suriah di luar negeri. Sebelimnya Pangeran Saudi Alwaleed bin Talal, telah mengambil keputusan untuk memberhentikan Suwaidan dari jabatannya sebagai Direktur umum saluran televisi Arrisala, karena mengaku sebagai bagian dari kelompok Ikhwanul Muslimin.

Malam Ketika Hasan Al Banna Dibunuh


SEORANG tua—berusia sembilan puluh tahun, membuka pintu rumahnya, menjelang tengah malam, ketika mendengar ketukan. Seorang perwira militer membawa jenazah, yang tak lain, adalah putranya sendiri, Hasan al-Banna. Maka, 12 Februari l949, adalah peristiwa pertama yang bersejarah yang dialami Jamaah Al-Ikhwanul Al-Muslimun, di mana pemimpin jamaah itu, dibunuh aparat Raja Farouk.

Malam itu, sang perwira memberi instruksi kepada orang tua itu: “Tidak boleh ada suara, tidak boleh ada tangis, tidak boleh ada ucapan belasungkawa, dan tidak boleh orang lain yang ikut mengurus jenazah itu, tidak boleh ada yang mengiringi jenazah ke tempat pekuburan. Kecuali, keluarga yang berada di rumah itu, dan pukul sembilan pagi, jenazah itu sudah harus dikubur!”

Menjelang pagi hari , perwira itu datang lagi, dan memberi perintah: “Bawalah anakmu untuk dikubur!”

“Bagaimana cara membawanya. Silakan tentara membawa?” tegas orang tua itu.

Perwira itu balik membentak : “Keluargamu yang membawa! Cepat!”

Di pagi hari, orang tua yang sudah lanjut usianya itu mengurus sendiri anaknya. Ia mengusap seluruh tubuh anaknya yang penuh dengan darah, akibat rentetan tembakan. Orang tua itu menshalatkan jenazah Hasan al-Banna bersama anak lekakinya yang masih kecil dan keluarga wanitanya. Kemudian, menggali liang dan menguburkan jenazah anaknya bersama dengan isteri dan putri-putrinya. Tanpa bantuan siapapun. Di saat yang hampir bersamaan, Raja Farouk mengadakan pesta besar, merayakan ulang tahun kelahirannya, 11- 12 Februari, l949, di Amerika, perpaduan antara ulang tahun raja, dan perayaan atas kematian Hasan al-Banna, yang sangat meriah.

MAKA mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah ia dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian ia berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini ia lakukan teratur dua minggu sekali. Ia dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun,” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll.

Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah ia.

Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), ia memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin.

Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.

Dakwah Aal-Banna bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato di depan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).

Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah ia. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya. Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid ia yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid ia yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka.

Tuesday, August 20, 2013

Militer Mesir Makin Brutal, WNI Ingin Segera Dievakuasi


Paska pembantaian berdarah yang dilakukan militer Mesir 14 Agustus lalu dan ditetapkannya status darurat, kondisi keamanan di mesir kian memburuk.

Aparat militer semakin brutal dan cenderung sentimen terhadap warga pendatang terutama yang berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Razia dan operasi yang dilakukan aparat bahkan terlalu berlebihan, mereka melakukan penggeledahan hingga ke ponsel pribadi untuk memeriksa foto-foto atau video, bahkan hingga ke akun facebook.

“Kondisi keamanan mesir sekarang menurun, wafidin (pendatang) terutama dari Indonesia dan Malaysia agak sentimen militernya. Ada kawan yang digeledah sampai memeriksa HP, foto-foto atau video tentang kerusuhan Mesir dan juga membuka fb-nya,” ujar Ummu Abdullah, kontributor voa-islam.com di Mesir, Senin (19/8/2013).

Akibat perlakuan militer Mesir yang represif tersebut, kondisi keselamatan WNI di Mesir pun terancam.

“Kemarin ditemukan dua mayat wanita Filipina d idalam koper di daerah Saqor Quraisy (Hayyu 'Asyir) yaitu wilayah yang banyak warga dihuni warga dari Asia. Kejadian itu cukup membuat panik warga Indonesia dan mendesak pemerintah untuk diadakannya evakuasi. Di Mansuroh ada juga mahasiswi kedokteran malaysia yang didobrak rumahnya oleh militer,” ungkapnya.

Untuk itu, WNI yang kini masih berada di Mesir mendesak pemerintah Indonesia agar segera melakukan evakuasi sebelum jatuhnya korban jiwa.

“Mendesak pemerintah indonesia untuk melakukan evakuasi. Karena kami tidak mau menunggu jatuhnya korban jiwa baru ada tindakan pemerintah. Pemerintah mesir sekarang cendrung brutal,” pungkasnya.

Mengingat situasi keamanan yang terus memburuk, WNI yang kini masih berada di Mesir menyerukan kepada umat Islam di Indonesia agar memanjatkan doa demi keselamatan mereka dan juga rakyat Mesir.

El Baradei Kabur ke Swiss, Mubarak pun Bakal Bebas


Mantan Presiden Mesir, Marsekal Mubarak, minggu bakal bebas. Sementara itu, mantan Wakil Presiden Mesir, Mohamad el-Baradei meninggalkan Mesir, dan sekarang telah tiba di Wina,Swiss.

"Semua hanya tinggal prosedur administrasi yang tidak akan memerlukan waktu lebih dari 48 jam. Mubarak harus dibebaskan akhir pekan ini," ujar pengacara Mubarak, Fareed el-Deeb, Senin, 19/8/2013.

Pembebasan Mubarak itu, tak lama, sesudah militer menggulingkan Presiden Mohamad Mursi, dan melakukan pembantaian terhadap ribuan pendukung Presiden Mursi di pusat kota Cairo, terutama di Rabaa al-Adawiyah Square dan Nahda.

Mubarak, 85, ditangkap setelah pemberontakan rakyat yang menggulingkannya pada 11 Februari 2011, sebagai revolusi yang melanda seluruh dunia Arab.

Mantan orang kuat Mesir itu berada dalam sangkar selama persidangan atas tuduhan korupsi terlibat dalam pembunuhan demonstran.

Lebih dari satu tahun, Mubarak berada dalam tahanan, terkait dengan kasus korupsi dan pembunuhan, dan semua tuduhan itu telah dibersihkan oleh jaksa, ungkap Fareed el-Deeb.

"Semua yang tersisa hanya prosedur administrasi sederhana yang tidak lebih dari 48 jam. Dia harus dibebaskan pada akhir pekan ini," kata Deeb kepada Reuters.

Tanpa mengkonfirmasikan bahwa Mubarak akan dibebaskan, sebuah sumber pengadilan mengatakan mantan pemimpin akan menghabiskan dua minggu di balik jeruji besi sebelum kekuasaan kehakiman membuat keputusan akhir dalam kasus luar biasa terhadap dirinya.

Mubarak, bersama dengan menteri dalam negeri Mesir, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tahun lalu, karena gagal menghentikan pembunuhan terhadap demonstran saat berlangsung revolusi.

Pembebasan Marsekal Mubarak bisa membangkitkan lebih banyak ketegangan politik di Mesir. Pembebasan Mubarak akan menambah akumulasi kekecewaan rakyat Mesir. Tetapi, Jenderal Abdul Fattah al-Sissi telah bersumpah akan membayar berapapun harganya, menghadapi demonstrasi yang mendukung Presiden Mursi.

Semua itu sudah dibuktikan al-Sissi dengan banjir darah yang terjadi Mesir, di mana ribuan Muslim dibantai secara keji, termasuk membumi-hanguskan Masjid Rabaa al-Adawiyah dah Masjid al-Fatah yang menjadi pusat perlawanan kelompok pendukung Presiden Mursi, Rabu lalu.

Sementara itu, mantan Wakil Presiden Mohamad el-Baradei, yang menjadi arsitek dan dalang kudeta, melarikan diri ke Swiss setelah melihat genangan darah di mana-mana.Sekarang el-Baradei telah tiba di Wina.

El-Baradei tidak sanggup lagi melihat begitu banyak korban pembantaian yang dilakukan oleh militer Mesir. El-Baradei ingin cuci tangan dan melepaskan tanggungjawab, saaat melihat genangan darah rakyat Mesir yang ditumpahkan oleh militer. Sungguh el-Baradei manusia pengecut dan tidak bertanggung jawab.

Monday, August 19, 2013

“Di Zaman Rasul, Orang Syiah Suka Mencuri Sandal”


TELAH diadakan diskusi antara tujuh ulama Syiah di depan ulama Ahlu Sunnah atas undangan Presiden Iran. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui titik perbedaan antara dua kelompok tersebut.

Ketika seluruh ulama Syiah telah hadir, akan tetapi tak satupun ulama Sunni yang datang.

Tiba-tiba masuklah seorang yang membawa sepatu di bawah ketiaknya. Ulama Syiah terheran-heran, kemudian mereka bertanya, “Kenapa kamu membawa sepatumu?”

Orang itu menjawab: “Saya tahu bahwa orang Syiah itu suka mencuri sandal di zaman Rasulullah.”

Ulama Syiah saling pandang terheran-heran akan jawaban itu. Mereka kemudian berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah…”

Orang itu menjawab lagi: “Kalau begitu diskusi telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian? Kalau di zaman Rasulullah tidak Ada Syiah.”

Semua ulama Syiah diam. Ternyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Ahmad Deedat, da’i besar dan Kristolg dunia. Rahimahullah.
Ahmed Deedat, public speaker yang ditakuti misionaris

Sunday, August 18, 2013

Saudi, Yordan, Uni Emirat Arab dan Bahrain Dukung Pembantaian di Mesir


Selain Arab Saudi, Pemerintah Yordania, Uni Emirat Arab dan Bahrain juga menyatakan dukungannya terhadap tindakan represif rezim teroris Mesir terhadap para demonstran sipil. Kedua negara itu juga sependapat dengan pemerintah Saudi dalam menolak apa yang mereka namakan “intervensi negara-negara asing terhadap urusan dalam negeri Mesir”, demikian Al-Jazeera melansir.

Menteri Luar Negeri Yordania Nasir Jaudat pada Kamis (16/8/2013) menyatakan di ibukota Amman bahwa pemerintah Yordania mendukung kebijakan pemerintah (rezim palsu) Mesir dalam melakukan apa yang ia namakan “usaha memaksakan kedaulatan undang-undang”.

“Sesungguhnya Yordania di bawah kepemimpinan Yang mulia Raja Abdullah II berdiri di samping Mesir dalam usahanya yang sungguh-sungguh untuk memaksakan kedaulatan undang-undang, mengembalikan kesehatan negara, mengembalikan keamanan, jaminan keamanan dan stabilitas bagi rakyatnya, merealisasikan kehendaknya dalam mencampakkan ‘terorisme’ dan setiap usaha intervensi terhadap urusan dalam negerinya,” kata Jaudat.

Media massa Yordania mengutip dari Jaudat pernyataannya yang mendukung seruan raja Arab Saudi “kepada rakyat Mesir, bangsa Arab dan bangsa Islam untuk menghadang setiap usaha yang bertujuan menggoncang stabilitas Mesir dan rakyatnya”.

Sikap serupa diungkapkan oleh pemerintah Uni Emirat Arab. Secara resmi pemerintah Uni Emirat Arab mendukung sepenuhnya kedaulatan pemerintahan interim Mesir dan junta militer. Uni Emirat Arab menyambut baik seruan raja Arab Saudi, khususnya seruan untuk menolak “intervensi asing terhadap urusan dalam negeri Mesir”.

Seperti halnya junta militer Mesir, pemerintah Yordania dan Uni Emirat Arab menganggap demonstrasi damai menuntut pengembalian presiden terguling Muhammad Mursi sebagai “terorisme” yang “menggoncang stabilitas Mesir”. Pemerintah Yordania dan Uni Emirat Arab menganggap kecaman dunia internasional terhadap kebiadaban junta militer sebagai “intervensi asing terhadap urusan dalam negeri Mesir”.

Pemerintah Bahrain juga menyampaikan dukungan atas tindakan yang diambil otoritas Mesir terhadap para demonstran pro-Morsi. Menurut Bahrain, merupakan tugas negara untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di negeri itu.

“Langkah-langkah yang diambil otoritas Mesir untuk mengembalikan perdamaian dan stabilitas adalah untuk melindungi hak-hak warga negara Mesir, yang mana negara wajib melakukannya,” demikian pernyataan pemerintah Bahrain.

Sebelumnya, Raja Arab Saudi, Abdullah menyatakan mendukung kepemimpinan militer Mesir. Raja Saudi itu pun menyerukan bangsa Mesir untuk bersatu melawan upaya-upaya untuk merusak kestabilan Mesir.

“Kerajaan Arab Saudi, rakyat dan pemerintahnya hari ini mendukung saudara-saudara di Mesir untuk melawan ‘terorisme’,” demikian disampaikan Raja Abdullah seperti dilansir Al-Jazeera, Sabtu (17/8/2013).

Ironisnya dukungan terhadap kudeta militer itu tidak dianggap sebagai “intervensi terhadap urusan dalam negeri Mesir”. Negara-negara ini bahkan menganggap kebiadaban militer membantai ribuan demonstran sipil sebagai “upaya menegakkan kedaulatan undang-undang, mengembalikan stabilitas negara dan memerangi terorisme”.

Pendeta: Pembakar Gereja di Mesir Itu Milisi Husni Mubarak


Cairo - Saat terjadi aksi biadab dari pasukan teroris Mesir terhadap rakyat pendukung Mursi, beberapa gereja di Mesir dibakar orang. Media Mesir yang pro rezim teroris langsung menuduh massa pro Mursi yang didukung Ikhwanul Muslimin-lah yang membakar gereja tersebut. Parahnya, karena kaum kuffar ada kepentingan, berita ini langsung dikutip dan dibenarkan oleh media-media kafir Barat.

Provokasi dan fitnah murahan seperti ini memang sering terjadi. Seolah sudah menjadi rumus jika gereja terbakar pasti yang membakar adalah kelompok Islam ‘militan’. Ditambah logika bahwa gereja kristen ortodoks koptik memang mendukung penggulingan Mursi yang dilakukan oleh teroris Militer Mesir. Maka sudah pasti kelompok pro Mursilah yang dituduh menyerang gereja. Padahal dalam situasi rusuh yang tidak terkontrol seperti kemarin, dengan mudahnya siapapun menyusup dan berbuat anarki.

Namun di tengah media internasional ramai-ramai menuding Ikhwanul Muslimin sebagai pembakar gereja, Vicar (istilah pendeta dari gereja ortodoks) dari Gereja Mary Gerges di Al Minya Jum’at (16/8/2013) menyatakan, bahwa di saat para imam menyeru pengikutnya untuk melindungi gereja, datanglah gerombolan Milisi Baltagiya pendukung mantan Presiden Husni Laa Mubarak yang melempar bom molotov dan membakar gereja. Baltagiya adalah istilah (bahasa) Mesir untuk menyebut tentara bayaran. Orang-orang Mesir tahu bahwa Diktator Husni Laa Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun lebih itu masih memiliki milisi Baltagiya (tentara bayaran).

Vicar Ayub Yusuf mengatakan kepada stasiun berita “On TV” Mesir bahwa sejak “peristiwa 3 Juli 2013, dimana militer mengumumkan kup terhadap Presiden Mursi, Milisi Baltagiya telah melakukan beberapa kali serangan terhadap gereja dan bangunan monastery bersejarah yang telah berdiri sejak 1.500 tahun yang lalu”. Dalam berbagai aksi demonstrasi, batalgiya inilah yang sering melakukan penjarahan, perampokan dan aksi anarki.

Vicar Yusuf mengatakan bahwa komunitasnya telah melakukan kesepakatan dengan polisi dan tentara untuk melindungi gereja mereka dari serangan batalgiya, namun ternyata polisi tak bisa mengatasinya. Bisa jadi memang ada unsur kesengajaan yang bertujuan membentuk opini bahwa kelompok pendukung Mursi-lah pelakunya.

Beberapa jam setelah pembubaran paksa kamp aksi duduk damai di masjid Rabi’ah Al-Adawiyah dan Al-Nahdhah Square, datanglah gerombolan batalgiya ini dan membakar sejumlah gereja.

Liciknya Kebohongan Media Sekuler di Mesir

Presenter TV Pro Kudeta Mesir

Sebetulnya kekuatan Islamis Mesir sangat kuat dan banyak serta sudah bisa menang melawan kudeta militer. Buktinya 45 hari lebih mereka mampu bertahan. Walaupun sudah dibunuh secara massal jumlah mereka malah makin banyak. Hanya saja media-media mainstream Mesir memusuhi mereka, tak ada yang berpihak pada mereka, yang ada media-media tersebut malah banyak membohongi publik.

Ada beberapa kejahatan sekaligus kebodohan fatal yang dilakukan oleh media-media Mesir untuk membohongi publik:

-Ketika demo pro Islamis berlangsung tak satu pun yang meliput. Mereka malah menayangkan sinetron, komedi, drama, atau acara memasak. Lalu mereka mengklaim tidak terjadi apa-apa. Inilah yang terjadi ketika demo-demo anti kekerasan sebelum 30 Juni lalu.

-Kalaupun mereka turun ke lapangan, yang di-shoot bukan demonstran, tapi jalanan yang bukan tempat demo. Jelas saja sepi, tak ada apa-apa. Seperti yang dilakukan ON tv di Alexandria siang tadi.

-Ketika dua kekuatan menggelar demo, mereka men-shoot dan men-zoom massa pro kudeta yang tak seberapa sehingga kesannya banyak. Atau mereka memutar gambar-gambar lama demo 25 Januari 2011 dan mengatakan itu live. Contohnya demo tanggal 26 Juli 2013 lalu setelah Sisi mohon mandat kepada rakyat pendukungnya untuk memberantas “teroris”. Skenario terbodoh mereka adalah kenapa sampai ada perbedaan siang dan malam antara Tahrir dan Istana Ittihadiyah pada satu waktu.

-Ketika laporan reporter di lapangan berbeda dengan wacana yang disampaikan di studio, mereka buru-buru memutus sambungan karena alasan kualitas suara yang tidak bagus. Inilah yang dilakukan oleh Nile Tv beberapa waktu lalu terkait penyerangan terhadap warga Mesir di Sinai. Studio menyatakan pelakunya adalah oknum bersenjata, tapi reporter melaporkan serangan datang dari pesawat “Israel” hingga akhirnya laporan sang reporter diputus.

Ada banyak lagi pembohongan publik dan kesalahan fatal yang dilakukan oleh media-media Mesir, termasuk fitnah dan kebohongan tentang Rab’ah el Adawiyah. Sayangnya mereka juga tidak berani fair dengan media-media lain. Beberapa media yang cukup objektif seperti Aljazeera, Quds, Misr25 dan lainnya ditekan penguasa dan kameramennya bahkan dibunuh karena menampilkan gambar sesuai realita.

Termasuk masalah data korban pembantaian Rab’ah dan Nahdah yang sangat tidak masuk akal. Disebutkan hanya meninggal ratusan padahal mereka diserang tanpa ampun selama 12 jam bertubi-tubi dan lokasinya dibumihanguskan. Ketika Masjid Rab’ah hangus dibakar, media mana yang meliput? Tapi ketika gereja diserang, media meliputnya rame-rame dan membuat berita selebay mungkin.

Kejahatan serupa tak hanya dilakukan oleh media-media elektronik, tapi juga dilakukan oleh media-media cetak. Begitu banyak koran-koran milik pendukung rezim Laa Mubarak, dari koran liberal hingga yang tak bermutu sekalipun yang terus diterbitkan untuk membodohi masyarakat.

Maka sangat tepat strategi Islamis ketika revolusi 25 Januari selesai, mereka kemudian mendirikan TV Misr 25, Amgad, dan beberapa chanel Islam yang kini ditutup rezim kudeta.

Keberadaan media-media ini sangat penting sebagai sarana informasi yang akan mengimbangi dan mencounter kebohongan media-media sekuler serta mencerdaskan masyarakat. Ketika media-media itu telah dibredel, maka yang beredar hanya pembodohan dan penipuan terhadap publik.

Jadi tantangan terbesar saat ini sebetulnya bukan kekuatan tentara Sisi atau aksi brutal para preman dan polisi-polisi rezim Laa Mubarak, tapi media yang sudah dikendalikan oleh kepentingan mereka dan terus melakukan pembodohan. Keberhasilan Tamarrud 30 Juni bukanlah pada realita, tapi ada pada wacana yang mereka jual terus menerus lewat media-media cetak dan elektronik.



Militer Mesir Bakar Masjid Saat Pembantaian Terjadi


 
Masjid Rabiah al-Adawiya, yang digunakan oleh para pendukung Muhammad Mursi sebagai basis perjuangan mereka di Kairo timur telah dibakar oleh militer Mesir. Pembakaran terjadi ketika sedang pembantaian terhadap massa pro Mursi.

Kementrian Wakaf Agama Mesir (Awqaf) hari Kamis (15/8/2013) kemarin menyatakan sudah mengambil alih Masjid Rabiah al-Adawiya.

Seorang pejabat kementerian mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa mereka akan segera membentuk komite yang bertugas memeriksa masjid dan mendokumentasikan kerusakan sebelum memulai renovasi.

Mesir berada dalam kekacauan setelah aparat keamanan bergerak membersihkan kemah pengunjuk rasa ribuan pendukung Mursi pada hari Rabu, dan kekerasan menyebar ke seluruh seantero negeri Piramida itu

Dipecat Pangeran Arab Saudi, Al Suwaidan: Hanya Orang Lemah yang Khawatirkan Rezekinya


Pangeran Kerajaan Arab Saudi, Al Walid bin Thalal memecat Dr. Thariq Al Suwaidan dari jabatannya sebagai direktur umum stasiun televisi Ar-Risalah, Sabtu 17 Agustus kemarin.

Pangeran Al Walid yang juga seorang miliader adalah pemilik stasiun televisi satelit di Kerajaan Arab Saudi tersebut. Dalam akun twitternya, beliau menyebutkan, “Tidak ada tempat bagi seorang kader Ikhwan dalam kelompok kita.” Beliau juga melampirkan surat pemecatan yang ditanda-tanganinya.

Thariq Al Suwaidan memang tidak menyembunyikan dukungannya kepada Ikhwanul Muslimin. Banyak tweetnya yang mengutuk kudeta militer di Mesir.

Menanggapi pemecatan itu, Al Suwaidan menulis dalam akun twitternya, “Saya ucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Pangeran Al Walid atas kesempatan berharga yang diberikan untuk memimpin stasiun Ar-Risalah, hingga saya bisa mewujudkan kemoderatan dan kesuksesan.”

Dalam kesempatan lain, Al Suwaidan juga menuliskan, “Hanya orang lemah yang mengkhawatirkan rezekinya. Hanya orang ambisius dunia yang mau mengorbankan prinsip-prinsipnya.” Al Suwaidan adalah ulama progressif asal Kuwait yang menghidupkan keilmuan dan peradaban Islam dengan cara-cara inovatif. Selain mempunyai karya tulis dan audio-visual, beliau juga seorang trainer dalam leadership Islam.

Ikhwanul Muslimin Lindungi Gereja Selama Demo Pro Mursi


Dicurigai bahwa pembakaran Gereja dimotori oleh pihak militer, maka pemuda Ikhwanul Muslimin (IM) menjaga dan melindungi Gereja selama demonstrasi Pro Mursi.

Suspected that the burning of the church driven by the military, the Muslim Brotherhood (IM) guard and protect the Church during demonstrations Pro Mursi.

Mesir Bantu Tsunami dengan Dana, SBY Bantu Mesir Via Twitter


Tampaknya saya tidak perlu kembali mengulang memori bahwa Muhammad Mursi pernah datang ke Aceh pasca gelombang tsunami menerjang bumi Serambi Mekkah, Desember 2004 Silam.

Foto Mursi bersama para tokoh Aceh beredar di mana-mana. Senyumnya menyiratkan ada kepeduliaan tinggi dan ketulusan hati atas penderitaan muslim meski Aceh jauh terletak dari negeri Nabi Musa itu.

Kenangan Mursi berdiri di belakang bangunan Aceh yang porak poranda menguatkan hati kita bahwa bangsa Aceh –bahkan Indonesia- tidaklah sendiri. Muhammad Mursi datang ke Aceh dalam rangka kunjungan kemanusiaanya pada proses recovery Aceh pasca tsunami. 

Bekerja sama dengan relawan Indonesia, beliau langsung menuju lokasi yang porak poranda diterjang Tsunami. Nampak pula sejumlah tokoh mendampingi seperti anggota DPR.

Sungguh kepedulian Mursi terhadap saudara semuslimnya patut menjadi acungan jempol. Saya tidak tahu harus bicara apa atas rasa sayangnya kepada bangsa Indonesia. Saya tidak bisa bicara karena saya sungguh malu memiliki Presiden di Indonesia yang hanya bisa diam seribu bahasa. 

Bukankah SBY sudah keluarkan ‘kata sakti’ berupa keprihatinan terhadap situasi Mesir? Tidak, bukan. Itu bukanlah aksi nyata, karena ratusan juta rakyat muslim Indonesia bisa melakukan lebih daripada itu. Mereka berpanas-panasan di jalan dengan fasilitas seadanya, berdiri sepanjang jalan berdoa dan mengirim pesan ke Kairo: wahai umat Islam Mesir, kalian tidak sendiri.

Jangankan berusaha mengembalikkan Mursi ke kursi kepresidenannya, bersuara keras mengecam tindakan Jenderal As-Sisi saja tidak. Apa yang bisa kita harapkan dengan pemimpin seperti ini? 

Yang hanya ‘kreatif’ berkicau twitter tanpa berani langsung berkata lantang di depan muka Adly Mansour, Elbaradei , Obama, dan para gerombolan liberal dan sekuler yang telah bersekongkol mengkudeta sang pemimpin. Bahkan telah membunuh ribuan nyawa umat Islam.

Kini,6000 nyawa demonstran Mursi sudah melayang. Anak-anak dan balita menjadi korban. Tidak ada kata yang pantas kita keluarkan selain nurani telah mati dan terkubur di bumi piramida. Saya hanya bisa meminta maaf kepada Mursi. 

Maaf Pak Presiden, kami belum bisa membalas budi baikmu (saya masih menganggap Mursi sebagai Presiden). Tapi, kami jutaan Muslim Indonesia bersamamu, meski presiden kami hanya bisa berkicau lewat barisan twitter. Doakan, agar kami bisa membalas budi baikmu.

Keluarga al-Sisi: “al-Sisi Itu Pengkhianat, Pembunuh, Saya Tak Akui Dia Lagi Sebagai Keluarga”


SALAH korban pembantaian militer di Mesir pada hari Rabu (14/8/2013) dan Jumat (16/8/2013) adalah Khalid Lutfy al-Sisi. Siapa dia?

Khalid adalah putra dari Ust. Hazim Luthfi Abdul Aziz Abdurrahman Assisy. “Ya, anak saya tewas oleh militer,” ujar Hazin.

Kepastian itu sudah didapatnya bahwa, Khalid Lutfi memang tewas di Rab’ah atau mungkin di Nahdhah.

“Atas dasar ini, saya mengingkari Abdel Fatah al-Sisi sebagai keluarga, karena dia adalah penghianat, pembunuh, dan insyaAllah akan mendapatkan Adzab yang kekal dari Allah SWT!” tutur Hazin geram di youtube.

Tak lupa, Hazin juga berdo’a semoga Allah memberikan kesabaran kepada semua rakyat Mesir dan seluruh keluarga korban yang meninggal karena kekejaman al-Sisi. “Kami tidak bisa tinggal diam atas kondisi ini,” demikian Hazin.

Wednesday, August 7, 2013

Keras (P)ada Waktunya


Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama penuh kasih sayang. Agama yang sarat dengan ajaran cinta dan budi pekerti. Islam mengajarkan umatnya agar saling mengasihi satu sama lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang-orang yang mengasihi sesama, dia akan dikasihi oleh Allah. Kasihilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian.” (HR At Tirmidzi dan Al Baihaqi dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu).

Jangankan terhadap sesama manusia, bahkan terhadap binatang pun Islam mengajarkan agar memperlakukannya dengan baik. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa mendapatkan pahala karena berbuat baik terhadap binatang?”

Rasulullah menjawab, “Berbuat baik terhadap setiap makhluk hidup itu akan memperoleh pahala.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Sungguh, Islam sangat anti kekerasan. Bahkan, sejatinya Islam adalah agama penuh kelembutan, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala hal.” (Muttafaq ‘Alaih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu).

Selaras dengan ini, Islam juga anti anarkisme dan setiap tindak pengerusakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Sebaliknya, seorang hamba bisa masuk neraka disebabkan berbuat zhalim terhadap binatang, sebagaimana disebutkan hadits di atas. Meski demikian, bukan berarti Islam melarang umatnya bersikap keras dan tegas. Karena bagaimanapun juga, sikap keras dan tegas tentu diperlukan pada kondisi tertentu.

Lihatlah, betapa sangat marahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu yang berusaha melindungi seorang perempuan Bani Makhzum yang tertangkap mencuri. Dengan raut wajah memerah, Nabi berkata kepada Usamah, “Apa kau hendak memintakan ampun dalam masalah hukum (hudud) Allah?” (HR. Al-Jama’ah)

Dalam kasus Masjid Dhirar misalnya, saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat pulang dari perang Tabuk. Waktu itu, beliau baru sampai di Dzu Awan dan belum masuk Madinah. Namun, karena beliau mendapatkan informasi penting tentang Masjid Dhirar yang disalahgunakan untuk merusak Islam dari dalam (lihat QS. At-Taubah: 107-108), beliau pun segera memanggil Malik bin Dukhsyum, Ma’an bin Adi, Amir bin Sakan, dan Wahsyi.

Beliau bersabda, “Pergilah kalian ke masjid orang-orang zhalim ini. Hancurkan dan bakarlah masjid itu.”

Lalu, para sahabat ini pun bergegas meluncur ke Masjid Dhirar untuk melaksanakan instruksi Nabi-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi, dan lain-lain)

Mengomentari pembakaran dan penghancuran Masjid Dhirar milik kaum munafik, Imam Ibnul Qayyim berkata,

“Membakar dan menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dipakai untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Masjid Dhirar, sekalipun ia adalah masjid tempat shalat dan disebut nama Allah di dalamnya, tetapi karena ia membawa madharat dan memecah-belah kaum mukminin, serta menjadi markas kaum munafik; maka hukumnya adalah wajib bagi penguasa untuk membereskannya, baik itu dengan cara menghancurkan dan membakarnya, atau dengan cara mengubah bentuknya dan mengganti peruntukannya. Demikian pula hukumnya setiap tempat yang perkaranya seperti ini.”
(Zad Al-Ma’ad/III).

Nestapa Umat Islam dalam Tipuan Demokrasi

Setelah kaum Muslimin melewati bulan yang paling mulia dan istimewa di sisi Allah Swt, kini kita berada di hari Idul Fithri 1 Syawal 1434 H, bertepatan dengan 8 Agustus 2013 M. Semoga Allah Swt menjadikan ibadah Ramadhan kita sebagai saksi yang meringankan kelak di akhirat. Karena itu, alangkah baiknya jika kita mengevaluasi amal-amal yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan dan pengaruhnya bagi peningkatan kualitas iman dan amal di hari-hari mendatang.

Kita semua paham, bahwa tujuan ibadah puasa Ramadhan adalah membentuk manusia taqwa kepada Allah swt. Wujud kongkrit dari ketaqwaan manusia kepada Allah adalah melaksanakan tatanan kehidupan individual maupun sosial yang baik, jujur, adil, bertanggung jawab dan tolong menolong dengan sesama. Teguh pada kebenaran, menjauhi kemungkaran dan kebathilan, menjaga ketenteraman serta kesejahteraan bersama.

Akan tetapi, jika kita mau jujur, sekalipun tiap tahun kita selalu menyambut bulan Ramadhan dengan melaksanakan puasa wajib, memakmurkan masjid dengan shalat tarawih dan tadarrus Al-Qur’an. Namun, betapa sulitnya kita menemukan kejujuran, keadilan, kebenaran, tanggung jawab, sikap tolong menolong serta sifat-sifat terpuji lainnya di masyarakat. Bahkan jauh lebih mudah kita menemukan segala kemungkaran tumbuh pesat berpacu dengan kian merosotnya akhlak masyarakat.

Di negeri kita ini, telah terjadi kerusakan yang sangat serius: kemiskinan, dekadensi moral, korupsi, narkoba, grativikasi seks, penipuan, juga penindasan dan kezaliman. Padahal institusi negara ada, pemerintah masih berkuasa, tapi belum mampu merubah apalagi memperbaiki nasib rakyat secara signifikan.

Mengapa masyarakat Muslim, sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, belum mampu mengatasi kebobrokan dirinya sendiri, padahal Islam dengan jelas dan tegas menyeru pada kebaikan dan memerangi segala bentuk kemungkaran, sementara pengikut Islam sendiri berkubang dalam kemaksiatan? Mengapa kenyataan pahit ini terjadi, bukankah Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw masih utuh dan sempurna terpampang di hadapan kaum Muslimin? Puasa Ramadhan yang berfungsi untuk mengendalikan nafsu tercela dan buruk, ternyata tidak berdaya mengusir akhlak dan prilaku tercela dari tubuh kaum Muslimin.

Tragisnya, sebagian besar rakyat Indonesia bersikap masa bodoh terhadap larangan-larangan Islam, karena mengejar kesenangan duniawi. Akibatnya, menjalankan ibadah hanya sekadar formalitas, setelah itu kembali lagi pada perbuatan yang menjadi kegemarannya, sekalipun hal itu melanggar ajaran Islam dan mengingkari Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Faktanya, walaupun negara kita telah dilanda berbagai musibah, dan ditimpa bencana berulangkali, tapi rakyat Indonesia tetap saja mengingkari syari’at Allah, tidak bertambah taat pada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Malahan pusat-puat kemungkaran kian tersebar luas, perbuatan maksiat diperagakan terang-terangan, sedang pemikiran-pemikiran jahiliyah diproduksi secara besar-besaran. Sehingga bumi yang dikaruniakan Allah demikian luas, lautnya yang kaya akan hasil tambang dan daratannya yang subur menghijau, berubah menjadi tempat kebinasaan bagi rakyatnya, seakan-akan eksistensi negara mengundang marabahaya.

Kerusakan yang melanda masyarakat umum diperparah lagi dengan kerusakan yang ditimbulkan akibat prilaku buruk para pejabat negara. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, suatu negara akan binasa apabila orang-orang durhaka menjadi penguasa dan pejabat negara. Firman Allah:

“Jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri yang penduduknya zhalim, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat sesat di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat durhaka di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-Israa, 17:16)

Apabila tindakan kejahatan dimulai oleh penguasa dan pejabat negara, niscaya mereka akan menjadi contoh buruk dan lambang kejahatan sepanjang masa.

Ayat di atas menginformasikan, prilaku hedonis dari para mutrafin merupakan hukuman bagi masyarakat yang durhaka kepada Allah. Siapakah mutrafin, yaitu orang-orang yang mengenyam kemewahan hidup secara leluasa di atas penderitaan rakyat. Mereka terdiri dari elit penguasa, pejabat negara, konglomerat, politisi, anggota parlemen dll. Allah Rabbul ‘Alamin memberi kesaksian bahwa kelompok mutrafin inilah yang bertanggung jawab terhadap kerusakan dan penyelewengan-penyelewengan di penjuru negeri yang mengakibatkan lahirnya kemungkaran kolektif dan kerusakan yang merata.

Tampilnya pemimpin bangsa yang durhaka pada Allah sudah pasti akan mengikis jiwa agama dari masyarakat, menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan di tengah-tengah masyarakat. Dalam kondisi demikian, musuh-musuh Islam merajalela melakukan kemungkaran di dalam negeri, seperti membebaskan peredaran minuman keras, prostitusi, narkoba dan berbagai kemungkaran lain yang merusak akhlak masyarakat. Kenyataan ini secara perlahan-lahan menghancurkan kekuatan dan potensi kaum Muslimin untuk mempertahankan eksistensi dan kehormatannya sebagai rakyat di negara berdaulat.

Perhatikanlah pernyataan-pernyataan para pejabat negeri ini. Mulai dari Presiden SBY, Kapolri Timur Pradopo hingga seluruh jajaran aparat keamanan (Polri maupun TNI) beramai-ramai mengecam ormas Islam yang hendak melakukan pemberantasan kemaksiatan, dan sama sekali tidak menunjukkan kegusarannya atas bahaya kemungkaran. Mereka mengancam akan menindak bahkan hendak membubarkan ormas yang melakukan kekerasan sekalipun atas nama nahyu mungkar (pemberantasan kemungkaran).

Karena itu, pantaslah kita bertanya. Jika pemerintah bertekad hanya menyelamatkan negara ini dari tindak kekerasan, lalu siapakah yang akan menyelamatkan rakyat Indonesia dari bahaya kemungkaran?

Ketahuilah, bahaya kekerasan tidak lebih hebat dibanding- kan bahaya kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab, kekerasan hanya menyakiti fisik, sedangkan kemungkaran merusak jiwa dan raga sekaligus. Nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengindikasikan 5 hal yang menjadi indikator kehancuran suatu bangsa:

“Dari Ibnu Abbas ujarnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lima hal yang menyebabkan terjadinya kehancuran: 1). Kaum yang suka merusak perjanjian, maka mereka pasti dikuasai oleh musuhnya 2). Kaum yang tidak melaksanakan hukum-hukum Allah, niscaya mereka akan mengalami kemelaratan 3). Kaum yang membiarkan pelacuran merajalela, niscaya bencana kematian mengancam mereka 4). Kaum yang mencurangi takaran dan timbangan, niscaya mereka akan mengalami paceklik dan berbagai macam penyakit. 5). Kaum yang tidak mau menunaikan zakat, niscaya mereka susah mendapatkan hujan.” (HR. Thabrani)




Kini, kita sedang menyaksikan berlangsungnya kemungkaran dan kezaliman kolektif yang dilakukan orang-orang kafir secara global dan sistematis. Di Australia, hari-hari sekarang sedang terjadi euforia anti makanan halal, di sejumlah negara Eropa telah mensahkan UU bolehnya kawin sejenis (lesbian dan homoseksual). Sedangkan di Indonesia, sedang dipropagandakan zina mut’ah oleh kaum Syi’ah yang mendapat sambutan dari kaum liberal.

Di tengah-tengah berlangsungnya proses setanisasi kehidupan seperti itu, kondisi yang dialami umat Islam hari ini, bagai berada di bibir jurang, di malam gelap gulita. Berbagai petaka, bencana, penindasan, pelecehan, nestapa dan pilu lainnya dengan bertubi-tubi terus menyertai setiap lembaran sejarah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari hari ke hari, telinga kita tiada hentinya mendengarkan berbagai berita yang menyayat-nyayat hati.

Musuh dari segala aliran dan bangsa dengan bengisnya menindas, menjajah, dan merampas hak umat Islam dengan segala kerakusan dan keserakahannya. Belum usai derita umat Islam di Afghanistan, Iraq, Palestina. Kini umat Islam di bantai di Suriah. Nasib mereka yang melawan rezim Bashar Asad bagai ungkapan penyair. Air mata mengalir dari jiwa yang merintih. Nurani tercabik, terkoyak tersayat pedih, menyaksikan keadaan umat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihancurkan jiwa dan raganya.

Lebih tragis lagi nasib umat Islam di Rohingya, Burma. Mereka dibantai, diperkosa, dan rumah-rumah mereka dihancurkan oleh para penyembah berhala di negeri itu. Mereka tidak diakui eksistensinya sebagai warga negara.

Dan kini di Mesir. Pada 3 Juli 2013, militer Mesir menggulingkan presiden terpilih Dr. Muhammad Mursi, dalam sebuah kudeta militer yang terjadi dengan dorongan pihak-pihak asing. Mereka tidak hanya menghina kehendak rakyat dan hukum Mesir, tetapi juga memenuhi penjara-penjara dengan para anggota sah pemerintahan negara tersebut dan tokoh-tokoh Islam. Mereka menahan secara paksa para ulama dan tokoh partai Islam. Puluhan dari mereka, termasuk para wanita dan anak-anak, syahid (insya Allah) dan lebih dari lima ribu dari mereka luka-luka.

Militer Mesir melabeli kudeta ini sebagai revolusi rakyat. Kemudian menyematkan tuduhan teroris, ekstrimis dan musuh negara, terhadap rakyat Muslim yang menentang kudeta militer ini untuk membenarkan kezaliman mereka yang tidak sah.

Para pemimpin Dunia Barat menganggap demokrasi sebagai pencapaian terbesar dalam sistem kenegaraan, dan menganggap pemilu dan pemerintahan terpilih menjadi hak yang diserahkan pada rakyat. Namun mereka tidak meneteskan ‘air mata’ apapun atas ‘penguburan’ aspirasi rakyat Mesir, malahan mereka menyebut kudeta militer itu sebagai pilihan yang tidak terelakkan.

Jika kita melihat ke masa lalu, kita temukan bahwa di Al-Jazair, partai-partai Islam mendapatkan suara mayoritas yang berlimpah dalam pemilu, tetapi bukannya menyerahkan pemerintahan kepada pemerintahan terpilih, mereka dikirim ke kuburan-kuburan dan penjara-penjara. Di Palestina, ketika Hamas memenangkan pemilu, tidak ada yang mengakuinya secara sah, malahan mereka dituduh teroris dan radikalis. Demikian juga, ketika Najmuddin Erbakan berkuasa melalui pemilihan umum di Turki, namun ia dipecat dari jabatannya juga dengan kekuatan semata oleh militer.

Dan hari ini, di Mesir, Partai Kebebasan dan Keadilan sebagai sayap politik Ikhwanul Muslimin yang memenangkan pemilu tetapi tidak diberikan kesempatan untuk menyelesai kan masa jabatannya. Rakyat Mesir sedang menunjukkan kehormatan mereka di hadapan kezaliman kudeta militer dengan kesabar- an yang luar biasa. Tapi penguasa militer meresponsnya dengan mengirimkan para penjahat untuk membunuh rakyat.

Penyingkiran pemerintahan yang terpilih di Mesir melalui kudeta militer yang tidak bermoral dan ilegal, dan reaksi dingin komunitas internasional membuktikan bahwa slogan demokrasi dan pemilu tidak lain hanyalah propaganda dusta dan menyesatkan. Slogan demokrasi hanya menjadi jimat sakti manakala kekuasaan dipegang oleh pelayan kepentingan Barat, demi meraih dukungan rakyat dan sekaligus dukungan Barat. Tetapi jika partai Islam berkuasa melalui sistem demokrasi, maka pemerintahan partai Islam tersebut pasti akan dipecundangi secara licik dan ilegal.

Rangkaian kekacauan di Timur Tengah dewasa ini, merupakan salah satu bukti di antara bukti-bukti lainnya, bahwa Barat sedang melakukan proses penghancuran peradaban Islam dengan kedok demokrasi melawan para diktator boneka Barat sendiri. Seperti slogan Imam Syi’ah Ayatollah Khomeini, mustadh’afin melawan mustakbirin. Dan bukan mustahil, atas nama demokrasi, suatu saat nanti Indonesia juga akan ‘dimesirkan’ atau ‘disuriahkan’ untuk mengeruk kekayaan dan menghancurkan peradaban negeri khatulistiwa ini.

Fakta ini benar-benar seperti yang dinubuwahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut:


“Tidak lama lagi kalian akan dikerumuni oleh umat-umat lain dari segala penjuru, layaknya para penyantap makanan yang sedang mengelilingi suatu piring makanan (nampan). Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apakah hal itu terjadi disebabkan kala itu kita berjumlah sedikit? Beliau menjawab: “Kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih air bah. Rasa takut telah sirna dari hati musuh-musuh kalian, sedangkan di hati kalian tertanam rasa al-wahan.” Para sahabat kembali bertanya: Apakah al-wahnu itu? Beliau menjawab: “Rasa cinta terhadap kehidupan dan takut terhadap mati (syahid).” (Hr. Riwayat Ahmad dan lain-lain).

Di hari Idul Fithri, saat kita bersimpuh di haribaan Ilahy, kita mengadu kepada Allah Rabbul Izzati. Mengapa umat Islam menghadapi begitu banyak persoalan, dengan berbagai peristiwa dan tragedi yang memedihkan? Seakan kita sedang berdiri di tepian jurang di malam gelap gulita, dikejar musuh tanpa bisa melawan. Marilah kita muhasabah sekaligus koreksi total atas dosa kesalahan yang telah melingkupi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang sumber kehancuran yang melanda umat di segala zaman. Nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyatakan kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh tiga hal:

Pertama, apabila otoritas kekuasaan negara berada di tangan orang durhaka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Tidak akan terjadi kiamat sebelum setiap kabilah dipimpin oleh orang-orang munafiqnya.” (Hr. Ath-Thabrani)

Jika kekuasaan negara dipegang oleh orang-orang muna- fiq, niscaya erosi akan melanda keyakinan umat, dan mengikis jiwa agama dari hati rakyat. Prilaku rakyat yang kering dari ajaran agama akan menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Swt.

Khalifah Umar bin Khatthab radiyallahu ‘anhu mengingatkan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar masyarakat.

“Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur,” kata beliau. Para sahabatnya bertanya, “Bagaimana suatu negeri akan hancur sedangkan kondisi rakyatnya makmur?”

Khlaifah Umar menjawab, “Jika orang-orang durhaka menjadi pejabat negara dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”

Ketika pemimpin eksekutif, legislatif, dan eksekutif dijabat oleh orang-orang yang tidak mengindahkan ajaran agama, tidak berpegang pada hukum Allah dan Rasul-Nya, maka dia sulit membedakan yang benar dan salah, antara petunjuk Allah dan tipuan setan, antara maslahat dan muslihat.

Di zaman reformasi ini, berapa banyak orang-orang yang naik jadi pemimpin bukan karena reputasi intelektual maupun moral, melainkan popularitas dan banyak uang. Sudah banyak Gubernur, Bupati, Walikota dari kalangan pengusaha, artis dangdut, pelawak, koruptor, bahkan wanita tuna susila. Jabatan kepala daerah bisa diwariskan dari suami pada istri, dari ayah pada anak perempuan atau menantu persis seperti di zaman orde baru. Munculnya pemimpin dengan latar belakang seperti itu, hanya akan menjadi pelopor kemungkaran yang akan menjeru- muskan rakyatnya ke neraka.

“Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak manusia ke neraka. Pada hari kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan penolong dari siksa neraka. Kami timpakan laknat pada mereka di dunia ini. Pada hari kiamat kelak mereka termasuk orang-orang yang di adzab di neraka.” (Qs. Al-Qashash, 28: 41-42)

Lalu, manfaat apa yang dapat diharapkan rakyat dari pemimpin berkualitas rendah, dengan dosa sosial serta moral yang bertumpuk?

Kedua, Ulama Mempermainkan Agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang tekun beribadah adalah bodoh, sedang para ulama’ rusak moral dan pikirannya.” (Abu Nu’aim dan Al-Hakim)


Ulama’ fasiq, yang rusak moral dan pikirannya, yang suka mempermainkan agama, menyebabkan kalangan awam menjauh dari agama sehingga memberi peluang bagi penguasa untuk menjauhkan syari’at Islam dari praktek kehidupan masyarakat. Karena para ulama’ yang sudah rusak akhlaknya dapat diperalat oleh penguasa untuk merusak masyarakat melalui fatwa maupun petuah agama.

Di negara kita, ulama dan tokoh agama makin sering terlibat perebutan kekuasaan dan jabatan yang menggiurkan. Sehingga mereka tidak bersemangat lagi menyerukan amar ma’ruf dan nahyu mungkar. Mereka malah berama-ramai menyosialisasikan demokrasi, toleransi beragama, dan hak-hak asasi manusia. Tanpa disadari, mereka telah menambah jumlah orang kafir yang menolak syari’at Allah.

Ketiga, Gaya Hidup Mewah jadi Pujaan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kelak di akhir zaman agama dan keduniaan mereka dinilai berdasarkan berapa uang dirham dan dinar yang mereka miliki.” (Ath-Thabrani).


Di zaman ini parameter martabat seseorang ditentukan oleh harta yang mereka miliki. Orang disebut sukses apabila punya rumah mewah, mobil mewah, gaya hidup mewah. Sedang orang yang hidup sederhana, apalagi miskin, selalu saja disebut sebagai orang yang gagal.

Keshalihan dan popularitas seorang muballigh juga diukur dari harta dan penampilannya. Apakah dia seorang yang berilmu dan berakhlak mulia, sama sekali bukan ukuran yang utama, sehingga tidak sedikit ulama’, ustadz, kyai, tuan guru, berlomba-lomba mendapatkan harta dan jabatan demi memperoleh kehormatan.

Padahal seorang shalih mengatakan: “Ketika agama dimuliakan di atas harta dunia, maka Allah akan membuat dunia hina baginya. Dan ketika kita menyembah harta dunia, maka agama akan hilang dari lubuk hati dan para pencari dunia pasti akan mengalahkan kita.”

Apabila ketiga faktor ini sudah muncul sepenuhnya di tengah-tengah masyarakat, orang durhaka jadi penguasa, ulama fasiq memberi fatwa, dan hidup mewah menjadi pujaan masyarakat, maka akan terjadi kehancuran yang merata. Masyarakat akan berubah menjadi tumpukan sampah belaka.

Seperti ungkapan seorang penyair: Jika terdapat seribu pembangun, dibelakangnya seorang penghancur, niscaya dia bisa meluluhlantakkan seribu bangunan. Lalu apa yang akan terjadi, jika terdapat seribu penghancur dan dibelakangnya hanya ada seorang pembangun, niscaya negara berada dalam bahaya karena adanya bahaya dalam negara.

Wahai kaum mukmin, di hari yang penuh barakah ini, marilah kita buktikan bahwa umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sirna di bumi pertiwi ini, dengan menegakkan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Marilah kita ikhlas dalam beragama, agar Allah menolong kita dalam urusan dunia. Umat Islam harus bersatu padu melawan kezaliman, aliran sesat, dan kemungkaran yang melanda masyarakat dengan mengambil hikmat dari amali- yah Ramadhan yang baru saja berlalu.

Indonesia tidak akan bisa terbebas dari berbagai kemelut selagi ulama’nya fasiq, penguasanya durhaka, dan menyingkirkan syari’at Islam dari kehidupan masyarakatnya. Allah berfirman:

“Sekiranya penduduk berbagai negeri mau beriman dan taat kepada Allah, niscaya Kami akan bukakan pintu-pintu berkah kepada mereka dari langit dan dari bumi. Akan tetapi penduduk negeri-negeri itu mendustakan agama Kami, maka Kami timpakan adzab kepada mereka karena dosa-dosa mereka.” (Qs. Al-A’raaf, 7: 96)

Ketum PBNU Dukung Penutupan Sejumlah Situs Islam

Hidayatullah termasuk media Islam terbesar yang ditakuti NU

Jakarta - KH SAID Aqil Siroj—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—mendukung sepenuhnya usulan anggota DPR RI, Eva Sundari kepada Menkominfo untuk menutup situs dan jejaring sosial Islam.

Menurut Said, sejumlah situs tersebut memang merupakan situs-situs provokatif.

Namun Said memberikan catatan bahwa penutupan website itu harus hati-hati. Website Islam yang berisi dakwah dan penyiaran syiar Islam, tidak masuk dalam daftar penutupan.

“Artinya website itu, saya kira, harus dipilah-pilah. Kalau isi website itu merusak aqidah, merusak perilaku yang cenderung kepada kekerasan, saya setuju website itu ditutup,” katanya seperti dikutip NU Online.

Selain website yang bersifat provokasi, Said juga mendukung penutupan website yang memengaruhi kuat kerusakan perilaku pengunjungnya seperti website porno.

Sementara Rais Syuriyah PBNU, KH Mashdar F Masudi menginginkan penutupan semua website yang bersifat provokatif.

“Seharusnya pemerintah tidak hanya menutup website Islam yang provokatif, tetapi semua website provokatif, yang memecah belah, menciptakan permusuhan di tengah masyarakat. Apapun yang provokatif itu tidak boleh,” tegas KH Mashdar kepada NU Online usai diskusi ‘Menggugat Empat Pilar’ di Kantor PBNU, Jumat (2/8/2o13) sore. “Nahdliyin sendiri harus mewaspadai website Islam seperti Arrahmah, VOA Islam, Hidayatullah, Nahi Munkar, dan sejumlah website Islam lain yang tidak membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,” tegas Pemred Situs Resmi PBNU NU Online Syafi Alielha.(Islampos/NU-Online)

Takbir Keliling Dilarang, Pesta Tahun Baru Difasilitasi


Jakarta - Imbauan berisi larangan dari Polda Metro Jaya kepada umat Islam untuk tidak melakukan takbir keliling mendapat tentangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnaen mengatakan, alasan Polda Metro Jaya melarang takbir keliling mengada-ada.

Menurut dia, takbir keliling termasuk salah satu sunah dalam ajaran Islam. Karena perayaan malam Lebaran tidak hanya sekadar dilakukan di mushala dan masjid, bisa juga dilakukan di jalan demi syiar. Karena itu, ia sangat keberatan kalau sampai dilarang.

“Alasan pelarangan takbir keliling ini sama saja pembangkangan terhadap ajaran Islam. Kalau dilarang, ini pengkerdilan agama Islam,” kata Tengku, Selasa (6/8).

Ia mengatakan, jika takbir hanya diizinkan dilakukan di mushola, sama saja polisi mengurung umat Islam. Itu lantaran Islam sebagai mayoritas agama masyarakat Indonesia tapi tidak lagi bebas disyiarkan. Tentu hal itu menggelitiknya lantaran tidak adil jika gerak-gerik kaum Muslim malah dibatasi ketika menyambut perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Tengku mengingatkan, kepolisian hendaknya mencabut larangan takbir keliling. Kalau tidak bisa muncul opini negatif kalau Polri melakukan pandang bulu dalam mengeluarkan kebijakan. Karena pada malam tahun baru, seluruh masyarakat tumpah ruah ke jalan malah tidak dilarang.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sampai ikut larut dalam perayaan tahun baru. Karena itu, ia menilai aneh ketika umat merayakan tahun baru Islam cenderung dibatasi.

“Polri seperti mengkerangkeng umat Islam, tapi membiarkan umat lain bebas merayakan malam tahun baru,” kritik Tengku.

Ia mengaku bisa memahami, kadang ada masyarakat yang berbuat kurang baik ketika melakukan takbir keliling di jalan raya. Namun hal itu lebih baik dikoordinasikan dengan ulama, pengurus masjid maupun ketua RT/RW setempat. Sehingga masyarakat yang ingin mengekspresikan perayaan penyambutan Lebaran bisa menjalankannya dengan baik.

Dengan koordinasi yang baik dan langkah antisipatif, kata dia, segala hal negatif yang muncul bisa ditangani dengan baik. Hal itu sudah dicontohkan semasa kepala Polda Metor Jaya Untung S Rajab yang mau bekerja sama dengan seluruh komponen umat Islam. Sehingga, pada masa itu tidak ada larangan bagi kaum Muslim yang ingin menggelar takbir keliling.

“Ibaratnya kami ingin supaya tertib agar hal negatif bisa diminimalisasi, bukan diberangus seperti sekarang,” ujar Tengku.

Sunday, August 4, 2013

Nasehat Ibnu Taimiyah tentang Ukhuwwah


BANYAKNYA komunitas-komunitas keislaman, organisasi dakwah, kajian serta bertambah jumlah da’i secara kuantitas merupakan hal yang perlu disyukuri di satu sisi. Akan tetapi timbul keprihatinan di sisi lain, karena dengan timbulnya fenomena itu semestinya umat Islam bergerak lebih sinergis, tapi fakta dilapangan sering kali bertolak belakang, komunitas serta organisasi dakwah yang ada sering kali saling ‘menyerang’, saling menyesatkan dan bahkan membid’ahkan, enggan mengucap salam satu sama lain, dan ada yang lebih “hebat” lagi, yaitu enggan melakukan shalat dengan umat Islam yang masih tergolong sunni, dikarenakan ada perbedaan pendapat dalam beberapa masalah. Tampaknya “penyakit” tafarruq yang menggerogoti umat ini mulai kronis.

Tafarruq alias perpecahan, adalah salah satu penyakit klasik umat, yang amat diwaspadai oleh para ulama salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), beliau adalah seorang ‘alim yang sadar akan bahayanya penyakit ini, hingga kita dapati dari beberapa karya beliau ikut berbicara dalam masalah ini. Bagaimana seharusnya umat Islam yang menganut madzahib mu’tabarah ini bisa tetap menjalin ukhuwah walau berbeda pendapat. Tentu hal ini amat perlu kita ketahui.

Kewajiban Tawahud dan Haramnya Tafarruq

Dalam sebuah risalah yang ditulis Ibnu Taimiyah –rahimahullah– yang berjudul Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang tergabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, beliau berkata: “…Perpecahan dan ikhtilaf yang menyebabkan tidak berkumpul dan bersatu terhadap mereka yang berbeda mengakibatkan sebagian dari mereka membenci dan memusuhi yang lain serta mencintai dan berloyalitas kepada yang lain, sampai mengakibatkan timbulnya celaan, hinaan, cacian terhadap yang lain, juga sampai menimbulkan pertumpahan darah, baik dengan tangan maupun senjata! Serta menyebabkan pemutusan hubungan dan pemboikotan, sehingga sebagian dari mereka tidak shalat di belakang sebagian yang lain. Ini semua adalah termasuk perkara paling besar yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya!”

Kemudian Syaikhul Islam Menjelaskan beberapa dalil, beliau berkata: “Berkumpul dan bersatu adalah salah satu perkara paling besar yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang taguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” Sampai dengan firman Allah:”Dan janganlah kalian menjadi seperti mereka yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka berbagai keterangan. Dan mereka akan mendapat siksa yang besar. Di hari dimana waktu itu ada wajah-wajah yang putih dan wajah-wajah yang hitam…” (Ali Imran: 102-106).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka yang berwajah putih adalah ahlu sunnah dan yang berwajah hitam adalah ahlul bid’ah.”

Orang yang melakukan perbuatan di atas adalah orang yang menyelisihi sunnah sehingga banyak yang berubah menjadi ahlu bid’ah. Syaikhul Islam mengatakan:”Dan banyak dari mereka (orang yang bercerai-berai) menjadi ahlu bid’ah dengan keluarnya mereka dari sunnah yang telah disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam atas umatnya, dan termasuk ahli furqah disebabkan furqah menyelisihi jama’ah yang diperintahkan Rasulullah shlallahu ‘alahi wasalam.” (Lihat, Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang targabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, hal.25).

Syaikhul Islam Mengatakan: ”Bagaimana boleh dalam umat Muhammad shalallahu’alaihi wasalam ini ada perselisihan dan perpecahan sehingga seseorang berloyalitas pada sebuah thaifah dan menyakiti thaifah yang lain dengan prasangka dan hawa nafsu tanpa menggunakan hujjah dari Allah. Allah telah berlepas terhadap nabi-Nya dalam masalah seperti ini. Ini adalah perbuatan ahlu bid’ah seperti khawarij, yang memisahkan diri dari jama’ah muslimin dan menghalalkan darah mereka yang menyelisihinya. Adapun ahlu sunnah wal jama’ah mereka yang tetap berpegang teguh dengan tali Allah.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 258)

Berbeda Pendapat, Tetap Bersaudara

Dalam Majmu’ah Al Fatawa Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ulama dari para sahabat, tabi’in dan setelah mereka, jika berselisih dalam permasalahan, mereka mengikuti perintah Allah:”…Lalu jika kalian berselisih atas sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, itu hal yang baik dan lebih baik kesudahannya (An Nisa’:59). Mereka berdebat dalam sebuah masalah dengan musyawarah dan saling menasehati. Dan bisa jadi mereka berbeda pendapat dalam masala ilmiah dan amaliyah, akan tetapi tetap bersatu dan tetapnya kamaksuman serta persaudaraan dalam dien.”

Di tempat lain beliau berkata: “Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu’anha telah menyelisishi Ibnu Abbas dan para sahabat lain yang berpendapat bahwa Muhammad shallahu’alaihi wasalam telah melihat Rabb-nya. Aisyah berkata:

”Barang siapa mengira bahwa Muhammad telah melihat Rabb-nya maka telah berdusta besar kepada Allah Ta’ala”. Akan tetapi mayoritas umat memilih pendapat Ibnu Abbas dan mereka tidak membid’ahkan sahabat lain yang berpendapat sama dengan Ummul Mukminin radhiallahuanha.”

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan adanya perselisihan antara Aisyah dengan para sahabat yang lain dalam masalah doa, apakah didengar oleh mayit atau tidak. Juga perbedaan para sahabat dalam menyikapi parkataan Rasulullah yang memerintahkan agar mereka tidak shalat Ashar kecuali ketika tiba di Bani Quraidhah. Ketika waktu Ashar tiba pada saat dalam perjalanan, ada sebagian sahabat yang memilih shalat Ashar di perjalanan karena takut terlewatkan waktu ashar dan ada yang tetap tidak shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah walau waktu Ashar telah habis. Dan tidak ada satu orang pun dari mereka yang dicela.(Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal. 95-96).

Dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, Syaikhul Islam menyebutkan: “Para sahabat telah bersepakat -dalam masalah yang mereka selisihkan- untuk mengakui tiap-tiap kelompok dalam mengamalkan hasil ijtihadnya masing-masing (lihat, Risalah Ulfah, hal. 79).*

Ikhtilaf dalam Masalah Ijtihad

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang orang-orang yang bertaklid kepada sebagian ulama dalam masalah ijtihad, apakah harus dingkari dan dijauhi? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, dalam masalah-masalah ijtihad, barang siapa mengamalkan pendapat ulama tidak boleh diingkari atau dijauhi. Dan barang siapa mengambil salah satu dari dua pendapat juga tidak boleh dingkari, jika dalam sebuah masalah ada dua pendapat. Apabila seseorang mengetahui ada salah satu dari dua pendapat yang lebih rajih, maka hendaklah ia mengamalkannya, jika tidak maka dibolehkan dia bertaklid terhadap beberapa ulama yang bisa dijadikan rujukan untuk menjelaskan pendapat yang lebih rajih diantara dua pendapat, wallahu’alam.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 20, hal. 115)

Beliau berkata di tempat lain:”Adapun ikhtilaf dalam permasalahan hukum, bisa lebih banyak lagi. Seandainya saja jika dua orang muslim ikhtilaf dalam suatu masalah dan keduanya saling menjahui maka tidaklah tersisa dari umat ini kemaksuman dan persaudaraan…” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal 96).

Syaikhul Islam dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah juga menyebutkan Imam Ahmad yang berpendapat bahwa membaca basmalah dalam shalat tidak perlu dengan jahr. Akan tetapi beliau membaca basmalah dengan jahr jika shalat di Madinah, karena penduduknya membaca basmalah dengan jahr. Qadhi Abu Yu’la Al Fara’ menjelaskan bahwa Imam Ahmad melakukan hal itu dalam rangka menjaga ukhuwah (Risalah Ulfah, hal. 48).

Larangan Berpecah-Belah

Salah satu penyebab perpecahan umat adalah imtihan (menguji) dengan penisbatan yang tidak berdasarkan nash. Seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Taimiyah, yaitu dengan mengatakan kepada seseorang:”Kamu Shukaily atau Qarfandi?” Maka jika seseorang ditanya dengan pertanyaan seperti itu, jawabnya adalah:”Saya bukan Shukaili atau Qarfandi, akan tetapi saya muslim yang mengikuti Kitabullah dan sunnah rasul-Nya.”

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas ditanya oleh Muawiyah:”Kamu mengikuti millah Ali atau millah Utsman?” Beliau menjawab: “Saya tidak mengikuti millah Ali ataupun Utsman, akan tetapi saya mengikuti millah Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam.”

Begitu juga tidak diperbolehkan imtihan (menguji) dengan penisbatan yang sudah umum dipakai para ulama, seperti penisbatan kepada Imam (Al Hanafi, Al Maliki, As Syafi’i atau Al Hambali), yaitu dengan mengatakan: “Kamu Hanafi atau Maliki?” Juga penisbatan kepada guru ( Al Qadiri atau Al ‘Adawi), atau qabilah (Al Qaisi atau Al Yamani), atau negeri (Al Iraqi, Al Mishri atau As Syami). Juga tidak boleh berloyalitas atas nama-nama ini dan tidak pula menyakiti mereka yang bernisbah kepadanya. Adapun yang paling muliya di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, tidak pandang dari thaifah mana pun dia (Lihat, Majmu’ah Fatawa, vol. 3, hal. 255).

Loyalitas Tidak Didasari Atas Penisbatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah- mengatakan: “Allah telah memberi kabar, bahwa orang mukmin memiliki loyalitas kepada Allah, rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang mukmin. Mukmin di sini bersifat umum, barang siapa beriman maka dia disifati dengan sifat ini. Baik mereka yang menisbahkan diri, atas negeri, madzhab, thariqah atau yang tidak menisbahkan diri. Allah telah berfirman:”Dan laki-laki yang beriman serta perempuan yang berimana, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.”(At Taubah: 71).

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan beberapa hadits, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Permisalan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih dan sayang atas sesama mereka seperti satu tubuh, jika salah satu dari anggota badan sakit maka seluruh badan ikut demam susah tidur.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 257)

Tawadhu’ Ibnu Taimiyah Kepada Ulama Madzhab Lain

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya cukup berfatwa, lebih dari itu, amalan beliau mencerminkan apa yang beliau katakan. Ibnu Taimiyah tetap bisa bersikap obyektif kepada para ulama lain walaupun mereka berbeda pendapat atau madzhab. Meskipun beliau dalam banyak hal mengambil pendapat Madzhab Hambali akan tetapi beliau memiliki beberapa murid yang bermadzhab lain, seperti Ibnu Katsir (774 H) dan Imam Ad Dzahabi (748 H), keduanya bermadzhab Syafi’i.

Antara Ibnu Taimiyah dan Taqiyuddin As Subki (756 H) yang bermadzhab Syafi’i sering saling mengkritik lewat karya masing-masing, akan tetapi Ibnu Taimiyah tetap memuji karya-karya Taqiyuddin As Subki, dan beliau tidak memberi penghormatan kepada orang lain sebagaimana beliau menghormati Taqiyuddin As Subki (lihat, Tabaqat Asyafi’yah Al Kubra, vol.10, hal. 194).

Yang juga perlu dicontoh dari Ibnu Taimiyah adalah sifat tawadhu’ beliau terhadap ‘Alauddin Al Baji (724 H), salah satu ulama madzhab Syafi’I, mutakallim, yang mempunyai majelis perdebatan. Suatu saat mereka berdua bertemu, dan Al Baji berkata kepada Ibnu Taimiyah: ”Bicaralah, kita membahas permasalahan denganmu.” Akan tetapi Ibnu Taimiyah menjawab:”Orang sepertiku tidak akan berbicara di hadapan anda, tugasku adalah mengambil faidah dari anda.” (Tabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, vol. 10, hal. 342)

Nasehat Ibnu Taimiyah

Syikhul Islam –rahimahullah- mengatakan: “Perpecahan umat yang telah menimpa para ulama, para masyayikh, umara’, serta para pembesarnya merupakan penyebab berkuasanya musuh atas mereka. Dan itu disebabkan karena mereka telah meninggalkan perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Di tempat lain dijelaskan, bahwa Allah berfirman:”Dan hendaklah ada dari antara kamu satu golongan yang mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada hal yang ma’ruf serta melarang hal yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” Ibnu Taimiyah mengatakan:”Amar ma’ruf adalah memerintahkan untuk bersatu dan berkumpul adapun nahi mungkar adalah menegakkan hudud dengan Syari’at Allah.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 259). Maka, marilah kita rapatkan shaff, kikis rasa ta’ashub pada diri kita, juga prasangka buruk terhadap yang lain, juga perasaan bahwa diri kita selalu dalam kebenaran dan yang lain selalu berada dalam kebathilan, juga klaim bahwa hanya kita yang memahami dien sedangakan yang lain hanyalah juhala’ yang tidak perlu didengarkan. Wallahu’alam bishowab.

Source : Hidayatullah.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More