Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Thursday, January 9, 2014

Kiprah Masjumi dalam Memerangi Korupsi


KORUPSI yang dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan partai. Keberadaannya di pemerintahan seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah. Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik, berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli, apalagi menjelang Pemilu.

Fenomena ini ternyata sudah sejak lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955, mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan politik. Dalam tulisannya di Majalah Hikmah, No.10 Thn IX, 5 Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular yang ingin merebut simpati rakyat.

Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya, Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur partai-partai yang ada.

Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan (rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa. Oleh sebab itu, uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.

Hamka kemudian mengungkap adanya upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi keuangan partai.

“Di waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr. Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru! Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan, “Setelah kabinent Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh “menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis partai sekular PNI.

Dengan kritik yang cukup keras, Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi pendanaan partainya.

“Dengan serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan), dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”

Apa yang disampaikan oleh ulama penulis Tafsir Al-Azhar ini puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.

Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi, jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender, dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan suap.

Uang suap itu kemudian ada yang dicurigai dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu. Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.

Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.

Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.

“Memeras kantong sendiri, mendjual menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.

Orang asing itu kaget, karena selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.

Demikianlah keteladanan yang ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia. Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik, bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan pada uang!

Labels:

Sunday, December 15, 2013

Perjuangan KH Ahmad Dahlan Melawan Boedi Oetomo

Kampung Kauman, Yogyakarta, pada masa lalu dikenal sebagai basis santri, ulama, dan kaum ningrat. Masyarakatnya dikenal religius dan santun.

Kata Kauman, menurut sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Adaby Darban, berarti “Tempat Para Penegak Agama”.

Di kampung ini berkumpul para ulama, penghulu keraton dan para ketib masjid. Keberadaan Masjid Gede Kauman yang didirikan pada 1773 menjadi bukti sejarah identitas Kauman hingga kini.

Kampung Kauman pada masa lalu juga memiliki hubungan yang erat dengan kampung-kampung lain yang menjadi basis para santri di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Kampung Kauman inilah, Muhammad Darwis bin KH Abu Bakar bin KH Sulaiman dilahirkan. Muhammad Darwis yang belakangan berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1868.

Garis keturunannya adalah para ulama di lingkungan keraton. Ayahnya seorang khatib di Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan ibunya, Siti Aminah, adalah putri dari seorang penghulu Kesultanan Yogyakarta. Silsilah keluarga Dahlan sendiri sampai kepada Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) yang juga dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali.

Sebagai anak yang lahir di lingkungan ulama dan keraton, maka pada usia 23 tahun, Dahlan muda sudah menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ia berangkat ke Tanah Suci, bahkan sambil menimba ilmu di sana.

Di Makkah Al-Mukarramah inilah ia banyak membaca kitab, terutama kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama pembaru yang kemudian dikenal sebagai penggerak harakah at-tajdid (gerakan pembaruan).

Di Makkah Al-Mukarramah pula, Ahmad Dahlan berkenalan dengan ide-ide Pan-Islamisme yang saat itu marak diperbincangkan, karena upaya dominasi Kristen-Barat yang berusaha menguasai negeri-negeri Islam, khususnya pasca jatuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki.

Karenanya, Ahmad Dahlan ketika itu banyak bersentuhan dengan tulisan-tulisan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin Al-Afghani. Bahkan, Ahmad Dahlan pula yang membawa Majalah Al-Urawatul Wutsqa dan Al-Manar yang ia ‘selundupkan’ lewat perjalanan via kapal yang merapat di Pelabuhan Tuban, Jawa Timur.

Pemikiran-pemikiran dalam majalah-majalah dan buku bacaan yang dibawa Kiai Dahlan dari Timur Tengah itulah yang kemudian banyak mempengaruhi pemikirannya terutama dalam bidang tajdid (pembaruan), sehingga Muhammadiyah yang dibidani oleh Kiai Dahlan disebut sebagai Harakah at-Tajdid (Gerakan Pembaruan).

Pada saat itu, bacaan-bacaan dari Timur Tengah dilarang, karena dianggap oleh Belanda membawa ajaran Pan-Islamisme yang menyuarakan penentangannya terhadap penjajahan di negara-negara Muslim.

Dalam pertemuan tahunan ibadah haji di Tanah Makkah, tokoh-tokoh Islam dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Nusantara, membincangkan upaya untuk menyelamatkan negeri-negeri Muslim dari kolonialisme negara-negara kafir. Kiai Ahmad Dahlan terlibat dalam ide-ide itu selama mukim di Makkah.

J. Vredebregt dalam tulisan berjudul ”The Hadji” seperti dikutip W. Poespoprodjo menyatakan bahwa kontak langsung dengan Arabia mengalirkan pemikiran-pemikiran ke Indonesia. ”Udara” Asia Barat (Timur Tengah) menghembuskan sikap-sikap baru pada orang Jawa, yakni sebutan bagi orang-orang Nusantara yang melaksanakan ibadah haji.

Arabia tak hanya menjadi tempat berkumpul dan bersatunya umat Islam yang naik haji pada masa itu, tetapi tempat berkumpulnya para ahli-ahli politik dari berbagai dunia Islam, untuk saling bertemu dan berembuk soal politik dan rencana-rencana mereka.

Di Makkah juga mereka mengadakan konsultasi dan saling meminta nasihat, kemudian pulang dengan semangat baru untuk melawan penjajahan yang dilakukan para penjajah Kristen.

Kontak langsung dengan Arabia melalui pertemuan dalam ibadah haji di Makkah menimbulkan ketakutan tersendiri bagi penjajah terhadap munculnya fanatisme yang digerakkan lewat usaha-usaha membangun persaudaraan Muslim dunia.

Karena itu, usaha menghalang-halangi orang pribumi untuk melaksanakan ibadah haji dilakukan lewat Ordonansi Haji (Peraturan Haji). Larangan berhaji juga diberlakukan untuk para Pangreh Pradja, Sultan, regent, dan elit-elit penguasa lokal lainnya.

Karenanya, tak heran jika elit-elit di Jawa pada masa lalu, terutama mereka yang berasal dari keraton dan priayi yang menjadi kepanjangan tangan kolonial, tak ada yang melaksanakan ibadah haji.

Sepulang dari Makkah, KH Ahmad Dahlan bergabung dalam organisasi Boedi Oetomo pada 1909. Namun keberadaanya dalam organisasi yang berada dalam pengaruh kuat Gerakan Freemason ini tak lama.

Kiai Dahlan melihat Boedi Oetomo tak mempunyai kepedulian terhadap Islam. Para aktivisnya ketika itu lebih kental mengamalkan kebatinan, dibandingkan menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Sejak awal berdiri, Boedi Oetomo sudah didekati oleh kelompok Freemason, yang pada masa lalu disebut oleh orang Jawa sebagai “Gerakan Kemasonan”. Ketua pertama Boedi Oetomo, Raden Mas Tirtokoesoemo, adalah seorang Mason, begitu pun ketua-ketua selanjutnya.

Selama di Boedi Oetomo, Kiai Dahlan pernah berupaya mengadakan pengajian keislaman, namun usaha itu ditolak oleh para anggota lainnya yang kebanyakan para penganut kejawen.

Kiai Dahlan juga gencar melakukan dakwah kepada tokoh-tokoh lain di kalangan Kemasonan dan Kristen, seperti Dirk van Hinloopen Labberton (Tokoh Theosofi-Freemasonry) dan Van Lith (Tokoh Katolik Serikat Jesuit), juga dikalangan elit keraton Jawa seperti Ki Ageng Soerjomentaram.

Pada masa itu, kelompok kebatinan-kejawen dan sekular seperti para aktivis Boedi Oetomo memang seringkali menyerang ajaran-ajaran Islam. Bahkan, pelecehan terhadap ajaran Islam dilakukan secara terbuka lewat rapat-rapat umum (openbare) dan media massa.

Inilah yang juga menjadi keprihatinan Kiai Dahlan, sehingga ketika ramai-ramainya Nabi kaum Muslimin dihina oleh kelompok tersebut, KH Ahmad Dahlan bersama para tokoh Islam lainnya terlibat dalam organisasi Tentara Kandjeng Nabi Muhammad yang bertujuan membela kemurnian Islam.

Sebagai seorang Muslim yang berilmu, KH Ahmad Dahlan pada waktu itu sangat prihatin dengan maraknya sekolah-sekolah netral (neutrale school) yang bercorak netral agama dan mendapat dukungan pemerintah kolonial Belanda.

Selain itu, ia juga prihatin dengan menjamurnya sekolah-sekolah yang dikelola oleh misi Kristen dan kelompok Freemasonry. Ia khawatir, banyak anak-anak Muslim yang masuk dalam sekolah tersebut sehingga rusak akidahnya. Ia juga miris dengan banyaknya kaum Muslimin yang masih hidup dalam kekurangan, sehingga hanya berpikir bagaimana bisa makan, tanpa memikirkan pendidikan dan masa depan.

Keprihatinan KH Ahmad Dahlan terekam dalam penelitian yang dilakukan oleh sejarawan senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Abdurrachman Surjomihardjo dalam buku “Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe”.

Dalam buku ini, dijelaskan keprihatinan KH Ahmad Dahlan dengan tumbuh suburnya pendidikan netral bercorak barat, yang dikelola oleh Gerakan Kemasonan.

Selain itu, ia juga prihatin dengan maraknya sekolah-sekolah Kristen yang mendapat subsidi pemerintah Belanda, yang kerap melakukan upaya kristenisasi. Semua sekolah-sekolah ini, selain mendapat dukungan pemerintah kolonial, juga mendapat dukungan elit pemerintahan setempat yang kebanyakan sudah berada dalam pengaruh Gerakan Kemasonan (Freemasonry).

Dukungan pemerintah kolonial terhadap sekolah-sekolah milik Gerakan Kemasonan dan Kristen adalah upaya untuk mendirikan sekolah pribumi yang mampu bersaing dengan pesantren yang menjadi basis pendidikan umat Islam.

Tujuan pendidikan netral yang didirikan oleh Gerakan Kemasonan dan menjamurnya sekolah-sekolah Kristen tak lain adalah upaya mematikan peran pesantren.

Pendidikan netral bertujuan menumbuhkan jiwa loyalitas masyarakat pribumi terhadap pemerintah kolonial atau mengubah anak-anak elit Jawa menjadi ”bangsawan holland denken” (bangsawan yang berorientasi kebelandaan).

Karena itu, untuk mendapatkan kaki tangan yang setia bagi pemerintah kolonial dalam bidang pemerintahan dan jaksa, dibuatlah sekolah pamong praja, Opleiding School voor Indische Ambtenaren (OSVIA).

Karena prihatin dengan sekolah-sekolah yang membawa misi anti-Islam itu, KH Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 18 November 1912, yang secara tegas menonjolkan identitas keislamannya.

Muhammadiyah mempunyai tujuan: Pertama, ”Menjabarkan pengadjaran Igama Kandjeng Nabi Muhammad sallallahu Alaihi Wasallam kepada pendoedoek boemipoetra di dalam residentie Djokjakarta”. Kedua, ”Memadjukan hal Igama anggauta-anggautanya”.

Sebab-sebab berdirinya Muhammadiyah selain faktor internal, yaitu umat Islam tidak lagi memegang teguh tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan merajalelanya kemusyrikan, juga disebabkan faktor eksternal, yaitu kesadaran akan bahaya yang mengancam akidah umat Islam yang disebabkan oleh upaya Kristenisasi yang marak saat itu.

Faktor eksternal lainnya adalah, merebaknya kebencian di kalangan intelektual saat itu yang menganggap Islam sebagai ajaran kolot, tidak sesuai zaman. Dan yang terpenting dari sebab berdirinya Muhammadiyah adalah upaya untuk membentuk masyarakat dimana di dalamnya benar-benar berlaku ajaran dan hukum Islam.

Dengan berdirinya Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan beberapa aktivis Islam lainnya berusaha melakukan dakwah dalam bidang pengajaran dan membendung usaha-usaha Kristenisasi yang didukung oleh pemerintah kolonial lewat kebijakan Kerstening Politiek (Politik Kristensiasi) yang dimulai pada tahun 1910 oleh kelompok konservatif di Nederland dan dilaksanakan oleh Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg.

Di antara kebijakan Kerstening Politiek adalah dikeluarkannya ”Sirkuler Minggu” dan ”Sirkuler Pasar” oleh Gubernur Jenderal pada 1910. SirkulerMinggu menegaskan bahwa tidak patut mengadakan perayaan kenegaraan pada hari Minggu. Kegiatan pemerintahan pada hari Minggu diliburkan. Sirkuler Pasar melarang diadakannya hari pasaran pada hari Minggu.

Kebijakan ini berlanjut sampai hari ini, sehingga di Indonesia yang mayoritas Muslim, hari liburnya itu Minggu, bukan hari Jumat. Inilah di antara keberhasilan Politik Kristenisasi.

Kiprah KH Ahmad Dahlan dalam membendung arus Kristenisasi dan Gerakan Freemasonry juga dijelaskan oleh Dr. Alwi Shihab dalam disertasinya yang kemudian dibukukan dan diberi judul “Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia”.

Alwi menjelaskan, bahwa Freemasonry di Indonesia digerakkan oleh orang-orang Kristen yang sadar diri dan sangat peduli terhadap penyebaran Injil. Mereka melakukan upaya Kristenisasi, termasuk tentu saja mempropagandakan ajaran-ajaran Freemasonry.

Alwi Shihab memaparkan, ”Lembaga ini (Freemason, pen) telah berhasil menggaet berbagai kalangan Indonesia terkemuka, dan dengan demikianmempengaruhi berbagai pemikiran berbagai segmen masyarakat lapisan atas… Merasakan bahwa perkembangan Freemasonry dan penyebaran Kristen saling mendukung, kaum Muslim mulai merasakan munculnya bahaya yang dihadapi Islam… Dalam upayanya menjaga dan memperkuat iman Islam di kalangan Muslim Jawa, (Ahmad) Dahlan bersama-sama kawan seperjuangannya mencari jalan keluar dari kondisi yang sangat sulit ini. Untuk menjawab tantangan ini, lahirlah gagasan mendirikan Muhammadiyah. Dari sini, berdirinya Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan perkembangan pesat Freemasonry.”

Selain jawaban terhadap upaya Gerakan Kemasonan dan Kerstening Politik, berdirinya Muhammadiyah juga sebagai respon dari berbagai pelecehan terhadap Islam yang dilakukan oleh para aktivis kebangsaan yang tergabung dalam Boedi Oetomo.

Dengan bahasa sindiran, Muhammadiyah menyatakan, ”Jika agama berada di luar Boedi Oetomo, maka sebaliknya Politik berada di luar Muhammadiyah.” Demikian khittah perjuangan Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya.

Begitulah kiprah perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam membendung Kristenisasi dan Freemasonry di Indonesia, dengan mendirikan lembaga pendidikan yang bercorak Islam.

Sudah sepatutnya, generasi pewaris perjuangan KH Ahmad Dahlan saat ini, yang menjadi kader Persyarikatan Muhammadiyah, meniru ketegasan ulama tersebut, terutama dalam mencegah upaya-upaya kelompok yang merusak akidah!


Labels:

Monday, August 19, 2013

“Di Zaman Rasul, Orang Syiah Suka Mencuri Sandal”


TELAH diadakan diskusi antara tujuh ulama Syiah di depan ulama Ahlu Sunnah atas undangan Presiden Iran. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui titik perbedaan antara dua kelompok tersebut.

Ketika seluruh ulama Syiah telah hadir, akan tetapi tak satupun ulama Sunni yang datang.

Tiba-tiba masuklah seorang yang membawa sepatu di bawah ketiaknya. Ulama Syiah terheran-heran, kemudian mereka bertanya, “Kenapa kamu membawa sepatumu?”

Orang itu menjawab: “Saya tahu bahwa orang Syiah itu suka mencuri sandal di zaman Rasulullah.”

Ulama Syiah saling pandang terheran-heran akan jawaban itu. Mereka kemudian berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah…”

Orang itu menjawab lagi: “Kalau begitu diskusi telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian? Kalau di zaman Rasulullah tidak Ada Syiah.”

Semua ulama Syiah diam. Ternyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Ahmad Deedat, da’i besar dan Kristolg dunia. Rahimahullah.
Ahmed Deedat, public speaker yang ditakuti misionaris

Labels: ,

Thursday, July 11, 2013

Prawoto, Figur Negarawan Amanah yang Kian Terlupakan [Bag 2]

Partai Masyumi yang dikenal melahirkan politisi Muslim berwibawa dan sederhana

Memo Masyumi pada Soekarno

Masyumi memang mempunyai pendirian yang tegas. Ketika Soekarno membentuk Kabinet Gotong Royong, merangkul PKI dan menyebarkan ide-ide komunis, Natsir, Prawoto, HM Rasyidi dll. menyatakan sikapnya untuk menjadi oposan Presiden Soekarno. Akibatnya, hampir semua tokoh Masyumi mengalami beratnya perjuangan dengan "gemblengan" di rumah-rumah tahanan negara.

Sikap oposan terhadap Soekarno memuncak, ketika Soekarno dengan tanpa alasan yang jelas membubarkan Partai Islam terbesar itu. Lewat Keputusan Presiden RI No. 200/1960 tertanggal 17 Agustus 1960 (dan merujuk Penetapan Presiden No.7/1959) Soekarno embubarkan Masyumi.

Alasannya, menurut Soekarno, "Partai melakukan pemberontakan, karena pemimpin-pemimpinnya turut serta dalam pemberontakan apa yang disebut dengan "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" atau "Republik Persatuan Indonesia" atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan, sedang partai itu tidak resmi menyalahkan perbuatan anggota-anggota pimpinan tersebut."

Menanggapi keputusan Presiden yang semena-mena dan mendadak itu, Prawoto Mangkusasmito (Ketua Umum) dan HM Yunan Nasution (Sekretaris) menyampaikan surat pembubaran Masyumi dan sekaligus menyampaikan "memorandum keras" kepada ayahnya Megawati itu. Dalam pengantar memo itu, Prawoto mengungkapkan bahwa Masyumi sejak didirikan selalu berpegang teguh pada hukum dan kesepakatan bersama dalam bernegara.

"Umat Islam dibesarkan untuk memegang janji itu, tidak terkecuali janji yang diberikan kepada golongan lain, sampai pula janji yang diberikan kepada golongan yang menurut faham Islam dinamakan golongan kafir," tulis Prawoto, tertanggal 13 September 1960.

Memo itu selanjutnya meminta kepada tokoh-tokoh Masyumi untuk tetap memperjuangkan hukum Islam dan menyindir kekuasaan Soekarno yang cenderung diktator. "Orang-orang yang benar-benar memperjuangkan Islam, tidak bisa lain dari bertujuan supaya hukum Islam berlaku dan terutama untuk si pejuang sendiri, hukum Islam dengan segala batas dan larangan-larangannya, yang tidak boleh dilanggar oleh si Muslim yang kebetulan berkuasa."

Sebelum Masyumi dinyatakan bubar, Prawoto sebenarnya telah memberikan kuasa hukum kepada Mohammad Roem, Mr. Madoeretno Haaznam dan Mr. Djamaluddin Dt. Singo Mangkuto untuk menggugat Soekarno lewat Pengadilan Negeri Istimewa, Jakarta. Gugatan itu kemudian disampaikan oleh Mohammad Roem 9 September. Roem menulis bahwa Penpres No. 7/1959 itu, tidak mempunyai kekuatan hukum dan merupakan penyimpangan UUD 45.

Karena itu, Kepres 13/60 juga batal demi hukum. Pembubaran Masyumi, menurut Roem, menutup pintu bagi berjuta-juta warga negara untuk beramal dan karena itu menimbulkan kerugian yang tak terhingga.

Tapi usaha rehabilitasi Masyumi gagal, karena Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta lewat Ketua Pengadilannya M Rochjani Soeoed, menyatakan Pengadilan itu tidak berwenang memeriksa perkara gugatan yang disampaikan Masyumi.

Tidak mengenal letih, Prawoto dan kawan-kawan terus mengusahakan rehabilitasi Masyumi pada masa awal Soeharto berkuasa. Tapi, sayangnya Soeharto seperti juga Soekarno menolaknya, meski Orde sudah berganti.

Bukan hanya Masyumi yang gigih untuk memperjuangkan kembali eksistensinya, PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang juga dibredel Soekarno juga aktif melakukan usaha rehabilitasi. Di masa Soeharto, dalam Musyawarah Nasional III Persahi (Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia) dikeluarkan tuntutan agar partai-partai yang dibubarkan Soekarno (Masyumi, PSI,KAMI dan Murba) direhabilitasi kembali (3 Desember 1966). Tapi usaha itu lagi-lagi gagal.

Perjuangan Islam

Dalam pidato-pidato usai pembubaran Masyumi, Prawoto sering menguraikan secara menarik isu-isu Masyumi waktu Soekarno berkuasa.

Salah satu diantaranya uraiannya mengapa Masyumi menolak tegas gagasan Presiden agar kabinet disangga empat kaki, yaitu Masyumi, NU, PNI dan PKI. "Kita tidak bisa berkompromi dengan kaum komunis sehingga sampai-sampai kita dinyanyikan berkepala batu," urainya pada reuni Keluarga Besar Bulan Bintang di Jakarta, pada 24 Oktober 1966.

Prawoto dalam kesempatan itu juga menyebut adanya phobi kepada Masyumi. Ia menyebut ada mitos yang diciptakan (Soekarno dan pengikutnya) bahwa Masyumi anti Pancasila dan Masyumi akan membawa revolusi ke kanan.

Ia mengakui bahwa Masyumi memang berjuang menegakkan hukum Islam. Lain dengan beberapa "partai Islam" sekarang yang ragu-ragu memperjuangkan hukum Islam, dalam Anggaran Dasarnya, Masyumi secara eksplisit mencantumkan terlaksananya hukum Islam sebagai tujuan. Masyumi juga menegaskan bahwa anggota partai adalah mereka yang beragama Islam.

Perjuangan Masyumi untuk mendukung Piagam Jakarta, tidaklah setengah-setengah. Tokoh-tokoh Masyumi saat itu, rajin melobi partai-partai lain sehingga dukungan untuk Piagam Jakarta sampai meraih 43% suara dalam pemungutan suara di Konstituante. Tapi, perlu dicatat, menurut Prawoto, yang menolak Piagam Jakarta ada penyokong palsu. Yaitu PKI, yang saat itu setuju digunakan sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja.

Sebenarnya cukup aneh bila ada partai yang mengaku partai Islam, tapi Agak enggan dalam memperjuangkan terlaksananya Islam dalam masyarakat dan negara. Padahal Soekarno sendiri yang mazhab ideologinya "gado-gado" pernah menyatakan silakan masing-masing golongan memperjuangkan ideologinya.

"Kalau fihak Islam menghendaki suatu Undang-undang Dasar yang sesuai dengan cita-citanya, berjuanglah sekeras-kerasnya di dalam permusyawaratan perwakilan itu. Jika golongan Kristen, ingin supaya cita-citanya termasuk Undang-undang Dasar, berjuanglah sekeras-kerasnya juga," kata Soekarno.

Karena itu, Hamka sebagaimana juga Prawoto tidak mengenal lelah untuk perjuangan tegaknya Islam itu. Hamka, ulama dan tokoh Masyumi lainnya sering mengingatkan, "Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah sekali-kali boleh kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Dan jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, 'Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum Syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu?' Janganlah berbohong dan mengolok-olok jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang telah digariskan Tuhan dalam al Qur'an kita pungkiri?" (Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 6).

Partai Islam mestinya kukuh dalam memegang prinsip-prinsip Islam dan sepatutnya mengambil keteladanan politisi-politisi Muslim pendahulu di negeri ini. Pertama, dalam berpolitik, ia dikenal pembela Islam, dan berani dalam menegakkan amar makruf nahi munkar dengan jalan konstitusional. Kedua, hidup dan berperilaku sederhana. Bukan untuk sekedar menumpuk kekayaaan atau bergaya-gaya telah memegang kekuasaan. Bila demikian tujuannya, apa beda dengan politisi sekuler?

Nah, bila politisi Muslim, khususnya mereka yang tergabung dalam Partai Islam, berperilaku sama dengan partai lain, khusunya tidak menjaga diri dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, maka bisa dipastikan masyarakat akan meninggalkannya. Nanti, yang tersisa adalah kader-kader yang kurang bermutu, yang tidak menjadi kebanggan umat. *

Labels: ,

Prawoto, Figur Negarawan Amanah yang Kian Terlupakan


BEDA ucapan dengan perbuatan, demikian istilah yang tepat untuk para politisi. Kalimat ini mengingatkan kita semua yang sebentar lagi musim kampanye tiba.

Pada Pemilu 2009, banyak kita temukan calon presiden berkampanye dan berteriak-teriak tentang perlunya hidup sederhana. Sementara dirinya justru hidup dalam kemewahan.

Selain urusan tidak sinkron antara ucapan dan perbuatan, urusan lebih menghawatirkan adalah urusan uang. Ada gejala pergeseran tujuan hadirnya partai poltik, di mana partai politik saat ini menjadikan uang (logistik) menjadi tujuan utama. Kegelisahan ini pernah diungkap Chairman Aktual Network Dr Yudi Latif.

“Saat ini demokrasi ditopang kekuatan logistik. Parahnya partai Islam ikut tarian. Harusnya kan bersekutu agar politik tidak dikuasi oleh uang," ujar, Yudi Latief dalam diskusi Aktual Forum bertajuk "Quo Vadis Parpol Islam dalam Arus Demokrasi Liberal"di Dapur Selera, Jakarta, Ahad (10/2). [baca:Hancurnya Partai Islam Karena Terjebak Demokrasi Berbasis Logistik]

Banyaknya degradasi identitas dalam partai berbasis Islam dinilai karena ketidakseriuasan memperjuangkan nilai ideologinya sendiri. Menurutnya, kebanyakan kasus negatif yang menimpa pada partai - partai Islam pasti terkait pada kebutuhan logistik mereka menjelang kampanye.

Lebih dalam ia mengkaji banyak partai Islam terjebak, lalu larut untuk memenuhi kebutuhan logistiknya akhirnya kehilangan identitas moralnya. Pernyataan Yudi diakui politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Zulkieflimansyah. Menurut Zulkifli, partai berhaluan ideologi agama pada era kini memang begitu lemah dalam menghadapi godaan uang. Musibah yang bisa dijadikan contoh dalam hal ini adalah kasus Ahmad Fathanah.

Memang tak mudah hidup sederhana, di era sistem politik hedonis saat ini. Tapi sebagai partai Islam, mestinya hal-hal yang prinsip bertentangan dengan syariat Islam mesti dijaga.

Korupsi, hidup dalam kemewahan mestinya dihindari. Ketika seseorang mengikrarkan dirinya sebagai politisi Muslim (apalagi dari Partai Islam), saat itu masyarakat akan jeli melihatnya. Sebagaimana perkataan Sayidina Ali ra : “Sebagaimana kamu dahulu mengawasi dengan tajam pemimpinmu dahulu, kamu juga akan diawasi dengan tajam.”

Prawoto Mangkusasmito

Adalah Prawoto. Laki-laki berperawakan kurus itu memang telah banyak memberi teladan pada para pemimpin. Bekas Ketua Umum Masyumi (1959-1960) ini, hidupnya sederhana dan tidak bergelimang duit. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga, istrinya juga membantu mencari nafkah.

"Ia bukan seorang politikus yang menggunakan politik untuk mencari duit. Ia berjuang untuk negara dan rakyat Indonesia dan ini kelihatan sekali dari penghidupannya," tulis Tan Eng Kie di Pos Indonesia, Agustus 1970.

"Ia seorang pejuang ideologis yang teguh, yang mempunyai kepribadian khas. Ia tidak akan membiarkan begitu saja, kalau aqidahnya disinggung orang. Sebagai seorang pemikir politik, ia sangat teliti dan cermat. Dia merupakan contoh pejuang yang konsekuen, satunya kata dengan perbuatan," tulis AR Baswedan.

Prawoto lahir di desa Tirto, Grabag Magelang 4 Januri 1910. Sejarah hidupnya, menggambarkan seorang pejuang politik (Islam) yang konsisten terhadap agama. Dalam soal prinsip agama, mantan guru sekolah Mauhammadiyah ini mengingatkan;

"Jangan tinggalkan tuntunan agama. Dipandang daripada sudut partai politik yang mendasarkan perjuangannya atas kaidah-kaidah agama, perlu kita renungkan kembali, apakah benar di dalam mengejar kemenangan-kemenangan yang bersifat sementara itu, dapat dipertanggungjawabkan jika ditinggalkan ketentuan-ketentuan yang terang nashnya dalam agama? Saya yakin tidak. Jika demikian, maka kerusakanlah yang akan menjadi bagian kita dan tidak ada guna, malah menyesatkan perkataan agama yang kita tempelkan pada papan nama kita." (Prawoto Mangkusasmito:1972).

Tokoh Masyumi Mohammad Natsir, juga kagum terhadap pribadi Prawoto. Menyambut meninggalnya Prawoto (24 Juli 1970), Natsir membuat tulisan berjudul "Seorang mujahid pergi dan tidak kembali." Dalam sambutan mengantar jenazah Prawoto, Natsir menyatakan bahwa kelebihan Prawoto di antaranya adalah pergaulannya yang luas dan mau langsung terjun berdakwah dan berdiskusi di tengah-tengah ummat. Prawoto biasa mengunjungi petani atau rakyat-rakyat kecil di desa, untuk berdiskusi masalah agama, politik dan kehidupan sehari-hari mereka.

"Sebagai seorang pemimpin ummat, yang ingin hidup di tengah-tengah umatnya, beliau rupanya sudah ditaqdirkan meninggal di tengah-tengah ummat yang menjadi keluarga besar yang beliau cintai," kata Natsir. Ya, Prawoto pergi ke akherat ketika berada di tengah-tengah kaum dhuafa di Banyuwangi.

Keteguhan pada perjuangan, menjadikan dirinya "iri" (cemburu) melihat kawan-kawannya sudah merasakan penjara, sedang dirinya belum. Tapi cemburunya itu, akhirnya terobati setelah dia juga ditangkap rezim Soekarno dan dipenjara di Rumah Tahanan Militer di Madiun bersama Mohammad Roem, Isa Anshori, Yunan Nasution dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya.

Komitmennya pada Islam, selain dipraktekkan dalam kehidupannya, juga ditunjukkannya dalam pidato atau ceramah-ceramahnya. Saat Halal Bihalal Masyumi se Jakarta, Prawoto mengharapkan agar menilai sebuah perjuangan dengan ukuran Islam, tidak dengan ukuran lainnya.

"Rugi untungnya perjuangan, kita nilai dengan rugi untungnya Islam," kata Prawoto, seperti dikutip Harian Abadi, 2 April 1960. Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan kenapa Masyumi keluar dari DPR Gotong Royong, bentukan Presiden Soekarno bersama PKI. "Masyumi tidak ada di dalamnya, sebab yang duduk di situ adalah orang-orang yang disebut "revolusioner" saja. Tetapi sampai di mana ada jaminan bahwa DPR Gotong Royong itu tidak akan direcool lagi?" sindir Prawoto.*/bersambung

Labels:

Saturday, June 22, 2013

Pendidikan Karakter KH Hasyim Asy'ari


Kebanyakan masyarakat Indonesia, baik warga Nahdatul Ulama (NU) lebih-lebih di luar NU hanya tau jika KH. Hasyim Asy’ari hanyalah seorang ulama sekaligus aktivis. Pendiri NU ini adalah sosok pendidik yang sumbangsihnya dalam dunia pendidikan tidak bisa disepelekan.

Di tengah kurang berhasilnya –untuk tidak mengatakan gagal—sistem pendidikan di Indonesia, ada baiknya jika para pengambil kebijakan di negeri ini untuk kembali mengkaji dan menelaah pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari.

Pendidikan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah pendidikan yang berbasis karakter yang sedang digembar-gemborkan oleh Menteri Pendidikan saat ini untuk dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan karakter peserta didik. Itu artinya pemikiran pendidikan pengasas organisasi Islam terbesar di dunia ini telah melampaui zamnnya.Pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’Ari, dapat dengan jelas diketahui dalam kitabnya, “Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H”.

Peran Guru

Masalah pendidikan di negeri ini, selain kurikulum, metode juga menjadi sorotan. Ini dapat dipahami karena metode memang lebih penting dari kurikulum, Ath-thoriqah ahammu minal madah. Namun metode juga sangat tergantung pelaksanaannya pada guru, sebab guru lebih penting dari metode itu sendiri, al-mudarris ahammu min ath thariqah. Namun, roh seorang guru lebih bermakna dari jasadnya sendiri, wa ruhul mudarris ahammu min mudarris nafsuhu. Karena metode secanggih apa pun, jika berada pada guru yang tidak bersemangat akan nihil hasinya. Prinsip keterkaitan antara kurikulum, metode, dan guru, telah disadari pentingnnya oleh Hasyim Asy’ari dan para ulama-ulama muktabar yang terjun langsung mengurus lembaga pendidikan.

Di pondok pesantren misalnya, ada prinsip bahwa metode lebih penting dari materi; guru lebih penting dari metode; dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri. Jadi selain materi dan guru, jiwa guru sangat berperang penting dalam keberhsilan pengajaran. Karena dengan jiwa keikhlasan dan pengabdiannya, guru akan dapat mewarnai murid. Ini sesuai pendapat Sir Pency Nunn, seorang guru besar pendidikan di University of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung kebaikan, kebijakan, dan kecerdasan pendidik.

Hasyim Asy’ari, juga tampil menawarkan beberapa etika yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sebagai bekal dalam melaksanakan tuganya, sebagaimana berikut ini: seorang guru harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah); senantiasa takut kepada Allah (al-khauf ilallah); senantiasa bersikap tenang dan selalu berhati-hati (wara’); senantiasa tawadhu’, khusyuk, mengadukan segala persoalannya hanya kepada Allah; tidak menggunakan ilmunya hanya untuk meraih kepentingan dunia semata; tidak terlalu memanjakan anak didik; berlaku zuhud dalam kehidupan duniawi; menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah; menghindari tempat-tempat yang kotor dan tempat maksiat; senantiasa mengamalkan sunnah Nabi; istiqamahn dalam membaca Al-Qur’an; selalu bersikap ramah, ceria, dan suka menaburkan salam; membersihkan diri dari segenap perbuatan yang tidak disukai oleh Allah (ijtniabul manhiyat); selalu menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu oengetahuan; tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; dan membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas.

Ada pun etika adab-adab seorang guru ketika mengajar, Hasyim As’Ari menawarkan gagasan tentang etika atau adab-adab guru ketika mengajar sebagaimana berikut: Mensucikan diri dari hadas dan kotoran; berpakaian yang sopan dan rapi serta usahakan berabau wangi; berniatlah beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik; sampaikanlah hal-hal yang diajarkan oleh Allah; biasakanlah membaca untuk menambah ilmu pengetahuan; berilah salam ketika masuk ke dalam kelas; sebelum mengajr mulailah terlabih dahulu dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama maninggalkan kita; berpenampilan yang kalem dan jauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata; menjauhkan diri dari banyak bergurau dan banyak tertawa; jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, marah, mengantuk, dan sebagainya; pada waktu mengajar hendaklah mengambil duduk yang strategis; usahakan tampil dengan sikap ramah, lemah lembut, jelas dalam betutut, tegas, lugas, dan tidak sombong; dalam mengajar hendaklah mendahulukan materi-materi yang penting dan sisesuikan dengan profesi yang dimiliki; jangan sekali-sekali mengerjakan hal-hal yang bersifat syubhat dan bisa membinasakan; perhatikan masing-masing kemampuan murid dalam mengajar dan tidak terlalu lama, serta menciptakan ketenangan dalam ruangan belajat; menasihati dan menegur dengan baik bila mterdapat anak didik yang bandel; bersikaplah terbuka terhadap berbagai macam persoalan yang ditemukan; berilah kesempatan kepada peserta didik yang datangnya ketinggalan dan ulangilah penjelasan agar tahu apa yang dimaksud; dan bila sudah selesai, berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas atau belum dipahami.

Tidak hanya itu, Hasyim Asy’ari masih menawarkan bebrapa adab guru terhadap para murid-muridnya, sebagaimana berikut: seorang guru harus berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syariat Islam; menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian; hendaknya selalu melakukan intrsopeksi diri; menggunakan metode yang mudah dipahami oleh para murid; membangkitkan antusias peserta didik dengan memotivasinya; memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu; selalu memperhatikan kemampuan peserta didik; tidak terlalu mengorbitkan salah seorang peserta didik dan menafikan yang lainnya; mengarahkan minat peserta didik; bersikap terbuka dan lapang dada terhadap peserta didik; membantu memecahkan masalah dan kesulitan para peserta didik; bila terdapat pseta didik yang berhalangan hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya; tunjukkan sikap arif dan penyayang kepada peserta didik; dan selalulah rendah hati, tawadhu’.

Dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, pembentukan adab merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan, karena dengan adab peserta dapat menuntut ilmu dengan baik. Asy’ari lalu mengutif sebuah kisah bahwa ketika Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” beliau lalu menjawab, “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan [mendengarkan] seolah-olah setiap orang memiliki alat pendengaran [telinga]. Demikian perumpamaan hasrat kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau lantas ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana usaha seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” Maka dalam bukunya itu, Hasyim Asy’ari menuliskan kesimpulan kaitannya dengan masalah adab ini bahwa sebagia ulama menjelaskan konsekwensi dari pernyataan tauhid yang telah diikrarkan seseorang adalah mengharuskan beriman kepada Allah (dengan membenarkan dan meyakini Allah tanpa sedikit pun keraguan). Karena apabila ia tidak memiliki keimanan itu, tauhidnya dianggap tidak sah. Demikian pula keimanan jika keimanan tidak dibarengi dengan pengamalan syariat (hukum-hukum Islam) dengan baik maka sesungguhnya ia belum memiliki keimanan dan tauhid yang benar. Begitu pula dengan pengamalan syariat, apabila ia mengamalkannya tanpa dilandasi adab maka pada hakikatnya ia belum mengamalkan syariat dan belum dianggap beriman serta bertauhid kepada Allah. Berdasarkan beberapa hadis Rasulullah SAW dan keterangan para ulama di atas, kiranya tidak perlu kita ragukan lagi betapa luhurnya kedudukan adab di dalam ajaran agama Islam. Karena tanpa adab dan prilaku yang terpuji maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah SWT sebagai satu amal kebaikan, baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat kita maklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah adalah melalui sejauhmana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan.

Melihat gagasan-gagasan yang ditawarkan di atas, nampak jelas nuansa kesufian dalam diri Hasyim Asy’ari. Hal ini tidaklah mengherankan sebab dalam prilaku kehidupannya ia meang lebih cenderung pada kehidupan sufi. Dengan ilmu tasawuf dan hadis yang dikuasainya, sangat mewarnai gagasan pemikiran keagamaan dan juga dalam bidang pendidikan. Beliau adalah sufi yang tidak hanya sibuk dengan zikir dan fikir, tapi masuk berbaur dengan masyarakat untuk membebaskan umat dari belenggu kebodohan. Ada bebrapa catatan menarik dari gagasan-gagasan Asy’ari terkait dengan integritas seorang guru, seperti seorang guru haruslah membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas. Hasyiam Asy’ari memandang bahwa perlu adanya tulisan dan karangan, sebab media tulisan itula ilmu yang dimiliki seseorang akan terabadikan dan akan benyak memberi manfaat pada orang yang datang setelahnya, atau pada genrasi mendatang, di samping dirinya akan dikenang sepanjang masa. Sayang tradisi ini belum begitu membudaya di pondok pesantren.

Tapi harus diakui bahwa gagasan Hasyim Asy’ari di atas tidak terlepas dari praktik pendidikan yang telah dialaminya selama hidupnya, yang telah mengabadikan dirinya dalam dunia pendidikan. Inilah yang menjadi kekuatan tersendiri dalam mengeluarkan gagasan-gagasan. Sampai-sampai hal-hal yang sepele seperti cara menegur dan menyikapi anak yang terlambat masuk kelas juga diangkatnya. Jelas, hal ini hanya wujud dari para praktisi pendidikan yang paham betul dunia pendidikan, yang sangat sulit disentuh oleh para penggagas dan pengamat pendidikan yang hanya duduk di kursi kantor. Belum lagi pada penampilan, baik fisik maupun sikap, semua disajikan secara detail. Dengan mengaplikasikan pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari di atas, dengan haqqul yaqin, pendidikan karakter yang minus teladan akan terealisasi dengan sendirinya. Wallahu A’lam!

Labels: ,

Tuesday, June 18, 2013

Kebijakan Politik & Militer Masa Rasulullah Berawal dari Masjid


Ketua MUI Pusat Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam , KH. Ahmad Cholil Ridwan menyatakan, bahwa kebangkitan Umat Islam di zaman Rasulullah justru berawal dari Masjid Nabawi. Pesan ini ia sampaikan pada acara peluncuran Majelis Taklim Pengajian Politik Islam (PPI) di masjid Agung Al Azhar, Ahad siang (16/6).

Menurut KH Cholil, pesan ini ia sampaikan untuk melawan doktrin yang diwariskan sejak zaman Belanda yaitu, masjid dilarang berbicara politik.”Kejayaan Rasulullah itu berawal dari Masjid,” terangnya.

“Tidak hanya politik, bahkan kebijakan militerpu,n Rasulullah putuskan dari Masjid Nabawi,” tambahnya.

Ulama yang juga gencar dalam kampanye penegakkan syariat Islam di Indonesia ini berharap, melalui PPI Umat Islam dapat cerdas dalam mengambil tindakan politik.”Tujuan PPI salah satunya adalah menjadikan umat Islam tuan rumah di negerinya sendiri,” tandas Kyai Cholil. Peresmian PPI di hadiri oleh para Ulama, Pimpinan Ormas Islam , Pimpinan Parpol Islam, dan sekitar 500 Jamaah dari Jabodetabek. Pada acara hari ini ketua PP Muhammadiyah Prof.Dr.Din Syamsudin dan ketua umum PBB H.Dr.MS Kaban memberikan sambutan sekaligus dukungan. PPI akan diselenggarakan dua pekan sekali setiap Ahad usai Dzuhur di Masjid Agung Al Azhar, dimulai pada tanggal 30 juni 2013.

Labels:

Monday, June 17, 2013

Menguak Topeng Syiah [Bagian 2]


IMAM Ali sendiri mengharamkan Mut’ah. Ini tercantum dalam Shahih Muslim, yang mudah ditemukan di perpustakaan sekolah maupun pesantren. Tetapi Khomeini memiliki pendapat lain. Katanya, yang mengharamkan nikah Mut’ah adalah Umar bin Khattab.

Dalam kitab Kasyful Asrar, Khomeini memulai pembahasan mengenai Mut’ah dengan judul: “Penyimpangan Umar dari Al-Qur’an”. Lalu ia mengatakan: “Sesuai dengan khabar yang mutawatir dari Ahlul Bait dan hadits yang shahih, Jabir bin Abdillah Al-Anshari menukil dalam Sahih Muslim dari pengikut sunni bahwa mereka mengatakan: ‘Kami dahulu –pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar– melakukan Mut’ah, sampai Umar melarangnya.”

Artinya, Umar melarang sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nikah Mut’ah yang dibolehkah oleh Allah dan Rasul-Nya, dilarang oleh Umar. Dengan itu Umar telah menyeleweng dari Al-Qur’an. Begitulah kesimpulan yang ingin dibangun oleh Khomeini.

Pendapat ini diikuti oleh seluruh Syi’ah, baik yang ulama, ustad maupun orang awam, yang ikutan sok kritis. Semangat ilmiah yang dinampakkan dan dihasung oleh ustad-ustad Syi’ah, ternyata tidak mereka anut sendiri. Semua itu hanya sekedar retorika untuk memukau orang awam. Para ustad Syi’ah dan ulama Syi’ah tidak mau memeriksa dalam kitab Shahih Muslim. Kepercayaan dan kharisma Khomeini telah meruntuhkan semangat ilmiyah dan objektifitas mereka sendiri.

Tapi kami tidak begitu saja percaya pada Khomeini, meski Syi’ah telah menganggapnya sebagai wakil Imam Mahdi. Ternyata wakil Imam Mahdi sengaja berbohong. Ini nampak jelas pada makalah sebelumnya tentang; “Akhlak Imam Khomeini”.

Dalam Shahih Muslim, dalam bab Mut’ah, tercantum riwayat bahwa Ali marah pada orang yang menghalalkan Mut’ah. Orang itu memberi fatwa bahwa nikah Mut’ah adalah halal, berita itu sampai kepada Ali dan Ali pun marah. Katanya: “Engkau adalah orang bingung. Rasulullah telah melarang nikah Mut’ah..” –seperti pada hadits Yahya bin Yahya dari Malik–.

Sedangkan hadits riwayat Yahya bin Yahya dari Malik adalah sebagai berikut:

Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Abdullah dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Ali bin Abi Thalib bahwa “Rasulullah melarang nikah Mut’ah pada hari khaibar, dan melarang makan daging keledai jinak.”

Ali bin Abi Thalib, yang orang sering menyebutnya dengan julukan pintu ilmu, tidak rela jika ajaran Rasulullah SAW diselewengkan. Ketika ada yang menyimpang, segera dia meluruskan dan menyampaikan apa yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Ali yang menjadi pintu ilmu, tentunya lebih mengetahui ajaran Rasul dibanding orang yang menghalalkan nikah Mut’ah tadi.

Rupanya Khomeini tidak melihat langsung dari Shahih Muslim, hanya mendengar dari orang lain, lalu tidak dicek langsung ke Shahih Muslim. Oleh karenanya, Khomeini tidak melihat bahwa Ali juga mengharamkan nikah Mut’ah. Jika Umar divonis menyimpang dari Al-Qur’an karena menghalalkan nikah Mut’ah, apakah Ali juga akan divonis menyimpang?

Ternyata Umar telah mendengar langsung pengharaman Mut’ah dari Nabi, jika dinyatakan bahwa Umar adalah orang pertama yang mengharamkan, berarti di sini Ali telah mengikuti Umar bin Khattab, mengikuti pendapat sesatnya.

Ali pun menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena Ali menganggap Umar adalah orang baik-baik yang layak diambil menantu. Pernikahan itu melahirkan anak yang bernama Zaid bin Umar bin Khattab. Memang sebagian Syi’ah susah untuk menerima kenyataan ini, karena peristiwa ini akan meruntuhkan seluruh madzhab Syi’ah. Ada pertanyaan untuk mereka, jika memang Ummi Kultsum tidak menikah dengan Umar, siapa ayah dari Zaid bin Umar bin Khattab?

Selengkapnya bisa dirujuk ke makalah “Benarkah cucu Nabi diperkosa?”

Khomeini mengambil riwayat dari Jabir bin Abdullah dalam Shahih Muslim, tapi mengabaikan pendapat Ali bin Abi Thalib, karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya. Saya yakin Khomeini memiliki akses ke kitab Shahih Muslim.Ini semakin membuat kita ragu dan bertanya, apakah madzhab yang dianut oleh Khomeini adalah madzhab Ali bin Abi Thalib?

Baca Artikel Sebelumnya :
Menguak Topeng Syiah [bagian 1]

Labels: , ,

Menguak Topeng Syiah

KHOMEINI, sebuah nama yang dikenal di seluruh penjuru dunia, sebuah nama yang dikagumi jutaan orang di dunia. Sosok yang menjadi idola dan panutan jutaan orang. Tidak banyak orang seperti dia.

Pada beberapa makalah yang lalu, pembaca telah menyimak beberapa pembahasan dan riwayat tentang peristiwa “kamis kelabu” -seperti disebut oleh kawan kita yang satu itu-. Riwayat-riwayat itu berasal dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dibanding Kitab Al-Kafi, Al-Irsyad, atau Jawahirul Kalam, kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim jauh lebih mudah dicari. Artinya, kalau orang ingin melihat langsung ke Shahih Bukhari, dia akan dengan mudah menemukan kitabnya, dan melihat langsung riwayat haditsnya. Orang yang berbohong dengan mengatas-namakan riwayat Bukhari, begitu mudah kebohongannya itu akan terbongkar, dia akan ketahuan berbohong. Ini karena kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim begitu mudah dicari dan didapatkan.

Logikanya, orang yang akan berbohong atas nama Bukhari Muslim, akan berpikir beberapa kali. Pembaca barangkali tidak percaya jika ada orang yang nekad berbohong, dan mengklaim hadits tertentu ada di Shahih Bukhari dan Muslim, namun nyatanya tidak. Tapi ada saja orang yang nekad berbohong meski mudah juga ketahuan.

Ada yang berbohong atas nama Bukhari dan Muslim tentang kisah hari kamis. Siapa dia? Dia adalah Khomeini, sosok yang dianggap oleh Syi’ah sebagai wakil Imam Mahdi, imam yang bersembunyi dan tidak memunculkan diri. Kapan Imam Mahdi melantik Khomeini menjadi wakilnya? Tidak jelas kapan waktunya. Yang jelas Syi’ah meyakini hal itu. Asal pembaca tahu saja, Imam Mahdi yang diyakini Syi’ah hari ini, tidak jelas keberadaannya. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya.

Dalam Kasyful Asrar, hal. 137 -edisi bahasa arab-, Khomeini mengatakan:
عندما كان رسول الله في فراش المرض,و يحف به عدد كثير,قال مخاطبا الحاضرين: تعالوا أكتب لكم شيئا يحميكم من الوقوع في الضلالة , فقال عمر بن الخطاب : لقد هجر رسول الله. وقد نقل نص هذه الرواية المؤرخون وأصحاب الحديث من البخاري ومسلم وأحمد مع اختلاف في اللفظ ، وهذا يؤكد أن هذه الفرية صدرت من ابن الخطاب المفتري .

Terjemahannya kurang lebih demikian:

“Saat Rasulullah terbaring sakit, dan dikelilingi oleh banyak orang, Beliau bersabda pada orang-orang yang hadir di situ: ‘Kemarilah, aku akan menuliskan pada kalian tulisan yang akan menjaga kalian dari kesesatan.’ Lalu Umar bin Khattab mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau (berbicara tidak jelas).’ Text riwayat ini telah dinukil oleh para ahli sejarah dan ahli hadits seperti Bukhari, Muslim, Ahmad, dengan sedikit perbedaan pada redaksi/lafadznya. Ini berarti menegaskan bahwa kebohongan bersumber dari Ibnul Khattab, si pembohong.”

Mari Kita lihat langsung ke sumber aslinya, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

Riwayat dari Shahih Bukhari:
عن سعيد ابن جبير عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال : يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى خضب دمعه الحصباء فقال : اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه يوم الخميس فقال (( ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا هجر رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).

Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu ia menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, Nabi bersabda (pada hari itu): ‘Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya’. Lalu mereka saling berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau?’ Maka Rasulullah pun bersabda: ‘Tinggalkanlah aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari apa yang kalian serukan kepadaku.” (Shahih Al-Bukhari, bab Jawaizul Wafd, Nomer hadits: 3053).

Riwayat lain dari kitab Shahih Bukhari:عن سعيد بن جبير قال قال ابن عباس : يوم الخميس وما يوم الخميس ؟ اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال (( ائتوني أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما شأنه أهجر استفهموه ؟ فذهبوا يردون عليه فقال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu ia menangis dan melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Lalu Rasulullah bersabda: Tinggalkan aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari ajakan kalian.” (Shahih Al-Bukhari, bab Maradhin NabiyShallalahu ‘Alaihi wa Sallam, Nomer hadits: 4431).

Riwayat dari Shahih Muslim:عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى بَلَّ دَمْعُهُ الْحَصَى. فَقُلْتُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعُهُ. فَقَالَ (( ائْتُونِى أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدِى )) فَتَنَازَعُوا وَمَا يَنْبَغِى عِنْدَ نَبِىٍّ تَنَازُعٌ. وَقَالُوا مَا شَأْنُهُ أَهَجَرَ اسْتَفْهِمُوهُ.


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, Wahai Ibnu Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).

Riwayat lainnya dari Shahih Muslim:عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ. ثُمَّ جَعَلَ تَسِيلُ دُمُوعُهُ حَتَّى رَأَيْتُ عَلَى خَدَّيْهِ كَأَنَّهَا نِظَامُ اللُّؤْلُؤِ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (( ائْتُونِى بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ – أَوِ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ – أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا )). فَقَالُوا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهْجُرُ.


Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu menangis, lalu air matanya mengalir di pipinya, sampai aku melihat di pipinya seakan untaian mutiara, Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).

Kita lihat sendiri dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, ternyata apa yang diucapkan oleh Khomeini tidak ada. Dalam seluruh riwayat di atas, tidak ada kata Umar. Sementara yang menuduh Nabi meracau adalah mereka. Artinya, jumlahnya lebih dari tiga.

Siapakah mereka yang berani menuduh Nabi meracau? Riwayat-riwayat lainnya –termasuk dalam Shahih Bukhari dan Muslim– tidak menyebutkan siapa mereka. Bahkan mereka juga ribut di depan Nabi saat Nabi sedang sakit keras. Siapakah mereka itu? Silahkan menyimak kembali makalah: “Siapa yang ribut saat Nabi sakit?”. Dengan mudah kita mendapati bahwa yang berbohong adalah Khomeini sendiri, bukan Umar bin Khattab. Khomeni lah sang pembohong, bukan Umar bin Khattab.

Ini sebuah pertanda, berbohong adalah kebiasaan ustadz dan ulama Syi’ah yang susah ditinggalkan. Kita tidak perlu heran, karena mereka bermakmum kepada Khomeini, sedangkan makmum harus mengikuti imamnya.

Apa maksud dan tujuan ini semua? Semua ini untuk mengungkapkan kebencian Khomeini kepada Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang membawa obor cahaya Islam menaklukkan negeri Persia. Bersambung  

Klik Menguak Topeng Syiah [Bag 2]

Labels: ,

“150 Tahun Frans Van Lith”

Oleh: Dr. Adian Husaini

SITUS
www.antarajateng.com, pada 27 Mei 2013, menurunkan berita berjudul “Pancadriya Kuwalik' Van Lith setelah 150 Tahun”.  Berita itu berkisah tentang peringatan 150 tahun Van Lith yang dihadiri oleh Uskup Agung Semarang dan dilakukan oleh 329 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang. Acara dilakukan di tiga panggung terbuka di halaman Museum Misi Muntilan.
“Empat penari lainnya, masing-masing Siti Nurkhasanah, Siti Rifaatul Mahmudah, Mudrikah Zaini, dan Ita Purnamasari, memainkan performa tari mengelilingi kolam penuh enceng gondok dan di tengahnya tegak berdiri patung Romo Van Lith,” demikian antara lain berita yang ditampilkan.

Selanjutnya ditulis dalam berita tersebut: “Kiprah Romo Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith yang lahir di Belanda pada 17 Mei 1863, dikatakan oleh Koordinator Umum Panitia Peringatan 150 Tahun Van Lith Romo G. Budi Subanar, dikaitkan dengan pendidikan untuk pribumi dengan model asrama dan pembangunan gereja Katolik yang membumi di Indonesia, khususnya Jawa. Van Lith yang seorang pastor ordo Serikat Yesus itu, datang ke Jawa pada 1896, belajar budaya dan adat istiadat Jawa, menjalankan misi Katolik di Hindia Belanda hingga meninggal dunia di Semarang pada 9 Januari 1926, serta kemudian dimakamkan di Kerkof Muntilan, dekat kompleks SMA Van Lith yang dirintisnya sejak 1904.”
Demikian petikan berita dari situs www.antarajateng.com tentang peringatan 150 tahun tokoh misi Katolik Frans Van Lith. Bagi kaum Katolik, sosok Van Lith dipandang sebagai tokoh monumental dalam penyebaran misi Katolik di Tanah Jawa.  Ia memulai misi dengan mendirikan pendidikan guru di Muntilan, Jawa Tengah.  Sekolah Van Lith itu kini masih berlanjut dalam bentuk  SMA Pangudi Luhur Van Lith.
Dalam situsnya, (http://vanlith-mtl.sch.id/profil/visi-misi-tujuan-sma-vanlith.3.html), disebutkan tentang “visi, misi, dan tujuan SMA Van Lith, yaitu:
“Visi SMA Pangudi Luhur Van Lith adalah semangat Kerajaan Allah yang berintikan keselamatan bagi semua orang "terutama yang menderita dan terlupakan", yang diharapkan menjadi kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”
Untuk mengabadikan dan menanamkan semangat misi Katolik Van Lith, diciptakanlah sebuah Mars SMA Pangudi Luhur Van Lith  berikut ini:

“Nyalakan, nyalakan
Kobarkan, kobarkan
Api Van Lith di dadamu. Bawalah, bawalah,
sebarkan sebarkan. Di sluruh tanah airmu.
Jadilah perintis, jadilah pelopor,
Dimasa pembangunan.
Kobarkan APIMU,
Sukseskan tugasmu, revolusi penebusan.
Bernyala, berkobar, semangat APIMU
di dada putra-putrimu,
Serentak, serentak, kujunjung,
kusebar untuk Nusa dan Bangsaku.
Kuterjang perintang, kudobrak penghalang,
demi PANJIMU menang.
Putra dan Putrimu setia berjuang,
Apimu menyala terang.”
*****
Jika kaum Katolik mengagung-agungkan sosok Frans van Lith, maka tidak demikian halnya bagi kaum Muslim  di Indonesia. Kehadiran van Lith dianggap sebagai "musibah dalam bidang akidah Islam", karena Van Lith berhasil melakukan kristenisasi dengan cara-cara budaya dan pendidikan. Banyak korban dari kalangan Muslim yang berhasil dimurtadkan oleh gerakan Van Lith.
Arif Wibowo, direktur Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo pernah menulis artikel berjudul “Profil Soegija, Cucu Kyai Korban Kristenisasi”.  Soegijapranata adalah uskup pribumi pertama di Indonesia, seorang cucu kyai di Yogya, yang akhirnya jadi korban pemurtadan oleh Van Lith.
Berikut ini petikan artikel yang ditulis oleh Arif Wibowo,  yang juga alumnus Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta:
“Pembukaan sekolah-sekolah rakyat oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka politik asosioasi dan memperoleh tenaga administrasi murah dari kalangan pribumi, dengan dalih pencerdasan, menyebabkan tingginya permintaan tenaga pengajar pada saat itu. Peluang ini ditangkap Fransiscus Georgius Josephus van Lith, seorang Jesuit senior yang berkarya di Jawa Tengah. Dalam pandangan Van Lith, posisi strategis guru adalah masa depan bagi perkembangan umat Katolik di Jawa. Usaha misi diantara bangsa Jawa mulai dengan metode yang salah: mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung pada pendidikan pemimpin dan guru.(G. Budi Subanar, SJ, Soegija Si Anak Betlehem van Java, Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hal. 50).
Van Lith kemudian mendirikan Kolese Xaverius, yang merupakan sekolah untuk para calon guru. Kesempatan untuk menjadi guru yang dalam pandangan orang Jawa masuk ke dalam kasta priyayi, merupakan magnet tersendiri bagi kolese Xaverius. Salah seorang alumni Muntilan angkatan 1915, Michael Slamet memaparkan :
“Untuk itu, Muntilan telah menjadi ”medan magnet” yang mampu menarik banyak orang dari berbagai daerah di Jawa, bahkan juga di luar Jawa untuk belajar di sana. Bagi siswa dan alumni Muntilan, Kolese Xaverius dapat dianggap sebagai ”dewa penolong” bagi suatu mobilitas sosial yang dicita-citakan. Dalam pemahaman demikian, mereka akan dengan mudah menyinergikan diri pada kegiatan para misionaris untuk tujuan-tujuan yang lebih mulia. ”Harta” didapat, ”sorga” diperoleh. ( Anton Haryono, 2009, Awal Mulanya adalah Muntilan, Misi Yesuit di Yogyakarta 1814 – 1940, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 84).
Godaan untuk menjadi priyayi inilah yang akhirnya mengantarkan Sogijapranata kecil untuk memutuskan memilih Kolese Xaverius menjadi tempat bagi pendidikan dan pengembangan dirinya.  (G. Budi Subanar, SJ, 2003, Idem, hal. 24-25). Soegija akhirnya memeluk Katolik.  Kareel Steenbrink menyebutkan, bahwa anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik.(Kareel Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia, Sebuah Pemulihan Bersahaja 1808 – 1903, (Maumere : Penerbit Ledalero, 2006) hlm 384.).
*****
Begitulah catatan Arif Wibowo tentang sepenggal kiprah Van Lith dalam pengkristenan orang Jawa. Sebuah situs (http://tidarheritage.org), memuat perjalanan misi Van Lith yang disebutnya ‘Misi Jawa’ Romo Van Lith. Sebab, Van Lith menjalankan misinya untuk ‘menaklukkan hati orang Jawa’ dengan menggunakan jalan kebudayaan. “Ini mengingatkan pada pendekatan para wali (songo) ketika mereka menjalankan misi penyebaran agama Islam.
Mungkin Van Lith juga belajar dari para wali itu, bahwa orang Jawa tidak mudah menerima suatu  ajaran atau budaya baru dengan begitu saja, apalagi dengan cara-cara pemaksaan.”
Kebudayaan Jawa lebih mudah ‘menyerap’ budaya baru itu, menjadi ‘Jawa baru’ atau
hibriditasi. Seperti halnya ‘Islam Jawa’, dalam praktek-praktek ritualnya agama Katholik di
Jawa juga akrab dengan idiom budaya Jawa seperti penggunaan bahasa, gamelan atau
tembang-tembang Jawa, serta yang paling kontemporer adalah wayang ukur (wayang
kulit dengan cerita Yesus).
Contoh kisah yang dipandang sebagai bentuk sukses misi Van Lith dalam mengkatolikkan orang Jawa terjadi tahun 1904, ketika Van Lith mempermandikan sekitar 173 orang dari Desa Kalibawang, Kulon Progo. Mereka serentak dibaptis di sebuah sendang, yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Sendang Sono. “Pertobatan dalam jumlah yang tidak kecil itu mempunyai arti penting bagi saya dan juga bagi misi Jawa ... Saya sudah memberi pelajaran di banyak desa ... tanpa ada hasilnya. Justru daerah yang belum pernah kudatangi menyatakan kesediaannya untuk menjadi Katolik. Apakah itu bukan tangan Tuhan yang bekerja?” tulis van Lith, seperti dikutip oleh situs tersebut.
Jadi, itulah misi utama Frans Van Lith: Menjalankan misi Katolik di Tanah Jawa. Jika ditelaah, kedatangan van Lith ke Indonesia sebenarnya bertepatan dengan era kebijakan pemerintah kolonial yang semakin kuat dalam menyokong misi Kristen di Indonesia. Pada 1888, Menteri Urusan Kolonial, Keuchenis, menyatakan dukungannya terhadap semua organisasi misionaris dan menyerukan agar mereka menggalang kerjasama dengan pemerintah Belanda untuk memperluas pengaruh Kristen dan membatasi pengaruh Islam. J.T. Cremer, Menteri untuk Urusan Kolonial lain, dengan semangat yang sama, juga menganjurkan agar kegiatan-kegiatan misionaris dibantu, karena hal itu -- dalam pandangannya -- akan melahirkan "peradaban, kesejahteraan, keamanan, dan keteraturan. (Lihat, Alwi Shihab, Membendung Arus, 1998, hal. 147.
Dalam sebuah pidato resminya, Ratu Belanda antara lain menegaskan, "Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang Kristen pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral  terhadap penduduk di daerah-daerah itu."
Pada 1901, Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen, ditunjuk sebagai Perdana Menteri, menyusul kekalahan Partai Liberal oleh koalisi partai-partai kanan dan agama. Alexander Idenburg, yang di masa mudanya pernah bercita-cita sebagai misionaris, mengambil alih kantor pemerintah kolonial. Kebijakan selama 50 tahun yang kurang lebih bersifat "netral agama" diubah menjadi kebijakan yang secara terang-terangan mendukung misi Kristen.
Berbagai subsidi terhadap sekolah Kristen dan lembaga misi yang semua ditolakkarena dikhawatirkan memancing reaksi keras kaum Muslim, mulai diberikan secara besar-besaran.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa netralitas dalam agama adalah ilusi belaka. Idenburg yang menjabat Gubernur Jenderal dari 1906-1916, terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kegiatan misi di Indonesia. Dalam salah satu laporannya kepada pemerintah pusat, ia mengatakan, "Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman."
Bagi pemerintah kolonial, ancaman dari mereka yang sudah masuk Kristen akan lebih kecil dibandingkan dari kaum Muslim, karena kaum Kristen lebih dapat diajak kerjasama. Tujuan pemerintah kolonial dan misionaris dapat dikerjasamakan. Di satu pihak, pemeritah kolonial memandang koloni mereka sebagai tempat mengeruk keuntungan finansial. Di sisi lain, misionaris memandang koloni mereka sebagai tempat yang diberikan Tuhan untuk memperluas "Kerajaan Tuhan". (Alwi Shihab, Membandung Arus, hal.37-42; Delier Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, 1990, hal.184-188).

Sikap Islam
Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja misionaris ke Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit "ditembus" misi Kristen.  Faktor Islam dituding sebagai penyebab kesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia. Hendrik Kraemer, seorang misionaris yang ditugaskan Masyarakat Bibel Belanda (Dutch Bible Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum Muslim, melalui ungkapannya:
"Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) yang menjadi teka-teki dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama  di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya." (Alwi Shihab, Membendung Arus, hal. 38).
Dalam perspektif inilah, kita bisa memahami, mengapa kaum Katolik sangat mengagungkan tokoh misionaris seperti Van Lith. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu menjebol pertahanan orang Jawa yang sebelumnya telah menyatu dengan budaya Islam. Bagi umat Islam, pemurtadan dipandang sebagai usaha serius sebagai bentuk penyerangan aqidah Islam. Orang yang keluar dari Islam disebut murtad dari agama Allah. Amalnya sia-sia. Amal-amal orang kafir laksana fatamorgana. (QS 24:39).
Kaum Muslim memahami, upaya-upaya penyesatan atau pemurtadan terhadap kaum Muslim bukanlah hal aneh. Disebutkan dalam al-Quran, yang artinya: "Dan mereka akan selalu memerangi kamu, sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika mereka sanggup." (QS Al Baqarah:217).
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannam orang-orang kafir itu akan dikumpulkan." (QS Al Anfal:36).
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Prof. Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar Juzu’ IX):
"Perhatikanlah betapa di zaman sekarang, orang-orang menghambur-hamburkan uang berjuta-juta dolar tiap tahun, bahkan tiap bulan, untuk menghalang-halangi jalan Allah yang telah dipegang teguh oleh kaum Muslimin. Perhatikanlah betapa zending dan misi Kristen dari negara-negara Barat memberi belanja penyebaran agama Kristen ke tanah-tanah dan negeri-negeri Islam. Diantara penyebaran Kristen dan penjajahan Barat terdapat kerjasama yang erat guna melemahkan keyakinan umat Islam kepada agamanya. Sehingga ada yang berkata bahwa, meskipun orang Islam itu tidak langsung menukar agamanya, sekurang-kurangnya bila mereka tidak mengenal agamanya lagi, sudahlah suatu keuntungan besar bagi mereka. Jika bapa-bapanya dan ibu-ibunya masih saja berkuat memegang iman kepada Allah dan Rasul, moga-moga dengan sistem pendidikan secara baru, jalan fikiran si anak hendaknya berubah sama sekali dengan jalan fikiran kedua orang tuanya. Demikian juga propaganda anti-agama, mencemohkan agama, dan menghapuskan kepercayaan sama sekali kepada adanya Allah, itu pun dikerjakan pula oleh orang kafir dengan mengeluarkan belanja yang besar. Yang menjadi sasaran tiada lain dari pada negeri-negeri Islam. Disamping itu ada lagi usaha merusakkan moral pemuda di negeri-negeri Islam, dengan menyebarluaskan majalah-majalah, buku-buku yang menimbulkan rangsangan nafsu dan syahwat, gambar-gambar porno, film-film cabul perusak jiwa pemuda yang baru bangkit pancaroba. Sasarannya tidak lain melainkan pemuda-pemuda di negeri Islam juga." Wallahu a’lam bish-shawab.*/Solo, 2 Juni 2013

Labels:

Wednesday, June 12, 2013

Penyebab Munculnya Perbedaan Mahzab dalam Islam

Barangkali ada yang bertanya, kata Profesor Doktor Muhammad Abu Zahrah, mantan guru besar dan rektor Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, mengapa setelah Nabi Muhammad Saw wafat kamu Muslimin berbeda pendapat, padahal beliau telah mewariskan kepada mereka jalan yang sangat terang yang malamnya bagaikan siang?.

Bukankah Rasulullah Saw telah mewariskan kepada mereka pedoman yang jika mereka ikuti, mereka pasti tidak akan sesat, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Mengapa?.

Dalam bukunya, Tarikh Al Madzahib Al Islamiyah, Syeikh Muhammad Abu Zahrah sebelumnya menjelaskan secara umum tentang perbedaan pendapat umat Islam dalam berbagai persoalan. Menurutnya perbedaan yang tercela adalah jika menyangkut persoalan akidah . Sementara jika menyangkut persoalan fikh tidaklah mengapa, sebab itu hanya perbedaan pandangan. Dalam sejarah panjangnya, umat Islam juga tidak pernah berselisih dalam hal-hal pokok agama ini.

Perbedaan dalam bidang politik dan pemerintahan, kata Syeikh Muhammad Abu Zahrah, merupakan perbedaan yang menghilangkan persatuan. Ada delapan sebab mengapa kaum Muslimin akhirnya mengalami perbedaan dalam persoalan ini.

Pertama, fanatisme (ashabiyyah) Arab


Fanatisme Arab merupakan salah satu sebab, bahkan sebab terpenting, lahirnya perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan umat.

Padahal Islam telah menyatakan perang terhadap fanatisme di dalam beberapa nash Al Qur’an maupun Hadits. Misalnya dalam firman Allah:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat : 13)

Sabda Nabi berikut:

“Bukanlah dari golongan kami orang yang menyerukan untuk bersikap fanatik”

“Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keistimewaan bagi bangsa Arab terhadap bangsa yang lain kecuali dari segi ketakwaan.”

Pada masa Nabi, rasa fanatisme itu teredam dengan penjelasan-penjelasan di atas. Hal itu berlanjut sampai masa pemerintahan Khalifah Utsman ibn ‘Affan. Baru pada akhir masa pemerintahannya kekuatan fanatisme ini mulai bangkit kembali, dimulai dengan timbulnya pertentangan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Sesudah itu, muncul pertentangan antara golongan Khawarij dan golongan yang lain. Pertentangan antara kedua golongan ini merupakan pertentangan lama yang pernah terjadi di masa jahiliyah antara kabilah-kabilah Rabi’ dan kabilah-kabilah Mudhar. Pertentangan ini dapat diredam untuk sementara ketika agama Islam datang sampai akhirnya muncul kembali karena disulut oleh tersebarnya mazhab Khawarij di kalangan kabilah Rabi’.

Kedua, adanya perebutan kekhalifahan


Sebab pokok yang menimbulkan pertentangan di bidang politik ialah perbedaan pendapat tentang masalah siapa yang paling berhak menggantikan Nabi dalam memimpin umatnya. Masalah ini timbul langsung setelah Nabi wafat. Kelompok Anshar mengatakan, “Kamilah yang menyambut dan membantu Nabi. Maka kamilah yang paling berhak menjadi khalifah.” Golongan Muhajirin mengatakan pula, “Kami lebih dahulu dalam hal itu. Maka kamilah yang paling berhak.” Kekuatan iman golongan Anshar dapat meredakan pertentangan itu tanpa ada insiden apapun. Namun, setelah peristiwa itu, perbedaan pendapat mengenai persoalan kekhalifahan semakin tajam. Inti persoalan itu ialah siapa yang paling berhak memangku kedudukan itu: apakah dia berasal dari kabilah Quraisy secara keseluruhan, ataukah hanya dari keturunan tertentu saja, dan ataukah setiap orang Islam tanpa membeda-bedakan golongan dan keturunan karena semuanya sama di sisi Allah sebagaimana digariskan di dalam firman-Nya:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat, 49 : 13)

Sabda Nabi:

“Tidak ada keistimewaan bangsa Arab terhadap bangsa lain kecuali dari sisi ketakwaannya.”

Dalam menjawab persoalan itu kaum Muslimin terpecah menjadi kelompok Khawarij, Syi’ah, dan lain-lain.

Ketiga, pergaulan kaum Muslimin dengan penganut berbagai agama terdahulu dan masuknya sebagian mereka ke dalam Islam

Penganut berbagai agama terdahulu, yaitu Yahudi, Nashrani, dan Majusi banyak yang memeluk agama Islam. Dalam benak mereka masih tersisa pemikiran-pemikiran keagamaan yang mereka anut sebelumnya dan itu menguasai perasaan mereka. Karenanya, mereka berpikir tentang hakikat-hakikat ajaran Islam dalam perspektif keyakinan lama. Mereka memunculkan di tengah-tengah kaum Muslimin permasalahan keagamaan yang muncul dalam agama mereka, seperti masalah keterpaksaan dan kebebasan berkehendak (al-jabr wa al-ikhtiyar), serta sifat-sifat Allah: apakah sifat-sifat itu sesuatu yang lain dari dzat-Nya, ataukah sifat-sifat dan dzat itu sama.

Perlu ditegaskan bahwa sebagian mereka memeluk Islam dengan niat yang ikhlas, tetapi dalam benak mereka masih tersimpan sisa-sisa pemikiran keagamaan sebelumnya. Sebagian lagi memeluk agama Islam hanya lahirnya saja, tetapi batinnya menyimpan sesuatu yang lain. Masuknya kelompok ini dalam Islam hanya menciptakan kekacauan pada ajaran agama dan mengembangkan pemikiran keagamaan yang sesat. Karena itu, di kalangan kaum Muslimin ditemukan orang-orang yang menyebarkan berbagai maksud jahat, sebagaimana yang dilakukan orang-orang zindiq dan lainnya dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.

Berkaitan dengan hal ini, Ibn Hazm menerangkan dalam kitabnya al-Fashl fi al-Milal wa al-Nihal sebagai berikut:

“Sebab pokok keluarnya mayoritas kelompok ini dari agama Islam ialah adanya anggapan orang-orang Persia bahwa mereka pemilik kerajaan yang paling luas dan penguasa semua bangsa. Mereka memandang mulia diri sendiri sehingga menamakan diri mereka sebagai orang-orang merdeka dan pribumi, sementara semua orang lain adalah hamba mereka. Ketika kekuasaan mereka diambil alih oleh orang-orang Arab, yang kekuatannya tidak pernah mereka perhitungkan sama sekali, mereka merasa sangat terpukul, sehingga selalu berusaha untuk memerangi Islam. Akan tetapi, dalam setiap usaha itu Allah selalu memenangkan yang haq. Karenanya, sebagian mereka berpura-pura memeluk Islam dan Ahl al-Tasyayyu’ (Partai ‘Ali) berpura-pura mencintai Ahlulbait serta mencaci maki para penganiaya ‘Ali, kemudian menghukumi mereka sebagai orang kafir.”

Sekalipun memusatkan perhatian pada contoh Partai ‘Ali yang menyimpang seperti Saba’iyyah, yaitu pengikut ‘Abdullah ibn Saba’, uraian di atas berlaku pula pada beberapa kelompok yang lain. Dalam setiap kelompok selalu ada orang-orang seperti mereka, seperti Ibn al-Rawandi dalam kelompok Mu’tazilah. Demikian pula dalam kelompok Musyabbihah dan Mujassimah.

Keempat, penerjemahan buku-buku filsafat


Pengaruh penerjemahan buku-buku filsafat terhadap perbedaan pendapat dalam Islam tampak sangat jelas. Nuansa pemikiran Islam banyak dipengaruhi oleh pertentangan antar mahzab filsafat kuno tentang alam, materi dan metafisika. Di kalangan ulama Islam ada yang mengikuti mazhab dan metode para filosof kuno. Pada masa Daulah ‘Abbasiyyah muncul kaum skeptis yang meragukan segala sesuatu dengan metode kaum sofistik yang terdapat di Yunani dan Romawi.

Dari mazhab-mazhab filsafat di atas lahir bermacam-macam pemikiran yang mempengaruhi pemikiran keagamaan dan muncul beberapa pemikir yang melahirkan pemikiran filosofis di bidang aqidah Islam. Dalam mazhab Mu’tazilah, umpamanya, terdapat para ulama yang menggunakan metode filosofis dalam menetapkan ‘aqidah Islam. Demikian pula ilmu kalam mazhab Mu’tazilah dan ilmu kalam mazhab penentangnya, Ahlusunnah, merupakan kumpulan silogisme, perbandingan filosofis dan kajian rasional murni.

Kelima, melakukan pembahasan masalah-masalah yang rumit

Tersebarnya pemikiran filosofis di kalangan umat Islam dalam menetapkan aqidah telah menyeret mereka kepada berbagai kajian yang berada di luar wilayah kemampuan akal manusia, seperti masalah menetapkan dan menegasikan sifat-sifat Tuhan serta daya (qudrah) manusia di samping daya Tuhan .Pembahasan dalam masalah-masalah ini membuka luas pintu perselisihan karena pandangan dan metode yang berbeda-beda. Setiap pihak mempunyai orientasinya masing-masing. Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama kalam tampaknya termasuk dalam kategori ini.

Keenam, munculnya pendongeng

Para pendongeng muncul pada masa pemerintahan Utsman. Ali membenci hingga mengusir mereka dari masjid, ketika mereka mulai menanamkan khurafat dan cerita-cerita bohong ke dalam pikiran masyarakat luas. Sebagian cerita itu berasal dari agama-agama terdahulu setelah lebih dahulu mengalami penyimpangan dan perubahan.

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah jumlah para pendongeng ini semakin banyak. Di antara mereka ada yang baik, tetapi sebagian besar tidak baik. Barangkali merekalah peyebab banyaknya kisah-kisah Israiliyat yang masuk ke dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah Islam. Berbagai bentuk cerita yang muncul pada masa itu merupakan pemikiran tidak matang yang disampaikan di berbagai majelis. Sudah tentu hal itu akan menimbulkan perbedaan pendapat, khususnya apabila si pendongeng itu fanatik kepada suatu mazhab, tokoh pemikir, atau kepada sultan tertentu, sementara pendongeng yang lain berbeda dengannya. Perbedaan itu kemudian tersiar ke tengah masyarakat luas dan menimbulkan hal-hal yang negatif. Keadaan ini berlangsung terus dalam berbagai masa kekuasaan Islam.

Ketujuh, adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Qur’an

Allah berfirman:

Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Q.S.’Ali Imran :7)

Dari ayat di atas diketahui adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Qur’an antara lain merupakan ujian dari Allah terhadap kekuatan iman orang yang beriman. Keberadaan ayat-ayat ini menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang makna yang sebenarnya.

Banyak ulama yang berusaha mencari ta’wil ayat-ayat itu dan mencapai hakikat makna-maknanya. Akibatnya, mereka berbeda pendapat mengenai ta’wil yang sebenarnya. Ada pula ulama yang sengaja menjauhi penta’wilan ayat-ayat tersebut dan menyerahkan makna yang sebenarnya kepada Allah sambil berdoa: Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi-Mu. (QS. Ali ‘Imran: 8)

Kedelapan, penggalian hukum Syar’i

Sumber asli dan utama dari Syariat Islam ialah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Nash-nash hukum terbatas, sementara persoalan-persoalan yang timbul tidak terbatas. Karenanya, untuk menetapkan hukum setiap persoalan yang baru timbul diperlukan penggalian hukum syar’i. Hal ini mengingat nash-nash hanya mencakup hukum-hukum yang universal, tidak memuat hukum-hukum yang parsial. Setiap penggali hukum syar’i menggunakan metode yang berbeda, sesuai dengan pikiran dan logikanya serta dengan hadits atau atsar sahabat yang diterima dan dipandang shahih oleh masing-masing.

Perlu diperhatikan bahwa perbedaan pendapat yang lahir dari penggalian hukum di atas tidaklah berbahaya, bahkan hasil dan efeknya merupakan sesuatu yang baik. Ini disebabkan kumpulan pendapat yang berbeda sehingga memungkinkan penggalian hukum menjadi kokoh, lurus metodenya dan mampu mengakomodasi perubahan zaman serta sejalan dengan fitrah kemanusiaan yang sehat.

Labels: ,

Saturday, May 25, 2013

Suripto, Legenda Intelijen Tiga Zaman


Intelijen asing tak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk mengobok-obok Indonesia. Meningkatnya suhu politik menjelang Pemilu 2009 pun ditingkahi operasi intelijen asing.

Partai politik telah menjadi target penyusupan, pecah belah, provokasi dan proganda hitam. Sinyalemen itu tentu bukan isapan jempol, apalagi dilontarkan oleh “tokoh intelijen tiga zaman”, Suripto.

Mantan Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1999-2001) ini dikenal kritis dan tajam dalam melakukan analisis intelijen. Tak heran jika analisisnya dijadikan rujukan dalam diskusi-diskusi formal maupun informal.

Pisau analisis yang tajam, tentunya tak lepas dari kepiawaian Suripto dalam menganalisa data dan informasi. Anggota Komisi I DPR RI ini rajin mengasah daya analisis dengan rajin membaca buku-buku terkait dunia intelijen.

Bagi Suripto, bagian terpenting dari produk intelijen adalah analisis. Menurut Suripto, intelijen sebagai knowledge, ilmu intelijen harus dipelajari semua pihak. Tanpa dibekali ilmu intelijen, analisis yang dibuat akan melenceng dari sasaran.

Banyak hal yang membedakan Suripto dengan praktisi intelijen lainnya. Selain memiliki bekal ilmu intelijen yang cukup, pengalaman hidup telah menyempurnakan Suripto sebagai insan intelijen yang disegani lawan ataupun kawan.

Putra pasangan R. Djoko Said-Siti Nursyiah Lubis ini dikenal berpenampilan sederhana. Kendati sang ayah pernah menjabat sebagai Bupati Cirebon, kehidupan Suripto jauh dari kemewahan.

Seperti dikisahkan dalam buku “Suripto-Menguak Tabir Perjuangan”, ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pajajaran, Suripto sempat bekerja sebagai sopir taksi 4848 jurusan Bandung-Jakarta.

Sifat sederhana itu sejalan dengan faham sosialis yang dianut pria yang terlahir pada 20 November 1936 ini ketika menjadi mahasiswa. Suripto tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), organisasi massa onderbouw Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Bandung.

Antikomunis

Tahun 1957-1964 menjadi periode perjuangan bagi Suripto untuk menghadang laju Nasakomisasi yang diusung Presiden Soekarno. Suripto harus bertarung dengan kelompok mahasiswa komunis yang tergabung dalam Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).

Kesungguhan Suripto membendung tekanan Partai Komunis Indonesia (PKI) menarik  perhatian petinggi Kodam VI Siliwangi, yang memang anti PKI. Walhasil, terjadilah sinergi antara mahasiswa anti PKI dengan Kodam VI Siliwangi.

Sejak saat itulah anak sulung dari empat bersaudara itu bersentuhan dengan dunia intelijen yang sesungguhnya. Bersama dengan sembilan aktivis mahasiswa dari Universitas Pajajaran dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Suripto mengikuti pendidikan dasar intelijen di Kodam VI Siliwangi di bawah Kharis Suhud.

Berbagai resiko pun harus siap dihadapi Suripto, termasuk hilangnya nyawa. Suripto bahkan sempat dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung, karena dituding terlibat dalam kerusuhan massa di Bandung pada 10 Mei 1963.

Kerusuhan rasial itu muncul sebagai reaksi atas pembukaan “Poros Jakarta-Peking” oleh Presiden Soekarno. Ketika itu, merebak aksi pembakaran mobil dan toko-toko milik warga keturunan Cina di seluruh wilayah Bandung.

Sikap anti PKI tidak pernah padam di benak Suripto. Pria yang hobi tinju ini melihat bahwa militer Indonesia ketika itu perlu diperkuat dengan pemikiran anti PKI. Tidak cukup sebatas pemikiran, Suripto mengikuti pendidikan militer sukarela (Milsuk), setelah meraih gelar sarjana hukum pada 1964.

Setahun kemudian, Suripto direkrut Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), sebagai anggota Tim Sarjana G (Gabungan) V Komando Mandala Siaga.

Di era Orde Baru, karier intelijen Suripto kian mencorong. Tak salah jika periode 1966-1967, pria kelahiran Bandung ini dipercaya menjadi staf G (Gabungan) 1 Komando Operasi Tertinggi (Koti) yang membidangi intelijen.

Setidaknya, sikap anti PKI Suripto tersalurkan ketika bergabung dengan TNI-AD, yang notabene menjadi target serangan PKI.

Karir keturunan Jawa-Batak ini di dunia intelijen terus menanjak. Periode 1967-1970, Suripto menjalankan tugas sebagai staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Lembaran Baru

Analisis Suripto terkait berbagai persoalan bangsa semakin tajam. Bersama dengan sejumlah tokoh akademis seperti Yuwono Sudarsono dan Fuad Hassan, Suripto menjadi tulang punggung Lembaga Studi Strategis (LSS). Lembaga di bawah Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) Dephankam.

Pemikiran Suripto cukup memberi warna analisis-analisis LSS. Sayangnya, kiprah Suripto di LSS terhenti setelah Suripto menyatakan mengundurkan diri dari LSS.

Pengunduran diri itu bukan tanpa alasan. Suripto mundur setelah sebelumnya Wakil Kepala Bakin Benny Moerdani meminta agar Suripto diinterogasi di Bakin setelah sebelumnya bertemu dengan Wakil Menlu Cina Han Nian Long di Cina pada 1981.

Saat itu Suripto mendapat tugas rahasia dari Menlu Mochtar Kusumaatmadja untuk menjajagi kemungkinan normalisasi hubungan Indonesia-Cina. Memang, banyak pihak menolak normalisasi Indonesia-Cina mengingat bahaya laten komunis.

Menarik untuk disimak, Suripto yang sebelumnya anti komunis bisa berubah menjadi akomodatif terhadap penganut komunis.

Menurut pengakuan Suripto, tahun 1980 telah menjadi lembaran baru dalam kehidupan Suripto. Pertengahan tahun 1980 seorang ustadz berhasil meluruskan jalan hidupnya, sehingga dia bisa menjadi Muslim yang santun.

Sejak saat itulah Suripto terlibat aktif dalam gerakan Tarbiyah yang kelak bertransformasi menjadi Partai Keadilan (Sejahtera) dan KAMMI yang berbasis di sejumlah perguruan tinggi terkemuka.

Secara kebetulan, sejak 1986-2000, Suripto menjabat sebagai Ketua Tim  Penanganan Masalah Khusus DIKTI/Depdikbud yang menangani masalah  kemahasiswaan.

Menantang Maut

Sejumlah tudingan dan tuntutan hukum memang menghadang idialisme Suripto. Bapak tujuh putra ini sampat dituding penguasa Orde Baru mendalangi peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974.

Ketika itu Ali Moertopo menuding bahwa jaringan PSI dan eks Masyumi turut meletuskan peristiwa yang menewaskan 13 orang, 300 luka-luka, 775 orang ditahan itu. Belakangan, banyak tokoh yang dibebaskan di pengadilan. Bahkan muncul sinyalemen, justru Ali Moertopo lah dalang peristiwa Malari.

Tuduhan paling menyakitkan bagi Suripto adalah dugaan penyelewengan dana bantuan kemanusiaan Bosnia dari Komite Solidaritas Muslim untuk Bosnia yang diketuai pengusaha Probosutedjo. Suripto dituduh telah mengganti bantuan makanan dan obat-obatan menjadi bantuan senjata.

Menurut pengakuan Suripto, dirinya masuk ke Bosnia pada November-Desember 1992 memang mengemban misi Komite Solidaritas Bosnia untuk memasok senjata kepada pejuang Muslim Bosnia.

Tudingan penyelewengan dana itu menyeruak ketika Suripto menjabat sebagai Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan sejak 1999. Probosutedjo mengangkat kembali isu penggelapan saat Probo diancam akan diseret ke pengadilan oleh Suripto dalam kasus dana reboisasi.

Faktanya, Suripto tidak mundur sejengkal pun. Suripto tetap mengejar konglomerat hutan  bermasalah, setidaknya terjaring 12 kasus. Bahkan The Asia Wallstreet Journal menulis Suripto sebagai satu-satunya orang yang berani memberantas KKN di bidang kehutanan.

Akibat bersinggungan dengan konflik kekuasaan, Suripto dipecat oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Maret 2001. Sementara jabatan Menteri Kehutanan dan Perkebunan yang dijabat Nurmahmudi Ismail diciutkan menjadi Menteri Muda Kehutanan.

Awalnya, Gus Dur meminta Nurmahmudi Ismail memecat Suripto. Gus Dur menyebut Suripto dan mantan Danjen Kopassus Muchdi PR merencanakan tindakan makar di Hotel Kempinski. Namun Nurmahmudi menolak, karena alasannya tidak jelas. Akibatnya Nur Mahmudi dilengserkan, diganti menteri baru, Marzuki Usman. Marzuki lah yang memberhentikan Suripto.

Suripto sempat ditahan Polda Metro Jaya terkait tuduhan dugaan korupsi dan mark up pembelian dua helikopter bekas tipe Bell 412 pada tanggal 14 Desember 2000. Sekitar tiga bulan  kemudian, salah  satu helikopter tersebut jatuh di Gunung Burangrang , Subang. Ironisnya, helikopter itu ditengarai digunakan Tommy Soeharto untuk melarikan diri.

Disebut-sebut, penahanan Suripto tidak hanya mark-up pembelian helikopter. Suripto dinilai terlalu sering melontarkan analisis yang bertentangan dengan polisi soal pelaku peledakan Bom Bali.

Pada awal Mei 2001, Suripto dan Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) dituduh membocorkan rahasia negara. Di antaranya, dokumen-dokumen rahasia militer dan peta udara.

Disebut-sebut, sejumlah anak buah Suripto tertangkap tangan mengumpulkan info rahasia sambil membawa senjata. Lesperssi ditengarai banyak berhubungan dengan agen rahasia asing

Tak hanya itu, sebelumnya Suripto dituduh terlibat dalam peledakan bom di Parkir Timur Senayan, saat berlangsung acara Istigotsah Nahdlatul Ulama, 29 April 2001. Tuduhan lain, Suripto juga mendalangi kerusuhan Sampit, seperti dituduhkan Gus Dur. Berikut kutipan wawancaranya dengan INTELIJEN pada akhir Maret 2009 di Jakarta.

Paradigma Intelijen RI Harus Dirubah
Pada awalnya Anda adalah pengusung pemikiran sosialis Syahrir, mengapa tiba-tiba berputar haluan terlibat dalam gerakan Tarbiyah?

Saya menapaki lembaran baru, dari sosialis menjadi idialis agamis, sejak bertemu dengan Ustad Hilmy Aminuddin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera). Ustad Hilmy yang mengubah pandangan hidup saya.

Saya bertemu Ustad Hilmy pada 1984, di dalam satu pengajian di rumahnya almarhum Hartono Marjono. Sejak saat itulah saya mendalami Tarbiyah bersama Ustad Hilmy.

Hilmy Aminudin dikenal sebagai anak biologis sekaligus idiologis Danu Mohammad Hassan, panglima NII. Sejauh ini apa keterkaitan pemikiran Danu dengan konsep yang Anda kembangkan bersama Hilmy Aminuddin?

Saya tidak sampai mendalami sampai sejauh itu. Saya juga tidak pernah menanyakan soal itu ke Ustad Hilmy. Yang pasti Hilmy adalah seorang ustad yang banyak merubah hidup saya. Saya kurang mengerti latar belakang beliau.

Ada sinyalemen, Anda mengembangkan skenario, seperti yang dijalankan Ali Moertopo dalam Operasi Khusus (Opsus). Yakni, membentuk gerakan Tarbiyah untuk menyeragamkan sekaligus  meredam gerakan Islam radikal yang membahayakan penguasa?

Saya tidak tahu kalau sampai sejauh itu. Saya tidak pernah di Opsus. Apa yang saya sampaikan ini tidak ada yang saya sembunyikan. Saya mendapat pelajaran intelijen atau dididik intelijen pada saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pajajaran. Saya dididik oleh Asisten 1 Kodam Siliwangi, Kharis Suhud.

Ketika itu ada sepuluh mahasiswa dibina untuk menghadapi atau mengawasi gerakan Partai Komunikas Indonesia di dalam kampus. Dalam aktivitas itulah saya mendapat pengalaman politik dan intelijen. Setelah itu saya masuk dalam Milsuk (militer sukarela) dalam rangka konsolidasi dengan Malaysia. Kami direkrut dalam Komando Siaga Mandala 1965.

Ketika pecah G30S PKI saya diminta untuk memberikan pemikiran-pemikiran kepada Asisten 1 Kostrad, Yoga Sugama. Setelah Yoga diangkat sebagai Wakil Kepala KOTI, saya menjadi stafnya. Demikian juga ketika Yoga diangkat sebagai Kepala BAKIN, saya menjadi tenaga ahlinya.

Karir Anda di pemerintahan cukup fenomenal. Salah satunya saat menjabat Sekjen Dephutbun, Anda direstui sekaligus dicopot oleh Gus Dur yang saat itu menjadi presiden. Anda melihat adanya konflik kepentingan, mengingat sejak awal pengangkatan Anda ditentang banyak  pihak?


Sampai saat ini saya tidak tahu apa sebenarnya alasan Gus Dur ngotot mencopot saya. Yang pasti, saya memang terus menyuarakan adanya korupsi di lingkungan Dephutbun. Banyak yang merasa terganggu dengan aktivitas saya. Saya hanya melaporkan apa adanya, bahwa banyak pengusaha yang terbukti melakukan tindakan ilegal.

Saya dicopot oleh Gus Dur mungkin karena adanya informasi yang menyesatkan. Bahkan saya sempat dituduh melarikan Tommy (Hutomo Mandala Putra) dengan helikopter. Saya juga dituduh terlibat dalam rencana kudeta. Aktivitas saya dituding didanai oleh militer. Tentu saja saya tidak terima dituduh seperti itu, sehingga Gus Dur saya gugat.
Meskipun Gus Dur presiden, saya sebagai warga negara tentunya boleh menggugat Gus Dur.

Ada kesan Nurmahmudi Ismail (Menhutbun) membela Anda karena alasan politis, di mana Anda satu barisan dengan Nurmahmudi?

Untuk mencopot saya, presiden harus melalui menteri terlebih dahulu (Nurmahmudi). Hanya saja karena menteri tidak menemukan bukti itu. Memang sempat terjadi tarik menarik.

Anda sering dituduh terlibat korupsi, salah satunya penyelewengan dana bantuan  dari Komite Solidaritas Muslim Bosnia?
Bisa konfirmasikan kepada Sri Edi Swasono. Ketika itu perintah Probosutedjo sebagai ketua Komite Solidaritas Bosnia ke saya seperti apa. Semua pihak harus mengetahui persoalan ini. Ketika itu kami datang ke Bosnia dan kami petakan apa sebenarnya yang dibutuhkan.

Pihak Muslim Bosnia menyatakan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Hanya saja meskipun bantuan makanan, obat-obatan dan pakaian cukup, menjadi tidak berarti karena tetap saja muslim Bosnia disembelih tanpa perlawanan karena tidak memiliki senjata. Terus terang mereka meminta bantuan senjata.

Ketika itu saya sampaikan permintaan itu ke petinggi komite, termasuk Sri Edi Swasono. Satu saksi yang sudah meninggal yakni Lukman Harun. Dari situ perintahnya cukup jelas.

Jadi jika ada tuduhan merubah bentuk bantuan atau memanipulasi, bisa ditanyakan kepada saksi hidup. Ada satu saksi lagi, Adi Sasono. Saya ketemu Adi Sasono di Kroasia ketika itu, dalam rangka delivery senjata tersebut. Saya juga mengajak Adi Sasono masuk ke Bosnia.

Dua saksi itu cukup karena keduanya dalam posisi yang berbeda. Keduanya “berseteru” terkait Dewan Koperasi. Jadi, jika dua sumber yang “bertentangan” bersaksi sudah cukup  sebenarnya.

Presiden Soeharto bilang tidak mengetahui langkah yang Anda ambil terkait bantuan senjata?

Mungkin saja Soeharto tidak tahu. Dalam dunia intelijen, seorang agen dimungkinkan untuk memungkiri apa saja kalo memang ada covernya. Presiden mungkin saja tidak tahu, atau tahu tetapi pura pura tidak tahu. Kuncinya ada di Probosutejo, disampaikan atau tidak informasi itu ke Soeharto.

Justru Probosutejo membidik Anda dengan kasus itu?
Jangan tanya saya, yang jelas Probosutedjo yang memerintahakan kepada saya.

Selain terlibat dalam kerusuhan rasial di Bandung, Anda juga dituduh mendalangi Peristiwa Malari?

Malari dimulai dari adanya sekelompok mahasiswa yang melihat ada kecenderungan dominasi asing di sektor usaha. Untuk itu modal asing harus ditentang. Berbarengan dengan hal itu ada semacam gesekan, antara kelompok Ali Murtopo dan kelompok militer, sehingga timbul ketegangan.

Ada satu kelompok mahasiswa yang meminta pendapat saya. Mereka tidak setuju backing-backingan militer. Beberapa kali saya berdiskusi dengan mereka. Akhirnya digelarlah demo-demo di Jakarta.

Sebenarnya dengan hal-hal tersebut sudah cukup bukti untuk menyeret Anda sebagai provokator aksi?
Buktinya saya tidak pernah diperiksa. Memang saya dengar nama saya sudah masuk dalam target. Tetapi ada bantuan dari teman-teman saja di intelijen sehingga nama saya tidak masuk.

Anda  adalah sosok aktivis yang bisa dibilang jarang berurusan dengan penjara, tidak seperti aktivis lainnya. Itu karena kedekatan Anda dengan kalangan intelijen?

Saya pernah dihukum dua tahun, waktu hura-hara di Bandung. Jujur saya akui memang ada yang membantu saya, khususnya dalam peristiwa Malari.

Anda dikenal cukup tajam dalam membuat analisa intelijen. Sebenarnya apa saja yang dibutuhkan dalam menciptakan produk intelijen yang usefull?
Dari difinisi, Intelijen itu bisa dipandang sebagai ilmu pengetahuan, sebagai aktivitas dan intelijen sebagai organisasi. Intelijen sebagai knowledge, ilmu intelijen harus dipelajari. Misalnya, seorang aktivis, dia harus rajin mengakses informasi, salah satunya rajin membaca buku. Jika tidak, dia akan kurang pengetahuan. Saya disebut sebagai pengamat intelijen karena saya rajin membaca buku-buku terkait intelijen.

Intelijen saat ini yang terpenting adalah analisis. Saat ini banyak perwira intelijen yang tidak dibekali ilmu intelijen sehingga analisis yang dibuat kurang sasaran.

Perkembangan intelijen Indonesia saat ini ketika harus berhadapan dengan operasi intelijen asing?

Paradigma intelijen di Indonesia harus dirobah. Saat ini paradigma masih ekstrim kanan ekstrim kiri. Jika intelijen masih mengacu pada pemikiran ekstrim kanan ekstrim kiri, maka cara menganalisa dan cara mengamankan ancaman terhadap negara itu menjadi usang.

Pasca perang dingin, ada masalah-masalah yang bisa mengancam integrasi negara. Semuanya harus dimulai dari self perseption. Masalah pertama yang terkait dengan self perseption adalah masalah kerusakan lingkungan hidup, transnational crime, pangan, dan separatisme. Transnational crime meliputi ilegal logging, money loundring, cybercrime.

Karena saat ini dunia ini tidak ada batas teritorial, tenaga dan organisasi harus menyesuaikan dengan ancaman-ancaman tersebut. Tujuannya, agar supaya tenaga profesional itu siap diterjunkan. Tenaga-tenaga profesional harus disesuaikan dengan badan-badan intelijen yang ada.

Source : intelijen.co.id

Labels: