Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Monday, March 30, 2015

Mengenal Konstruksi SIM CARD

Sebuah kartu pintar, kartu chip, atau kartu IC, adalah kartu berukuran saku dengan tertanam sirkuit terpadu. Seperti yang dijelaskan dalam standar ISO7816, digunakan dalam telepon selular, TV kabel, kartu ATM, dll

Ada dua kategori besar ICCs. Kartu memori mengandung komponen penyimpanan memori non-volatile, dan mungkin logika keamanan. Kartu mikroprosesor mengandung memori volatile dan
komponen mikroprosesor . Sebuah kartu pintar, kartu chip, atau kartu sirkuit terpadu (ICC) adalah kartu berukuran saku dengan tertanam sirkuit terpadu.

Smart card dapat memberikan identifikasi, otentikasi, penyimpanan data, otentikasi keamanan yang kuat untuk single sign-on (SSO) dan pengolahan aplikasi.

Fisik, listrik dan lainnya karakteristik Smart card dijelaskan oleh ISO / IEC 7810 dan ISO / IEC 7816 seri standar.

Smart Card (SIM Card) pinout


Pin Name Description
C1 VCC +5 VDC power supply input (optional use by the card)
C2 RESET Reset signal, used to reset the card's communications. Either used itself (reset signal supplied from the interface device) or in combination with an interal reset control circuit (optional use by the card). If internal reset is implemented, the voltage supply on Vcc is mandatory
C3 CLOCK Provides the card with a clock signal, from which data communications timing is derived
C4 RESERVED AUX1, optionally used for USB interfaces and other uses.
C5 GND Ground (reference voltage)
C6 Vpp Programing voltage input (optional). This contact may be used to supply the voltage required to program or to erase the internal non-volatile memory. ISO/IEC 7816-3:1997 designated this as a programming voltage: an input for a higher voltage to program persistent memory (e.g., EEPROM). ISO/IEC 7816-3:2006 designates it SPU, for either standard or proprietary use, as input and/or output.
C7 I/O Input or Output for serial data (half-duplex) to the integrated circuit inside the card. 
C8 RESERVED AUX2, optionally used for USB interfaces and other uses.

Labels:

Saturday, May 17, 2014

Dilantik Jadi Ketua Lesbumi, Ahmad Dhani Dipanggil Ustadz


Ahmad Dhani resmi diangkat sebagai salah satu ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU). Setelah dilantik, Dhani bertekad akan berusaha keras melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya.

"Islam di Indonesia ini mengikuti NU. Kalau NU-nya bagus, Islam di Indonesia akan bagus. Saya akan berusaha amanah, melaksanakan apa yang ditugaskan ke saya dengan sebaik-baiknya," kata Dhani di Gedung PBNU, Jakarta.

Saat pelantikan pentolan band Dewa 19 itu. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebut Dhani dengan sebutan ustadz. Pelantikan Ahmad Dhani sebagai bagian dari kepengurusan di PBNU bersamaan dengan tasyakur hari lahir NU ke 91 tahun yang dilaksanakan malam ini.

"Bismillahirrohmannirrahim, saudara ustadz Ahmad Dhani resmi saya lantik menjadi salah satu Ketua Lesbumi NU," kata KH Said Aqil Siroj, sambil menyematkan pin NU di kemeja Dhani.

Dalam sambutannya, Said meminta bos Republik Cinta Manajemen (RCM) itu bisa mengembalikan kejayaan NU melalui jalur seni. Apalagi, banyak juga pekerja seni yang dulu aktif di NU.

"Dulu NU memiliki seniman-seniman handal. Ada Asrul Sani, Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan masih banyak lagi. Nah, Mas Dhani ini seniman yang hebat, semoga keikutsertaannya dalam NU bisa mengembalikan kejayaan NU di bidang seni,” urai Said.

Labels: ,

Wednesday, February 5, 2014

Dalam Realitas Demokrasi, Presiden Haruslah Se-Agama dengan Mayoritas Rakyatnya


Jakarta - Mantan Presiden Baharudin Jusuf Habibie menegaskan, dalam memilih calon presiden RI harus mempertimbangankan dimensi suku dan agama serta unsur mayoritas-minoritas. Dalam kaitan ini, kata Hiabibe, dimensi agama harus menjadi pertimbangan utama, sebab aspek agama menyangkut sisi emosional.

"Saya tidak bicara SARA. Tetapi dengan memperhatikan realitas sosial, tentu Presiden RI mendatang idealnya adalah tokoh yang beragama Islam karena kebanyakan penduduk Indonesia beragama Islam serta berasal dari suku Jawa karena mayoritas rakyat Indonesia adalah orang Jawa. Tetapi asal suku tentu tidak mutlak harus Jawa," kata Ketua Dewan Kehormatan ICMI ini saat menerima Djoko Santoso selaku Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia Adil, Sejahtera, Aman (ASA) di Jakarta, Senin (3/2/2014).

Habibie beralasan, Amerika Serikat yang sistem demokrasinya sudah berjalan lebih dari 200 tahun pun hingga kini masih memperhatikan dimensi suku dan agama serta aspek mayoritas-minoritas. Dalam kaitan ini dimensi agama bahkan menjadi lebih dominan.

Dikatakannya, Presiden Amerika John F Kennedy tewas pada 22 November 1963 dalam iring-iringan mobil melalui Dallas, Texas. Lima tahun kemudian, saudaranya, Robert F Kennedy juga dibunuh di sebuah hotel di Los Angeles saat merayakan kemenangannya dalam pencalonan Presiden Partai Demokrat. PAtut diketahui, Kennedy bersaudara itu beragama Katolik, sementara mayoritas warga Amerika beragama Protestan.

"Sekarang, kenapa Barack Obama diterima menjadi Presiden Amerika bahkan terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya? Tidak lain karena dia beragama Protestan, meski dia warga kulit hitam yang merupakan penduduk minoritas di Amerika," ujar mantan Menristek di zaman Presiden Soeharto itu.

Dalam audiensi di kediaman Habibie itu, Djoko Santoso atau Djokosan didampingi oleh pengurus Gerakan Indonesia ASA lainnya, yakni Laksda TNI (Purn) Darmansyah (anggota Dewan Penasihat), Abu Kasim Sangadji (anggota Dewan Penasehat) dan Elizabeth Henny Santoso (Sekretaris).

Sementara Habibie didampingi oleh para pengurus The Habibie Center, yakni Muladi (anggota Dewan Pembina), Ahmad Watik Pratiknya (Ketua Dewan Pengurus), dan Dewi Fortuna Anwar (Ketua Institute for Democracy and Human Rights) serta pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego.

Labels:

Sunday, January 19, 2014

Bupati Mojokerto : "Minum bir ini membuat sehat"

Setelah SBY menerbitkan Perpres melegalkan minuman keras, Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa, melontarkan sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan situasi di Mojokerto, pasca tragedi minuman keras (miras) oplosan yang menewaskan 17 orang. Mustofa membuat pernyataan tanpa beban dihadapan ratusan undangan dan awak media, bahwa minum Bir dapat membuat tubuh menjadi sehat.

Pernyataan itu disampaikan Mustofa saat memberikan sambutan dalam acara peresmian pembangunan pabrik minuman non alkohol milik PT MBI (Multi Bintang Indonesia), yang berlokasi di Desa Sampang Agung, Kecamatan Kuthorejo, Mojokerto, Jumat (17/1/2014).

“Jujur, saya juga minum bir, dan minum bir ini membuat sehat,” ucap Mustofa dalam sambutannya. lansir situs detik.

Pengakuan itu disambut dengan gelak tawa para undangan. Padahal, dalam acara tersebut dihadiri Menteri Perindustrian, M S Hidayat, jajaran Komisaris dan Direksi PT MBI, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mahendra Siregar, serta perwakilan Pemkab Mojokerto. Selain itu, acara tersebut juga diliput puluhan wartawan dari media lokal maupun nasional.

“Lha Pak Cosmas (Presiden Komisaris PT MBI) itu, meski usianya sudah 70 tahun tapi tetap sehat. Karena minum bir itu tadi,” tambah Mustofa yang makin disambut tertawa sebagian besar undangan.

Pengakuan Mustofa yang kontroversi itu, lantas menjadi perbincangan di kalangan wartawan dan para undangan. Meski diucapkan dengan nada guyonan, hal itu bertolak belakang dengan kondisi di Mojokerto saat ini.

Awal tahun lalu Mojokerto didera dengan kejadian luar biasa akibat miras. Setidaknya 17 orang tewas akibat menenggak miras oplosan jenis cukrik. Tidak sepatutnya ucapan itu disampaikan dalam situasi seperti ini.

“Tidak sepatutnya seorang Bupati mengucapkan kalimat seperti itu. Apalagi di hadapan banyak orang-orang penting,” ujar salah seorang wartawan.

Saat dikonfirmasi terkait pernyataannya itu, Mustofa tidak mau menanggapi dengan serius. “Biar saja pernyataan saya tadi dimuat di media massa,” kata Mustofa.

Labels:

Monday, January 13, 2014

Jakarta Dikepung Banjir, Jokowi Salahkan Pendahulunya


GUBERNUR DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyalahkan para pendahulunya, terkait masalah banjir di Ibu Kota. Mereka yang telah memimpin Jakarta antara 20 hingga 30 tahun dinilai Jokowi tak berbuat apa-apa.

“Saya baru setahun, yang 20 tahun yang 30 tahun memimpin Jakarta sudah apa?” ujar Jokowi, Minggu (12/1) seperti yang dilansir Indopos.

Sayangnya, mantan Walikota Solo ini tak mau merinci apa saja kesalahan para gubernur terdahulu. Ia hanya mengatakan, masalah yang ada sekarang imbas masalah bertahun-tahun lalu. “Ini imbas dari yang dulu,” ucapnya.

Jokowi mengatakan, untuk persoalan banjir, pihaknya sudah melakukan pengamatan pada lokasi genangan air di jalan-jalan di Ibu Kota. Untuk perbaikan tanggul juga sedang dikerjakan Pemprov DKI Jakarta seperti di Waduk Pluit dan juga Waduk Ria Rio, Waduk Ciracas, dan Waduk Tomang, Jakarta Barat.

“Perbaiki tanggul, kan sudah kita keruk semuanya. Dulu yang tergenang mana, yang tidak mana,” katanya.

Seperti diketahui, hujan deras sepanjang hari Minggu menyebabkan sejumlah wilayah tergenang. Diantaranya beberapa RT di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur.

“Sejak pukul 08.00, genangan air 20-60 cm radius 10 meter dari bantaran kali,” ujar Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu.

Banjir menggenangi 3 RW dan 8 RT dengan total 227 KK dan 501 jiwa, yang tersebar di RW 01 sebanyak dua RT dengan 25 kepala keluarga (96 jiwa), RW 02 sebanyak tiga RT dengan 41 KK (132 jiwa), dan RW 03 sebanyak tiga RT dengan 161 KK (273 jiwa).

“Tidak ada warga yang mengungsi,” tuturnya. Selain itu, curah hujan yang tinggi juga menyebabkan genangan setinggi 30-50 cm di Jalan Petamburan II, RT 10 RW 3, demikian juga di RT 16 RW 3 dan RT 8 RW 2.

Labels:

Tuesday, January 7, 2014

Mengapa Al Qur'an harus Masuk 'Gudang' Penyitaan Polri ?


Penyergapan Terduga Terorisme:
Haruskah Dilakukan dengan Pembantaian dan Penyitaan Al Qur’an?
PENYERGAPAN terduga terorisme yang berakhir dengan eksekusi mati bukanlah kasus pertama. Hampir di setiap penyergapan, selalu ada nyawa terduga melayang. Sehabis para terduga tewas, kemudian diketemukan berbagai macam benda yang disebut barangbukti terorisme, yang tidak berkembang dari masa-ke masa. Pada kasus terakhir di Ciputat, yang paling memprihatinkan barangkali selain soal pembantaian para terduga, juga soal penyitaan Kitab Suci Al Qur’an oleh Densus 88. Pembantaiannya sendiri sudah melanggar HAM, apalagi penyitaan Kitab Suci. Lengkap sudah masyarakat menyaksikan tindakan sadis dan biadab aparat yang berkedok penegakan hukum pemberantasan terorisme.

Pembantaian atau Penegakan hukum?

Pertama, dilihat dari proses peristiwanya, kegiatan aparat di Ciputat bukanlah kegiatan penegakan hukum, melainkan sebagai shock teraphy semata. Bentuk shock teraphy ini, lebih cenderung kepada pembantaian brutal nan sadis, ketimbang penegakan hukum seperti yang diatur dalam Undang-undang. Terutama bagi kelompok yang masih memiliki keinginan berjihad, maupun berkeinginan melawan keinginan Pemerintah dalam hal ini keinginan Pemerintah mengikuti himbauan Amerika Serikat dalam War on Terror (perang melawan teror), maka shock teraphy tersebut sepertinya memang bagian dari program deradikalisai untuk membantu program pemberantasan terorisme global. Sayangnya, yang mengalami kecemasan atas ‘drama’ pembantaian di Ciputat, tentu bukan hanya kelompok garis keras, namun juga semua yang mengetahui peristiwa sadis tersebut. Kalau maunya disebut sebagai penegakan hukum, maka proses penyerbuan brutal lebih dari 9 jam yang berakhir dengan eksekusi mati, bahkan dilakukan bertepatan dengan pergantian tahun ini, jelas bukan kegiatan yang efektif.

Kedua, penegakan hukum jelas tidak dibenarkan jika dilakukan dengan melawan hukum. Pembantaian di Ciputat dan juga pembantaian-pembantaian pada kegiatan pemberantasan terorisme sebelumnya, sering dilakukan kepada pada orang yang masih terduga, yang proses peristiwanya tidak akuntabel. Selain dilakukan tertutup, bahkan dipublikasikan hanya melalui pemberitahuan sepihak dari aparat kepolisian. Informasi sepihak, dalam dunia jurnalisme jelas tidak memenuhi syarat untuk disampaikan kepada masyarakat luas. Meski begitu, karena fakta peristiwanya ada, maka berita ‘penegakan hukum’ tersebut tetap harus disampaikan kepada masyarakat meski kesaksian terhadap transparansi proses kejadiannya tergolong minim.

Ketiga, dengan adanya peristiwa Ciputat, maka mau tidak mau kawasan Ciputat dan sekitarnya, dimana di kawasan itu dikenal sebagai kawasan kampus religius terkenal seperti dengan adanya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta), STIE Ahmad Dahlan, Yayasan Lentera Hati Pusat Studi Al Qur’an, dan lain-lain, kini menjadi kawasan yang akan sering disebut sebagai kawasan ‘teroris’. Ada apa ini?

Keempat, dengan pembantaian yang dilakukan di Ciputat, maka akan memberi pesan kepada masyarakat luas bahwa kawasan Ciputat yang banyak kampus religius itu, terbukti menjadi tempat subur bagi para terduga terorisme. Karena sebelumnya, di kawasan yang sama juga pernah dilakukan eksekusi mati pada Saifudin Zuhri dan kawan-kawan, serta adanya kasus perampokan toko emas yang diduga dilakukan oleh terduga terorisme. Alhasil, banyaknya istilah terduga, menyebabkan keraguan apakah seluruh peristiwa terorisme di Ciputat selama ini adalah benar-benar kegiatan terorisme yang nyata?

Kelima, jika memang niatnya penegakan hukum dengan meringkus para terduga, Densus pun sudah pasti bisa melakukannya tanpa pembantaian. Peralatan keamanan pertahanan diri yang dimiliki personal Densus tidak ada yang bisa menandingi di seluruh dunia. Sangat canggih dan lengkap. Mulai dari baju anti peluru, helm, sampai decker (peindung siku). Alat deteksi dini berupa robot pengintai, alat penyadap komunikasi canggih di Cyber Crime Investigations Satellite Office (CCISO) pemberian Australia, hingga gas air mata. Dengan banyaknya peralatan deteksi dini serta alat pengintai serta pelumpuh dahsyat, dipastikan tidak ada kecolongan dari pihak Densus. Karena semua bisa diantisipasi dengan baik. Dengan segala kelebihannya, Densus jelas memiliki peralatan yang tidak dimiliki oleh teroris. Oleh karena itu, alasan “adanya perlawanan dan bakutembak terduga” tentu tidak akan lagi terdengar karena semua aktifitas para terduga sudah bisa dideteksi sebelum penyergapan. Kalau hanya bisa membantai, tentu tidak perlu alat-alat itu. Densus cukup membawa senjata serbu, serta bom pelumat. Yang tidak pernah saya dengar adalah, keinginan Densus melumpuhkan terduga menggunakan teknologi sederhana misalnya gas ber-bius. Sederhana sekali.

Kenapa Al Qur’an Disita?

Dari rilis yang dikeluarkan Mabes Polri, ada yang menarik untuk dicermati. Ada 31 item barangbukti, dan diantara semua barangbukti, terdapat banyak item yang tidak jelas keterkaitan barangbukti dengan para terduga yang sudah tewas mengenaskan. Dari sekian barangbukti yang tidak jelas keterkaitannya dengan terorisme, salahsatu adalah adanya 4 (empat) Al Qur’an yang turut disita oleh Densus 88. Penyitaan Al Qur’an ini benar-benar membuat miris, karena bisa berakibat kecurigaan siapa yang berada di balik topeng pasukan burung hantu ini.

Parahnya, penyitaan Al Qur’an oleh Densus 88, bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, di Pondok Pesantren Umar Bin Khatab (UBK) Bima, Nusa Tenggara Barat, Densus juga menyita 1 (satu) peti berisi penuh Al Qur’an dalam kasus dugaan terorisme. Semua Al Qur’an yang disita Densus ini jelas untuk diseret ke Pengadilan, dan mungkin untuk selanjutnya, Al Qur’an itu akan dimusnahkan atau disimpan di gudang barangbukti terorisme, dijadikan satu dengan barang-barang kotor lainnya. Jangan lagi ditanya, bagaimana cara dan proses penyitaan Al Qur’an ini oleh aparat.

Penyitaan Kitab Suci jelas pelanggaran berat, baik secara hukum maupun sosial. Tidak ada kaitan sedikitpun antara Al Qur’an dan terorisme. Kalaupun, sekali lagi kalaupun ada penyalahgunaan ayat Qur’an oleh seorang terduga pada masa lalu, tentu bukan dijawab dengan menyita Al Qur’an-nya. Langkah ini sudah pasti langkah biadab, terkutuk, dan bahkan tidak pantas dilakukan oleh manusia, apapun itu jabatannya. Parahnya, penyitaan Al Qur’an tersebut dilakukan di Ciputat dan di tempat lain pada proses penggeledahan di kontrakan para terduga. Apakah dengan demikian Densus dan Polri tidak sadar bahwa tindakannya ini sebagai bentuk penghinaan terbesarnya kepada mayoritas pemeluk agama Islam di Indonesia?

Saya jadi ingat perkataan petinggi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) Petrus Golose saat peluncuran bukunya Deradikalisasi Terorisme di Universitas Indonesia (UI) Agustus 2009 silam. Petrus mengatakan, bahwa kunci kesuksesan deradikalisasi ada 3 (tiga). Pertama, humanis. Dimana pemberantasan terorisme harus menghormati Hak Asasi Manusia (HAM). Kedua, soul approach. Pemberantasan terorisme harus dilakukan dengan komunikasi yang mendidik, bukan dengan kekerasan dan intimidasi. Ketiga, menyentuh akar rumput.

Program deradikalisi dan pemberantasan terorisme harus menyentuh pada semua orang yang ter-ekspose paham radikal. Dari kelimat Petrus, jelas sekali tujuan deradikalisasi dan pemberantasan terorisme bukan membentuk kekerasan baru maupun dengan menghina agama tertentu. Juga harus menghormati HAM, serta disertai komunikasi yang baik. Sayangnya, yang terjadi dalam pemberantasan terorisme saat ini, bahkan sejak awal tidaklah bisa seperti yang tertulis di dalam buku Petrus. Justru terjadi kebalikannya: keras, sadis, dan hina. Jelas, ini ada something wrong.

Bahkan, kalau boleh saya tulis, saking banyaknya something wrong dan kejanggalannya, upaya pemberantasan terorisme justru lebih dekat pada upaya labelisasi terorisme ketimbang pemberantasannya. Banyak orang-orang yang tidak tahu menahu terorisme, tiba-tiba disergap, dianiaya, disiksa, dan sebagian dijebloskan ke penjara hanya karena label terduga tersebut. Baik yang terduga maupun yang ‘terbukti’ di pengadilan, kini telah menimbulkan label-label baru tidak hanya kepada orang-orang terduga tersebut sebagai teroris. Sekali lagi, yang mendapatkan label teroris bukan hanya terduganya, tetapi juga kepada keluarganya, tetangganya, bahkan kawasan terjadinya pembantaian seperti Ciputat.

Fenomena tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Clarence Schrag (1971) bahwa seseorang menjadi penjahat bukan karena dia melanggar Undang-undang, melainkan karena dia ditetapkan demikan itu oleh penguasa. Wallahua’lam bishawab.

Labels:

Sadis, Korban Kebiadaban Densus 88 Diduga Disiksa Sebelum Dihabisi


Dosa Besar! Banyaknya kejanggalan makin menguat dalam operasi brutal di awal tahun 2014 ini. Tidak cukup untuk direnungkan pada tindakan membunuh seseorang tanpa alasan sama halnya dengan membunuh jiwa kita sendiri.

Entah itu melalui tangan orang lain atau tangan kita, namun yang pasti hukum Allah akan tetap berlaku, tinggal tunggu waktunya tiba dan pasti. Ketahuilah kebenaran akan terus tersingkap sedikit demi sedikit hingga kalian hancur dibuatnya.

Fakta yang dipaparkan Polri katanya hanya baku tembak, namun ada satupun luka tembak yang ada di tubuh korban. Kuat dugaan korban mengalami penyiksaan terlebih dahulu sebelum di eksekusi di Ciputat.

Korban bernama Dayat dilaporkan telah kehilangan dua buah bola matanya. Banyak kalangan menilai Densus 88 terlibat pencurian dan penjualan bisnis organ manusia.
Kiblat.net menulis terkait jenazah kelima korban tembak mati Densus 88 dalam penggerebekan Ciputat, Selasa lalu dirasa tidak wajar oleh para keluarga dan aktifis Islam yang membantu dalam proses pengurusan jenazah.

Salah seorang aktifis Islam yang ditunjuk oleh perwakilan kelima keluarga korban, Abu Azzam kepada Kiblat.net mengutarakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Densus 88 dan kepolisian sudah di luar batas prosedur standar tugas mereka. Bahkan, ada unsur penganiayaan sebelum kelima syuhada -kama nahsabuhu- dieksekusi mati.

“Perlu antum beritakan, apa yang mereka lakukan terhadap saudara-saudara kita ini diluar SOP (prosedur standar pelaksanaan, red). Artinya mereka menyiksa terlebih dahulu baru menghabisi. Dari bukti-bukti semuanya tidak wajar. Contohnya, Edo hancur kepalanya. Di sebelah (kanan, red) badannya juga hancur bekas penyiksaan,” ujar Abu Azzam kepada Kiblat.net seusai pemakaman kelima jenazah di TPU Pondok Rangon, Sabtu (4/01).

Abu Azzam yang mengikuti proses pengurusan jenazah kelima syuhada sejak dari RS Polri Kramat jati ini juga menyaksikan bahwa dari jenazah kelimanya terlihat luka-luka bekas penyiksaan. Ia menduga mereka disiksa terlebih dahulu sebelum dihabisi.

Ia juga melihat adanya keganjilan dari pernyataan polisi yang menyatakan kelimanya terbunuh akibat luka tembak.

“Logikanya, ketika ditembak itu hanya luka satu. Ini enggak, memar semua sekujur badan. Terutama si Edo, hancur kepalanya, habis tidak berbentuk. Yang kedua si Rizal, matanya dicongkel seperti dipopor. Matanya sebelah kanan gak ada, tegasnya.

Labels:

Monday, September 16, 2013

Di Arab, Pelayan Inggris Bisa Bergaji 1,7 Milliar per tahun


Di Inggris, bekerja sebagai pelayan, sudah tak lagi terlihat menarik dan menjanjikan. Namun tidak demikian apabila bekerja di negara- negara Semenanjung Arab, seperti Uni Emirat Arab.

Di sana, seorang pelayan profesional bahkan dihargai dengan gaji 582 ribu AED atau Rp1,7 miliar per tahunnya. Kantor berita BBC, Rabu 11 September 2013 melansir pernyataan itu diungkap oleh Direktur dan Pendiri Akademi Pelayan Inggris, Sara Vestin Rahmani.

Inggris memang diketahui salah satu negara yang kerap mengirimkan tenaga pelayan profesional ke luar negeri, termasuk ke ibukota Dubai. Menurut Rahmani, alasan keluarga kaya di Dubai lebih berminat kepada pelayan asal Inggris, karena Negeri Ratu Elizabeth itu memiliki rekam jejak yang baik untuk profesi tersebut.

"Inggris memiliki sejarah dalam sistem kelas, staf rumah tangga, etika, dan tradisi yang hebat. Orang kaya baru terpukau dengan protokoler yang melekat di dalam tradisi tertentu di Inggris," kata Rahmani.

Di Dubai, mereka bekerja untuk para klien kaya raya. Gaji yang luar biasa tinggi, tentu diikuti dengan tanggung jawab yang juga tidak biasa. Tengok pengalaman Dillon, veteran militer yang berusia 37 tahun.

Usai tak lagi berkarir di bidang militer, Dillon memutuskan banting setir dengan mengikuti menjadi seorang pelayan profesional tiga tahun lalu. Kini, dia bekerja untuk salah satu keluarga kaya di Dubai dan tinggal di pulau buatan, Palm Jumeirah. Dia mulai bekerja di sana sejak tahun 2011 silam.

"Saya mulai bekerja dari tingkat awal dengan gaji 203 ribu AED (setara Rp626 juta) ditambah semua biaya pengeluaran. Kini, gaji saya telah mencapai 406 ribu AED (sekitar Rp1,2 miliar)," kata Dillon.

Namun dia mengaku, dapat meraih gaji tinggi dengan bekerja keras. Tanggung jawab yang dia pegang tidak hanya sebatas menuangkan minuman anggur ke dalam gelas semata.

"Saya dapat bepergian ke luar dua kali dalam seminggu dan harus bersedia dihubungi kapan pun. Selain itu saya juga bertugas untuk menjaga barang pribadi majikan seperti baju, buku perjalanan, pemesanan akomodasi dan berbelanja," kata Dillon.

Seakan masih belum cukup, dia juga harus memastikan sang majikan terlihat menawan dan tidak kehausan di cuaca yang amat terik. Namun kerja keras itu mendapat imbalan yang setimpal. Selain gaji per tahun yang mencapai Rp1,2 miliar, Dillon mengaku juga diberikan fasilitas apartemen mewah untuk tinggal di sana. Gajinya itu pun tidak dipotong pajak.

Dia memiliki kesempatan dua kali dalam setahun yakni di bulan Agustus dan September untuk dapat bertemu dengan keluarganya di Inggris. Untuk terbang ke kampung halamannya, Dillon mengaku disiapkan pesawat jet pribadi dan mengantarnya pulang.

Belum lagi bonus yang kerap dia terima apabila sedang beruntung. Namun dia mengaku sering menerima bonus tersebut.

Ketika ditanya soal pengalaman terberat menjadi seorang pelayan profesional, dia mengaku pernah harus terbang ke Eropa hanya untuk menyelamatkan dua bayi meerkat.

"Saat itu saya harus menemukan seorang penjaga hewan temporer yang bersedia merawat dua bayi meerkat yang diselamatkan oleh keluarga majikan saya. Akhirnya kami terpaksa mengirimnya ke sebuah kebun binatang, setelah dikirim ke suatu negara di Eropa," kata Dillon.

Lain lagi kisah yang dialami Adam. Dia biasa bekerja di kapal mewah yacht berukuran panjang 19 meter. "Saat ini kami hanya menyilakan selebritis dan orang-orang paling penting berada di atas kapal. Sering kali orang-orang itu memiliki tuntutan yang tinggi dan aneh," ujar Adam.

Dia bercerita pernah sampai harus terbang ke puncak sebuah gunung di Swiss hanya untuk membeli kopi tertentu. Belum cukup, Adam mengaku pernah terpaksa menunda makan malam.

"Hal itu terjadi karena para tamu VIP tidak bersedia makan dari peralatan makan berbahan porselen. Mereka ingin makan dari peralatan makan tertentu yang diimpor langsung dari Eropa," kata dia.

Namun, kendati pekerjaannya menuntut kesabaran ekstra, Adam mengaku mencintai pekerjaanya. Betapa tidak, dia memperoleh gaji per tahun sekitar 522 ribu AED atau Rp1,6 miliar.

Adam juga kerap mendapat bonus. Namun dia juga mengungkap, tingginya gaji yang dia terima, juga ikut mempengaruhi gaya hidupnya. Adam juga mengingatkan, untuk dapat bertahan dalam pekerjaan ini, maka seorang pelayan harus dapat bersikap fleksibel terhadap majikannya.

Ditanya soal fenomena warga Dubai yang kini banyak mempekerjakan pelayan profesional, menurut pelatih pelayan untuk keluarga orang-orang kaya, William Hanson, hal itu tidak mengherankan.

"Klien baru yang kaya, biasanya menginginkan status, kendali atas rumah mereka sendiri dan ingin terlihat begitu kaya. Sehingga penting bagi mereka untuk menunjukkan dengan mempekerjakan pelayan Inggris yang tidak biasa ini," kata Hanson.

Namun dia menyambut baik mulai populernya pelayan profesional Inggris di Dubai. Menurut dia, hal itu bisa terjadi karena Dubai telah lama menjadi tempat bertemunya berbagai budaya.

"Tentu saja hal ini sangat membantu, karena komunitas berbeda dapat belajar satu sama lain. Ketika membahas soal staf pelatihan rumah tangga dari negara mana pun, biasanya gaya pelayan Inggris lebih dihargai," kata dia.

Menurut Hanson, kini tantangan yang dihadapi oleh seorang pelayan profesional, tidak hanya sekedar menyiapkan makanan dan minuman saja. Bisa dikatakan, kini pelayan profesional juga harus mampu menjadi penyelenggara sebuah acara.

"Kini mereka juga harus mampu membuat jadwal acara, mengelola dan memotivasi sebuah tim, mengatur berbagai macam properti dan membawa barang-barang yang sangat berharga," kata Hanson.

Fenomena ini sangat berbeda jauh dengan nasib TKI asal Indonesia.

Labels:

Issa, Bocah Pembuat Senjata Rudal di Suriah


Sehari-hari ia bergaul dengan senjata di bengkel yang dimiliki pasukan pemberontak di Suriah. Bersama ayahnya yang menjadi pendukung pasukan pemberontak, Issa bekerja rutin dari pagi hingga sore datang. Bila hari Jum'at ia memilih tinggal dirumah dan melangkahkan kakinya ke masjid untuk berdoa.

Diusianya yang ke 10 tahun, Issa sudah menjadi seorang anak yang ahli dalam memperbaiki rudal dan mortir. Konflik di Suriah memaksa ia bergelut bersama ayahnya sebagai pembuat senjata.


Dengan penuh ketelitian ia selalu mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ayahnya memang telah mengajarinya sejak beberapa tahun yang lalu terutama sejak banyak keluarga di Allepo memilih mengungsi dan tinggal di kamp-kamp pengungsian yang tersebar diberbagai perbatasan negeri.

Disaat anak-anak lainya pergi mengungsi Issa memilih bersimbah keringat diruang yang pengab, ia sibuk membuat rudal-rudal yang akan digunakan oleh para pemberontak.
Issa begitu menikmati harinya, dari sang ayah ia mengetahui beragam ilmu tentang senjata yang mematikan.

Issa paham bila senjata yang ia rakit bersama ayahnya digunakan untuk berperang, namun ia belum terlalu peduli bila sebenarnya apa yang ia buat adalah senjata yang mampu menghancurkan hak hidup seseorang.

Ditangannya mortar dirangkai, tubuhnya yang mungil tenggelam dalam senjata yang mampu membunuh banyak jiwa.

Kisah Issa tentunya berbeda dengan hidup banyak anak didunia, bertahan dikancah perang bersama keluarga adalah pilihan sulit yang harus ia jalani sebagai seorang bocah.

Konflik di Suriah hingga kini telah mengakibatkan aksi pengungsian besar yang didominasi oleh anak-anak. Namun masalah juga terjadi didalam negeri yang terkoyak itu, ratusan anak masih bertahan dalam kecamuk perang yang tak kunjung usai.

Labels:

Monday, September 9, 2013

Ahmad Dhani : "Kecelakaan Dul Tanggung Jawab Negara Juga"


Bagi Ahmad Dhani, kecelakaan maut yang menewaskan 6 orang akibat mobil yang dikemudikan Dul putra bungsunya, bukan hanya tanggung jawab dirinya seorang.

"Orang lupa bahwa kecelakaan itu tidak hanya tanggung jawab saya saja sebagai orang tua, tapi juga negara," ucap Dhani dalam wawancara dengan MetroTV di Jakarta, Senin (9/9/2013).

Menurut musisi multitalenta ini, di luar negeri, negera membuat aturan lalu lintas yang harus ditaati. Indonesia harus benar-benar menerapkan hal itu.

"Di luar negeri ada batas speed yang tak bisa dilewati. Negara harus menjaga tertib lalu lintas. Bagaimana supaya lebih disiplin. Disiplin anak-anak bukan hanya tanggung jawab orangtua saja, tapi juga sekolah misalnya," kata Dhani.

Mantan suami Maia Estianty ini berharap semua pihak bisa menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran dan menjadi pencerahan untuk perbaikan aturan lalu lintas.

Pada Minggu 8 September dini hari pukul 01.45 WIB, Mitsubishi Lancer B 80 SAL yang dikemudikan Dul adu banteng dengan Gran Max B 1349 TEN, lalu menghantam Toyota Avanza.Akibatnya 6 penumpang Gran Max tewas, 4 di lokasi kejadian dan 2 lainnya di rumah sakit. Kecelakaan ini juga menyebabkan 9 orang mengalami luka serius.

Labels:

Sunday, August 25, 2013

Amankah Penggunaan Alat Penghemat Listrik itu?



Banyak sekali dipasaran beredar alat penghemat listrik dengan haga yang relatif murah. Tetapi benarkah alat itu bekerja sesuai dengan apa yang dijanjikan yaitu bisa menghemat listrik yang ujung-ujungnya mengurangi tagihan?

Setelah dibongkar, ternyata alat “penghemat daya” tersebut hanya berisi kapasitor saja. Artinya dia bekerja layaknya kapasitor bank. Kita ulas secara teknis apa yang dilakukan alat penghemat listrik/kapasitor bank. Mari kita pelajari kembali teori segitiga daya, ada VA dan Var serta Watt. Daya semu yang mempunyai satuan VA itu tidak dapat dihilangkan. Daya aktif juga besarnya sesuai dengan kebutuhan beban, dan tidak bisa dikurangi. Dalam segitiga daya ada sudut antara VA dan Watt yang sering disebut power factor. Kalau pada beban banyak digunakan beban inductive maka akan timbul daya Reactive dengan vector keatas. Begitu pula sebaliknya bila beban yang digunakan adalah beban capastif maka akan menimbulkan daya reactive dengan vector kearah bawah. Semakin besar nilai daya reactive maka akan semakin besar pula daya semu(VA) yang harus disupply untuk daya aktiff (watt) yang sama. Nah apabila beban bersifat resistif maka tidak akan muncul daya reactive, sehingga VA=Watt.
Dengan menambahkan capasitor sebagai beban maka akan timbul daya reactive ke arah bawah. Apabila beban awal bersifat inductive (arah atas) maka beban reactive yang ditimbulkan kapasitor akan mengurangi daya reactive dari beban inductive, sehingga akan mendekati watt atau setara dengan beban resistive. Namun apabila beban awal sudah bersifat capasitive maka justru daya reactive akan semakin bertambah (kearah bawah) sehingga VA akan jauh lebih banyaak untuk Watt yang sama.

Jadi alat ini bukan untuk menghemat tagihan listrik, tapi untuk memaksimalkan daya listrik yg sudah kita beli. Bahkan, pemasangan kapasitor yang tidak terkontrol sesuai beban dapat menyebabkan beban kapasitif. Beban kapasitif ini menyebabkan kenaikkan tegangan yg berlebih sehingga bisa saja peralatan elektronik rusak dan ada peristiwa yg lebih ektrim yakni terjadi kebakaran karena seolah-olah terjadi “hubung singkat” atau “kosleting” karena terjadi resonansi akibat pemasangan kapasitor yg tidak sesuai dengan beban atau tak terkontrol. Jadi benarkah alat penghemat listrik itu?

Labels:

Friday, August 23, 2013

Dekonstruksi Jurnalistik Mainstream


Oleh: Mohamad Fadhilah Zein*

Haruskah seorang jurnalis melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistik? Pertanyaan ini menggelitik penulis karena ada cara pandang sebagian jurnalis yang mengatakan, jika jurnalis tidak melepas keyakinan agamanya ketika melakukan tugas jurnalistiknya, contoh meliput konflik agama, maka akan kehilangan obyektivitas. Benar kah cara pandang demikian? Apakah seorang jurnalis yang memegang teguh ajaran agamanya akan kehilangan obyektivitasnya ketika melakukan tugas jurnalistik di tengah konflik? Apapun penyebab konflik tersebut?

Penulis beranggapan cara pandang demikian tidak lepas dari paham sekulerisme yang memisahkan agama dari realita kehidupan. Paham ini sudah berkelindan dalam ilmu-ilmu jurnalistik yang diajarkan di banyak perguruan tinggi. Keduanya sudah menjadi darah daging yang sulit dipisahkan. Hal itu dapat dilihat dari sembilan elemen jurnalisme yang menjadi ideologi mainstream dalam jurnalistik. Salah satu elemen yang diajarkan adalah, jurnalistik harus mengejar kebenaran untuk disampaikan kepada masyarakat.

Namun, jurnalistik tidak mengajarkan apa itu kebenaran dan apa parameter kebenaran yang dianut. Dalam kajian jurnalistik, kebenaran menjadi relatif dengan alasan terlepas dari kepentingan tertentu atau tidak memihak demi keberimbangan. Penulis buku sembilan elemen jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, bahkan mengaku kesulitan menentukan apa itu kebenaran. Bagi keduanya, jurnalistik akan sampai pada kebenaran jika sudah mewawancarai ribuan orang mengenai suatu persoalan. Dengan ribuan pendapat yang dikumpulkan, maka akan diolah untuk kemudian dijadikan sebuah kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan dari wawancara terhadap ribuan individu tentunya akan menimbulkan persoalan lain. Bukan kah setiap kepala memiliki pendapat yang tidak sama? Seperti pepatah mengatakan, rambut boleh hitam, tapi isi kepala belum tentu sama. Belum lagi pendapat ribuan orang di suatu negara akan berbeda dengan di negara lain. Artinya, kebenaran yang diajarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel kehilangan parameter dan pijakannya. Dia akan menjadi relativisme yang kemudian sulit menemukan definisi kebenaran sejati.

Jurnalistik yang mengadopsi paham sekulerisme telah menjadikan para jurnalis sebagai manusia yang tercerabut dari identitas agama. Di dalamnya, ditelan mentah-mentah gelombang perubahan cara pandang. Jurnalistik menjadi sebuah bagian dari industrialisasi media massa yang dikuasai oleh kelompok kapitalis. Harvey Cox memberikan istilah sekulerisme sebagai pembebasan manusia dari agama dan pengawasan metafisik, menjadi pengalihan perhatian kepada yang ada "di sini dan kini", sebagai konsekuensi logis dari dampak keyakinan yang bersumber dari teologi kristen terhadap sejarah.

Perguruan Tinggi Islam yang mengajarkan jurnalistik harus mengubah cara pandang pemisahan agama dalam jurnalisme. Dalam sejarahnya, gerakan sekulerisme selalu mendapat penolakan di negara-negara muslim. Bahkan, di Turki saat ini, secara perlahan-lahan politik Islam mulai bergeliat melawan dominasi paham sekuler. Kajian yang dilakukan Mark Juergensmeyer (1993) menunjukkan, negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim belum merasakan hakikat kemerdekaan dari kolonialisme barat, jika negaramereka belum menerapkan Syariat Islam.

Jurnalistik dengan Islamic Worldview

Islam memiliki catatan yang panjang dalam kegiatan jurnalistik. Para ulama Islam menulis ratusan kitab yang di dalamnya sarat dengan informasi, peristiwa dan cara pandang. Ali bin Abi Thalib bahkan menggambarkan "tulisan adalah tamannya para ulama". Imam al Ghazali adalah jurnalis ketika menceritakan ulama di zamannya dalam Ihya Ulumuddin. At-Thabari adalah jurnalis ketika dia merekam peristiwa sejak Nabi Adam sampai peristiwa di zamannya dalam tarikh al Umam wa al Muluk. Ibnu Abdi Rabbin juga jurnalis, ketika dia menuturkan peristiwa-peristiwa sosiokultural dunia Islam klasik dalam 25 kitab yang diberinya nama Al-Iqd al Farid. Dalam permulaan bukunya, dia bahkan mengutip ucapan Plato: "Pikiran manusia terekam di ujung pena mereka".

Para ulama Islam itu merupakan jurnalis-jurnalis andal di zamannya. Mereka jujur dan dapat dipercaya menyampaikan informasi secara obyektif. Mereka telah berjasa bukan saja sebagai perekam peristiwa atau pengawal peradaban Islam, melainkan juga tonggak-tonggak sejarah perkembangan Islam. Kitab-kitab yang mereka tulis menjadi media yang kemudian bisa dipelajari oleh generasi saat ini. Satu hal paling penting yang dapat diambil hikmahnya adalah, menjadi jurnalis yang obyektif tidak perlu menanggalkan kebenaran agama yang dianut.

Para ulama di atas mampu membuktikan, jurnalis dengan cara pandang yang dibalut dengan Islamic Worldview, tidak akan menghilangkan obyektivitas. Kebenaran dalam Islam yang sudah dibakukan dalam kitab suci, tidak menghilangkan obyektivitas jurnalis dalam melihat realita kehidupan. Lebih dari itu, jurnalis muslim hendaknya sanggup menjadi jurnalis profetik. Artinya, dia mampu menjadi pembawa amanat kenabian dan risalah agama, serta mampu melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Dalam konteks saat ini, Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi kajian untuk menghadang dominasi negara maju di bidang komunikasi massa. Meminjam istilah ilmuwan sosial, Johan Galtung, adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang komunikasi massa. Imperialisme di bidang komunikasi massa ini kemudian merasuk dalam ilmu-ilmu jurnalistik. Mengapa disebut imperialisme komunikasi? Karena pada kenyataannya, hubungan negara maju dengan negara berkembang menciptakan arus informasi yang mengalir bersifat feodalistik dan deterministik.

Negara-negara barat menjadi jendela informasi secara sepihak terhadap negara-negara muslim. Tapi negara-negara muslim tidak bisa menyebarkan informasi yang benar tentang kondisi mereka ke negara-negara barat. Maka, yang terjadi adanya distorsi informasi tentang Islam dan umat Islam di negara-negara barat. Sistem informasi yang demikian sudah dirancang jauh-jauh hari sebagai bagian dari hubungan antara negara maju (baca: barat) dan negara-negara berkembang (baca: Islam).

Kantor-kantor berita yang dimiliki negara-negara Barat, bukan hanya pembuat berita, tetapi mereka juga menjadi penentu berita apa saja yang layak disalurkan ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Dengan pola arus penyebaran informasi seperti ini, setidaknya ada dua implikasi. Pertama, menyangkut akurasi pemberitaan. Kedua, menyangkut soal preferensi obyek pemberitaan.

Untuk hal yang pertama, buku Covering Islam, karya Edward Said, berbicara dengan sangat detail bagaimana kantor-kantor berita Barat menyajikan Islam sebagai berita. Menurut Said, banyak pemberitaan tentang Islam yang disajikan secara superfisial oleh jurnalis-jurnalis Barat. Hal itu, menurutnya, bisa terjadi karena ketidaktahuan atau kesengajaan.

Tentang hal yang kedua, Preferensi obyek pemberitaan, biasanya erat hubungannya dengan persoalan ideologis. Dalam soal pemberitaan, negara-negara Barat menganut ideologi "free flow of ideas by words and image". Ideologi ini kemudian diartikan sebagai bebas memberitakan apa saja yang menarik untuk diketahui publik. Ideologi pemberitaan yang demikian sudah tentu menguntungkan negara-negara Barat, karena mereka yang menguasai sarana informasi dan komunikasi.Ideologi ini juga menjadi alat legitimasi yang paling baik bagi negara-negara barat untuk berperan sebagai "jendela dunia" bagi negara-negara Muslim.

Kita beruntung hidup di era internet yang demikian luas. Jurnalis-jurnalis muslim bisa membangun media massa online yang mudah dan murah, namun memiliki daya pengaruh yang besar.Bahkan kehadiran sosial media bisa mengimbangi adanya imperalisme dan kolonialisme di bidang informasi dan komunikasi.

Dengan gencarnya arus sekulerisasi di lini massa, maka kajian Jurnalistik dengan Islamic Worldview bisa menjadi alternatif untuk menghadangnya. Penolakan terhadap sekulerisme tidak hanya terjadi di dunia Islam.Sejarah telah menunjukkan penentangan terhadap sekulerisme di seluruh negara. Agama dan politik jalin-menjalin sepanjang sejarah di seluruh dunia. Sejumlah pemberontakan melawan penguasa, dari Revolusi Maccabean di Israel kuno sampai pemberontakan Taiping di Cina, gerakan Wahabiyah di Arab Saudi dan Puritanisme di Inggris, merupakan gerakan perlawanan kelompok agama terhadap sekulerisme.

* Penulis Buku “Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” dan Dosen Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Labels: ,

Saturday, July 27, 2013

Warganya Dituduh Sembunyikan Teroris, PP Muhammadiyah Berikan Advokasi


Pengurus Pusat Muhammadiyah secara khusus memberikan bantuan hukum bagi dua warganya, Sapari dan Mugi Hartanto, yang menjadi korban salah tangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror saat dilakukannya penggerebekan disertai penembakan dua terduga kasus terorisme jaringan Poso di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013).

Slamet Hariyanto Ketua Majelis Hukum dan HAM Pengurus Wilayah Muammadiyah Jawa Timur, Jumat mengatakan, instruksi dilakukannya pendampingan hukum disampaikan langsung oleh Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah, karena dua orang yang ditangkap Densus 88 dan disebut-sebut terlibat dalam persembunyian terduga kasus terorisme Poso adalah warga salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Instruksi disampaikan Pak Din Syamsudin melalui SMS (pesan singkat) saat beliau masih di Tokyo, Senin (22/07/2013) malam," terang Slamet seperti dilansir Antara.

Dikatakan, ada dua yang menjadi alasan PP Muhammadiyah secara khusus memberikan pendampingan hukum. Pertama karena kedua orang tersebut tercatat sebagai warga sekaligus pengurus cabang Muhammadiyah di Kecamatan Pagerwojo. Kedua karena munculnya keyakinan Sapari dan Mugi menjadi korban salah tangkap.

"Dari dua orang ini, yang menjadi korban paling parah adalah Pak Mugi Hartanto. Beliau bahkan tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan kedua tamu ini, dia hanya kebetulan beberapa saat sebelum kejadian (penggerebekan dimintai tolong untuk mengantar Riza dan Dayah, tamu pak Sapari yang berniat pulang dan minta diantar ke terminal," terang Ketua Majelis Informasi Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung, Timoer Prawiranegera menimpali.

Demikian juga dengan Sapari. Meski menjadi tuan rumah dan berinteraksi aktif dengan Riza, salah satu terduga kasus terorisme, perangkat dibagian Kaur Kesra Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo ini tidak mengenali latar belakang mubaligh tamunya tersebut selama tiga bulan tinggal dan beraktifitas di Masjid Al Jihad maupun Madratsah Aisiyah.

"Selama di desa itu pak Sapari juga tidak pernah menyembunyikan Riza. Mubalig tamu ini beraktivitas secara terbuka dan berinteraksi dengan masyarakat secara wajar, bahkan kamar tempatnya mondok (menginap) juga tidak pernah dikunci," imbuhnya.

Sayang, sejak kedua pengurus cabang Muhammadiyah Kecamatan Pagerwojo itu ditangkap dan dikait-kaitkan dengan terorisme, tim pengacara dari Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Provinsi Jatim sampai saat ini belum bisa bertemu dan bertatap muka langsung.

Pihak kepolisian di tingkat Polda Jatim dan Polres Tulungagung bahkan terkesan saling lempar informasi setiap kali ditanya perwakilan advokat yang ditunjuk PW Muhammadiyah Jatim.

"Iya, tapi tadi siang saya sudah bertemu dengan salah satu anggota Densus di Mapolda Jatim dan disampaikan bahwa Pak Sapari dan Mugi sudah dibantarkan di Mapolda, cuma belum bisa ditemui sekarang karena masih dalam pemeriksaan," terang Slamet Hariyanto.

Dikatakan, Densus memang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga terlibat kegiatan terorisme selama tujuh hari sejak penangkapan.

"Jadi kami memiliki waktu sampai hari Senin (29/07/2013) untuk mengetahui hasil pemeriksaan mereka, apakah saudara-saudara kita (Sapari dan Mugi Hartanto) terlibat (terorisme) atau tidak. Kalau tidak, otomatis akan langsung dilepas oleh Densus," tambahnya.

Slamet menegaskan, pihaknya bertekad untuk terus melakukan pendampingan hukum kepada kedua warga Muhammadiyah tersebut, termasuk apabila polisi bersikeras menetapkan keduanya sebagai tersangka dalam kasus terorisme.

"Kami akan dampingi sampai di Pengadilan untuk memastikan hak-hak hukum serta HAM kedua warga kami terlindungi," tegasnya.

Diberitakan, Sapari dan Mugi Hartanto ditangkap Densus 88 Antiteror saat dilakukannya operasi penggerebekan disertai penembakan di depan warung kopi Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Senin (22/07/2013).

Dalam operasi tersebut, dua pemuda terduga kasus terorisme, Riza dan Dayah alias Kim tewas ditembak anggota Densus dari jarak dekat, sementara Sapari dan Mugi ditangkap dalam kondisi hidup karena dituduh menjadi pemandu dan membantu persebunyian. Meski telah ditangkap sejak Senin, surat penangkapan dan penetapan tersangka keduanya baru disampaikan polisi Rabu (25/07/2013) malam.

Labels:

Friday, July 26, 2013

Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam


Pada acara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” karya Mohamad Fadhilah Zein, terungkap kisah ‘aneh’ bin ‘lucu’ dari Pengamat “Terorisme” Mustofa B Nahrawardaya.

Aktivis muda Muhammadiyah ini mengisahkan saat peristiwa bom Marriott yang pertama, pada Selasa, 5 Agustus 2003. Ledakan di hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB itu berasal dari bom mobil dengan menggunakan Toyota Kijang nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Sebanyak 12 orang meninggal dan tewas dalam ledakan tersebut, termasuk Asmar Latin sani, dan mencederai 150 orang lainnya.

‘Aneh’nya, kata Mustofa, badan si pembawa bom dari dalam mobil kijang di depan lobi hotel itu hancur, tapi ‘lucu’nya, kepalanya (Asmar Latin Sani, red) ada di lantai 4 JW Marriott. Kok bisa terpisah? “Nah, …bagaimana mungkin itu?” tanyanya saat menjadi salah seorang pembicara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’ di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (21/7/2013) .

“Karena itulah, itu yang saya maksud fakta-fakta, termasuk kasus-kasus ‘terorisme’ itu bisa dibuat sedemikian rupa,” imbuh Mustofa. Dan, lebih parah lagi fakta-fakta ‘aneh’ dan ‘lucu’ itu tak diungkap media massa. Artinya, media massa mainstream membiarkan kejanggalan dan kezaliman itu terjadi.

Mustofa menggambarkan contoh lain, bagaimana fakta-fakta (yang merugikan umat Islam) itu dibuat, yaitu dalam kasus pelatihan Mujahidin di Aceh pada 2010 yang dalam pemberitaan media massa disebut sebagai pelatihan militer untuk aksi terorisme di Aceh.

Mustofa mengungkapkan, sebenarnya pelatihan di Aceh itu informasinya adalah untuk rencana pengiriman Mujahidin perang ke Palestina, bukan untuk aksi “terorisme”. “Banyak yang daftar, termasuk dari FPI banyak yang ikut, karena yang mengajak itu mantan Brimob, namanya Sofyan Tsauri,” papar Mustofa.

“Sudah mantan Brimob, senjatanya dari Brimob juga, resmi ya, dengan pembelian ilegal, dipakai latihan di Aceh, dishooting. Ketika latihan dishooting. Coba kau nembak ya, ow kayak di Timur Tengah, dor dor dor…Allahu Akbar…Allahu Akbar. Persis di video, itu lho kalau Ayman Zawahiri atau Usamah bin Ladin saat menembak dengan AK-47 itu, dibikin persis,” ungkap Mustofa.

“Tetapi di video itu tidak tahu kalau mereka akan diberitakan sebagai latihan militer oleh sipil. Mereka tahunya akan (dikirim, red) ke Palestina,” kata Mustofa lagi. “Banyak anak-anak FPI dijebak di acara itu.”

Bahkan, kata Mustofa, sebagian dari mereka itu diajak latihan ke Brimob juga. “Ini saya dengar di fakta persidangan lho. Jadi, sebagian mereka dilatih di Mako Brimob, dilatih oleh polisi juga, karena tahunya akan ke Palestina, jadi mereka semangat.”

Termasuk, yang peristiwa di Temanggung itu, kata Mustofa. Dia mengaku tahu persis, karena rumah yang dijadikan untuk menyerbu “teroris” itu milik pengurus Muhammadiyah di Temanggung, namanya Mujahri.

“Jadi peristiwa pengepungan 21 jam di Temanggung itu saya tahu persis. Saksinya masih ada, dari pengurus Muhammadiyah. Anda tahu, berapa orang yang meninggal dalam penyerbuan 21 jam dengan seribuan peluru yang melibatkan sekitar 600 polisi itu?” tanya Mustofa.

“Yang meninggal cuma satu, namanya Ibrahim. Berapa kali kena tembakan? Satu juga (satu kali tembakan, red). Janggal nggak?” ujar Mustofa. “Kalau dibilang janggal, ya wajar, karena Anda orang Islam,” Mustofa menambahkan.

Ya iyalah, penyerbuan hampir 24 jam, melibatkan sekian banyak media, dalam dan luar negeri, kata Mustofa, mengeluarkan sekian ribu peluru, tapi nyatanya cuma satu peluru yang ditembakkan untuk sang “terduga teroris” bernama Boim (Ibrahim).

“Tapi peristiwa itu menjadi momen berita nasional, betapa berbahayanya ‘terorisme’. Jadi, ada modus dari media-media mainstream itu untuk membuat ini terjadi, pertama, dengan cara tidak memberitakan atau meliput peristiwa itu jika menguntungkan umat Islam. Dan, kemungkinan kedua, memberitakan, jika peristiwa itu merugikan umat Islam. Kalau tidak ada peristiwa, maka peristiwa juga bisa dibuat supaya menjadi berita. Itu yang saya maksud fakta bisa dibuat.”

Dalam hal ini, lanjut Mustofa, termasuk berita yang berkaitan dengan tuduhan “Rohis Teroris”, itu adalah fakta yang dibuat, berangkat dari penelitian yang dibikin, yang kemudian diberitakan di sebuah stasiun televisi.

Kata Mustofa, penelitinya, Prof Bambang Pranowo dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat dia datangi, kenapa menyebut Rohis “sarang teroris’, dari mana, maunya apa. Prof Bambang akhirnya mengakui bahwa yang dia paparkan boleh salah, tapi tidak boleh bohong.


“Dia sampaikan, bahwa penelitian ini boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” ungkap Mustofa menirukan ucapan Bambang. Masalahnya, kata Mustofa, Prof Bambang itu mewawancarai anak-anak SMP dan SMA dengan pertanyaan yang sangat resisten, misalnya apakah kamu setuju kalau lurah atau kepala desa itu non-Muslim, sementara mayoritas warga adalah Muslim.

“Ya, kalau lurahnya non-Muslim, sementara warganya mayoritas Muslim, Muslim mana yang setuju? Ditanya juga, apakah setuju dengan penggerebekan di sebuah hotel terhadap pasangan yang bukan suami istri, pasangan kumpul kebo, ya jawabnya setuju, itu kan bentuk nahi mungkar! Nah, jawaban-jawaban itu dipakai untuk kesimpulan survei bahwa ternyata anak-anak SMP-SMA yang masuk Rohis itu radikal,” urainya.

Jadi, fakta bisa dibuat peristiwanya dengan cara: melakukan survei, memunculkan peristiwanya, menyiapkan media dan nara sumbernya. “Dicari narasumber yang merugikan umat Islam,” demikian paparan Mustofa.

Labels:

Thursday, July 11, 2013

Prawoto, Figur Negarawan Amanah yang Kian Terlupakan [Bag 2]

Partai Masyumi yang dikenal melahirkan politisi Muslim berwibawa dan sederhana

Memo Masyumi pada Soekarno

Masyumi memang mempunyai pendirian yang tegas. Ketika Soekarno membentuk Kabinet Gotong Royong, merangkul PKI dan menyebarkan ide-ide komunis, Natsir, Prawoto, HM Rasyidi dll. menyatakan sikapnya untuk menjadi oposan Presiden Soekarno. Akibatnya, hampir semua tokoh Masyumi mengalami beratnya perjuangan dengan "gemblengan" di rumah-rumah tahanan negara.

Sikap oposan terhadap Soekarno memuncak, ketika Soekarno dengan tanpa alasan yang jelas membubarkan Partai Islam terbesar itu. Lewat Keputusan Presiden RI No. 200/1960 tertanggal 17 Agustus 1960 (dan merujuk Penetapan Presiden No.7/1959) Soekarno embubarkan Masyumi.

Alasannya, menurut Soekarno, "Partai melakukan pemberontakan, karena pemimpin-pemimpinnya turut serta dalam pemberontakan apa yang disebut dengan "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" atau "Republik Persatuan Indonesia" atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan, sedang partai itu tidak resmi menyalahkan perbuatan anggota-anggota pimpinan tersebut."

Menanggapi keputusan Presiden yang semena-mena dan mendadak itu, Prawoto Mangkusasmito (Ketua Umum) dan HM Yunan Nasution (Sekretaris) menyampaikan surat pembubaran Masyumi dan sekaligus menyampaikan "memorandum keras" kepada ayahnya Megawati itu. Dalam pengantar memo itu, Prawoto mengungkapkan bahwa Masyumi sejak didirikan selalu berpegang teguh pada hukum dan kesepakatan bersama dalam bernegara.

"Umat Islam dibesarkan untuk memegang janji itu, tidak terkecuali janji yang diberikan kepada golongan lain, sampai pula janji yang diberikan kepada golongan yang menurut faham Islam dinamakan golongan kafir," tulis Prawoto, tertanggal 13 September 1960.

Memo itu selanjutnya meminta kepada tokoh-tokoh Masyumi untuk tetap memperjuangkan hukum Islam dan menyindir kekuasaan Soekarno yang cenderung diktator. "Orang-orang yang benar-benar memperjuangkan Islam, tidak bisa lain dari bertujuan supaya hukum Islam berlaku dan terutama untuk si pejuang sendiri, hukum Islam dengan segala batas dan larangan-larangannya, yang tidak boleh dilanggar oleh si Muslim yang kebetulan berkuasa."

Sebelum Masyumi dinyatakan bubar, Prawoto sebenarnya telah memberikan kuasa hukum kepada Mohammad Roem, Mr. Madoeretno Haaznam dan Mr. Djamaluddin Dt. Singo Mangkuto untuk menggugat Soekarno lewat Pengadilan Negeri Istimewa, Jakarta. Gugatan itu kemudian disampaikan oleh Mohammad Roem 9 September. Roem menulis bahwa Penpres No. 7/1959 itu, tidak mempunyai kekuatan hukum dan merupakan penyimpangan UUD 45.

Karena itu, Kepres 13/60 juga batal demi hukum. Pembubaran Masyumi, menurut Roem, menutup pintu bagi berjuta-juta warga negara untuk beramal dan karena itu menimbulkan kerugian yang tak terhingga.

Tapi usaha rehabilitasi Masyumi gagal, karena Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta lewat Ketua Pengadilannya M Rochjani Soeoed, menyatakan Pengadilan itu tidak berwenang memeriksa perkara gugatan yang disampaikan Masyumi.

Tidak mengenal letih, Prawoto dan kawan-kawan terus mengusahakan rehabilitasi Masyumi pada masa awal Soeharto berkuasa. Tapi, sayangnya Soeharto seperti juga Soekarno menolaknya, meski Orde sudah berganti.

Bukan hanya Masyumi yang gigih untuk memperjuangkan kembali eksistensinya, PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang juga dibredel Soekarno juga aktif melakukan usaha rehabilitasi. Di masa Soeharto, dalam Musyawarah Nasional III Persahi (Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia) dikeluarkan tuntutan agar partai-partai yang dibubarkan Soekarno (Masyumi, PSI,KAMI dan Murba) direhabilitasi kembali (3 Desember 1966). Tapi usaha itu lagi-lagi gagal.

Perjuangan Islam

Dalam pidato-pidato usai pembubaran Masyumi, Prawoto sering menguraikan secara menarik isu-isu Masyumi waktu Soekarno berkuasa.

Salah satu diantaranya uraiannya mengapa Masyumi menolak tegas gagasan Presiden agar kabinet disangga empat kaki, yaitu Masyumi, NU, PNI dan PKI. "Kita tidak bisa berkompromi dengan kaum komunis sehingga sampai-sampai kita dinyanyikan berkepala batu," urainya pada reuni Keluarga Besar Bulan Bintang di Jakarta, pada 24 Oktober 1966.

Prawoto dalam kesempatan itu juga menyebut adanya phobi kepada Masyumi. Ia menyebut ada mitos yang diciptakan (Soekarno dan pengikutnya) bahwa Masyumi anti Pancasila dan Masyumi akan membawa revolusi ke kanan.

Ia mengakui bahwa Masyumi memang berjuang menegakkan hukum Islam. Lain dengan beberapa "partai Islam" sekarang yang ragu-ragu memperjuangkan hukum Islam, dalam Anggaran Dasarnya, Masyumi secara eksplisit mencantumkan terlaksananya hukum Islam sebagai tujuan. Masyumi juga menegaskan bahwa anggota partai adalah mereka yang beragama Islam.

Perjuangan Masyumi untuk mendukung Piagam Jakarta, tidaklah setengah-setengah. Tokoh-tokoh Masyumi saat itu, rajin melobi partai-partai lain sehingga dukungan untuk Piagam Jakarta sampai meraih 43% suara dalam pemungutan suara di Konstituante. Tapi, perlu dicatat, menurut Prawoto, yang menolak Piagam Jakarta ada penyokong palsu. Yaitu PKI, yang saat itu setuju digunakan sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja.

Sebenarnya cukup aneh bila ada partai yang mengaku partai Islam, tapi Agak enggan dalam memperjuangkan terlaksananya Islam dalam masyarakat dan negara. Padahal Soekarno sendiri yang mazhab ideologinya "gado-gado" pernah menyatakan silakan masing-masing golongan memperjuangkan ideologinya.

"Kalau fihak Islam menghendaki suatu Undang-undang Dasar yang sesuai dengan cita-citanya, berjuanglah sekeras-kerasnya di dalam permusyawaratan perwakilan itu. Jika golongan Kristen, ingin supaya cita-citanya termasuk Undang-undang Dasar, berjuanglah sekeras-kerasnya juga," kata Soekarno.

Karena itu, Hamka sebagaimana juga Prawoto tidak mengenal lelah untuk perjuangan tegaknya Islam itu. Hamka, ulama dan tokoh Masyumi lainnya sering mengingatkan, "Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah sekali-kali boleh kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Dan jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, 'Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum Syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu?' Janganlah berbohong dan mengolok-olok jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang telah digariskan Tuhan dalam al Qur'an kita pungkiri?" (Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 6).

Partai Islam mestinya kukuh dalam memegang prinsip-prinsip Islam dan sepatutnya mengambil keteladanan politisi-politisi Muslim pendahulu di negeri ini. Pertama, dalam berpolitik, ia dikenal pembela Islam, dan berani dalam menegakkan amar makruf nahi munkar dengan jalan konstitusional. Kedua, hidup dan berperilaku sederhana. Bukan untuk sekedar menumpuk kekayaaan atau bergaya-gaya telah memegang kekuasaan. Bila demikian tujuannya, apa beda dengan politisi sekuler?

Nah, bila politisi Muslim, khususnya mereka yang tergabung dalam Partai Islam, berperilaku sama dengan partai lain, khusunya tidak menjaga diri dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, maka bisa dipastikan masyarakat akan meninggalkannya. Nanti, yang tersisa adalah kader-kader yang kurang bermutu, yang tidak menjadi kebanggan umat. *

Labels: ,

Saturday, July 6, 2013

Monopoli Media, Manuver Cerdik HT dalam Kancah Politik


Pada 7 Mei 2013 lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil RCTI dan Indovision. Pemanggilan ini terkait pengaduan masyarakat tentang beredarnya video rekaman dugaan percakapan yang mambahas rapat Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dalam rapat tersebut, terjadi percakapan yang intinya ingin menggunakan frekuensi publik yang dimiliki MNC Group untuk kepentingan praktis Partai Hanura.

Saat itu Ketua Badan Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Yuddy Chrisnandi protes. Menurutnya, pemanggilan RCTI dan Indovision terkesan tebang pilih. Seharusnya stasiun televisi lain juga dipanggil. Lagipula, Yuddy yakin, rapat tersebut bukan diadakan oleh kader maupun politikus Partai Hanura.

“Bisa jadi itu ulah oknum untuk mengebiri Hanura,” ujar Yuddy.

Tentu bukan cuma Yuddy yang membela Hary Tanoesoedibjo kala itu. Namun, mayoritas kader Hanura membela habis-habisan konglomerat media yang akrab disapa HT ini. Betapa tidak, bergabungnya HT jelas menguntungkan bagi Hanura. Dengan masukkan HT, MNC Group praktis akan banyak memberitakan kegiatan-kegiatan Partai Hanura.

Seperti Anda ketahui, MNC Group memiliki 3 stasiun televisi swasta: RCTI, MNC TV, dan Global TV. Di Pemilu 2014 nanti, pemirsa pasti akan bisa menebak “warna layar” ketiga stasiun televisi itu jelas akan dipenuhu Partai Hanura. Jumlah televisi itu belum termasuk televisi lokal yang dimilikinya, yakni Deli TV (Medan), Lampung TV (Bandar Lampung), Minang TV (Padang), UTV (Batam), Indonesia Music TV (Bandung), Pro TV (Semarang), BMS TV (Banyumas), MHTV (Surabaya), Kapuas CitraTelevisi (Pontianak), BMC TV (Denpasar), Sun TV (Makassar), MGTV (Magelang), Sky TV (Palembang), serta Taz TV (Tasikmalaya). Sementar untuk tv kabel, selain Indovision, HT juga memiliki OkeVision dan Top TV.

Sejak awal HT nampak sekali ingin menguasai jagat media televisi (baca: monopoli frekuensi). Penguasaan HT di media televisi melalui PT. Bhakti Investama. Mari kita lihat sepak terjang HT via PT. Bhakti Investama. Hingga awal 2000, putra Soeharto Bambang Trihatmodjo masih memegang saham mayoritas di RCTI (69,8%) dan Global TV (70%). Namun, pada Juni 2003, Bambang mundur dan saham di dua televisi tersebut menyusut jadi 14,32%. Pembeli saham yang merupakan “pemain baru” dalam jagad pertelevisian Indonesia, yakni PT. Bhakti Investama.

Pada Juli 2001, saham PT. Bhakti Investama baru 10,72%. Perlahan-lahan kepemilikan Bhakti meningkat jadi 24,975%. Pada 23 November 2002, Bhakti membeli saham lagi hingga mencapai 34,8% dan Juni 2003 meningkat lagi menjadi 37,60%. Apa yang dilakukan HT terhadap Bimantara ditulis oleh Warta Ekonomi edisi 15-30 Juni 2003 dengan judul “Manuver Hary di Atas Cendana”.

Bukan cuma Bimantara yang dikuasai HT guna mendapatkan RCTI, Global TV, dan juga TPI (yang kini berubah menjadi MNC TV), tetapi juga SCTV dan Indosiar. Dalam buku Ekonomi Politik Media Penyiaran (LkiS, 2004) yang ditulis Agus Subibyo, ada dua jalur yang digunakan PT. Bhakti Investama untuk masuk ke SCTV. Pertama dengan kepemilikan secara tak langsung lewat PT. Mitrasari Persada, yakni dengan mengalih-alih surat hutang PT. Mitrasari Persada kepada Citibank. Dengan begitu, Bhakti akan menguasai 52,5%. Kedua, mengambil alih saham PT. Datakom Asia sebesar 26,85%. Namun, dua skenario di atas berantakan. HT via PT. Bhakti Investama gagal menguasai SCTV.

PT. Bhakti Investama juga gagal menguasai 49% saham PT. Indosiar Visual Mandiri. Tadinya, HT secara paralel berambisi ingin menguasai SCTV dan Indosiar. Terlebih lagi pada 2001, Indosiar sempat dilego Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kenapa Indosiar dilego BPPN? Sebab, hutang-hutang Salim Group menggunung. Tak heran, harta Salim Group, termasuk Indosiar, yang total Rp 53 triliun disita BPPN.

HT juga hampir menguasai Metro TV. Jalan masuk HT adalah berniat membeli saham sebesar 25% yang sempat dilepas Metro TV. Namun, saham sebanyak 12.500 dengan nilai jual total Rp 45 miliar tersebut dibeli oleh PT. Centralindo Pancasakti Cellular. Sisa sahamnya, yakni 75% dikuasai oleh Surya Paloh. Bhakti pun gagal lagi menguasai stasiun televisi lain, di luar RCTI, Global TV, dan MNC TV. Tentu, lain cerita jika HT masih tetap “bermukim” di Partai Nasdem, barangkali Metro TV bakal dikuasai olehnya.

Sebenarnya, sejak lama HT ingin menguasai ANTV. Manuver dirinya menguasai ANTV terlihat sejak 2001. Begitu tahu ANTV menunggak hutang ke BNI 46 –kemudian dialihkan ke BPPN – senilai Rp 50 miliar, lalu dengan konsorsium kreditor Jepang, Korea, dan Inggris dengan total senilai US$ 59 juta, PT. Bhakti Investama sudah mengincar. Apalagi pemodal utama ANTV, Bakrie Investindo (60%) dan Hasmuda Internusa (40%) tak sanggup melunasi hutang tersebut.

Memang bukan cuma PT. Bhakti Investama yang tertarik membeli ANTV. Ada tiga investor. Pertama, Kelompok Kompas-Gramedia. Namun, kelompok media terbesar pimpinan Jakob Oetama ini mundur teratur, gara-gara permintaan pemotongan hutang ANTV ke BPPN tak dikabulkan. Kompas-Gramedia lebih memilih mendirikan stasiun televisi baru, yakni TV 7 (belakangan dibeli oleh Trans Corp dan berubah menjadi Trans 7). Bhakti pun mundur, karena permintaan yang sama seperti Kompas-Gramedia tak dikabulkan.

Investor ketiga yang tertarik membeli ANTV adalah PT. Indopac Media. Perusahan ini tak lain adalah pemegang 40% saham di harian Republika, pemilik radio One, majalah GolfDigest, dan media iklan luar ruang Layar Indonesia yang berlokasi di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta. Pemilik saham 50% PT. Indopac Media Erick Thohir sebenarnya sudah ada kesepakatan harga. Bahkan Erick sudah diplot menjadi Wakil Direktur Utama ANTV saat itu. Namun, Bakrie Group menginginkan pelunasan pembayaran dilakukan segera. Hal itulah yang membuat PT. Indopac mundur.

Baru pada 2013 ini, HT berhasil memenuhi hasratnya menguasai ANTV. Padahal, sebelumnya ANTV juga diperebutkan oleh Chairul Tanjung (CT). Pengusaha muda pemilik Trans Corp ini sebetulnya juga sudah cocok dengan harga penjualan ANTV yang isunya mencapai Rp 12 triliun. Kalo isu ini benar, harga segitu menjadi rezekinya ANTV (baca: Grup Bakrie). Sebab, total aset ANTV tidak mencapai segitu. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, CT mundur membeli ANTV, gara-gara Bakrie tidak mau melepas ANTV sebelum Pemilu 2014. Sementara HT tak masalah serah terima ANTV paska Pemilu 2014. Tiga stasiun televisinya –RCTI, MNC TV, dan Global TV plus sejumlah televisi lokal- sudah cukup “mewarnai” frekuensi dengan Partai Hanura pada 2014 kelak.

Demikianlah manuver HT menguasai media televisi. Andai dahulu HT menguasai SCTV, Indosiar, dan juga Mtero TV, maka kloplah HT sebagai konglomerat yang memonopoli stasiun televisi teresterial. Sesungguhnya, dengan dikuasainya ANTV setelah RCTI, MNC TV, dan Global TV, HT sudah bisa dikatakan memonopoli. Setidaknya ini dikatakan di Pasal 18 Ayat 1 dan Pasal 34 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Terlepas dari masalah monopoli televisi yang dilakukan HT, Partai Hanura senang bukan kepalang begitu HT bergabung. Apapun alasan HT maupun Partai Hanura mengenai penggunaan frekuensi untuk kepentingan politik praktis sudah bisa ditebak.

“Sudah merupakan komitmen Pak Hary untuk membesarkan partai (melalui kelompok usaha medianya),” ujar Yuddy.

Tentu, pemanfaatkan frekuensi yang akan dilakukan HT untuk Partai Hanura demi kemenangan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Apalagi sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, HT juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pelaksana Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Hanura. Menurut media milik HT, Sindo, target Partai Hanura adalah duduk di 3 besar dan lolos parliamentary threshold (PT). Dengan lolos PT, maka bisa mengajukan diri di Pilpres.

Namun, oleh mayoritas pengamat, agaknya target Partai Hanura tak akan terkabul, terlebih lagi setelah HT ditetapkan sebagai Cawapres untuk mendampingi Wiranto sebagai Capres pada 2 Juli kemarin. Partai Hanura pecah. Penetapan HT dianggap tak sesuai dengan mekanisme partai. Berdasarkan aturan AD/ ART, keputusan penetapan Capres dan Cawapres harus melalui rapat pimpinan nasional (Rapimnas). Apalagi sebelumnya Wiranto sempat mengatakan, penetapan Cawapres Partai Hanura dilakukan setelah hasil pemilu legislatif.

Nasi sudah jadi bubur. Meski baru bergabung menjadi kader Partai Hanura seumur jagung, HT tentu punya ambisi lain. Jelas, tak ada makan siang gratis. Setelah memonopoli stasiun televisi teresterial, HT jelas berambisi ingin berkuasa di politik. Sebagai Ketua Umum Partai Hanura pun tak bekutik dengan manuver HT. Tanpa menunggu PT dan mengadakan Rapimnas, keputusan sudah diambil. HT pun jadi Cawapres, Partai Hanura pun pecah. Layar seluruh televisi bakal seru. Sementara stasiun televisi yang pro-HT tetap dukung Partai Hanura yang pro HT, sisanya ramai-ramai mem-bully dan memberikan tempat buat tokoh-tokoh yang masuk ke dalam barisan sakit hati dari Partai Hanura.

Labels:

Friday, July 5, 2013

Oliver Stone: Kebrutalan Amerika Dimulai saat Jatuhkan Bom Atom


Hidayatullah.com--Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama ABC Australia, sutradara pemenang Academy Award, Oliver Stone mengatakan bahwa serangan bom atom yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Jepang bisa menjadi pembenaran atas kebrutalan yang dilakukan negara tersebut.

Bagi sutradara Oliver Stone, yang sudah tiga kali memenangkan piala Oscar, banyak di antara kejadian-kejadian di "Abad Amerika" yang memiliki maksud terselubung yang membelah perdamaian dunia.

Oliver Stone dan sejarawan Peter Kuznik baru-baru ini memproduksi sepuluh seri film dokumenter dan buku yang berjudul The Untold History of the United States, atau kisah-kisah sejarah Amerika yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

Proyeknya ini juga memberikan penjelasan soal pemetaan politik di abad ke-20.
Menurutnya, keputusan mantan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman, untuk menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II bermaksud agar warga AS terbiasa dengan laporan soal warga sipil yang tewas dalam perang.

Ia juga yakin kalau peristiwa tersebut menjadi salah satu cara untuk membuka kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang brutal.

Ada mitos yang menyebutkan bahwa penggunaan bom atom menjadi upaya agar Amerika Serikat menjadi pemenang dalam Perang Dunia II dan menjadi dasar agar negara Paman Sam mendominasi dunia.

"Tanpa bom, Amerika tidak dapat berbuat seperti apa yang mereka lakukan saat ini," kata Oliver dikutip ABC, Kamis (04/07/2013).

"Menjadi kenyataan bahwa Amerika Serikat memiliki segalanya, bangsa yang tidak bisa dikalahkan, karena telah membuktikan bahwa AS bisa saja menghancurkan semuanya. AS juga mempertahakan dominasi militer secara penuh di dunia."

Menurut Oliver juga, belum ada seorang pun di Amerika Serikat yang merasa malu atau meminta maaf atas apa yang terjadi di Iraq dan Vietnam.

Oliver Stone dan Peter Kuznik menegaskan bahwa masih ada kesempatan dibawah pemerintahan Obama untuk mengakhiri imperialisme dan dominasi Amerika Serikat. Mereka menganjurkan adanya pendekatan kolaboratif untuk pemerintahan global.

Tetapi Oliver tetap menaruh curiga pada Obama.

"Meski Obama berbicara dengan memukau, tetapi ia seperti serigala berbulu domba. Kadang ia bisa sangat keras. Sekarang senjata dan penguasaan ada dimana-mana dan akan semakin banyak lagi. Di tahun 2025, Amerika Serikat akan menguasai dunia maya."*

Labels:

Tuesday, July 2, 2013

Suka Memancing Emosi Narasumber, TV One Jadi Sorotan MenAg


MENTERI Agama Suryadarma Ali turut mengomentari insiden penyiraman Munarman kepada Thamrin Amal Tomagola dalam acara “Apa Kabar Pagi” di TV One. Dia menyoroti sikap presenter TV One yang tak ubahnya seorang penyidik.

“Saya lihat ini sukses Tv One. Karena memang sekarang ini ada kecenderungan membangun talkshow-talkshow dengan metode konflik itu. Kadang-kadang presenter itu melebihi dari pembahas,” jelasnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/7/2013).

Menurutnya, Munarman adalah sosok idealis tapi tetap tampil dengan memperlihatkan fakta-fakta. Sedangkan Tamrin Tamagola adalah cendekiawan yang kurang bisa mengontrol diri. Akhirnya terjadilah insiden siram air dari Munarman.

“Ini harus menjadi koreksi bagi seluruhnya,” katanya.

Kasus Munarman dengan Thamrin, kata Suryadharma, tidak lepas dari berbagai kepentingan Tv One. Media pimpinan Karni Ilyas itu dinilai membangun dialog panas dengan menggunakan metode konflik.

“Semakin tajam konflik dalam dialog itu, semakin sukses dialog itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menghimbau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan evaluasi dialog tersebut. “Iya harus bergerak begitu. Kalau bicara jujur, semuanya harus mengoreksi,” kata Suryadharma

Labels:

Friday, June 28, 2013

Wikileaks Bocorkan Hubungan Nasir Abbas dengan Dubes AS & Gories Mere


Situs WikiLeaks kembali membocorkan informasi rahasia Amerika Serikat (AS) mengenai Indonesia. Kali ini, yang dibocorkan adalah kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta dengan beberapa lembaga negara di AS mengenai Mohammad Nasir Abbas alias Khaeruddin, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI).

Isi kawat tersebut adalah permintaan Dubes AS untuk Indonesia Lynn Pascoe untuk menghapuskan nama Nasir Abas dari daftar keuangan teroris di AS dan PBB. Dalam kawat tertanggal 12 Juni 2006 itu tertulis status “Rahasia”. Judulnya, “ REMOVING FORMER JI-LEADER NASIR ABAS FROM TERRORIST FINANCE LISTS” demikian seperti dikutip inilah.com, Kamis (27/6/2013).

Sebelumnya, nama Nasir Abas memang masuk dalam daftar yang patut diwaspadai oleh AS dan PBB dalam hal keuangan jaringan terorisme. Dalam daftar itu, nama Nasir Abas tertulis Sulaiman bin Abas alias Moh Nasir bin Abas.

Permintaan itu disampaikan kepada Departemen Kehakiman, Departemen Keuangan, Menteri Luar Negeri, FBI, dan Dewan Keamanan Nasional. Alasan pencabutan itu karena Nasir Abas sudah dijadikan aset bagi Polri dalam hal tindakan kontra-terorisme.

Permintaan Pascoe itu disampaikan menanggapi surat yang disampikan Nasir kepadanya. Nasir sebelumnya mengirim surat yang intinya menyatakan bahwa ia adalah “orang baik”. Nasir menyatakan ia pernah ditahan di Indonesia pada April 2003. Namun selama penahanan itu ia kooperatif dengan kepolisian karena tidak pernah setuju dengan tindakan serangan yang dilakukan oleh Jemaah Islamiyah.

Pascoe juga mengakui pernah bertemu Nasir dan membicarakan posisi dirinya. Saat itu, Nasir menceritakan latar belakang, pandangan soal terorisme, dan rencana di masa mendatang.

Ansyaad Mbai, Gories Mere dan Sidney Jones Dukung Nasir Abbas

Amerika Serikat (AS) menilai mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas sudah kooperatif dengan pihaknya dan Polri dalam pemberantasan terorisme. Karena itulah Kedubes bersedia membantu mencabut nama Nasir dari daftar teroris milik pemerintah AS dan PBB.

Hal tersebut terungkap dari bocoran kawat diplomatik Kedubes AS dengan sejumlah lembaga pemerintah AS yang diungkap situs WikiLeaks belum lama ini. Dalam kawatnya yang bocor itu itu, Dubes AS untuk Indonesia Lynn Pascoe menyatakan Nasir kini sudah menjadi aset penting bagi Polri.

Karena itulah, saat Nasir meminta namanya dicabut dari daftar teroris versi AS dan PBB, Pascoe merasa berkepentingan untuk memberitahu siapa Nasir kepada sejumlah lembaga terkait di AS. Bahkan, untuk mendukung pencabutan itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, Komandan Densus 88 Gories Mere dan Bekto Suprapto menemui Pascoe secara langsung.

Dalam kawat itu, disebutkan Ansyaad Mbai melobi langsung kepada Pascoe pada 21 Februari 2006 sedangkan Gories Mere dan Bekto bertemu Pascoe pada 1 Juni 2006. Bekto mengungkapkan kepada Pascoe bahwa Nasir sudah memberikan kontribusi penting bagi kegiatan kontra terorisme Polri, baik dalam hal investigasi maupun deprogramisasi teroris.

Untuk menguatkannya, Gories Mere menyerahkan surat internal Polri kepada Menkopolhukam Widodo AS yang isinya merekomendasikan pemerintah untuk mencabut Nasir Abas dari daftar E.O 13224 dan UNSCR 1267.

Bukan hanya itu, Pascoe juga berdiskusi dengan pakar terorisme Sidney Jones yang kerap berkomunikasi dengan Nasir maupun Polri. Sidney merekomendasikan hal serupa, mencabut Nasir dari daftar hitam itu.

Labels:

Wow, Pendapatan pengemis di Jakarta lebih besar dari manajer

Jakarta - Dengan muka memelas mereka menyusuri jalan-jalan Jakarta yang berdebu. Menadahkan tangan meminta sedekah. Sebagian tampil dengan anggota tubuh tak lengkap, sebagian lagi membawa bayi mungil yang dekil dalam gendongan. Penampilan para pengemis itu mengundang iba. Selembar seribu atau dua ribuan dengan ikhlas direlakan para dermawan untuk mereka.

Benarkah para pengemis yang setiap hari lalu lalang itu hidup menderita? Ternyata tidak semua.

Petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan. Dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

"Kalau yang segitu biasanya didapat pengemis dengan tingkat kekasihanan yang sangat sangat kasihan. Seperti pengemis kakek-kakek atau ibu-ibu yang mengemis dengan membawa anaknya," ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda saat ditemui di kantornya, Selasa (25/6).

Kemudian, lanjutnya, untuk pengemis dengan tingkat kasihan yang standar atau biasa saja dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Itu seperti anak-anak jalanan yang saat mengemis mengandalkan muka memelas," tuturnya.

Satu hari Rp 1 juta, kalikan 30 hari. Pengemis ini bisa dapat Rp 30 juta per bulan. Bermodal perkusi dari tutup botol, anak-anak jalanan mengantongi Rp 12 juta lebih.

Maka silakan bandingkan dengan gaji manajer di Jakarta. Penelusuran merdeka.com, gaji manajer di Jakarta rata-rata berkisar Rp 12 hingga 20 jutaan. Gaji pemimpin cabang sebuah bank rata-rata Rp 16 juta. Sementara Kepala Divisi Rp 20 juta.

Rata-rata butuh waktu sekitar tujuh tahun bagi seorang profesional mencapai level manajer. Tak mudah mencapai posisi itu.

Untuk fresh graduate atau sarjana yang baru lulus dan tak punya pengalaman kerja. Kisaran gajinya Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta. Jika beruntung, ada perusahaan yang mau memberi hingga di atas Rp 4 juta. Tapi sangat jarang.

"Saya kerja jadi teller di bank. Sudah lima tahun, paling bawa pulang Rp 4 juta. Kaget juga dengar pengemis bisa dapet belasan sampai Rp 30 juta," kata Rani, seorang pegawai bank pemerintah saat berbincang dengan merdeka.com.

Luar biasa memang. Gaji seorang manajer kalah oleh pengemis. Teller bank yang selalu tampil cantik dan modis, gajinya hanya sepertiga anak jalanan yang bermodal tampang memelas.

"Karena pendapatan yang terbilang fantastis itulah, para pengemis enggan beralih profesi. Cukup bermodal tampang memelas, tanpa skill apapun mereka bisa dapat uang banyak dengan mudah," kata Miftahul Huda.

Dia menambahkan maraknya pengemis dan gelandangan yang tersebar di Ibukota disinyalir sudah teroganisir. Diduga ada sindikat yang mengatur kelompok pengemis yang kerap mendrop mereka di suatu tempat untuk kemudian 'beroperasi' di wilayah yang telah ditentukan.

"Kita pernah menelusuri ke kampung halamannya. Dan memang nyatanya mereka punya rumah yang bisa dibilang lebih dari cukuplah di kampungnya itu. Itu fakta yang kita dapatkan," jelas Miftahul.

Untuk itu, Miftahul mengimbau kepada masyarakat yang ingin memberikan sumbangan menyalurkan ke tempat yang tepat.

"Dengan menyalurkan ke badan zakat yang resmi, akan disalurkan ke yang berhak menerimanya. Dan secara otomatis ini mengurangi pengemis, karena tidak ada yang mau memberi di jalan," tandasnya.

Labels: