Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Saturday, July 27, 2013

Warganya Dituduh Sembunyikan Teroris, PP Muhammadiyah Berikan Advokasi


Pengurus Pusat Muhammadiyah secara khusus memberikan bantuan hukum bagi dua warganya, Sapari dan Mugi Hartanto, yang menjadi korban salah tangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror saat dilakukannya penggerebekan disertai penembakan dua terduga kasus terorisme jaringan Poso di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013).

Slamet Hariyanto Ketua Majelis Hukum dan HAM Pengurus Wilayah Muammadiyah Jawa Timur, Jumat mengatakan, instruksi dilakukannya pendampingan hukum disampaikan langsung oleh Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah, karena dua orang yang ditangkap Densus 88 dan disebut-sebut terlibat dalam persembunyian terduga kasus terorisme Poso adalah warga salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Instruksi disampaikan Pak Din Syamsudin melalui SMS (pesan singkat) saat beliau masih di Tokyo, Senin (22/07/2013) malam," terang Slamet seperti dilansir Antara.

Dikatakan, ada dua yang menjadi alasan PP Muhammadiyah secara khusus memberikan pendampingan hukum. Pertama karena kedua orang tersebut tercatat sebagai warga sekaligus pengurus cabang Muhammadiyah di Kecamatan Pagerwojo. Kedua karena munculnya keyakinan Sapari dan Mugi menjadi korban salah tangkap.

"Dari dua orang ini, yang menjadi korban paling parah adalah Pak Mugi Hartanto. Beliau bahkan tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan kedua tamu ini, dia hanya kebetulan beberapa saat sebelum kejadian (penggerebekan dimintai tolong untuk mengantar Riza dan Dayah, tamu pak Sapari yang berniat pulang dan minta diantar ke terminal," terang Ketua Majelis Informasi Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung, Timoer Prawiranegera menimpali.

Demikian juga dengan Sapari. Meski menjadi tuan rumah dan berinteraksi aktif dengan Riza, salah satu terduga kasus terorisme, perangkat dibagian Kaur Kesra Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo ini tidak mengenali latar belakang mubaligh tamunya tersebut selama tiga bulan tinggal dan beraktifitas di Masjid Al Jihad maupun Madratsah Aisiyah.

"Selama di desa itu pak Sapari juga tidak pernah menyembunyikan Riza. Mubalig tamu ini beraktivitas secara terbuka dan berinteraksi dengan masyarakat secara wajar, bahkan kamar tempatnya mondok (menginap) juga tidak pernah dikunci," imbuhnya.

Sayang, sejak kedua pengurus cabang Muhammadiyah Kecamatan Pagerwojo itu ditangkap dan dikait-kaitkan dengan terorisme, tim pengacara dari Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Provinsi Jatim sampai saat ini belum bisa bertemu dan bertatap muka langsung.

Pihak kepolisian di tingkat Polda Jatim dan Polres Tulungagung bahkan terkesan saling lempar informasi setiap kali ditanya perwakilan advokat yang ditunjuk PW Muhammadiyah Jatim.

"Iya, tapi tadi siang saya sudah bertemu dengan salah satu anggota Densus di Mapolda Jatim dan disampaikan bahwa Pak Sapari dan Mugi sudah dibantarkan di Mapolda, cuma belum bisa ditemui sekarang karena masih dalam pemeriksaan," terang Slamet Hariyanto.

Dikatakan, Densus memang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga terlibat kegiatan terorisme selama tujuh hari sejak penangkapan.

"Jadi kami memiliki waktu sampai hari Senin (29/07/2013) untuk mengetahui hasil pemeriksaan mereka, apakah saudara-saudara kita (Sapari dan Mugi Hartanto) terlibat (terorisme) atau tidak. Kalau tidak, otomatis akan langsung dilepas oleh Densus," tambahnya.

Slamet menegaskan, pihaknya bertekad untuk terus melakukan pendampingan hukum kepada kedua warga Muhammadiyah tersebut, termasuk apabila polisi bersikeras menetapkan keduanya sebagai tersangka dalam kasus terorisme.

"Kami akan dampingi sampai di Pengadilan untuk memastikan hak-hak hukum serta HAM kedua warga kami terlindungi," tegasnya.

Diberitakan, Sapari dan Mugi Hartanto ditangkap Densus 88 Antiteror saat dilakukannya operasi penggerebekan disertai penembakan di depan warung kopi Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Senin (22/07/2013).

Dalam operasi tersebut, dua pemuda terduga kasus terorisme, Riza dan Dayah alias Kim tewas ditembak anggota Densus dari jarak dekat, sementara Sapari dan Mugi ditangkap dalam kondisi hidup karena dituduh menjadi pemandu dan membantu persebunyian. Meski telah ditangkap sejak Senin, surat penangkapan dan penetapan tersangka keduanya baru disampaikan polisi Rabu (25/07/2013) malam.

Labels:

Makna Jihad, Membela Tanah Air Atau Membela Islam ?


Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang disebut melakukan jihad yang benar jika niatannya bukan disebut pemberani, bukan ingin disebut pahlawan, bukan ingin membela suku atau bangsa -dalam rangka cinta tanah air atau unsur nasionalisme yang dikedepankan-, tapi yang diperjuangkan adalah supaya kalimat Allah itu mulia, artinya supaya Islam itu jaya. Yang terakhir inilah yang disebut jihad yang shahih.

Dari Abu Musa, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk membela sukunya (tanah airnya); ada pula yang berperang supaya disebut pemberani (pahlawan); ada pula yang berperang dalam rangka riya’ (cari pujian), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu mulia (tinggi) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menunjukkan niatan jihad yang benar apabila dilakukan ikhlas karena Allah, meraih ridho-Nya. Sedangkan jika seseorang berjihad untuk disebut pemberani atau pahlawan; untuk membela kaum, negeri atau tanah airnya; atau supaya ia tersohor di kalangan orang banyak, maka ini semua adalah niatan yang keliru. Karena setelah ditanya niatan seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas beralih dengan mengatakan bahwa jihad itu untuk membela kalimat Allah, artinya untuk membela Islam.

Hadits di atas bermaksud menerangkan bahwa tidak ada beda antara kita dengan orang kafir jika maksud kita berjihad atau berperang hanyalah untuk membela tanah air. Karena niatan orang kafir pun demikian. Seorang muslim haruslah punya niatan untuk berperang untuk “membela Islam” dan bukan untuk membela tanah air. Karena kalau niatannya untuk membela tanah air, matinya tidaklah disebut mati syahid.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

“Jika niatan seseorang dalam berperang hanyalah untuk membela tanah air, maka itu adalah niatan yang keliru. Niat seperti itu sama sekali tidaklah bermanfaat. Tidak ada beda antara muslim dan kafir jika niatannya hanyalah untuk membela tanah air. Sedangkan hadits yang menyebutkan “hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman)”, ini adalah hadits dusta, yang bukan berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cinta tanah air jika yang dimaksud adalah cinta negeri Islam, maka itu disukai karena yang dibela adalah Islam. Namun sebenarnya tidak ada beda antara negerimu dan negeri Islam yang jauh, semua adalah negeri Islam yang wajib dibela.

Jadi patut diketahui niat yang benar ketika berperang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negeri kita yang termasuk negeri Islam, bukan sekedar membela tanah air.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 66).

Beliau mengatakan pula di halaman yang lain,

“Yang harus diperhatikan bahwa di berbagai media banyak yang berkoar ketika berjihad (berperang) dengan menuliskan ‘ayo bela tanah air kita, ayo bela tanah air!’ Ini bukan Islam yang dibela. Ini sungguh kekurangan yang besar. Harusnya umat Islam diarahkan ke jalan yang benar ketika ingin berjihad.” (Idem, hal. 69).

Faedah lain dari hadits ini diterangkan oleh Syaikh Musthofa Al Bugho hafizhohullah, “Yang disebut keutamaan jihad di jalan Allah adalah jika Islam yang dibela. Akan tetapi hal ini tidaklah menghalangi untuk tetap memandikan orang yang mati di medan perang dan dianggap sebagai syahid sehingga ketika matinya tidak mandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, namun langsung dikuburkan. Sedangkan niatan yang benar atau keliru dari orang yang mati tersebut, semuanya diserahkan pada Allah.” (Nuzhatul Muttaqin, hal. 16).

Hadits ini pun menunjukkan hendaklah amalan mulia seperti jihad dimulai dengan ilmu terlebih dahulu. Karena sahabat yang bertanya tidaklah pergi berjihad sampai ia bertanya manakah niatan yang benar dalam jihad. Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, hal. 36.

Semoga niatan kita dalam beramal dan berjihad nantinya hanyalah untuk Allah, terkhusus jihad kita hanya untuk membela Islam.

Labels:

Friday, July 26, 2013

Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam


Pada acara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” karya Mohamad Fadhilah Zein, terungkap kisah ‘aneh’ bin ‘lucu’ dari Pengamat “Terorisme” Mustofa B Nahrawardaya.

Aktivis muda Muhammadiyah ini mengisahkan saat peristiwa bom Marriott yang pertama, pada Selasa, 5 Agustus 2003. Ledakan di hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB itu berasal dari bom mobil dengan menggunakan Toyota Kijang nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Sebanyak 12 orang meninggal dan tewas dalam ledakan tersebut, termasuk Asmar Latin sani, dan mencederai 150 orang lainnya.

‘Aneh’nya, kata Mustofa, badan si pembawa bom dari dalam mobil kijang di depan lobi hotel itu hancur, tapi ‘lucu’nya, kepalanya (Asmar Latin Sani, red) ada di lantai 4 JW Marriott. Kok bisa terpisah? “Nah, …bagaimana mungkin itu?” tanyanya saat menjadi salah seorang pembicara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’ di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (21/7/2013) .

“Karena itulah, itu yang saya maksud fakta-fakta, termasuk kasus-kasus ‘terorisme’ itu bisa dibuat sedemikian rupa,” imbuh Mustofa. Dan, lebih parah lagi fakta-fakta ‘aneh’ dan ‘lucu’ itu tak diungkap media massa. Artinya, media massa mainstream membiarkan kejanggalan dan kezaliman itu terjadi.

Mustofa menggambarkan contoh lain, bagaimana fakta-fakta (yang merugikan umat Islam) itu dibuat, yaitu dalam kasus pelatihan Mujahidin di Aceh pada 2010 yang dalam pemberitaan media massa disebut sebagai pelatihan militer untuk aksi terorisme di Aceh.

Mustofa mengungkapkan, sebenarnya pelatihan di Aceh itu informasinya adalah untuk rencana pengiriman Mujahidin perang ke Palestina, bukan untuk aksi “terorisme”. “Banyak yang daftar, termasuk dari FPI banyak yang ikut, karena yang mengajak itu mantan Brimob, namanya Sofyan Tsauri,” papar Mustofa.

“Sudah mantan Brimob, senjatanya dari Brimob juga, resmi ya, dengan pembelian ilegal, dipakai latihan di Aceh, dishooting. Ketika latihan dishooting. Coba kau nembak ya, ow kayak di Timur Tengah, dor dor dor…Allahu Akbar…Allahu Akbar. Persis di video, itu lho kalau Ayman Zawahiri atau Usamah bin Ladin saat menembak dengan AK-47 itu, dibikin persis,” ungkap Mustofa.

“Tetapi di video itu tidak tahu kalau mereka akan diberitakan sebagai latihan militer oleh sipil. Mereka tahunya akan (dikirim, red) ke Palestina,” kata Mustofa lagi. “Banyak anak-anak FPI dijebak di acara itu.”

Bahkan, kata Mustofa, sebagian dari mereka itu diajak latihan ke Brimob juga. “Ini saya dengar di fakta persidangan lho. Jadi, sebagian mereka dilatih di Mako Brimob, dilatih oleh polisi juga, karena tahunya akan ke Palestina, jadi mereka semangat.”

Termasuk, yang peristiwa di Temanggung itu, kata Mustofa. Dia mengaku tahu persis, karena rumah yang dijadikan untuk menyerbu “teroris” itu milik pengurus Muhammadiyah di Temanggung, namanya Mujahri.

“Jadi peristiwa pengepungan 21 jam di Temanggung itu saya tahu persis. Saksinya masih ada, dari pengurus Muhammadiyah. Anda tahu, berapa orang yang meninggal dalam penyerbuan 21 jam dengan seribuan peluru yang melibatkan sekitar 600 polisi itu?” tanya Mustofa.

“Yang meninggal cuma satu, namanya Ibrahim. Berapa kali kena tembakan? Satu juga (satu kali tembakan, red). Janggal nggak?” ujar Mustofa. “Kalau dibilang janggal, ya wajar, karena Anda orang Islam,” Mustofa menambahkan.

Ya iyalah, penyerbuan hampir 24 jam, melibatkan sekian banyak media, dalam dan luar negeri, kata Mustofa, mengeluarkan sekian ribu peluru, tapi nyatanya cuma satu peluru yang ditembakkan untuk sang “terduga teroris” bernama Boim (Ibrahim).

“Tapi peristiwa itu menjadi momen berita nasional, betapa berbahayanya ‘terorisme’. Jadi, ada modus dari media-media mainstream itu untuk membuat ini terjadi, pertama, dengan cara tidak memberitakan atau meliput peristiwa itu jika menguntungkan umat Islam. Dan, kemungkinan kedua, memberitakan, jika peristiwa itu merugikan umat Islam. Kalau tidak ada peristiwa, maka peristiwa juga bisa dibuat supaya menjadi berita. Itu yang saya maksud fakta bisa dibuat.”

Dalam hal ini, lanjut Mustofa, termasuk berita yang berkaitan dengan tuduhan “Rohis Teroris”, itu adalah fakta yang dibuat, berangkat dari penelitian yang dibikin, yang kemudian diberitakan di sebuah stasiun televisi.

Kata Mustofa, penelitinya, Prof Bambang Pranowo dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat dia datangi, kenapa menyebut Rohis “sarang teroris’, dari mana, maunya apa. Prof Bambang akhirnya mengakui bahwa yang dia paparkan boleh salah, tapi tidak boleh bohong.


“Dia sampaikan, bahwa penelitian ini boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” ungkap Mustofa menirukan ucapan Bambang. Masalahnya, kata Mustofa, Prof Bambang itu mewawancarai anak-anak SMP dan SMA dengan pertanyaan yang sangat resisten, misalnya apakah kamu setuju kalau lurah atau kepala desa itu non-Muslim, sementara mayoritas warga adalah Muslim.

“Ya, kalau lurahnya non-Muslim, sementara warganya mayoritas Muslim, Muslim mana yang setuju? Ditanya juga, apakah setuju dengan penggerebekan di sebuah hotel terhadap pasangan yang bukan suami istri, pasangan kumpul kebo, ya jawabnya setuju, itu kan bentuk nahi mungkar! Nah, jawaban-jawaban itu dipakai untuk kesimpulan survei bahwa ternyata anak-anak SMP-SMA yang masuk Rohis itu radikal,” urainya.

Jadi, fakta bisa dibuat peristiwanya dengan cara: melakukan survei, memunculkan peristiwanya, menyiapkan media dan nara sumbernya. “Dicari narasumber yang merugikan umat Islam,” demikian paparan Mustofa.

Labels:

Wednesday, July 24, 2013

Pentingnya Sedekah di Bulan Ramadhan


Selain dikenal sebagai syahru shiyam, syahru qiyam, dan syahru Qur'an, Ramadhan juga masyhur dengan syahru muwasah (bulan bersimpati dan menolong) kepada fakir miskin dengan berbagi dan bersedekah. Dan bersedekah ini, termasuk salah satu dari amal utama di bulan yang sangat mulia ini.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)

Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan. Dan ini haruslah menjadi motifati/pendorong seorang muslim menjadi lebih dermawan pula di bulan yang mulia. Maka pada tulisan ini kami akan tuturkan beberapa sebab yang lebih bisa mendorong kaum mukminin yang sedang berpuasa Ramadhan untuk lebih dermawan di dalamnya. Antara lain:

1. Kemuliaan zaman (waktu) dan dilipat gandakannya amal-amal shalih di dalamnya. Dalam Sunan al-Tirmidzi, dari Anas bin Malik secara marfu', "Shadaqah yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan."

2. Membantu shaimin, qaimin, dan dzakirin untuk menjalankan ketaatan mereka. Inilah yang menjadi sebab ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka. Dalam hadits Zaid bin Khalid, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

"Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

3. Bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan di mana Allah berderma (melimpahkan kebaikan) kepada para hamba-Nya dengan mecurahkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, terlebih di Lailatul Qadar. Allah Ta'ala akan menyayangi para hamba-Nya yang senang mengasihi yang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

"Sesungguhnya Allah akan merahmati para hamba-Nya yang ruhama' (suka mengasihi yang lainnya)." (HR. Al-Buhkari) Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal.

4. Puasa dan shadaqah, keduanya menjadi sebab yang bisa menghantarkan ke surga. Seperti yang terdapat dalam hadits Ali Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,

"Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, kontinyu melaksanakan shiyam, dan shalat malam karena Allah di saat manusia tertidur." (HR. Al-Tirmidzi)

Amal-amal ini terkumpul pada bulan Ramadhan, di mana seorang mukmin mengumpulkan shiyam, qiyam, shadaqah, dan berkata yang baik di dalamnya. Pada saat yang sama, orang yang puasa menahan diri dari tindakan lahwun (sia-sia) dan tercela.

Shiyam, shadaqah, dan shalat bisa menghantarkan pelakunya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebagian ulama salaf berkata, "Shalat menghantarkan pelakunya kepada pertengahan jalan, puasa menghantarkannya sampai ke pintu raja, sementara shadaqah meraih tangannya untuk dimasukkannya menemui sang raja."

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian di pagi ini yang berpuasa?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah mengantarkan jenazah hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah memberi makan orang miskin hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah mengeluarkan shadaqah?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Lalu beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah amal-amal tersebut terkumpul pada diri seseorang kecuali ia akan masuk surga."

5. Berkumpulnya puasa dan shadaqah lebih kuat untuk dihapuskannya kesalahan, dipelihara dari jahannam, dan dijauhkan darinya. Lebih lagi, kalau digabung dengan qiyamullail. Terdapat sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa menjadi tameng." (HR. al-Nasai)

Dalam riwayat lain, "Tameng salah seorang kalian dari neraka sebagaimana tameng yang melindunginya dari serangan musuh." (HR. al-Nasai)

Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,

"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."

6. Dalam pelaksanaan puasa pastilah ada cacat dan kurang, sedangkan puasa bisa menghapuskan dosa-dosa bila puasanya memenuhi syaratnya, yaitu terjaga dari yang seharusnya dipeliharanya. Hal ini seperti yang terdapat dalam hadits yang dikeluarkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya.

Umumnya manusia, puasanya tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dipeliharanya. Oleh karena itu, seseorang dilarang mengatakan: "Aku telah berpuasa atau qiyam Ramadhan secara sempurna." Maka shadaqah menutup kekurangan dan cacat padanya. Karenanya, pada akhir Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah sebagai permbersih bagi orang yang berpuasa dari perkara lahwun dan perbuatan tercela.

7. Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya karena Allah. Jika ia menolong para shaimin untuk bertakwa dengan menyediakan makan dan minum untuk mereka maka kedudukannya seperti orang meninggalkan sikap egoisnya karena Allah dengan memikirkan dan membantu yang lain. Karena itu disyariatkan mengajak orang lain untuk berbuka bersamanya yang pada saat itu makanan menjadi sesuatu yang paling disukainya. Jika ia bisa berbagi dengan yang lain, semoga ia menjadi bagian dari orang yang memberi makanan yang disukainya kepada yang lain. Hal itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya makan dan minum untuknya setelah sebelumnya dilarang. Dan nikmat makan dan minum akan terasa luar biasa setelah sebelumnya tidak dibolehkan.

Sebagian ulama salaf saat ditanya tentang hikmah disyariatkan berpuasa menjawab, "Supaya orang kaya merasakan rasanya lapar sehingga tidak lupa terhadap orang-orang kelaparan." Dan ini termasuk hikmah dan faidah pelaksanaan ibadah shaum.

Disebutkan dalam hadits Salman, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan muwasah (bersimpati/menolong orang lain). Maka siapa yang tidak mampu mengutamakan orang lain atas dirinya maka tidak termasuk orang yang suka menolong. Maka kita lihat banyak ulama salaf yang lebih mengutamakan orang lain saat berbuka, bahkan melayaninya. Adalah Ibnu Umar saat berpuasa, ia tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya melarangnya, maka ia tidak makan pada malam itu. Dan jika datang seorang pengemis padahal ia bersiap akan makan, maka ia ambil sebagian dari makanan itu lalu ia bawa pergi untuk diberikan kepada pengemis tadi, dan saat ia kembali sisa makanan tadi sudah habis dimakan keluarganya, maka pada saat itu ia berpuasa dan tidak makan apa-apa.

8. Sebab lainnya, kenapa kaum muslimin bersikap dermawan pada bulan Ramadhan ini adalah seperti yang diutarakan oleh Imam Syafi'i, al-Qadhi 'Iyadh, Abu Ya'la, dan lainnya rahimahumullah, "Sesuatu yang paling disuka oleh seseorang dalam menambah kedermawanan di bulan Ramadhan adalah karena mencontoh kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." Juga karena pada bulan tersebut manusia terdesak dengan kebutuhan pokoknya sementara kesibukan kerja mereka tersita dengan ibadah shaum dan shalat tarawih. Sehingga jika orang kaya berbagi kepada saudara muslimnya yang kurang mampu, ia telah meringankan beban orang lain dan mempermudah urusannya. Dan Allah senantiasa menolong hamba, selama dia gemar menolong sesamanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. . . dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya." (HR. Muslim) Hadits tersebut menunjukkan keutamaan memenuhi kebutuhan kaum muslimin, memberi kemanfaatan bagi mereka dengan ilmu, harta, bantuan, nasihat, arahan kepada yang lebih bermanfaat bagi mereka, dan yang lainnya. Wallahu Ta'ala A'lam.











Labels:

Tuesday, July 23, 2013

Tha`ifah Manshurah, Golongan Mujahid Pilihan Allah


THA`IFAH Manshurah atau Tha`ifah Zhahirah adalah satu kelompok kecil dari umat Islam yang mendapat pertolongan Allah dan merupakan manusia-manusia pilihan Allah yang selalu ada sejak masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang berakidah sesuai pemahaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, menjauhi dosa-dosa besar dan dosa kecil semampu mereka, berusaha mengamalkan sunnah mulai dari yang paling kecil hingga yang besar dan jelas sikap fanatiknya pada Islam, anti nasionalisme dan pemetakan berdasarkan ras dan daerah. Hanya satu yang menyatukan mereka yaitu akidah Islam dan permusuhan terhadap thaghut.

Salah ciri mereka yang jelas terlihat adalah bahwa mereka berperang di jalan Allah. Sekali lagi saya menggunakan kata perang (قِتَال) bukan jihad yang masih bisa diinterpretasikan lain selain angkat senjata membunuh atau dibunuh musuh.

Berikut beberapa riwayat tentang tha`ifah manshurah yang mengandung tegas kalimat qital (berperang) di jalan Allah.

1.Hadits Jabir bin Samurah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Agama ini akan selalu tegak dimana ada sekelompok kaum muslimin berperang membelanya sampai hari kiamat.”

(HR. Muslim, no. 1922 dalam kitab Al-Imarah, Musnad Ahmad, no. 20985).

Isnadnya hasan karena dalam sanadnya ada Simak bin Harb dimana haditsnya hasan bila bersendirian.



2.Hadits Jabir bin Abdullah yang juga diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, nomor 1923:

“Harun bin Abdullah dan Hajjaj bin Asy-Sya’ir menceritakan kepadaku, keduanya berkata, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata, Ibnu Juraij berkata, Abu Az Zubair mengabarkan kepadaku, bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang berperang di atas kebenaran dan menang sampai hari kiamat.”

Juga diriwayatkan oleh Ahmad dengan tambahan, “Lalu turunlah Isa putra Maryam dan berkatalah pimpinan mereka, “Mari shalat menjadi imam kami.” Tapi Isa berkata, “Tidak, melainkan salah satu dari kalian berhak memimpin yang lain sebagai penghormatan Allah kepada umat ini”.”

(Musnad Ahmad, no. 15127).

3.Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang juga diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 1037 dalam riwayat mutabi’:

Ishaq bin Manshur menceritakan kepadaku, Katsir bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Ja’far yaitu putra Burlan menceritakan kepada kami, Yazid bin Al-Ashamm menceritakan kepada kami, dia berkata, Aku mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufyan menyebutkan sebuah hadits yang dia riwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan belum pernah aku dengar dia meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di mimbarnya selain hadits ini. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya maka dia akan dipahamkan dalam urusan agama. Akan senantiasa ada sebagian kecil dari umatku ini yang berperang di atas kebenaran dan selalu menang menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai hari kiamat.”



4.Hadits Imran bin Hushain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang berperang di atas kebenaran dan menang melawan orang yang memerangi mereka sampai generasi terakhir mereka akan berperang melawan Al-Masih Ad-Dajjal.”

(Hr.Abu Daud, no. 2484, Ahmad dalam musnadnya nomor 19920, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 8391 dia menyatakan hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, serta diiyakan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 1959).

4.Hadits Uqbah bin Amir yang berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari kalangan umatku yang berperang berdasarkan urusan Allah yang mengalahkan musuh mereka. Orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka sampai datang kiamat kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

(HR. Muslim, no. 1924).

5.Hadits Salamah bin Nufail Al-Kindi yang berkata,

“Aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka ada seorang laki-laki datang dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang telah melepas kuda dan meletakkan senjata dan mereka katakan bahwa jihad tidak ada lagi dan alat-alat perangpun sudah dikemas.” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menghadapkan wajahnya dan berkata,

“Mereka salah! Justru sekarang inilah, ya sekarang inilah saatnya perang dan akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati sebagian orang untuk mereka sehingga mereka bisa memperoleh rezeki dari orang-orang yang tersesat itu. Itu akan berlangsung terus hingga hari kiamat atau sampai datangnya urusan Allah…..” sampai akhir hadits.

(HR. An Nasa`iy, no. 3561, Ahmad dalam musnadnya, no. 16965 dinyatakan hasan sanadnya oleh Al-Arnauth.

Inilah hadits-hadits yang menyatakan bahwa salah satu ciri tha`ifah manshurah yang dijanjikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang akan selalu ada sepanjang zaman adalah berperang melawan musuh Allah.

Jumlah mereka sedikit, karena kata tha`ifah atau ‘ishabah yang terdapat dalam hadits menunjukkan bahwa mereka hanya sekelompok orang, bukan mayoritas umat Islam. Mengingat tidak semua orang mampu melakukan jihad dalam bentuk perang, hanya manusia pilihan Allah yang akan melaksanakannya.

Dengan melihat ciri tersebut bisa kita lihat saat ini ada dimana saja kelompok itu. Sebab kata qital atau perang sudah sangat spesifik tak lagi bisa diartikan menulis buku, mendalami hadits, membantah ahli bid’ah lewat tulisan dan lain-lain. Akan tetapi, tidak semua mereka yang berperang akan dianggap masuk kelompok ini, karena hanya mereka yang berakidah lurus dan memperjuangkan agama Allah saja yang berhak menyandangnya. Sedangkan yang berperang karena rasa nasionalisme semata, atau demi kepentingan duniawi dan bukan untuk menegakkan syariat Allah atau akidah mereka menyimpang maka tidak bisa dikategorikan kelompok ini.

Peperangan merupakan sunnatullah yang akan terjadi karena orang-orang kafir akan selalu berusaha merongrong Islam dan kaum muslimin sampai kita mau tunduk terjajah oleh mereka dan itulah yang dijanjikan Allah dalam surah Al Baqarah ayat 120.

Maka umat ini akan selalu ditimpa bencana serangan dari orang-orang kafir. Ini mengingatkan kita kepada pernyataan emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika terjadi penyerangan Tartar, dimana Ibnu Taimiyah membagi kelompok umat Islam saat itu menjadi tiga:

1. Thaifah Manshurah yaitu mereka yang berjihad melawan Tartar sang perusak.

2. Tha`ifah Mukhalifah yaitu kaum perusak itu sendiri beserta orang-orang Islam yang mengikuti dan bersekutu dengan mereka.

3. Tha`ifah Mukhadzilah, yaitu mereka yang hanya duduk dan tidak mau angkat senjata, meski sikap keislaman mereka benar.

(Lihat Majmu’ Al Fatawa jilid 26, hal. 416-417).

Apa yang terjadi di masa Ibnu Taimiyah ini terjadi lagi sekarang di Irak, Afghanistan, Palestina dan belahan bumi lainnya. Tha`ifah Manshurah mengambil peran mereka dalam mempertahankan agama Allah dengan angkat senjata, dan mereka itulah yang sedang berperang di sana. Sedangkan tha`ifah mukhalifah adalah para pemimpin munafik model Hamid Karzai yang menjadi kaki tangan orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Sedangkan tha`ifah mukhadzilah adalah mereka yang tidak mau angkat senjata dengan berjuta alasan, mulai dari merasa diri masih lemah, jihadnya tidak syar’i sampai yang memang tidak peduli. Semoga ada kelompok keempat yaitu mereka yang berniat untuk membantu saudara-saudaranya yang berjihad di sana namun belum mendapat kemampuan dan kesanggupan, tapi mereka mendukung dan tidak malah menghina perjuangan saudaranya itu dengan cap khawarij dan lain sebagainya yang hanya menguntungkan Amerika dan sekutu-sekutunya.











Labels:

Thursday, July 11, 2013

Prawoto, Figur Negarawan Amanah yang Kian Terlupakan [Bag 2]

Partai Masyumi yang dikenal melahirkan politisi Muslim berwibawa dan sederhana

Memo Masyumi pada Soekarno

Masyumi memang mempunyai pendirian yang tegas. Ketika Soekarno membentuk Kabinet Gotong Royong, merangkul PKI dan menyebarkan ide-ide komunis, Natsir, Prawoto, HM Rasyidi dll. menyatakan sikapnya untuk menjadi oposan Presiden Soekarno. Akibatnya, hampir semua tokoh Masyumi mengalami beratnya perjuangan dengan "gemblengan" di rumah-rumah tahanan negara.

Sikap oposan terhadap Soekarno memuncak, ketika Soekarno dengan tanpa alasan yang jelas membubarkan Partai Islam terbesar itu. Lewat Keputusan Presiden RI No. 200/1960 tertanggal 17 Agustus 1960 (dan merujuk Penetapan Presiden No.7/1959) Soekarno embubarkan Masyumi.

Alasannya, menurut Soekarno, "Partai melakukan pemberontakan, karena pemimpin-pemimpinnya turut serta dalam pemberontakan apa yang disebut dengan "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" atau "Republik Persatuan Indonesia" atau telah jelas memberikan bantuan terhadap pemberontakan, sedang partai itu tidak resmi menyalahkan perbuatan anggota-anggota pimpinan tersebut."

Menanggapi keputusan Presiden yang semena-mena dan mendadak itu, Prawoto Mangkusasmito (Ketua Umum) dan HM Yunan Nasution (Sekretaris) menyampaikan surat pembubaran Masyumi dan sekaligus menyampaikan "memorandum keras" kepada ayahnya Megawati itu. Dalam pengantar memo itu, Prawoto mengungkapkan bahwa Masyumi sejak didirikan selalu berpegang teguh pada hukum dan kesepakatan bersama dalam bernegara.

"Umat Islam dibesarkan untuk memegang janji itu, tidak terkecuali janji yang diberikan kepada golongan lain, sampai pula janji yang diberikan kepada golongan yang menurut faham Islam dinamakan golongan kafir," tulis Prawoto, tertanggal 13 September 1960.

Memo itu selanjutnya meminta kepada tokoh-tokoh Masyumi untuk tetap memperjuangkan hukum Islam dan menyindir kekuasaan Soekarno yang cenderung diktator. "Orang-orang yang benar-benar memperjuangkan Islam, tidak bisa lain dari bertujuan supaya hukum Islam berlaku dan terutama untuk si pejuang sendiri, hukum Islam dengan segala batas dan larangan-larangannya, yang tidak boleh dilanggar oleh si Muslim yang kebetulan berkuasa."

Sebelum Masyumi dinyatakan bubar, Prawoto sebenarnya telah memberikan kuasa hukum kepada Mohammad Roem, Mr. Madoeretno Haaznam dan Mr. Djamaluddin Dt. Singo Mangkuto untuk menggugat Soekarno lewat Pengadilan Negeri Istimewa, Jakarta. Gugatan itu kemudian disampaikan oleh Mohammad Roem 9 September. Roem menulis bahwa Penpres No. 7/1959 itu, tidak mempunyai kekuatan hukum dan merupakan penyimpangan UUD 45.

Karena itu, Kepres 13/60 juga batal demi hukum. Pembubaran Masyumi, menurut Roem, menutup pintu bagi berjuta-juta warga negara untuk beramal dan karena itu menimbulkan kerugian yang tak terhingga.

Tapi usaha rehabilitasi Masyumi gagal, karena Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta lewat Ketua Pengadilannya M Rochjani Soeoed, menyatakan Pengadilan itu tidak berwenang memeriksa perkara gugatan yang disampaikan Masyumi.

Tidak mengenal letih, Prawoto dan kawan-kawan terus mengusahakan rehabilitasi Masyumi pada masa awal Soeharto berkuasa. Tapi, sayangnya Soeharto seperti juga Soekarno menolaknya, meski Orde sudah berganti.

Bukan hanya Masyumi yang gigih untuk memperjuangkan kembali eksistensinya, PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang juga dibredel Soekarno juga aktif melakukan usaha rehabilitasi. Di masa Soeharto, dalam Musyawarah Nasional III Persahi (Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia) dikeluarkan tuntutan agar partai-partai yang dibubarkan Soekarno (Masyumi, PSI,KAMI dan Murba) direhabilitasi kembali (3 Desember 1966). Tapi usaha itu lagi-lagi gagal.

Perjuangan Islam

Dalam pidato-pidato usai pembubaran Masyumi, Prawoto sering menguraikan secara menarik isu-isu Masyumi waktu Soekarno berkuasa.

Salah satu diantaranya uraiannya mengapa Masyumi menolak tegas gagasan Presiden agar kabinet disangga empat kaki, yaitu Masyumi, NU, PNI dan PKI. "Kita tidak bisa berkompromi dengan kaum komunis sehingga sampai-sampai kita dinyanyikan berkepala batu," urainya pada reuni Keluarga Besar Bulan Bintang di Jakarta, pada 24 Oktober 1966.

Prawoto dalam kesempatan itu juga menyebut adanya phobi kepada Masyumi. Ia menyebut ada mitos yang diciptakan (Soekarno dan pengikutnya) bahwa Masyumi anti Pancasila dan Masyumi akan membawa revolusi ke kanan.

Ia mengakui bahwa Masyumi memang berjuang menegakkan hukum Islam. Lain dengan beberapa "partai Islam" sekarang yang ragu-ragu memperjuangkan hukum Islam, dalam Anggaran Dasarnya, Masyumi secara eksplisit mencantumkan terlaksananya hukum Islam sebagai tujuan. Masyumi juga menegaskan bahwa anggota partai adalah mereka yang beragama Islam.

Perjuangan Masyumi untuk mendukung Piagam Jakarta, tidaklah setengah-setengah. Tokoh-tokoh Masyumi saat itu, rajin melobi partai-partai lain sehingga dukungan untuk Piagam Jakarta sampai meraih 43% suara dalam pemungutan suara di Konstituante. Tapi, perlu dicatat, menurut Prawoto, yang menolak Piagam Jakarta ada penyokong palsu. Yaitu PKI, yang saat itu setuju digunakan sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja.

Sebenarnya cukup aneh bila ada partai yang mengaku partai Islam, tapi Agak enggan dalam memperjuangkan terlaksananya Islam dalam masyarakat dan negara. Padahal Soekarno sendiri yang mazhab ideologinya "gado-gado" pernah menyatakan silakan masing-masing golongan memperjuangkan ideologinya.

"Kalau fihak Islam menghendaki suatu Undang-undang Dasar yang sesuai dengan cita-citanya, berjuanglah sekeras-kerasnya di dalam permusyawaratan perwakilan itu. Jika golongan Kristen, ingin supaya cita-citanya termasuk Undang-undang Dasar, berjuanglah sekeras-kerasnya juga," kata Soekarno.

Karena itu, Hamka sebagaimana juga Prawoto tidak mengenal lelah untuk perjuangan tegaknya Islam itu. Hamka, ulama dan tokoh Masyumi lainnya sering mengingatkan, "Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah sekali-kali boleh kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Dan jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, 'Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum Syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu?' Janganlah berbohong dan mengolok-olok jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang telah digariskan Tuhan dalam al Qur'an kita pungkiri?" (Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 6).

Partai Islam mestinya kukuh dalam memegang prinsip-prinsip Islam dan sepatutnya mengambil keteladanan politisi-politisi Muslim pendahulu di negeri ini. Pertama, dalam berpolitik, ia dikenal pembela Islam, dan berani dalam menegakkan amar makruf nahi munkar dengan jalan konstitusional. Kedua, hidup dan berperilaku sederhana. Bukan untuk sekedar menumpuk kekayaaan atau bergaya-gaya telah memegang kekuasaan. Bila demikian tujuannya, apa beda dengan politisi sekuler?

Nah, bila politisi Muslim, khususnya mereka yang tergabung dalam Partai Islam, berperilaku sama dengan partai lain, khusunya tidak menjaga diri dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, maka bisa dipastikan masyarakat akan meninggalkannya. Nanti, yang tersisa adalah kader-kader yang kurang bermutu, yang tidak menjadi kebanggan umat. *

Labels: ,

Prawoto, Figur Negarawan Amanah yang Kian Terlupakan


BEDA ucapan dengan perbuatan, demikian istilah yang tepat untuk para politisi. Kalimat ini mengingatkan kita semua yang sebentar lagi musim kampanye tiba.

Pada Pemilu 2009, banyak kita temukan calon presiden berkampanye dan berteriak-teriak tentang perlunya hidup sederhana. Sementara dirinya justru hidup dalam kemewahan.

Selain urusan tidak sinkron antara ucapan dan perbuatan, urusan lebih menghawatirkan adalah urusan uang. Ada gejala pergeseran tujuan hadirnya partai poltik, di mana partai politik saat ini menjadikan uang (logistik) menjadi tujuan utama. Kegelisahan ini pernah diungkap Chairman Aktual Network Dr Yudi Latif.

“Saat ini demokrasi ditopang kekuatan logistik. Parahnya partai Islam ikut tarian. Harusnya kan bersekutu agar politik tidak dikuasi oleh uang," ujar, Yudi Latief dalam diskusi Aktual Forum bertajuk "Quo Vadis Parpol Islam dalam Arus Demokrasi Liberal"di Dapur Selera, Jakarta, Ahad (10/2). [baca:Hancurnya Partai Islam Karena Terjebak Demokrasi Berbasis Logistik]

Banyaknya degradasi identitas dalam partai berbasis Islam dinilai karena ketidakseriuasan memperjuangkan nilai ideologinya sendiri. Menurutnya, kebanyakan kasus negatif yang menimpa pada partai - partai Islam pasti terkait pada kebutuhan logistik mereka menjelang kampanye.

Lebih dalam ia mengkaji banyak partai Islam terjebak, lalu larut untuk memenuhi kebutuhan logistiknya akhirnya kehilangan identitas moralnya. Pernyataan Yudi diakui politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Zulkieflimansyah. Menurut Zulkifli, partai berhaluan ideologi agama pada era kini memang begitu lemah dalam menghadapi godaan uang. Musibah yang bisa dijadikan contoh dalam hal ini adalah kasus Ahmad Fathanah.

Memang tak mudah hidup sederhana, di era sistem politik hedonis saat ini. Tapi sebagai partai Islam, mestinya hal-hal yang prinsip bertentangan dengan syariat Islam mesti dijaga.

Korupsi, hidup dalam kemewahan mestinya dihindari. Ketika seseorang mengikrarkan dirinya sebagai politisi Muslim (apalagi dari Partai Islam), saat itu masyarakat akan jeli melihatnya. Sebagaimana perkataan Sayidina Ali ra : “Sebagaimana kamu dahulu mengawasi dengan tajam pemimpinmu dahulu, kamu juga akan diawasi dengan tajam.”

Prawoto Mangkusasmito

Adalah Prawoto. Laki-laki berperawakan kurus itu memang telah banyak memberi teladan pada para pemimpin. Bekas Ketua Umum Masyumi (1959-1960) ini, hidupnya sederhana dan tidak bergelimang duit. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga, istrinya juga membantu mencari nafkah.

"Ia bukan seorang politikus yang menggunakan politik untuk mencari duit. Ia berjuang untuk negara dan rakyat Indonesia dan ini kelihatan sekali dari penghidupannya," tulis Tan Eng Kie di Pos Indonesia, Agustus 1970.

"Ia seorang pejuang ideologis yang teguh, yang mempunyai kepribadian khas. Ia tidak akan membiarkan begitu saja, kalau aqidahnya disinggung orang. Sebagai seorang pemikir politik, ia sangat teliti dan cermat. Dia merupakan contoh pejuang yang konsekuen, satunya kata dengan perbuatan," tulis AR Baswedan.

Prawoto lahir di desa Tirto, Grabag Magelang 4 Januri 1910. Sejarah hidupnya, menggambarkan seorang pejuang politik (Islam) yang konsisten terhadap agama. Dalam soal prinsip agama, mantan guru sekolah Mauhammadiyah ini mengingatkan;

"Jangan tinggalkan tuntunan agama. Dipandang daripada sudut partai politik yang mendasarkan perjuangannya atas kaidah-kaidah agama, perlu kita renungkan kembali, apakah benar di dalam mengejar kemenangan-kemenangan yang bersifat sementara itu, dapat dipertanggungjawabkan jika ditinggalkan ketentuan-ketentuan yang terang nashnya dalam agama? Saya yakin tidak. Jika demikian, maka kerusakanlah yang akan menjadi bagian kita dan tidak ada guna, malah menyesatkan perkataan agama yang kita tempelkan pada papan nama kita." (Prawoto Mangkusasmito:1972).

Tokoh Masyumi Mohammad Natsir, juga kagum terhadap pribadi Prawoto. Menyambut meninggalnya Prawoto (24 Juli 1970), Natsir membuat tulisan berjudul "Seorang mujahid pergi dan tidak kembali." Dalam sambutan mengantar jenazah Prawoto, Natsir menyatakan bahwa kelebihan Prawoto di antaranya adalah pergaulannya yang luas dan mau langsung terjun berdakwah dan berdiskusi di tengah-tengah ummat. Prawoto biasa mengunjungi petani atau rakyat-rakyat kecil di desa, untuk berdiskusi masalah agama, politik dan kehidupan sehari-hari mereka.

"Sebagai seorang pemimpin ummat, yang ingin hidup di tengah-tengah umatnya, beliau rupanya sudah ditaqdirkan meninggal di tengah-tengah ummat yang menjadi keluarga besar yang beliau cintai," kata Natsir. Ya, Prawoto pergi ke akherat ketika berada di tengah-tengah kaum dhuafa di Banyuwangi.

Keteguhan pada perjuangan, menjadikan dirinya "iri" (cemburu) melihat kawan-kawannya sudah merasakan penjara, sedang dirinya belum. Tapi cemburunya itu, akhirnya terobati setelah dia juga ditangkap rezim Soekarno dan dipenjara di Rumah Tahanan Militer di Madiun bersama Mohammad Roem, Isa Anshori, Yunan Nasution dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya.

Komitmennya pada Islam, selain dipraktekkan dalam kehidupannya, juga ditunjukkannya dalam pidato atau ceramah-ceramahnya. Saat Halal Bihalal Masyumi se Jakarta, Prawoto mengharapkan agar menilai sebuah perjuangan dengan ukuran Islam, tidak dengan ukuran lainnya.

"Rugi untungnya perjuangan, kita nilai dengan rugi untungnya Islam," kata Prawoto, seperti dikutip Harian Abadi, 2 April 1960. Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan kenapa Masyumi keluar dari DPR Gotong Royong, bentukan Presiden Soekarno bersama PKI. "Masyumi tidak ada di dalamnya, sebab yang duduk di situ adalah orang-orang yang disebut "revolusioner" saja. Tetapi sampai di mana ada jaminan bahwa DPR Gotong Royong itu tidak akan direcool lagi?" sindir Prawoto.*/bersambung

Labels:

Saturday, July 6, 2013

Menjaga Temperatur Motor Saat Dihubungkan dengan Konverter Frekuensi


Dua jenis pengaruh

Ketika motor terhubung ke konverter frekuensi, harus dijaga agar tetap pada suhu yang benar, dan ini adalah hal yang paling pokok pada dua jenis pengaruh:

  • Jika kecepatan menurun, volume udara pendingin turun.
  • Jika ada arus motor yang non-sinusoidal, banyak panas yang dihasilkan di motor.

Pada kecepatan rendah motor kipas tidak mampu menyediakan cukup udara untuk pendinginan. Masalah ini muncul jika beban torsi konstan sepanjang rentang kendali.

Ventilasi rendah ini menentukan tingkat torsi yang diperbolehkan selama beban berlangsung.

Jika motor berjalan terus menerus - pada 100% nilai torsi - dengan kecepatan yang kurang dari setengah kecepatan nominal, motor membutuhkan udara tambahan untuk pendinginan (daerah abu-abu pada Gambar 1).

Atau rasio beban motor dapat dikurangi dengan memilih motor yang lebih besar. Namun, perawatan harus dilakukan untuk tidak meng-oversize motor terlalu banyak untuk sebuah konverter frekuensi yang diberikan.

Jika arus motor tidak sinusoidal, tidak perlu dikenakan beban 100% sepanjang waktu karena itu akan menerima arus harmonik yang meningkatkan suhu. Ukuran dari arus harmonik menentukan jumlah panas.
Reference: Fact Worth Knowing about Frequency Converters – Danfoss

Labels:

Monopoli Media, Manuver Cerdik HT dalam Kancah Politik


Pada 7 Mei 2013 lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil RCTI dan Indovision. Pemanggilan ini terkait pengaduan masyarakat tentang beredarnya video rekaman dugaan percakapan yang mambahas rapat Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dalam rapat tersebut, terjadi percakapan yang intinya ingin menggunakan frekuensi publik yang dimiliki MNC Group untuk kepentingan praktis Partai Hanura.

Saat itu Ketua Badan Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Yuddy Chrisnandi protes. Menurutnya, pemanggilan RCTI dan Indovision terkesan tebang pilih. Seharusnya stasiun televisi lain juga dipanggil. Lagipula, Yuddy yakin, rapat tersebut bukan diadakan oleh kader maupun politikus Partai Hanura.

“Bisa jadi itu ulah oknum untuk mengebiri Hanura,” ujar Yuddy.

Tentu bukan cuma Yuddy yang membela Hary Tanoesoedibjo kala itu. Namun, mayoritas kader Hanura membela habis-habisan konglomerat media yang akrab disapa HT ini. Betapa tidak, bergabungnya HT jelas menguntungkan bagi Hanura. Dengan masukkan HT, MNC Group praktis akan banyak memberitakan kegiatan-kegiatan Partai Hanura.

Seperti Anda ketahui, MNC Group memiliki 3 stasiun televisi swasta: RCTI, MNC TV, dan Global TV. Di Pemilu 2014 nanti, pemirsa pasti akan bisa menebak “warna layar” ketiga stasiun televisi itu jelas akan dipenuhu Partai Hanura. Jumlah televisi itu belum termasuk televisi lokal yang dimilikinya, yakni Deli TV (Medan), Lampung TV (Bandar Lampung), Minang TV (Padang), UTV (Batam), Indonesia Music TV (Bandung), Pro TV (Semarang), BMS TV (Banyumas), MHTV (Surabaya), Kapuas CitraTelevisi (Pontianak), BMC TV (Denpasar), Sun TV (Makassar), MGTV (Magelang), Sky TV (Palembang), serta Taz TV (Tasikmalaya). Sementar untuk tv kabel, selain Indovision, HT juga memiliki OkeVision dan Top TV.

Sejak awal HT nampak sekali ingin menguasai jagat media televisi (baca: monopoli frekuensi). Penguasaan HT di media televisi melalui PT. Bhakti Investama. Mari kita lihat sepak terjang HT via PT. Bhakti Investama. Hingga awal 2000, putra Soeharto Bambang Trihatmodjo masih memegang saham mayoritas di RCTI (69,8%) dan Global TV (70%). Namun, pada Juni 2003, Bambang mundur dan saham di dua televisi tersebut menyusut jadi 14,32%. Pembeli saham yang merupakan “pemain baru” dalam jagad pertelevisian Indonesia, yakni PT. Bhakti Investama.

Pada Juli 2001, saham PT. Bhakti Investama baru 10,72%. Perlahan-lahan kepemilikan Bhakti meningkat jadi 24,975%. Pada 23 November 2002, Bhakti membeli saham lagi hingga mencapai 34,8% dan Juni 2003 meningkat lagi menjadi 37,60%. Apa yang dilakukan HT terhadap Bimantara ditulis oleh Warta Ekonomi edisi 15-30 Juni 2003 dengan judul “Manuver Hary di Atas Cendana”.

Bukan cuma Bimantara yang dikuasai HT guna mendapatkan RCTI, Global TV, dan juga TPI (yang kini berubah menjadi MNC TV), tetapi juga SCTV dan Indosiar. Dalam buku Ekonomi Politik Media Penyiaran (LkiS, 2004) yang ditulis Agus Subibyo, ada dua jalur yang digunakan PT. Bhakti Investama untuk masuk ke SCTV. Pertama dengan kepemilikan secara tak langsung lewat PT. Mitrasari Persada, yakni dengan mengalih-alih surat hutang PT. Mitrasari Persada kepada Citibank. Dengan begitu, Bhakti akan menguasai 52,5%. Kedua, mengambil alih saham PT. Datakom Asia sebesar 26,85%. Namun, dua skenario di atas berantakan. HT via PT. Bhakti Investama gagal menguasai SCTV.

PT. Bhakti Investama juga gagal menguasai 49% saham PT. Indosiar Visual Mandiri. Tadinya, HT secara paralel berambisi ingin menguasai SCTV dan Indosiar. Terlebih lagi pada 2001, Indosiar sempat dilego Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kenapa Indosiar dilego BPPN? Sebab, hutang-hutang Salim Group menggunung. Tak heran, harta Salim Group, termasuk Indosiar, yang total Rp 53 triliun disita BPPN.

HT juga hampir menguasai Metro TV. Jalan masuk HT adalah berniat membeli saham sebesar 25% yang sempat dilepas Metro TV. Namun, saham sebanyak 12.500 dengan nilai jual total Rp 45 miliar tersebut dibeli oleh PT. Centralindo Pancasakti Cellular. Sisa sahamnya, yakni 75% dikuasai oleh Surya Paloh. Bhakti pun gagal lagi menguasai stasiun televisi lain, di luar RCTI, Global TV, dan MNC TV. Tentu, lain cerita jika HT masih tetap “bermukim” di Partai Nasdem, barangkali Metro TV bakal dikuasai olehnya.

Sebenarnya, sejak lama HT ingin menguasai ANTV. Manuver dirinya menguasai ANTV terlihat sejak 2001. Begitu tahu ANTV menunggak hutang ke BNI 46 –kemudian dialihkan ke BPPN – senilai Rp 50 miliar, lalu dengan konsorsium kreditor Jepang, Korea, dan Inggris dengan total senilai US$ 59 juta, PT. Bhakti Investama sudah mengincar. Apalagi pemodal utama ANTV, Bakrie Investindo (60%) dan Hasmuda Internusa (40%) tak sanggup melunasi hutang tersebut.

Memang bukan cuma PT. Bhakti Investama yang tertarik membeli ANTV. Ada tiga investor. Pertama, Kelompok Kompas-Gramedia. Namun, kelompok media terbesar pimpinan Jakob Oetama ini mundur teratur, gara-gara permintaan pemotongan hutang ANTV ke BPPN tak dikabulkan. Kompas-Gramedia lebih memilih mendirikan stasiun televisi baru, yakni TV 7 (belakangan dibeli oleh Trans Corp dan berubah menjadi Trans 7). Bhakti pun mundur, karena permintaan yang sama seperti Kompas-Gramedia tak dikabulkan.

Investor ketiga yang tertarik membeli ANTV adalah PT. Indopac Media. Perusahan ini tak lain adalah pemegang 40% saham di harian Republika, pemilik radio One, majalah GolfDigest, dan media iklan luar ruang Layar Indonesia yang berlokasi di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta. Pemilik saham 50% PT. Indopac Media Erick Thohir sebenarnya sudah ada kesepakatan harga. Bahkan Erick sudah diplot menjadi Wakil Direktur Utama ANTV saat itu. Namun, Bakrie Group menginginkan pelunasan pembayaran dilakukan segera. Hal itulah yang membuat PT. Indopac mundur.

Baru pada 2013 ini, HT berhasil memenuhi hasratnya menguasai ANTV. Padahal, sebelumnya ANTV juga diperebutkan oleh Chairul Tanjung (CT). Pengusaha muda pemilik Trans Corp ini sebetulnya juga sudah cocok dengan harga penjualan ANTV yang isunya mencapai Rp 12 triliun. Kalo isu ini benar, harga segitu menjadi rezekinya ANTV (baca: Grup Bakrie). Sebab, total aset ANTV tidak mencapai segitu. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, CT mundur membeli ANTV, gara-gara Bakrie tidak mau melepas ANTV sebelum Pemilu 2014. Sementara HT tak masalah serah terima ANTV paska Pemilu 2014. Tiga stasiun televisinya –RCTI, MNC TV, dan Global TV plus sejumlah televisi lokal- sudah cukup “mewarnai” frekuensi dengan Partai Hanura pada 2014 kelak.

Demikianlah manuver HT menguasai media televisi. Andai dahulu HT menguasai SCTV, Indosiar, dan juga Mtero TV, maka kloplah HT sebagai konglomerat yang memonopoli stasiun televisi teresterial. Sesungguhnya, dengan dikuasainya ANTV setelah RCTI, MNC TV, dan Global TV, HT sudah bisa dikatakan memonopoli. Setidaknya ini dikatakan di Pasal 18 Ayat 1 dan Pasal 34 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Terlepas dari masalah monopoli televisi yang dilakukan HT, Partai Hanura senang bukan kepalang begitu HT bergabung. Apapun alasan HT maupun Partai Hanura mengenai penggunaan frekuensi untuk kepentingan politik praktis sudah bisa ditebak.

“Sudah merupakan komitmen Pak Hary untuk membesarkan partai (melalui kelompok usaha medianya),” ujar Yuddy.

Tentu, pemanfaatkan frekuensi yang akan dilakukan HT untuk Partai Hanura demi kemenangan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Apalagi sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, HT juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pelaksana Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Hanura. Menurut media milik HT, Sindo, target Partai Hanura adalah duduk di 3 besar dan lolos parliamentary threshold (PT). Dengan lolos PT, maka bisa mengajukan diri di Pilpres.

Namun, oleh mayoritas pengamat, agaknya target Partai Hanura tak akan terkabul, terlebih lagi setelah HT ditetapkan sebagai Cawapres untuk mendampingi Wiranto sebagai Capres pada 2 Juli kemarin. Partai Hanura pecah. Penetapan HT dianggap tak sesuai dengan mekanisme partai. Berdasarkan aturan AD/ ART, keputusan penetapan Capres dan Cawapres harus melalui rapat pimpinan nasional (Rapimnas). Apalagi sebelumnya Wiranto sempat mengatakan, penetapan Cawapres Partai Hanura dilakukan setelah hasil pemilu legislatif.

Nasi sudah jadi bubur. Meski baru bergabung menjadi kader Partai Hanura seumur jagung, HT tentu punya ambisi lain. Jelas, tak ada makan siang gratis. Setelah memonopoli stasiun televisi teresterial, HT jelas berambisi ingin berkuasa di politik. Sebagai Ketua Umum Partai Hanura pun tak bekutik dengan manuver HT. Tanpa menunggu PT dan mengadakan Rapimnas, keputusan sudah diambil. HT pun jadi Cawapres, Partai Hanura pun pecah. Layar seluruh televisi bakal seru. Sementara stasiun televisi yang pro-HT tetap dukung Partai Hanura yang pro HT, sisanya ramai-ramai mem-bully dan memberikan tempat buat tokoh-tokoh yang masuk ke dalam barisan sakit hati dari Partai Hanura.

Labels:

Friday, July 5, 2013

Oliver Stone: Kebrutalan Amerika Dimulai saat Jatuhkan Bom Atom


Hidayatullah.com--Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama ABC Australia, sutradara pemenang Academy Award, Oliver Stone mengatakan bahwa serangan bom atom yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Jepang bisa menjadi pembenaran atas kebrutalan yang dilakukan negara tersebut.

Bagi sutradara Oliver Stone, yang sudah tiga kali memenangkan piala Oscar, banyak di antara kejadian-kejadian di "Abad Amerika" yang memiliki maksud terselubung yang membelah perdamaian dunia.

Oliver Stone dan sejarawan Peter Kuznik baru-baru ini memproduksi sepuluh seri film dokumenter dan buku yang berjudul The Untold History of the United States, atau kisah-kisah sejarah Amerika yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

Proyeknya ini juga memberikan penjelasan soal pemetaan politik di abad ke-20.
Menurutnya, keputusan mantan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman, untuk menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II bermaksud agar warga AS terbiasa dengan laporan soal warga sipil yang tewas dalam perang.

Ia juga yakin kalau peristiwa tersebut menjadi salah satu cara untuk membuka kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang brutal.

Ada mitos yang menyebutkan bahwa penggunaan bom atom menjadi upaya agar Amerika Serikat menjadi pemenang dalam Perang Dunia II dan menjadi dasar agar negara Paman Sam mendominasi dunia.

"Tanpa bom, Amerika tidak dapat berbuat seperti apa yang mereka lakukan saat ini," kata Oliver dikutip ABC, Kamis (04/07/2013).

"Menjadi kenyataan bahwa Amerika Serikat memiliki segalanya, bangsa yang tidak bisa dikalahkan, karena telah membuktikan bahwa AS bisa saja menghancurkan semuanya. AS juga mempertahakan dominasi militer secara penuh di dunia."

Menurut Oliver juga, belum ada seorang pun di Amerika Serikat yang merasa malu atau meminta maaf atas apa yang terjadi di Iraq dan Vietnam.

Oliver Stone dan Peter Kuznik menegaskan bahwa masih ada kesempatan dibawah pemerintahan Obama untuk mengakhiri imperialisme dan dominasi Amerika Serikat. Mereka menganjurkan adanya pendekatan kolaboratif untuk pemerintahan global.

Tetapi Oliver tetap menaruh curiga pada Obama.

"Meski Obama berbicara dengan memukau, tetapi ia seperti serigala berbulu domba. Kadang ia bisa sangat keras. Sekarang senjata dan penguasaan ada dimana-mana dan akan semakin banyak lagi. Di tahun 2025, Amerika Serikat akan menguasai dunia maya."*

Labels:

Tuesday, July 2, 2013

Suka Memancing Emosi Narasumber, TV One Jadi Sorotan MenAg


MENTERI Agama Suryadarma Ali turut mengomentari insiden penyiraman Munarman kepada Thamrin Amal Tomagola dalam acara “Apa Kabar Pagi” di TV One. Dia menyoroti sikap presenter TV One yang tak ubahnya seorang penyidik.

“Saya lihat ini sukses Tv One. Karena memang sekarang ini ada kecenderungan membangun talkshow-talkshow dengan metode konflik itu. Kadang-kadang presenter itu melebihi dari pembahas,” jelasnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/7/2013).

Menurutnya, Munarman adalah sosok idealis tapi tetap tampil dengan memperlihatkan fakta-fakta. Sedangkan Tamrin Tamagola adalah cendekiawan yang kurang bisa mengontrol diri. Akhirnya terjadilah insiden siram air dari Munarman.

“Ini harus menjadi koreksi bagi seluruhnya,” katanya.

Kasus Munarman dengan Thamrin, kata Suryadharma, tidak lepas dari berbagai kepentingan Tv One. Media pimpinan Karni Ilyas itu dinilai membangun dialog panas dengan menggunakan metode konflik.

“Semakin tajam konflik dalam dialog itu, semakin sukses dialog itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menghimbau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan evaluasi dialog tersebut. “Iya harus bergerak begitu. Kalau bicara jujur, semuanya harus mengoreksi,” kata Suryadharma

Labels:

Monday, July 1, 2013

Pencuri cantik & 3 Batang Chunky Bar


Seorang Engineer dan pacarnya yang juga politisi mengunjungi sebuah minimarket. Setelah sibuk mengamati keadaan sekeliling, sang politisi tadi mengambil 3 batang coklat chunky bar tanpa sepengetahuan penjaga toko. Setelah mereka keluar, politisi tadi bercerita pada engineer, " Saya adalah pencuri terhebat, dengan kecantikan yang kumiliki, saya bisa keluar dari toko tadi dengan mencuri 3 batang coklat tanpa ada yang tahu. Itulah kenapa kecantikan lebih berharga daripada science,"katanya bangga.

Lantas engineer tadipun menjawab, "Kau ingin tahu cara yang lebih baik? Ayo kembali ke toko dan akan kutunjukkan seni mencuri terbaik."

Mereka pun kembali ke toko tadi lalu si engineer tadi berkata pada kasir toko,"Maukah kau lihat pertunjukan sulap terbaikku ?"

"Ya, silahkan", jawab kasir toko. Lalu si engineer tadi minta 1 batang coklat lalu dimakannya. Setelah habis, si engineer tadi minta lagi pada kasir tsb hingga ketiga kalinya. Lalu si kasir tadi bertanya,"mana pertunjukan sulapnya?"

"Coba kau cari di saku teman saya ini, pasti ada 3 batang coklat yang masih utuh,"ujar si engineer tadi sambil berlalu.

Labels: