Persahabatan R.A. Kartini dengan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Ciptakan Beat Musik Keren dengan FL Studio 10

Tak perlu bersusah payah untuk mencari alat-alat musik drum, gitar, saxophone, dsb karena dengan FL Studio 10 anda bisa menciptakan efek-efek musik analog/digital mulai dari genre hip hop, soul, rock, pop, house dsb.

Mo Sabri Music Video

Mohammed Sabri, atau lebih dikenal dengan nama Mo Sabri adalah penyanyi asal Johnson City, Tennessee yang kerap menggabungkan unsur Hip Hop, Punk dan Lagu bertemakan Nasheed. Ingin tahu lagu nasheed versi Mo ? Klik gambar di atas

Ebook Dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru

Ada beberapa hal bagus dalam ebook ini, diantaranya: ternyata naskah Proklamasi yang dicorat-coret itu bukan naskah asli; ternyata bung Karno pernah berwasiat agar keluarganya tidak turun ke panggung politik.

Bahaya Pendidikan Multikultural

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual, sikap 'toleran' terhadap freesex dan yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur.

Wednesday, July 31, 2013

Polisi Mesir Larang Kaum Muslimin Shalat Tarawih di Masjid Tauhid


PORT SAID(CAIRO) - Jamaah Muslimin dan Muslimat berdatangan ke masjid Tauhid di kota Port Said pada Ahad (28/7/2013) malam sebelum waktu Isya’. Mereka hadir ke masjid untuk menunaikan shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Namun, seperti dilansir Rassd, mereka dikejutkan oleh kehadiran pasukan kepolisian Mesir di dalam masjid. Aparat itu mengatakan, “Maaf, tidak ada kesepakatan untuk shalat.”

Rassd melaporkan, pasukan kepolisian dan tentara Mesir telah mengepung Masjid Tauhid sejak Senin (29/7/2013) pagi dengan tank-tank dan sejumlah panser. Beberapa orang dengan tutup kepala mulai membakar serambi masjid jami’ di kota Port Said tersebut. Pasukan keamanan membuat titik-titik pemberhentian untuk memeriksa mobil-mobil yang lalu lalang di jalan raya depan masjid.

Satu pasukan tentara Mesir juga naik ke atap-atap bangunan di sekitar masjid. Mereka membuat posko pertahanan dengan memasang karung-karung pasir. Tentara dan polisi di Port Said mengkhawatirkan kembalinya massa demonstran pendukung Mursi dan penentang kudeta militer ke komplek Masjid Tauhid.

Antisipasi dilakukan pasukan keamanan Mesir di Port Said setelah sehari sebelumnya massa demonstran pendukung Mursi terlibat bentrokan dengan massa pendukung kudeta militer. Seorang pendukung Mursi, seorang wartawan dan karyawan toko minyak wangi gugur dalam bentrokan tersebut. Lebih dari 30 orang mengalami cedera dalam bentrokan yang sama.

Rassd melaporkan sepanjang hari Senin massa liberal pendukung kudeta militer membakari sejumlah besar toko dan restoran milik aktivis Islam di Port Said. Video yang dirilis Rassd memperlihatkan seorang karyawan toko aktivis Islam terbakar bersama tokonya oleh serangan brutal massa pendukung kudeta militer. Karyawan toko itu pun gugur menemui sang maut.

Tuesday, July 30, 2013

Parpol Kerap Terlibat Kekerasan, Mengapa Tak Dibubarkan ?



Selama ini opini media massa sekuler yang memusuhi islam selalu memojokkan bahwa ajaran Islam dan umat Islam adalah sumber terjadinya berbagai kekerasan yang terjadi.Namun apabila kita mau jujur, maka sumber kekerasan yang terjadi secara massif ini adalah sistem politik dan sejumlah Parpol yang selama ini mengaku anti kekerasan. Oleh karenanya adalah sangat tidak adil apabila tuntutan pembubaran yang disuarakan oleh media media sekuler liberal hanya ditujukan kepada ormas semata.

Seharusnya yang lebih layak untuk dituntut untuk dibubarkan adalah parpol karena telah terlibat banyak dalam kekerasan politik dan juga bila ditambah dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan petinggi parpol.

Berikut ini kami sajikan data-data kekerasan yang dilakukan oleh Parpol dan para pendukungnya.

AMUK MASSA DI JAWA TIMUR PASCA GUSDUR LENGSER (18 – 30 Mei 2001)

Situbondo

Sasaran
Modus
Rumah Adi Mulyono, anggota Muhammadiyah Ranting Locancang, Panarukan, Situbondo
Dilempar mercon sehingga pintu dan kacanya rusak
Rumah Wahyudi, anggota PAN Besuki, Situbondo; dan Sayonara, Wakil Ketua PAN Situbondo
Dilempari mercon dan batu sampai kaca dan pintunya rusak
SMU 1 Muhammadiyah Situbondo
Dibakar massa
Rumah Riwayanto, anggota PC Muhammadiyah, Panarukan, Situbondo
Dilempari mercon dan rumahnya dicoba dibakar

Bondowoso

Sasaran
Modus
Rumah Ir. Riwi Bahariwanto; Sekretaris I DPC PAN Cerme, Ir Setiadi; dan Fardhol, anggota PAN Cerme, Bondowoso
Dilempari batu sampai atap dan kacanya pecah
Rumah K.H. Fakih, Ketua PC Muhammadiyah Cerme, Bondowoso
Dilempar bom molotov. Kaca dan pintu rumah hancur
Rumah Sutomo, Ketua PAN Ranting Prajekan; dan Khusairi, anggota PAN Prajekan, Bondowoso
Dilempari batu sampai atap dan kaca pecah
Gedung DPRD Bondowoso
Dilempari batu hingga kacanya pecah

Sidoarjo

Sasaran
Modus
Panti Asuhan Darul Aitam, Porong
Memecahkan jendela dengan pentungan
Kampus II Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMS), Jalan Raya Candi
Pagar kampus dirobohkan, bangku dikeluarkan lalu dibakar, kaca-kaca ruang kuliah dipecahkan, uang tunai Rp 600 ribu dan barang-barang lain di koperasi dijarah
Kampus I UMS dan SMU 2 Muhammadiyah, Jalan Majapahit 666-B
Dikepung oleh massa yang membawa jeriken berisi bensin. Beberapa bagian bangunan dilempari batu
Masjid Nurul Azhar, Porong
Dipasangi spanduk "Gus Dur Turun, Muhammadiyah Hancur!" Lampu pagar, papan nama, dan kaca masjid dirusak

Gresik

Sasaran
Modus
Kantor DPC PDI Perjuangan
Dihancurkan/dibakar
Rumah Sakit Aisyiyah-Muhammadiyah
Dihancurkan
Rumah Mahfud, Ketua PAN Manyar
Dilempari batu dan sepeda motornya dibakar
Poliklinik Muhammadiyah
Kaca, plafon, dan papan nama gedung dirusak. Massa berorasi di depan poli sehingga pasien tak bisa dirawat
Universitas Muhammadiyah Gresik
Bangunan dilempari batu. Baliho dan spanduk yang dipasang di depan kampus dirusak

Pasuruan
Sasaran
Modus
Kantor PDI-P Kota Madya
Dibakar
Kantor PDI-P Kabupaten
Dibakar
20 Posko PDI-P
Dibakar
Kantor PPP Kota Madya
Dibakar
SMU dan SMK Muhammadiyah 1
Dirusak
SMK M 2, Masjid dan Kantor Muhammadiyah Kota Pasuruan
Dirusak
Rumah Anggota DPRD Kota dari PDI-P, Reza Syahputra
Dirusak
Kantor BKKBN dan Kantor Arsip serta dua buah mobil
Dirusak
Gedung BK Husada
Dirusak
Kantor Pemda Kota Madya
Disegel/diduduki
Kantor DPRD Kota Madya
Disegel/diduduki
Kantor, Masjid, dan SMUK Muhammadiyah 2
Dirusak
Panti Asuhan Muhammadiyah
Massa berdemo di depannya dan mengancam merusak
Masjid Darul Arqam
Dirusak dan dilempari batu hingga hancur

Kota-Kota Lain
Sasaran
Modus
Rumah H. Thoyib, mantan ketua PC Muhammadiyah Muncar, Banyuwangi
Rumah dirusak, sebagian atap dan jendela hancur
SMU 3 Muhammadiyah Pandaan
Dirusak. Semua arsip dan peralatan sekolah dilempar ke luar. Ketika pergi, massa membawa sepeda motor milik Yunan (guru setempat), uang tunai, dan 2 pesawat telepon
Panti Asuhan Putra-Putri Muhammadiyah, Blitar
Papan nama dan pintu masuk gedung dirusak
Kantor DPD Partai Golkar Sumenep
Dibakar
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Massa datang bersepeda motor, melempari kaca-kaca hingga pecah

Sumber: DPW PAN JawaTimur dan DPW Muhammadiyah Jawa Timur, koran Surabaya Post, Harian Surya, dan Asintel Kodam V Brawijaya
Peristiwa Amuk Massa Beratribut PDI Perjuangan Tahun 1999

1. 22 Februari 1999 Massa beratribut PDI Perjuangan membakari Posko PDI di Cilacap. Persitiwa ini dipicu oleh SK Alex Litay yang mengangkat Frans Lukman sebagai Ketua DPC Cilacap PDI Perjuangan 2. 28 Februari 1999 Pawai PDI Perjuangan di Yogyakarta bentrok dengan massa dari partai lain. Bentrokan tersebut membuat sedikitnya 17 orang luka-luka.

2. 28 Februari 1999 Terjadi pemukulan oleh massa beratribut PDI Perjuangan di Lampung terhadap Ketua Umum DPP PDI Budi Hardjono 4. 7 Maret 1999 Ribuan massa beratribut PDI Perjuangan mencopoti atribut Golkar yang terpasang di jalan-jalan protokol di Surabaya.

3. 17 Maret 1999 Kantor DPC PDI Kodya Surabaya dirusak serta sebuah kantor yang terletak di dekatnya juga ikut dilempari. Mereka kecewa dengan penunjukan Kasmuri sebagai ketua DPC Kodya Surabaya.

4. 21 Maret 1999 Massa beratribut PDI Perjuangan bentrok dengan massa PPP di Yogyakarta. Bentrokan ini menyebabkan seorang tewas.

5. 31 Maret 1999 Massa beratribut PDI Perjuangan mengamuk di Madiun. Ini disebabkan Paimin, pendukung PDI Perjuangan mencopoti atribut Golkar. Kemudian Paimin ditangkap. Selanjutnya ribuan massa menuju Polres Madiun untuk membebaskan Paimin. Karena gagal mereka merusak fasilitas umum Kota Madiun.

6. 2 April 1999 Massa beratribut PDI Perjuangan melakukan perbuatan 'tidak simpatik' terhadap rombongan Ketua Umum DPP Golkar dan kader Golkar lainnya di Purbalingga, Jawa Tengah.

7. 4 April 1999 Sekitar 200 simpatisan dengan atribut PDI Perjuangan di Cirebon mendatangi kantor DPD II Partai Golkar setempat, seusai berpawai keliling dengan kendaraan. Mereka mencabut bendera-bendera serta atribut partai berlambang beringin, dan membakarnya.

Sumber : Pudok Republika

Warga Dukung FPI Tutup Pelacuran di Kendal


Kendal - Tuduhan bahwa masyarakat Sukerejo, Kendal, Jawa Tengah, membenci Front Pembela Islam (FPI) jadi pemberitaan besar di media massa belum lama ini. Tindakan FPI menutup lokalisasi Alaska (Alas Karet) dianggap menciptakan ketidaknyamanan warga.

Tetapi hasil investigasi Islampos.com pada 25-29 Juli 2013 langsung ke Sukorejo, Kendal, sangat mengejutkan, karena pemberitaan yang ada sama sekali bertolak belakangan dengan fakta di lapangan.

Dalam wawancara Islampos.com dengan sejumlah warga, justru mereka mendukung tindakan FPI untuk menutup lokalisasi. Usman (40), misalnya, mengaku setuju dengan tindakan FPI. Dia mengaku resah dengan perkembangan lokalisasi dari waktu ke waktu.

“Saya tidak benci FPI. Justru saya mendukung FPI tutup lokalisasi. Lokalisasi itu memang meresahkan masyarakat,” katanya kepada Islampos.com.

Hal senada juga diutarakan Rukun (38 tahun), seorang penjual gorengan di depan Pom Bensin Sukorejo. Dia menyayangkan pemberitaan media massa yang mengesankan warga menyetujui lokalisasi karena menuntut pembubaran FPI.

“Gak betul warga Kendal benci FPI. Warga sangat resah (dengan lokalisasi). Desa Sentul dan Desa Ngerancah (dua desa yang paling berdekatan dengan lokalisasi, red.) sudah mau menutup lokalisasi. Tapi gak punya kekuatan,” tambahnya.

Rukun menambahkan, selama ini upaya warga sudah sangat maksimal dalam menghentikan aktivitas kemaksiatan tersebut. Namun Pemerintah setempat tidak terlihat memiliki niat untuk segera memenuhi tuntutan warga.

“Lha Si Beny (yang rumahnya) dekat lokalisasi piye kerjane (Bagaimana kerjanya)?” ujarnya menunjuk Wakil Ketua DPRD Kendal, Benny Karnadi dari Fraksi PKB.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kendal, Agus Budi Utomo (35), membenarkan keresahan warga selama ini. Bahkan pihaknya sudah pernah melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Kendal dan Kapolres Kendal untuk segera menutup lokalisasi. Namun, hingga saat ini, surat tersebut belum juga mendapat respon.

“Tidak ada tanggapan sama sekali,” paparnya.

Agus menjelaskan tingkat perzinahan di Sukorejo sangat mengkhawatirkan sekali. Jika dulu lokalisasi hanya sekadar bangunan kayu, tapi kini berkembang menjadi bangunan rumah permanen.

“Ini sangat membahayakan bagi generasi muda,” kata Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 04 Kendal ini.

Investigasi Terbaru: Petugas POM Bensin Bantah Berita Bahwa FPI Melakukan Perusakan


Sukorejo - Dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa (23/7/2013) malam, Wakil Ketua DPRD Kendal, Benny Kanadi, mengatakan anggota Front Pembela Islam (FPI) sempat memukul petugas dan merusak fasilitas pom bensin dalam konvoinya pada hari Kamis (18/7/2013). Anggota Fraksi PKB ini juga mengatakan adanya anggota FPI yang tidak membayar saat membeli bensin.

Untuk memastikan kebenaran berita itu, Islampos.com kemudian tergerak untuk meneliti lebih jauh. Jum’at (26/7/2013) Islampos.com mendatangi pom bensin yang dimaksud dengan nomor pom 4451317. Tidak hanya itu, Islampos.com juga mencari tahu dengan menemui saksi mata kejadian, yakni Seno, seorang penjaga ruko, tepat di depan pom bensin Sukorejo.

Petugas pom bensin, A. Fatih, menerangkan adanya berita yang menyebut FPI memukul petugas sama sekali tidak benar. Dia menjelaskan, sebagian anggota FPI memang datang membeli bensin, tapi tanpa melakukan perusakan.

“Tidak ada apa-apa saat itu. FPI tidak melakukan perusakan,” katanya kepada Islampos.com seraya menggelengkan kepala.

Terkait kabar adanya anggota FPI yang tidak membayar bensin, petugas Pom Bensin lainnya juga menampik kebenaran berita itu.

“Di sini semua baik-baik saja Mas. Tidak ada anggota FPI yang tidak membayar,” ujarnya.

Sementara itu, Seno, justru mempertanyakan landasan Beny Kanadi menyebut adanya anggota FPI yang melakukan perusakan. Pasalnya, saat kejadian Benny tidak berada di tempat.

“Benny gak betul. Dia ngomong gak ada dasarnya. Saya gak bela FPI dan kontra FPI, tapi saya katakan yang saya lihat,” kata pemilik ruko makanan yang hanya berjarak 20 meter dari lokasi kejadian itu.

Sunday, July 28, 2013

Keluarga Marhaenis pun Tak Luput Jadi Korban Kebrutalan Densus 88

Jakarta - Bukan Densus 88 namanya kalau tak ngawur dan membabi buta. Meski berulangkali melakukan kesalahan dalam menangkap orang yang dituduh teroris, tapi aksi itu terus saja dilakukan. Bahkan bila selama ini dikesankan yang disebut teroris selalu aktivis Islam, kini tuduhan teroris juga merembet kepada keluarga Marhaenisme dan Sukarnois.

Adalah Nurhayati Harahap, ibu kandung M. Hidayat, korban tewas akibat penembakan Densus 88 di Tulungagung, Senin lalu (22/7/2013), yang mengungkap hal ini.

Nurhayati yang kini tercatat sebagai dosen hukum di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan ini mengutarakan keheranan dan ketidakpercayaannya atas keterlibatan anaknya dalam gerakan terorisme di Indonesia. Ia memaparkan bahwa keluarga mereka, keluarga yang menganut dan mengamalkan nilai- nilai nasionalisme sesuai ajaran Bung Karno.

"Kami keluarga nasionalis, bukan teroris. Ayah Dayat adalah mantan aktivis PNI (Partai Nasionalis Indonesia) sejak tahun enampuluhan. Ayah Dayat, almarhum Yahya Bachri adalah tokoh marhaen Sumatera Utara" ujar Nurhayati yang juga mantan anggota DPRD Sumatera Utara 1999-2004 dari PDIP itu.

Nurhayati Harahap sendiri adalah mantan politisi PDIP yang pernah aktif sebagai pejabat teras DPD PDIP Sumatera Utara. Nurhayati pernah menjabat Wakil Sekretaris DPD PDIP Sumut periode 2000-2005 dan menjadi Wakil Ketua DPD PDIP Sumatera Utara periode 2005-2010. Pada pemilu 2004 lalu, Nurhayati tercatat sebagai calon legislatif DPR RI dari PDIP untuk daerah pemilihan Sumatera Utara.

"Jadi, apa dasarnya tuduhan bahwa keluarga kami ini teroris?. Seluruh orang Sumatera Utara tahu bahwa keluarga kami adalah keluarga Marhaen dan Sukarnois" jelas Nurhayati yang juga aktif sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara ini.

Tak Diberitahu Polri

Nurhayati mengungkap, pihaknya tidak diberitahu oleh polisi mengenai tewasanya Dayat. Ia mengaku memperoleh informasi itu justru dari televisi.

Keluarga Dayat, Ibu kandung Nurhayati dan kakak kandung M Yazib, tiba di Jakarta Kamis pagi (25/7/2013) pukul 09.30 WIB di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Mereka langsung menuju ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Kami, keluarga korban, sampai saat ini tidak mendapatkan informasi atau penjelasan apapun dari pihak kepolisian mengenai penembakan anak saya hingga tewas tersebut," ujar Nurhayati seperti dikutip Asatunews.com.

Yazib kakak kandung Dayat menjelaskan bahwa pihak keluarga korban datang ke Jakarta atas inisiatif sendiri setelah mendapatkan kepastian dari istri Dayat yang berada di Lamongan, Jawa Timur, bahwa korban tewas yang ditembak Densus 88 adalah adik kandungnya.

Peristiwa penembakan terjadi pada Senin lalu (22/7) yang mengakibatkan dua orang yaitu Muhammad Hidayat dan Riza. Jenazah Hidayat kini berada di RS Polri Kramat Jati, Jakarta untuk divisum dan dicocokan DNA-nya dengan pihak keluarga.

"Kami sedang di RS Polri Kramat Jati. Sedang proses pengujian DNA oleh dokter. Setelah selesai kami akan membawa jenazah Dayat ke Lamongan, Jawa Timur, sesuai dengan permintaan istrinya" kata Nurhayati.

Saturday, July 27, 2013

Warganya Dituduh Sembunyikan Teroris, PP Muhammadiyah Berikan Advokasi


Pengurus Pusat Muhammadiyah secara khusus memberikan bantuan hukum bagi dua warganya, Sapari dan Mugi Hartanto, yang menjadi korban salah tangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror saat dilakukannya penggerebekan disertai penembakan dua terduga kasus terorisme jaringan Poso di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013).

Slamet Hariyanto Ketua Majelis Hukum dan HAM Pengurus Wilayah Muammadiyah Jawa Timur, Jumat mengatakan, instruksi dilakukannya pendampingan hukum disampaikan langsung oleh Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah, karena dua orang yang ditangkap Densus 88 dan disebut-sebut terlibat dalam persembunyian terduga kasus terorisme Poso adalah warga salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Instruksi disampaikan Pak Din Syamsudin melalui SMS (pesan singkat) saat beliau masih di Tokyo, Senin (22/07/2013) malam," terang Slamet seperti dilansir Antara.

Dikatakan, ada dua yang menjadi alasan PP Muhammadiyah secara khusus memberikan pendampingan hukum. Pertama karena kedua orang tersebut tercatat sebagai warga sekaligus pengurus cabang Muhammadiyah di Kecamatan Pagerwojo. Kedua karena munculnya keyakinan Sapari dan Mugi menjadi korban salah tangkap.

"Dari dua orang ini, yang menjadi korban paling parah adalah Pak Mugi Hartanto. Beliau bahkan tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan kedua tamu ini, dia hanya kebetulan beberapa saat sebelum kejadian (penggerebekan dimintai tolong untuk mengantar Riza dan Dayah, tamu pak Sapari yang berniat pulang dan minta diantar ke terminal," terang Ketua Majelis Informasi Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung, Timoer Prawiranegera menimpali.

Demikian juga dengan Sapari. Meski menjadi tuan rumah dan berinteraksi aktif dengan Riza, salah satu terduga kasus terorisme, perangkat dibagian Kaur Kesra Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo ini tidak mengenali latar belakang mubaligh tamunya tersebut selama tiga bulan tinggal dan beraktifitas di Masjid Al Jihad maupun Madratsah Aisiyah.

"Selama di desa itu pak Sapari juga tidak pernah menyembunyikan Riza. Mubalig tamu ini beraktivitas secara terbuka dan berinteraksi dengan masyarakat secara wajar, bahkan kamar tempatnya mondok (menginap) juga tidak pernah dikunci," imbuhnya.

Sayang, sejak kedua pengurus cabang Muhammadiyah Kecamatan Pagerwojo itu ditangkap dan dikait-kaitkan dengan terorisme, tim pengacara dari Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Provinsi Jatim sampai saat ini belum bisa bertemu dan bertatap muka langsung.

Pihak kepolisian di tingkat Polda Jatim dan Polres Tulungagung bahkan terkesan saling lempar informasi setiap kali ditanya perwakilan advokat yang ditunjuk PW Muhammadiyah Jatim.

"Iya, tapi tadi siang saya sudah bertemu dengan salah satu anggota Densus di Mapolda Jatim dan disampaikan bahwa Pak Sapari dan Mugi sudah dibantarkan di Mapolda, cuma belum bisa ditemui sekarang karena masih dalam pemeriksaan," terang Slamet Hariyanto.

Dikatakan, Densus memang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga terlibat kegiatan terorisme selama tujuh hari sejak penangkapan.

"Jadi kami memiliki waktu sampai hari Senin (29/07/2013) untuk mengetahui hasil pemeriksaan mereka, apakah saudara-saudara kita (Sapari dan Mugi Hartanto) terlibat (terorisme) atau tidak. Kalau tidak, otomatis akan langsung dilepas oleh Densus," tambahnya.

Slamet menegaskan, pihaknya bertekad untuk terus melakukan pendampingan hukum kepada kedua warga Muhammadiyah tersebut, termasuk apabila polisi bersikeras menetapkan keduanya sebagai tersangka dalam kasus terorisme.

"Kami akan dampingi sampai di Pengadilan untuk memastikan hak-hak hukum serta HAM kedua warga kami terlindungi," tegasnya.

Diberitakan, Sapari dan Mugi Hartanto ditangkap Densus 88 Antiteror saat dilakukannya operasi penggerebekan disertai penembakan di depan warung kopi Jalan Pahlawan, Kota Tulungagung, Senin (22/07/2013).

Dalam operasi tersebut, dua pemuda terduga kasus terorisme, Riza dan Dayah alias Kim tewas ditembak anggota Densus dari jarak dekat, sementara Sapari dan Mugi ditangkap dalam kondisi hidup karena dituduh menjadi pemandu dan membantu persebunyian. Meski telah ditangkap sejak Senin, surat penangkapan dan penetapan tersangka keduanya baru disampaikan polisi Rabu (25/07/2013) malam.

Makna Jihad, Membela Tanah Air Atau Membela Islam ?


Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang disebut melakukan jihad yang benar jika niatannya bukan disebut pemberani, bukan ingin disebut pahlawan, bukan ingin membela suku atau bangsa -dalam rangka cinta tanah air atau unsur nasionalisme yang dikedepankan-, tapi yang diperjuangkan adalah supaya kalimat Allah itu mulia, artinya supaya Islam itu jaya. Yang terakhir inilah yang disebut jihad yang shahih.

Dari Abu Musa, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk membela sukunya (tanah airnya); ada pula yang berperang supaya disebut pemberani (pahlawan); ada pula yang berperang dalam rangka riya’ (cari pujian), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu mulia (tinggi) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menunjukkan niatan jihad yang benar apabila dilakukan ikhlas karena Allah, meraih ridho-Nya. Sedangkan jika seseorang berjihad untuk disebut pemberani atau pahlawan; untuk membela kaum, negeri atau tanah airnya; atau supaya ia tersohor di kalangan orang banyak, maka ini semua adalah niatan yang keliru. Karena setelah ditanya niatan seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas beralih dengan mengatakan bahwa jihad itu untuk membela kalimat Allah, artinya untuk membela Islam.

Hadits di atas bermaksud menerangkan bahwa tidak ada beda antara kita dengan orang kafir jika maksud kita berjihad atau berperang hanyalah untuk membela tanah air. Karena niatan orang kafir pun demikian. Seorang muslim haruslah punya niatan untuk berperang untuk “membela Islam” dan bukan untuk membela tanah air. Karena kalau niatannya untuk membela tanah air, matinya tidaklah disebut mati syahid.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

“Jika niatan seseorang dalam berperang hanyalah untuk membela tanah air, maka itu adalah niatan yang keliru. Niat seperti itu sama sekali tidaklah bermanfaat. Tidak ada beda antara muslim dan kafir jika niatannya hanyalah untuk membela tanah air. Sedangkan hadits yang menyebutkan “hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman)”, ini adalah hadits dusta, yang bukan berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cinta tanah air jika yang dimaksud adalah cinta negeri Islam, maka itu disukai karena yang dibela adalah Islam. Namun sebenarnya tidak ada beda antara negerimu dan negeri Islam yang jauh, semua adalah negeri Islam yang wajib dibela.

Jadi patut diketahui niat yang benar ketika berperang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negeri kita yang termasuk negeri Islam, bukan sekedar membela tanah air.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 66).

Beliau mengatakan pula di halaman yang lain,

“Yang harus diperhatikan bahwa di berbagai media banyak yang berkoar ketika berjihad (berperang) dengan menuliskan ‘ayo bela tanah air kita, ayo bela tanah air!’ Ini bukan Islam yang dibela. Ini sungguh kekurangan yang besar. Harusnya umat Islam diarahkan ke jalan yang benar ketika ingin berjihad.” (Idem, hal. 69).

Faedah lain dari hadits ini diterangkan oleh Syaikh Musthofa Al Bugho hafizhohullah, “Yang disebut keutamaan jihad di jalan Allah adalah jika Islam yang dibela. Akan tetapi hal ini tidaklah menghalangi untuk tetap memandikan orang yang mati di medan perang dan dianggap sebagai syahid sehingga ketika matinya tidak mandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, namun langsung dikuburkan. Sedangkan niatan yang benar atau keliru dari orang yang mati tersebut, semuanya diserahkan pada Allah.” (Nuzhatul Muttaqin, hal. 16).

Hadits ini pun menunjukkan hendaklah amalan mulia seperti jihad dimulai dengan ilmu terlebih dahulu. Karena sahabat yang bertanya tidaklah pergi berjihad sampai ia bertanya manakah niatan yang benar dalam jihad. Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, hal. 36.

Semoga niatan kita dalam beramal dan berjihad nantinya hanyalah untuk Allah, terkhusus jihad kita hanya untuk membela Islam.

Friday, July 26, 2013

Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam


Pada acara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam” karya Mohamad Fadhilah Zein, terungkap kisah ‘aneh’ bin ‘lucu’ dari Pengamat “Terorisme” Mustofa B Nahrawardaya.

Aktivis muda Muhammadiyah ini mengisahkan saat peristiwa bom Marriott yang pertama, pada Selasa, 5 Agustus 2003. Ledakan di hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB itu berasal dari bom mobil dengan menggunakan Toyota Kijang nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Sebanyak 12 orang meninggal dan tewas dalam ledakan tersebut, termasuk Asmar Latin sani, dan mencederai 150 orang lainnya.

‘Aneh’nya, kata Mustofa, badan si pembawa bom dari dalam mobil kijang di depan lobi hotel itu hancur, tapi ‘lucu’nya, kepalanya (Asmar Latin Sani, red) ada di lantai 4 JW Marriott. Kok bisa terpisah? “Nah, …bagaimana mungkin itu?” tanyanya saat menjadi salah seorang pembicara bedah buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’ di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (21/7/2013) .

“Karena itulah, itu yang saya maksud fakta-fakta, termasuk kasus-kasus ‘terorisme’ itu bisa dibuat sedemikian rupa,” imbuh Mustofa. Dan, lebih parah lagi fakta-fakta ‘aneh’ dan ‘lucu’ itu tak diungkap media massa. Artinya, media massa mainstream membiarkan kejanggalan dan kezaliman itu terjadi.

Mustofa menggambarkan contoh lain, bagaimana fakta-fakta (yang merugikan umat Islam) itu dibuat, yaitu dalam kasus pelatihan Mujahidin di Aceh pada 2010 yang dalam pemberitaan media massa disebut sebagai pelatihan militer untuk aksi terorisme di Aceh.

Mustofa mengungkapkan, sebenarnya pelatihan di Aceh itu informasinya adalah untuk rencana pengiriman Mujahidin perang ke Palestina, bukan untuk aksi “terorisme”. “Banyak yang daftar, termasuk dari FPI banyak yang ikut, karena yang mengajak itu mantan Brimob, namanya Sofyan Tsauri,” papar Mustofa.

“Sudah mantan Brimob, senjatanya dari Brimob juga, resmi ya, dengan pembelian ilegal, dipakai latihan di Aceh, dishooting. Ketika latihan dishooting. Coba kau nembak ya, ow kayak di Timur Tengah, dor dor dor…Allahu Akbar…Allahu Akbar. Persis di video, itu lho kalau Ayman Zawahiri atau Usamah bin Ladin saat menembak dengan AK-47 itu, dibikin persis,” ungkap Mustofa.

“Tetapi di video itu tidak tahu kalau mereka akan diberitakan sebagai latihan militer oleh sipil. Mereka tahunya akan (dikirim, red) ke Palestina,” kata Mustofa lagi. “Banyak anak-anak FPI dijebak di acara itu.”

Bahkan, kata Mustofa, sebagian dari mereka itu diajak latihan ke Brimob juga. “Ini saya dengar di fakta persidangan lho. Jadi, sebagian mereka dilatih di Mako Brimob, dilatih oleh polisi juga, karena tahunya akan ke Palestina, jadi mereka semangat.”

Termasuk, yang peristiwa di Temanggung itu, kata Mustofa. Dia mengaku tahu persis, karena rumah yang dijadikan untuk menyerbu “teroris” itu milik pengurus Muhammadiyah di Temanggung, namanya Mujahri.

“Jadi peristiwa pengepungan 21 jam di Temanggung itu saya tahu persis. Saksinya masih ada, dari pengurus Muhammadiyah. Anda tahu, berapa orang yang meninggal dalam penyerbuan 21 jam dengan seribuan peluru yang melibatkan sekitar 600 polisi itu?” tanya Mustofa.

“Yang meninggal cuma satu, namanya Ibrahim. Berapa kali kena tembakan? Satu juga (satu kali tembakan, red). Janggal nggak?” ujar Mustofa. “Kalau dibilang janggal, ya wajar, karena Anda orang Islam,” Mustofa menambahkan.

Ya iyalah, penyerbuan hampir 24 jam, melibatkan sekian banyak media, dalam dan luar negeri, kata Mustofa, mengeluarkan sekian ribu peluru, tapi nyatanya cuma satu peluru yang ditembakkan untuk sang “terduga teroris” bernama Boim (Ibrahim).

“Tapi peristiwa itu menjadi momen berita nasional, betapa berbahayanya ‘terorisme’. Jadi, ada modus dari media-media mainstream itu untuk membuat ini terjadi, pertama, dengan cara tidak memberitakan atau meliput peristiwa itu jika menguntungkan umat Islam. Dan, kemungkinan kedua, memberitakan, jika peristiwa itu merugikan umat Islam. Kalau tidak ada peristiwa, maka peristiwa juga bisa dibuat supaya menjadi berita. Itu yang saya maksud fakta bisa dibuat.”

Dalam hal ini, lanjut Mustofa, termasuk berita yang berkaitan dengan tuduhan “Rohis Teroris”, itu adalah fakta yang dibuat, berangkat dari penelitian yang dibikin, yang kemudian diberitakan di sebuah stasiun televisi.

Kata Mustofa, penelitinya, Prof Bambang Pranowo dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat dia datangi, kenapa menyebut Rohis “sarang teroris’, dari mana, maunya apa. Prof Bambang akhirnya mengakui bahwa yang dia paparkan boleh salah, tapi tidak boleh bohong.


“Dia sampaikan, bahwa penelitian ini boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” ungkap Mustofa menirukan ucapan Bambang. Masalahnya, kata Mustofa, Prof Bambang itu mewawancarai anak-anak SMP dan SMA dengan pertanyaan yang sangat resisten, misalnya apakah kamu setuju kalau lurah atau kepala desa itu non-Muslim, sementara mayoritas warga adalah Muslim.

“Ya, kalau lurahnya non-Muslim, sementara warganya mayoritas Muslim, Muslim mana yang setuju? Ditanya juga, apakah setuju dengan penggerebekan di sebuah hotel terhadap pasangan yang bukan suami istri, pasangan kumpul kebo, ya jawabnya setuju, itu kan bentuk nahi mungkar! Nah, jawaban-jawaban itu dipakai untuk kesimpulan survei bahwa ternyata anak-anak SMP-SMA yang masuk Rohis itu radikal,” urainya.

Jadi, fakta bisa dibuat peristiwanya dengan cara: melakukan survei, memunculkan peristiwanya, menyiapkan media dan nara sumbernya. “Dicari narasumber yang merugikan umat Islam,” demikian paparan Mustofa.

Wednesday, July 24, 2013

Pentingnya Sedekah di Bulan Ramadhan


Selain dikenal sebagai syahru shiyam, syahru qiyam, dan syahru Qur'an, Ramadhan juga masyhur dengan syahru muwasah (bulan bersimpati dan menolong) kepada fakir miskin dengan berbagi dan bersedekah. Dan bersedekah ini, termasuk salah satu dari amal utama di bulan yang sangat mulia ini.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)

Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan. Dan ini haruslah menjadi motifati/pendorong seorang muslim menjadi lebih dermawan pula di bulan yang mulia. Maka pada tulisan ini kami akan tuturkan beberapa sebab yang lebih bisa mendorong kaum mukminin yang sedang berpuasa Ramadhan untuk lebih dermawan di dalamnya. Antara lain:

1. Kemuliaan zaman (waktu) dan dilipat gandakannya amal-amal shalih di dalamnya. Dalam Sunan al-Tirmidzi, dari Anas bin Malik secara marfu', "Shadaqah yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan."

2. Membantu shaimin, qaimin, dan dzakirin untuk menjalankan ketaatan mereka. Inilah yang menjadi sebab ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka. Dalam hadits Zaid bin Khalid, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

"Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

3. Bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan di mana Allah berderma (melimpahkan kebaikan) kepada para hamba-Nya dengan mecurahkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, terlebih di Lailatul Qadar. Allah Ta'ala akan menyayangi para hamba-Nya yang senang mengasihi yang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

"Sesungguhnya Allah akan merahmati para hamba-Nya yang ruhama' (suka mengasihi yang lainnya)." (HR. Al-Buhkari) Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal.

4. Puasa dan shadaqah, keduanya menjadi sebab yang bisa menghantarkan ke surga. Seperti yang terdapat dalam hadits Ali Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,

"Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, kontinyu melaksanakan shiyam, dan shalat malam karena Allah di saat manusia tertidur." (HR. Al-Tirmidzi)

Amal-amal ini terkumpul pada bulan Ramadhan, di mana seorang mukmin mengumpulkan shiyam, qiyam, shadaqah, dan berkata yang baik di dalamnya. Pada saat yang sama, orang yang puasa menahan diri dari tindakan lahwun (sia-sia) dan tercela.

Shiyam, shadaqah, dan shalat bisa menghantarkan pelakunya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebagian ulama salaf berkata, "Shalat menghantarkan pelakunya kepada pertengahan jalan, puasa menghantarkannya sampai ke pintu raja, sementara shadaqah meraih tangannya untuk dimasukkannya menemui sang raja."

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian di pagi ini yang berpuasa?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah mengantarkan jenazah hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah memberi makan orang miskin hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah mengeluarkan shadaqah?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Lalu beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah amal-amal tersebut terkumpul pada diri seseorang kecuali ia akan masuk surga."

5. Berkumpulnya puasa dan shadaqah lebih kuat untuk dihapuskannya kesalahan, dipelihara dari jahannam, dan dijauhkan darinya. Lebih lagi, kalau digabung dengan qiyamullail. Terdapat sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa menjadi tameng." (HR. al-Nasai)

Dalam riwayat lain, "Tameng salah seorang kalian dari neraka sebagaimana tameng yang melindunginya dari serangan musuh." (HR. al-Nasai)

Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,

"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."

6. Dalam pelaksanaan puasa pastilah ada cacat dan kurang, sedangkan puasa bisa menghapuskan dosa-dosa bila puasanya memenuhi syaratnya, yaitu terjaga dari yang seharusnya dipeliharanya. Hal ini seperti yang terdapat dalam hadits yang dikeluarkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya.

Umumnya manusia, puasanya tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dipeliharanya. Oleh karena itu, seseorang dilarang mengatakan: "Aku telah berpuasa atau qiyam Ramadhan secara sempurna." Maka shadaqah menutup kekurangan dan cacat padanya. Karenanya, pada akhir Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah sebagai permbersih bagi orang yang berpuasa dari perkara lahwun dan perbuatan tercela.

7. Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya karena Allah. Jika ia menolong para shaimin untuk bertakwa dengan menyediakan makan dan minum untuk mereka maka kedudukannya seperti orang meninggalkan sikap egoisnya karena Allah dengan memikirkan dan membantu yang lain. Karena itu disyariatkan mengajak orang lain untuk berbuka bersamanya yang pada saat itu makanan menjadi sesuatu yang paling disukainya. Jika ia bisa berbagi dengan yang lain, semoga ia menjadi bagian dari orang yang memberi makanan yang disukainya kepada yang lain. Hal itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya makan dan minum untuknya setelah sebelumnya dilarang. Dan nikmat makan dan minum akan terasa luar biasa setelah sebelumnya tidak dibolehkan.

Sebagian ulama salaf saat ditanya tentang hikmah disyariatkan berpuasa menjawab, "Supaya orang kaya merasakan rasanya lapar sehingga tidak lupa terhadap orang-orang kelaparan." Dan ini termasuk hikmah dan faidah pelaksanaan ibadah shaum.

Disebutkan dalam hadits Salman, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan muwasah (bersimpati/menolong orang lain). Maka siapa yang tidak mampu mengutamakan orang lain atas dirinya maka tidak termasuk orang yang suka menolong. Maka kita lihat banyak ulama salaf yang lebih mengutamakan orang lain saat berbuka, bahkan melayaninya. Adalah Ibnu Umar saat berpuasa, ia tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya melarangnya, maka ia tidak makan pada malam itu. Dan jika datang seorang pengemis padahal ia bersiap akan makan, maka ia ambil sebagian dari makanan itu lalu ia bawa pergi untuk diberikan kepada pengemis tadi, dan saat ia kembali sisa makanan tadi sudah habis dimakan keluarganya, maka pada saat itu ia berpuasa dan tidak makan apa-apa.

8. Sebab lainnya, kenapa kaum muslimin bersikap dermawan pada bulan Ramadhan ini adalah seperti yang diutarakan oleh Imam Syafi'i, al-Qadhi 'Iyadh, Abu Ya'la, dan lainnya rahimahumullah, "Sesuatu yang paling disuka oleh seseorang dalam menambah kedermawanan di bulan Ramadhan adalah karena mencontoh kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." Juga karena pada bulan tersebut manusia terdesak dengan kebutuhan pokoknya sementara kesibukan kerja mereka tersita dengan ibadah shaum dan shalat tarawih. Sehingga jika orang kaya berbagi kepada saudara muslimnya yang kurang mampu, ia telah meringankan beban orang lain dan mempermudah urusannya. Dan Allah senantiasa menolong hamba, selama dia gemar menolong sesamanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. . . dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya." (HR. Muslim) Hadits tersebut menunjukkan keutamaan memenuhi kebutuhan kaum muslimin, memberi kemanfaatan bagi mereka dengan ilmu, harta, bantuan, nasihat, arahan kepada yang lebih bermanfaat bagi mereka, dan yang lainnya. Wallahu Ta'ala A'lam.











Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More