Be A Good Muslim Engineer

This blog shares bout life, as what we learn from Quran and sunnah that guide us how to supposed to be a good muslim. Islam and Science are unity, science nowadays says what Quran explained so long time before scientists found their invention.

Tuesday, November 19, 2013

Ketika yang Haram Diwajibkan


MUNGKIN karena kita terlalu terspesialisasi dalam hidup ini dan hidup terkotak-kotak dalam disiplinnya masing-masing, sehingga ketika ada sesuatu yang besar yang menuntut disiplin ilmu yang luas – kita menjadi tidak melihatnya. Seperti berada dalam hutan, kita hanya melihat pohon satu per satu tetapi tidak bisa melihat hutannya sendiri. Di negeri ini ada hal yang haram – yang sebentar lagi menjadi kewajiban seluruh warga negara untuk mengikuti yang haram tersebut – tetapi kita tidak tahu, kok bisa?

Kewajiban untuk mengikuti yang haram itu tersusun dalam serangkain Undang-undang dan Perpres yang sangat rapi yang disiapkan dalam 10 tahun terakhir – yet umat Islam tidak menyadarinya – sehingga terjebak menjadi wajib mengikuti yang haram tersebut.

Saya masih berprasangka baik sehingga masih mungkin diluruskan meskipun waktu kita kurang dari dua bulan – bila ada kemauan yang besar, insyaAllah bisa.

Prasangka baik itu adalah ketika awalnya pemerintah ingin memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduknya. Maka lahirlah undang-undang no 40 tahun 2004 tentang SJSN, yang kemudian diikuti UU no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Di antara pasalnya di UU no 36 tersebut berbunyi: “Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan sosial. ” (Pasal 13 , ayat 1). Kemudian “Program jaminan kesehatan sosial sebagimana dimaksud ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” (Pasal 13 , ayat 1).

Rankaian undang-undang tersebut kemudian disusuli dengan Peraturan Presiden yang baru keluar tahun ini yaitu Peraturan Presiden no 12/2013, yang antara lain berbunyi : “Kepesertaan Jaminan Kesehatan bersifat wajib dan dilakukan secara bertahap sehingga mencakup seluruh penduduk.” (pasal 6, ayat 1).

Pentahapan tersebut dimulai dari tanggal 1 januari 2014 dan batas akhirnya ketika seluruh penduduk sudah harus menjadi peserta Jaminan Kesehatan ini adalah tanggal 1 januari 2019. (Pasal 6, ayat 2).

Sampai di sini saya masih melihat ini adalah niat baik pemerintah untuk mengelola kesehatan dari rakyatnya.

Masalahnya kemudian timbul ketika turun pada siapa yang akan mengelola dana kesehatan tersebut dan bagaimana dikelolanya. PT. Askes yang dipercaya untuk mengelola jaminan kesehatan ini untuk dua tahun pertama misalnya, saya tidak melihat mereka memiliki kemauan maupun kemampuan untuk mengelola dana umat ini secara syariah.

Sampai laporan keuangan mereka terakhir yaitu tahun 2012, sekitar 40 % aset lancar mereka dikelola secara ribawi di bank-bank konvensional dalam berbagi bentuknya. Dalam jumlah yang kurang lebih sama, dikelola dalam reksadana. Jadi lebih dari 80% aset lancar mereka adalah aset ribawi, bisakah mereka mengelola dana umat secara syar’i?

Seluruh bank-bank yang menjadi rekanan , maupun seluruh pengelola reksadananya yang mereka pakai – semuanya konvensional yang mengandung maisir, gharar dan riba (magrib). Jadi nampaknya Askes masih sepenuhnya mengelola dana masyarakatnya secara konvendional dan belum nampak untuk membangun kemauan dan hubungan dengan industri keuangan syariah – yang sebenarnya sudah mulai marak di negeri ini.

Lho riba tho asuransi konvensional ini? inilah yang umat mayoritas ini tidak menyadari keharaman riba yang dilakukan oleh asuransi, koperasi, reksadana dslb. Padahal fatwa MUI no 1 tahun 2004 jelas-jelas menyatakaan keribaan seluruh bunga yang diperoleh oleh lembaga-lembaga keuangan non bank ini, sama dengan keribaan bunga bank.

“1.Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw, yakni riba nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk riba, dan riba haram hukumnya.

2. Praktek pembungaan tersebut hukumnya adalah haram, baik dilakukan oleh bank, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.” (Fatwa MUI no 1 Tahun 2004 Tentang Bunga)”.

Sekarang kita bisa melihat bahwa niat baik untuk memberikan Jaminan Kesehatan itu ternodai oleh pelaksanaannya yang masih akan full Riba.

Ketika dunia perbankan masih didominasi Riba (pasar ribawinya masih lebih dari 95 %), umat yang berusaha taat di negeri ini masih bisa menghindarinya dengan tidak menggunakan produk-produk ribawi perbankan.

Menjadi lain ceritanya ketika umat di negeri ini wajib mengikuti asuransi dan asuransinya dikelola ribawi, apa jadinya kita ? Riba saja sudah merupakan pernyataan perang terhadap Allah dan RasulNya (QS 2:279), apalagi bila yang riba itu menjadi yang diwajibkan. Beranikah kita ?

Sebelum umat terjebak dalam situasi yang sangat sulit ini, maka harus ada upaya meluruskannya dari pihak-pihak yang berkompeten.

Yang paling mudah dan sederhana sebenarnya adalah mengkonversi seluruh pengelolaan risiko kesehatan dan pengelolaan dananya oleh PT. Askes atau siapapun nantinya yang ditunjuk – untuk full comply dengan aturan syariah.

Ini sebenarnya permintaan yang wajar saja dari umat, karena mayoritas rakyat di negeri ini adalah umat Islam – maka apapun yang diberikan ke umat harus yang syar’i. Ketika Bulog misalnya mengimpor daging untuk rakyat, dia harus mengimpor daging yang halal karena untuk konsumsi mayoritas rakyat yang muslim ini.

Maka demikian jugalah lembaga yang akan mengurusi jaminan kesehatan mayoritas umat muslim ini, mereka harus make sure produknya halal. Teman-teman MUI yang sudah merumuskan haramnya bunga bank dan non bank- harus dilibatkan dalam mengawal kehalalan pengelolaan Jaminan Kesehatan ini, sebagaimana MUI pula yang mengawal kehalalan produk-produk makanan.

Cara yang kedua sedikit lebih berat, yaitu teman-teman asuransi syariah – melalui asosiasinya - harus berjuang keras ke otoritas negeri ini, agar mereka boleh atau dilibatkan dalam pengelolaan Jaminan Kesehatan yang wajib ini. Agar masyarakat nantinya punya pilihan, ok kalau memang diwajibkan – mbok ya jangan umat ini diwajibkan mengikuti yang ribawi, umat harus dibolehkan memilih yang syar’i.

Cara yang ketiga seperti dalam tulisan saya kemarin, umat ini punya pilihan sendiri tentang cara-cara mengelola Jaminan Kesehatan yang paling sesuai dan jelas ada rujukan dan contoh keberhasilannya di masa lampau. Mengelola dana kesehatan dengan dana baitul mal dan wakaf, atau kalau baitul mal-nya belum ada di negeri ini – maka bisa dengan solusi Ta'awun dan Wakaf (TAWAF) – yang design produk sampai saluran distribusinya sudah siap tinggal pakai.

Umat ini punya pilihan , punya waktu dan juga resources yang cukup untuk mencari solusi yang syar’i – mengapa harus diwajibkan mengikuti yang haram?*

Labels: ,

Wednesday, September 11, 2013

Mengenal Potensi Terjadinya Kejutan Arus Listrik


Seperti yang telah kita ketahui, listrik memerlukan path lengkap (sirkuit) untuk terus mengalir. Inilah sebabnya mengapa kejutan yang diterima dari listrik statis hanya sentakan sesaat: aliran elektron tentunya singkat ketika listrik statis antara dua benda seimbang muatannya. Kejutan dari tubuh dalam durasi terbatas seperti ini jarang berbahaya.

Tanpa dua titik kontak pada tubuh untuk arus masuk dan keluar, berturut-turut, tidak menimbulkan bahaya dari sengatan ini. Inilah sebabnya mengapa burung dapat dengan aman beristirahat di saluran listrik tegangan tinggi tanpa kesetrum: mereka membuat kontak dengan sirkuit di hanya satu titik.


Agar elektron mengalir melalui konduktor, harus ada tegangan untuk mendorongnya. Tegangan, karena Anda harus ingat, selalu relatif antara dua titik. Tidak ada hal seperti tegangan "diatas" atau "tepat pada" satu titik di sirkuit, sehingga burung yang kontak satu kakinya dalam rangkaian di atas tidak akan terkena tegangan kejut (kesetrum) di tubuhnya.

Ya, meskipun mereka beristirahat di dua kaki, kedua kakinya menyentuh kawat yang sama, membuat mereka netral (common) secara elektris. Secara elektrik menunjukkan, kedua kaki burung sentuh titik yang sama, maka tidak ada tegangan antara kedua kakinya untuk memotivasi arus melalui tubuh burung.

Ini mungkin meminjamkan salah satu asumsi bahwa tidak mungkin akan tersengat listrik dengan hanya menyentuh kawat tunggal. Seperti burung, jika kita yakin hanya menyentuh satu kawat pada suatu waktu, kita akan aman, kan? Sayangnya, ini tidak benar. Tidak seperti burung, orang biasanya berdiri di tanah ketika mereka kontak dengan kawat bertegangan.

Banyak kasus, satu sisi dari sistem tenaga listrik akan sengaja terhubung ke tanah, sehingga orang yang menyentuh kawat tunggal sebenarnya membuat kontak antara dua titik di sirkuit (kawat listrik dan bumi/ tanah)


Simbol ground adalah set tiga garis horisontal yang terletak di kiri bawah sirkuit yang ditampilkan, dan juga di kaki orang yang sedang tersengat listrik. Dalam kehidupan nyata sistem pentanahan listrik(grounding) terdiri dari beberapa jenis konduktor logam terpendam dalam tanah untuk membuat kontak maksimum dengan bumi. Konduktor secara elektrik tersambung ke jalur koneksi yang sesuai di sirkuit dengan kawat tebal.

Koneksi ground - korban adalah melalui kaki mereka, yang menyentuh bumi.

Beberapa pertanyaan biasanya muncul pada saat ini dalam pikiran siswa:

1. Jika adanya titik ground di sirkuit memberikan jalur kontak yang mudah bagi seseorang untuk tersengat, mengapa sirkuit listrik menerapkan grounding ?

2. Orang kesetrum mungkin tidak telanjang kaki. Jika karet dan kain berbahan isolasi, maka mengapa sepatu mereka tidak melindungi mereka dari kejutan listrik?

3. Seberapa baik konduktor dapat menjadi kotoran? Jika Anda bisa kesetrum oleh arus melalui bumi, mengapa tidak menggunakan bumi sebagai konduktor dalam rangkaian listrik kita?

Dalam menjawab pertanyaan pertama, tujuan titik "grounding" dalam sebuah sirkuit listrik dimaksudkan untuk memastikan bahwa satu sisi adalah aman jika kontak dengan manusia. Perhatikan bahwa jika posisi korban kita dalam diagram di bawah ini adalah untuk menyentuh sisi bawah resistor, tidak akan kesetrum meskipun kakinya masih akan kontak dengan tanah:


Karena sisi bawah sirkuit tersambung ke tanah melalui titik ground di-kiri bawah sirkuit, konduktor yang lebih rendah dari sirkuit tersebut dibuat common (netral) dengan bumi/tanah scr elektris. Karena tidak ada tegangan antara titik-titik common secara elektrik, tidak akan ada tegangan melalui orang yang kontak dengan kawat yang lebih rendah, dan mereka tidak akan menerima kejutan listrik.

Untuk alasan yang sama, kabel yang menghubungkan sirkuit ke batang/plat grounding biasanya dibiarkan telanjang (tanpa isolasi), agar material logam yang mengenainya akan sama-sama menjadi common (netral) dengan bumi secara elektris.

Sirkuit ground memastikan bahwa setidaknya satu titik di sirkuit akan aman untuk disentuh. Tapi bagaimana meninggalkan sirkuit yang tidak memakai grounding?

Bukankah itu membuat setiap orang hanya menyentuh kawat tunggal seaman burung duduk di hanya satu kabel? Idealnya, ya. Prakteknya, tidak. Amati apa yang terjadi dengan tidak adanya grounding sama sekali.


Terlepas dari kenyataan bahwa kaki orang tersebut masih terhubung dengan tanah, setiap titik dalam rangkaian harus aman untuk disentuh. Karena tidak ada jalan lengkap (sirkuit) yang dibentuk melalui tubuh seseorang dari sisi bawah dari sumber tegangan ke atas, tidak ada jalan bagi arus listrik yang akan melalui orang tersebut.

Namun, ini semua bisa berubah dengan 'kecelakaan grounding', seperti cabang pohon menyentuh kabel listrik dan menyediakan koneksi ke bumi:


Seperti insiden koneksi antara sistem konduktor listrik dan bumi (ground) disebut kesalahan pentanahan (ground fault). Kesalahan pentanahan dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk penumpukan kotoran pada isolator saluran listrik (menciptakan jalur air-kotor untuk arus dari konduktor ke tiang, dan ke tanah, saat hujan), resapan air ke tanah di dalam konduktor kabel listrik yang terpendam , dan burung mendarat di saluran listrik, menjembatani jalur listrik ke tiang dengan sayap mereka.

Mengingat banyak penyebab kesalahan pentanahan, hal semacam itu cenderung tak bisa diprediksi. Dalam kasus pohon, tak ada yang bisa menjamin kawat mana yang akan menyentuh cabang pohon. Jika sebuah pohon melawan kawat teratas di sirkuit, itu akan membuat kawat bagian atas aman untuk disentuh dan yang bawah akan menjadi berbahaya - hanya kebalikan dari skenario sebelumnya dimana kontak pohon dengan kawat bawah:


Dengan cabang pohon terhubung dengan kawat bagian atas, kawat tersebut menjadi konduktor yang dinetralkan pada sirkuit tersebut, elektrik umum dengan bumi tanah. Oleh karena itu, tidak ada tegangan antara kawat tersebut dengan tanah, tapi tegangan penuh (tinggi) antara kawat bawah dan tanah/ground.


Seperti disebutkan sebelumnya, cabang-cabang pohon hanya satu sumber potensi kesalahan pentanahan dalam sistem kelistrikan.

Dianggap sistem kelistrikan ungrounded dengan tidak ada pohon yang terhubung, tapi kali ini dengan dua orang menyentuh kabel tunggal


Dengan setiap orang berdiri di tanah , terhubung dengan berbagai titik di sirkuit , alur terjadinya sengatan tegangan listrik saat ini melalui satu orang sebelum beban, melalui bumi , dan melalui orang lain yang berdiri setelah beban.

Meskipun setiap orang berpikir mereka aman hanya menyentuh satu titik di sirkuit , tindakan gabungan mereka membuat skenario mematikan . Akibatnya , satu orang bertindak sebagai kesalahan tanah yang membuatnya tidak aman untuk orang lain . Ini adalah persis mengapa sistem tenaga ungrounded berbahaya : tegangan antara setiap titik di sirkuit dan tanah (bumi ) tidak dapat diprediksi , karena kesalahan tanah bisa muncul pada setiap titik di sirkuit setiap saat . Satu-satunya karakter yang dijamin aman dalam skenario ini adalah burung , yang tidak memiliki koneksi ke bumi tanah sama sekali!

Dengan tegas menghubungkan sebuah titik yang ditunjuk dalam rangkaian ke bumi/tanah ( " grounding " sirkuit ) , setidaknya keselamatan dapat diyakinkan pada satu titik tersebut. Ini lebih aman daripada tidak memiliki koneksi pentanahan (grounding) sama sekali.

Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua , sepatu bersol karet memang memberikan beberapa isolasi listrik untuk membantu melindungi seseorang dari kejutan arus listrik melalui kaki mereka . Namun , desain sepatu paling umum tidak dimaksudkan untuk menjadi "aman" secara elektrikal, sol mereka yang terlalu tipis , bukan dari substansi yang tepat.

Selain itu, setiap kelembaban , kotoran, atau garam konduktif dari keringat tubuh pada permukaan atau meresap melalui sol sepatu akan ikut mengurangi nilai isolasi sepatu. Ada sepatu khusus dibuat untuk pekerjaan listrik yang berbahaya , serta tikar karet tebal dibuat untuk berdiri saat bekerja pada sirkuit hidup, tetapi potongan-potongan khusus gigi harus dalam kondisi benar-benar bersih , kering agar efektif . Cukuplah untuk mengatakan , alas kaki normal tidak cukup untuk menjamin perlindungan terhadap sengatan listrik dari sistem tenaga listrik .

Penelitian yang dilakukan pada resistensi kontak antara bagian-bagian dari tubuh manusia dan titik kontak (seperti tanah ) menunjukkan beragam gambaran :
  • Kontak tangan atau kaki , terisolasi dengan karet : 20 M typical
  • Kontak kaki melalui kulit sol sepatu ( kering) : 100 k 500 k
  • Kontak kaki melalui kulit sol sepatu ( basah) : 5 k sampai 20 k
Seperti yang Anda lihat, tidak hanya karet bahan isolasi jauh lebih baik daripada kulit, namun keberadaan air dalam suatu zat berpori seperti kulit sangat mengurangi hambatan listrik. Sebagai jawaban atas pertanyaan ketiga, kotoran bukanlah konduktor yang sangat baik (setidaknya tidak ketika kotoran kering!).

Beberapa permukaan tanah merupakan isolator yang lebih baik daripada yang lain. Aspal, misalnya, yang berbahan dasar minyak, memiliki ketahanan yang jauh lebih besar daripada kebanyakan bentuk kotoran atau batu. Beton, di sisi lain, cenderung memiliki ketahanan yang cukup rendah karena kandunga intrinsik air dan elektrolitnya (kimia konduktif).

Labels: ,

Wednesday, August 7, 2013

Keras (P)ada Waktunya


Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama penuh kasih sayang. Agama yang sarat dengan ajaran cinta dan budi pekerti. Islam mengajarkan umatnya agar saling mengasihi satu sama lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang-orang yang mengasihi sesama, dia akan dikasihi oleh Allah. Kasihilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian.” (HR At Tirmidzi dan Al Baihaqi dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu).

Jangankan terhadap sesama manusia, bahkan terhadap binatang pun Islam mengajarkan agar memperlakukannya dengan baik. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa mendapatkan pahala karena berbuat baik terhadap binatang?”

Rasulullah menjawab, “Berbuat baik terhadap setiap makhluk hidup itu akan memperoleh pahala.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Sungguh, Islam sangat anti kekerasan. Bahkan, sejatinya Islam adalah agama penuh kelembutan, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala hal.” (Muttafaq ‘Alaih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu).

Selaras dengan ini, Islam juga anti anarkisme dan setiap tindak pengerusakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Sebaliknya, seorang hamba bisa masuk neraka disebabkan berbuat zhalim terhadap binatang, sebagaimana disebutkan hadits di atas. Meski demikian, bukan berarti Islam melarang umatnya bersikap keras dan tegas. Karena bagaimanapun juga, sikap keras dan tegas tentu diperlukan pada kondisi tertentu.

Lihatlah, betapa sangat marahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu yang berusaha melindungi seorang perempuan Bani Makhzum yang tertangkap mencuri. Dengan raut wajah memerah, Nabi berkata kepada Usamah, “Apa kau hendak memintakan ampun dalam masalah hukum (hudud) Allah?” (HR. Al-Jama’ah)

Dalam kasus Masjid Dhirar misalnya, saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat pulang dari perang Tabuk. Waktu itu, beliau baru sampai di Dzu Awan dan belum masuk Madinah. Namun, karena beliau mendapatkan informasi penting tentang Masjid Dhirar yang disalahgunakan untuk merusak Islam dari dalam (lihat QS. At-Taubah: 107-108), beliau pun segera memanggil Malik bin Dukhsyum, Ma’an bin Adi, Amir bin Sakan, dan Wahsyi.

Beliau bersabda, “Pergilah kalian ke masjid orang-orang zhalim ini. Hancurkan dan bakarlah masjid itu.”

Lalu, para sahabat ini pun bergegas meluncur ke Masjid Dhirar untuk melaksanakan instruksi Nabi-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi, dan lain-lain)

Mengomentari pembakaran dan penghancuran Masjid Dhirar milik kaum munafik, Imam Ibnul Qayyim berkata,

“Membakar dan menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dipakai untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Masjid Dhirar, sekalipun ia adalah masjid tempat shalat dan disebut nama Allah di dalamnya, tetapi karena ia membawa madharat dan memecah-belah kaum mukminin, serta menjadi markas kaum munafik; maka hukumnya adalah wajib bagi penguasa untuk membereskannya, baik itu dengan cara menghancurkan dan membakarnya, atau dengan cara mengubah bentuknya dan mengganti peruntukannya. Demikian pula hukumnya setiap tempat yang perkaranya seperti ini.”
(Zad Al-Ma’ad/III).

Labels:

Friday, June 28, 2013

NDSV: Steve Jobs & The Dell Dilemma


Oktober 1997

Dalam sebuah acara konferensi teknologi 16 tahun tahu, Michael Dell, CEO Dell Computer Inc, pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukannya bila pemegang saham Apple Computer mendapuknya untuk menduduki posisi Steve Jobs, CEO Apple. Waktu itu, Dell yang pernah menjadi CEO termuda di antara jajaran eksekutif perusahaan Fortune 500 memberi jawaban singkat namun pedas. Ia bilang, "What would I do? I’d shut it down and give the money back to the shareholders." (baca: "Apa yang akan saya lakukan? Saya akan menutup perusahaan lalu mengembalikan dana milik para pemegang saham.)

Saat Dell melontarkan kalimat tersebut. Posisi Michael Dell dan Steve Jobs memang sedang jauh berbeda. Dell laksana pahlawan amerika yang berada di awan kejayaan, sementara Steve hanyalah eksekutif yang sudah banyak dicap media sebagai sosok pengusaha gagal. Singkatnya, "Dell is cool. Jobs is fool."

Di era 90an, semua orang Amerika tampak sangat bangga saat mampu membeli produk-produk Dell. Hal yang sama mungkin juga terjadi dengan Steve dan Apple Computer, kecuali dari segi kuantitas. Pada dekade itu, PC masih merajalela. Dell adalah merk perangkat komputasi untuk semua kalangan, sementara Apple hanya dipakai oleh kalangan tertentu. Kata "Dell" ketika itu mungkin menyerupai kata "iPod" di tahun 2001 sebelum iPhone muncul di tahun 2007. Semua orang ingin memiliki, juga membeli.

Respon Steve Jobs

Balasan Steve Jobs terhadap komentar Michael Dell tadi sungguhlah tidak pantas untuk ditulis di sini. Tapi bagaimanapun juga, pada bulan Januari 2006, pada saat saham Apple melonjak drastik dan sempat sedikit berada di atas saham Dell, Steve menyebar memo ke semua pegawai Apple bahwa pria yang bernama Michael Dell sepertinya tidak terlalu pandai dalam memprediksi masa depan. Entah apakah itu sebuah doa yang terkabul ataukah tidak, banyak kalangan yang tampaknya ingin membenarkan ucapan Steve Jobs tersebut. Dell bukanlah seorang peramal yang baik.

Ketika Bumi mulai Berputar .... dan Terbalik

Bila kita lihat kondisi Dell dan Apple saat ini, kita harusnya sadar bahwa bumi sepertinya sudah berbalik 360 derajat. Raja di masa lalu belum tentu tetap menjadi raja di masa kini. Apalagi di masa depan. Saat ini, Apple adalah sang raja. Sementara Dell adalah "bekas" Raja. Produk-produk Apple adalah produk laris di pasaran. Beberapa diantaranya bahkan menjadi trend setter yang selalu dicoba untuk dibuatkan tiruannya oleh perusahaan-perusahaan lain. Termasuklah di dalamnya Dell.

Apple sukses dengan tablet PC dengan merk iPad. Dell lalu meniru dengan sebuah brand tablet PC mereka, Streak. iPad adalah sebuah kesuksesan besar. Sementara Streak adalah kegagalan total. Sampai hari ini iPad adalah tema pembicaraan, sedangkan Streak hanyalah nostalgia atau bahkan cuma sekilas berita.

Mulutmu Harimaumu

Salah satu aksi tidak terpuji yang sering dilakukan oleh pengusaha sukses adalah menyindir pengusaha lain yang belum bernasib seperti dirinya. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Michael Saul Dell, di sini saya hendak menjadikannya sebagai contoh pengusaha yang saya maksud. Michael Dell berperan selaku pengusaha yang menyindir, sementara Steve Jobs adalah objek yang disindir.

Sebelum dan sesaat melesatkan sindiran dari lidahnya, pengusaha sukses seperti Dell mungkin tidak pernah membayangkan bahwa segala sesuatu bisa berubah. Drastis. Dahulu, pada saat sedang berjaya, Dell mungkin tidak akan percaya kalau bisnis perakitan komputernya akan tergerus oleh sebuah revolusi yang dimulai dengan produk berupa telepon genggam tanpa keypad yang bisa disentuh.

Antiklimaks


Entah Mimpi apa yang pernah menyambangi Michael Dell, sekarang Apple, perusahaan yang dulu pernah diremehkannya, telah menjadi sebuah raksasa elektronik terbesar sejagat. Di bursa saham, hanya Exxon Mobil yang mampu mengalahkannya. Sedangkan Dell, anak emas dunia IT Amerika masa lampau sedang terkatung-katung nasibnya. Beberapa rumor menyebutkan bahwa Dell, Inc. akan dijual, tapi beberapa laporan resmi menyebut bahwa Michael Dell telah membeli sebagian besar saham dari para pemegang saham sebelumnya. Mungkin Dell mencoba menyelamatkan impiannya, tapi bisa saja Dell sedang menunggu Steve Jobs untuk menghinanya balik agar posisi sebelumnya bisa kembali seperti semua. Tapi sayang, hal ini sepertinya agak sulit direalisasikan karena Steve Jobs sekarang adalah seorang almarhum. Sorry Dell.

Source : www.pengusahamuslim.com

Labels: ,

Saturday, June 22, 2013

Pendidikan Karakter KH Hasyim Asy'ari


Kebanyakan masyarakat Indonesia, baik warga Nahdatul Ulama (NU) lebih-lebih di luar NU hanya tau jika KH. Hasyim Asy’ari hanyalah seorang ulama sekaligus aktivis. Pendiri NU ini adalah sosok pendidik yang sumbangsihnya dalam dunia pendidikan tidak bisa disepelekan.

Di tengah kurang berhasilnya –untuk tidak mengatakan gagal—sistem pendidikan di Indonesia, ada baiknya jika para pengambil kebijakan di negeri ini untuk kembali mengkaji dan menelaah pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari.

Pendidikan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah pendidikan yang berbasis karakter yang sedang digembar-gemborkan oleh Menteri Pendidikan saat ini untuk dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan karakter peserta didik. Itu artinya pemikiran pendidikan pengasas organisasi Islam terbesar di dunia ini telah melampaui zamnnya.Pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’Ari, dapat dengan jelas diketahui dalam kitabnya, “Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H”.

Peran Guru

Masalah pendidikan di negeri ini, selain kurikulum, metode juga menjadi sorotan. Ini dapat dipahami karena metode memang lebih penting dari kurikulum, Ath-thoriqah ahammu minal madah. Namun metode juga sangat tergantung pelaksanaannya pada guru, sebab guru lebih penting dari metode itu sendiri, al-mudarris ahammu min ath thariqah. Namun, roh seorang guru lebih bermakna dari jasadnya sendiri, wa ruhul mudarris ahammu min mudarris nafsuhu. Karena metode secanggih apa pun, jika berada pada guru yang tidak bersemangat akan nihil hasinya. Prinsip keterkaitan antara kurikulum, metode, dan guru, telah disadari pentingnnya oleh Hasyim Asy’ari dan para ulama-ulama muktabar yang terjun langsung mengurus lembaga pendidikan.

Di pondok pesantren misalnya, ada prinsip bahwa metode lebih penting dari materi; guru lebih penting dari metode; dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri. Jadi selain materi dan guru, jiwa guru sangat berperang penting dalam keberhsilan pengajaran. Karena dengan jiwa keikhlasan dan pengabdiannya, guru akan dapat mewarnai murid. Ini sesuai pendapat Sir Pency Nunn, seorang guru besar pendidikan di University of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung kebaikan, kebijakan, dan kecerdasan pendidik.

Hasyim Asy’ari, juga tampil menawarkan beberapa etika yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sebagai bekal dalam melaksanakan tuganya, sebagaimana berikut ini: seorang guru harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah); senantiasa takut kepada Allah (al-khauf ilallah); senantiasa bersikap tenang dan selalu berhati-hati (wara’); senantiasa tawadhu’, khusyuk, mengadukan segala persoalannya hanya kepada Allah; tidak menggunakan ilmunya hanya untuk meraih kepentingan dunia semata; tidak terlalu memanjakan anak didik; berlaku zuhud dalam kehidupan duniawi; menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah; menghindari tempat-tempat yang kotor dan tempat maksiat; senantiasa mengamalkan sunnah Nabi; istiqamahn dalam membaca Al-Qur’an; selalu bersikap ramah, ceria, dan suka menaburkan salam; membersihkan diri dari segenap perbuatan yang tidak disukai oleh Allah (ijtniabul manhiyat); selalu menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu oengetahuan; tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; dan membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas.

Ada pun etika adab-adab seorang guru ketika mengajar, Hasyim As’Ari menawarkan gagasan tentang etika atau adab-adab guru ketika mengajar sebagaimana berikut: Mensucikan diri dari hadas dan kotoran; berpakaian yang sopan dan rapi serta usahakan berabau wangi; berniatlah beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik; sampaikanlah hal-hal yang diajarkan oleh Allah; biasakanlah membaca untuk menambah ilmu pengetahuan; berilah salam ketika masuk ke dalam kelas; sebelum mengajr mulailah terlabih dahulu dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama maninggalkan kita; berpenampilan yang kalem dan jauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata; menjauhkan diri dari banyak bergurau dan banyak tertawa; jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, marah, mengantuk, dan sebagainya; pada waktu mengajar hendaklah mengambil duduk yang strategis; usahakan tampil dengan sikap ramah, lemah lembut, jelas dalam betutut, tegas, lugas, dan tidak sombong; dalam mengajar hendaklah mendahulukan materi-materi yang penting dan sisesuikan dengan profesi yang dimiliki; jangan sekali-sekali mengerjakan hal-hal yang bersifat syubhat dan bisa membinasakan; perhatikan masing-masing kemampuan murid dalam mengajar dan tidak terlalu lama, serta menciptakan ketenangan dalam ruangan belajat; menasihati dan menegur dengan baik bila mterdapat anak didik yang bandel; bersikaplah terbuka terhadap berbagai macam persoalan yang ditemukan; berilah kesempatan kepada peserta didik yang datangnya ketinggalan dan ulangilah penjelasan agar tahu apa yang dimaksud; dan bila sudah selesai, berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas atau belum dipahami.

Tidak hanya itu, Hasyim Asy’ari masih menawarkan bebrapa adab guru terhadap para murid-muridnya, sebagaimana berikut: seorang guru harus berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syariat Islam; menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian; hendaknya selalu melakukan intrsopeksi diri; menggunakan metode yang mudah dipahami oleh para murid; membangkitkan antusias peserta didik dengan memotivasinya; memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu; selalu memperhatikan kemampuan peserta didik; tidak terlalu mengorbitkan salah seorang peserta didik dan menafikan yang lainnya; mengarahkan minat peserta didik; bersikap terbuka dan lapang dada terhadap peserta didik; membantu memecahkan masalah dan kesulitan para peserta didik; bila terdapat pseta didik yang berhalangan hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya; tunjukkan sikap arif dan penyayang kepada peserta didik; dan selalulah rendah hati, tawadhu’.

Dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, pembentukan adab merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan, karena dengan adab peserta dapat menuntut ilmu dengan baik. Asy’ari lalu mengutif sebuah kisah bahwa ketika Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” beliau lalu menjawab, “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan [mendengarkan] seolah-olah setiap orang memiliki alat pendengaran [telinga]. Demikian perumpamaan hasrat kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau lantas ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana usaha seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” Maka dalam bukunya itu, Hasyim Asy’ari menuliskan kesimpulan kaitannya dengan masalah adab ini bahwa sebagia ulama menjelaskan konsekwensi dari pernyataan tauhid yang telah diikrarkan seseorang adalah mengharuskan beriman kepada Allah (dengan membenarkan dan meyakini Allah tanpa sedikit pun keraguan). Karena apabila ia tidak memiliki keimanan itu, tauhidnya dianggap tidak sah. Demikian pula keimanan jika keimanan tidak dibarengi dengan pengamalan syariat (hukum-hukum Islam) dengan baik maka sesungguhnya ia belum memiliki keimanan dan tauhid yang benar. Begitu pula dengan pengamalan syariat, apabila ia mengamalkannya tanpa dilandasi adab maka pada hakikatnya ia belum mengamalkan syariat dan belum dianggap beriman serta bertauhid kepada Allah. Berdasarkan beberapa hadis Rasulullah SAW dan keterangan para ulama di atas, kiranya tidak perlu kita ragukan lagi betapa luhurnya kedudukan adab di dalam ajaran agama Islam. Karena tanpa adab dan prilaku yang terpuji maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah SWT sebagai satu amal kebaikan, baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat kita maklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah adalah melalui sejauhmana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan.

Melihat gagasan-gagasan yang ditawarkan di atas, nampak jelas nuansa kesufian dalam diri Hasyim Asy’ari. Hal ini tidaklah mengherankan sebab dalam prilaku kehidupannya ia meang lebih cenderung pada kehidupan sufi. Dengan ilmu tasawuf dan hadis yang dikuasainya, sangat mewarnai gagasan pemikiran keagamaan dan juga dalam bidang pendidikan. Beliau adalah sufi yang tidak hanya sibuk dengan zikir dan fikir, tapi masuk berbaur dengan masyarakat untuk membebaskan umat dari belenggu kebodohan. Ada bebrapa catatan menarik dari gagasan-gagasan Asy’ari terkait dengan integritas seorang guru, seperti seorang guru haruslah membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas. Hasyiam Asy’ari memandang bahwa perlu adanya tulisan dan karangan, sebab media tulisan itula ilmu yang dimiliki seseorang akan terabadikan dan akan benyak memberi manfaat pada orang yang datang setelahnya, atau pada genrasi mendatang, di samping dirinya akan dikenang sepanjang masa. Sayang tradisi ini belum begitu membudaya di pondok pesantren.

Tapi harus diakui bahwa gagasan Hasyim Asy’ari di atas tidak terlepas dari praktik pendidikan yang telah dialaminya selama hidupnya, yang telah mengabadikan dirinya dalam dunia pendidikan. Inilah yang menjadi kekuatan tersendiri dalam mengeluarkan gagasan-gagasan. Sampai-sampai hal-hal yang sepele seperti cara menegur dan menyikapi anak yang terlambat masuk kelas juga diangkatnya. Jelas, hal ini hanya wujud dari para praktisi pendidikan yang paham betul dunia pendidikan, yang sangat sulit disentuh oleh para penggagas dan pengamat pendidikan yang hanya duduk di kursi kantor. Belum lagi pada penampilan, baik fisik maupun sikap, semua disajikan secara detail. Dengan mengaplikasikan pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari di atas, dengan haqqul yaqin, pendidikan karakter yang minus teladan akan terealisasi dengan sendirinya. Wallahu A’lam!

Labels: ,

Monday, June 17, 2013

Menguak Topeng Syiah [Bagian 2]


IMAM Ali sendiri mengharamkan Mut’ah. Ini tercantum dalam Shahih Muslim, yang mudah ditemukan di perpustakaan sekolah maupun pesantren. Tetapi Khomeini memiliki pendapat lain. Katanya, yang mengharamkan nikah Mut’ah adalah Umar bin Khattab.

Dalam kitab Kasyful Asrar, Khomeini memulai pembahasan mengenai Mut’ah dengan judul: “Penyimpangan Umar dari Al-Qur’an”. Lalu ia mengatakan: “Sesuai dengan khabar yang mutawatir dari Ahlul Bait dan hadits yang shahih, Jabir bin Abdillah Al-Anshari menukil dalam Sahih Muslim dari pengikut sunni bahwa mereka mengatakan: ‘Kami dahulu –pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar– melakukan Mut’ah, sampai Umar melarangnya.”

Artinya, Umar melarang sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nikah Mut’ah yang dibolehkah oleh Allah dan Rasul-Nya, dilarang oleh Umar. Dengan itu Umar telah menyeleweng dari Al-Qur’an. Begitulah kesimpulan yang ingin dibangun oleh Khomeini.

Pendapat ini diikuti oleh seluruh Syi’ah, baik yang ulama, ustad maupun orang awam, yang ikutan sok kritis. Semangat ilmiah yang dinampakkan dan dihasung oleh ustad-ustad Syi’ah, ternyata tidak mereka anut sendiri. Semua itu hanya sekedar retorika untuk memukau orang awam. Para ustad Syi’ah dan ulama Syi’ah tidak mau memeriksa dalam kitab Shahih Muslim. Kepercayaan dan kharisma Khomeini telah meruntuhkan semangat ilmiyah dan objektifitas mereka sendiri.

Tapi kami tidak begitu saja percaya pada Khomeini, meski Syi’ah telah menganggapnya sebagai wakil Imam Mahdi. Ternyata wakil Imam Mahdi sengaja berbohong. Ini nampak jelas pada makalah sebelumnya tentang; “Akhlak Imam Khomeini”.

Dalam Shahih Muslim, dalam bab Mut’ah, tercantum riwayat bahwa Ali marah pada orang yang menghalalkan Mut’ah. Orang itu memberi fatwa bahwa nikah Mut’ah adalah halal, berita itu sampai kepada Ali dan Ali pun marah. Katanya: “Engkau adalah orang bingung. Rasulullah telah melarang nikah Mut’ah..” –seperti pada hadits Yahya bin Yahya dari Malik–.

Sedangkan hadits riwayat Yahya bin Yahya dari Malik adalah sebagai berikut:

Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Abdullah dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Ali bin Abi Thalib bahwa “Rasulullah melarang nikah Mut’ah pada hari khaibar, dan melarang makan daging keledai jinak.”

Ali bin Abi Thalib, yang orang sering menyebutnya dengan julukan pintu ilmu, tidak rela jika ajaran Rasulullah SAW diselewengkan. Ketika ada yang menyimpang, segera dia meluruskan dan menyampaikan apa yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Ali yang menjadi pintu ilmu, tentunya lebih mengetahui ajaran Rasul dibanding orang yang menghalalkan nikah Mut’ah tadi.

Rupanya Khomeini tidak melihat langsung dari Shahih Muslim, hanya mendengar dari orang lain, lalu tidak dicek langsung ke Shahih Muslim. Oleh karenanya, Khomeini tidak melihat bahwa Ali juga mengharamkan nikah Mut’ah. Jika Umar divonis menyimpang dari Al-Qur’an karena menghalalkan nikah Mut’ah, apakah Ali juga akan divonis menyimpang?

Ternyata Umar telah mendengar langsung pengharaman Mut’ah dari Nabi, jika dinyatakan bahwa Umar adalah orang pertama yang mengharamkan, berarti di sini Ali telah mengikuti Umar bin Khattab, mengikuti pendapat sesatnya.

Ali pun menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena Ali menganggap Umar adalah orang baik-baik yang layak diambil menantu. Pernikahan itu melahirkan anak yang bernama Zaid bin Umar bin Khattab. Memang sebagian Syi’ah susah untuk menerima kenyataan ini, karena peristiwa ini akan meruntuhkan seluruh madzhab Syi’ah. Ada pertanyaan untuk mereka, jika memang Ummi Kultsum tidak menikah dengan Umar, siapa ayah dari Zaid bin Umar bin Khattab?

Selengkapnya bisa dirujuk ke makalah “Benarkah cucu Nabi diperkosa?”

Khomeini mengambil riwayat dari Jabir bin Abdullah dalam Shahih Muslim, tapi mengabaikan pendapat Ali bin Abi Thalib, karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya. Saya yakin Khomeini memiliki akses ke kitab Shahih Muslim.Ini semakin membuat kita ragu dan bertanya, apakah madzhab yang dianut oleh Khomeini adalah madzhab Ali bin Abi Thalib?

Baca Artikel Sebelumnya :
Menguak Topeng Syiah [bagian 1]

Labels: , ,

Saturday, June 15, 2013

Download Gratis 150 Ebook Repair Komputer [Highly Compressed 13 MB]

Lama gak posting ebook karena sibuk di dunia engineering, kali ini saya sempatkan untuk share ebook. Bagi yang ingin belajar jadi teknisi PC, paket ebook ini bisa didownload secara gratis. Isinya lumayan lengkap, cocok untuk wanita hamil, ibu menyusui, ataupun remaja putri yang lagi bete ga ada kegiatan yang ingin memperdalam pengetahuan IT nya... :)



Harapan saya, ebook ini tidak sekedar menjadi koleksi saja namun memiliki nilai manfaat bagi orang yang membacanya, karena hakekat ilmu pengetahuan bukan untuk dikomersialkan, namun untuk diamalkan dan disebarkan ke publik.

Isi dari 150+ ebook tersebut adalah :
1. 1 Tips Mudah Cara Memfoto Layar Komputer Tanpa Software
2. 11 Tips Cerdas: Tips Printer Awet dan Tahan Lama
3. 15 Cara Merawat Flashdisk Yang Benar Agar Awet dan Tahan Lama
4. 2 Cara Kilat Install Netbook, Laptop dengan Flashdisk!
5. 4 Software Ganas Anti Situs Pornografi, Blok Situs Negatif
6. 5 Detik Tips Ringan Cara Mengatasi Cartridge Hitam Printer Canon IP2770 yang Tidak Terdeteksi
7. 6 Kriteria Laptop atau Netbook Yang Baik dan Bagus
8. 6 Tips Jitu Agar Laptop Tidak Kepanasan
9. 8 Cara Jago Menghemat Baterai Laptop
10. 8 Tips Aman Menghindari Mata Lelah di depan Komputer
11. 9 Kelebihan PC Desktop Daripada Laptop Top Markotop
12. 9 Tips Cara Menjadi Teknisi Komputer Handal dan Profesional
13. Arti Kedip Lampu Printer Canon Tanpa Dukun
14. Belajar Quran Online Indonesia, Beribadah Dengan Teknologi
15. Beli VGA Baru, Monitor Mati Tidak Mau Menyala
16. Cara Aman Menggunakan Internet Tanpa Magic
17. Cara Gabung Group Text Box bergambar di MS Word 2007
18. Cara Ganti Password Yahoo Mail dalam 4 Langkah
19. Cara Instal Antivirus Komputer Yang Tepat
20. Cara Instal Font Arab di Microsoft Word 2003 tanpa Ribet
21. Cara Instal Tulisan Arab di Microsoft Word 2007 pada Windows 7
22. Cara Instal Windows 7 Dengan Flashdisk Yang Teruji
23. Cara Instal Windows 7 Lengkap dengan Gambar
24. Cara Melindungi Komputer dan Laptop dari Virus Sekali Babat
25. Cara Membersihkan Sampah Uninstall Sekali Usap
26. Cara Memblokir Situs Website Tanpa Software
27. Cara Membuat Drive Dari Folder Ala Sulap
28. Cara Membuat Dual Boot Windows XP dan windows 7 Tanpa Ribet
29. Cara Membuka File Docx di Office 2003 Anti Gagal
30. Cara Memilih Modem yang Bagus dalam 7 Step
31. Cara Memindahkan Harddisk Tanpa Bluescreen
32. Cara Memperbaiki BOOTMGR is Missing Windows 7 Jos Gandos
33. Cara Memperbaiki Flashdisk Rusak dan Bermasalah
34. Cara Memperbaiki Hardisk Bad Sector Anti Selip
35. Cara Memperbaiki Keyboard Laptop Terpencet Sendiri atau Sensitif
36. Cara Memperbaiki Motherboard Ala Teknisi Motherboard
37. Cara Memperbaiki Power Supply Komputer Tanpa Sihir
38. Cara Memperbaiki Windows 7 Black Screen Sekali Tiup
39. Cara Mempercepat Download IDM, 3 Pilihan Metode
40. Cara Mempercepat Kinerja Windows XP dalam 9 Langkah
41. Cara Mempercepat Koneksi Internet Tanpa Software
42. Cara Mempercepat Modem Smartfren Tanpa Lewat Tol
43. Cara Menangani Mouse Eksternal Tidak Terdeteksi Di Laptop
44. Cara Mencegah Spyware Ala Petugas Intelegen
45. Cara Mendisable USB Port Flashdisk Untuk Keamanan Komputer dan Laptop
46. Cara Mengatasi Komputer Lemot, Laptop lambat Tanpa Ribet
47. Cara Mengatasi Modem Panas Tanpa Kipas Sate
48. Cara Mengatasi Not Responding Pada Komputer Tanpa Software
49. Cara Mengatasi The System Has Recovered From A Serious Error
50. Cara Mengatasi Wifi Tidak Konek Internet, Sebuah Alternatif
51. Cara Mengembalikan Folder Option yang Hilang Pada Windows
52. Cara Mengenali Peringatan Beep Komputer, Waspadalah!
53. Cara Mengetahui Letak Font Arab Pada Keyboard Latin
54. Cara Mengganti Harddisk Laptop Sekali Putar
55. Cara Menghemat Kapasitas Harddisk Tanpa Syarat
56. Cara Menghilangkan Tanda Panah Shortcut Tanpa Software
57. Cara Menghubungkan 2 Komputer Ke Internet
58. Cara Mengoptimalkan Windows 7 Sekali Tepuk
59. Cara Menjalankan Aplikasi Android di Komputer atau Laptop
60. Cara Menjebol Password Windows XP dalam 2 Langkah
61. Cara Merawat Baterai Laptop Tanpa Kembang Tujuh Rupa
62. Cara Merawat IPAD, Tablet PC Android Yang Mudah
63. Cara Merawat Keyboard Tanpa Ribet
64. Cara Merawat Laptop dan Netbook yang Baik Dalam 9 Langkah
65. Cara Merawat Monitor Tanpa Masalah
66. Cara Merawat Mouse 7 Langkah
67. Cara Mount File Image Iso Menggunakan Power ISO
68. Cara Reset BIOS Komputer, Tanpa Sulap Sulip
69. Cara Uninstall Deep Freeze dengan 3 Ramuan Teler
70. Download Artav, Antivirus Anak SMP Bukan Antivirus Biasa
71. Ebook Teknisi Komputer Lengkap Super Diskon
72. Faktor-faktor penyebab Kerusakan Hardisk Komputer
73. Kelebihan dan Kekurangan Google, Mesin Sang Petualang
74. Kelebihan dan Kekurangan Internet, Media Informasi Terpopuler
75. Kelebihan dan Kekurangan Linux, Si Pinguin Menggemaskan
76. Kelebihan dan Kekurangan Microsoft Excel 2003 dan 2007
77. Kelebihan dan Kekurangan Mozilla Firefox Singkat dan Jelas
78. Kelebihan dan Kekurangan Windows 7, Apaan Tuh!
79. Kelebihan dan Kekurangan Windows, OS Populer Komputer
80. Kelebihan Google, Rekomendasi Mesin Pencari Setelah Galileo
81. Kuasai Tips Komputernya, Hemat Tips Servicenya
82. Kunci Rapat Komputer Anda dengan Deep Freeze 7
83. Laptop Zombie, Laptop Hidup Tapi Tidak Ada Tampilan
84. Misteri Tips Drive Tersembunyi : Tips Keamanan Data
85. Peluang Bisnis IT 1 : Tips Mujur Cara Membuka Bisnis Warnet
86. Peluang Bisnis IT 2 : Tips Bejo Cara Membuka Bisnis Game Online
87. Peluang Usaha IT 3 : Membuka Usaha Jual Beli dan Service Komputer
88. Perbandingan Windows 7 Antar Etnis Tanpa Rasis
89. Tips Ampuh Cara Mudah Mematikan Autorun
90. Tips Cepat Cara Melihat Rasi Bintang dan Zodiak Tanpa Peta Langit
91. Tips Cepat Cara Partisi Windows 7 Tanpa Software
92. Tips Cerdas Agar Casing Tidak Nyetrum alias Mengalirkan Listrik
93. Tips Cerdas Cara Membakar (Burning) CD/DVD Tanpa Software Nero
94. Tips Cerdas Cara Memilih Laptop Second Yang Baik
95. Tips Cerdas Cara Mempercepat Proses Shutdown
96. Tips Cerdas Cara Mengatasi Wintoflash Cannot Lock The Drive
97. Tips Cerdas Cara Mengenali 7 Arti Lampu Kedip Printer Canon Pixma IP
98. Tips Cerdas Cara Menjalankan Microsoft Word Secara Otomatis
99. Tips Cerdas Cara Menservis Komputer Sendiri
100. Tips Cerdik Cara Download dari Youtube tanpa Software
101. Tips Cerdik Cara Memasang Program Di System Tray Otomatis
102. Tips Efektif Cara Membuat Blog Tanpa Ribet
103. Tips Excel Cara Menghitung Data Angket Skripsi
104. Tips Gampang Cara Merawat Printer Inkjet Modifikasi
105. Tips Gratis Cara Menjadi Cerdas Bersama Ebook-Gratisan.Com
106. Tips Handal Cara Mengatasi Komputer Restart Terus ala Dukun
107. Tips Hebat Cara Membuat Soal Online, Hasil Dikirim Via Email
108. Tips Hebat Penggunaan Tombol Kombinasi CTRL+ di Microsoft Excel 2010
109. Tips Heboh Cara Mengoperasikan Laptop Lain Melalui Laptop Kita
110. Tips Hemat Cara Berbagi Internet Laptop Via Wifi
111. Tips Instan Cara Mematikan Laptop Cukup Menutup Flip Layarnya
112. Tips Instan Cara Membackup dan Restore Registry Windows
113. Tips Jago Cara Meningkatkan Performa Monitor
114. Tips Jeli Cara Mengganti Charger Laptop Yang Rusak
115. Tips Jitu Cara Instal Ulang Komputer Yang Baik dan Benar
116. Tips Jitu Cara Mempercepat Proses Booting Windows 7
117. Tips Jitu Cara Mengatasi Koneksi Internet Error atau Putus
118. Tips Lengkap Cara Instal windows XP Beserta Gambar
119. Tips Maknyus Cara Merawat Modem USB yang Baik dan Benar
120. Tips Manjur Cara Menentukan Program Default di Windows 7
121. Tips Memaksimalkan Pemanfaatan Koneksi Internet Untuk Bisnis Anda
122. Tips Membangun Backlink : Minta Sundul? Ikuti Kontes KlikSaya.Com
123. Tips Membeli Casing Komputer Yang Baik dan Berkualitas
124. Tips Menambah Penghasilan Bisnis Warnet Wow!
125. Tips Microsoft Excel yang Wajib Dikuasai Seorang Guru
126. Tips Microsoft Word 2007 Cara Menampilkan Operasi Matematika Equation Tools
127. Tips Mudah Cara Instal Driver Laptop, Komputer, dan Netbook
128. Tips Mudah Cara Melindungi Flashdisk Dari Virus Tanpa Software
129. Tips Mudah Cara Mengatasi Komputer Hang
130. Tips Mudah Cara Mengatasi Program Not Responding Pada Windows 7 dan XP
131. Tips Mudah Cara Mengecek Tagihan Listrik Secara Online
132. Tips Mudah Cara Mengecilkan Ukuran Gambar Untuk Upload Di Internet
133. Tips Mudah Cara Merawat Monitor Laptop yang Baik dan Benar
134. Tips Mudah Cara Untuk Menyembunyikan Icon Recycle Bin dari Desktop
135. Tips Nyleneh Cara Membuat Layar Laptop Terbalik di Windows 7
136. Tips Posisi Duduk Saat Menggunakan Komputer Yang Pas
137. Tips Prefentif Cara Mencegah Virus Dari Internet
138. Tips Promosi dan Menambah Pendapatan Bisnis Game Online
139. Tips Ringan Cara Meminimize Seluruh Program Di Windows 7
140. Tips Ringan Cara Memperbaiki Monitor Mati
141. Tips Ringan Cara Mendinginkan Prosesor (Processor)
142. Tips Ringan Cara Mengukur Kecepatan Internet Anda
143. Tips Saleh Cara Menggunakan Komputer Di Bulan Puasa
144. Tips Siaga Cara Merawat LCD Yang Baik dan Tepat
145. Tips Sulap Cara Cepat Mematikan Komputer Tanpa Software
146. Tips Sulap Cara Memunculkan Lirik Lagu Otomatis
147. Tips Untung Beriklan : 15 Juta Pembaca Untuk Produk Anda
148. Tips Wajib Cara merawat laptop yang baik: Larangan yang tidak boleh dilanggar
149. Trik 3D Cara Berpindah Aplikasi Pada Windows 7
150. Trik Ampuh Kumpulan Perintah Rahasia Dalam Pencarian Google
151. Trik Komputer Dukun Google: Cara Mengetahui Ramalan Cuaca Hari Ini
152. Trik Komputer Nakal Mengintip Webcam Internet yang Tidak di Password
153. Trik Mantap Mengatasi Lupa Password BIOS Laptop
154. Trik Ninja Cara Menyembunyikan Komputer Dalam Jaringan
155. Win32.Sality Virus Pelumpuh Aplikasi, Cari Cara Mencegah Sejak Dini

DOWNLOAD

Labels: , ,

Tuesday, May 28, 2013

Benarkah Jihad Melawan Hawa Nafsu Lebih Tinggi Dibanding Jihad Fisabilillah ?



Catatan ini saya buat untuk membantah argumentasi kaum liberal, para orientalis serta orang2 yg sudah terjangkit Al-Wahn akut dalam dirinya yang ingin merubah makna jihad yg sebenarnya.

Diantara kesalahan tentang pemahaman Jihad yang menyebabkan ummat enggan untuk melaksanakannya adalah pemahaman jihad besar (jihad melawan hawa nafsu) dan jihad yang lebih rendah. Seiring dengan keyakinan ini, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri dipertimbangkan sebagai jihad yang terbesar, yang menjadikan jihad dengan berperang di medan pertempuran merupakan jihad yang paling rendah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sewaktu pulang dari perang Tabuk:


Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Mereka berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad hati.” (HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (384) dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (Bab Al-Wawi/Dzikr Al-Asma` Al-Mufradah) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhuma. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (biografi Ibrahim bin Abi Ablah Al-Adawi/210) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (biografi Ibrahim bin Abi Ablah); dari Ibrahim bin Abi Ablah. 

Imam As-Suyuthi mengatakan, “Diriwayatkan Ad-Dailami, Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd, dan Al-Khathib.”[Jami’ Al-Ahadits (15164)]

Dalam riwayat Al-Khathib disebutkan, bahwa ketika NabiShallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat baru saja dari suatu peperangan, beliau bersabda kepada mereka,



Kalian telah kembali ke tempat kedatangan terbaik, dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Nabi bersabda, “Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.


Konsepsi ini walaupun secara fakta didasarkan atas sebuah hadits, akan tetapi hadits ini dapat disangkal dari beberapa aspek, yang akan saya sebutkan berikut ini.

1. Status Keshahihannya hadits jihaad al-nafs  lemah (dhaif), baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan.

Dari sisi sanad, isnad hadits tersebut lemah (dha'if). Al-Hafidz al-'Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin 'Ablah. (lihat kitab Al Jihad wal Qital fi Siyasah Syar’iyah karya Dr. Muhammad Khair Haikal)  
Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini,

Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini sanadnya lemah." 
As-Suyuthi menukil dari Ibnu Hajar, “Hadits ini sangat terkenal dan sering diucapkan. Ia adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah dalam Al-Kunanya An-Nasa`i.”[Ad-Durar Al-Muntatsarah fi Al-Ahadits Al-Musytaharah (1/11)]
Al-Iraqi mendha’ifkan hadits ini dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya` (2567).
As-Suyuti juga berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam bukunya, Jami’ As-Shaghir.


Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa hadits dha’if bisa diterima dalam persoalan keutamaan amal. Pendapat ini tidak bisa diterima, karena kami tidak percaya bahwa jihad bisa digunakan untuk keutamaan amal. Jika hal itu memang benar, bagaimana mungkin Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Diamnya ummat ini adalah penghianatan terhadap jihad”


Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.

Bahkan Ibnu Taimiyah mengkategorikannya sebagai hadist mungkar. Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada dasarnya dan tidak seorang pun ahli makrifat yang meriwayatkannya sebagai perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bagaimanapun, jihad melawan kaum kafir adalah termasuk amalan yang terbesar dan paling utama.”[ Majmu’ Al-Fatawa: 11/197, dan Al-Furqan Baina Awliya` Ar-Rahman wa Awliya` Asy-Syaithan: 46]
Dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (2460), Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits mungkar.” Dan dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir (8510), Al-Albani mendha’ifkannya


Dari sisi matan hadits (redaksi), redaksi hadits jihaad al-nafs  di atas bertentangan dengan nash Al Qur’an maupun Hadits yang menuturkan keutamaan jihaad fi sabilillah di atas amal-amal kebaikan yang lain. Oleh karena itu, redaksi (matan) hadits jihad al-nafs tidak dapat diterima karena bertentangan dengan nash-nash lain yang menuturkan keutamaan jihad fi sabilillah di atas amal-amal perbuatan yang lain.


Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

Tidaklah sama antara mu`min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai `uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk [340] satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk [341] dengan pahala yang besar,

(yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nissa':95-96)

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.(QS.At-Taubah:20-22)


Hadits ini (hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) juga bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya.

“Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)

“Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)
Abu Hurairah ra berkata,
“ Apakah ada diantara kamu yang mampu berdiri dalam shalat tanpa berhenti dan terus melakukannya sepanjang hidupnya?” Orang-orang berkata, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang mampu melakukannya?” Beliau berkata “Demi Allah! Satu harinya seorang mujahid di jalan Allah adalah lebih baik daripada itu.”Pernyataan dari orang yang mengatakan bahwa “Berjuang melawan dirinya sendiri adalah jihad yang terbesar karena tiap individu mendapatkan ujian siang dan malam”, dapat disangkal dengan hadits berikut:Dari Rasyid, dari Sa’ad r.a., dari seorang sahabat, seorang laki-laki bertanya, “ Ya Rasulallah! Kenapa semua orang-orang yang beriman mendapatkan siksa kubur kecuali orang-orang yang syahid?” Beliau saw. menjawab: “Pertarungan dari pedang di atas kepalanya telah cukup sebagai siksaan (ujian) atasnya.” (Shahih Jami’)

Berkata Ibnu Hajar pengertian yg segera dapat ditangkap dari kata2 fisabilillah adalah jihad Kalau fisabilillah disebutkan secara mutlak (tdk tersambung dg kata lain) secara bebas artinya adalah jihad. Ada sebagian org yg merubah pengertian syar’i dg memperluas pengertian fisabilillah menafsirkan sabda Rasulullah ini Sungguh berangkat dipagi hari atau di sore hari fi sabilillah itu lebih baik daripada bumi dan seisinya (HR.Bukhari)

Mereka menafsirkan hadist ini dg tabligh, kutbah, pidato!!! Menafsirkan dg duduk menyadarkan seseorang agar sholat, puasa!!! Inikah perang fisabilillah yg lebih baik daripada dunia & seiisinya?! Ini adalah perluasan arti dalam bhsa yg memang memungkinnya. Tetap istilah syar’I tidak memperbolehkannya. Rasulullah bila mengucapkan secara mutlak kata2 fisabilillah, kata2 itu berarti jihad jika dimutlakan, karena itu kletika seseorang bertanya kepada rasulullah : Tunjukanlah kepada kami amal yg menyamai jihad, beliau menjawab: “aku tdk mendapatkannya, lalu beliau bersabda: apakah kamu mampu bila seoarang mujahid keluar(berperang) kamu masuk ke dalam masjid lalu berdiri utk sholat tanpa terputus, & berpuasa tanpa berbuka. Orang itu berkata :siapakah yg dapat melakukan itu? (HR.Bukhari)


2. Kesalahpahaman dari penafsiran hadist ini termasuk dalam bentuk ketidak adilan dan salah dalam menempatkan status para mujahid.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Maidah:8)

Apakah adil, kita mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan perang adalah jihad yang paling rendah? Ketika dalam hitungan menit saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka, tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan (karena telah hancur).

Itu semua mereka lakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai, jika anda menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam) maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda.

Dr.Muhammad Amin, seorang penduduk Mesir berkata dalam kitabnya, bagian dari dakwah Islam adalah jihad dengan dirinya sendiri, adapun jihad dengan harta tidak menunjukkan atas penegakkan seruan atas kebenaran dan berpendirian di atas kebenaran, menyeru kepada kebenaran dan melarang kemunkaran serta memberikan kontribusi hidup dan hartanya di jalan Allah merupakan jihad yang kurang sempurna. Ini adalah ungkapan yang aneh!!!

Tatkala kita ditimpa ujian yang sangat berat dimana kaki ikut terguncang dan hati selalu was-was akan ancaman, bisakah itu disebut jihad yang rendah? Ketika kita merasakan keadaan aman dan nyaman di rumah, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, bisakah ini disebut dengan tingkatan jihad yang tertinggi ! Keadaan ini seperti ungkapan seseorang yang gembira dalam keadaan duduk membelakangi perintah Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya. Seperti orang yang mendapati kesenangan dan kenyamanan dalam hidupnya padahal realitanya mereka hanya menipu jiwa mereka sendiri yang lemah karena nilai-nilai kebenaran amal seluruhnya mereka tentang.

3. Pertimbangan Jihad
Sebagian orang mungkin heran ketika mereka mendengar orang yang menggambarkan jihad (di medan perang) adalah jihad yang terendah atau orang yang menganggap berperang di jalan Allah merupakan aktivitas yang kecil dibandingkan dengan perbuatan yang lain. Jika kita menelusuri kehidupan orang-orang tersebut, melihat sejarah mereka dan mempelajari alasan-alasan mereka atas penolakan persoalan ini, maka akan kita temukan bahwa penjelasan atas pendirian mereka adalah sangat sederhana. Orang-orang tersebut meremehkan jihad dan memberikan prioritas kepada studi di Universitas, menulis di majalah-majalah dan berpidato di konferensi-konferensi untuk mengakhiri perang dan mengakhiri aksi syahid. Dengan melihat kehidupan mereka, maka akan ditemukan sebuah ancaman terhadap kesatuan ummat, karena ummat ini akan digiring pada pandangan mereka.

Ummat akan merasa bahwa dirinya lemah dan menahan diri dari aktivitas jihad (mereka hanya menerima teori dan konsepnya saja) akan tetapi tidak berpartisipasi dalam jihad. Tidak ada keinginan atas dirinya untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah (Syahid), mereka juga menganggap tidak memiliki keuntungan untuk bergabung dengan camp-camp mujahid. Sebuah camp yang serba sederhana, jauh dari kemewahan dan kekurangan akan bahan pokok, yang akan menjadikan mereka merasakan perbedaannya antara kehidupan di camp tersebut dengan kehidupan yang dijalaninya di universitas yang penuh dengan makanan-makanan, hiburan dan ruangan kelas yang berAC.

Bagaimana mungkin orang-orang tersebut dapat menerima kebenaran nilai dari jihad ketika mereka tidak berpartisipasi dalam dunia perang, tidak juga masuk ke dalam arena kerusuhan dalam perang?

Jika seorang terjun ke dalam sebuah pertempuran maka cukup untuk membenarkan atas semua kesalahpahamannya. Seorang mujahid, hanya dalam hitungan beberapa jam saja dapat melihat segala sesuatu yang menakutkan yang akan menyebabkan rambut anak-anak pun menjadi beruban. Bom-bom yang meledak akan membersihkan jiwa-jiwa saudara-saudara kita yang kita cintai yang ikut andil dalam perjuangan dan jihad. Mereka akan melihat bagaimana situasi dari orang-orang ketika roket-roket meledak di atas kulit kepala mereka atau di bawah kaki mereka? Bagaimana situasi ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri anggota tubuh seperti lengan, kaki dan usus hancur berhamburan, anggota tubuh yang sehat menjadi cacat, hilang ingatan atau lumpuh? Inilah alasan pokok atas penolakan orang-orang yang meremehkan jihad.

Dalam beberapa jam atau hari seorang mujahid melihat dengan mata kepalanya sendiri bentuk-bentuk kekerasan, ujian dan kesengsaraan yang dialami tatkala jihad, tidakkah yang lainnya melihat hal ini selama 10 tahun terakhir ini? Akan menjadi sesuatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk melaksanakan aktivitas jihad secara fisik kecuali ia dapat berpartisipasi di dalamnya. Oleh karena itu orang yang masih berselisih dengan mujahid dalam persoalan jihad ini atau orang-orang menyeru manusia untuk meninggalkan perang maka sebaiknya bergabung dengan camp jihad walaupun hanya sebagai pembantu atau dia seharusnya berpartisipasi dalam perang walaupun hanya sebagai orang yang masak, lalu setelah itu kita akan melihat pendapat-pendapatnya, apakah masih dia mengatakan bahwa pena sebanding atau sama dengan kalashnikov ?


Di akhir tulisan ini, saya kutipkan beberapa kalimat yang telah dikirim oleh seorang mujahid Abdullah bin Al-Mubaraq dari tanah jihad kepada temannya Al-Fudail bin Iyyad, orang yang menasihati para penguasa dan membuatnya menangis, beliau tidak meminta bayaran akan tetapi murni muncul dari keikhlasan.


“ Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain, seandainya engkau melihat kami tentu engkau tahu bahwa engkau dalam beribadah itu hanya main-main saja, kalau orang pipinya berlinang air mata, maka, leher kami dilumuri darah “

Wallahu'alam bishshowab...


 

Labels: , ,

Monday, May 20, 2013

Pluralisme & Kerancuan Berpikir yang Melahirkan Neo Sophist

BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.

Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.

Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.

Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.

Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.

Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)

Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)

Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.

Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.

Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.

Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.

Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)

Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.

Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).

Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.

Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.

“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).

Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.

Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.

Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.

Labels:

Saturday, May 11, 2013

Taman Siswa Didirikan untuk Membendung Ajaran Pesantren


Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad.” Itulah ajaran utama dari KH Ahmad Dahlan.

Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang.

Ahmad Dahlan mengatakan meminta kepada kuburan dilarang. Ahmad Dahlan juga melarang penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak.

Tapi pihak keraton tetap saja melakukan perbuatan yang dilarang Islam tersebut. Ahmad Dahlan juga hendak membetulkan arah kiblat di Masjid Keraton, tapi pihak keraton menolak.

Ahmad Dahlan lalu berhenti dari pekerjaannya sebagai ‘ketib’ (khatib) keraton. Dahlan pun mereformasi sistem pendidikan pesantren yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya karena mengutamakan hafalan serta tidak merespon “ilmu pengetahuan umum”.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah dari segi jumlah dan keragamannya jauh lebih besar daripada Taman Siswa bentukan Ki Hadjar Dewantara yang tanggal lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Taman Siswa pun baru berdiri 3 Juli 1922. Sementara Muhammadiyah berdiri 18 November 1912, bahkan KH Ahmad Dahlan sudah mendirikan sekolah tanpa badan hukum tahun 1911.

Tak heran, menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, penetapan Hari Pendidikan Nasional dilakukan ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat oleh Ki Hadjar Dewantara yang menetapkan hari lahirnya sendiri sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sekolah Muhammadiyah bercorak Islam dan nasionalis, sedangkan Taman Siswa bercorak kebatinan dan Theosofi Barat. Tokoh Theosofi adalah tokoh yang mengusahakan bersatunya pribumi dengan Belanda dalam Uni-Indonesia Belanda, bukan kemerdekaan Indonesia.

Buya Hamka menulis dalam bukunya Perkembangan Kebatinan di Indonesia bahwa Taman Siswa mengamalkan apa yang mereka sebut sebagai Panca Dharma alias Lima Pengabdian, yaitu:Kemerdekaan, Kodrat Alam, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan.

Taman Siswa tidak menyebutkan Ketuhanan sehingga tidak sesuai dengan Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Juga, tidak sesuai dengan pasal 29 ayat 1 UUD 1945, yaitu “ Negara Berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Seorang Residen Belanda, Janquire, juga dengan tegas menyatakan bahwa cita-cita Taman Siswa “anti-Tuhan” dan “anti-agama”. (Artawijaya, “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara”).

Sekolah-sekolah Muhammadiyah secara garis besar dibagi dua:

Sekolah Agama: Muallimin, Muallimat, Diniyah ibtidaiyah, Diniyah Wustho dan sekolah Tabligh Kulliyatul Muballighin.

Sekolah Umum terdiri dari: Volks School Muhammadiyah (sekolah Rakyat/Sekolah Dasar), Vevrolg School (lanjutan Sekolah Rakyat) Normal School, Cursus Voor Volks Onderwiojzer (CVO), kursus untuk calon guru Vervolg School, HIS, SChakel School, MULO, AMS, HIK. Sementara Taman Siswa hanya 1 macam.

Sekolah Muhammadiyah juga berkembang. Cabangnya ke seluruh Indonesia dan masih eksis sampai sekarang. Sedangkan Sekolah Taman Siswa hanya di situ-situ saja dan tidak terlalu eksis hingga sekarang.

MC Ricklefs seorang guru besar dari Monash University Australia menulis bahwa kelahiran Taman Siswa adalah bertujuan untuk membendung dan meredam Pendikan Muhammadiyah yang cenderung radikal dan Non Kooperatif.

Artinya, Pendidikan Muhammadiyah dengan asas Islam lebih jelas menyuarakan kemerdekaan Indoesia dan tanpa kompromi dengan Belanda. Ki Hadjar Dewantara lebih dekat dengan orang Belanda melalui gerakan Freemasonry-nya. Ada beberapa buku yang menjelaskan soal ini seperti buku Tarekat Mason Bebas dan buku Gerakan Theosofi karya Iskandar P. Nugraha.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kiai Dahlan, menurut Adaby Darban dalam buku Peran Serta Islam dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911.

Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” (kegiatan Kiai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kiai Dahlan secara informal.

Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma (1911), disebutkan kampung Kauman Yogyakarta, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu.

Kegiatan ajar-mengajar justru mengambil tempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kiai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis. Mengajarkan agama dengan cara baru, di samping memberikan pengetahuan ilmu-ilmu umum. Jadi sekarang, layakkah 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional? Sebenarnya Hari Pendidikan adalah pada 1 Agustus, hari lahirnya KH Ahmad Dahlan–bukan 2 Mei, tanggal lahirnya Ki Hadjar Dewantara.

Labels: ,

Tuesday, April 30, 2013

Tasawwuf dan Wali Menurut Syeikh Hasyim Asy’ari

Oleh: Kholili Hasib
 
SYEIKH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menjelaskan tentang hakikat tasawwuf serta penyimpangannya dalam dua kitab yaitu, Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah dan Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah. Kitab Al-Dhurar ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’ari khusus mengkaji tentang wali dan tariqah tasawwuf.

Dalam dunia tasawwuf – juga dalam cabang-cabang ilmu lain – dalam kenyataannya memang terdapat cendekiawan palsu yang membelokkan jalan dari aturan syariah. Dalam bidang tasawwuf ini menurut Syeikh Hasyim juga terdapat orang yang merusak konsep tasawwuf. Peringatan adanya jahlatul mutashawwifah (orang-orang bodoh yang mengaku bertasawwuf) disebutkan oleh Syeikh Hasyim dalam Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Ciri-ciri mereka disebutkan menganut paham ibahiyyah (aliran menggugurkan kewajiban syariat untuk maqom tertentu), reinkarnasi, manunggaling kawulo (Syeikh Hasyim Asy’ari,Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 12).

Kewajiban syari’at bagai penganut tariqah sufi dan para sufi tetaplah wajib dijalankan, dimanapun, kapapun dan dalam keadaan apapun. Syeikh Hasyim menolak jika kewajiban syariat Nabi Muhammad itu terpakai untuk orang tertentu dan terbatas pada waktu tertentu. Orang yang meymakini gugurnya syariat pada orang dan waktu tertentu dikatakan sebagai orang yang mendustakan dan merendahkan al-Qur’an yang agung (istihza anil Qur’anil ‘adzim).
Dengan pemahaman ini, tidak ada perbedaan antara seorang murid (pengikut tariqah) dengan mursyid (pemimpin tariqah), antara wali dan yang bukan wali, seluruhnya menanggung kewajiban syari’at.

Pandangan Syeikh Hasyim tersebut sejalah dengan Syeikh al-Qusyairi, ulama’ sufi tersohor dari Khurasan. Dalam kitabnya al-Risalah al-Qusyairiyah, Syeikh al-Qusyairi menerangkan karakterisitik ahli tasawwuf. Di antaranya hifdzul Adabi al-Syari’ah (menjaga adab syariah). Syeikh Hasyim juga banyak menukil para sufi beraliran Sunni, yang terutama Syeikh al-Junaid dan Hujjatul Islamm Imam al-Ghazali.

Dalam anggaran dasar NU, bahwa dalam aspek tasawwuf NU mengikuti Syeikh al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Pemikiran sufi Syeikh Hasyim banyak dipengaruhi dua ulama sufi tersebut.

Corak yang menonjol dari pemikiran tassawuf Syeikh Hasyim adalah membangun citra positif tentang sufi dalam menghadapi aliran-aliran sesat di luar Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Secara geneologis, tasawwuf Syeikh Hasyim berasal dari ajaran Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Khatib Sambas ketika belajar di Makkah al-Mukarramah. Syeikh al-Bantani dan Syeikh Khatib Sambas adalah dua ulama’ dari Indonesia yang mengajar di Makkah. Keduanya mewarisi tasawwuf Imam al-Ghazali.

Syeikh al-Junaid yang dikenal guru besar para sufi dari Baghdad sangat ketat mengajarkan syariat dalam murid-muridnya. Menurutnya, orang yang merasa telah wushul (sampai) kepada tingkat tertentu kemudian meninggalkan aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt itu lebih buruk dari orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat bukanlah wali tapi jahil (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya’, hal. 368).

Imam al-Ghazali mengkritik bahwa seoarang sufi yang mengikuti paradigma asing, yang bukan paradigma Sunni, tidak pantas disebut ahli sufi, sebagaimana dilakukan kaum ta’limiyyah/bathiniyyah.

Corak pemikiran tersebut diadopsi oleh Syeikh Hasyim Asy’ari. Orang yang mengaku dirinya wali tetapi dalam kesaksiannya tidak mengikuti syariat Nabi Muhammad saw, maka orang tersebut adalah pendusta. Beliau mengatakan:

“Barangsiapa yang mengaku dirinya wali tanpa kesaksian bahwa dia mengikuti syariat Nabi Muhammad saw, maka pengakuan tersebut dusta bohong.” (Hasyim Asy’ari, Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 4).

Syeikh Hasyim berpendapat, wali tidak akan memamerkan dirinya sebagai wali. Justru seorang sufi tidak menyukai popularitas. Ia mengatakan: “Jenis fitnah itu banyak sekali. Di antara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi guru tarekat dan wali. Bahkan sampai mengaku dirinya wali quthb, dan imam mahdi. Padahal mmereka bukan ahli syariat.” (Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 1).

Sedangkan kaum muslimin, banyak yang tertipu mengikuti ajakan yang bermacam-macam tanpa memikirkan apakah ajakan itu haq atau batil, benar atau salah, tidak mengikuti norma-norma yang disebutkan dalam kitab fikih.

Dikatakan bahwa karakter seorang wali justru menyembunyikan kewalian dan mengedepankan tawadhu’. Ia mengatakan: “Wali itu tidak membuka jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Bahkan kalau bisa ia akan menyembunyikannnya. Karena itu orang yang ingin terkenal dalam hal tersebut, bukanlah ia seorang ahli tariqah” (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 9).

Seorang wali, menurut Syeikh Hasyim adalah seseorang yang dipelihari oleh Allah Subhanahu Wata'ala dari melakukan dosa besar, terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejab, bila melakukan dosa ia bersegera bertaubat kepada Allah swt. Inilah tiga ciri khas dan utama dari seorang wali.

Karena itu, seorang wali menjaga hak-hak Allah dan hak-hak seorang hamba Allah dengan cara mengikuti syariat Rasulullah saw. Atas dasar ini, Syeikh Hasyim berpendapat bahwa syarat menjadi wali adalah mahfudz (terjaga dari kemaksiatan). Artinya terjaga dari terus-menerus berada dalam kesalahan dan kekeliruan. Apabila terjatuh kepada kesalahan, ia segara bertaubat dan kembali kepada kebenaran.

Seorang tidak dapat disebut wali jika ia meremehkan syariat, mengejek al-Qur’an, membela kesesatan. Sifat pokok kewalian disebut oleh Syeikh Hasyim dengan “istiqamatu ‘ala adabi al-syari’ah al-Islammiyah” (istiqamah dalam adab syariat Islam). Seseorang yang mengaku secara dusta bahwa dirinya wali, sesungguhnya orang tersebut tertipu oleh bujuk setan. Ia mengatakan:

“Setiap orang yang bertentangan dengan syariat, maka orang tersebut tertipu oleh nafsu dan setan.” (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 6).

Ia sangat selektif dan ketat menerapkan syariat dalam menilai kewalian seseorang. Tauhid dan syariat adalah parameter utama. Dalam kisahnya, beliau tidak mudah melabelkan gelar wali pada seorang ulama’/kyai, meskipun kyai tersebut dzahirnya tidak terlihat melakukan dosa terus-menerus.

Kritik keras juga diungkapkan kepada konsep tariqah yang tidak memalui jalur syariah. Beliau bukanlah sufi yang anti-tariqah. Beliau dikenal menganut tariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Ia berpendapat, tariqat mana saja yang ditempuh sesuai ajaran al-Qur’an dan Hadis boleh diikuti. Bagi beliau, dalam bertariqah dilarang mengkultuskan secara berlebihan di luar batas kepada guru sufinya. Ia mengatakan tidak boleh mengikuti ucapan guru tariqah yang bertentangan dengan syariah (Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 8). Jika ada guru tariqah yang maksiat, maka harus ditinggalkan.

Dari sini tampak jelas bahwa, seorang sufi dalam pandangan Syeikh Hasyim adalah orang yang benar-benar menjaga adab. Adab kepada Allah, Rasulullah dan hamba manusia dalam bentuk praktik syariah secara total. Dan membersihkan akidahnya dari aliran-aliran yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kritik Syeikh Hasyim Asyari untuk membentengi Islam dan umatnya dari pengaruh-pengaruh luar yang dikhawatirkan menyimpang dari ajaran syariat Islam.*

Penulis adalah Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya




Labels: ,

Sunday, April 14, 2013

Download Panduan Ms Office Excel 2007

Download Panduan Ms Office Excel 2007 :

Labels:

Thursday, April 4, 2013

#7 Tips Komunikasi dalam Kerja


1.Utamakan komunikasi tatap muka langsung. Komunikasi jarak jauh via email, SMS, Messenger, atau telepon pada dasarnya adalah alat komunikasi darurat dengan segala keterbatasannya, sehingga resiko kesalahpahaman dalam menangkap atau menyimpulkan suatu pesan masih ada. Dengan komunikasi tatap muka langsung, ekspresi, bahasa tubuh lawan bicara dapat terlihat langsung dan segala hal yang kurang jelas dapat langsung dikonfirmasi saat itu juga untuk menghindari kesalahpahaman

2.Tumbuhkan minat dahulu kepada lawan bicara ketika mulai berkomunikasi. Biasanya minat berkaitan erat dengan kepentingan pribadi/golongan, baiknya gunakan kalimat pembuka yang mengindikasikan keuntungan/kelebihan lawan bicara

3.Bangun keakraban di awal interaksi dengan menyamakan postur tubuh, nada & volume suara, dan topik pembicaraan.

4.Sampaikan pesan dengan jelas dan spesifik. Hal tersebut untuk meminimalisasi kesalahpahaman dalam menerima pesan

5.Jadilah pendengar yang baik bagi rekan Anda. Pepatah mengatakan bahwa pembicara yang baik adalah mereka yang mampu membuat lawan bicaranya terusdan nyaman berbicara.

6.Hargai lawan bicara dan sampaikan kritik dengan sebaik baiknya dalam suasana yang tepat.

7.Apabila terjadi konflik, segera cari mediator yang tepat untuk mengembalikan kenyamanan dalam berkomunikasi.     

Labels: , , ,